Komunitas TAABAH sekolah “Gajahwong”

Oleh :

Ajeng Citra Harjani Maria/144214084 & Flaviana Wuryan Gratia Delaneira Pambudi/144214090

gajahwong

Banyak komunitas yang berkembang di Yogyakarta. Komunitas-komunitas tersebut bergerak diberbagai bidang yang menyangkut kehidupan kita sebagai manusia dan hubungan dengan masyarakat. Banyak komunitas-komunitas yang berhubungan dengan pendidikan di Jogjakarta ini. Namun yang akan kita bahas kali ini adalah Komunitas Taabah, Sekolah Gajahwong.

Sekolah Gajahwong ini berlokasi di desa Ledhok, Timoho, Mujamuju, Balerejo, Yogyakarta. Sekolah ini didirikan tertutama untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak desa Ledhok. Staf pengajar disekolah ini bersifat volunteer dan siapa pun yang berminat untuk mengajar disekolah ini diperbolehkan. Awalnya sekolah ini adalah sekolah yang kecil namun seiring berjalannya waktu sekolah ini pun berkembang dan memiliki 2 tempat yang bentuknya seperti rumah dan sudah memiliki arena bermain sendiri untuk anak-anaknya.

Pada waktu awal berdiri, kondisi Yogya khususnya pada daerah tersebut adalah anak-anak hidup tanpa mendapat pendidikan yang layak. Sehingga adanya proses pengajaran pada masa itu sangat ditunggu-tunggu oleh orang banyak. Hal ini juga tercermin pada masyarakat yang berada di desa Ledhok. Pada akhirnya muncullah siasat dari beberapa pemuda dan pemudi untuk membangun pendidikan untuk anak-anak di desa tersebut. Pemuda-pemudi tersebut adalah Bapak Bambang Sudiro, SH. dan Mbak Santy Anggi Kismawati. Kedua orang inilah yang mengawali berdirinya komunitas Sekolah Gajahwong di desa Ledhok ini. Dengan diketuai oleh pak Bambang dan mbak Anggi sebagai sekretaris dan bendahara, komunitas ini berkembang menjadi komunitas yang besar. Yang kemudian membangun pula divisi-divisi yang mengurus berbagai hal selain pendidikan seperti kepengurusan di masyarakat desa juga membina orang-orang yang tinggal disana. Alasan mereka untuk membangun komunitas ini adalah untuk dapat menjadikan orang-orang yang tinggal di desa Ledhok sebagai orang-orang yang dapat bersosialisasi dengan baik dimasyarakat walaupun profesi mereka kebanyakan adalah sebagai pemulung dan pengamen jalanan. Mereka juga perduli terhadap anak-anak yang berada di desa tersebut. Karena jika dilihat dari kondisi masyarakatnya, kebanyakan anak ketika ditanya akan menjadi apa mereka ketika besar nanti, mereka akan menjawab akan menjadi orang yang memiliki profesi yang sama dengan orangtua mereka sebelumnya. Karena mindset anak yang seperti itu maka bisa diprediksi untuk kedepannya, anak akan menjadi malas untuk berkembang karena mereka berfikir nantinya akan menjadi pengamen atau pemulung saja. Dengan adanya hal yang seperti inilah kedua pelopor sekolah Gajahwong ini bertujuan untuk menghapus mindset anak dan membangun mindset baru agar anak dapat memiliki cita-cita yang lebih baik. Mereka bermaksud bahwa dengan membangun sekolah ini anak dapat mengerti betapa pentingnya pendidikan dan dapat belajar untuk menjadi manusia yang berguna bagi sekitarnya.

Namun, tidaklah mudah untuk dapat membangun sekolah ini. Sebelum sekolah ini sempat dibangung, banyak pro dan kontra yang terjadi antara masyarakat dan pengurus komunitas. Bagi masyarakat pengadaan sekolah ini hanya memberatkan karena pada dasarnya mereka berfikir bahwa pada akhirnya nanti anak mereka akan ikut menjadi pemulung atau pengamen. Sementara bagi pengurus komunitas, sekolah ini sangatlah penting dan bermanfaat bagi kehidupan anak selanjutnya. Setelah diadakan penyuluhan bagi masyarakat mengenai manfaat dari pendidikan bagi anak mereka, akhirnya masyarakat pun menyetujui pengadaan sekolah Gajahwong ini. Pada hari-hari selanjutnya, mulailah para pengurus dan masyarakat bahu-membahu membangun sekolah ini. Mereka mencetak batako sendiri serta menggunakan barang-barang bekas hasil dari kerja pemulung untuk mendirikan sekolah ini. Segala sesuatunya berasal dari mereka sendiri tanpa bantuan dari orang luar. Awalnya sekolah hanya berupa bangunan yang sangat sederhana berdidnding anyaman bambu.

1.jpg

Bagan Sekolah Gajahwong saat ini

Namun seiiring berjalannya waktu sekolah ini sudah mengalami banyak perkembangan. Beberapa hari setelahnya masuklah dua orang muda lagi kedalam komunitas ini yaitu Faiz Fakhrudin dan Nurul Halmah. Mas Faiz dan mbak Nurul ini ikut bergabung di bagian edukator dan pendanaan yang bertugas untuk mengajar anak-anak dan mengurusi adanya pendanaan bagi sekolah. Pada bagian pendanaannya sendiri, sekolah ini dari awal berdiri hingga saat ini, tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah. Mereka hanya mengandalkan dana dari mereka sendiri dan donasi dari lembaga-lembaga lain yang bekerjasama dengan mereka untuk kegiatan program kerja lapangan. Saat ini mereka hidup dari hasil menjual baju, pin, stiker, dan hasil desa mereka untuk dapat bertahan. Pada hari-hari awal berdirinya sekolah ini, para edukator harus menjemput dan membujuk anak-anak untuk mau berangkat sekolah. Beberapa hari kemudian bahkan sebelum kelas dimulai anak-anak sudah berkumpul dikelasnya.

2.jpg

Bagan Menaruh benih ikan di sungai

Sekolah Gajahwong ini dulu hanya berfokus pada kegiatan dikelas namun lama-kelamaan muncul ide untuk mengadakan kegiatan-kegiatan di luar ruangan. Anak-anak diajari untuk bekerja dikebun serta untuk berkreasi membuat sebuah barang tertentu. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat memiliki kemampuan untuk berkrasi membuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat atau dirinya sendiri. Dengan berkegiatan diluar seperti ini pula anak juga tidak akan merasa bosan untuk belajar. Seperti gambar 2 diatas menjelaskan anak-anak yang dilatih untuk memelihara kelestarian alam yaitu dengan memasukan benih ikan kedalam sungai agar ikan-ikan tetap lestari dan dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan mereka. Dengan cara seperti ini anak secara langsung dapat mempraktekkan ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari di kelas. Sehingga dengan adanya pengalaman seperti ini mereka dapat dengan mudah mengingatnya dan memahaminya.

3.jpg

Bagan Volunteer dari Belanda

Sekolah ini juga tidak jarang kedatangan beberapa mahasiswa dari beberapa kampus atau sekolah untuk prktek mengajar ataupun hanya mengamati bagaimana kehidupan di komunitas. Bahkan tak jarang pula datang orang-orang asing untuk belajar dan mengerjakan riset mereka. Seperti contohnya kedatangan volunteer dari Belanda untuk membantu mereka merasakan bagaimana mengajar anak-anak di desa dan menghibur anak-anak denganbermain bersama. Sekolah ini banyak mendapatkan apresiasi dari beberapa lembaga pendidikan atas perjuangannya untuk dapat tetap bertahan dan apresiasi dari segala aspek pendidikannya karena tidak kalah dengan sekolah-sekolah lainnya. Walaupun kebanyakan apresiasi itu datang tidak dalam bentuk piagam atau penghargaan lainnya. Apresiasi itu terwujud dengan adanya respon-respon positif dari orang-orang disekitar lingkungan itu yang menganggap bahwa adanya komunitas sekolah ini dapat membantu anak-anak khususnya dari keluarga yang tidak mampu untuk dapat mengikuti perkembangan jaman yang semakin pesat.

4.jpg

Bagan Belajar menjaga kebersihan gigi

Sekolah gajahwong ini tidak hanya mengajarkan anak-anaknya untuk dapat mengerti sains dan ilmu pengetahuan lainnya. Namun juga fokus pada bagaimana cara untuk menjaga kehidupan yang sehat setiap harinya. Anak-anak diajarkan bagaimana cara untuk menjaga kebersihan gigi dan badannya agar dapat hidup sehat walaupun mereka hanyalah orang-orang kecil. Dengan cara ini mereka dapat terlatih untuk merawat kebersihan dan kesehatan tubuh mereka masing-masing.

Kepengurusan dalam Sekolah Gajahwong ini tidak mengalami regenerasi yang cukup pesat atau berubah total. Sekolah ini tidak mengalami regenerasi kepengurusan karena anggota yang mengurus sekolah ini hanya berjumlah 4 orang. Sekolah ini juga menerima volunteer yang datang untuk mengajar sehingga terkadang mereka merasa terbantu. Menjadi seorang volunteer di sekolah ini juga tidak sembarangan. Mereka harus bisa mengatur waktu mereka untuk mengajar di sekolah ini minimal 2 hari seminggu. Sebelum menjadi volunteer di sekolah ini, kita harus menandatangani MOU (Memorandum of Understanding) agar semuanya dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian, kedua belah pihak tidak akan melanggar peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang harus dijalankan. Rata-rata yang menjadi volunteer di sekolah ini adalah seorang mahasiswa. Jika ingin menjadi staff/pengajar tetap, sebaiknya setelah kita lulus dari kuliah karena sudah tidak terbebani.

Bidang pendanaan di sekolah ini cukup menarik. Disebut menarik karena sumber pedanaan di sekolah ini sama sekali tidak dibantu oleh pemerintah. Padahal seharusnya pemerintah memiliki dana untuk diberikan kepada sekolah ini karena bisa dikatakan sekolah ini berada di sebuah kampung yang dihuni oleh kaum pemulung, pengamen, dan gelandangan. Kami begitu kaget ketika mendengar bahwa tidak ada campur tangan pemerintah sama sekali dalam pengadaan sampai pada operasional sekolah ini. Mbak Anggi sebagai bendahara dalam sekolah ini mengatakan belum ada sumber dana yang tetap untuk sekolah ini. Tetapi selama ini, lembaga Taabah mengusahakan dana untuk sekolah ini dengan cara budidaya ternak, membuat kerajinan tangan, dan masih banyak lagi. Semua ini dilakukan oleh masyarakat sekitar demi masa depan anak mereka yang lebih baik. Tidak hanya itu, sekolah Gajahwong terkadang mendapat bantuan dari orang-orang yang datang untuk melihat keadaan di sekolah ini. Contohnya saja dulu ada anak-anak Indonesia yang bersekolah di Singapura datang untuk berkunjung dan melihat keadaan di sekolah ini. Mereka juga ikut menyumbang ke sekolah ini. Ini juga merupakan salah satu tantangan bagi sekolah Gajahwong. Memang, dana adalah hal yang paling penting yang harus di penuhi. Pihak dari sekolah Gajahwong sendiri sedang mengusahakan agar ada sumber tetap pendanaan untuk sekolah mereka.

Prestasi yang dihasilkan oleh sekolah ini tidak diukur melalui kemenangan melalui lomba atau kompetisi apapun. Para pengajar disini mengukur prestasi anak didik nya berdasarkan proses yang dilalui oleh anak-anak agar terciptanya prestasi. Ketika anak-anak bisa menulis, menghitung, dan membaca dengan usaha mereka sendiri, itu merupakan suatu prestasi yang telah dicapai oleh anak tersebut.

Sekolah Gajahwong berkembang dibawah sebuah lembaga yang bernama Lembaga Taabah. Lembaga Taabah bergerak dalam bidang sosial untuk mengembangkan Jogja menuju arah yang lebih baik. Lembaga Taabah ingin mendirikan sebuah sekolah di desa Ledhok ini agar para orangtua yang rata-rata bekerja sebagai pemulung dan gelandangan ini mengerti akan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini. Dengan berdirinya sekolah Gajahwong ini, pengurus lembaga ini berharap jika nanti anak-anak ini dewasa mereka tidak akan bernasib sama seperti orang tuanya. Jadi, tujuan dari lembaga ini agar warga desa Ledhok bisa berkembang dan mereka bisa percaya diri ketika berada di lingkungan warga sekitar yang berkecukupan.

Referensi : Hasil wawancara dengan Santy Anggi Kismawati ( Sekretaris dan Bendahara ) pada hari Kamis, 2 april 2015.

achmcitra@gmail.com'

About ajengcitra21