Yayasan Sayap Ibu

Oleh :

Patricia Nadia Rahma Pratiwi (144214075) & Imelda Bella Megadihas (144214083)

 

Sayap Ibu merupakan sebuah yayasan yang sangat berperan penting di tengah masyarakat Yogyakarta. Salah satu faktor yang menarik kami untuk ikut terjun langsung di dalamnya adalah visi misi mereka yang begitu mulia. Berikut adalah visi mereka, setiap anak berhak atas kehidupan yang layak, penelantaran anak tidak dapat ditolerir, maka YSI melakukan upaya guna terwujudnya kesejahteraan anak yang holistik, berkesinambungan dengan penuh kasih sayang. Visi mereka terjabarkan menjadi misi sebagai berikut: melakukan penyantunan, perawatan dan pendidikan anak terlantar penyandang disabilitas, baik di panti maupun non panti secara professional, mengusahakan rehabilitasi fisik, psikis dan sosial secara optimal, menyediakan pelayanan sosial yang berkualitas, melaksanakan pengentasan anak agar bisa mandiri, melaksanakan perlindungan dan perawatan anak sejak dalam kandungan, Menjalin kemitraan dalam dan luar negeri secara aktif.

Dengan visi dan misi yang telah disebutkan di atas, kita tahu bahwa Yayasan Sayap Ibu bergerak di bidang pengasuhan anak-anak yang terlantar. YSI ini didasarkan pada prinsip bahwa setiap anak berhak mendapat perlindungan dan perawatan sebelum dan sesudah kelahiran mereka. Selain membawa misi kemanusiaan, Yayasan Sayap Ibu juga membawa misi nasional untuk membantu meningkatkan kesejahteraan sosial di Indonesia.

D:\My Documents\Downloads\ysi.jpg

Yayasan Sayap Ibu genap beroprasi selama 60 tahun pada tanggal 25 Mei tahun ini. YSI didirikan oleh Ibu Sulistina Sutomo di Jakarta. Kemudian pada tahun 1978 terbentuklah Yayasan Sayap Ibu cabang DKI Jakarta dan cabang Provinsi D.I.Yogyakarta. Kantor Pusat Yayasan Sayap Ibu sempat dipindahkan ke Provinsi Yogyakarta sejak 1 April 2004. Pada tanggal 1 Oktober 2005, Yayasan Sayap Ibu membentuk cabang di Provonsi Banten. Dengan dibentuknya cabang-cabang Yayasan Sayap Ibu tersebut, membantu peningkatan pelayanan. Lalu pada tahun 2010, yayasan melakukan pembenahan struktur organisasi dan menyempurnakan susunan organ pembina dan pengawas yayasan. Selanjutnya, tiga tahun yang lalu dilakukan pergantian Ketua Umum Yayasan Sayap Ibu Pusat dan pergatian pengawas. Sejak saat itu, pusat Yayasan tidak berada di Yogyakarta lagi namun kembali ke Jakarta.

Selama 60 tahun beroprasi, Yayasan Sayap Ibu pun tentunya mengalami jatuh bangun dalam mempertahankan hak-hak setiap anak-anak yang mereka tampung. Sekilas sejarahnya yaitu bahwa pada tahun 1955 ibu Sutomo (isteri Bung Tomo), Ibu  Garland Sunaryo dan Ibu Sukardi dengan bantuan Women International Club di Jakarta  yang diketuai Ibu Hutasoit mendirikan Yayasan sebagai jawaban atas kepeduliannya terhadap nasib para bayi-bayi terlantar akibat kondisi yang memilukan pada saat itu, dan juga untuk menolong bayi-bayi yang  terlantar  di beberapa rumah sakit di Jakarta karena ditinggalkan para ibu-ibu mereka yang setelah  melahirkan atau melarikan diri dari rumah sakit atau rumah bersalin karena berbagai hal dengan   meninggalkan alamat yang setelah dicari ternyata palsu.

Di atas tanah di Jalan Barito, Kebayoran Baru dengan bantuan Pemda Jakarta didirikanlah    Panti Asuhan untuk merawat dan mencarikan solusi untuk kesinambungan hidup  mereka   dengan cara yang sebaik-baiknya. Selanjutnya Yayasan diberi nama Yayasan Sayap Ibu  yang diilhami oleh induk ayam yang dalam melindungi anak-anaknya tidak gentar  menghadapi bahaya apapun dan dibawah sayapnya anak-anaknya mendapatkan    perlindungan  dan  kehangatan.

Permohonan  untuk  mengangkat  anak-anak  yang  berada  di  Panti  Yayasan  Sayap  Ibu  mulai  berdatangan. Pada  waktu  itu belum ada Peraturan Pemerintah   yang mengatur pengangkatan anak untuk acuhan pelaksanaan program. Pengangkatan anak  dari Yayasan Sayap Ibu dilaksanakan berdasarkan Hukum Adat yang berlaku di daerah  asal para calon orang tua anak namun kemudian ternyata bahwa tidak semua anak   berhasil mendapatkan orang tua angkat karena cacat. Mereka yang lahir sudah dalam  keadaan cacat sebagai akibat gagal aborsi tetap dirawat dan menjadi tanggungan   Yayasan Sayap Ibu. Panti Yayasan Sayap Ibu yang hanya berkapasitas 20 orang tidak  dapat lagi menerima penyerahan anak-anak dari rumah sakit. Berkat kerjasama dengan  keluarga H.Gunawan Pendiri Yayasan Piatu Muslimin yang mempunyai dua Panti  Asuhan di Kramat Raya Jakarta dan di Palsi Gunung Bogor, maka dua belas anak   dipindahkan ke Panti Yayasan tersebut diatas yang berada di Bogor yang bernama Panti  Palsi Gunung. Sampai sekarang Panti tersebut oleh Yayasan Piatu Muslimin dikhususkan untuk para anak-anak penyandang Cacat Ganda .

Kami datang ke Yayasan Sayap Ibu di Pringwulung, Yogyakarta pada tanggal 6 April 2015 dan disambut hangat oleh orang-orang yang kami temui. Senyum dan sapa selalu mereka lontarkan selayaknya sudah lama mengenal kami. Setelah memberi tahu tujuan kami, bertemulah kami dengan Pak Ranu yang menjabat sebagai ketua 2. Pak Ranu menjadi bagian dari kepungurusan Yayasan Sayap Ibu sejak tahun 75. Ketulusan beliau sangat terpancarkan dari cara beliau menjelaskan serba serbi tentang Yayasan Sayap Ibu ini serta pengalaman beliau selama mengabdikan diri di Yayasan Sayap Ibu ini. Beliau juga sempat berbagi bahwa beliau tidak pernah memiliki anak. Kami menyimpulkan bahwa dari situlah keinginannya muncul untuk mengabdikan diri di Yayasan Sayap Ibu ini. Wawancara telah kami lakukan dua kali dengan beliau. Yang pertama hanya secara singkat dan yang kedua lebih lengkap. Ketika kami mewawancarai beliau, tidak terasa waktu berjalan sudah sangat cepat. Hasil dari wawancara juga akan kami jabarkan secara sederhana.

Ketika kami wawancarai tentang struktur organisasi, struktur organisasi Yayasan Sayap Ibu terdiri dari Pembina, Pengawas, Pengurus Pusat, dan Pengurus Cabang-cabang. Cabang-cabang itu adalah YSI Cabang Jakarta, YSI Cabang Banten, YSI Cabang DIY. Dari struktur tersebut, posisi tertinggi ada di Pembina kemudian untuk melakukan pengawasan ke Pusat dan Cabang-cabang ada struktur Pengawas.Di bagian Pembina, mereka memilikiSulistina Sutomo, Aisyah Hamid Baidlowi, Rooswidiati Jusuf Razak dan Suharno. Sebagai Pengawas mereka memilikiCepi Jamaludin Malik, Sri Kusyuniati, Endang Sulistyowat. Dengan ditunjukkannya kepengurusan di kantor pusat, berikut kami jabarkan; Ketua Umum diduduki ole Dra. Latifah Isakandar, Ketua I diduduki oleh Dr. E. Sundari, SH, Mhum, Ketua II diduduki oleh Dr. MC. Ninik Sri Rejeki, Msi, Sekretaris I dipercayakan kepada Dra. Endang Komarianah, Sekretaris II dipercayakan padaNy. M. Anggraini Adriani dan Bendahara dipegang oleh Hj. Sukarni Suwardi.

Setelah mengetahui sistem kepengurusan di Kantor Pusat, kami akan menjelaskan sedikit tentang kegiatan apa saja yang berjalan di Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta saat ini. Namun sebelumnya, kami akan memberikan tanggapan warga sekitar ketika wisma cabang Yogyakarta ini didirikan hingga saat ini. Mereka sangat mendukung dan menyambut didirikannya yayasan ini. Bahkan hingga saat ini, masyarakat sekitar sering memberikan bantuan bahkan terjun langsung untuk membantu berjalannya segala aktivitas. Contohnya ketika turut serta memandikan, menyuapi, dan mengasuh ana-anak yang berada di bawah naungan Yayasan Sayap Ibu. Tak sedikit juga dari mereka yang merekomendasikan anak-anak dari Yayasan Sayap Ibu pada para calon orang tua. Tidak hanya masyarakat sekitar saja yang ikut terjun langsung dalam kegiatan YSI, bahkan Yayasan Sayap Ibu senantiasa bekerja sama dengan warga sekitar. Contoh kerjasama yang terjadi adalah dalam bidang pendidikan yaitu TK yang berada tepat di sebelah yayasan sayap ibu yang dikelola oleh Ibu PKK di kampung Pringwulung, meskipun begitu pemerintah juga ikut turun tangan dalam berjalannya kegiatan di TK tersebut. Tak hanya sekolah TK, Yayasan Sayap Ibu juga memiliki Sekolah Luar Biasa di kalasan. Yayasan Sayap Ibu sepenuhnya memiliki hak kepimilikan atas Sekolah Luar Biasa ini, meskipun tetap pemerintah yang mengelola sekolah ini (guru dan kurikulum mengikuti dinas pendidikan). Pada awalnya sekolah ini didirikan untuk para penyandang cacat dan difabel dari Yayasan Sayap Ibu yang berada di kalasan. Murid yang bersekolah di sana pun juga didominasi dari yayasan tersebut namun saat ini Sekolah Luar Biasa ini terbuka untuk umum, saat ini pula yayasan sayap ibu didominasi oleh anak-anak penyandang cacat dan difabel dari luar yayasan sayap ibu yaitu anak dari masyarakat sekitar. Dalam hal ini, sekolah luar biasa ini tidak membeda-bedakan darimana anak tersebut berasal. Mungkin hal ini lah yang membawa dampak dan tanggapan positif dari warga sekitar karena yayasan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar juga. Tanggapan positif tidak hanya datang dari warga sekitar namun, banyak pula mahasiswa-mahasiswa dari Universitas di Yogyakarta.

Nah, kegiatan pertama yang terdapat di Yayasan Sayap Ibu adalah kegiatan di Wisma Ibu, yaitu menangani calon ibu (wanita hamil) yang bermasalah seperti contohnya stress, ditinggal suami atau cerai. Mereka yang berada di sana, hanya tinggal sementara di tempat yang telah disediakan oleh yayasan. Ketika berada di penampungan, mereka dapat beraktifitas apa saja, misalnya tetap melaksanakan kuliah atau bekerja. Yayasan, berperan aktif dengan cara menyediakan tempat dan memotivasi mereka supaya tetap semangat dan tidak merahasiakan kondisi mereka terhadap keluarga mereka. Agar pada saat bayi lahir, bayi dapat diserahkankembali oleh keluarga dan bayi tidak kehilangan identitas. Sebisa mungkin dan harus pihak keluarga dari ibu bayi tersebut mau terbuka untuk menerima dan merawat bayi itu. Sebelumnya, semua anak yang akan ataupun sudah ditipkan, wajib memiliki akta kelahiran agar pada akhirnya sebisa mungkin anak dapat kembali pada keluarga. Akta itu sendiri terdapat tiga jenis, yaitu akta atas nama bapak dan ibu anak tersebut, yang kedua akta atas nama ibu (jika bapak tidak mengakui anaknya), dan yang terakhir adalah akta atas nama tidak ada. Jika anak tersebut tidak diketahui bapak atau ibunya, maka anak akan tetap memiliki akta kelahiran namnun dengan tidak mencantumkan nama bapak atau ibu dan tidak boleh diwakilkan oleh pihak keluarga selain bapak atau ibu. Pada akta anak tidak terdapat akta atas nama bapak dikarenakan sebenarnya bapak tidak mempunyai hak atas anak itu.

D:\My Documents\Downloads\yysan syp ibu.jpg

Suasana di Yayasan Sayap Ibu Cabang Yogyakarta

Lalu kegiatan yang kedua adalah penyantunan anak. Penyantunan anak dapat dilakukan apabila seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang otuanya entah karena dia cacat ataupun normal telah mendapat rambu-rambu dari pemerintah, karena segala aktivitas yang dilakukan oleh sayap ibu dipantau oleh pemerintah. Semua anak yang masuk ke Yayasan Sayap Ibu, harus kurang dan tidak boleh lebih dari usia sekolah. Apabila orang tua ingin memberikan anaknya kepada Yayasan Sayap Ibu, anak itu haruslah diketahui oleh pemerintah terlebih dahulu lalu anak itu akan diberikan pada Yayasan Sayap Ibu melalu pemerintah.

Kegiatan selanjutnya adalah pengentasan anak. Kegiatan ini dilakukan ketika anak sudah memasuki usia sekolah. Kegiatan pengentasan ini dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu yang pertama anak dikembalikan kepada keluarga. Yang kedua adalah dengan mencarikan keluarga pengganti (adopsi). Tentu dalam hal ini Yayasan sayap ibu tidak secara asal menyerahkan anak-anak tersebut, banyak sekali syarat yang harus dipenuhi oleh calon pengadopsi. Para pengurus yayasan sayap ibu pun rela pergi keluar pulau hanya untuk mengobservasi keadaan di lingkungan tempat tinggal anak pada nantinya. Lalu yang terakhir adalah pengasuhan, yaitu anak dirawat oleh orang lain tanpa ada jaminan hak anak. Segala proses yang dilakukan oleh sayap ibu, yayasan tidak diperkenankan menerima uang sepeser pun atau hadiah dalam bentuk apapun, karena hal itu dapat dianggap sebagai jual beli anak atau human trafficking.

Dalam semua kegiatan, yayasan sayap ibu tidak pernah memandang latar belakang anak atau ibu hamil tersebut. Yayasan Sayap Ibu menerima semua orang dengan segala kondisi karena mereka merasa bertanggung jawab terhadap sesamanya. Apa pun akan dilakukan demi keselamatan siapa pun. Bahkan biaya seperti kesehatan dan pendidikan akan mereka keluarkan tanpa peduli besarnya pengeluaran tersebut. Sekali lagi Yayasan Sayap Ibu tidak akan pernah menerima uang yang tidak sehat dari calon pengadopsi. Pernah, seorang yang sebenarnya diukur sanggup untuk mengadopsi menjadi gagal karena menyelipkan uang di dalam formulirnya.

Sedikit cerita dari mantan anak asuh Yayasan Sayap Ibu, dia dilahirkan tanpa kedua tangannya. Sejak kecil dia melakukan aktifitas seperti makan, mandi, belajar bahkan mengasuh adik adiknya di panti menggunakan kakinya. Karena semangatnya yang luar biasa kini dia sudah tumbuh menjadi seorang wanita dan memiliki suami yang mapan. Meskipun tanpa tangan, auranya memancarkan kesempurnaannya, bahkan keluarga dari suaminya yang merupakan Gubernur Jendral Bank Indonesia ini, menerimanya bahkan sangat menyayanginya. Cerita yang dituturkan oleh Pak Ranu ini sangat menyentuh hati kami. Membuka mata kami bahwa keberuntungan kami yang jauh lebih besar tidak pernah membuat kami bergerak hingga kami menjadi penasaran untuk ikut lebih dalam dalam organisasi ini.

Segala upaya yang dilakukan oleh Yayasan Sayap Ibu tidaklah mudah. Dibutuhkan hati yang mulia dan kesabaran dalam merawat anak-anak tidak bersalah tersebut. Kami dalam menjalani tugas ini pun juga penuh dengan perjuangan. Dikarenakan terdapat jadwal pada hari tertentu dan tidak dapat sewaktu-waktu berkunjung. Dibutuhkan mengatur waktu yang pas pula untuk dapat terjun langsung di dalam kegiatan Yayasan Sayap Ibu karena waktu yang bertabrakan dengan jadwal kuliah kami. Namun, semuanya terbayarkan karena kami dapat membagikan beberpa kisah tentang sebuah yayasan yang telah berperan besar bagi masyarakat ini.

Dengan apa yang telah kami jabarkan, kami berharap dapat membuka mata kita semua agar turut membantu (dalam segala bidang) proses berjalannya aktivitas dan kegiatan mereka sehari-hari. Sekecil-kecilnya bantuan pasti akan sangat membantu mereka. Perhatian dan doa juga mari kita salurkan agar segalanya dapat terus tetap berjalan hingga akhir. Demikian hasil wawancara dan observasi singkat dari kami, untuk kekuranganya mohon koreksi dari semua pembaca agar dapat kami revisi dan lengkapi. Kurang dan lebihnya kami mohon maaf. Semoga dapat bermanfaat bagi semua.

nadia_patricia@ymail.com'

About patricianrp