TRASHBAG COMMUNITY: Pejuang Muda dari Kantung Sampah (revisi)

Oleh :
Vivien Christy (144214005) & Novia Siulani (144214028)

Sekalipun cuaca mendung namun matahari tidak pernah diam untuk memancarkan hawa gerah di Jogjakarta. Setelah menapakkan kaki di sebuah rumah makan kecil di dekat turunan jalan, senyum dan sambutan hangat dari pria yang kerap dipanggil Mas Tri ini sudah mampu menggambarkan kepribadiannya yang ramah. “salam kenal Mbak, saya Triyanto,” ujar pria yang masih berprofesi sebagai mahasiswa di salah satu kampus di Jogjakarta. Triyanto merupakan salah satu pejuang muda dari kantung sampah atau yang kerap disebut Trashbag Community.

Trashbag Community merupakan komunitas yang bergerak dalam bidang sosial tanpa adanya tujuan untuk mencari keuntungan. Trashbag Community sudah cukup dikenal masyarakat terutama untuk kepemimpinan pusat yang ada di Jakarta. Komunitas ini sudah disupport oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan juga masuk sebagai salah satu 10 komunitas peduli lingkungan hidup di Indonesia. Komunitas ini juga telah diakui oleh salah satu komunitas elite bernama Wanadri (organisasi kegiatan alam bebas). Selagi Triyanto menjelaskan dasar-dasar dari komunitas mereka, teman nya yang lain sibuk makan dengan lahap di meja seberang. Suasana rumah makan yang sepi menambah kenyamanan dalam berbincang sedikit seputar pribadi Triyanto. Usai berbasa-basi sedikit, maka saat pertanyaan dilontarkan , cerita Triyanto pun dimulai.

Awal Mula
“Kami sangat mencintai gunung kami”, ujar Triyanto salah satu pengurus dari komunitas Trashbag Community. “Kondisi gunung-gunung yang ada saat ini cukup kotor ya, soalnya banyak para “pendatang” yang kurang memperhatikan kebersihan gunung”, lanjutnya. Komunitas dengan gerakan non profit yang berdiri pada bulan Agustus tahun 2014 terbentuk di saat kondisi gunung-gunung yang ada di Jogjakarta saat itu sangat memprihatinkan karena banyak ditemukan sampah-sampah di sekitarnya. Sampah yang menumpuk di daerah gunung diakibatkan kurangnya kesadaran para pendatang baru sehingga membuang sampah sembarangan. Rata-rata pendaki gunung mampu meninggalkan sampah-sampah hingga 8 ons per minggu nya. “Dapat dibayangkan apa yang terjadi apabila gunung tidak dipelihara kebersihannya, yang bisa menjadi tempat sampah tidak hanya di sungai lagi, tetapi gunung juga, lama-lama bisa jadi gunung sampah,” jelas Triyanto sambil tertawa diikuti dengan gelakan tawa teman-teman pejuang lainnya.

para pejuang yang menuruni gunung seusai melaksanakan tugasnya

para pejuang yang menuruni gunung seusai melaksanakan tugasnya

Proses Berdiri
Beberapa anak muda pecinta gunung mulai tergerak untuk mengondisikan gunung yang mereka cintai tetap bersih. “Sampah plastik biasanya yang paling banyak ditemukan di gunung, sampah jenis itu susah hancurnya Mbak. Makan waktu sampai ratusan tahun,loh. Lalu, merusak pemandangan juga, Mbak.” ucap pria yang sederhana ini. Kesadaran akan sampah-sampah plastik yang susah terurai hingga mampu memakan waktu hingga ribuan tahun, menjadikan beberapa anak muda ini beraksi. Dimulai dari percakapan di Facebook tentang keinginan untuk menjaga kebersihan di gunung, kemudian berkumpul secara langsung hingga akhirnya terbentuk kumpulan anak muda dari Trashbag Community di regional Jogjakarta.

Komunitas ini berdiri dimulai dari adanya kekhawatiran akan sampah yang bertebaran di sekitar daerah gunung-gunung di Jawa terutama di sekitar Jogjakarta. Adanya Trashbag Community pusat di Jakarta,mempermudah berdirinya komunitas ini di Jogjakarta. Tersedianya susunan tetap dan penetapan komunitas Trashbag ini di setiap daerah, akhirnya terkumpul pejuang muda yang mayoritasnya laki-laki pecinta gunung yang bersedia menjadi pengurus untuk regional Jogjakarta. Satu pemikiran dan keinginan yang memperkuat ikatan mereka, maka terbentuklah kepengurusan Trashbag Community regional Jogjakarta yang terdiri dari 4 orang.

Kerja dan Hasil

Awal dari aksi para pemuda ini membuahkan berbagai reaksi. Sambutan hangat dari warga Jogja terutama penduduk di sekitaran kaki gunung, sangat mendukung adanya gerakan memungut sampah gunung dari Trashbag Community ini. “Banyak warga yang antusias dengan apa yang kami lakukan karena jarang ada yang kaya gini,” ujar pria berumur 24 tahun ini. Masyarakat sekitar seakan disadarkan akan pentingnya menjaga kebersihan di daerah gunung. Bahkan tak jarang mereka juga ikut terjun dalam memungut sampah yang ada di sekitar gunung. Tak terkecuali juga dengan para pendaki gunung, mereka mulai mendaftar sebagai relawan dan ikut dalam mengoperasikan gerakan dari komunitas ini.

20150322_064830

“Lalu apa Mas, yang menjadi halangan bagi komunitas ini untuk menjalankan gerakannya?”
“Ya banyak, Mbak. Terkadang dari masyarakat sekitar dan para pendatang yang gak peduli-peduli amat sama gunung kita, makanya kami buat kampanye. Namanya Gunung Bukan Tempat Sampah.” jelas Triyanto sambil tersenyum.
“Kemudian kami kan bergerak di bidang non-profit Mbak, ada dulu orang yang ingin sponsorin kami, tapi dengan syarat logo perusahaan mereka ada pada trashbag kami, nah kami belum bisa terima karena hal itu ga sejalan sama visi Trashbag Community ini. Karena kami ga mencari keuntungan Mbak. Kemudian akhirnya kami mendapatkan biaya untuk komunitas ini dari kalangan sendiri,jadinya belum bisa promosi besar-besaran,” Ucapnya sambil bercanda dengan teman-teman pejuang lain.

Tidak sedikit penduduk sekitar maupun para pendaki gunung yang tidak terlalu menaruh perhatian pada kampanye “Gunung Bukan Tempat Sampah” dari komunitas ini. Hal ini menyebabkan komunitas ini belum terlalu berkembang dan pengurus-pengurus komunitas ini masih cenderung sangat sedikit dan belum ada perkembangan. Apabila para pengurus ini mau lebih giat mempromosikan gerakan mereka dan mengajak para pecinta gunung untuk lebih mawas akan kebersihan gunung, dapat dipastikan bahwa pengikut komunitas ini akan semakin banyak dan bahkan dapat merekrut pengurus-pengurus yang baru.

Setiap ada kesempatan para pejuang muda ini akan melakukan perjalanan menuju gunung yang sudah ditetapkan kemudian melancarkan aksi memungut sampah-sampah yang ada. “Biasa ke gunung Merapi, kadang ke gunung Kidul juga,” kata Triyanto. “Biasanya kami setiap ada hari libur, pergi ke gunung. Terus sudah siap-siap bawa trashbag yang gede itu Mba, tahu kan? Lalu mulai kerja, memungut sampah. Kebanyakan sampah plastik,sih. Terus kadang nanti ada orang yang tertarik ikut, mereka gabung bantu-bantu Mbak. Terus, kalau kegiatan rutin tahunan ada Mbak, namanya sapu jagad.”
Salah satu jenis kegiatan yang masih rutin diadakan oleh Trashbag Community adalah Sapu Jagad. Sapu Jagad merupakan acara tahunan yang diadakan oleh Trashbag Community dari berbagai regional. Acara ini merupakan operasi pembersihan sampah gunung yang dilakukan oleh para anggota maupun relawan Trashbag Community dari berbagai daerah dan dilakukan secara serentak. Di tahun 2015, acara Sapu Jagad ini diadakan di 15 gunung yang tersebar di Jawa Tengah dan DIY antara lain Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing,Gunung Merapi dan lain-lain.

Trashbag community regional Jogjakarta masih belum meraih penghargaan dikarenakan sedikitnya peminat yang mau tergabung secara resmi dan lebih memilih menjadi Silent Volunteer (para relawan yang tidak ingin namanya disebutkan) pada komunitas ini sehingga komunitas ini masih belum terlalu berkembang seperti Trashbag Community pusat yakni di Jakarta. Mereka berharap banyak anak muda pecinta gunung yang mau lebih giat dalam menjaga gunung-gunung yang ada di sekitaran Jogjakarta. Harapan mereka adalah mereka dapat membawa komunitas ini dikenal lebih lagi dalam lapisan masyarakat bukan hanya di sekitar kaki gunung namun juga hingga masyarakat kota. Impian yang sederhana membuat semangat para pejuang muda lebih menyala dan tidak mudah menyerah dalam mengajak para pendaki gunung untuk lebih menjaga lingkungan sekitar gunung.

20150301_152353

Biarpun mendaki gunung yang cukup tinggi hanya mengandalkan baju hangat dan sandal jepit, ditambah dengan perjalanan yang memakan waktu cukup lama untuk melalui sebuah rute di gunung hal itu tidak menyurutkan hasrat para pejuang muda ini untuk membersihkan gunung-gunung dari sampah. Adanya keyakinan bahwa gunung merupakan hulu dari sumber kehidupan yang menyokong kebutuhan air dan udara yang ada di Jogjakarta, menjadi pegangan untuk para pejuang muda ini. “Kami percaya bahwa gunung adalah sumber kehidupan, Mbak. Ada air dan udara bersih buat masyarakat. Sekalipun hasil kami belum berdampak sekarang, pasti nantinya ada.” Mereka percaya kelak apa yang mereka lakukan sekarang akan berdampak positif bagi warga Jogjakarta. Dampak yang akan didapatkan dari gerakan komunitas ini antara lain, tersedianya udara bersih bagi masyarakat Jogja, tidak tercemarnya air pegunungan, kenyamanan bagi para turis domestic maupun mancanegara yang datang untuk menikmati gunung-gunung di Jawa termasuk Jogjakarta.

Walaupun kegiatan yang dilakukan masih berskala kecil, namun hasil dan respon positif masyarakat yang didapat dari gerakan kampanye “Gunung Bukan Tempat Sampah” sudah memberikan kepuasan bagi pengurus komunitas ini. “yang penting orang sudah mulai tahu, nah selanjutnya tinggal pribadi orang tersebut masing-masing. Kalau tergerak hati nya, pasti mau ngikutin kita,” jelas Triyanto dengan yakin.

Tantangan

Bukan berarti semua berjalan secara mulus untuk komunitas Trashbag Community. Mereka sudah menghadapi beberapa tantangan dalam memperbesar peran masyarakat Jogjakarta dalam komunitas tersebut. Ada unsur-unsur yang mereka perlukan dalam memperkuat peranan masyarakat. Mereka membutuhkan kesadaran tiap individu dalam keikutsertaan dalam kegiatan komunitas tersebut. Selain itu, keinginan individu itu sendiri (ego) untuk bergabung dalam komunitas Trashbag Community juga menjadi kebutuhan. Apabila masyarakat tidak mau peduli dengan kebersihan lingkungan, maka hal itu dapat menghambat hal-hal baik yang dilakukan oleh Trashbag Community. Dalam menghadapi beberapa tantangan komunitas Trashbag Community tetap maju dan pantang menyerah untuk mengembangkan peran masyarakat Jogjakarta serta mengembangkan komunitas itu sendiri.

20150301_094831

Namun cerita perjuangan yang harus dihadapi oleh mereka masih belum berakhir. Contoh rintangan lain yang mereka hadapi datang dari masyarakat. Pandangan masa bodoh dari masyarakat menjadi salah satu tantangan yang menjadi salah satu kesulitan Trashbag Community ini untuk melancarkan pekerjaan mereka. “Kalau masyarakat aja tidak mau peduli dengan satu sampah, bagaimana bisa sampah itu berkurang,” kata Triyanto sambil tertawa kecil. Selain itu, adanya konflik individu yang juga merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh komunitas ini.”Ada misalnya anggota dalam komunitas kami yang bermasalah dengan orang luar, padahal mereka ingin bergabung Mbak, nah susah juga kalau sudah begitu soalnya kami bukan orang suci yang bisa berkelakuan baik setiap saat, pasti ada masalah juga sama orang lain Mbak.”. Sekalipun begitu, di balik semua tantangan yang ada, para pejuang muda ini tidak gentar dan putus asa untuk tetap bergerak maju.

trash1

Sumbangsih untuk Jogja Lebih Baik

Mengerti akan perubahan Jogjakarta yang signifikan, yang semakin kurang toleran terhadap keberagaman, para pejuang ini sudah memikirkan apa saja yang dapat mereka berikan untuk mengembangkan kerukunan dalam masyarakat Jogjakarta. “Kami sih berusaha untuk lebih menjalin komunikasi dengan sesama baik di dalam komunitas maupun di luar,”kata Triyanto. Sumbangsih yang ingin mereka berikan kepada masyarakat antara lain, mereka bermaksud untuk menjalin hubungan antara anggota dan simpatisan juga masyarakat luas. Dalam hal ini mereka ingin membangun jalinan komunikasi yang lebih dekat baik dengan anggota maupun para relawan. Mereka yakin melalui komunikasi akan terjalin kerukunan karena adanya saling keterbukaan pikiran yang membuat masyarakat mengerti satu dengan yang lain. Rasa kekeluargaan juga penting untuk menjaga toleran dalam masyarakat.” 

Mereka juga berpendapat bahwa kearifan lokal berperan penting dalam keadaan Jogjakarta di masa ini. Kearifan lokal yang berarti nilai-nilai,gagasan dan pandangan yang dianut masyarakat setempat sudah mulai pudar oleh adanya globalisasi. “Masalahnya, sekarang kearifan lokal sudah mulai tergerus oleh kebutuhan zaman sekarang yang tidak bisa kita pungkiri. Namun kami percaya sebenarnya Jogja mampu untuk bertahan dan mempertahankan keaslian budaya yang sudah ada asal pemerintah dan masyarakat lebih menggalakkan dan menunjukkan keindahan budaya itu sendiri lebih sering lagi,” tutur Triyanto sambil menyesap teh manisnya.

Namun bukan hanya itu saja yang ingin mereka berikan. Rasa kekeluargaan yang besar dengan masyarakat juga penting. Hal ini dapat dimulai dari komunitas sendiri. Ketika Trashbag Community ini memperlakukan setiap anggota sebagai keluarga, maka mereka juga akan memandang masyarakat sebagai keluarga mereka. Maka dengan begitu, apa yang sudah mereka terapkan di dalam komunitas dapat dibawa keluar ke dalam masyarakat, sehingga tercipta kerukunan dan toleransi antara satu sama lain. “kami percaya kalau dari dalam sudah beres,maka saat diri kami dibawa keluar, kami sudah dapat memberi dampak dengan membawa nilai-nilai dalam komunitas ke masyarakat,” ujar Triyanto dengan mantap.

Anak muda yang mau bekerja dalam perkara kecil seperti memungut sampah, mampu menghasilkan dampak-dampak besar di kehidupan banyak orang. Anak muda seperti Triyanto dan para anggota dan relawan Trashbag Community patut dijadikan teladan untuk menjadi gambaran bagi diri penerus generasi bangsa Indonesia. Hal-hal remeh seperti peduli lingkungan mampu menjanjikan kehidupan nyaman secara bersama. Generasi muda sudah sepatutnya bergerak maju. Selalu akan ada jalan berliku maupun jalan berbatu yang tidak nyaman untuk dilewati, namun melalui jalan-jalan itulah kita sebagai generasi muda belajar untuk bersatu mencapai visi melalui tindakan menghargai perbedaan,bertekad kuat dan berjuang bersama.

2015-03-21-3329

Triyanto dan kawan-kawan dengan semua kesederhanaan yang mereka miliki, bekerja dengan sepenuh hati untuk alam dan sesamanya melalui komunitas Trashbag Community. Namun, dibalik itu semua tersimpan kesedihan akan perubahan wajah Jogja yang semakin individualis. Perubahan itu tidak lantas mengikis harapan dan semangat yang mereka miliki. Mereka percaya bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri,kemudian disebarkan kepada orang lain hingga akhirnya perubahan ke arah lebih baik itu merangkul secara menyeluruh dan membawa para generasi muda ke masa depan Indonesia yang lebih cerah.

bersama Mas Triyanto

bersama Mas Triyanto

NB: Trashbag Community saat ini belum memilik basecamp tetap karena mereka lebih memilih untuk berkumpul langsung di gunung yang menjadi rumah kedua bagi mereka. Untuk informasi lebih lanjut atau ingin mendaftar sebagai anggota,Trashbag Community dapat diakses melalui website mereka : trashbagcommunity.com

ppinpipen@yahoo.co.id'

About vivien