Sejarah Hari Buruh Sedunia (May Day) History of May Day

Sejarah Hari Buruh Sedunia (May Day)

History of May Day

Alexander Trachtenberg

Published: International Pamphlets, 1932;
HTML: for marxists.org in March, 2002;
Proofed and Corrected: by Dawen Gaitis 2007.

Terjemahan bebas Indonesia oleh: Ika Rubby N


Perjuangan untuk Pengurangan Jam Kerja

Asal muasal dari peringatan Hari Buruh Sedunia atau lebih dikenal dengan sebutan May Day, tidak bisa dipungkiri erat kaitannya dengan sejarah awal mula perjuangan kaum buruh untuk mengurangi jam kerja yang didapatkannya – sesuatu hal yang menjadi salah satu pokok masalah dalam agenda perjuangan politik kaum buruh dan kelas pekerja selama ini. Perjuangan menuntut jam kerja ini sudah lama terjadi dan berlangsung mengakar jauh dalam sejarah, semenjak sistem industrialisasi digalakkan dan lahirlah kaum buruh di Amerika.

Walaupun kenaikan upah merupakan tuntutan yang paling sering disuarakan dalam masa-masa awal munculnya pemogokan buruh di Amerika, tuntutan pengurangan jam kerja serta hak berorganisasi tetap menjadi salah satu bagian isu pokok pekerja dalam tuntutan yang diajukan kepada pemilik industri/pabrik dan pemerintah. Ketika perlakuan eksploitasi berlebih yang diderita oleh buruh di pabrik semakin membuat buruh merasa ditekan dan tidak diperlakukan selayaknya manusia, oleh jam kerja yang begitu panjang maka, keingginan dan suara untuk menuntut pengurangan jam kerjapun mulai muncul dengan lebih keras.


Sebagai gambaran pada awal abad ke 19 para kaum pekerja dan buruh di Amerika sudah mengeluhkan akan jam kerja yang sangat panjang dengan pameo “bekerja keras mulai dari matahari terbit sampai dengan matahari tengelam” (bayangkan jika matahari itu terbit pada saat musim semi -pentj.) berlaku setiap hari kerja. 14 (empat belas), 16 (enam belas), bahkan 18 (delapan belas) jam kerja dalam sehari sudah merupakan hal yang biasa terjadi pada saat itu. Pada sebuah peristiwa pengadilan terhadap pimpinan pemogokan dari pekerja pabrik pembuatan sepatu yang dikenai tuntutan berkonspirasi pada tahun 1806, terungkap bahwa para pekerja dan buruh pabrik itu telah diharuskan dan dipekerjakan selama 19 (Sembilan belas) sampai 20 (dua puluh) jam perhari.

Pada kelanjutannya selama kurun waktu tahun 1820 –1830 setelah tahun-tahun peristiwa tersebut berlalu, aksi pemogokan buruh selalu diwarnai dengan tuntutan untuk pengurangan jam kerja, dan menuntut untuk pembatasan 10 jam kerja terjadi di berbagai pusat perindustrian. Organisasi buruh yang kemudian menjadi serikat pekerja/buruh pertama di dunia, yaitu Serikat Kerja Mechanik dari Philadelphia (Mechanic’s Union of Philadelphia), yang didirikan dua tahun lebih dahulu daripada serikat pekerja serupa yang baru didirikan oleh para pekerja di Inggris dikemudian hari. Serikat Kerja Mekanik mengawali pemogokan dengan tuntutan pengurangan jam kerja, dengan melakukan pemogokan bersama para pekerja Serikat Kontruksi pada tahun 1827 di Philadelphia, untuk menuntut pengurangan jam kerja menjadi 10 jam perhari. Selain itu, selama pemogokan yang dilakukan para pekerja pembuat roti di New York pada tahun 1834, menurut pemberitaan yang dikeluarkan oleh surat kabar Workingmen’s Advocate tersebut mengungkapkan fakta bahwa “para majikan di industri pembuatan roti telah memperkerjakan para buruh dan pekerjanya melebihi kondisi perbudakan di Mesir kuno dan telah berlangsung selama bertahun-tahun. Para buruh tersebut harus bekerja selama rata-rata 18 sampai 20 jam dalam 24 jam perharinya”.

Tuntutan 10 jam kerja yang semula bersifat lokal tersebut berkembang menjadi sebuah gerakan, yang walau terkendala dengan adanya krisis yang melanda pada tahun 1837, membuat pemerintahan Federal di bawah Presiden Van Buren mengeluarkan sebuah dekrit yang mengatur pembatasan jam kerja semua pekerja pada proyek milik pemerintahan untuk bekerja selama 10 jam saja perhari. Dan pergerakan untuk menuntut berlakunya pembatasan 10 jam kerja secara menyeluruh di seluruh negeri terus berlanjut selama beberapa dekade selanjutnya. Pada perkembangan selanjutnya pergerakan ini merambah kebeberapa sektor industri, kemudian tuntutan untuk mengurangi jam kerja menjadi 8 jam pun muncul. Demam pengorganisasian buruh pada serikat pekerja pada kisaran tahun 1850, memberikan tambahan dukungan pada tuntutan baru tersebut, tetapi usaha itu terhalang dengan kondisi krisis yang terjadi pada tahun 1857. Walaupun demikian tuntutan tersebut berhasil dimenangkan oleh beberapa Serikat Pekerja yang teroganisir baik pada saat sebelum krisis tersebut berlangsung. Gerakan untuk menuntut pengurangan jam kerja tidak hanya terjadi di Amerika saja, tetapi juga terjadi dimanapun pekerja menderita eksploitasi dari sistem Kapitalisme yang baru mulai berkembang, hal ini bisa dirunut bahwa slogan penuntutan untuk pengurangan jam kerja menjadi 8 jam ternyata juga muncul di tempat yang cukup jauh, yaitu di Australia; “8 jam kerja 8 jam rekreasi 8 jam istirahat” yang berhasil dicapai pada tahun 1856 di Australia.

Gerakan 8 Jam Kerja Dimulai di Amerika

Gerakan 8 jam kerja yang kemudian melahirkan May Day, bisa dilacak pada gerakan yang berlangsung di Amerika pada tahun 1884. Patut dicatat pula sumbangsih kemenangan oleh generasi gerakan buruh sebelumnya yang telah berhasil dan memberikan dasar bagi sebuah gerakan buruh yang lebih militan yang menjadi jantung perorganisiran di dalam kelas masyarakat pekerja di Amerika, yang mengusung isu tentang pengurangan jam kerja dan mengorganisirnya menjadi suatu gerakan yang lebih massif. Pada tahun-tahun awal perang saudara di Amerika, 1861-1862, terlihat gejala beberapa serikat pekerja tingkat nasional yang baru dibentuk menjelang pecahnya perang menghilang. Terutama Serikat Pekerja Percetakan, serta Serikat Pekerja Masinis dan Pandai Besi. Segera pada tahun berikutnya, ditandai dengan pengabungan dari beberapa serikat buruh lokal yang kemudian membentuk Serikat Buruh tingkat nasional dan segera muncul kebutuhan untuk segera membentuk Federasi dari serikat-serikat buruh tersebut di tingkat pusat. Pada tanggal 20 Agustus 1866 berkumpul tiga delegasi dari serikat buruh yang tercatat membentuk sebuah Serikat Buruh Nasional. Gerakan untuk membentuk Serikat Buruh Nasional dipelopori oleh Wiliam H. Sylvis, ketua dari Serikat Buruh Percetakan. Yang walau masih berusia muda belia, merupakan sosok tokoh gerakan yang berpengaruh pada gerakan buruh pada waktu itu. Sylvis berkorespodensi dengan para pemimpin gerakan Internasionalisme pertama di London, dan membantu untuk mempengaruhi Serikat Buruh tingkat Nasional dalam membangun hubungan dengan Dewan Umum Internasionalisme.

Pada saat itulah pada konvensi pendirian Serikat Buruh tingkat Nasional tahun 1866, disetujui resolusi untuk mendorong tuntutan pengurangan jam kerja:

Suatu kebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda pada saat ini, untuk membebaskan buruh di negara ini dari perbudakan Kapitalisme, adalah dengan adanya Undang-Undang yang mengatur bahwa waktu kerja normal haruslah mencakup 8 jam kerja sehari di seluruh negara bagian dan di seluruh Serikat Pekerja. Dan kita akan berkerja dengan sepenuh hati untuk tercapainya tujuan mulia itu.

Konvensi serupa juga menyuarakan kebebasan organisasi buruh untuk melakukan tindakan politik secara independen dalam rangka mendapatkan atau menghasilkan produk hukum dan pengesahan dari tuntutan pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari dan “pemilihan sosok-sosok kader yang akan setia dalam memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan dan keterwakilan kaum buruh atau kaum industrial”.

Program dan pedoman kebijakan perjuangan pada awal gerakan buruh, walau kadang diangap kuno dan tidak populer, sebetulnya muncul lahir dari kesadaran dan naluri logis dari kaum Proletar dan telah menjadi inti pokok dari perjuangan kaum buruh yang kemudian berkembang menjadi gerakan revolusi murni berciri khas gerakan buruh di Amerika, bukan dikembangkan oleh arahan para reformis atau para politisi Kapitalis yang kemudian hari mencoba menanamkan pengaruh dengan membentuk pula serikat perkerjanya sendiri yang berusaha mengarahkan atau menstir gerakan buruh pada arah agenda perubahan yang berbeda. Hal ini terjadi 65 tahun yang lalu (dihitung dari tahun pada saat tulisan asli ini diterbitkan -pentj.), The National Organization of American Labour, atau disingkat N. L. U. menyatakan perlawanan terhadap “perbudakan Kapitalisme” (pada serikat buruh -pentj.) dan kepada agenda politik yang sama sekali tidak ada sangkut menyangkut dengan agenda gerakan buruh.

Aliansi 8 jam kerja kemudian terbentuk sebagai hasil agitasi dari Serikat National Labour Union; dan melalui berbagai proses politik yang aliansi tersebut lakukan, dan hasilnya beberapa negara bagian mulai menerapkan dan mengadopsi sistem 8 jam kerja sehari pada seluruh sektor publik dan U.S Congress mengeluarkan perundangan yang mengesahkan hal serupa pada tahun 1868.

Sylvis tetap mempertahankan kontak dengan Dewan Internasionalisme di London. Karena pengaruhnya pula pada tahun 1867, Serikat National Labour Union pada konvensinya memutuskan untuk melakukan kerjasama dengan gerakan kelas pekerja internasional dan pada tahun 1869, memutuskan pula untuk menerima undangan dewan pusat internasionalisme dan mengirimkan delegasinya pada Basle Congress of the International. Tetapi sungguh disayangkan Sylvis meninggal dunia tepat sesaat sebelum konferensi N. L. U. dimulai, dan A. C. Cameron, editor dari the workingman’s advocate, yang terbit di Chicago, diutus untuk mengantikan kedudukannya. Dan pada pertemuan tersebut dibuatlah sebuah resolusi untuk didedikasikan kepada sosok pemimpin muda progresif gerakan buruh di Amerika tersebut. “Seluruh mata (segala hormat) tertuju pada Sylvis, siapakah dia, Panglima dari balatentara kaum Proletar, dengan pengabdian selama sepuluh tahun, dengan seluruh kepintaran dan kelebihannya – dan kini Sylvis telah meninggalkan kita”. Meninggalnya Slyvis menjadi salah satu penyebab dari kemunduran dan kemudian menghilangnya Serikat National Labour Union.

Internasionalisme Pertama Mengadopsi Delapan Jam Kerja

Keputusan untuk mengagendakan pengurangan jam kerja menjadi 8 jam dalam sehari yang diserukan oleh Serikat National Labour Union pada bulan Agustus 1866, yang disusul pada bulan September pada tahun yang sama di Kongres Internasionalisme pertama di Geneva, tercatat sebuah agenda tuntutan yang sama sebagai berikut:

Pembatasan jam kerja secara legal merupakan pendahuluan dari apa yang disebut sebagai kerja peningkatan dan pelibatan buruh dan kelas pekerja dalam proses kerja pergerakan karena dengan tidak terpenuhinya agenda tuntutan tersebut (Pengurangan jam kerja -pentj.) semua upaya pelibatan dan peningkatan kerja gerakan kelas pekerja akan gagal…(dst) Kongres dengan ini mengusulkan, 8 jam kerja sehari sebagai batas jam kerja legal dalam sehari.

Marx Dalam Gerakan Delapan Jam Kerja Sehari

Pada bab membahas “Jam Kerja” pada buku pertama dari Capital Karangan Marx terbit tahun 1867, Marx menarik perhatian dengan menyebutkan inagurasi pertama dari gerakan 8 jam kerja perhari adalah oleh Serikat National Labour Union. Bagian tersebut menjadi terkenal karena menyebutkan referensi menarik dari gerakan solidaritas berdasarkan kelas antara pekerja kulit hitam dan kulit putih, Ia menuliskan:

Di Amerika Serikat, setiap kebebasan gerakan buruh telah dilumpuhkan dengan dan selama perbudakan menjadi salah satu sendi dari Republik. Kaum buruh berkulit putih tidak akan bisa berinteraksi dengan para buruh yang dicap berkulit hitam. Akan tetapi dengan kematian dari perbudakan bersemi harapan akan masa depan baru. Buah pertama hasil dari perang sipil adalah tuntutan kerja 8 jam perhari, sebuah gerakan yang menyebar dengan spontanitas tinggi dari Atlantik ke Pasifik, dari New England sampai ke California.

Marx secara menarik menyebutkan, betapa secara simultan, dalam waktu hanya dua minggu masing-masing serikat pekerja telah saling bertemu di Baltimore untuk melangsungkan konvensi dan menghasilkan seruan untuk menuntut pengurangan jam kerja 8 jam kerja sehari, sehingga pada pertemuan kongres Internasionalisme di Geneva, Swiss, mengadopsi juga seruan yang sama. “Semua itu terjadi di kedua belah sisi Atlantik oleh gerakan kelas buruh, yang timbul secara spontan akibat dari kondisi industri yang ada”, kesemua gerakan tersebut merujuk pada tuntutan untuk pengurangan jam kerja menjadi 8 jam kerja sehari.

Keputusan yang diambil kongres Geneva jelas sedikit banyak mengacu dan dipengaruhi oleh seruan dari gerakan buruh di Amerika, hal ini bisa dilihat dari bagian resolusi yang dikeluarkan pada kongres tersebut: “Sebagaimana adanya pembatasan ini (jam kerja -pentj.) menunjukan tuntutan umum yang ingin dicapai oleh gerakan buruh di Amerika Serikat belahan Utara, dan oleh sebab itu kongres ini mewujudkan agenda tuntutan tersebut untuk menjadi platform agenda bagi gerakan buruh di seluruh dunia”.

Pengaruh yang sama dari gerakan buruh Amerika ditemukan juga pada kongres Internasionalisme selanjutnya 23 tahun kemudian, dalam kongres tersebut juga dimasukkan dengan lebih tegas tuntutan dan agenda yang sama yaitu 8 jam kerja sehari.

May Day Lahir di Amerika Serikat

Gerakan Internasionalisme pertama berahir sebagai sebuah organisasi internasional pada tahun 1872, ketika markas dari organisasi tersebut dipindahkan dari London ke New York, walau secara resmi kegiatan keorganisasiannya dihentikan secara menyeluruh pada tahun 1876. Dikemudian hari pada tahun 1886 diadakan kongres pertama untuk membangunkan kembali gerakan Internasionalisme dan organisasinya yang diadakan di Paris, yang pada saat itulah bulan May atau Mei dijadikan secara resmi sebagai bulan para pekerja di seluruh dunia, yang kemudian mengorganisasikan seluruh partai politik buruh dan seluruh serikat buruh untuk kembali memperjuangkan tuntutan politik terpenting yaitu: 8 jam kerja sehari. Keputusan yang lahir di Paris ini banyak dipengaruhi oleh sebuah keputusan yang lahir 4 tahun sebelumnya di Chicago yang diserukan pada pertemuan delegasi Young American Labour Organization, yang merupakan Serikat Buruh Kanada dan Amerika Serikat, yang kemudian dikenal dengan singkatan American Federation of Labour; A. F. of L. (atau kemudian dalam tulisan ini sering disebut -Federasi –pentj.) . Pada konferensi ke 4 organisasi ini pada tanggal 7 Oktober, 1884 dikeluarkanlah seruan sebagai berikut:

Dikeluarkan oleh Federasi Organized Trades and Labour Unions the United States and Canada (Federasi Serikat Pekerja Amerika Serikat dan Canada), bahwa tuntutan 8 jam kerja sehari harus segera diberlakukan dan diresmikan oleh Undang-Undang berlaku mulai 1 Mei, 1886, untuk itu kami merekomendasikan pada seluruh Organisasi Buruh untuk memperjuangkan pemberlakukan ketentuan ini dengan mendasarkan pada hukum segera pada waktu yang telah ditentukan tersebut diatas (1 Mei -pentj.).

Walaupun tidak disebutkan secara detail tentang metode yang akan ditempuh oleh serikat pekerja untuk memperjuangkan pencapaian dari tuntutan 8 jam sehari tersebut diatas, dengan sendirinya ini membuktikan bahwa sebuah organisasi yang memiliki anggota tak kurang dari 50.000 orang masih belum mampu untuk menyatakan atau mendorong sebuah pernyataan, “8 jam kerja sehari berlaku resmi (legal) pada saat ini juga”, tanpa melakukan perjuangan di pasar, pengilingan, dan di tambang dimana para anggota mereka bekerja atau tanpa mengikutsertakan peran serta buruh secara lebih massif dalam perjuangannya. Pada bagian dari seruan tersebut yang ditujukan kepada serikat dan organisasi buruh yang tergabung dalam Federasi, yang berbunyi “memperjuangkan pemberlakukan ketentuan ini dengan mendasarkan pada hukum, segera pada waktu yang telah ditentukan tersebut diatas”, memberi isyarat sebuah seruan kepada seluruh anggotannya, yang akan diharapkan dapat memberikan banyak kesempatan melakukan persiapan saat melakukan pemogokan umum kelak pada tanggal 1 Mei 1886, untuk menuntut agenda 8 jam sehari, hal ini harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari karena para pekerja itu akan membutuhkan banyak dukungan dari Serikat karena mereka akan melakukan pemogokan dalam jangka waktu yang cukup lama. Sebagaimana yang dimengerti bahwa pemogokan ini akan berskala nasional dan melibatkan berbagai organisasi yang berafiliansi dengan gerakan buruh, serikat pekerja sesuai dengan peraturan yang mereka buat harus mempersiapkan dan ikut pula menangung resiko dari para anggota mereka yang melakukan pemogokan, terutama hal menyangkut untuk menyiapkan sejumlah dana untuk keperluan pengeluaran dan sebagainya. Dan harus dijadikan sebuah catatan penting bahwa organisasi buruh seperti halnya A. F. of L. (American Federation of Labour -pentj.) seperti yang diketahui hingga saat ini merupakan sebuah organisasi yang bersifat sukerela atau berbasiskan sukarelawan. Dasar dan keputusan dari Federasi di tingkat konvensi nasional hanya bisa dilaksanakan jikalau didukung oleh serikat pekerja yang tergabung dalam Federasi dan hanya apabila serikat-serikat pekerja itu ikut setuju untuk mendukung keputusan dan seruan tersebut.

Persiapan untuk Pemogokan di May Day

Walaupun pada dekade tahun 1880 sampai 1890 merupakan tahun-tahun dimana terjadi perkembangan pesat industrialisasi di Amerka Serikat, dan perkembangan dari pasar dalam negeri, pada tahun 1883-1885 merupakan juga tahun-tahun dimana Amerika mengalami masa-masa depresi, yang merupakan bagian siklus depresi yang menyusul bencana depresi yang terjadi sebelumnya di tahun 1873. Tuntutan gerakan pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari mendapatkan tambahan dukungan dari para pengangguran yang terlanda berbagai macam kesulitan yang mewabah pada periode tersebut. Dan kemudian pada saat sulit itulah lahir tuntutan untuk menjadikan pengurangan jam kerja menjadi 7 (tujuh) jam sehari mengemuka seperti pada saat ini (saat tulisan asli terbit 7 jam kerja belum diberlakukan secara luas -pentj.), karena didorongkan oleh kondisi pengangguran yang begitu hebat melanda dunia kerja di Amerika Serikat saat itu.

Pemogokan umum besar yang terjadi tahun 1877, dimana diikuti oleh tidak kurang dari 10.000 pekerja dan buruh rel kereta api dan buruh baja, yang secara militan berjuang melawan korporasi dan pemerintah yang kemudian mengharuskan pemerintah mengirimkan angkatan bersenjatanya untuk meredam dan membubarkan pemogokan tersebut. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa mogok dalam skala nasional yang pertama kalinya terjadi di Amerika, walaupun perjuangan mereka digagalkan oleh gabungan kekuatan modal korporasi dan pemerintah, mulai tumbuh kesadaran pada kaum buruh dan pekerja di Amerika tentang posisi dan kekuatan kelas mereka sebagai kelas pekerja di mata kelompok masyarakat lainnya, kekalahan tersebut menjadi pencabuk moral para buruh dan pemincu gerakan buruh yang lebih militan. Ini menjadi sebuah jawaban tentang pertanyaan yang ada selama ini ada, tentang militansi perlawanan yang ditunjukkan oleh buruh pertambangan kepada tuan tanah yang menguasai pertambangan di Pennsylvania, pada sebuah peristiwa ketika para baron tersebut berusaha menghancurkan organisasi buruh di daerah Antracite, hal ini menjadi penyebab 10 orang buruh yang pemberani (Molly Maguires), berjuang sampai pada titik menebus perjuangan gigih mereka dengan diseret dan menghembuskan nafas di tiang gantungan, kejadian ini terjadi tahun 1875.

Federasi buruh yang baru saja terbentuk, melihat kemungkinan dalam pengabdopsian agenda 8 jam kerja menjadi slogan yang bisa menyatukan berbagai komponen dan elemen massa besar buruh baik yang di dalam maupun diluar Federasi dan terutama penyatuan kekuatan dengan organisasi Knights of Labour (Ksatria Buruh -pentj.), sebuah organisasi buruh yang lebih tua dan masih terus berkembang. Federasi kemudian mengusulkan kepada Knights of Labour untuk ikut serta berpartisipasi mendukung agenda gerakan 8 jam kerja sehari, karena harus disadari bahwa itulah satu-satunya jalan untuk terjalinnya aksi bersama, yang bisa menemukan dan menyatukan seluruh elemen organisasi buruh, dengan begitu buruh akan dapat mencapai tujuan dan manfaat bersama dari terpenuhinya tuntutan gerakan tersebut kelak.

Pada konvensi yang diadakan oleh Federasi pada tahun 1885, Seruan untuk melakukan walk out pada tanggal 1 Mei tahun depan kembali didengungkan, dan kali ini beberapa serikat pekerja mempersiapkan diri untuk ikut berpartisipasi dalam mogok tersebut, diantara serikat yang akan berperan serta adalah Serikat Tukang Kayu dan Serikat Buruh Tembakau cerutu. Agitasi yang dilakukan untuk menyambut agenda mogok yang akan dilakukan bulan Mei tersebut, segera menampakan hasil yang nyata, dengan bertambahnya keanggotaan baru pada serikat-serikat pekerja yang akan berperan serta dalam aksi tersebut. Keanggotaan dari The Knights of Labour melonjak, mencapai puncaknya pada tahun 1886. Dilaporkan bahwasanya keanggotaan dari K. of L. sebagai organisasi yang telah terlebih dahulu dikenal kalangan para pekerja daripada Federasi dan telah mendapatkan reputasi sebagai organisasi perjuangan buruh, keanggotaannya melonjak dari 200.000 orang sampai pada angka mendekati 700.000 orang dalam periode itu. Federasi yang merupakan organisasi pengusung dari tuntutan gerakan 8 jam kerja serta peletak penentu waktu kapan akan dilaksanakannya gerakan mogok tersebut, juga mengalami lonjakan penambahan jumlah anggota serta mulai mendapatkan tempat yang diperhitungkan secara luas diantara kaum buruh. Dan ketika semakin dekatnya hari pelaksanaan pemogokan tersebut, terkuak bukti yang menunjukkan bahwa dewan pimpinan dari K. of L. telah menunjukan usaha untuk melakukan sabotase dari gerakan mogok Mei tersebut terutama Terrence Powderly, dengan secara rahasia membujuk dan mengarahkan beberapa serikat buruh yang tergabung dalam K. of L. untuk membatalkan pemogokan, akan tetapi kecemburuan yang menyebabkan persaingan tersebut tidak menyurutkan popularitas dari Federasi. Seluruh level dan jaringan dari kedua belah organisasi mempersiapkan pemogokan dengan anthusiasme yang mengelora. Aliansi dan asosiasi 8 jam kerja bermunculan di berbagai kota meningkatkan semangat militansi dari seluruh elemen gerakan buruh, yang kemudian menyebar ke kelompok besar buruh yang belum terorganisir.

Gerakan Mogok Mulai Menyebar

Cara terbaik untuk mempelajari watak dari buruh dan pekerja adalah dengan cara mempelajari seluk beluk cangkupan dan keseriusan kedisiplinan dari gerakan perjuangan mereka. Seperti berapa kali atau jumlah mogok yang telah dilakukan dalam periode waktu tertentu adalah indikator yang bagus untuk memperhitungkan semangat juang atau kegigihan perjuangan atau militansi dari para pekerja. Jumlah berapa kali mogok kerja yang terjadi pada tahun 1885 sampai dengan 1886 memberi gambaran sejauh mana kemajuan gerakan buruh dan militansinya dibandingkan dengan gerakan pada tahun-tahun yang terdahulu. Tidak hanya pada tahun dimana para pekerja mempersiapkan pemogokan pada 1 Mei 1886, juga pada tahun 1885 dimana angka pemogokan buruh menunjukan peningkatan yang signifikan. Sebagai gambaran pada tahun 1881-1884 angka rata-rata pemogokan kerja dan lockouts (menutup atau mengambil alih pabrik -pentj.) berkisar pada jumlah 500 kasus pertahun, dan pada jumlah buruh yang ikut berperan serta dalam aksi tersebut berkisar antara hanya 150.000 pekerja pertahun. Jumlah pemogokan kerja dan lockouts pada tahun 1885 meningkat menjadi sekitar 700 kasus dan jumlah pekerja yang terlibat berlipat menjadi sekitar 250.000, Dan di tahun 1886 jumlah pemogokan meningkat lebih dari dua kali lipatnya. Tercatat sebanyak 1.572 kali pemogokan dan melibatkan keikutsertaan buruh sebanyak 600.000 pekerja. Bagaimana perseberan dari gerakan mogok kerja pada tahun 1886 bisa dilihat dengan perbandingan berikut; pada tahun 1885 hanya 2.467 perusahaan saja yang terpengaruh atau terkena dampak dari pemogokan pekerja tersebut, pada tahun 1886 jumlahnya meningkat menjadi 11.562 buah perusahaan. Walaupun diwarnai dengan sabotase dan berbagai usaha pembusukan dengan tujuan mengagalkan pemogokan yang dilakukan secara terang-terangan oleh para petinggi dari K. of L., pemogokan tersebut tetap berlangsung dan diikuti lebih dari 500.000 pekerja, dengan tetap setia menyuarakan tuntutan 8 jam kerja sehari.

Pusat dari pemogokan adalah kota Chicago, dimana terjadi gerakan mogok kerja paling mengelora, tetapi kota-kota lain juga ikut andil dan berperan serta dalam pemogokan 1 Mei. Kota-kota seperti New York, Baltimore, Washington, Milwaukee, Cincinnati, St. Louis, Pittsburgh, Detroit dan banyak kota lain yang menunjukkan peran serta buruh yang nyata dalam pemogokan kerja tersebut. Hal yang menjadi ciri khas dari pemogokan adalah adalah tertarik dan bergabungnya para pekerja atau buruh yang sama sekali tidak terorganisir dan tidak mengerti atau buta organisasi, saling bahu membahu dalam perjuangan tidak membedakan organisasi serikat asal kerja/pabrik semua bersatu dan berjuang, dengan metode-metode atau cara mogok yang simpatik yang telah umum digunakan pada periode tersebut. Sebuah semangat perjuangan telah mewabah di seluruh daratan, dan para Sejarawan Borjuis mengatakan “perang sosial” dan “kebencian akan kapital/modal” menyeruak di pemogokan besar ini, dan suara yang mengambarkan nuansa ketertarikan akan terbentuknya sebuah kelas sosial dan lapisan sosial masyarakat buruh juga mulai berkumandang di gerakan buruh saat itu. Diperkirakan bahwa separuh dari jumlah pekerja yang terlibat dalam mogok akbar 1 Mei tersebut, memperoleh keberhasilan dari perjuangan mereka, walaupun tidak semua dari mereka mendapatkan jaminan untuk dapat bekerja selama 8 jam sehari tetapi mereka para pekerja dan buruh patut dipuji dan dapat dinilai berhasil dalam perjuangan untuk mengurangi jam kerja tersebut.

Pemogokan di Chicago dan Haymarket (tragedi Haymarket)

Aksi pemogokan kerja buruh yang paling agresif terjadi di kota Chicago, yang pada saat itu merupakan pusat gerakan buruh sayap kiri yang militan. Walau masih kurang jelas dan lemah dalam arah berpolitiknya dalam menanggapi atau menyikapi beberapa masalah perburuhan, namun tidak perlu diragukan lagi bahwa ini merupakan gerakan perlawanan, selalu siap untuk kembali bersama buruh turun melakukan aksi ke jalan, membangun semangat juang mereka dan menetapkan capaian perjuangan tidak hanya pada perbaikan taraf kehidupan para buruh semata tetapi juga untuk melakukan perlawanan terhadap ancaman sistem Kapitalis.

Dengan bantuan dari kelompok buruh yang revolusioner, pemogokan buruh di Chicago merupakan pemogokan yang terbesar. Aliansi kerja 8 jam jauh-jauh hari sudah dibentuk untuk persiapan mogok akbar tersebut. Serikat Central Labour Union membentuk koalisi buruh sayap kiri, untuk memberikan dukungan penuh pada aliansi 8 jam kerja, yang merupakan persatuan aksi aliansi dari beberapa serikat yang mempunyai afiliasi pada Federasi, K. of L., dan Socialist Labour Party (Partai Buruh Sosialis). Pada hari minggu sebelum tanggal 1 Mei Central Labour Union mengadakan mobilisasi demonstrasi yang diikuti oleh 25.000 pekerja.

Tanggal 1 Mei kota Chicago menjadi saksi tumpah ruahnya para buruh dan pekerja, yang secara serentak meletakkan seluruh alat kerja mereka dan keluar dari pabrik mengikuti pangilan dan seruan dari organisasi gerakan buruh di kota itu. Dan saat-saat itu merupakan moment terbesar bagi pekerja yang mempertunjukan kekuatan sebenarnya dari solidaritas erat antar mereka sebagai sesama kelas buruh, hal yang mungkin belum pernah dialami para pekerja dan gerakan pada saat itu. Hal yang menjadi perhatian pada saat itu -tuntutan 8 jam kerja sehari- ketersambungan dan karakter yang terlihat pada pemogokan akbar tersebut memberikan dampak menunjukan eksistensi pergerakan buruh secara gamblang. Signifikasi dari gerakan buruh semakin dipertajam perkembangan pada hari-hari pemogokan berikutnya. Gerakan 8 jam kerja sehari yang mencapai puncaknya pada pemogokan akbar 1 Mei 1886, dengan sendirinya tercatat sebagai sebuah moment gemilang dalam sejarah perlawanan gerakan buruh dan kelas masyarakat pekerja di Amerika Serikat.

Akan tetapi setiap revolusi mempunyai titik balik dari revolusi itu sendiri, sampai dengan kelas pelaku atau kelas revolusioner tersebut mampu melakukan kendali penuh atas revolusi yang mereka lakukan secara mandiri. Gerak laju kemenangan yang baru dialami oleh para pekerja dan buruh Chicago direbut paksa oleh kekuatan yang jauh lebih besar, perpaduan atara kekuatan elit kapital dan Kapitalis birokrat negara, yang berusaha menyingkirkan para pemimpin gerakan buruh yang militan, dengan tujuan memberikan pukulan yang akan mematikan seluruh gerakan buruh di Chicago. Kejadian pada tanggal 3 dan 4 Mei yang juga dikenal dengan tragedi Haymarket, merupakan kejadian pertama yang berusaha membungkam gerakan mogok Mei. Demonstrasi yang berlangsung pada tanggal 4 Mei di lapangan Haymarket yang ditujukan untuk memprotes tindakan penyerangan brutal yang dilakukan oleh polisi di tanggal 3 Mei yang berlangsung di pemogokan buruh pengilingan McCormick, dimana 6 orang buruh meninggal menjadi korban serangan dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Pertemuan itu semula berlangsung damai sampai dengan ketika para peserta pertemuan tersebut akan beristirahat dan membubarkan diri, terjadilah penyerangan susulan oleh polisi pada kerumunan buruh yang sedang berkumpul. Sebuah bom dilemparkan pada kerumunan dan membunuh seorang sersan, dan memicu terjadinya perkelahian yang mengakibatkan jatuh korban 7 orang polisi dan 4 orang buruh meninggal. Peristiwa berdarah di Haymarket ini menyebabkan diseretnya para tokoh pemimpin pergerakan buruh ke tiang gantungan, antara lain Parsons, Spies, Fischer, dan Engel dan dipenjarakannya para pemimpin gerakan mogok Chicago yang dinilai militan, inilah jawaban kontra-revolusi dari para Boss atau para “pemilik usaha” di Chicago terhadap gerakan mogok buruh 1 Mei yang pertama. Ini juga merupakan sinyal reaksi yang diberikan oleh para boss besar tersebut kepada kawan sejawat mereka di kota-kota lainnya dalam menghadapi pemogokan buruh. Paruh kedua tahun 1886 ditandai dengan berbagai serangan yang dikonsentrasikan oleh para aparat dalam usaha untuk membayar kekalahan yang mereka alami selama gerakan mogok buruh yang terjadi pada tahun 1885-1886.

Selang setahun setelah peristiwa pengantungan para pemimpin gerakan buruh Chicago, Federasi yang sekarang dikenal sebagai American Federation of Labour, pada konvensinya yang diadakan di St. Louis pada tahun 1888, mengambil suara untuk menghidupkan kembali gerakan menuntut 8 jam kerja. Tanggal 1 Mei yang selama 2 tahun belakangan sudah menjadi tradisi untuk menjadi hari dimana seluruh kekuatan buruh terkonsentrasi untuk turun ke jalan seiring dengan agenda kelas pekerja yang dituntutkan, sekali lagi dipilih sebagai hari untuk kembali menghidupkan perjuangan gerakan 8 jam kerja. 1 Mei 1890, menjadi saksi mata pemogokan besar menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam kerja sehari. Pada konvensi A. F. of L. pada tahun 1889 yang dikepalai oleh Samuel Gompers yang juga ketua dari serikat A. F. of L., telah berhasil dalam mengariskan kembali gerakan mogok tersebut. Telah diputuskan bahwa Serikat Tukang Kayu yang dinilai sebagai serikat yang paling siap melakukan pemogokan menjadi serikat yang akan menginisiasi pemogokan itu, dan terbukti inisiatif rencana tersebut berhasil, ditandai dengan bergabungnya serikat-serikat pekerja lainnya dalam barisan pemogokan yang akan segera dilaksanakan.

Di Autobiography-nya Gompers menceritakan bagaimana A. F. of L. ikut berkontribusi untuk mengangkat May Day menjadi Hari Buruh international: “Sebagaimana rencana untuk melancarkan kembali gerakan 8 jam kerja, kami terus berupaya untuk selalu menyebarluaskan tujuan gerakan tersebut. Seiring dengan mendekatnya waktu pertemuan International Workingmen’s Congress di Paris, memberikan inspirasi kepada kami untuk mendapatkan dukungan yang lebih luas dari seluruh dunia melalui kongres yang akan diadakan nantinya”. Gompers juga terlebih dahulu telah membongkar berbagai atribut dan sepak terjang para agen reformis dan dan kaum opportunis yang dikemudian hari merebak diantara para kolaborator di antara kelas buruh sendiri, dan Ia siap berjuang untuk lebih mendapatkan dukungan yang luas bagi gerakannya dari kaum pekerja, dalam perang pengaruh yang selama ini Ia selalu perjuangkan melawan kelompok kolaborator tersebut.

May Day Menjadi Peringatan Internasional

Pada tanggal 14 Juli pada peringatan 100 tahun jatuhnya penjara Bastille, berkumpulah para pimpinan organisasi revolusi Proletar dari berbagai penjuru di Paris, untuk sekali lagi membentuk Organisasi Buruh Internasional, seperti apa yang pernah dilakukan 25 tahun sebelumnya oleh guru besar mereka, Karl Marx. Pertemuan tersebut menjadi dasar apa yang kemudian dikenal dengan pertemuan untuk kembali mendengarkan berita dari delegasi Amerika untuk kedua kalinya, yang menjabarkan apa yang telah dicapai dengan perjuangan pengurangan jam kerja 8 jam kerja sehari dalam kurun waktu tahun 1884-1886 di Amerika, dan rencana untuk kembali menghidupkan kembali agenda tersebut. Terinspirasi oleh pengalaman perjuangan para pekerja yang terjadi di Amerika, kongres Paris mengeluarkan resolusi sebagai berikut:

Kongres akan mendorong untuk meng-organisasi demonstrasi besar secara internasional, yang di setiap negara dan di setiap kota dimana demonstrasi diadakan, massa yang bergemuruh akan menuntut satu tujuan tuntutan pada pihak yang berwenang untuk menetapkan pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari, sejalan dengan tuntutan agenda lainnya yang kongres Paris keluarkan. Karena demonstrasi serupa telah direncanakan untuk dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 1890, oleh American Federation of Labour di konvensi yang diadakan di St. Louis, bulan Desember 1888, maka pada hari ini kongres menetapkan hal yang serupa untuk dilaksanakannya demonstrasi secara Internasional. Para pekerja di tiap-tiap negara diharuskan untuk segera melakukan pengorganisasian persiapan demonstrasi tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi di tiap-tiap negara.

Klausul yang dikeluarkan kongres yang menyerukan tiap-tiap organisasi untuk mempersiapkan demonstrasi disesuaikan dengan kondisi dan situasi negara masing-masing, membuat banyak intepretasi yang berbeda oleh beberapa delegasi, salah satunya adalah delegasi dari Inggris, yang menganggap klausul itu sebagai sebuah kesempatan untuk mengartikannya; bahwa seruan gerakan tersebut bukanlah sebuah keharusan bagi seluruh negara yang mengirimkan delegasinya. Hal ini bisa terjadi karena dari awal semula saat pembentukan Internasionalime kedua ada sebagian kubu yang menganggap bahwa, pertemuan tersebut merupakan pertemuan sebatas konsultasi atau seputar pertukaran informasi dan opini antar gerakan semata, bukan merupakan sebuah bentuk organisasi sentral yang mempunyai kekuatan penuh mengontrol dan mengatur tetapi hanya berkekuatan untuk menyelengarakan dan wewenangnya hanya sebatas selama penyelengaraan kongres itu saja, tidak seperti yang Marx berusaha bangun pada saat Internasionalisme pertama pada generasi sebelumnya, sebagai sebuah Partai Revolusi Kaum Proletar Dunia. Ketika Engels menulis surat untuk salah satu sahabatnya Serge pada tahun 1874, sesaat sebelum gerakan Internasionalisme pertama dibubarkan di Amerika, “Saya pikir gerakan Internasionalisme selanjutnya akan dibentuk sesuai dengan pikiran dan ajaran Marx, dan akan dikenal lebih luas pada tahun-tahun ke depan, dan akan berwujud gerakan komunis internasional murni”, sayangnya Dia tidak memperhitungkan (Engels -pentj.) pada saat kebangkitan kembali dari gerakan Internasional akan ada elemen reformis yang hadir atau menyusup dalam usaha pembangkitan pertemuan dan organisasi tersebut kelak, dan memandang gerakan tersebut hanya sebagai sebuah gerakan sukarela biasa atau voluntary federation of Socialist parties, dan mereka tetap saling mandiri dan merdeka dan memiliki hukum dan peraturannya sendiri bagi dirinya sendiri.

Walaupun demikian pelaksanaan May Day pada tahun 1890 terjadi di banyak negara Eropa, dan di Amerika sendiri Serikat Tukang Kayu dan berbagai serikat pekerja bangunan turut serta dalam pemogokan umum untuk kembali menuntut 8 jam kerja sehari yang telah direncanakan tersebut. Walaupun terkendala oleh hukum pelarangan Sosialis di jerman, para pekerja di berbagai kota industri di Jerman juga ikut menyelengarakan May Day, yang ditandai dengan berbagai bentrok keras antar kaum buruh dan aparat kepolisian. Hal yang serupa juga terjadi di berbagai ibukota dan kota-kota besar di Eropa lainnya, walaupun pemerintah telah memberlakukan larangan terhadap mereka dan kepolisian juga melakukan tindakan keras kepada mereka. Di Amerika Serikat, terutama di Chicago dan New York demonstrasi mendapatkan kemajuan yang signifikan. Ribuan parade buruh di jalanan terjadi untuk mendukung tuntutan 8 jam kerja; dan demonstrasi tersebut ditutup dengan pertemuan raksasa terbuka di titik temu utama para demonstran.

Pada kongres selanjutnya di Brussels pada tahun 1891, agenda awal dari gerakan May Day menuntut 8 jam kerja sehari kembali masuk dalam agenda, tetapi juga untuk menunjang tuntutan buruh yang lain seperti perbaikan kondisi kerja, dan terjaminnya perdamaian antar bangsa-bangsa. Seruan yang diperbaharui tersebut menekankan pada nilai penting terwujudnya “karakter kelas pada demonstrasi 1 Mei”, untuk memperjuangkan 8 jam kerja sehari dan agenda perjuangan lainnya yang akan menuntun pada “mempergiat perjuangan kelas”. Seruan resolusi tersebut juga menginginkan untuk penghentian kerja atau mogok “pada saat apapun yang memungkinkan”. Karena selama ini tidak ada keharusan untuk melakukan pemogokan pada peringatan 1 Mei, hal ini dilakukan sebagai bagian usaha untuk memperluas skala dan mengkonsentrasikan tujuan maupun massa aksi dari demonstasi. Massa buruh dari Inggris kembali menunjukan sikap opportunisnya dengan menunjukan sikap menolak dari seruan tersebut bahkan untuk mogok pada 1 Mei yang sama sekali tidak diharuskan, dan bersama dengan kelompok Sosial Demokrat Jerman mengambil suara untuk menunda aksi demonstrasi 1 Mei dan melaksanakannya pada hari Minggu setelah tanggal 1 Mei berlalu.

Engels Dalam Peringatan Internasional May Day

Pada tulisan pengantar di edisi terbitan Jerman Manifesto Komunis (Communist Manifesto), yang Dia tuliskan pada tanggal 1 Mei 1890, Engels merangkum sejarah gerakan organisasi Proletar Internasional, dengan memberikan penekanan untuk memberi perhatian pada penyelengaraan May Day Internasional yang pertama:

Seiring saya menulis tulisan ini, kaum Proletariat di Eropa dan Amerika sedang bahu membahu untuk menyatukan kekuatan mereka: Mereka bergerak untuk pertama kalinya sebagai satu kesatuan balatentara, dalam satu wadah perjuangan, dan berjuang untuk satu tujuan: bekerja 8 jam sehari, yang harus dijamin oleh Undang-undang…(dst) Fenomena yang sekarang kita saksikan akan membuat kaum Kapitalis dan para tuan tanah dari seluruh tanah menjadi sadar, bahwa sekarang kaum Proletar dari seluruh penjuru, sebenar-benarnya bersatu. Seadainya saja Marx ada bersama saya dan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri!

Hal terpenting dari berbagai demonstrasi kaum Proletar yang susul menyusul semakin mengugah cita-cita dan insting jiwa revolusi dari para pekerja di seluruh dunia, dan dari tahun ke tahun terlihat dengan semakin besarnya keikutsertaan massa Proletar dalam aksi demonstrasi.

Respon dari para pekerja terlihat dengan sendirinya pada pertemuan selanjutnya untuk menagendakan 1 Mei berikutnya yang diadakan di Zurich tahun 1893:

Demonstrasi untuk menuntut 8 jam kerja yang dilangsungkan pada 1 Mei, harus dilaksanakan berlandaskan pada tekat kelas pekerja untuk menghancurkan sekat-sekat perbedaan antar kelas melalui perubahan sosial dan akan menuntun pada jalan satu-satunya jalan yang akan menghantarkan perdamaian pada semua manusia, dan menuju perdamaian Internasional.

Walaupun draft asli dari resolusi menyerukan untuk menghancurkan perbedaan antar kelas melalui “revolusi sosial (social revolution)” bukan melalui “perubahan sosial (social change)”, tidak bisa disangkal seruan tersebut telah mengangkat 1 Mei pada level tingkat yang lebih tinggi. Sekarang 1 Mei menjadi demonstrasi kekuatan dan semangat cita-cita kaum Proletar untuk menantang rezim kekuatan yang berkuasa, selain tuntutan hanya untuk sekedar menuntut pengurangan 8 jam kerja sehari.

Usaha Kaum Reformis untuk Melumpuhkan May Day

Para pemimpin kelompok reformis dari berbagi kelompok berusaha melakukan pengembosan pada gerakan 1 Mei dengan mengkampayekan 1 Mei sebagai hari untuk beristirahat dan hari libur untuk berekreasi daripada sebuah hari untuk melakukan perjuangan. Hal inilah yang mendasari mengapa mereka selalu bersikeras untuk berusaha memindahkan perorganisiran dan mobilisasi demonstrasi pada hari Minggu setelah hari dimana tanggal 1 Mei berlalu. Pada hari Minggu para pekerja tentu tidak perlu untuk melakukan pemogokan dan menghentikan pekerjaan; karena sudah jelas mereka tidak bekerja pada hari Minggu. Bagi para reformis, May Day tak ubahnya sebagai hari libur buruh Internasional yang bisa diisi dengan wakuncar di taman atau sekedar bermain-main saja, bahkan mungkin bila perlu berplesiran keluar kota untuk melepas penat. Sedangkan seruan dari kongres di Zurich jelas menginginkan bahwa May Day menjadi sebuah “ajang demonstrasi dimana kaum buruh menghancurkan sekat-sekat penghalang yang menjadi pembeda antar kelas”, yaitu usaha mempertunjukan semangat perjuangan dalam melawan dan menghancurkan eksploitasi oleh sistem Kapitalisme dan perbudakan upah murah, hal yang dirasa tidak menjadi masalah besar bagi kaum reformis (pahami dan baca literatur sejarah sosialis di Inggris dan watak hubungan industri di Inggris –pentj.), oleh karena itu mereka tidak merasa terikat dengan keputusan yang diambil di kongres Internasionalisme. Kongres Sosialis Internasional tak ubahnya hanya sebagai pertemuan persahabatan dan maksud-maksud baik komunitas internasional, seperti halnya kongres-kongres lain yang sering dilangsungkan di ibukota-ibukota negara Eropa sebelum pecah perang (Perang Dunia I -pentj.). Mereka melakukan segala daya dan upaya untuk melakukan pengembosan gerakan dan tiada habisnya berusaha menghalangi solidaritas aksi kaum Proletar secara internasional, dan apapun hasil resolusi yang dikeluarkan oleh kongres Internasionalisme yang bagi mereka tidak sejalan dan sesuai dengan jalan pemikiran mereka, pasti hanya akan menjadi sebuah selembar pernyataan di atas kertas semata. Dua puluh tahun kemudian kedok “Sosialisme” dan “Internasionalisme” para pemimpin reformis ini terbongkar. Pada tahun 1914 Internasionalisme (kedua -pentj.) tercerai-berai karena telah membawa benih perpecahan semenjak semula dari kebangkitannya – para kaum reformis itu telah memimpin kelas pekerja menuju kehancurannya sendiri.

Pada kongres Internasionalisme di Paris tahun 1900, seruan agenda aksi dari kongres sebelumnya kembali diadopsi, dan diperkuat dengan pernyataan untuk menghentikan seluruh aktivitas kerja pada tanggal 1 Mei dengan tujuan membuat demonstrasi lebih efektif. Dan lagi dan lagi, 1 Mei menjadi sebuah ajang pamer kekuatan bagi kaum buruh; perkelahian terbuka dengan aparat kepolisian dan anggota militer di jalan-jalan terjadi di seluruh pusat perindustrian penting. Jumlah buruh dan pekerja yang turut bergabung dalam aksi dan melakukan pemogokan semakin bertambah jumlahnya dari hari ke hari. May Day semakin menjadi ancaman nyata dan menakutkan bagi para kelas penguasa. May Day seakan berubah menjadi sebuah Red Day (hari bahaya -pentj.), dimana pemerintah yang berwenang di seluruh negeri menyabutnya dengan selalu penuh syak prasangka saat hari-hari semakin mendekati pelaksanaan May Day.

Lenin di May Day

Diawal keterlibatannya di gerakan Revolusi Russia, Lenin ikut berkontribusi dalam memperkenalkan May Day bagi kalangan kaum pekerja dan buruh di Russia sebagai hari perjuangan dan demonstrasi. Sedangkan pada masa-masa di penjara pada tahun 1896, Lenin menulis sebuah Leaflet/selebaran yang ditujukan kepada Serikat Pekerja St. Petersburg untuk Pembebasan Kelas Pekerja (St. Petersburg Union of Struggle for the Liberation of the Working Class) dalam rangka menyambut May Day, yang merupakan salah satu kelompok politik pertama berhaluan Marxis di Russia. Selebaran tersebut berhasil diselundupkan keluar dari penjara dan 2.000 salinan mimeograph (cetak stensil –pentj.) didistribusikan diantara para pekerja di 40 pabrik. Isi pesan tersebut sangat pendek dan ditulis sesuai dengan gaya Lenin yang sederhana dan langsung tanpa basa-basi, sehingga para buruh yang paling tidak terpelajar sekalipun akan langsung mengerti dan memahami apa yang ingin disampaikannya. “Selang 1 bulan setelah pemogokan pabrik tekstil yang terkenal pada tahun 1896, para buruh tersebut memberi tahu kita bahwa inspirasi pertama yang mereka dapatkan untuk melancarkan aksi mogok itu adalah sebuah pesan sederhana di leaflet penyambutan May Day”, Hal ini dituliskan oleh seorang narasumber yang hidup pada masa itu dan juga ikut membantu menerbitkan leaflet tersebut.

Setelah menyadarkan para buruh bagaimana mereka dieksploitasi demi keuntungan dari pemilik modal atau pemilik pabrik dimana mereka bekerja, dan bagaimana pemerintahan mendakwa dan menghukum para pekerja yang menuntut perbaikan dari kondisi kehidupan mereka, Lenin melanjutkan untuk menuliskan arti penting dari May Day:

Di Perancis, Inggris, Jerman dan negeri lainnya dimana para pekerja telah bersatu dalam serikat buruh yang kuat yang telah ikut membantu membawa mereka memenangkan banyak tuntutan atas hak-hak mereka, mereka berkumpul pada tanggal 19 April (1 Mei) yang merupakan hari libur umum untuk buruh [pada kalender yang dipakai bangsa Russia pada saat itu, penanggalan yang berlaku mundur/tertinggal 13 hari dibandingkan dengan penghitungan penanggalan yang berlaku di Eropa Barat]. Mereka berbaris bersama meninggalkan pabrik-pabrik yang berdiri kokoh dengan spanduk yang terbentang, sambil tanpa henti mengumandangkan lagu membangkitkan semangat perjuangan, menyusuri sepanjang jalan utama di kota-kota, memperlihatkan kekuatan mereka yang terus tumbuh menguat kepada para Boss majikan mereka. Rapat-rapat raksasa yang diadakan oleh massa demonstran dimana diperdengarkan berbagai pidato yang membakar semangat para buruh dengan menghintung dan mengingatkan kembali berbagai kemenangan yang diperoleh kaum buruh atas majikan-majikan mereka pada tahun-tahun yang telah berlalu, dan juga kembali menata rencana aksi perjuangan pergerakan mereka selanjutnya. Dengan ancaman pemogokan para majikan tidak akan berani untuk kembali semena-mena menghukum pekerjanya yang tidak muncul atau tidak bekerja pada Hari Buruh tersebut. Sampai dengan saat ini para pekerja masih memperjuangkan tuntutan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi kepada para majikan mereka. Inilah agenda yang menjadi tuntutan bagi buruh-buruh di berbagai pelosok negeri-negeri lainnya sampai sekarang.

Kaum gerakan revolusioner Russia mengunakan May Day untuk berbagai tujuan dan maksud gerakan. Di pengantar sebuah Pamflet peringatan 1 Mei di kota Kharkov, yang diterbitkan pada bulan November 1900, Lenin menuliskan:

Selama enam bulan kedepan, para buruh Russia akan segera menyelengarakan tanggal pertama bulan Mei sebagai permulaan hari pertama sekaligus tahun pertama dari abad baru, dan inilah waktu yang tepat bagi kita untuk merencanakan sebuah peringatan yang terbesar dan terpusat, bukan saja dari jumlah peserta dari peringatan itu saja tetapi juga pembentukan karakter gerakan yang terpusat, dengan lahirnya kesadaran kelas maka cita-cita itu niscaya akan terlaksana, dengan kegigihan perjuangan yang akan mengalahkan segala tindakan represif demi perjuangan untuk pembebasan politik bangsa Russia, dan juga untuk kesempatan berkembangnya kesadaran kelas kaum proletar, sekaligus terbukanya jalan perjuangan menuju Sosialisme.

Hal ini bisa dilihat betapa Lenin menyadari arti pentingnya aksi May Day, terlihat ketika Ia mengugah kegelisahan para buruh jauh-jauh hari enam bulan sebelumnya, untuk menyongsong hari perayaan aksi May Day. Bagi Lenin, May Day merupakan titik tolak untuk “sebuah perjuangan gigih untuk pembebasan politik bangsa Russia”, dan juga “untuk berkembangnya kesadaran kelas kaum proletar, sekaligus terbukanya jalan perjuangan menuju Sosialisme”.

Membicarakan perayaan May Day yang bisa bertransformasi “menjadi sebuah aksi gerakan politis besar”, Lenin mengajukan kembali sebuah pertanyaan, mengapa perayaan May Day di Kharkov tahun 1900 adalah “perayaan yang maha penting?” Ia menjawab, “partisipasi massa buruh dalam pemogokan, pertemuan raksasa di jalan-jalan, membentangnya bendera merah, pembacaan berbagai tuntutan yang disuratkan di selebaran dan situasi yang revolusioner mengelora dari tuntutan-tuntutan tersebut, -8-jam kerja dan kebebasan politik”.

Lenin mengkritik keras para pemimpin politik di kota Kharkov, dikarenakan hanya mendukung tuntutan 8 jam kerja sehari untuk motif sepele atau demi semata-mata motif ekonomi murni, karena ia tidak menginginkan pendidikan atau pembangunan karakter gerakan buruh di May Day menjadi terganggu oleh berbagai motif lainnya. Ia menuliskan dalam pengantarnya:

Hal paling utama dari agenda tuntutan ini (8 jam kerja) adalah agenda umum yang disuarakan oleh kaum proletar diseluruh pelosok negeri. Mengapa tuntutan ini didorong sebagai tuntutan paling utama, mengindikasikan bahwa para buruh dan pekerja yang telah maju di Kharkov menyadari solidaritas mereka dengan gerakan Buruh Sosialis Internasional. Karena alasan yang terdahulu tersebut tuntutan ini (8 jam kerja -pentj.) tidaklah tepat diajukan bersamaan atau disamakan bobotnya dengan tuntutan-tuntutan tambahan lainnya seperti; mendapat perlakuan yang lebih baik dari para mandor, atau sebatas kenaikan upah sebanyak 10% saja. Agenda tuntutan 8 jam kerja merupakan tuntutan yang diajukan oleh seluruh kaum proletar, bukan tuntutan dari pegawai secara perseorangan kepada perseorangan, tetapi merupakan tuntutan utuh dari kaum buruh kepada pemerintahan, sebagai perwujudan dari apa yang sekarang disebut sebagai perwakilan sistem sosial politik, dan kepada kelompok Kapitalis secara keseluruhan, sebagai pemilik dari seluruh modal produksi yang ada.

Slogan Politik dalam May Day

May Day menjadi momentum bersuara bagi kaum proletar revolusioner internasional. Dari tuntutan awal untuk pengurangan jam kerja 8 jam sehari ditambahkan berbagai slogan baru yang penting untuk menyatukan dan memanggil kaum buruh untuk datang berkumpul dan berdemonstrasi. Slogan-slogan tersebut antara lain: Solidaritas Kelas Pekerja Internasional; Tujuan Bersama; Perang Melawan Perang; Melawan Penindasan Kolonial; Hak politik dan Ekonomi bagi Organisasi Kelas Buruh.

Terahir kalinya polemik dari perdebatan lama yang membahas dan mempertanyakan tentang May Day terjadi di kongres Amsterdam pada tahun 1904. Setelah melakukan pembacaan seksama pada slogan-slogan yang digunakan dalam demonstrasi dan membahas apa yang menjadi perhatian dengan terungkapnya fakta, bahwa dibeberapa negara demonstrasi memperingati May Day masih dilangsungkan pada hari Minggu setelah hari 1 Mei berlalu bukannya dilangsungkan pada hari yang seharusnya (1 Mei -pentj.), kongres tersebut menghasilkan kesimpulan:

Kongres Sosialis Internasional di Amsterdam menyerukan kepada seluruh organisasi Social Demokratic Party (Partai Sosialis Demokrat) dan serikat pekerja di seluruh negeri untuk melaksanakan demonstrasi pada tanggal 1 Mei untuk memperjuangkan agenda legalnya 8 jam kerja, sebagai tuntutan bersama kelas Proletar, dan untuk tercapainya perdamaian universal. Cara yang paling efektif untuk melancarkan demonstrasi pada tanggal 1 Mei adalah dengan berhenti bekerja. Oleh sebab itu Kongres menetapkan kewajiban bagi badan dan organisasi Proletar dimanapun seluruh penjuru negeri untuk melaksanakan aksi berhenti bekerja (bagi para anggotanya -pentj.) tepat pada tanggal 1 Mei, dimanapun dimungkinkan dengan tanpa mengakibatkan hal-hal yang dapat mencelakakan keselamatan para pekerja.

Ketika pembantaian para buruh yang sedang melakukan pemogokan terjadi di tambang emas Lena Siberia di bulan April 1912, muncul kembali perdebatan yang mempertanyakan pengerahan massa revolusioner Proletar di Russia dalam menjawab seruan mogok pada hari 1 Mei, ini adalah tahun dimana ratusan ribu kaum buruh di Russia mogok kerja dan turun ke jalan untuk melawan tindakan keji tersebut, dengan sekian lama dibawah bayang-bayang kekalahan dari Revolusi Russia pertama pada tahun 1905. Lenin menuliskan tentang May Day pada tahun tersebut:

Pemogokan raksasa yang terjadi di bulan Mei terjadi di seluruh Russia, dan demonstrasi jalanan yang terkait dengannya (pembantaian -pentj.), pendeklarasian Revolusi, pidato-pidato revolusi di depan massa buruh, terlihat jelas bahwa Russia sekali lagi memasuki periode situasi revolusioner.

Peran Rosa Luxemburg di May Day

Pada sebuah artikel yang dituliskan untuk menyambut May Day tahun 1913, Rosa Luxemburg, yang merupakan seorang revolusioner sejati menulis dengan menekankan karakter revolusioner dari gerakan sebagai berikut:

“Ide cemerlang dibalik penciptaan peringatan May Day adalah aksi mandiri dan merdeka dari kaum proletar, adalah aksi politik dari ribuan pekerja…(dst) Usulan yang sempurna dari seorang Perancis bernama Lavigne di pertemuan Kongres Internasionalisme di Paris, digabungkan dengan pengejawantahan bersama secara internasional, penghentian kerja, adalah demonstrasi dan taktik perjuangan untuk 8-jam kerja, perdamaian dunia dan Sosialisme”.

Sebagai murid terdekat hasil dari pertentangan Imperalisme (Sosialisme -pentj.), Rosa Luxemburg melihat bahwa perang telah diambang pintu, dan dia sudah tidak sabar untuk segera menjadikan May Day sebagai media penyemaian benih ide solidaritas internasional diantara para pekerja dan buruh, hari momentum dimana seluruh pekerja internasional saling bahu-membahu berperang melawan Imperialisme, ditulis satu tahun sebelum pecahnya perang (Perang Dunia I -pentj.), Dia menyuarakan kegelisahannya tentang:

“Lebih jauh gagasan tentang May Day, wacana dari seruan aksi massa untuk berdemonstrasi atas nama solidaritas internasional dan sebagai sebuah taktik perjuangan menuju perdamaian dunia dan Sosialisme, meskipun di tempat yang paling sulit dari berkembangnya pergerakan Internasionalisme, yaitu kelas pekerja di Jerman, pemogokan sudah mulai berakar. Dan jaminan terbesar yang bisa kita dapatkan adalah imbas dari perang, yang kemungkinan besar akan segera berlangsung cepat atau lambat, hal ini akan memberi hasil yang nyata dari sebuah kemenangan dari perjuangan dunia kaum buruh melawan modal”.

May Day di Masa Perang

Pengkhianatan yang dilakukan oleh Social-patriot atau kelompok pejuang sosial yang terjadi selama perang terlihat nyata dan vulgar pada peringatan May Day tahun 1915. Hal ini terjadi karena mencuatnya pemikiran perdamaian atau kesepakatan antar kelas yang tumbuh dalam alam logika pemikiran mereka, yang menjadikan mereka mampu berkolaborasi dan berkesepakatan dengan pemerintahan Imperialis di bulan Agustus 1914. Kelompok Sosial Demokrat Jerman menyerukan para pekerja anggotannya untuk tetap bekerja saat May Day tiba; kelompok sosialis Perancis mengeluarkan dekrit atau manifesto khusus untuk membuat pemerintah tidak perlu merasa khawatir dengan 1 Mei, dan para pekerja diwajibkan untuk terus bekerja demi alasan mempertahankan negeri ‘mereka’. Kejadian serupa juga ditemukan di banyak negara yang tengah dilanda oleh perang. Hanya kelompok Bolsheviks dari Russia dan segelintir kaum revolusioner yang kini menjadi minoritas tetap setia kepada cita-cita Sosialisme dan Internasionalisme. Seruan Lenin, Luxemburg dan Liebknecht dengan lantang menentang pembusukan yang diakibatkan oleh faham Sosial-Chauvinisme. Pemogokan sepihak dan percikan api dari bentrok-bentrokan kecil di jalanan mewarnai May Day tahun 1916, menunjukkan bahwa para pekerja dan buruh di negara-negara yang sedang mengalami perang berusaha membebaskan dirinya dari pengaruh beracun yang disebarkan oleh para pimpinan mereka yang telah berkhianat. Bagi Lenin dan juga seluruh kaum revolusioner “kolapsnya opportunisme (jatuhnya Internasionalisme kedua -pentj.) akan lebih menguntungkan bagi pergerakan buruh”, dan Lenin menyerukan untuk membentuk gerakan Internasionalisme baru, bebas dari pengkhianatan menjadi sebuah kebutuhan pada saat itu.

Konferensi Zimmerwald yang diadakan tahun 1915 dan Kienthal tahun 1916 menghasilkan sebuah kristalisasi pandangan dari Partai Revolusioner Internasional dan Minoritas, untuk mengunakan slogan yang dikemukakan oleh Lenin bahwa perang yang dikobarkan oleh para Imperialis (Perang Dunia I -pentj.) telah berubah menjadi sebuah perang sipil (perang saudara -pentj.). Demonstrasi peringatan May Day besar yang terjadi di Berlin tahun 1916, yang digalang oleh Karl Lieknecht dan pengikutnya di gerakan Sosialis, memperlihatkan kemuakkan dari kaum kelas pekerja (terhadap perang -pentj.), yang mengemuka di ruang publik, peristiwa ini melangar larangan dan tekanan yang dikeluarkan dari aparat kepolisian dan pejabat pemerintahan resmi.

Di Amerika Serikat May Day tidak pernah ditinggalkan bahkan ketika perang dimaklumatkan pada tahun 1917. Elemen gerakan Sosialis revolusioner mengambil tindakan serius dalam kampanye anti perang yang diserukan bersama di St. Louis dalam Konvensi darurat pada awal bulan April untuk memprotes perang yang dilangsungkan para Imperialis. Demonstrasi besar di Cleveland diadakan di lapangan umum dan digalang oleh Charles E. Ruthenberg yang kemudian menjabat Serkertaris S. P. (Partai Sosialis -pentj.) yang kemudian menjadi salah satu pendiri dan pemimpin Partai Komunis yang sangat militan. Lebih dari 20.000 pekerja turut serta dalam parade di jalanan menuju lapangan terbuka, yang tergabung dengan ribuan pekerja lainnya. Aparat Polisi dengan brutal menyerang dan membubarkan pertemuan tersebut, membunuh seorang Buruh dan melukai lainnya.

Peristiwa peringatan May Day tahun 1917, peringatan peristiwa Juli (jatuhnya penjara Bastile -pentj.) dan akhirnya pada bulan Oktober di Russia (revolusi Oktober -pentj.) merupakan sebuah babak final menuju tercapainya perkembangan revolusi Russia. May Day bersama dengan peringatan hari-hari bersejarah lainnya yang pernah diwarnai dengan tradisi revolusi buruh – 22 Januari (“Minggu berdarah” tahun 1905), 18 Maret (Paris Commune, tahun 1871), 7 November (pengambil alihan kekuasaan, tahun 1917) – adalah bukti dan saksi yang sekarang menjadi hari libur besar dari ‘Republik Pekerja pertama’, sedangkan 8 jam kerja sehari sebagai tuntutan awal dari May Day telah disempurnakan oleh Uni Soviet dengan menetapkan 7 –jam kerja sehari.

Comintern (Komunis Internasional -pentj.) Mewarisi Tradisi May Day

Sebagai pewaris tradisi revolusi proletar terbaik semenjak Karl Marx dan Engels menerbitkan Manifesto Komunisme di tahun 1848, Communist International atau Comintern melanjutkan apa yang sudah menjadi tradisi di May Day, ketika May Day tiba Partai-Partai Komunis di seluruh Negeri akan menyerukan kaum buruh untuk berhenti bekerja, turun ke jalan dan menunjukkan perkembang-tumbuhan dari kekuatan kaum buruh dari hari ke hari dan untuk menunjukan solidaritas internasional antar kaum pekerja dengan menuntut pengurangan jam kerja menjadi –sekarang 7 –jam dalam sehari-, dengan tanpa ada pengurangan upah buruh, tuntutan untuk jaminan sosial bagi buruh, bersiap melawan bahaya perang yang akan mengancam dan siap mempertahankan Uni Soviet, bersedia melawan penjajahan Imperialisme dan Kolonialisme, berjuang melawan diskriminasi dan hukuman mati tanpa proses peradilan yang adil, menyatakan Sosial-Fasisme sebagai salah satu bagian dari sistem dan mesin Kapitalisme, berjanji untuk membangun serikat yang revolusioner, berikrar kepada perjuangan yang gigih dan tekat yang membaja untuk berjuang mengulingkan sistem Kapitalisme dan menegakkan Semesta Republik Soviet.

Politik Pemogokan Massa di May Day

Dari tahun ke tahun perjuangan May Day mencapai fase yang makin tinggi dan matang. Terlahir di Amerika Serikat dalam hiruk pikuk perjuangan dan pemogokan menuntut hak politik buruh, setiap peringatan May Day menjadi sebuah pemandangan dan saksi dari pemogokan politik untuk menyuarakan tuntutan dari kelas mayoritas yaitu kelas pekerja Amerika yang telah dijelaskan sebelumnya. Pekerja baik tua – muda, lelaki – perempuan, Negro dan kulit putih, kesemuannya bersatu padu dalam aksi perayaan May Day. Sudah bisa dipastikan menjadi sebuah keharusan di setiap peringatan May Day bagi para pekerja untuk berhenti bekerja, dan melakukan mogok kerja sebagai sebuah tradisi peringatan. Pemogokan tersebut haruslah berupa pemogokkan yang bersifat masal melibatkan banyak pekerja dimana para pekerja meninggalkan pos-pos pekerjaan mereka secara bersama-sama dan turun ke jalan, bukan secara sendiri-sendiri. Seluruh unit produksi dalam pabrik harus berhenti beroperasi, hanya dengan metode pemogokan seperti itulah semangat perjuangan dan semangat untuk mogok bisa dipompa secara lebih sistematis. Pemogokan umum tersebut haruslah bersifat politik (politik perburuhan -pentj.) yaitu mendasarkan kepada agenda tuntutan politik yang menjadi agenda politik buruh (hajat hidup kaum buruh -pentj.) yang akan berdampak luas ke seluruh kelas pekerja.

Walaupun Partai Komunis dan Serikat yang revolusioner terafilisi dengan T. U. U. L. (organisasi Liga Serikat Buruh Bersatu, Trade Union Unity league -pentj.) telah menyerukan agenda 7 jam kerja, dengan tanpa pengurangan upah buruh, para buruh di Amerika setelah sekian lama berjuang merealisasikan tuntutan 8 jam kerja sehari selama 46 tahun, ternyata masih harus terus memperjuangkan terealisasinya tuntutan tersebut. Di banyak sektor industri pekerja masih harus bekerja antara sembilan sampai sepuluh jam bahkan lebih dalam sehari. Kegagalan dari realisasi tuntutan tersebut disebabkan oleh kelompok Aristokrasi di segelintir pekerja, yang menerima suap dari kelas Kapitalis ditambah dengan kondisi kerja yang lebih baik dibandingkan buruh pada umumnya, mereka telah meninggalkan buruh-buruh lainnya yang kurang terdidik dan terorganisir tanpa perlindungan dan solidaritas organisasi gerakan buruh yang lebih terorganisir, sehingga oleh sebab diatas mereka lebih mudah untuk dieksploitasi untuk keuntungan para pemilik industri.

A.F.of L. (American Federation of Labour) Berubah Menjadi Fasis

Masih teringat 40 tahun yang lalu di Union Square, New York, para pemimpin demonstrasi May Day yang pertama telah berbicara tidak hanya tuntutan 8 jam kerja tetapi juga agenda perlawanan dan penghancuran terhadap sistem Kapitalisme. “Sembari terus berjuang untuk merealisasikan tuntutan 8 jam kerja, kita tidak akan mengalihkan pandangan dari tujuan utama kita, -penghacuran dari sistem pengupahan”, bacalah lagi seruan yang di proklamirkan di depan ribuan massa pemogokan yang bertempat di Union Square pada tanggal 1 Mei tahun 1890, setelah mereka berbaris bersama dalam arak-arakan besar dengan membentangkan spanduk merah melewati wilayah bagian kelas pekerja di Metropolis. Dan sekarang A. F. of L. dan Partai Sosialis berbuat hal yang serupa dengan para boss dan majikan, untuk mengagalkan perjuangan para pekerja yang menginginkan perubahan yang lebih baik dari kondisi kerja mereka dengan segala cara, dan terlihat jelas, daripada terus berjuang untuk menghancurkannya, mereka sekarang berjuang untuk terus mempertahankannya (sistem Kapitalisme -pentj.).

Selama 40 tahun yang telah berlalu, A. F. of L. memohon di Kongres Sosialis Internasional di Paris untuk mencari dukungan pemogokan yang akan dilangsungkan pada tanggal 1 Mei tahun 1890, dan Internasionalisme-pun menjawab permintaan tersebut dengan seruan pertolongan untuk menjadikan perjuangan para pekerja Amerika tersebut menjadi sebuah agenda Internasional. Tetapi sekarang apa yang justru terjadi adalah Presiden Green dan pendukungnya Mathew Well memberikan dukungan dan support kepada A. F. of L. dan kelompok organisasi reaksioner lainnya untuk melakukan gerakan yang memerangi Partai Komunis, yang selama ini telah mengusung tradisi dari perjuangan 1 Mei para pekerja Amerika terdahulu. A. F. of L. kini telah berkembang dari sebatas kelas kolaborator menjadi sepenuhnya fasis, berperan sebagai pelayan dari kapitalis dan menjadi algojo di tiang gantungan bagi kaum kelas pekerja di Amerika.

Dalam berbagai upaya mereka melumpuhkan gerakan May Day dan menarik ‘organisasi pekerja’ untuk tidak terlibat lagi di dalam demonstrasi, A. F. of L. bersama dengan organisasi buruh reaksioner lainnya telah mengangkat apa yang disebut sebagai Hari Buruh oleh mereka sendiri, yang diadakan pada hari Senin pertama di bulan September setiap tahunnya. Perhelatan Hari buruh tersebut pertama kalinya diadakan pada di tingkat lokal pada tahun 1885 yang kemudian diresmikan oleh berbagai negara bagian, sebagai penganti dari perayaan 1 Mei.

Kampanye lainnya dalam usaha memerangi May Day diadakan oleh pemerintahan Federal dengan bantuan pemimpin dari A. F. of L. ketika 1 Mei diadopsi sebagai hari Kesehatan Anak atau Child Health Day. Sikap hipokrit munafik dari kedua belah pihak baik pemerintah dan A. F. of L. hal ini terbukti dengan fakta bahwa jutaan anak yang berumur kurang dari 16 (enam belas) tahun, telah diperas keringatnya di pengilingan dan lumbung-lumbung, di toko dan di pasar dan di lahan pertanian kesemuannya untuk kejayaan dari kapital Amerika.

Arti sebenarnya dibalik dari ketermukaan dari agenda kesejahteraan anak tersebut, bisa ditarik dari beberapa referensi yang mengacu pada laporan yang diterima oleh Dewan Eksekutif A. F. of L. pada konvensinya tahun 1928:

… Pihak Komunis masih mempertahankan 1 Mai sebagai Hari Buruh. Oleh karena itu mulai saat ini 1 Mei akan dikenal sebagai Hari Kesehatan Anak, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Presiden dan disetujui oleh Kongres untuk memproklamirkan pencanangan 1 Mei sebagai Hari Kesehatan Anak bagi seluruh Amerika Serikat. Dan tujuan utamanya adalah memberika perlindungan kesehatan menyeluruh pada tahun masa kanak-kanak. Dan ini adalah tujuan yang lebih berharga. Adalah pada saat yang bersamaan 1 Mei bukanlah lagi akan dikenal sebagai hari mogok maupun Hari Buruh Komunis.

Mungkinkah para pemimpin A. F. of L. belum pernah mendengar sebuah cerita tentang Raja Canute dan usaha darinya untuk mengulung kembali gelombang lautan? Ataukah mungkin mereka sedang berusaha dengan cara apapun untuk mematahkan semangat perjuangan yang selalu menyala di gerakan para buruh?

Sosial Fasisme dalam Partai Sosialis

Pengkhianatan kepada kaum pekerja selama perang terus berlanjut kali ini dilakukan oleh Partai Sosialis. Mereka bergabung dengan pemerintahan Borjuis untuk melindungi diri mereka sendiri dari kemarahan para pekerja; Mereka membentuk sendiri gerakan anti revolusi untuk memandamkam semangat ‘perjuangan merebut kekuatan’ dari kaum buruh; Mereka menjadi jagal yang menjegal langkah dari kelas pekerja yang paling militan yang tengah berjuang untuk menjatuhkan cengkeraman kapital, seperti apa yang telah dilakukan sebelumnya oleh kelas pekerja di Russia di bawah pimpinan kaum Bolsheviks, partai dari Lenin. Kelompok Sosial Patriotik sebagai sayap kanan politik, dan kelompok Sosial Pasifis sebagai kelompok politik tengah, selama berlangsungnya masa-masa perang telah bergabung menjadi Sosial Fasisme. Sosial Fasis telah menjadi bagian dari mesin Kapitalisme negara demi melindungi dirinya sendiri dari aksi yang dilancarkan para kaum buruh dan petani di negara kolonial dan imperialis. Mereka memaklumatkan perang kepada Uni Soviet untuk mengatur langkah dan rencana konspirasi untuk menghentikan terbentuknya Sosialisme di Soviet. Mereka juga mendukung perang yang dikobarkan oleh Imperialisme Jepang menindas rakyat China, juga menguasai Manchuria yang dijadikan pangkalan di Timur dengan tujuan untuk menyerang Uni Soviet.

Mereka telah sekian lama meninggalkan tuntutan 8 jam kerja. Mereka berharap Liga Bangsa-Bangsa (LBB sebelum PBB -pentj.) akan membantu mereka merealisasikan tuntutan pengurangan jam kerja melalui konvensi diantara negara-negara kapitalis. Kongres Marseilles pada pertemuan Internasionalnya yang kedua (LBB -pentj.) tahun 1925 mendeklarasikan bahwa 8 –jam kerja sehari “haruslah dipahami hanya sebagai sebuah prinsip”. Dan mereka masih selalu berpartisipasi merayakan May Day, tetapi dari seberang lain dari barisan dalam barikade (sindiran dimaksudkan sebagai aparat yang akan menghadang aksi buruh -pentj.), seperti apa yang sudah dicontohkan dalam aksi buas yang diperlihatkan oleh Zoergiebel, kepala Kepolisian Soialis Berlin di May Day tahun 1929, saat menghadapi aksi buruh di kotanya. Pada tahun 1932 saat pemilihan presiden yang berlangsung, kelompok Sosial Demokrasi mendukung pemerintahan Bruening tokoh pemerintahan fasis dengan ikut mengusung terpilihnya kembali Hindenburg.

Perdana Menteri “Sosialis” MacDonald mengirimkan tentaranya untuk menyapu gelombang massa Hindu yang bergerak melawan pemerintahan Imperialisme Inggris dan antek-anteknya di India. Dimanapun Kapitalisme merasa mulai lemah dalam melawan gelombang revolusi dan gerakan kemerdekaan dari buruh dan petani, mereka akan meminta bantuan kepada Partai Sosialis, antek dari Kapitalisme di tubuh gerakan buruh untuk ikut mematahkan dan memanfaatkan situasi gerakan yang tengah bergejolak.

Di Amerika Serikat, Partai Sosialis memainkan peran yang serupa. Walaupun dimainkan bukan dalam bentuk cara kerja kantoran di belakang meja, tetapi mereka telah mendapatkan mata tombak yang tajam dalam permainan bisnis jagal menjagal aspirasi dan kepentingan kaum buruh. Mereka tergabung dalam berbagai front yang memfitnah dan menjelek-jelekkan Uni Soviet dan berusaha makin mencabuk sentimen peperangan dengan Republik Pekerja (Uni Soviet -pentj.). Hal ini efektif dilakukan oleh A. F. of L. beserta dengan Serikat Muste ”progressive” Labour Union dalam mengalang kekuatan pekerja yang militan untuk mendukung para boss melawan para pekerjanya sendiri, dengan memberi sambutan dan tepuk sorak dukungan kepada kekuatan pemerintah dalam memerangi dan menganiaya gerakan revolusioner di negeri ini. Para pemimpin lama dari S. P. (Hilquits dan Oneals) telah mengutuk apapun Sosialisme yang pernah mereka yakini dahulu, sedangkan para pemimpin baru mereka (Thomases dan Brouns) adalah sosok Borjuis liberal yang mengunakan gerakan buruh demi terlaksana dan majunya kebijakan politik dari Presiden Theodore Roosevelts yaitu perayaan Bull Moose Day dan Robert LaFollettes yang mempunyai tujuan untuk mengkelabui khalayak luas dengan slogan-slogan kosong radikalnya.

Norman Thomas sosok kesayangan dari press kapitalis, meluncurkan kepada dunia sebuah buku yang memperkenalkan dengan apa yang disebut Sosialisme Baru, Sosialisme tanpa Marxisme. Hal ini pernah dicoba sebelumnya. Seorang yang lebih cakap dari Thomas, bernama Eduard Bernstein, mencoba menghilangkan pengaruh dan penganut Marxisme di Sosialisme lebih dari 30 tahun yang lalu. Dia lebih memahami Marxis daripada apa yang dipahami dan diklaim oleh Thomas, Dia tidak bertindak kebablasan seperti apa yang dilakukan oleh Thomas. Sebagai seorang pemikir pionir dari Jerman yang hanya ingin “mengkoreksi” Marx untuk “lebih membuatnya lebih sesuai dengan jaman”, pemikir pertama yang melakukan hal ini. Sedangkan Thomas, tidak mengetahui bahkan setengah dari pemikiran Marx. Dia tidak hanya “merevisi” Marx tetapi sekaligus menghapusnya, tanpa sedikitpun mengusik Sosialisme, sebagaimana pimpinan S. P. tekankan.

Norman Thomas dan kelas kolaborator Partai Sosialis yang Dia wakili sekarang ini mungkin adalah yang terbaik dari berbagai kelompok yang pernah mencoba berusaha menentang dan mengkhianati secara terbuka kaum pekerja dan buruh di negeri ini, sebagai penentang sekaligus pengkhianat dari satu-satunya Sosialisme yang mewujudkan pemerintahan kelas pekerja, Sosialisme yang dianut oleh Marx dan Lenin, Sosialisme yang telah Partai Komunis perjuangkan selama ini, Sosialisme yang dibangun oleh buruh dan petani yang berjaya di Uni Soviet sekarang.

Tradisi Revolusioner Para Buruh di Amerika

Kaum buruh di Amerika memiliki tradisi pergerakan revolusioner yang kaya, dimana oleh karenanya Partai Komunis serta Trade Union Unity League (T. U. U. L.) bisa merunut pelajaran dari berbagai pengalaman perorganisiran buruh menuju masa revolusioner dari sejarah pengorganisiran buruh Amerika dalam melakukan aksi-aksi revolusionernya. Sejarah besar perjuangan kaum buruh yang mewarnai sejarah Amerika, mencatat kesaksian dari kegigihan perjuangan kaum buruh Amerika. Tidak hanya ketika para buruh bersiap untuk memulai pergerakannya, tetapi juga tercatat bagaimana para buruh pemberani tersebut dengan gagah berani menghadapi provokasi para majikan dan tak gentar dalam bertahan, berjuang berlama-lama menghadapi kekuatan gabungan dari para boss majikan dan kaki tangan para penguasa negara, di setiap pemogokan yang mereka lakukan.

Gerakan buruh yang bisa kita tarik ke belakang pada massa gerakan pemogokan besar tahun 1877 dan 1886, pada era Homestead (1892), masa periode pemogokan A. R. U. (1894), periode Lawrence (1912), sampai dengan pemogokan buruh baja (1919), dan juga Seatle (1919), begitu juga tak terhitung pemogokan buruh batu-bara, rel kereta api, pakaian dan di berbagai industri lainnya, sampai dengan peristiwa perlawanan besar di Colorado, Pennsylvania, West Virginia, perternakan Mesaba, dan yang paling akhir terjadi di Gastonia dan Harlan, dan masih bisa dibilang berbagai perlawanan besar lainnya yang akan segera menyusul di masa depan. Ditambah dengan kondisi yang mengarah kepada – krisis ekonomi yang terus menerus memburuk, bertambahnya pertumbuhan pengangguran tetap, semakin intensifnya eksploitasi disebabkan oleh metode percepatan produksi industri, Percepatan dan persaingan antar kubu imperialis yang memungkinkan segera munculnya perang dunia lainnya, Kebebasan pergerakan buruh Amerika dari kungkungan arah perjuangan yang keliru, cepat atau lambat akan muncul dengan sendirinya. Pembantaian yang dilakukan oleh Polisi Ford terhadap 4 orang buruh pabrik mobil di Detroit pada saat demonstrasi para pencari kerja yang terjadi di lokasi pabriknya, pembunuhan para Negro yang tidak mempunyai pekerjaan di kota Chicago dan Cleveland adalah bukti dari semakin mengerucutnya perjuangan kelas dan militansi para pekerja.

1 Mei dan 8 Maret – Kontribusi dari Para Buruh Amerika

Disamping tradisi yang diwariskan oleh para pekerja dan buruh Amerika, para pekerja tersebut juga menyumbangkan kepada kelas pekerja internasional 2 hari perjuangan, yang diakui sebagai titik tolak bagi para pekerja revolusioner menuju langkah kemenangan mutlak perjuangan mereka tiap tahunnya. Bagi mereka yang menjadi bidan bagi kelahiran dari “hari” tersebut, dengan segera memproklamirkan hari istimewa tersebut setelah mereka mendapat dan memperoleh arti revolusi dari kejadian atau aksi yang terjadi dari hari tersebut. A. F. of L. telah membantu membidani dari kelahiran May Day. Menjadi sebuah ironi di Amerika, bahwa May Day mempunyai pengalaman catatan sejarah panjang dosa-dosa yang dilakukan oleh modal Amerika, tapi disayangkan May Day tidak pernah diadakan (di Amerika) untuk melawan Kapitalisme Amerika itu sendiri lagi.

Partai Sosialis sebagai kolega dekat, ataupun nantinya tidak mempunyai hubungan yang dekat lagi dengan A. F. of L. harus dicatat dengan kontribusinya di peringatan perayaan Hari Wanita/Perempuan Sedunia, yang diselengarakan pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya. Sekitar 20 tahun yang lalu para wanita sosialis di New York menorganisir diri, berbeda dengan gerakan untuk hak pilih yang dilakukan oleh kelompok Borjuis, massa wanita Proletar berpartisipasi dalam dalam aksi massa besar gerakan untuk menuntut hak pilih politik (dalam pemilu -pentj.). Aksi ini berlangsung pada tanggal 8 Maret. Keberhasilan dari terselengaranya aksi tanggal 8 Maret di New York tersebut, menyebabkan ditetapkannya tanggal tersebut sebagai Hari Wanita berskala Nasional. Dan Kongres Sosialis Internasionalisme pada tahun 1910 menetapkannya menjadi perayaan Internasional.

Dengan dipenuhinya hak pilih politik dalam pemilu oleh Amerika Serikat, 8 Maret kemudian ditinggalkan oleh S. P. semenjak pemilu sebagai ajang pemberian suara dan penempatan kader menjadi sumber pertentangan antar kubu bagai Alpha dan Omega bagi partai. Para Wanita pergerakan di Russia tidak melupakan begitu saja 8 Maret, yang menyusul revolusi Oktober dijadikan penyemangat spirit perjuangan para buruh. Partai Komunis sekali lagi menghidupkan Hari Wanita/Perempuan Sedunia sebagai bagian nyata perjuangan politik kaum buruh. Seperti halnya peringatan 1 Mei hanya Partai Komunislah yang masih meneruskan tradisi perayaan Hari Wanita/Perempuan Sedunia pada tanggal 8 Maret, dimana seluruh pekerja dan buruh lelaki maupun perempuan saling bahu membahu di hari ini memanggil para kaum wanita Proletar untuk ikut bergabung mengambil posisi perjuangan di samping para pekerja laki-laki.

Masa Depan Menjadi Milik Komunisme

Pada saat peringatan May Day tahun 1923, sebuah edisi dari mingguan Weekly Worker, memuat tulisan dari C. E. Ruthenberg yang menuliskan: “May Day – hari yang selalu menghantui ketakutan di hati dari para kapitalis dan menjadi hari harapan bagi kaum buruh – para pekerja di seluruh dunia – akan menemukan menguatnya gerakan Komunisme di Amerika Serikat dibandingkan era manapun di dalam sejarah…(dst) jalan telah membentang luas demi tercapainya tujuan dan cita-cita yang lebih mulia, dan baik di Amerika Serikat maupun dimanapun di seluruh penjuru dunia masa depan adalah milik dari Komunisme”. Di Weekly Worker pada generasi sebelumnya pernah memuat tulisan dari Eugene V. Debs dalam edisi May Day pada surat kabar tersebut yang diterbitkan pada tanggal 27 April tahun 1907: “Ini adalah peringatan May Day pertama dan satu-satunya Hari Buruh, yang sebetul-betulnya milik pekerja dan didedikasikan untuk revolusi”.

Dunia semakin dekat menuju Komunisme pada saat ini. Kita hidup di jaman yang lebih maju sekarang. Kapitalisme telah jatuh terjerembab dan terus mengarah ke kehancuran. Mengerucutnya pertentangan yang dibuatnya sendiri membuat jalan yang akan membuatnya terus hidup akan semakin redup. Kaum pekerja dan buruh yang mulai tersadar kesadaran politiknya semakin melakukan perlawanan yang sengit. Bangkitnya kaum terjajah dan setengah terjajah melawan cengkeraman kekuasaan Imperialisme senantiasa semakin mengelora.

Di Uni Soviet para kaum pekerja akan senantiasa menginggat dan mengulas May Day sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa dalam sejarah membangun Sosialisme. Sedangkan di Negeri para kapitalis May Day akan selalu diingat sebagai hari perjuangan dan perlawanan dan realisasi dari agenda politik perjuangan kaum kelas pekerja. Dengan slogan Diktaktor Proletrariat dan Republik Soviet selalu senantiasa menjadi tulang pungungnya.


Sekapur Sirih oleh penterjemah

Harus disadari menterjemahkan sebuah teks sejarah tidak melulu seperti sulih bahasa yang bisa dilakukan oleh mesin pencari GOOGLE, karena ada banyak hal yang bersifat kontekstual yang harus dipahami supaya terjemahan tidak mengalami perubahan makna dan memberi pengertian yang salah pada pembaca.

Teks tentang Sejarah Buruh ini diterbitkan hampir 100 tahun yang lalu dengan tentu saja kita harus membaca aspek kekinian dari jaman penulis ketika menuliskan teks tersebut. Harus diketahui kompleksitas pada masa awal abad 20 yang disebut juga abad setelah abad pemikiran juga disebut pula abad peperangan, mungkin hal yang serupa pantas disematkan pada 10 abad terdahulu, pertentangan idiologi melawan sistem jaman yang dalam sejarah digambarkan oleh Marx sebagai dialektika sejarah, tentu harus lebih dahulu pembaca pahami melalui berbagai tulisan yang membahas tentang ide Marx tentang Kapitalisme dan Sejarah Kapitalisme konteks Eropa (Materialism Dialektika Historis) bukan Asia, Afrika, Amerika Latin atau negara yang sekarang disebut “semi terjajah atau negara peri-peri atau negara dunia ketiga, atau negara berkembang menurut teori Developentalisme”. Satu hal yang pasti menilik dari jaman ketika tulisan asli ini muncul tentu sudah banyak ahli sejarah maupun tokoh pergerakan yang menjadikan tulisan ini sumber referensi, baik tokoh pergerakan seperti Syahrir, Tan Malaka, Soewardi Suryaningrat, Hatta, Soekarno, Suryopranoto, Semaun atau siapapun tokoh nasional yang pernah terpengaruh terinspirasi dengan gerakan kemerdekaan dan revolusi di Eropa maupun Russia. Terbukti Indonesialah pionir pertama Bangsa di dunia yang merdeka pertama kali dari Kolonialisme (dan ternyata memilih bentuk Republik) pasca Perang Dunia ke II, sebuah tatanan dunia baru yang dibentuk oleh kubu Kapitalis dan Komunis setelah runtuhnya Fasisme. Indonesialah pionir pertama dari bangsa merdeka di dunia berkat pembelajaran revolusioner modern dari para kaum kiri yang anti Kolonialisme.

Lebih lanjut lagi dalam teks tersebut tentu ada makna dan tujuan dari penulis asli ingin sampaikan, lebih lanjut pendidikan yang ingin disampaikan, hal ini tidak bisa dielakkan oleh teks sejarah manapun tentang intepretasi subjektif dari penulis. Lebih lanjut lagi dengan tidak disebutnya beberapa tokoh pergerakan Komunisme dan buruh seperti Trostky yang merupakan lawan idiologis dari Lenin dan betapa penulis asli menjabarkan berbagai keburukan dan kebaikan di salah satu pihak, tentu bisa dijelaskan dengan latar belakang penulis dan tujuan tulisan ini diterbitkan, sehingga tak ayal Wikipedia atau media lainnya yang berafiliasi dengan Kapitalisme enggan menyebut atau memuatnya secara penuh. :)

Yang patut menjadi catatan adalah May Day atau 1 Mei lahir di tempat yang berbeda dengan lahirnya Komunisme yaitu: May Day di Amerika dan Komunisme di jantung pemikiran Eropa. Tentu harus menjadi catatan apa yang dimaksud Komunisme tidak serta merta merupakan ikon awal gerakan buruh di May Day, karena jelas mereka lahir di tempat yang berbeda dengan konteks yang berbeda, dan mengapa kemudian gerakan buruh di Amerika di kemudian hari menolak Komunisme ala Lenin di Amerika yang menyebabkan saling kecurigaan antara gerakan buruh di dunia (baca tentang pecahnya kubu organisasi buruh di PBB). Dan awal mula pertentangan antara Sosdem dan berbagai elemen gerakan lain yang menganut Internasionalisme, atau kemudian elemen Nasionalisme di Komunisme dan Sosialisme, yang kesemuannya saling berpotongan. Kelompok yang saling berpotongan tersebut saling memperebutkan potongan roti yang disebut sebagai massa (rakyat) dan sejarah, dan mereka mempunyai versi mereka tersendiri dari berbagai versi termasuk yang sekarang diterjemahkan merupakan salah satu versi tulisan dari sejarah.

Hal ini penting dicatat supaya stigma Komunisme di negera-negara yang semi terjajah tidak dijadikan sebuah alasan represifitas pemerintah kepada setiap gerakan perubahan atau dalam konteks ini gerakan buruh. Jelas digambarkan pada tulisan ini siapa yang masuk ke dalam agenda May Day dan siapa yang kemudian mengagendakan May Day dalam gerakannya. Mari kita lihat bahwa May Day adalah gerakan buruh seperti awal mula kelahirannya, bukan sebagai gerakan pengambil alihan kekuasaan melalui revolusi dalam konteks ini gaya Bolsheviks komunis Russia, tetapi hari perayaan bagi buruh, dan merupakan tuntutan murni para buruh demi meningkatkan kesejahteraan kaumnya, lain intepretasi di luar kuasa penterjemah.

Salam Sejarah…. HIDUP BURUH…..

Penterjemah adalah: Ika Rubby N.

Pernah belajar Sejarah di Univ. Sanata Dharma Yogyakarta.

Pernah aktif di Sekolah Buruh Yogyakarta dan Aliansi Buruh Yogyakarta.

ika_rubby@ymail.com'

About leobardus rubby