Komunitas Thomas Aquinas

Oleh: Marya Budianta 144214145

Di setiap negara, tentu banyak permasalahan sosial yang dialami warganya. Ada masalah kemiskinan, ada masalah narkoba. Salah satu masalah yang ada, terutama di negara yang masyarakatnya sangat beragam latar budaya, etnis, ras, agama, dan kelas adalah masalah konflik dan kebersamaan. Bagaimana masyarakat yang berbeda latarnya dapat saling menghargai agar dapat hidup berdampingan. Untuk itu peran pemerintah tidak cukup. Masyarakat perlu ikut membantu. Salah satu caranya adalah melalui aktifitas kelompok dan komunitas yang dibentuk oleh warga. Ada yang terbentuk di RT/RW, di sekolah, atau di kalangan agama tertentu. Artikel ini akan memperkenalkan sebuah komunitas yang aktif mengupayakan toleransi dalam keragaman.

Pada tanggal 23 Februari 2015, penulis bertemu dengan Bapak Paulus Ari Subagyo untuk berbicara tentang komunitas yang beliau pimpin. Komunitas yang bernama Komunitas Kerasulan Intelektual Thomas Aquinas ini didukung oleh umat Paroki Santo Petrus dan Paulus, Minomartani, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Paroki ini mempunyai jumlah umat sekitar 3.000 orang.

Gereja induk (diresmikan tahun 1992) dan pastoran (diresmikan tahun 2012) terletak di Jalan Bandeng II/22 Perumnas Minomartani. Adapun gereja pendukung (diresmikan pertama kali pada tahun 1981) berada di Jalan Wijaya Kusuma, Perumnas Condongcatur, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berjarak sekitar 4 Km dari gereja induk.

Dari 3.000-an orang jumlah umat, sekitar 30% merupakan lulusan sarjana S-1 (sarjana), S-2 (magister), ataupun S-3 (doktor). Sebagian umat yang terdidik tersebut menekuni sejumlah profesi, seperti dosen, guru, dokter, apoteker, perawat, lawyer, dan akuntan. Ada 10-an di antaranya bergelar professor atau guru besar.

Pengurus Thomas Aquinas hanya lima orang, yaitu P. Ari Subagyo, S. Wisni Septiarti, C. Handoyo Wibisono, F.A. Joko Siswanto, dan J. Sudarsono. Umat di Yogyakarta merupakan representasi tertinggi dari kalangan sarjana. Maka sejak tahun 2007, warga Paroki Santo Petrus dan Paulus membentuk komunitas yang dinamai “Kerasulan Intelektual Thomas Aquinas”.thomas-aquinas

Salah satu kegiatan yang dilakukan yaitu membuat sarasehan kebangsaan bersama umat-umat beragama lain. Hal ini menunjukkan kesadaran para warga komunitas akan kondisi lintas budaya yang sangat menonjol di Yogya. Kegiatan sarasehan kebangsaan diadakan setiap bulan Oktober. Tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda untuk memperingati tekad generasi muda Indonesia di tahun 1928 untuk menjunjung persatuan dalam keragaman budaya.

Sambutan masyarakat terhadap kegiatan ini sangat baik. Kata Bapak Ari Subagyo, “Dalam kenyataanya Indonesia yang sudah merdeka selama 69 tahun masih mempunyai PR dalam tanda kutip, yaitu menyangkut kerukunan diantara umat beragama. Ada banyak isu yang sensitif mengenai agama – tidak hanya itu juga, tetapi pula kesukuan yang bisa menyebabkan konflik.” Setiap bulan Oktober ada sarasehan. Komunitas ini mengundang narasumber, lalu mereka sendiri juga punya gagasan yang saling dibagikan. Jadi rata-rata, tanggapan yangdidapatkan sungguh baik.

Contohnya, bulan Oktober lalu grup Thomas Aquinas mendiskusikan tentang kerusuhan Mau tidak mau, segala perbedaan harus saling dihargai. Dengan cara ini, kehidupan di Jogja nyaman, tidak ada konflik.

Lalu, dari salah satu pamflet Thomas Aquinas, inilah salah satu inti yang dikutipkan:

“Salah satu yang sering menjadi gangguan dalam proses kehidupan berbangsa ialah masalah stereotypes. Dalam kehidupan kebangsaan Indonesia, keberadaan berbagai agama diterima sebagai bagian dari heterogenitas anak bangsa. Namun, seringkali ada berbagai stereotype yang justru sering kali secara tidak sadar mengikis perasaan sebagai satu bangsa, misalnya ekspansi Kristen atau kristenisasi, Islam sebagai fundamentalis, dll. Di tengah kehidupan masyarakat sering kali stereotype itu tumbuh tanpa disadari, dan pada akhirnya membentuk benteng tersendiri. Hal seperti itu jika dibiarkan tanpa penanganan justru akan merusak perasaan sebangsa yang harusnya tumbuh subur. Untuk itu penting bagi kita agar tidak terjebak pada stereotype seperti itu tanpa secara kristis mengujinya. Memang ada sekelompok kecil umat yang sesuai dengan karakter stereotype itu, namun ketidakmampuan masyarakat untuk membedakan secara kritis –karena tentu saja hal itu bisa sangat membingungkan dan melelahkan–menyebabkan mereka mengambil langkah paling sederhana, melakukan generalisasi yang tidak seimbang. Kita tahu bahwa itu generalisasi, namun toh seringkali kita membiarkan generalisasi itu sebagai pengertian utama yang bersemayam di benak kita. Akhirnya generalisasi berubah menjadi sebuah penilaian yang bersifat final. Inilah yang berperan untuk membahayakan kehidupan berbangsa.”

Warga terlibat sebagai obyek kegiatan dan sampai jadi relawan bahkan pengurus dalam komunitas ini. Menyelenggarakan itu sifatnya insidentalyang pernah terjadi di Yogyakarta. Kerusuhan ini bernuansa etnis dan agamis, tentu bila pertanyaanya “Apakah konfliknya dapat diselesaikan atau tidak?” mereka tidak bisa menjawab bisa. Karena konflik ini terjadi di luar mereka. Berdasarkan konflik itu grup Thomas Aquinas ini ingin menjaga supaya komunitas atau tempat tinggal mereka aman. Tujuan sarasehan adalah untuk menyebarkan kesadaran mengenai pentingnya saling menghargai, mengenai kemajemukan dan multikulturalisme. Jadi setiap Oktober komunitas Thomas Aquinas membentuk panitia. Para panitia terdiri dari banyak unsur. Baik Islam maupun Kristen, semua dapat menjadi sukarelawan/sukarelawati untuk membantu menyelenggarakan acara bersama.

Pengurusnya selama ini masih sama sejak tahun 2007. Jadi sudah 8 tahun beliau bekerja dengan grup ini. Grup Thomas Aquinas sering mengadakan rapat anggota untuk menentukan siapa yang jadi pengurus selanjutnya, tetapi selama ini tidak pernah ada perubahan pengurus. Ini adalah organisasi yang bersifat sosial, dan fleksibel – siapa yang punya waktu, kalau bersedia akan memberikan waktu mereka. Pada saat yang sama, mereka membiarkan orang untuk datang dan berpartisipasi di acara ini.

Secara keuangan, kegiatan ini berjalan dengan lancar. Dulu, kelompok ini dapat funding dari sebuah yayasan di Jakarta. Bahkan mereka mengadakan kegiatan tidak hanya sarasehan pendidikan politik, tapi juga membuat pentas kesenian dan ketoprak. Lalu yang terlibat itu tidak hanya umat Katolik, tetapi juga umat Muslim dan umat dari agama lainnya. Para Umat ini berpartisipasi sebagai pemain gamelan, ataupun yang hanya ikut nonton pentas. Grup Thomas Aquinas berusaha untuk menciptakan masyarakat yang saling menghargai akan perbedaan, termasuk lewat kegiatan budaya dan hal lain yang tidak kalah seru. Grup Thomas Aquinas mengadakan banyak sekali pentas, dan selama ini selalu mendapat sponsor. Tetapi tahun lalu kelompok ini sempat tidak sanggup mengadakan acara karena situasi politik yang tidak mendukung. Tahun lalu merupakan tahun pemilu 2014, saat seluruh rakyat Indonesia sibuk dengan pemilihan presiden.

Thomas Aquinas adalah komunitas yang cair, maka yang penting setiap Oktober ada sarasehan kebangsaan. Mereka juga akan mengadakan sebuah acara di bulan Mei ini, yakni diskusi santai mengenai fenomena Islam radikal di Timur Tengah. Contoh kasus yang akan disorot antara lain ISIS, atau grup lain yang berada di Irak ataupun Syria. Diskusi akan membahas apakah ada potensi penyebaran radikalisme di Indonesia. Grup Thomas Aquinas akan mengundang Romo Heru Prakoso, romo yesuit yang belajar tentang agama islam di berbagai negara Islam seperti Turki atau pun Iran. Beliau tahu persis ajaran-ajaran agama islam, termasuk islam di tempat tertentu yang radikal. Harapannya dengan diskusi ini wawasan grup ini lebih terbuka dan tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang didasari oleh kekerasan.

Pak Ari Subagyo berkata bahwa Komunitas Thomas Aquinas “mempunyai mimpi dan obsesi yang semakin luas”. Oleh sebab itu, “jangkauan masyarakat yang dilayani begitu pula ikut menjadi lebih luas.” Dulu, alasan mengapa komunitas ini dibentuk karena Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo pernah mengatakan bahwa paroki ini mempunyai potensi secara keilmuan dan bisa membantu umat paroki lain. Komunitas Thomas Aquinas sempat melakukan pemetaan dengan membuat analisis tentang kelebihan masing-masing dan apa yang dapat dilakukan untuk ditawarkan ke tempat lain. Misalnya, mereka mendata jumlah dokter, psikolog, ahli farmasi, ekonomi maupun ahli komunikasi yang berani turun tangan untuk membantu organisasi ini. Akhirnya grup ini menggunakan mereka untuk membantu memperkuat organisasi ini.

Komunitas ini belum memperoleh penghargaan dari instasi pemerintah. Grup Thomas Aquinas tidak mencari penghargaan itu , yang penting komunitas ini tetap jalan. “Syukurlah kami bisa membantu masyarakat. Penghargaan itu bukan orientasi kami.” Kata Pak Ari Subagyo.

Di saat saya menanyakan peningkatan apa yang dirasakan masyarakat Yogyakarta dalam program komunitas ini, Pak Ari Subagyo menjawab, “Saya kira Yogya itu sering disebut sebagai Indonesia mini – city of tolerance, kota yang toleran. Salah satu yang tidak terelakkan adalah ada banyak sekali pendatang. Banyak pendatang-pendatang ini lalu setelah kuliah di sini tidak pulang. Maka, salah satu yang penting untuk dibuat di Yogyakarta kan bagaimana orang yang datang dari berbagai asal ini bisa tetap rukun. Pemahaman dari sisi multikulturalisme, kesediaan untuk menerima dan menghargai perbedaan dan ini merupakan concern dari komunitas kami.”

Ada juga banyak tantangan untuk mengembangkan komunitas ini. Tantangan pertama adalah kesibukan para anggota masing-masing. Kalau dihitung, anggotanya berisi ribuan orang, tetapi karena pada sibuk, hal itu jadi masalah internal. Yang eksternal, grup ini selama ini belum berani keluar lebih jauh, karena merasa yang terlibat cenderung tidak hanya yang sama. Maka harapannya semakin lama komunitas ini bisa bekerja lebih luas untuk membantu banyak orang.

Menurut Pak Ari, wajah Yogyakarta sekarang ini semakin kurang toleran terhadap keberagaman. Oleh karena itu, sumbangsih yang dapat diberikan oleh komunitas ini untuk mengembangkan kerukunan masyarakat adalah dengan dialog atau sarasehan. Pada saat yang sama, grup ini melakukan hal tersebut juga lewat anjuran atau ajakan. “Kalau ingin menciptakan masyarakat yang sungguh harmonis, rukun antarumat, itulah namanya dialog karya,” begitu katanya. Dialog karya itu hanya bisa terjadi di RT/RW masyarakat tersebut. Maka anggota komunitas ini terlibat konkret dalam masyarakat itu. Kalau ada gotong royong, grup Thomas Aquinas berpartisipasi. Karena mereka sangat terlibat dengan kerja bakti tersebut, maka mereka tidak pandang perbedaan lainnya. Jadi, grup ini bisa melebur dan menyatu. Mau tidak mau mereka harus bekerja sama dan tidak memandang perbedaan-perbedaan kelas sosial maupun agama dan ras.

Saya mengatakan kepada Pak Ari Subagyo “Terimakasih atas waktu yang telah disumbangkan untuk wawancara ini. Apakah ada lagi yang ingin disampaikan untuk para pembaca, khususnya para mahasiswa di Sanata Dharma?”

Beliau menjawab “Saya ingin memberikan contoh yang menarik. Di salah satu sarasehan kami, kami bertemu banyak orang Islam yang mengikuti bermacam aliran. Kami terbuka dengan mereka, dan kami juga sering mengundang mereka untuk berbicara di sarasehan kami. Tetapi, beberapa dari mereka berasal dari sekte agama yang tertutup atau fanatik. Terkadang diajak berdialog dengan mereka itu sulit. Sampai sekarang, kami berusaha untuk mendekati dan mengajak mereka berbicara, tetapi tidak mudah. Jadi, salah satu pelajaran yang penting adalah untuk belajar mengerti perspektif orang lain dan menghargai perbedaan yang mereka miliki.

Pak Ari kemudian menceritakan suatu kasus, bagaimana komunitas itu belajar dari “kesalahan” yang dilakukan untuk memahami perbedaan. Mereka pernah mengadakan sarasehan di hari Minggu, mulainya jam 10 pagi. Bagi orang Katolik atau kristen, itu waktu pulang dari gereja. Karena mengundang beberapa narasumber, acara belum selesai sampai pukul 12, sampai terdengar adzan. Ternyata moderatornya lupa untuk menghentikan sarasehan sementara untuk menghormati adzan tersebut. Pak Ari menyadari, bahwa seharusnya di saat adzan dimulai, semua kegiatan yang terlibat dengan berbicara harus berhenti. Lalu, ada orang Muslim yang protes dan menegur supaya moderatornya berhenti berbicara sejenak. Situasinya kemudian menjadi agak panas, dan setelah itu moderatornya minta maaf. Pak Ari mengingatkan, “Kalau anda mengadakan acara, apalagi bila menggunakan tempat di dekat mesjid sehingga adzannya terdengar, sebaiknya dihentikan dulu musik ataupun ceramah yang dibuat di acara itu. Pelajaran yang dapat diperoleh dari skenario ini adalah untuk saling menghargai dan menghormati agama satu sama lain.”

Tentu perbedaan antar agama tidak hanya terjadi di Indonesia. Teman saya Peter Eleftherakis adalah orang Australia yang mengalami hal cukup menyedihkan di negaranya sendiri. Di Indonesia, semua orang tentu diberikan kewajiban untuk menganut agama masing-masing. Sedangkan di Australia, lebih dari 50% penduduk di sana tidak memiliki agama, atau bisa dibilang para mayoritas masuk ke golong Agnostik atau Ateisme. Teman saya ini keturunan Yunani dan beragama Kristen Orthodox, dan dia seringkali di caci maki oleh teman-teman di sekolah karena kepercayaan tersebut. Peter bilang “Saya mengalami banyak sekali peristiwa tidak menyenangkan. Karena di sana banyak yang tidak percaya pada Tuhan, saya malah dikucilkan. Saya sangat tertarik untuk mengikuti acara yang ada di grup Thomas Aquinas. Siapa tahu itu akan membantu membuka wawasan saya dan belajar hal-hal baru, apalagi karena agama Katolik itu termasuk minoritas di Indonesia.” Kebetulan, Peter sekarang tinggal di Jogjakarta dan sedang belajar bahasa Indonesia. Ia sangat tertarik untuk berbaur dan menyesuaikan diri di kota kecil ini yang penuh dengan perbedaan indah.

Dengan wawancara ini, saya belajar beberapa banyak hal. Saya belajar untuk menghargai perbedaan, dan juga mengasihi orang lain dan pentingnya menghormati budaya Indonesia. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa diterapkan di Sanata Dharma juga. Contohnya, cara mereka melakukan kerja bakti bersama dan saling membantu. Mungkin dengan mengunjungi komunitas beragama lain dan memberikan sedekah pada yang kurang mampu, atau mengadakan sarasehan di kampus. Saya sadar bahwa Jogja itu tempat yang strategis untuk melakukan kegiatan seperti ini karena banyak sekali pendatang-pendatang dari berbagai daerah yang berkumpul di sini, apalagi di Sanata Dharma.

About Sastro Sukamiskin