SSCJ : Berjuang Untuk Kaki-Kaki Kecil Jalanan

Oleh:

Gerardo Mayella Galileo 144214063 & Hadrian Kusuma Asmara 144214071

sscj logo_blog

“Berjuang untuk anak jalanan itu enggak mudah mas”, satu kutipan kalimat yang diutarakan oleh Didin, pria kelahiran Jogja dan lulusan Ekonomi UGM yang merupakan salah satu anggota divisi Humas dan Media dari komunitas “SSChild Jogja” atau Save Street Children Jogja, pria ini bergabung bersama SSChild (Save Street Children) Jogja pada tahun 2013 bulan Juli. Save Street Children Jogja atau biasa disebut SSChild Jogja. . Save Street Children Jogja atau biasa disebut SSChild Jogja suatu komunitas yang cukup dikenal masyarakat dan merupakan satu-satunya komunitas di Jogja yang hanya fokus dan mengutamakan anak-anak jalanan. Berawal dari seorang bernama Selatifa yang pada waktu itu masih berkuliah di Universitas Paramadina Jakarta, Selatifa menginisiasi sebuah gerakan yang dibentuknya bernama Save Street Children di Jakarta. Lalu ada kawan dari Jogja bernama Ari, seorang mahasiswa ISI Jogjakarta yang ingin membuat komunitas sejenis dan dengan tiga orang temannya, Ari diperbolehkan membuat komunitas sejenis yang akhirnya dinamakan SSChild Jogja atau Save Street Children Jogja.

sscjn

Sudah hampir empat tahun komunitas Save Street Child Jogja ini berdiri sejak bulan Agustus tahun 2011 sampai sekarang. Pertama kali dibangun oleh Ari dan tiga orang temannya, Save Street Child Jogja ini belum dikenal oleh masyarakat Jogja. Dikatakan oleh Didin bahwa saat komunitas ini dibentuk kondisi masyarakat Jogja terhadap anak-anak jalanan belum begitu peduli dan mengerti sehingga masyarakat masih menganggap anak-anak jalanan itu kumuh dan kotor. Masyarakat menganggap anak-anak jalanan tidak berpendidikan dan berasal dari keluarga yang tidak benar, dengan kondisi inilah sekumpulan orang yang bergabung dalam komunitas Save Street Child daerah Yogyakarta ini ingin membuktikan bahwa anak-anak jalanan itu tidak seperti yang kebanyakan orang sebutkan. SSChild ini ingin menunjukkan bahwa anak-anak jalanan adalah anak-anak yang berpendidikan, bermartabat, mempunyai harga diri, dan bukan kriminal seperti halnya anak-anak lainnya. Ari dan kawan-kawan membuat hal itu harus menjadi nyata dengan adaya komunitas ini, dari awal berdiri dan sampai sekarang terus berkembang dan berkembang.

Awal berdirinya komunitas ini, Ari dan tiga kawannya masih berjalan sendiri belum adanya keorganisasian membuat komunitas ini masih berjalan sendiri dan tidak teratur. SSChild lebih fokus kepada edukasi anak-anak jalanan dan sebagian warga tidak terlalu tahu dengan adanya komunitas SSChild ini karena masyarakat tidak menghiraukan apa yang dilakukan oleh komunitas ini. Tetapi juga ada masyarakat yang tahu tentang komunitas ini dan masyarakat memiliki banyak pandangan tentang SSChild Jogja ini. Didin salah satu anggota SSCHild Jogja mengatakan, “Kalo masyarakat biasa memang rada gimana gitu mas, tapi kalo masyarakat yang berada di area anak-anak jalanan mendukung”. Sejumlah masyarakat biasa yang tidak berada dalam lingkup jalanan memang masih memiliki stigma negatif terhadap anjal atau anak jalanan. Adanya anak-anak jalanan dan juga komunitas yang mendukung anak-anak jalanan dianggap sedikit mengganggu sejumlah masyarakat, seperti apa yang dikatakan oleh Didin dari pengalamannya dan SSChild Jogja saat Didin dan kawan-kawan mencari sebuah “shelter” atau tempat menetap untuk anak-anak jalanan. Kebanyakan tempat yang akan ditawar selalu menolak untuk mengontrakkan atau menjualnya karena dikontrak atau dibeli untuk keperluan anak-anak jalanan, tetapi bagi masyarakat yang tinggal di daerah dimana anak-anak jalanan biasa berada atau “mangkal” seperti yang berada di kawasan Malioboro, sebagian besar dari masyarakat mendukung kegiatan dan adanya komunitas SSChild ini. Masyarakat belum terlalu terlibat dalam komunitas SSChild ini setelah baru berdiri. Seiiring berjalannya waktu, keterlibatan warga mulai nampak dengan menjadi relawan atau “volunteeratau juga membantu memberingan sumbangan.

D:\foto\tugas kewarganegaraan\IMG_7494.JPG

Dengan berjalannya waktu komunitas Save Street Child Jogja ini mulai berkembang dan terus berkembang, pada tahun 2013 SSChild mulai mendapatkan “volunteer” satu demi satu dan merubah “setting” dari yang hanya membantu edukasi sekarang membantu kehidupan anak-anak jalanan, kawan-kawan SSChild mulai membentuk suatu keorganisasian dalam komunitas agar lebih teratur dan lebih mendalami dalam mengelola komunitas ataupun membantu anak-anak jalanan. Kawan-kawan di komunitas SSChild ini memang bertekad untuk membuat komunitas yang terstruktur sehingga sudah memiliki sistem organisasi tadi, serta kawan-kawan SSChild juga bertekad tidak hanya menjadi komunitas yang ingin eksis dan terkenal tetapi menjadi komunitas yang selalu ada, berbagi, dan yang paling penting adalah memberdayakan anak-anak jalanan tidak hanya dari edukasi tetapi juga dari segi kehidupan sang kaki-kaki kecil (anak-anak jalanan) ini. Tahun 2013, Didin berkata bahwa SSChild Jogja mempunyai target yaitu merombak struktur organisasi dan menjadikannya lebih terstruktur dan target itu akhirnya terpenuhi setelah terbaginya divisi-divisi yang sudah ada seperti Humas dan Media, divisi Litbang dan lain-lain. Target ini membuat kegiatan-kegiatan SSChild belum terlalu banyak tetapi dibandingkan dengan awal berdirinya, jangkauan SSChild mendampingi anak-anak jalanan mulai meluas.

“Pada tahun 2014 dan 2015, di jamannya Reza (ketua SSChild Jogja) kami menargetkan untuk menambah “volunteer” nya, dan tahun-tahun berikutnya kami akan membuat target yang baru”, pernyataan Didin yang menunjukkan keseriusan komunitas SSChild ini untuk benar-benar menjadi komunitas yang mempunyai kualitas dan kuantitas. Di tahun 2014 dan 2015 ini SSChild berkembang pesat dengan adanya pergantian pengurus dan kematangan struktur organisasi, seperti adanya ketua, bendahara, sekretaris dan divisi-divisi lain. Masalah keuangan pun juga teratasi dengan datangnya “volunteer-volunteer” untuk bergabung dan menyumbang dana untuk anak-anak jalanan. Komunitas Save Street Children Jogja ini tidak sembarangan juga untuk memilih “volunteer”, para “volunteer” yang ingin ikut harus mengerti dan mempelajari siapa yang akan para “volunteer” ini dampingi agar selalu siap dan tanggap dalam setiap situasi yang ada. Semakin banyaknya anggota dan semakin dikenalnya nama komunitas ini, SSChild Jogja menambah jumlah kegiatan, dari kegiatan bersama anak-anak jalanan seperti mengamen bersama, memberikan edukasi pada anak jalanan ataupun kegiatan internal komunitas. Perkembangan SSChild Jogja ini juga dapat dilihat dari mulai luasnya jangkauan SSChild dalam membantu anak-anak jalanan, seperti SSChild sudah membuat beberapa “shelter” untuk anak-anak jalanan.

Save-Street-Child-Jogja-720x340

Komunitas SSChild Jogja ternyata tidak dikenal oleh pemerintah, bisa dibilang bahwa SSChild ini tidak seperti LSM (Lembaga Sosial Masyarakat) di Jogja lainnya. SSChild Jogja ini seperti komunitas yang berjalan sendiri tidak dibawah naungan pemerintah atau bisa disebut “underground”, dengan kondisi ini maka SSChild Jogja susah untuk mendapat penghargaan dari pemerintah dan Reza, ketua SSChild Jogja mengatakan bahwa “SSChild Jogja bukan komunitas yang hanya ingin terkenal tetapi tidak berbuat apa-apa, kami hanya ingin memberdayakan adik-adik dan itu tujuan kami, jika mendapat penghargaan ya alhamdullilah.”, tambah Reza. Walaupun SSChild Jogja bukan komunitas dibawah naungan pemerintah tetapi SSChild Jogja ini selalu bekerja sama dengan LSM-LSM di Jogja yang juga ingin membantu anak-anak jalanan, seperti PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Yogyakarta. Saat ini, SSChild Jogja dan PKBI sedang intensif untuk mengadakan pertemuan perihal edukasi untuk anak-anak jalanan, selain itu masih banyak juga sejumlah LSM lain yang digandeng oleh SSChild Jogja untuk bekerjasama. Nama Save Street Children Jogja sekarang ini mulai dikenal oleh masyarakat, komunitas, dan LSM-LSM lain sehingga tidak sedikit dari masyarakat atau komunitas lain mengundang Save Street Child Jogja ini untuk mengadakan pertemuan dan mengundang untuk berdiskusi atau mengundang seminar.

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Save Street Child Jogja ini, dulu pernah diadakan yang namanya Paksutris atau Paket Susu Gratis, dalam kegiatan ini Didin mengatakan bahwa SSChild Jogja berputar dan berkeliling Jogja untuk membagi susu gratis kepada anak-anak jalanan dan menurut Didin dengan kegiatan Paksutris, Save Street Child Jogja dapat berinteraksi lebih dekat dengan anak-anak jalanan di luar lingkup anak-anak yang komunitas Save Street Child Jogja dampingi tetapi seiring berj alannya waktu, kegiatan PakSuTris ini mulai tidak dilakukan lagi dan ditinggalkan oleh komunitas Save Stret Child Jogja tanpa ada alasan yang jelas. Selain kegiatan PakSuTris masih ada kegiatan lain yang dilakukan oleh Save Street Child Jogja, seperti pada awal berdiri komunitas ini dikenal dengan kegiatan mengamen bareng anak-anak jalanan setiap seminggu sekali tetapi kegiatan ini pun sudah jarang sekali dilakukan oleh komunitas Save Street Child Jogja kali ini. Pada sekarang ini, komunitas Save Street Children Jogja atau SSChild Jogja benar-benar mengadakan kegiatan yang berguna bagi adik-adik jalanan. Dari hal edukasi komunitas ini mengadakan kelas rutin yang dilakukan untuk memberikan pendidikan pada anak-anak jalanan, kelas rutin ini dilakukan kira-kira tiga kali dalam seminggu dan dilakukan di suatu tempat di daerah Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, tempat dimana anak-anak jalanan mandapatkan edukasi. Selain itu, Save Street Children Jogja juga membuat acara bersama anak-anak jalanan, seperti bermain bersama di “shelter”. Dari kegiatan-kegiatan inilah komunitas Save Street Children Jogja mendampingi anak-anak jalanan, walaupun tidak semua anak-anak jalanan di Jogja ini dapat didampingi. Tidak hanya kegiatan external yang dilakukan oleh komunitas Save Street Children Jogja ini, kegiatan internal pun juga dibuat seperti pertemuan dan perkenalan anggota Save Street Children Jogja atau pengajaran dan penyuluhan tentang bagaimana cara mendampingi anak-anak jalanan.

sscj3

Setelah berjalan selama hampir empat tahun, komunitas Save Street Children Jogja ini bisa dikatakan membawa perubahan terhadap anak-anak jalanan maupun masyarakat Jogja. Efek yang diberikan kepada masyarakat memang tidak terlalu besar karena Save Street Children Jogja ini lebih memfokuskan diri ke anak-anak jalanannya. Sebagian masyarakat Jogja terutama yang berada di daerah “shelter” anak-anak jalanan mulai dapat mengerti betapa susah dan kerasnya kehidupan sang anak-anak jalanan ini dan masyarakat daerah sana juga mulai untuk tidak terlalu resah dengan adanya anak-anak jalanan tetapi sekali lagi tetap saja masih banyak dari masyarakat yang masih meremehkan dan menganggap anak-anak jalanan itu tidak baik dan tidak bermartabat. Berbeda dengan apa yang dirasakan oleh anak-anak jalanan setelah adanya komunitas Save Street Children Jogja ini, keberadaan para kaki-kaki kecil jalanan ini mulai dianggap keberadaannya, selain itu anak-anak jalanan mulai merasa diperhatikan oleh banyak orang dan dapat diberikan pendidikan gratis, mendapat tempat hunian dan fasilitasnya seperti kompor, lemari, meja, kursi, dan peralatan rumah lainnya, mendapat makanan, dan yang paling penting anak-anak jalanan ini merasa mempunyai harga diri dan kepercayaan diri yang perlahan beranjak besar.

Perkembangan yang pesat oleh komunitas Save Street Children telah mengubah banyak hal tetapi semua perubahan ini belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunitas Save Street Children Jogja itu sendiri. Masih banyak target yang belum tercapai oleh komunitas ini salah satu contohnya adalah pembuatan film dokumentasi tentang anak-anak jalanan karena terhalang oleh suatu lembaga pemerintahan.

Perjalanan komunitas Save Street Children Jogja ini tentu tidak semulus yang direncanakan dan dibayangkan oleh banyak orang. Sangat banyak tantangan yang dihadapi oleh komunitas ini, dari tantangan yang kecil seperti kekurangan “volunteer” yang aktif sampai dengan tantangan yang besar seperti ancaman dari petugas pemerintahan. Kekurangan “volunteer” yang aktif mengganggu perkembangan komunitas ini dan juga membuat pergerakan komunitas ini menjadi sedikit lamban. Selain itu, kekurangan “volunteer” yang aktif ini juga membuat dana dari komunitas terhambat dan menyulitkan komunitas saat ingin melakukan kegiatan di dalam ataupun luar komunitas. Tidak hanya permasalahan kekurangan “volunteer” yang aktif, permasalahan lainnya dan lebih berat yang juga dihadapi yaitu melawan ancaman dari petugas pemerintah. Banyak anak-anak jalanan yang ditangkap oleh petugas pemerintah dan dimasukkan ke dalam suatu “camp” yang diatur oleh pemerintah. Selain itu, tidak hanya anak-anak jalanan yang ditangkap oleh pemerintah tetapi anggota dari suatu komunitas atau orang-orang yang membantu gelandangan atau pengemis khusunya anak-anak jalanan juga akan ditangkap dan dikenakan hukuman.

Menurut Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta no.1 tahun 2014, “a. bahwa pemerintah mempunyai kewajiban untuk menjamin dan memajukan kesejahteraan setiap warga negara serta melindungi kelompok-kelompok masyarakat yang rentan; b. bahwa gelandangan dan pengemis merupakan masyarakat rentan yang hidup dalam kemiskinan, kekurangan, keterbatasan, kesenjangan dan hidup tidak layak serta tidak bermartabat, maka penanganan gelandangan dan pengemis perlu dilakukan dengan langkah-langkah yang efektif, terpadu, dan berkesinambungan serta memiliki kepastian hukum dan memperhatikan harkat dan martabat kemanusiaan, untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan ketertiban umum.” Dengan adanya Peraturan Daerah tersebut, anak-anak jalanan menjadi sasaran petugas pemerintah untuk ditangkap sehingga dewasa ini sulit untuk menemukan gelandangan atau pengemis khususnya anak-anak jalanan yang berkeliaran di jalanan Yogyakarta yang juga adalah sasaran komunitas Save Street Children Jogja ini.

Melawan Peraturan Daerah adalah musuh terbesar komunitas Save Street Children belakangan ini, komunitas menjadi tidak leluasa seperti dulu untuk bertemu dan mendampingi anak-anak jalanan. Save Street Children Jogja dan komunitas-komunitas lainnya malah menjadi sasaran petugas pemerintah untuk ditangkap karena komunitas-komunitas ini membantu anak-anak jalanan yang dikategorikan sebagai gelandangan dan pengemis. Menurut pengalaman Didin anggota Save Street Children Jogja, saat beberapa komunitas berkumpul di suatu tempat di pertigaan ringroad jalan Solo untuk membahas bagaimana kelanjutan anak-anak jalanan, beberapa orang dari komunitas tahu bahwa pada saat itu ada seorang petugas pemerintah seperti reserse yang datang dan mengambil gambar pertemuan tersebut. Tidak hanya itu, sebagian orang dari beberapa komunitas seperi Didin ini sudah diintai sejak lama sampai mengerti seluk beluk kehidupan Didin. Inilah ancaman dan tantangan terberat dari komunitas Save Street Children Jogja karena komunitas ini dapat dikategorikan sebagai musuh negara yang melawan Peraturan Daerah.

Komunitas Save Street Children sampai saat ini masih berjuang untuk menyelamatkan kehidupan anak-anak jalanan agar dapat memiliki kehidupan seperti layaknya anak-anak biasa dan mengangkat taraf hidup para anak jalanan agar tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat pada umumnya.

Terkadang memang sulit untuk berbuat suatu kebaikan seperti halnya komunitas Save Street Children Jogja yang ingin membantu anak-anak jalanan agar mendapat kehidupan yang layak tetapi semua perbuatan dan usaha selalu mempunyai hambatan dan tantangan. Walau terkadang tantangan dan masalah yang dihadapi merupakan tantangan dan masalah yang mustahil untuk diselesaikan seperti halnya komunitas Save Street Child Jogja yang menghadapi tantangan dan masalah yang bisa merugikan dan membahayakan diri sendiri. Save Street Children Jogja, berjuang demi kaki-kaki kecil jalanan.

REFERENSI

1. Wawancara dengan Reza sebagai ketua Komunitas Save Street Children Jogja pada tanggal 25 Maret 2015 di Taman Kuliner CondongCatur.

2. Wawancara dengan Didin sebagai anggota Divisi Humas dan Media Komunitas Save Street Children Jogja pada tanggal 27 Maret 2015 di Kedai Keblasuk.

hadrianasmara@gmail.com'

About Hadrian Kusuma Asmara