Meraih Mimpi Bersama Saung Mimpi

Oleh :

Jessica Mega Sari P (144214067)

Vincentia Krisna W (144214069)

Apa itu mimpi? Apakah mimpi itu adalah sesuatu yang kita lihat dan alami saat kita sedang tidur? Atau apakah keinginan kita dapat disebut sebagai mimpi? Apakah mimpi hanya sekedar khayalan belaka? Lalu, jika seorang anak kecil mempunyai cita-cita sebagai koki, presiden, atau apa saja, apakah itu disebut mimpi?

Salah satu definisi mimpi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah angan-angan. Angan-angan dapat diartikan sebagai keinginan. Merupakan hal yang biasa bagi setiap manusia untuk mengingini sesuatu atau berangan-angan. Angan-angan manusia tidak hanya melulu hal-hal kecil sepeti anak kecil menginginkan sepeda, ingin makan sesuatu. Angan-angan manusia juga mencakup tentang hal besar juga, seperti cita-cita. Tanpa angan-angan, mungkin kehidupan manusia akan terasa hampa karena tidak memiliki tujuan atau pencapaian tertentu. Pertanyaannya, mungkinkah angan-angan itu kita gapai? Jawabannya, tentu saja sangatlah mungkin. Sekedar mengingat sebuah lagu dari tahun 2008 berjudul “Laskar Pelangi”. Salah satu liriknya mengatakan mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya. Mimpi tidak hanya akan menjadi mimpi saja jika kita mampu berusaha untuk mewujudkannya. Namun, mampukah kita menggapai mimpi itu jika tidak ada dorongan dari diri kita sendiri? Maka dari itu, peran Saung Mimpi sangatlah bekerja dalam hal ini.

Lalu, apa sih sebenarnya Saung Mimpi itu? Saung Mimpi adalah salah satu komunitas di Jogja yang menginspirasi anak-anak untuk berani bermimpi dan berani pula untuk mewujudkannya. Komunitas ini bermula dari obrolan-obrolan tentang keprihatinan pendiri Saung Mimpi, yang merupakan mahasiswa, tentang anak-anak di Indonesia terutama anak-anak dari kalangan tidak mampu. Bukan keprihatinan dalam konteks finansial, tetapi tentang masa depan mereka. Konteks masa depan ini berupa kecenderungan mereka bercita-cita seperti ayah atau ibunya, misal karena ayahnya seorang petani maka dia akan melanjutkan pekerjaan ayahnya sebagai petani. Contoh lain, karena ibunya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurus masalah rumah, maka seorang anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi dan terlalu pintar. Cita-cita mereka cenderung merupakan “warisan” dari apa yang mereka lihat sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga dan sekitar mereka. Anak-anak di kalangan seperti ini cenderung takut untuk bermimpi. Jika mereka ditanya “Kalian kalau sudah besar mau jadi apa?” kebanyakan anak-anak tersebut akan pasti akan menjawab, “Petani kayak bapak atau ibu aja mas, mbak. Gamau neko-neko.” Karena itulah, sejak tahun 2013, Saung Mimpi hadir di Jogja untuk mengadakan ‘sekolah berjalan’, menginspirasi banyak anak-anak tentang profesi terutama profesi yang kurang familiar di kalangan anak-anak tersebut.

Saung sendiri adalah sebuah kata dalam bahasa Sunda yang artinya rumah atau gubug kecil. Biasanya kata saung digunakan untuk menyebut sebuah gubug kecil yang ada di luar rumah seperti di sawah, ladang, kebun atau tempat yang terpisah dari bangunan rumah.

Saung juga biasa dipakai sebagai tempat istirahat, berteduh, makan-makan, atau kegiatan lain seperti tempat ngobrol, pertemuan, dan lain-lain. Dengan begitu, teman-teman dari Saung Mimpi berharap komunitas Saung Mimpi ini menjadi sebuah tempat yang nyaman bagi para anggotanya maupun anak-anak untuk bermimpi. Selain nyaman, tentu saja diharapkan bahwa Saung Mimpi menjadi tempat bagi anak-anak menemukan sesuatu yang baru, harapan dan mimpi-mimpi baru.

Komunitas ini terbagi dalam lima divisi yang diketuai oleh “Soekarno”. Divisi tersebut adalah divisi Dewantara, Dewi Sartika, Syahrir, Habibie, dan Hatta. Nama-nama divisi itu tidak asing bagi kita. Ya, nama divisi Saung Mimpi diambil dari nama-nama pahlawan negara kita. Orang-orang yang memiliki mimpi besar yaitu kemerdekaan Indonesia dan akhirnya mimpi itu terwujud. Divisi Dewantara atau divisi pendidikan memegang peran penting dalam kegiatan-kegiatan yang dijalankan Saung Mimpi. Kalau di sebuah kepanitiaan, kita mengenalnya dengan sebutan steering committee. Layaknya dunia pendidikan formal, divisi ini memiliki tugas membuat kurikulum yang dalam prakteknya mengandung nilai, norma, dan karakter positif anak. Divisi Dewi Sartika atau Pengembangan Sumber Daya Manusia merupakan bagian dari Saung Mimpi yang menangani volunteer dan pengurus secara langsung. Divisi ini mengembangkan kegiatan-kegiatan yang bisa memacu pengembangan sumber daya manusia dalam berbagai aspek, yaitu kapabilitas, keterikatan, dan optimalitas. Divisi Syahrir merupakan divisi komunikasi atau hubungan masyarakat komunitas ini. Divisi Habibie atau riset bertugas mencari SD binaan, mengetahui kondisi masyarakat SD binaan secara sosio kultural dan mengukur indikator keberhasilan acara. Divisi terakhir adalah divisi Hatta atau dana usaha yang bertanggung jawab atas kebutuhan dana dan hal pendukung lain demi kelancaran rangkaian Saung Mimpi.

Anak-anak dari SDN Tukharjo sedang bermain bersama Saung Mimpi

Anak-anak dari SDN Tukharjo sedang bermain bersama Saung Mimpi

Kegiatan Saung Mimpi ditujukan bagi anak dengan usia 6-12 tahun atau SD. Pendidikan yang diterapkan bukanlah pendidikan formal melainkan berupa permainan. Otak kita akan lelah jika setelah seminggu full belajar di sekolah, lalu disuguhi pelajaran lagi. Oleh karena itu, Saung Mimpi membuat kegiatannya sedemikian rupa agar anak-anak tertarik dan tidak bosan. Yang paling penting, anak-anak bisa merefresh kembali otaknya setelah seminggu belajar. Namun permainan ini bukanlah sembarang permainan. Permainan-permainan yang dibuat berbasis profesi. Profesi yang katakanlah ‘anti-mainstream’. Kebanyakan anak-anak mengenal profesi-profesi yang sering disebutkan di sekolah. Misalnya polisi, petani, guru, tentara, pilot, dokter, dan sebagainya. Namun bagaimana dengan jurnalis? Arkeolog? Ilmuwan? Arsitek? Atau detektif? Pasti kebanyakan anak akan merasa asing dengan profesi-profesi tersebut. Karena itulah Saung Mimpi hadir untuk mengenalkan profesi-profesi ‘anti-mainstream’ itu di kalangan anak-anak melalui berbagai permainan sesuai dengan profesi tersebut. Dibalik permainan tersebut terdapat harapan rasa aktualisasi diri, keberanian berbicara di depan publik, eksperimen, dan semangat wirausaha anak-anak terasah.

Seperti yang terlihat pada kegiatan perdana Saung Mimpi di tahun 2015 dilaksanakan pada tanggal 29 Maret. Kali ini, SD binaan yang dituju berada di daerah Kulonprogo, tepatnya di SDN Tukharjo, Samigaluh. Ada 31 adik-adik yang mengikuti sekolah berjalan kali ini. Kurang lebih pukul 9 pagi, Saung Mimpi memulai kegiatan dengan pembukaan berupa beberapa permainan. Tujuan permainan-permainan tersebut tentu saja untuk mengakrabkan adik-adik dengan kakak Saung Mimpi. Selain permainan, adik-adik dibagi dalam 4 kelompok yang didampingi dua kakak hore untuk aktifitas selanjutnya di pos profesi. Tidak lupa setiap kelompok diharuskan menamai kelompoknya dan membuat yel-yel. Setelah setiap kelompok selesai dengan diskusinya, dimulailah permainan di pos profesi. Kali ini terdapat lima profesi yang dikenalkan kepada adik-adik yaitu arkeolog, jurnalis, ilmuwan, detektif, dan koki.

Tawa riang anak-anak saat bermain bersama kakak hore

Tawa riang anak-anak saat bermain bersama kakak hore

Kegiatan yang dilakukan di pos arkeolog adalah mencari candi di dalam tanah. Adik-adik diberi sebuah peta yang menjadi panduan di mana candi itu terpendam dan sebuah sekop untuk mengambil candi tersebut. Ada yang berhasil, tetapi ada juga yang tidak. Di pos ini, adik-adik yang betanya-tanya apa itu arkeolog, akan menjadi tahu apakah arkeolog itu dan tugas apa sajakah yang harus dilakukan ketika kita menjadi arkeolog. Selain itu adik-adik jadi belajar untuk sabar mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan, dan teliti dalam menggali benda-benda sejarah tersebut. Selain pos arkeolog, ada juga pos jurnalis. Di pos jurnalis adik-adik dikenalkan dengan slogan “Dilihat, Didengar, Dicatat”. Saat di pos jurnalis ini, adik-adik dipertontonkan video pendidikan lingkungan tentang air, bagaimana air bersih diperoleh, dimana air disimpan, apa dampak kerusakan lingkungan, dan lain-lain. Setelah itu, mereka mencatat informasi atau bisa menggambarkan apa yang mereka dapat dari video tersebut. Di pos ini juga ditanamkan nilai bahwa seseorang jurnalis harus bersikap jujur, terutama dalam menyampaikan informasi. Karena seorang jurnalis bertugas untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Selanjutnya, adik-adik akan berada di pos ilmuwan. Kali ini, adik-adik disuguhkan sebuah contoh peristiwa, dimana mereka diajak melakukan observasi tentang bagaimana cara mengambil koin di dalam “air kotor” dengan menggunakan sebuah gelas, lilin, dan korek. Namun, mereka tidak bisa menyentuh air karena air tesebut mengandung racun. Adik-adik ditantang, bagaimana caranya mengambil koin tersebut di air yang beracun hanya menggunakan gelas, lilin, dan korek. Mereka dibebaskan bereksperimen dengan pemikiran dan cara mereka sendiri. Antusiasme adik-adik sangat terlihat di pos ini. Banyak cara dan tingkah lucu mereka ketika mengeluarkan koin. Apa yang diajarkan lewat pos ini? Melalui pos ini, mereka diajarkan mengenai nilai tidak mudah menyerah dan berani mencoba.

Pos detektif menjadi pos yang cukup melelahkan tetapi mengasyikkan. Mengapa melelahkan? Di pos ini, adik-adik diberi suatu kasus yaitu menemukan piala mereka yang hilang. Tidak hanya itu, mereka juga diberi kesempatan untuk menebak siapa pelaku yang mengambil piala mereka tersebut. Mereka diberi petunjuk berupa instruksi-instruksi dimana instruksi tersebut letaknya tidak di satu tempat saja. Maka, adik-adik berlarian ke sana kemari. Tetapi tidak ada raut lelah di wajah mereka. Justru mereka dengan semangat mengikuti petunjuk walaupun harus berlari dari ujung ke ujung satunya dan naik turun tangga. Panas matahari siang itu sama sekali tidak menghilangkan semangat adik-adik. Nafas mereka pun tersengal-sengal, tapi tetap tidak menghilangkan mereka senyum dan tawa yang menghiasi wajah mereka. Di pos ini, mereka diajarkan bahwa untuk menjadi seorang detektif diperlukan sebuah ketelitian dalam mencari bukti-bukti sehingga seorang detektif tidak bisa asal menuduh tanpa dilandaskan bukti-bukti yang ada. Selain itu, seorang detektif juga harus sabar dalam mengikuti petunjuk-petunjuk yang ada demi mengungkap sebuah kebenaran.

Salah satu anak dari SDN Tukharjo sedang menuliskan mimpinya

Salah satu anak dari SDN Tukharjo sedang menuliskan mimpinya

Pos profesi terakhir inilah yang ditunggu-tunggu, pos koki. Ya, di pos ini semua peserta dan teman-teman Saung Mimpi bersama-sama makan siang setelah hari yang cukup melelahkan dan pastinya membuat lapar. Setelah beraktivitas seharian di luar ruangan, tentu saja tangan kita akan penuh dengan kuman. Oleh karena itu, mereka juga diajarkan bagaimana cara mencuci tangan yang baik. Tidak lupa ilmu itu juga dipraktekkan. Setelah diajarkan, adik-adik langsung mempraktekkan mencuci tangan yang baik dengan sabun. Di pos koki ini mereka tidak sekedar makan siang bersama saja, adik-adik diajarkan mengenai seperti apa makanan sehat itu, apa saja kandungannya, dan contoh makanan-makanannya. Dengan antusias, adik-adik menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan oleh teman-teman Saung Mimpi tentang makanan sehat, misalnya jagung mengandung karbohidrat, daging dan telur mengandung protein, sayur dan buah mengandung serat dan vitamin, dan masih banyak lagi. Selain itu, adik-adik juga diajarkan bagaimana membuat bento. Bento adalah istilah dari bahasa Jepang untuk bekal makanan yang berisi nasi, sayuran, dan lauk. Isinya sesuai dengan definisi makanan sehat. Untuk membuat nasi bento lebih menarik, maka adik-adik juga diajarkan cara menghias nasi dan tidak lupa mempraktekkannya sebelum akhirnya dimakan bersama. Di pos ini, kreatifitas adik-adik akan terlihat dari bentuk bento yang mereka buat. Ada yang berbentuk badut, gunung meletus, taman, dan sebagainya.

Setelah mengisi perut, adik-adik tidak langsung pulang. Mereka dikumpulkan dalam suatu ruangan untuk menengok kembali apa yang telah mereka lakukan hari itu. Salah satu teman dari Saung Mimpi membacakan kesan dari adik-adik yang sebelumnya telah mereka tulis. Adik-adik dari SDN Tukharjo sangatlah berharap kunjungan teman-teman Saung Mimpi ke SD mereka bukan pertama dan terakhir kalinya. Mereka berharap teman-teman Saung Mimpi akan kembali mengunjungi mereka. Sebelum kegiatan ditutup dengan doa, adik-adik juga menulis tentang mimpi mereka yang suatu hari nanti akan mereka wujudkan menjadi nyata.

Foto kebersamaan Saung Mimpi dengan anak-anak dari SDN Tukharjo, Samigaluh, Kulonprogo

Foto kebersamaan Saung Mimpi dengan anak-anak dari SDN Tukharjo, Samigaluh, Kulonprogo

Komunitas Saung Mimpi terus melakukan perkembangan. Tahun ini, Saung Mimpi berganti dari konsep lama ke konsep baru di dalam kegiatannya. Di konsep lama, Saung Mimpi menjalankan sekolah berjalan sebulan sekali, namun di konsep baru ini berganti menjadi tiga bulan sekali dengan adanya penutup dari keseluruhan acara, seperti pentas seni yang menampilkan kebolehan adik-adik. Selain itu, Saung Mimpi menambahkan adanya kapsul mimpi dalam konsep barunya. Kapsul mimpi merupakan wadah dimana adik-adik menuliskan cita-citanya, mimpinya, dan meletakkannya di dalam sebuah botol. Kapsul mimpi ini memiliki makna bahwa adik-adik diharapkan selalu mengingat mimpi-mimpi mereka dan berusaha mewujudkannya. Saung Mimpi tidak hanya mengadakan ‘sekolah berjalan’ hari itu saja, dan meninggalkan sekolah itu tanpa bimbingan lagi. Selama tiga bulan, Saung Mimpi akan masih ‘menemani’ anak-anak dari SDN Tukharjo dalam menginspirasi anak-anak untuk meraih mimpi dengan berbagai aktivitas di luar hari sekolah tentunya.

Kegiatan yang dilakukan komunitas ini mendapatkan respon positif dari sekolah, orangtua, maupun masyarakat sekitar SD tersebut. Selain pengetahuan mereka bertambah dan mengurangi kejenuhan bersekolah, kegiatan sekolah berjalan ini juga mengasah kepribadian adik-adik. Adanya kegiatan penutup sejenis pentas seni yang menampilakan kebolehan adik-adik juga melatih mereka mengembangkan bakatnya dan berani tampil.

Selain manfaat bagi peserta, tidak ketinggalan juga manfaat bagi para anggota Saung Mimpi. Dengan berkegiatan bersama anak kecil, secara tidak langsung para anggota memelajari psikologi anak seperti bagaimana mereka harus bersikap dan berbicara, sikap seperti apa yang perlu ditunjukkan kepada anak-anak, bagaimana mereka harus tetap tersenyum dan bersemangat walaupun sudah lelah, dan lain-lain. Secara tidak langsung mereka juga akan belajar bagaimana mendidik anak mereka kelak di masa yang akan datang. Selain manfaat yang diambil dari adik-adik, mereka juga merasakan manfaat dari komunitas itu sendiri. Beberapa manfaat itu antara lain menambah pengetahuan, memperluas koneksi, dan belajar bekerjasama.

Dalam perekrutan anggotanya, Saung Mimpi tidak pandang bulu atau memilih secara khusus calon-calon anggotanya. Mereka menerima seluruh calon anggota yang mendaftar. Untuk menjadi salah satu anggota dari Saung Mimpi, yang kita perlukan hanya mengisi formulir pendaftaran. Saung Mimpi tidak punya aturan khusus dalam perekrutan anggotanya. Hal ini berbeda dengan sebuah lembaga, misalnya, dalam merekrut anggota baru terdapat aturan-aturan khusus yang mengatur calon-calon anggotanya tersebut. Jika di dalam komunitas diterapkan hal tersebut, maka secara tidak langsung akan mengkotak-kotakkan calon anggotanya. Anggota dari Saung Mimpi bukan hanya berasal dari satu universitas saja. Ada mahasiswa dari UGM, UII, UAD, dan universitas di Jogja lainnya. Tidak hanya universitasnya yang beragam, program studinya pun juga beragam. Saung Mimpi juga tidak mengatur batasan usia untuk menjadi anggota Saung Mimpi. Dari mahasiswa baru, mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi, hingga mereka yang sudah lulus, bekerja, dan berkeluarga bergabung di komunitas ini. Walaupun tergolong komunitas baru, tetapi antusiasme terhadap komunitas ini cukup tinggi. Ada juga yang berdomisili di Purworejo dan nglaju untuk mengikuti rapat. Maka, siapa saja yang ingin bergabung, mengenalkan dan membangun mimpi bersama, membantu membentuk masa depan generasi muda selanjutnya diperbolehkan mengikuti komunitas ini.

Setiap komunitas, tidak hanya Saung Mimpi, tentu saja mengalami beberapa tantangan yang menghalang dalam perjalanannya mengembangkan komunitas. Salah satu tantangan yang harus dihadapi Saung Mimpi adalah waktu. Seperti yang telah disebutkan diatas, anggota Saung Mimpi tidak hanya berasal dari satu universitas saja. Mereka berasal dari berbagai macam universitas dan tentunya mereka mempunyai beragam aktivitas yang berbeda. Hal yang paling sulit bagi Saung Mimpi adalah mencari waktu untuk sekedar kumpul, ngopi, nongkrong dan ngobrol tentang komunitas ini. Teman-teman dari Saung Mimpi mengatasi hal ini dengan santai, bukan tegang seperti organisasi resmi lainnya. Sekali mereka mendapat kesempatan untuk bertemu, mereka akan memanfaatkan hal tersebut dengan santai pula. Sekedar menanyakan kabar, gimana kuliah, gimana skripsi, lalu akan berujung membahas keadaan komunitas.

Untuk saat ini, Saung Mimpi belum mempunyai basecamp secara resmi tempat mereka mengadakan rapat atau sekedar berkumpul. Saung Mimpi biasanya berkumpul atau rapat di sebuah tempat nongkrong atau ngopi seperti café sehingga mereka bisa sekaligus menjalin tali persaudaraan. Atau khusus untuk divisi Dewantara, mereka biasa berkumpul di GSP sebelah barat.

 

Referensi

http://kbbi.web.id/

https://docs.google.com/forms/d/1HP1xLe3TeAFUubTO6S9Nhp-ppRDQZJqkENgoVvs0x6s/viewform

Wawancara dengan Abu, selaku ketua divisi Dewantara. Pada tanggal 19 Maret 2015 di Mister Burger, Jl.Jendral Sudirman no.48c, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233.

 

 
 
 
jessica.purnomo3@gmail.com'

About Jessica Purnomo