Sanggar Badranaya

KOMUNITAS SANGGAR DALANG ANAK AYODYA

IMG_0873IMG_0874IMG_0869

 

Sanggar Badranaya adalah salah satu sanggar yang berada di yogyakarta.Sanggar Ayodya didirikan pada tahun 2002 oleh Persatuan Pedalangan Indonesia Pemda Kabupaten Bantul. Beralamat didesa Sembungan, Bangun Jiwo, Kasihan, Bantul. Diketuai oleh Ki Alip Diyono S.Sn namun pemilik tempat latihan sanggar tersebut adalah Ki Juaraya, dikarenakan dirumahnya terdapat pendopo (tempat) dan ia juga memiliki peralatan gamelan yang lengkap. Ki Juaraya juga memiliki jabatan sebagai sekretaris di komunitas sanggar ini. Alasan mengapa sanggar ini didirikan yakni karena pada awalnya Yogyakarta dianggap merupakan kota budaya, sehingga gagasan yang muncul pertama kali adalah bagaimana menjaga serta melestarikan budaya tersebut. Pada saat itu gagasan awal yang ingin dilestarikan serta dimajukan adalah pedalangan, khususnya pada kalangan anak-anak, karena sudah terdapat wadah atau tempat bagi usia remaja seperti halnya murid SMK yang sekolahnya memiliki jurusan pedalangan begitu pula bagi mahasiswa perguruan tinggi seperti ISI Yogyakarta. Dari sinilah tercetus ide mengumpulkan anak-anak serta memberi edukasi atau pelajaran tentang pedalangan sejak usia dini, atau bagi mereka yang mempunyai ketertarikan pada pedalangan sejak kecil.

Aktifitas komunitas sanggar ini dilaksanakan setiap hari sabtu pada pukul 16.00 WIB-17.00 WIB. Dalam kegiatannya sanggar Ayodya tidak menarik biaya apapun alias gratis, untuk persyaratan masuk juga sanggar ini tidak memiliki syarat khusus, asalkan berminat dan mempunyai keinginan belajar dalang boleh langsung mengikuti latihan. Dan didalam sanggar Ayodya ini juga tidak hanya belajar dalang saja. Karena perlu diketahui bahwa pedalangan itu mencakup dalam beberapa aspek. Yakni :

  1. Tembang jawa
  2. Sastra jawa
  3. Gamelan jawa
  4. Busana jawa

Sehingga jika belajar pedalangan disanggar Ayodya otomatis 4 cabang seni masuk seperti yang disampaikan diatas. Dalam hal ini keempat aspek pedalangan ini juga sudah diajarkan sejak dini kepada para murid sanggar. Alasan mengapa sanggar ini didirikan dibantul karena diyogyakarta sendiri tempat pelatihan dalang kebanyakan hanya bagi yang usia remaja keatas alias tidak semua yang membuka sanggar latihan dalang bagi anak-anak. Yang membuka sanggar latihan pedalangan bagi anak usia dini hanya berada didua tempat yakni Gunung Kidul (Karangmojo) dan Bantul. Namun kendala yang dialami yakni bagi para murid sanggar yang berada dikota, sleman, dan kulon progo adalah karena jika digunung kidul dianggap terlalu jauh karena terlalu ketimur. Sehingga banyak anak-anak yang tinggal disekitar kota berlatih dalang disanggar ayodya Bantul.

Sampai dengan saat ini jumlah murid yang belajar disanggar ayodya sejumlah 7 anak. Yakni 6 anak berasal dari kota, 1 anak berasal dari kulon progo. Sebenarnya ada 1 anak yang berasal dari gunung kidul tepatnya didaerah selatan yakni daerah panggang juga belajar dalang di sanggar ayodya namun karena sudah SLTA jadi sudah tidak aktif. Dan ada 1 murid lagi dari sleman namun juga karena sudah SLTA sekarang kurang aktif. Sanggar ini menampung anak-anak dari usia dini sampai dengan SMP. Didalam pelaksanaannya, pada saat latihan sanggar ini membagi jumlah murid menjadi dua kelas. Yakni kelas 1 dan kelas 2. Kelas 1 adalah kelas bagi para murid yang dianggap masih pemula, pemula disini dalam arti murid-murid yang masih harus mendapatkan bimbingan khusus serta belajar materi-materi dasar. Sedangkan kelas 2 adalah kelas bagi para murid yang dianggap sudah mampu (sudah bisa), dalam arti sudah sering mengikuti pentas-pentas diluar sanggar. Sanggar ini juga melahirkan bibit-bibit yang dapat mengharumkan nama Sanggar Ayodya.

Topik yang ingin diangkat dalam tulisan ini adalah salah satu komunitas yang ada dalam sanggar ini, yakni adalah “Pedalangan”. Pada sanggar ini terdapat salah satu murid sanggar yang menginspirasi murid-murid sanggar lainnya. Murid ini bernama Gregorius Pradana Ardyamukti atau nama dalangnya adalah Ki Greg Ardyamukti (Si Dalang Cilik). Gregorius Pradana Ardyamukti atau yang biasa disapa Ardy ini adalah murid kelas 8 disalah satu SMP diyogyakarta, yakni SMP Joannes Bosco Yogyakarta Melalui penuturan Ardy, ia mulai belajar dalang semenjak kelas 4 SD.

Pada awalnya Ardy memulai belajar menekuni dalang dari komunitas pertamanya di Taman Budaya Yogyakarta. Seiring dengan perkembangannya, Ardi akhirnya memutuskan untuk pindah memperdalam ilmu dalangnya kesanggar Badranaya. Dengan usaha keras serta tekad Ardy terus belajar dan belajar sampai akhirnya ia mahir dan sekarang sering diundang pentas keberbagai tempat seperti :

  1. UNY (Universitas Negeri Yogyakarta).
  2. Museum Bank Indonesia, Jakarta.
  3. Tembi Rumah Budaya.
  4. Dalem Yudhonegaran (Lomba)

Selain sering diundang untuk pentas Ardy juga sudah banyak mendapatkan penghargaan serta piala-piala dalam berbagai ajang lomba, yakni :

  1. Juara I Festival Dalang & Remaja Tingkat Provinsi.
  2. Juara II Kategori SMP Festival Dalang Cilik V Tingkat Nasional.
  3. Penampil Terbaik III Festival Dalang Cilik Tingkat Nasional.
  4. Juara I antar PEPADI (Persatuan Pedalang Indonesia)

Bahkan Ki Juara juga mengatakan bahwa, sanggar ini selalu mengirimkan salah satu perwakilannya di setiap festival. Dan pasti mendapat juara entah juara 2,3 dan bahkan juara harapan. Akan tetapi tidak pernah mendapat juara 1.Semua ini tidak lepas dari para guru-guru yang selama ini berperan dalam mendampingi, membimbing serta mengajari Ardy mulai dari nol hingga sekarang disebut Si Dalang Cilik yakni Pak Wasdi (Guru Ardy saat di Taman Budaya), Pak Alip Biyono (Guru Ardy di Sanggar Badranaya), dan satu lagi guru Ardy yang mengajarkannya mempelajari wayang wahyu yakni Romo Agustinus Handi Setyanto, Pr. Ujar Ardy pada saat diwawancarai yakni ia memiliki cita-cita menjadi seorang dalang yang terkenal. Dan setelah lulus sekolah nanti ia akan melanjutkan pendidikannya disalah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yakni Institut Seni Indonesia yang berada di Yogyakarta yang biasa disebut ISI Yogyakarta. Usaha, niat serta kerja keras Ardy ini mendapat dukungan penuh dari kedua orang tua Ardy.

Ardy juga mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak memiliki darah seni dari kedua orangtuanya karena orang tuanya bukan berasal dari kalangan orang seni. Ardy juga menuturkan bahwa ia belajar serta menekuni dunia dalang ini tanpa ada paksaan dari orangtuanya dan memang real dari keinginan Ardy sendiri.

Ardy sendiri ikut dalam sanggar Badranaya bergabung dengan murid-murid kelas 2, yang dalam arti sudah dianggap bisa serta sudah sering mengikuti pentas. Ardy juga pada saat latihan biasanya hanya membantu para adik kelas atau para murid pemula dalam belajar dalang, atau terkadang hanya membantu mengiringi tabuhan gamelan yang mengiringi proses belajar para murid pemula dalam mendalang. Ardy juga selain mendalang ia juga mahir dalam memainkan gamelan, khususnya kendang yang dalam hal ini juga merupakan peralatan penunjang dalam pementasan wayang.

Ardy juga selain berbakat dalam bidang pedalangan ia juga berbakat di bidang seni peran, buktinya ia pernah membintangi salah satu acara televisi anak di TRANS 7 yakni “Si Bolang” yang berjudul “Kisah Dalang Cilik dari Jogja Ki Greg Ardyamukti”. Di acara televisi ini Ardy juga mendapat peran utama sebagai Si Bolang dan pada akhir dalam acara ini Ardy juga menunjukkan kemahirannya dengan memainkan wayang kulit, serta mendialogkan cerita wayang yang sedang di mainkannya.

Dan ia juga pernah membintangi film pendek yang dalam pembuatan film ini ia ditunjuk berperan sebagai pemeran utama. Film pendek ini pada saat itu akan diikut sertakan dalam lomba film pendek di Perancis. Namun sang sutradara film, membatalkan mengirim film pendek ini untuk mengikuti lomba di Perancis dikarenakan tidak mendapatkan sponsor sehingga menjadikan film ini kurang mendapatkan sokongan dana untuk maju lomba ke Perancis.

Menulusuri kembali pedalangan yang ditekuni oleh Ardy, Ia mengutarakan bahwa wayang dibedakan menjadi dua yaitu, wayang purwa dan wayang wahyu. Yang membedakan antara wayang purwa dan wayang wahyu yaitu di isi ceritanya. Kata Purwa dipakai untuk wayang dengan jenis wayang kulit. Purwa berarti awal. wayang purwa diperkirakan mempunyai umur yang paling tua di antara wayang kulit lainnya. Kemungkinan mengenai berita adanya wayang kulit purwa dapat dilihat dari adanya prasasti di abad 11.

Wayang purwa sendiri biasanya menggunakan ceritera Ramayana dan Mahabarata. Wayang kulit purwa sendiri terdiri dari beberapa gaya atau gagrak seperti gagrak kasunanan, Mangkunegaran, Ngayogyakarta, Banyumasan, Jawatimuran, Kedu, Cirebon, dan sebagainya. Wayang kulit purwa terbuat dari bahan kulit kerbu yang ditatah dan diberi warna sesuai dengan kaidah pulasan wayang pedalangan, diberi tangkai dari bahan takduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri dari tuding dan gapit.

Sedangkan wayang wahyu menceritakan tentang isi injil dalam kitab suci. Wayang kulit merupakan salah satu maha karya seni yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, bahkan diakui oleh UNESCO. Wayang kulit selalu mempesona dari masa ke masa. Salah satu jenis wayang kulit di nusantara adalah Wayang Wahyu. Wayang Wahyu dibuat oleh Temotheus  Subrata  tahun 1960. Sumber cerita yang dilakonkan dalam pagelaran Wayang Wahyu mengangkat kisah yang terdapat di dalam Alkitab. Tokoh-tokoh dalam Wayang Wahyu dibuat secara realistik dengan ornamen dan ricikan yang distilir mirip dengan sunggingan (tatahan) wayang kulit Purwa.

Selayaknya pertunjukan wayang kulit pada umumnya, pagelaran Wayang Wahyu juga diringi dengan gamelan dengan mengambil nyanyian atau gendhing Gerejani dengan garapan (tata penyajian) yang kreatif. Namun dalam suluknya (semacam nyanyian yang dikidungkan oleh dalang dalam pertunjukan wayang), masih tetap menampilkan gaya dan irama tradisional seperti pada wayang kulit Purwa dengan kreasi lirik yang baru. Alur cerita yang dipakaipun masih mengikuti pakem (aturan atau pedoman baku) dari pertunjukan wayang kulit Purwa pada umumnya.
Bahan dasar pembuat Wayang Wahyu tetap menggunakan belulang atau kulit binatang yang dipahat dan diwarnai seperti layaknya menciptakan Wayang kulit Purwa. Perupaannya cukup dilematis, antara setengah bentuk wayang yang mempunyai pola garap mendekati Wayang Purwa dan setengah gambar manusia realistis terutama untuk tokoh-tokoh yang karakternya sudah dikenal masyarakat.

 

 

istiyanto94@gmail.com'

About Rinda Budi