Sanggar Seni Gita Gilang

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

DSC_0115

SANGGAR SENI GITA GILANG

Nama kelompok:

Bismar H. Simanjuntak (145114031)

Brama Yunistria Sujana (145114038)

 

Setiap Negara merdeka tentunya memiliki sejarah yang menjadi saksi kemajuan bangsa itu melalui penduduknya, keberagaman, budaya, bahasa serta ketradisionalan dan seni yang sangat berharga dan semua identitas ini telah dimiliki Negara kita Indonesia sejak jaman nenek moyang kita dulu. Indonesia sendiri merupakan Negara kepulauan yang teletak di Asia Tenggara, tepatnya diantara Benua Asia dan Australia, yang melalui Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Kata “Indonesia” sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu Indos yang berarti “Hindia” dan nesos yang berarti “pulau”, sehingga bisa diartikan sebagai Pulau di Samudra Hindia.

Dari macam-macam kesenian yang ada di Negara ini, tradisional maupun madern pada dasarnya adalah identitas Negara kita Indonesia, yang tidak boleh hilang. Itu semua karena pelaku pekerja seni itu sendiri tidak mau dijajah oleh jaman yang mempengaruhi bangsa itu, karena semakin lama bangsa ini sudah mulai kurang peduli terhadap pengetahuan sejarah budaya dan seni yang mengantarkan Negara ini sampai saat ini. Melalui kerja keras dari para pelaku pekerja seni inilah sekarang kita masih dapat menikmati indahnya Ketrampilan bangsa ini dalam bidang kesenian, Jaman memang berubah namun sejarah tidak boleh berubah. Melestarikan kesenian sama saja dengan mempertahankan apa yang sudah kita miliki sejak dulu, Dan ini menjadi bagian penting dalam pertahanan Negara, itu karena masih adanya orang-orang yang masih bangga akan identitas sejarah dalam bidang kesenian.

Banyak sekali pelaku-pelaku seni yang ada di Indonesia salah satunya adalah Bapak Sugita atau sering dipanggil dengan nama Gita gilang, pada tahun 1987 beliau awalnya adalah seorang Guru seni budaya di SMA Bhineka Tunggal Ika hingga tahun 1989 beliau menjadi koreografer dan penari Didik Nini Thowok Entertaiment, Manager marketing Didik Nini Thowok Entertaiment, direktur pendidikan LPK Tari Natya Lakshita Didik Nini Thowok hingga tahun 2009. Beliau memiliki banyak sekali prestasi dibidang seni baik itu prestasi individu maupun prestasi bergengsi yang beliau raih bersama dengan Didik Nini Thowok Entertaiment serta prestasi membanggakan lainnya.

Bapak Sugita juga sebagai pemilik dan pimpinan Sanggar Seni Gita Gilang, Sanggar Seni yang tepatnya berada di Jl. Monjali Blunnyah Gede 139 Sinduadi, Mlati, Sleman-Yogyakarta ini didirikan pada tanggal 9 desember 2009, didirikannya sanggar seni ini bertujuan untuk melestarikan kesenian tradisional. Awal langkah sanggar ini dimulai dari salah satu garapan pertunjukan yang dilauncing di taman budaya Yogyakarta, Sanggar Seni Gita Gilang ini sendiri memiliki basic seni yaitu seni pertunjukan, dimana seni pertunjukan itu terdiri dari, tari, teater, ketoprak, dagelan, dan lainnya.

Salah satu dari seni pertunjukan yang sering ditampilkan dan dilombakan adalah tarian, bentuk dari tari-tarian itu adalah tari kreasi baru, tari comedy, tari kolosal, dan tari tradisional.

Dance New Creation (Tari Kreasi Baru)

Tari kreasi baru adalah suatu tarian yang dikemas dan dikreasikan dengan menggunakan basic tari traditional.

contoh dari tari kreasi baru:

  • Gandrung Banyumasan ( Ngethek )

Tari Gandrung Banyumasan ( ngethek) adalah jenis tarian pergaulan yang dibawakan secara berpasangan laki – laki dan perempuan dengan diiringi gamelan bernuansa banyumasan. Tarian ini menggambarkan tentang kehidupan remaja dalam hubungan  percintaan yang diekspresikan melalui gerak –gerak dinamis dan unsur – unsur komedi.

 

  • Tari Angguk ( Modern )

Angguk Modern adalah jenis kesenian atau tarian kemasan/kreasi baru dengan mengambil dasar  pada Tarian Angguk yang sebenarnya.

Angguk adalah Kesenian rakyat yang lahir pada jaman penjajahan Belanda atau lebih dikenal dengan istilah Kompeni,  sehingga kostum yang digunakan dalam penampilan pertunjukan dipengaruhi oleh seragam Kompeni pada jaman itu. Hal ini terlihat pada design kostum yang dipakai oleh penari Angguk Modern tersebut. Kesenian angguk ditarikan oleh penari perempuan secara kelompok dengan lebih banyak menonjolkan gerak – gerak yang dinamis dan erotis.

Comedy Dance (Tari komedi)

Tari komedi adalah suatu tarian yang diciptakan dengan konsep selucu mungkin,semenarik mungkin untuk menciptakan suatu seni tari yang dapat menghibur dan menggugah penonton.
contoh tari komedi:

  • Tari Bokong Kelegan

Bokong artinya Pantat dan Kelegan artinya Terpuaskan.

Tari Bokong Kelegan adalah tarian garapan yang bernuansa Komedi, dengan lebih banyak menggunakan gerak –gerak pantat ( Bokong ). Tarian ini dimainkan oleh beberapa penari  laki – laki yang memerankan perempuan, tarian ini dibawakan secara rampak (gerak-gerak serempak)  dan dilanjutkan dengan gerak-gerak bebas yang diekspresikan secara dinamis dan humoris oleh masing – masing penari.

Traditional Dance (Tari Tradisional)

Tari tradisional yogyakarta sudah ada sejak jaman dahulu,dan berasal dari kraton yogyakarta yang melambangkan suatu cerita kerakyatan,pergaulan,pada masa itu,yang diiringi oleh musik gamelan yang bernuansa tradisional.

hingga sekarang tarian traditional kerap ditampilkan untuk melestarikan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang.

contoh tari traditional jogjakarta:

  • Tari Srimpi

Tarian Serimpi merupakan tarian bernuansa mistik yang berasal dari Yogyakarta. Tarian ini diiringi oleh gamelan Jawa. Tarian ini dimainkan oleh dua orang penari wanita. Gerakan tangan yang lambat dan gemulai, merupakan ciri khas dari tarian Serimpi. Tarian srimpi sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Tarian ini melambangkan bekal untuk kematian (dari arti Sangopati) diperuntukan kepada Belanda.

  • Tari Golek Manak

Tari Golek Manak disebut juga Beksa Golek Menak atau Beksan Menak. Mengandung arti menarikan wayang Golek Menak.

Tari Golek Menak merupakan salah satu jenis tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Penciptaan tari Golek Menak berawal dari ide sultan setelah menyaksikan pertunjukkan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Disebut juga Beksa Golek Menak atau Beksan Menak. Mengandung arti menarikan wayang Golek Menak. Beksa Golek Menak bersumber dari cerita Menak Cina.
Proses penciptaan dan latihan untuk melaksanakan ide itu memakan waktu cukup lama. Pagelaran perdana dilaksanakan di keraton pada tahun 1943 untuk memperingati hari ulang tahun sultan. Bentuknya masih belum sempurna, karena tata busana masih dalam bentuk gladi resik. Hasil pertama dari ciptaan sultan tersebut mampu menampilkan tipe tiga karakter yaitu :

  1. Tipe karakter puteri untuk Dewi Sudarawerti dan Dewi Sirtupelaeli,
  2. Tipe karakter putra halus untuk Raden Maktal,
  3. Tipe karakter gagah untuk Prabu Dirgamaruta.

Tiga tipe karakter tersebut ditampilkan dalam bentuk dua beksan, yaitu perang antara Dewi Sudarawerti melawan Dewi Sirtupelaeli, serta perang antara Prabu Dirgamaruta melawan Raden Maktal.
Bahasa yang digunakan dalam dialog adalah bahasa bagongan. Busana yang dikenakan para penari mengacu pada busana Wayang Golek Menak Kayu, semua tokoh berbaju lengan panjang, sedangkan cara berkain menerapkan cara rampekan, kampuhan, cincingan, serta seredan disesuaikan dengan tokoh yang dibawakan.

Tidak hanya itu Sanggar Seni ini juga mengkreasikan sendiri tari-tarian yang akan dipentaskan, tergantung dari keiginan atau tema kegiatan yang diikuti. Sanggar seni ini juga membuka kelas untuk orang dewasa dan anak-anak, materi yang diberikan untuk masing-masing kelas berbeda-beda, materi seni pertunjukan yang diberikan tidak hanya dari jenis-jenis seni pertunjukan yang sudah ada melainkan pemikiran atau hasil karya dari pelatih yaitu pak Sugita sendiri.

Para pengelola dari Sanggar Seni ini adalah bapak Sugita sendiri sebagai pemimpin dan pelatih, ibu Yuni Astuti sebagai istri dan juga asisten pelatih selain itu ibu yuni juga menangani bagian rias dan busana, kemudian dibagian marketing dan publikasi yaitu Mas pupung, properti Mas Agus.

Hambatan atau tantangan yang dihadapi Sanggar Seni ini yaitu tempat latihan atau studio, tempat latihan yang kurang memadai yaitu dari segi daya tampung dan kenyamanan. Namun sekarang studio atau tempat latihan sudah memadai karena pembangunan studio yang baru telah selesai.

Prestasi yang telah Sanggar Seni ini sendiri sudah cukup banyak, yaitu:

Pernah berkarya dalam YOGYA JAVA KARNIVAL pada tahun 2013, tampil diacara ulang tahun SCTV, mengikuti acara apapun yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan, mengikuti event misi pertukaran kesenian ke Korea, lomba tingkat se DIY yang berjudul DAGELAN MATARAM dan menempatkan mereka diposisi yang terbaik dalam bidang keseniannya masing-masing,serta selalu juara 1 dalam lomba tari Poco-Poco.

Sanggar Seni Gita Gilang ini ingin melestarikan budaya tradiosianal dengan membuat orang-orang kembali mencintai atau menyukai seni tradisional khususnya seni pertunjukan, dan juga ingin mengembangkan karya-karya yang dapat dipertunjukan dan dihargai secara finansial, yang nantinya bisa menghidupkan kesenian itu sendiri kemudian pelaku-pelaku didalamnya bisa hidup dari kesenian itu sendiri.

Menghidupkan seni dan hidup dari seni (Sugita atau Gita Gilang).

simanjuntakbismar@gmail.com'

About Bismar Simanjuntak