Samin: Sekretariat Anak Merdeka Indonesia

Oleh :

Wilma Endah Utami/144214019 & Yohanes Agung/144214115

saminlogo1

Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) adalah organisasi non-Pemerintah yang bekerja pada isu (hak-hak) anak. Organisasi ini didirikan pada tanggal 20 Mei 1987 dan awalnya memposisikan diri sebagai support group untuk mendorong keperdulian berbagai pihak terhadap isu-isu anak dan mendukung pihak-pihak yang bermaksud mengembangkan program untuk anak. Program awal SAMIN adalah mempromosikan pendidikan alternatif bagi anak-anak di 2/3 provinsi di Indonesia yang ada pada saat itu. Selanjutnya, seiring dengan tumbuhnya organisasi-organisasi masyarakat sipil yang memberikan perhatian terhadap kehidupan anak-anak, SAMIN mulai terlibat dalam penanganan langsung. Kelompok anak yang pernah ditangani dan diperhatikan adalah anak jalanan, buruh anak, eksploitasi seksual komersial terhadap anak atau anak-anak korban eksploitasi seksual (termasuk prostitusi anak), dan anak yang berkonflik dengan hukum. Sejak tahun 1995, SAMIN mulai mendalami isu hak-hak anak yang kemudian dikembangkan sebagai perspektif kerja. Tujuan program mulai difokuskan kepada promosi atas hak-hak anak dan melakukan advokasi kepada Negara untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya untuk menghargai, melindungi dan memenuhi hak-hak anak. Pada tahun 2000, sehubungan dengan pelayanan langsung terhadap anak, SAMIN memilih kelompok anak-anak yang menjadi korban kejahatan seksual dan anak-anak yang berkonflik dengan hukum.

Kami mengunjungi markas SAMIN yang bertempat di jalan Sidikan Gang Saridi UH V/567 Yogyakarta pada 28 Maret 2015 lalu. Di sekeliling rumah yang sekaligus menjadi markas Pak Odi dan pengurus lainnya bekerja secara nyata ini terlihat sesak—karena lemari-lemari diisi penuh dengan buku-buku, tampak kinerja mereka sangat berhubungan dengan buku sebagai penunjang kerja. Kami bertemu langsung dengan Pak Odi, beliau merupakan ketua pengurus dari yayasan SAMIN ini. Kali pertama bertemu dengan beliau orangnya terkesan rendah hati, berwawasan luas, sederhana, ramah dan welcome terhadap para tamunya.

Kami mewawancara beliau, dengan senang hati beliau menjawab pertanyaan kami dengan sejelas-jelasnya. Alasan berdiri dan latar belakang berdirinya SAMIN tidak hanya terfokus pada Jogja. Ini dikarenakan mereka (yang mendirikan SAMIN) menilai sistem pendidikan yang berlangsung di Indonesia tidak mencerdaskan anak-anak, sehingga SAMIN berupaya memberikan perhatian kepada anak-anak. Visi misinya untuk memberi perhatian kepada anak-anak dan awalnya dari isu pendidikan. SAMIN didirikan oleh lima orang. Menurut Bapak Odi, awalnya dimulai dari pendiri yang berasal dari Bandung yang mempunyai koalisi anti pembodohan dan mengembangkan pendidikan alternatif di perkampungan kumuh yang berada di sekitar wilayah Bandung. Lalu di Jogja juga terdapat aktivis yang bergerak pada isu pendidikan dan mengembangkan program-program anak di daerah pedesaan. Kemudian pertemuan mereka membuahkan hasil sehingga mereka membuat sebuah program yang bernama Olah Anak Kreatif, dari program tersebut para pendiri merasa pentingnya sebuah lembaga khusus untuk anak-anak dan didirikanlah SAMIN.

Samin1

Respon awal masyarakat mengenai hadirnya Yayasan SAMIN ini tidak begitu diperhatikan karena pada masa itu (awal berdirinya SAMIN pada tahun 1987) gerakan masyarakat sipil masih mengenai isu lingkungan maupun isu tanah. Isu mengenai anak-anak tidak begitu terlalu diperhatikan sehingga SAMIN pada waktu itu masih harus melakukan promosi dan mendekati LSM-LSM yang ada untuk memberikan perhatian kepada anak-anak, bahwa anak-anak ini penting dan bisa menjadi jalan masuk lembaga masyarakat tetapi juga untuk kelangsungan hidup anak-anak itu sendiri, karena situasi yang terjadi pada waktu itu pilihan terhadap kegiatan mengenai anak-anak dinilai lebih aman.

Program SAMIN di Jogja pada tahun 2000 menangani anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual, pemerkosaan, sodomi, dsb di wilayah DIY dan sebagian Jawa Tengah yang daerahnya masih berdekatan dengan Jogja dan masih dapat dijangkau SAMIN. Perlibatan pemerintah atau masyarakat Jogja dalam pentingnya peranan korban agar korban tidak “dibuang” atau “diasingkan” tetapi didukung dan dibantu atau dilindungi dalam upaya pemulihan anak-anak atau perempuan korban pelecehan seksual itu justru adalah penerimaan dan perlindungan dari keluarga dan masyarakat di sekitar korban itu sendiri. SAMIN tidak hanya mendampingi “korban” secara hukum tetapi juga mengorganisir masyarakat di sekitar tempat tinggal anak, sehingga mereka bisa memberi perhatian, mendukung dan bisa mempercepat proses pemulihan bagi anak yang menjadi korban tersebut.

Perkembangan SAMIN dari awal berdiri hingga sekarang menjadi semakin spesifik, dari awalnya yang hanya membahas tentang isu pendidikan menjadi isu anak, karena sekarang isu anak merupakan isu yang sudah menjadi isu publik. Untuk pemerintahan, sejak era reformasi sudah mulai menjadi lebih baik dengan adanya undang-undang yang mengatur tentang anak dan mulai memberi respon kepada anak-anak sudah cukup baik walaupun belum optimal. Seperti UU No. 23 tahun 2002 yang sudah diamandemen menjadi UU No.11 tahun 2012. Perubahan ini juga bersifat radikal karena pada UU No.3 tahun 1997 mulai diberikan perlakuan yang berbeda untuk orang-orang yang melakukan tindak pidana namun umurnya masih dalam kategori anak, sehingga diberikan perlakuan khusus.

Pada amandemen terbaru, undang-undang memberikan perlakuan yang lebih baik dan mengedepankan restorative justice. Restorative justice adalah suatu pemulihan hubungan dan penebusan kesalahan yang ingin dilakukan oleh pelaku tindak pidana (keluarganya) terhadap korban tindak pidana tersebut (keluarganya) untuk melakukan upaya perdamaian di luar pengadilan dengan maksud dan tujuan agar permasalahan hukum yang timbul akibat terjadinya perbuatan pidana tersebut dapat diselesaikan dengan baik dengan tercapainya persetujuan dan kesepakatan diantara para pihak. Hal ini dilakukan agar dapat memberi efek pemulihan agar anak-anak tersebut tidak mengulangi perbuatannya.

Kegiatan yang sudah dilakukan oleh yayasan SAMIN adalah pada awalnya memberikan pelatihan tentang hak anak pada tahun 1994 meski pada waktu itu belum ada yang menyampaikan. Pada tahun 1990-an, SAMIN juga mulai merintis membahas program isu prostitusi anak. Lalu tentang PRT anak juga pada tahun 1991-an, karena SAMIN termasuk yang pertama untuk melakukan penelitian mengenai hal ini. Untuk isu anak yang berkonflik dengan hukum juga termasuk mendampingi di LP anak pada tahun 2005-2007 dan untuk keadaan emergency pada masa gempa atau merapi khusus anak-anak, karena pada saat seperti itu anak-anak kurang mendapat perhatian. Untuk isu yang berjalan sekarang adalah isu mengenai inklusi sosial, sebenarnya ini merupakan program pemerintah dan berkaitan dengan PM Mandiri tetapi dilihat masih ada kelompok masyarakat yang belum tersentuh dengan program-program pembangunan, misalnya korban politik, waria, dsb. SAMIN juga menjalankan Pilar Anak, yaitu ditujukan untuk anak-anak dan remaja rentan yang berlokasi di Bandung, Garut, Lampung, Kalimantan Barat dan Medan dengan isu prostitusi anak, anak jalanan, anak di perkebunan kelapa sawit, dsb.

Yayasan SAMIN merupakan lembaga yang kegiatannya dan programnya dibawah pemerintah, namun untuk kegiatan sekarang sumber dana SAMIN diberikan oleh lembaga donor berasal dari Australia, yang untuk di Indonesia lembaga tersebut dikelola oleh Asia Foundation. Sedangkan untuk program yang lain, SAMIN juga bekerja sama dengan lembaga internasional yang merupakan lembaga implementor dan Yayasan SAMIN membantu sebagian dari program-program mereka.

Cara penanganan yang dilakukan yayasan SAMIN terhadap anak-anak ada dua cara. Yang pertama interpeksi langsung yaitu SAMIN yang langsung turun dan menanganinya. Sedangkan interpeksi tidak langsung, ini merupakan program inkusi sehingga SAMIN hanya mengkoordinasikan dan memonitor LSM-LSM lokal untuk melakukan program itu.

Yayasan SAMIN juga beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai apresiasi dari hasil kerja mereka. Penghargaan yang disertai sertifikat dan disertai bukti tertulis hanya ada satu yaitu penghargaan dari Walikota pada tahun 2007. Namun tak hanya penghargaan untuk yayasan, salah satu pengurus SAMIN juga pernah mendapat penghargaan sebagai aktivis anak pada tahun 2000 yang diberikan oleh gubernur Jogja kala itu.

Yayasan SAMIN juga bekerja sama dengan pemerintah, salah satunya yang sedang berjalan sekarang dibawah koordinasi Kemenko PMK—Kementerian Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan atau pengganti Kemenko Kesra—Kementerian Koordinasi Kesejahteraan Rakyat. Sebelumnya, Yayasan SAMIN juga pernah bekerja sama dengan Kantor Pemberdayaan Perempuan, Dinas Sosial Provinsi, Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Kota, Serta BP3AKB—Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga baik di tingkat DIY maupun Kota ataupun Kabupaten.

Dampak yang bisa dirasakan oleh masyarakat Jogja dengan adanya kegiatan dari Yayasan SAMIN adalah ketika terjadi gempa, karena SAMIN lebih fokus terhadap anak-anak yang jumlahnya tidak banyak dan sudah diakui baik oleh masyarakat sekitar maupun pemerintah karena pendekatan yang dilakukan oleh SAMIN dapat mengisi kekosongan pada ruang penanganan kebencanaan. Misalnya, pada bencana Merapi yayasan SAMIN mengembangkan dapur umum khusus anak yang isinya memang menu yang dirancang untuk anak-anak.dan tidak dilakukan oleh siapapun selain oleh Yayasan SAMIN. Karena biasanya pada dapur umum biasa, orang-orang memasak dan mengabaikan makanan untuk anak-anak. Biasanya mereka memasak makanan orang dewasa yang tidak peduli rasanya keasinan, kepedasan atau lain-lain yang pada akhirnya anak-anak tidak bisa makan dan diberi makan mie instan atau telur goreng saja yang membiarkan menu anak-anak itu sendiri tidak terpenuhi. Tetapi, dampak tersebut belum cukup dan masih belum sesuai dengan harapan bagi Yayasan SAMIN karena masih menginginkan yang terbaik dan akan mengusahakan yang terbaik.

Dari melakukan semua kegiatan-kegiatan yang ada di Yayasan SAMIN, diakui oleh Pak Odi tantangan tersebut berasal dari faktor internal yaitu sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang ada di zaman sekarang ini berbeda dengan sumber daya manusia pada zaman Pak Soeharto dulu. Dulu, berada di LSM bukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan tapi juga karena adanya dorongan “ideologi” untuk membantu dan memberikan perhatian terhadap kaum miskin ataupun kaum yang terpinggirkan. Keadaan tersebut berbeda dengan keadaan sekarang karena kebanyakan orang-orang masuk ke LSM dan menjadikan LSM sebagai profesi sehingga perhitungan-perhitungan dan cara kerjanya menjadi agak berbeda. Karena perbedaan cara kerjanya inilah kita menjadi sulit untuk mendapatkan sumber daya manusia yang bisa total dalam “pelayanan” ataupun melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ada di dalam kelompok masyarakat seperti kita dengan sepenuhnya.

Faktor kedua berasal dari factor eksternal yaitu sumber dana. Sumber dana yang sekarang juga agak berbeda dan lebih sulit dibandingkan dengan sumber dana yang bisa kita dapatkan dulu. Kalau dulu, lembaga sumber dana itu selalu menanyakan apa gagasan kita untuk membawa perubahan, perubahan tersebut baik dalam perubahan sosial, perubahan masyarakat dsb. Tapi sekarang lembaga-lembaga donor itu lebih seperti memberikan program-program yang sudah mereka miliki ke lembaga-lembaga yang membutuhkan bantuan dana, sehingga lembaga-lembaga tersebut hanya sebagai pelaksana, dengan begitu kegiatan maupun dananya sudah terperinci dengan detail. Ini juga menyebabkan banyak LSM-LSM yang terjebak hanya sebagai pelaksana kegiatan dan mimpi-mimpi tentang perubahan yang ada juga tidak kental dalam melaksanakan program-program tersebut, ditambah lagi apabila lembaga donor memberikan kegiatan yang sedikit berbeda dari LSM itu sendiri.

samin1

Ketika yayasan SAMIN menjelaskan tentang program kerja kepada The ASIA Foundation

Faktor ketiga adalah pemerintah. Pada pemerintah sering kali terjadi perubahan yang tidak kita inginkan karena belum terbangunnya sistem yang cukup bagus untuk mengatasi hal-hal seperti ini. Perubahan ini memang tidak dapat dielakkan, mengingat semua yang berada di pemerintahan pasti memiliki masa jabatan yang tidak diketahui hingga kapan. Contoh dari faktor ini adalah misalnya pada isu anak, sudah dijelaskan mengenai apa sebenarnya isu anak itu, bagaimana seharusnya seorang anak mendapatkan haknya, dsb kepada seseorang yang sudah mengerti dan mendalami mengenai hal ini, namun orang tersebut dimutasi sehingga perlu menjelaskan lagi kepada orang yang baru dan memulai semua dari awal lagi, ungkap Pak Odi.

Tantangan dari masyarakat juga agak berbeda dari masyarakat yang “dulu” dengan masyarakat yang sekarang. Masyarakat dulu, contohnya pada zaman Pak Soeharto dimana sistemnya represif dan masyarakatnya masih takut untuk bersuara, ketika diberitahu tentang isu anak dan mereka melihat semacam ada pencerahan, ini menyebabkan “lengket”-nya informasi menjadi lebih cepat. Sedangkan sekarang, masyarakat kita adalah masyarakat dengan keterbukaan informasi dan sudah berani bicara, tetapi solidaritas antar sesama kita masih belum penuh seutuhnya. Jadi tantangan dari masyarakat dari keterbukaannya informasi inilah yang menjadikan kita masyarakat yang konsumtif tetapi menjadi masyarakat yang tidak kritis, sehingga kita mudah diombang-ambingkan oleh arus informasi. Tantangan dari kondisi masyarakat seperti ini adalah bagaimana cara kita menyampaikan informasi agar informasi tersebut dapat menarik simpati banyak masyarakat. Ini merupakan tantangan terbesarnya walaupun sebagai makhluk sosial itu pasti setiap orang menginginkan melakukan hal yang terbaik untuk orang lain.

Setelah dua puluh tujuh tahun Yayasan SAMIN berdiri, akhirnya Yayasan SAMIN mengesahkan diri di hadapan hukum pada tanggal 5 Desember 2014, SAMIN melakukan penataan organisasi, dengan menyesuaikan diri dengan Undang-Undang Yayasan.  Perubahan ini dicatatkan oleh Notaris Sri Mardiana, SH, dengan nomor 03, tanggal 5 Desember 2014. Pengesahan pendirian badan hukum Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia juga telah diperoleh melalui Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, nomor AHU-10685.50.10.2014, tertanggal 16 Desember 2014.

Harapan yang selalu mereka dambakan yakni kepedulian terhadap pentingnya peran kita menyikapi kasus-kasus yang terjadi di lingkungan sekitar dan siapa saja korbannya. Yayasan SAMIN sendiri percaya, bahwa sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kerinduan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi manusia lain. Mereka menginginkan setiap anak-anak yang diasingkan mendapat perhatian yang lebih dari masyarakat agar mereka juga dapat menikmati hak-hak mereka sebagai manusia. Kita tidak boleh mengasingkan atau membuang mereka yang menjadi korban, melainkan kita mampu membantu memulihkan rasa trauma mereka yang mungkin masih tertinggal dengan memberi perhatian dan perlakuan-perlakuan baik dari kita, keluarga dan lingkungan sekitar korban. Yayasan SAMIN juga membukukan berbagai pengalaman mereka selama dua puluh tujuh tahun, dalam berbagai karangan seperti Bikin Jalan Sambil Berjalan dan Erupsi Merapi Lahirkan Inspirasi dan Aspirasi yang tersusun rapi di lemari.

Peta menuju Yayasan SAMIN

samin map

Referensi:

http://yayasan-samin.org/tentang

Wawancara dengan Pak Odi Shalahuddin, selaku ketua pengurus. Pada tanggal 28 Maret 2015 di Jalan Sidikan Gg. Saridi UH V/567 Yogyakarta.

wilmanyun@gmail.com'

About wilma