Shalinkers (Sahabat Lingkungan) Jogjakarta

Oleh:
Ayu Dian Agita 144214054 & Agatha Christie 144214082

 


Kota Jogja merupakan kota pelajar. Banyak pelajar dari luar kota, bahkan luar pulau datang ke Jogja untuk menuntut ilmu. Kota Jogja menjadi tempat yang paling di cari dalam segi pendidikan. Hal tersebut karena kota Jogja mempunyai banyak sekolah yang berkualitas, terutama Universitasnya. Harusnya, Jogja menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, namun faktanya saat ini kondisi Jogja saat ini sangat memprihatinkan. Cuaca yang panas serasa membakar kota Jogja. Kota terlihat sangat gersang dan pengap. Tidak lagi terlihat pepohonan yang menghiasi kota Jogja. Kota Jogja tidak lagi menyuguhkan pemandangan asri namun ditunjukkan dengan bangunan-bangunan besar nan megah. Hotel, apartemen, mall, dan bangunan pencakar lainnya dengan mudah di temukan di kota Jogja ini. Tidak ada orang yang peduli dengan lingkungan. Sikap masyarakat saat ini sangat acuh terhadap lingkungan. Hal tersebut menjadi sorotan bagi komunitas yang akan kita bahas. Mereka adalah komunitas yang peduli dengan alam, yang bernama Shalinkers.
Siapa itu Shalinkers? Mau tahu tentang Shalinkers? Ini jawabannya.

Shalinkers adalah Sahabat Lingkungan di Jogjakarta. Sahabat lingkungan Yogya atau yang biasa disebut Shalinkers merupakan wadah bagi individu yang memiliki keinginan untuk mencapai perbaikan lingkungan khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sahabat Lingkungan merupakan komunitas resmi yang dinaungi oleh lembaga pemerintah bernama Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) ini merupakan wadah yang pertama kalinya dibentuk oleh WALHI yang ada seluruh Indonesia. Walhi jelas berbedan Shalinkers. Shalinkers merupakan komunitas yang dibawahi oleh WALHI. Selain itu perbedaan WALHI berhubungan langsung dengan bidang avokasi, sedangkan Shalinkers sendiri berhubungan dengan bidang pendidikan dan kampanye. Sebenarnya, Shalinkers sendiri telah dihapuskan oleh WALHI Nasional. Lantas bagaimana Shalinkers ini dapat terbentuk dan bertahan hingga saat ini?

Awalnya, Shalinkers tercetus oleh karena pemikiran Ibu Suzane dan Mas Aji. Mereka berdua merupakan individu yang ingin masuk ke komunitas WALHI, tetapi tidak semudah itu untuk menjadi anggota WALHI. Maka mereka membuat jembatan bagi teman-teman yang ingin bergabung ke WALHI, yaitu Shalinkers. Ibu Suzane dan Mas Aji yang kemudian di beri tanggung jawab dari WALHI untuk mengurus Shalinkers. Satu per-satu individu datang dan bergabung dengan Shalinkers demi mencapai perbaikan lingkungan di Yogyakarta ini. Sebenarnya Shalinker sini sendiri sudah dirancang pada tahun 2003, namun komunitas ini didirikan pada tahun 2004. Namun pada tahun 2005 komunitas ini sempat vacuum karena koordinatornya pergi ke luar negri. Hingga pada akhirnya pada tanggal 9 Desember 2006, Aji Andrianto dilantik sebagai koordinator dan terbentuklah Shalinkers secara resmi. Latar belakang berdirinya Shalinkers ini adalah pada saat terjadinya gempa di Jogja dan sekitarnya. Untuk menjadi relawan bukan hanya sekedar memberikan bantuan dalam bentuk sandang, pangan dan papan, melainkan juga memberikan bantuan atas pembenahan lingkungan yang rusak akibat gempa. Hal tersebut menjadi dorongan bagi teman-teman yang peduli dengan lingkungan untuk membangun komintas Shalinkers ini.

Hingga saat ini, anggota aktif beserta koordinator yang dimiliki Shalinkers berjumlah sekitar kurang lebih 20 individu. Koordinator Shalinker saat ini adalah Mas Fahmi. Keaktifan serta niat para individu tersebut untuk mencapai perbaikan lingkungan dapat dikatakan menjadi salah satu kunci bertahannya Shalinkers hingga saat ini. Tidak hanya itu, otoritas WALHI Yogya untuk mempertahankan Shalinkers juga merupakan kunci bagi terbentuk dan bertahannya komunitas ini.

Mau tahu pula kegiatan-kegiatan di Shalinkers?
Sampai saat ini sudah sekitar puluhan kegiatan mencapai perbaikan kota Yogya dijalankan oleh Shalinkers diantaranya; Seminar dan diskusi mengenai lingkungan hidup, menanam pohon, membersihkan sungai, seperti agenda beberapa bulan lalu di Kali Code dan Sungai Gajahwong. Kegiatan tersebut dilaksanakan di berbagai kawasan di Yogya, terutama daerah kawasan Merapi, Menoreh, pesisir, kota, dan kars.

Kegiatan yang diadakan oleh Shalinkers tersebut mendapatkan sambutan baik dari masyarakat Yogya. Hal tersebut menimbulkan dampak bagi masyarakat di Yogya, khususnya kesadaran mereka akan pentingnya lingkungan. Ketika kegiatan berlangsung banyak warga yang terlibat langsung untuk ikut menanam dan membersihkan sampah-sampah. Namun, hanya beberapa warga saja yang ikut serta karena sekarang ini kesadaran untuk memelihara memang sangat tumpul, seolah-olah mereka acuh dengan lingkungan mereka sendiri. Tentu hal ini pula yang disoroti oleh Shalinkers. Mereka juga ingin menumbuhkan kesadaran masyarakt untuk lebih menghargai dan menjaga lingkungan.

Menanam Cinta di Bukit Menoreh

Mengapa kegiatan tersebut diberi nama Menanam Cinta di Bukit Mernoreh? Hal terebut karena kegiatan tersebut diadakan bertepatan pada bulan kasih sayang yaitu bulan Februari. Kegitan ini diadakan pada hari Minggu tanggal 22 Februari 2015. Sebanyak 40 pemuda bersama Shalink dan Walhi yang terlibat dalam kegiatan ini. Bukit ini berada di wilayah Dukuh Tritis, Desa Ngargosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, DIY yang merupakan bagian dari kawasan perbukitan Menoreh. Mereka menanam beragam jenis pohon di bukit tersebut, mungkin ada sekitar 200 jenis pohon. Banyak sekali bukan?
Di daerah tersebut memang sangat minim pepohonan, sehingga membuat daerah itu rawan terjadi bencana tanah longsor. Sehingga, perlu diadakan perbaikan dan perawatan untuk menghindari terjadinya longsor terebut.
Mereka menanam kebanyakan tanaman buah-buahan agar mengurangi penebangan pohon untuk alasan ekonomi. Mereka berharap agar dengan menanam buah bisa pula untuk menghasilkan perekonomian bagi mereka, warg disekitar wilayah.

Berikut adalah foto-foto kegiatan menanam di bukit Menoreh. IMG02230-20150222-1049-750x563
http://www.beritaloka.com/2015/02/hijaukan-menoreh-kembangkan-agro-wisata

Hari Air Sedunia di Jogjakarta
Di jelaskan oleh teman-teman dari Shalinkers bahwa mereka sangat prihatin dengan penggunaan air yang semaunya dan kurang memperhatikan keseimbangan ekosistem. Sekarang ini Indonesia pada sedang mengalami krisis air bersih. Apalagi pada musim hujan seperti ini, air melimpah namun dalam bentuk banjir yang meliputi beberapa daerah di Indonesia, terutama di daerah Jogjakarta. Belum lagi sifat konsumtif masyarakat yang sangat besar. Masyarakat jaman sekarang ini menginginkan apa-apa yang serba instan, alasannya hanya tidak ingin repot. Mungkin memang banyak masyarakat yang sibuk dan tidak mempunyai waktu untuk memasak air minum. Padahal bila di nalar, memasak air sampai mendidih itu tidak membutuhkan waktu lama, tidak lebih dari setengah jam. Mugkin untuk memasak air satu teko hanya membutuhkan waktu seperempat jam. Tidak lama bukan? Kita bisa meluangkan waktu sebanyak lima belas menit saja untuk memasak air. Mungkin pada pagi hari kita bisa memasak air disambi mempersiapkan diri kita untuk sekolah atau bekerja.
Namun, waktu lima belas menit itu kadang tetap disepelekan masyarakat. Toh, kalau ingin membeli air minum bisa membeli air dalam galon, harganya juga hanya berapa. Tapi tunggu dulu, mungkin benar air dalam galon berkisar antara lima belas ribu sampai dua puluh ribu rupiah, namun bila dibandingkan dengan memasak air sendiri kita mengeluarkan air sebanyak nol rupiah. Bila memasak menggunakan gas juga tidak sampai semahal bila kita membeli air kemasan.
Mengapa harga air mineral dalam kemasan bisa sangat mahal, bahkan lebih mahal dari pada bensin? Jadi begini, untuk membuat air minum dalam kemasan tersebut pasti membutuhkan proses yang lama dan terkait dengan berbagai macam hal. Begini maksudnya, mengambil air dari mata air tertentu pasti juga sudah menggunakan peralatan canggih yang harganya lumayan mahal, belum lagi peralatan untuk mengolahnya. Untuk mendistribusikan barang tersebut juga menggunakan bensin, belum lagi membayar karyawan yang bekerja di pabrik air tersebut. Kemasan untuk mengemas air pun juga membuat harga air menjadi lebih mahal. Jika di pikir-pikir, mengapa minum air harus membayar? Air itu milik siapa sebenarnya? Ya, air itu milik kita semua. Anda baru merasa rugi sekarang? Benar bila anda merasa rugi karena air itu memang diperuntukkan bagi semua masyarakat, tidak ada yang boleh menguasai/mangklaim kepemilikan sumber air. Dipikir lebih lanjut lagi sungguh aneh dan menggelitik, air saja harus beli dengan harga mahal, apakah akan menjadi masalah pula bila harga air naik seperti halnya harga bbm naik. Come on, air itu milik siapa saja. Air bisa ada di mana saja. Jadi kurangi membeli air minum dalam kemasan bila anda sudah “merasa rugi”.
Selain alasan ekonomi, memasak air sendiri jelas lebih sehat dibandingkan dengan membeli air kemasan. Karena memasak air sendiri dapat dikatakan bersih dan higienis karena tidak menggunakan bahan kimia apapun. Selain itu proses pengolahannya juga bersih hanya memasak air dalam kompor atau menggunakan heater saja. Bila air minum dalam kemasan belum dapat dipastikan bahwa semuanya sehat dan bersih. Terkadang ada produsen yang nakal, seperti misalnya menjual air isi ulang galon dengan menggunakan air tidak bersih dan tidak matang. Hal seperti itu tidak ada yang tahu, yang tahu hanya produsen yang menjual itu sendiri. Masyarakat tidak tahu akan hal tersebut, yang mereka tahu hanya memenuhi kebutuhannya saja, tidak harus bersih yang penting gampang.
Pada tanggal 22 Maret 2015 kemarin, Salinkers kembali mengadakan agenda penting bagi kelestarian lingkungan di Jogjakarta. Komunitas Shalink mengadakan aksi untuk memperingati hari air sedunia tersebut. Mereka memasang spanduk-spanduk yang berisikan tentang pentingnya air.
1907692_985902131454668_7046075836329961596_naksi-air-2-750x422
Seperti spanduk bertuliskan: Privatisasi Dalam Pengelolaan Air Bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 33 ayat 2 dan 3, Penyebab Kekurangan Air Tanah di Tempat Pivatisasi, Hanya 2,53 Persen Total Air di Dunia Merupakan Air Bersih, dan 1 Persen Air Dapat Diminum. Ada juga yang bertuliskan: Harga air di Indonesia Paling Mahal Se-Asean, dan 2/3 Rakyat Indonesia Belum Terpenuhi Akses Air Bersih.
Mereka juga membuat kostum yang berbentuk botol air minum, sangat lucu dan mengesankan. Kreativitas mereka memang jempolan, bisa mengundang perhatian masyarakat.

Dari poster kegiatan diatas bisa kita lihat ada tulisan 3Ng, yang berkepanjangan Nggodog, nggowo, ngunjuk. Nggodog artinya memasak air, Nggowo artinya membawa, dan Ngunjuk artinya meminum. Jadi, Shalinkers mengajak masyarakat untuk memasak air sendiri, membawa, dan meminumnya tanpa harus membeli air minum dalam kemasan/ AMDK. Selain itu dalam poster tersebut dapat kita lihat tulisan sebagai berikut. “Air merupakan kebutuhan vital bagi makhluk hidup, hampir semua kegiatan yang dilakukan dimuka bumi ini memerlukan air. Kebutuhan air sangat tinggi dengan meningkatnya jumlah penduduk dan maraknya pembangunan. Di daerah penangkapan air kini sudah menjadi bangunan-bangunan dan gedung-gedung yang mewah, jika ini tetap berlanjut bencana banjir dan ketersediaan air bersih akan semakin menipis.” Terlihat sekali dalam kalimat-kalimat tersebut bahwa Shalink sangat peduli akan lestarinya lingkungan alam. Seharusnya kepedulian itu bukan sekedar hanya dimiliki oleh Shalink, tetapi juga semua masyarakat yang masih memerlukan alam untuk proses kehidupannya di dunia.
Berikut foto kegiatan hari air sedunia oleh Shalinkers.

1962723_986333681411513_6666538116752578161_n

Dalam acara hari air sedunia yang diadakan Shalink, mereka juga membagikan air gratis kepada masyarakat yang datang. Banyak masyarakat yang berkunjung dan mengambil air minum gratis tersebut.

11081085_1069216183104951_2974088872816090297_n

Shalinkers ini mendapatkan beberapa penghargaan dari kegiatan-kegiatan yang pernah mereka adakan. Seperti penghargaan atas surat yang sangat besar dari kertas bekas yang didaur ulang, rekor muri pada tahun 2005. Banyak sertifikat, piala dan penghargaan yang didapatkan Shalinkers. Semuanya itu di simpan di basecamp yang berada di Kotagede.
Ini adalah beberapa penghargaan yang pernah diperoleh Shalinkers.

Selain mengadakan acara atas nama Shalinkers sendiri, mereka juga banyak melakukan kegiatan atau bekerjasama dengan komunitas lain, bahkan pemerintah. Bentuk kerjasama yang diadakan pemerintah adalah acara pentas menyanyi. Tentu saja acara tersebut berhubungan dengan lingkungan. Lagu yang dinyanyikan bertemakan lingkungan. Dengan kegiatan tersebut, terselip pesan tentang menjaga lingkungan atau memeberikan pembelajaran tentang pentingnya lingkungan. Selain itu, acara kerja sama dengan komunitas lain adalah Ngijo Ning Kotagede yang bekerja sama dengan komunitas buang sampah dan poltekes. Acara tersebut merupakan acara rutinan yang biasa diadakan tiap satu tahun sekali. Kegiatan kerjasama yang yang lain adalah undangan diskusi oleh Mapala UNY untuk menjadi pembicara yang membahas tentang biogas atau sekedar sharing ilmu tentang pengetahuan lingkungan.

Tantangan yang sering dijumpai oleh komunitas ini adalah pola pikir masyarakat yang konsumtif. Bahkan hanya sekedar untuk minum masyarakat sekarang, khususnya masyarakat Indonesia, lebih memilih untuk minum air dalam kemasan. Padahal apabila dibandingkan dengan memasak air sendiri itu akan lebih terjangkau dan dijamin kesehatannya. Masalah ini yang kemudian membuat Shalinkers tergugah untuk membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap air dan lingkungan.

Kebersamaan tiap anggota sangat kental. Setiap ada agenda mereka berkumpul di Walhi untuk membahas berbagai macam rancangan agenda yang akan mereka susun ataupun untuk membahas evaluasi acara yang sudah diselenggarakan. Tak jarang mereka berkumpul hanya untuk sekedar ngobrol, bernyanyi bersama dan bercanda bersama. Memang mereka sudah seperti anggota keluarga yang sangat akrab dan saling menghomati. Mereka senantiasa membuka diri bagi masyarakat yang peduli dengan alam untuk ikut bergabung dalam Shalinkers. Membuka kesempatan ini untuk siapa saja.
Tak jarang pula terbersit kata-kata sindiran yang bermaksud sebagai sebuah bahan candaan dalam setiap anggota Shalink. Tidak ada yang paling tinggi di Shalink, semuannya sama. Koordinator pun bukan hanya sebagai pemimpin komunitas Shalink, namun lebih dari itu, mereka semua keluarga, tak ada yang lebih tinggi tak ada yang lebih rendah, semuanya sama.
Dengan orang diluar Shalink yang ingin bergabung atau sekedar ingin mencari informasi tentang komunitas ini disambut dengan sangat baik, dengan cara kekeluargaan. Kemudian tidak lagi ada rasa canggung dan segan ketika bergabung dengan komunitas ini. Semua anggotanya ramah dan tidak acuh. Mereka berkenan untuk berbagi ilmu dan berbagi canda-tawa bersama masyarakat dan orang lain. Kita sebagai orang yang tidak dalam komunitas Shalink menjadi paham betapa pentingnya menjaga lingkungan. Mereka seperti memberikan pengaruh terhadap siapapun yang terlibat menjadi merasa iba dengan kondisi lingkungan yang sangat mencemaskan ini. Bukan hanya sekedar mengetahui bahwa lingkungan ini sudah mulai rusak, melainkan juga sadar untuk mulai ikut serta dalam memberdayakan lingkungan di sekitar kita. Bila kita tidak ingin ada bencana, memang seharusnya kita menjaga apapun yang telah Tuhan berikan kepada semua ciptaan-Nya.
Setelah membahas komunitasnya, mari kita bahas sedikit tentang basecamp yang biasa mereka tempati untuk pertemuan mereka. Basecamp Shalinkers berada di Walhi, tepatnya di Kotagede, dekat lapangan Kotagede. Tempatnya lumayan luas, dengan dikelilingi banyak pepohonan dan tumbuhan disekitar rumah. Didalam rumah terssebut terdapat ruang pertemuan, dan ruang bersantai yang disediakan tv. Ada pula kamar tamu, yang disediakan bila ada tamu yang menginap atau anggota Shalink yang menginap. Terdapat pula dapur untuk memasak. Tempatnya sangat unik dengan pernak-pernik yang ada, ada pula perpustakaan di dalamnya.

Foto-foto di basecamp.

20150325_201426
20150325_201235
Dapur di basecamp.
20150325_201222
Piagam penghargaan.
20150325_201133
Perpustakaan di Basecamp yang penuh dengan buku-buku mengenai lingkungan.
20150325_201056

Beberapa penghargaan yang diterima Shalinkers.
20150325_200956

Kebersamaan Shalinkers dan teman-teman.

20150325_201924 20150325_202020

Terimakasih telah membaca artikel ini. Semoga dapat membantu dan lebih mengenal Shalinkers dan lebih peka terhadap kelestarian lingkungan.

 

waktu wawancara 25 maret 2015 dengan mas Fahmi sebagai koordinator Shalinkers di Kotagede, basecamp Walhi.

ayu.agita@gmail.com'

About ayu