Sanggar, Rumah si Anak Alam

 Feature by:

Abraham P. Pasaribu (144214056) & R.B Eka Satria B.R (144214119)

Rumah, adalah tempat berlindung bagi semua makhluk hidup. Baik manusia, hewan, maupun tumbuhan juga pasti memiliki “rumah”, meskipun dengan istilah masing-masing. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pun mengartikan rumah sebagai bangunan untuk tempat tinggal. Tak hanya sebagai bangunan, rumah pun menentukan bagaimana pribadi seseorang, karena dari rumah lah kepribadian seseorang pertama kali ditanamkan. Dalam Bahasa Inggris, makna rumah ini mengacu pada kata home, yang berbeda dengan house.

Si Anak Alam, kini akhirnya memiliki “rumah”, bukan hanya sekedar tempat berlindung. Di sana, mereka bermain, bercanda, bertukar pikiran, dan melakukan segalanya layaknya seperti satu keluarga. Tentu saja, mereka juga memiliki “Ayah” dan “Ibu” di “rumah” tersebut. Ya, mereka menyebut tempat ini adalah “rumah” mereka. Mereka sudah menganggap mereka semua adalah keluarga, dan selayaknya keluarga harus saling membangun dan memiliki koneksi batin satu dengan yang lain. Ya, tentu saja kontak batin ini sudah terjadi diantara mereka.

Mungkin kalian sedikit bingung mengapa aku sejak tadi banyak menyebut kata rumah. Tujuanku adalah untuk menyadarkan beberapa orang yang mungkin sudah melupakan “rumah”nya, atau mungkin lebih parah lagi tidak mau mengingat rumah dan “rumah”nya, malahan menemukan “rumah” lain yang menurutnya menyenangkan, tapi pada akhirnya “rumah” itu akan menjerumuskan dan menghancurkan dirnya. “Rumah” adalah karakter kita, our character shows our home, vice versa. Kita juga lah yang menentukan bagaimana “rumah” kita.

Sri Wahyaningsih hanyalah seorang ibu rumah tangga. Tapi, beliau bersama suaminya, tergerak hatinya untuk memberi pendidikan kepada generasi muda, terutama bagi mereka yang mungkin “bermasalah”. Mereka juga tidak melupakan unsur-unsur penanaman nilai-nilai moral kepada generasi muda. Kearifan local atau nilai-nilai kebudayaan tradisional juga tak luput dari perhatiannya. Mereka, terutama bu Wahya, prihatin dengan kondisi pada saatu itu. Melalu komunitas nya, bu Wahya membantu “memperbaiki” generas-generasi muda, dimulai dari anak-anak, dengan menanamkan berbagai nilai dan moral yang positif serta ilmu-ilmu yang mereka perlukan. Juga teknik yang dipakai sedikit berbeda dengan hal yang umum dipakai. Mau tau lebih lanjut? Simak tulisan dibawah ini

 

Waktu itu, sekitar tahun 1988, Ibu Wahya dan suaminya masih tinggal di Desa Lawen, sebuah desa di Banjarnegara. Desa itu terletak di daerah pegunungan. Tentu saja tempat itu berada di tempat yang cukup tinggi, dan dingin. Tempat itu, ya bisa dibilang cukup jauh dari kota. Alam sekitar desa itu juga masih terjaga, masih sangat alami.

Ibu Wahya sering berinteraksi dengan anak-anak sampai remaja di Desa Lawen. Banyak sekali terjadi masalah disini. Mulai dari anak-anak putus sekolah sampai pernikahan dini membuat hatiku tergerak untuk melakukan sesuatu. Akhirnya, atas persetujuan suaminya, Ibu Wahya berinisiatif mendirikan seperti komunitas kecil. Awalnya, kegiatan mereka berawal dari sebuah kelompok belajar (sekolah sore) dengan kegiatan pertukangan, perkebunan, peternakan, dan sebagainya. Pada awalnya kelompok ini belum punya nama

C:\Users\Abraham Pasaribu\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\P_20150321_154359.jpgSeiring berjalannya waktu, anak-anak di kelompok belajar tersebut merasa harus mempunyai nama untuk kelompok itu. Nama pertama yang dicetuskan mereka adalah Anak Alam. Alasannya karena mereka memang anak alam, tinggal di daerah gunung yang masih terjaga alamnya, juga sering berinteraksi dengan alam tersebut. Ibu Wahya pun mencetuskan tambahan kata Sanggar di depan. Mereka setuju, sangat setuju. Sanggar, yang berarti rumah, akan menjadi nama komunitas ini. Sanggar Anak Alam, kedengarannya bagus. Ibu Wahya memilih istilah sanggar karena Ibu Wahya ingin komunitas ini bermanfaat sebagai “rumah” bagi mereka, juga bagi anak-anak lain. Yep, home, tujuannya membentuk komunitas ini, agar nantinya bermanfaat bagi mereka. Untuk pertama kali nya lahirlah Sanggar Anak Alam, pada 17 Oktober 1988, di Desa Lawen, Banjarnegara.

Beberapa tahun kemudian, keluarga Ibu Wahya pindah ke Yogyakarta. Mereka membeli tanah di daerah Nitiprayan, Bantul. Disana mereka membangun rumah mereka yang sederhana. Mereka tak peduli dengan ukuran rumah yang harus besar, yang penting bisa dijadikan tempat berlindung, dan terutama menjadi home untuk mereka. Rumah mereka berada di tengah persawahan. Sungguh tempat yang sangat enak untuk dijadikan rumah.

Tahun 1997, di daerah bu Wahya diadakan pemilihan ketua RT (Rukun Tetangga). Tentu saja, juga terjadi seperti diskriminasi gender dalam hal pemilihan ketua, karena biasanya yang terpilih adalah kaum pria. Wanita hanya sebagai pendukung. Tapi pada waktu itu yang terjadi berbeda. Warga sekitar malah memilihnya menjadi ketua RT. Ibu Wahya pun shock. Bukan, bukan merasa tidak mampu, tapi biasanya yang dipilih adalah kaum pria. Akhirnya, keputusan tetap bulat kalau warga memilihnya sebagai ketua RT. Ibu Wahya pun mengatakan kepada mereka, kalau biasanya pertemuan RT dihadiri oleh kepala keluarga (pria), kali ini Ibu Wahya mau kaum wanita nya (ibu-ibu) juga ikut hadir, malah justru harus lebih memberikan ide dan gagasan. Semua menyanggupi dan jadilah Ibu Wahya menjadi ketua RT.

Selang beberapa waktu, mereka pun sering mengadakan pertemuan. Banyak hal yang dibahas. Tapi pernah satu waktu mereka membahas tentang masalah-masalah anak-anak sampai remaja yang terjadi, khususnya daerah situ. Ya benar memang, banyak masalah remaja yang terjadi, tanpa terkecuali juga anak-anak. Ada waktu itu ketahuan remaja sedang nge-lem (menghirup aroma lem aibon/ lem sepatu yang menyengat sekali, tapi itu adiktif. Memang benda itu mengandung seperti zat yang membuat ketagihan dari aromanya). Mereka ketagihan dan malah jadi pecandu. Tak hanya itu, kasus pendidikan yang tidak cocok untuk anak-anak juga terjadi. Misalnya pendidikan untuk anak-anak sekolah dasar (SD). Katanya itu sekolah dasar, tapi hal yang diajarkan tidak cocok untuk dikatakan sebagai pendidikan dasar. Untuk apa anak-anak SD diajarkan tentang struktur pemerintahan Negara? Atau mungkin diperkenalkan dengan pasal-pasal? Bahkan mereka dipaksa mengingat nama-nama presiden yang pernah menjabat di Indonesia. Ada juga diajarkan pelajaran matematika tingkat tinggi untuk anak-anak seusia mereka. Ini tidak bisa disebut pendidikan dasar! Ya untuk apa mereka belajar seperti itu? Namanya juga dasar, mbok ya diajarke pendidikan dasar. Seharusnya diajarkan tentang nilai-nilai, norma, dan tentang apa saja yang bisa menjadi pondasi untuk mereka. Ini malahan diajarkan seperti itu. Edan!

Mereka pun berdiskusi dan melakukan rapat. Akhirnya mereka berencana mendirikan wadah untuk “anak-anak bermasalah´itu. Acara arisan yang mereka lakukan, mereka sepakati untuk diganti menangani masalah-masalah ini. Ibu Wahya pun mengusulkan mendirikan Sanggar Anak Alam yang dulu pernah berdiri di Banjarnegara. Ibu Wahya menceritakan pada mereka bagaimana dan untuk apa mendirikan komunitas itu. Mereka mendengar itu, langsung setuju, sangat setuju. Mereka sangat mendukung pendirian komunitas itu di daerah mereka. Untuk masalah biaya, mereka setuju untuk memberikan secara sukarela. Toh itu juga untuk kemajuan anak-anak di sekitar itu. Akhirnya, tahun 2000, komunitas itu berdiri di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Beberapa kendala sempat mereka pikirkan, seperti tempat dan biaya. Tapi hal itu dapat diatasi. Untuk tempat, secara sukarela Ibu Wahya memberikan tanah ku untuk dijadikan lokasi gedung untuk SALAM, kebetulan tanah ku disana cukup luas. Dan untuk biaya, mereka sepakat untuk memberi secara sukarela.

Sejak awal berdirinya Sanggar Anak Alam, mereka mendapat respon yang sangat baik dari daerah sekitar, bahkan dari luar daerah Nitiprayan juga. SALAM ini sendiri tidak eksklusif, tapi bebas untuk siapa saja yang mau bergabung dan menjadi anggota. Untuk pesertanya sendiri juga boleh dari mana saja. Keanggotaannya pun berasal dari forum orang tua yang anak nya menjadi peserta di SALAM, relawan, sukarelawan, mahasiswa, dan lain-lain. Untuk menjadi anggota, sama sekali tidak dipungut biaya. Sifatnya hanya sebagai sukarela. Pengajar disini pun tidak dipanggil guru, melainkan fasilitator. Pada awal pendirian komunitas ini, mereka lebih banyak membantu menangani masalah-masalah remaja yang tadi sudah disebutkan.

Selang empat tahun kemudian, mereka merasa pendirikan sebuah wadah pendidikan sangat dibutuhkan, mengingat tujuan mereka untuk menanamkan nilai-nilai dasar pada anak-anak. Akhirnya, tahun 2004, mereka mendirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Saat itu sedang marak isu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dimana banyak pebisnis yang memanfaatkan momentum tersebut, sehingga masyarakat pinggiran tidak dapat menjangkaunya. Termotivasi supaya orang-orang yang kurang mampu bisa menjangkau PAUD, akhirnya didirikan PAUD SALAM istilah Kelompok Bermain (KB) di rumah Ibu Wahya. Ibu Wahya pula yang mengajar dan kemudian mulai merekrut ibu-ibu di daerahnya.

D:\Sanggar Anak Alam\P_20150321_162536.jpgSejak berdirinya PAUD ini, pertemuan dengan orang tua semakin sering dilaksanakan, guna mendukung perkembangan anak-anak di SALAM. Dana untuk SALAM sendiri berasal dari keuangan Ibu Wahya dan suaminyasendiri, sumbangan dari donatur, relawan, dan untuk makanan atau snack biasanya dari para orang tua, dan makanan yang diminta juga harus makanan tradisional dan bebas dari MSG, sehingga anak-anak juga tetap mengenal makanan tradisional sekaligus terbebas dari bahaya MSG. Mereka bangga atas perkembangan komunitas ini.

Mungkin kita bertanya-tanya apakah komunitas ini berkembang sesuai dengan rencana mereka sebelumnya atau saat awal didirikan? Tidak, mereka berkembang bukan karena direncanakan, tapi atas kebutuhan mereka. Pendirian PAUD sendiri mereka kembangkan karena mereka merasa itu sudah dibutuhkan untuk mendukung tujuan mereka. Mereka tidak memiliki job desk atau semacamnya. Komunitas ini juga tidak mengenal strukturisasi, karena mereka mengembangkannya secara bersama-sama.

C:\Users\Abraham Pasaribu\Desktop\1418353032593614129.jpg Tahun 2006, SALAM mengalami perkembangan. Mereka melihat anak-anak PAUD sudah cukup usianya untuk mendapat pendidikan selanjutnya. Mereka merasa sudah dibutuhkan wadah untuk mendampingin anak-anak taman kanak-kanak (TK). Sehingga didirikanlah Taman Anak SALAM (TK) sebagai wadahnya. Pendidikan yang diberikan bukan hanya sekedar teori, melainkan bermain sambil belajar, serta tetap menanamkan nilai-nilai kebudayan dan nilai-nilai moral. Mereka menyebutnya sebagai Taman Anak SALAM. Metode mereka adalah anak-anak harus belajar langsung dan mempraktekkannya, bukan hanya karena diajarkan di kelas dan semacamnya. MENDENGAR, SAYA LUPA; MELIHAT, SAYA INGAT; MELAKUKA N, SAYA PAHAM; MENEMUKAN SENDIRI, SAYA KUASAI. Itulah metode mereka. Mereka pun punya slogan, yaitu Lokal, Sehat, Barokah. Dalam kesehariannya mereka menerapkan cinta kasih juga terhadap sesama, dan mengajarkan itu pada anak-anak. Toleransi dan Moral juga mereka terapkan dan ajarkan.

D:\Sanggar Anak Alam\P_20150321_162510.jpg Dua tahun kemudian, mereka mendirikan Sekolah Dasar SALAM. Tentunya ini juga karena kebutuhan. Anak-anak Taman Anak SALAM sudah seharusnya masuk SD. Tahun 2008, didirikan lah SD SALAM. Di SD ini, diajarkan hal-hal mendasar yang memang dibutuhkan sebagai pendidikan dasar, juga membantu anak-anak dalam menyelesaikan persoalan pelajaran dan sekolah dengan metode yang lebih mudah dan menyenangkan. Mereka juga memberikan pendidikan seperti layaknya pendidikan formal untuk SD. Matematika, IPA, dan lain-lain juga mereka ajarkan. Jangkauan mereka terhadap masyarakat juga semakin luas. SALAM semakin dikenal, baik masyarakat sekitar Jawa Tengah, DIY, maupun provinsi lain. Peserta dari provinsi lain juga ada yang ingin bergabung. Mereka sangat senang melihat perkembangan ini

SALAM semakin menunjukkan perkembangan. Kebutuhan untuk mendampingi anak-anak SMP juga meningkat. Pada tahun 2012, dibentuklah SMP SALAM. Bahkan, SMP SALAM ini juga mampu mengantarkan pesertanya untuk mengikuti Ujian Nasional (UN) dan mampu meneruskan pendidikannya ke SMA favorit. Jika memang dibutuhkan, salam mungkin juga akan membentuk SMA SALAM. Tapi untuk sampai saat ini, belum terlalu dibutuhkan, sehingga belum dibentuk. Kegiatan juga semakin banyak. Baru-baru ini, SALAM melaksanakan Pesta Panen bersama para peserta, orang tua, warga serta petani sekitar. Jangkauan masyarakat juga semakin luas. Banyak sukarelawan dan peserta yang ingin bergabung, baik antar pulau hingga dari luar negeri. Dulu ada orang Jepang dan Inggris yang pernah bergabung bersama SALAM. SALAM sendiri juga semakin banyak diundang sebagai pembicara untuk banyak kegiatan. Mahasiswa sekitar DIY dan Jateng, bahkan dari Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera juga semakin banyak ingin bergabung.

Mereka (SALAM) sudah sering diundang ke luar kota untuk berbicara mengenai SALAM, mengenai metode mereka, tujuan mereka, motivasi mereka, banyak lah. SALAM tidak memiliki penghargaan atau semacamnya, tapi Ibu Wahya banyak mendapat penghargaan atas keberhasilan SALAM, tentu saja ini mewakili SALAM dan bukan hanya untuk pribadi. Ibu Wahya adalah SALAM. SALAM juga sering diundang untuk seminar atau menjadi pembicara dengan diwakili oleh bu Wahya. SALAM juga bekerja sama dengan komunitas lain, misalnya komunitas VW Combi, dalam hal transportasi, dan komunitas lain bekerja sama sesuai dengan bidangnya. Tetapi komunitas ini tidak ada kerjasama dengan pemerintah.

D:\Sanggar Anak Alam\P_20150321_162839.jpg Oh ya, SALAM sendiri tidak mengenal divisi. Semua dikelola secara bersama-sama. Tetapi salam mempunyai Kerabat SALAM dan PKBM yang membantu mem-back up, juga dibantu oleh Forum Orang Tua. PKBM mengurusi bagian pendidikan di SALAM. Sekolah Sanggar Anak Alam dalam jalinannya dengan Dinas Pendidikan Non Formal Kabupaten Bantul terdaftar sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Unit kegiatan PKBM ini dibagi sesuai dengan tahap usia, yaitu Taman Bermain (usia 2-4 tahun) / PAUD, Taman Anak (usia 4-6 tahun), Sekolah Dasar (usia 6 tahun ke atas) / Program Paket A dan Sekolah Menengah Pertama / Program Paket B. Sementara Kerabat SALAM merupakan ruang bagi siapa saja yang ingin bergabung dalam Komunitas SALAM untuk membangun gerakan (movement) pentingnya pendidikan dasar untuk perubahan yang lebih baik. Tugasnya adalah mengurusi volunteer (relawan): menjadi fasilitator anak-anak maupun masyarakat di sekitar SALAM, menjadi donatur untuk: beasiswa anak-anak yang tidak mampu, pengembangan sarana belajar, kesejahteraan guru, mengembangkan usaha-usaha ekonomi produktif sebagai alternatif sumber pendanaan SALAM, menyelenggarakan workshop serta proses-proses pendidikan untuk internal maupun umum, terkait dengan pilihan issue SALAM: pangan, kesehatan, energi dan seni budaya serta membangun Jaringan (networking) untuk distribusi produk-produk organik Kerabat Salam. Forum Orang Tua merupakan sarana komunikasi antar orang tua, guru dan penyelenggara SALAM untuk memperoleh pemahaman bersama tentang proses belajar yang dilakukan oleh anak-anak. Forum Orang Tua juga menjadi sarana tukar pengalaman masing-masing orang tua serta guru terkait dengan perkembangan anak serta keterlibatan orang tua dalam proses belajar mengajar baik di SALAM maupun di rumahnya masing-masing.

Mereka disini bekerja bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Sejak awal berdirinya SALAM ini (di Nitiprayan), kegiatan yang mereka lakukan/ sudah dilakukan pasti mengalami peningkatan. Banyak kok kegiatan yang mereka lakukan, seperti pesta panen, pekan budaya, dan lain-lain. Mereka juga tidak memiliki kantor khusus untuk SALAM. Untuk bertemu pengelolanya dapat dilakukan dirumah Bu Wahya. Hingga saat ini, SALAM punya tiga gedung untuk tempat belajar, yaitu gedung pertama dapat ditemui pertama kali saat masuk ke area SALAM, dipakai untuk SD dan SMP. Gedung kedua yaitu rumah bu Wahya yang kujadikan tempat belajar untuk PAUD dan TK, serta gedung ketiga ada di sebelah rumah Bu Wahya, terletak diantara kedua gedung itu, ditengah-tengah.

C:\Users\Abraham Pasaribu\Desktop\1418352686814947295.jpg SALAM (Sanggar Anak Alam) meyakini, bahwa untuk menyelenggarakan pendidikan tidaklah cukup hanya dilakukan di dalam ruang kelas antara guru dan anak. Maka diperlukan proses belajar yang melibatkan orang tua murid dan lingkungan setempat. Dengan demikian belajar juga merupakan gerakan untuk menemukan nilai-nilai serta pemahaman hidup yang lebih baik itulah hakekat dari “Sekolah Kehidupan”. Mereka (SALAM) meyakini, bahwa pendidikan dasar juga merupakan pondasi penting untuk meletakkan sistim berpikir dan sikap yang terbangun sejak anak-anak untuk memahami potensi dan probematika serta realitas kehidupan untuk bekal di masa mendatang. Mereka berupaya untuk menciptakan ruang bagi anak untuk leluasa melakukan eksperimen, eksplorasi dan mengekspresikan berbagai temuan pengetahuan dengan memanfaatkan lingkungan di sekitarnya sebagai media belajar.

Komunitas ini juga tidak terlalu mengalami hambatan selama komunitas ini berdiri sebab masyarakat dan instansi terkait, seperti Dinas Pendidikan, sangat mendukung kerja komunitas ini. Yang menjadi sedikit mengganjal adalah sekolah-sekolah yang didirikan komunitas ini tidak bisa mendapat predikat “Pendidikan Formal”, melainkan masih non-formal. Tapi hal ini tidak terlalu jadi masalah untuk mereka, sebab hal utama yang akan dicapai adalah kualitas pendidikan anak-anak yang seimbang.

SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang, Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari, Perpustakaan anak, Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM, Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak. Masyarakat juga semakin merasakan efek positif dari komunitas ini, sebab anak-anak ditanamkan juga nilai-nilai budaya tradisional dan nilai-nilai agrikultur sehingga mereka tetap tahu akan budaya mereka disamping pendidikan formal.

Bagaimana mereka belajar ?

SALAM tidak memakai kurikulum nasional dengan alasan bahwa kurikulum nasional tidak selalu cocok dengan anak-anak. Misalnya anak-anak diwajibkan menghafal, padahal materi hafalan tersebut tidak selalu ada hubungannya dengan anak-anak. Metode belajar yang digunakan SALAM antara lain:

a. Proses Belajar Mengajar

Biasanya untuk acara tertentu, misalnya workshop, semua anak dikumpulkan di satu ruang, biasanya setiap Jumat setelah Jumatan. Mereka membahas tentang apa saja yang terjadi terhadap mereka dan menjadikan itu pembelajaran. Belajar itu bisa kapan saja, di mana saja. Jadi walaupun mereka semua dicampur, hal tersebut tidak masalah.

C:\Users\Abraham Pasaribu\Desktop\1418352915212558747.jpgMetode pembelajaran yang lain adalah dengan merekam perkembangan anak, bukan menilai (tetapi melihat proses). Anak-anak dilatih bekerja sama, tanggung jawab, dan saling menghormati. Prinsipnya “belajar itu dekat dengan kehidupan”, sehingga peristiwa yang ada bisa menjadi bahan pembelajaran atau dengan memunculkan ide sendiri..

b.  Ketika ada konflik antar anak

Tidak langsung menghakimi, tetapi lebih dari hati ke hati dengan cara bertanya apa penyebab pertengkaran, alasannya apa, dll. “Anak-anak perlu dihargai”, artinya anak adalah subjek dan bukan hanya objek. Setelah anak-anak ngomong duluan, baru kita masuk untuk menengahi. Anak-anak dilatih untuk mempunyai etika.

Ruang sekolah mereka hanyalah bangunan sederhana, dan mereka duduk lesehan di atas karpet. Tidak ada yang memakai seragam dan kebanyakan hanya pakai sandal jepit. Hal itu merupakan langkah awal untuk menghargai keberagaman, agar mereka dapat melihat bahwa berbeda itu indah. Mereka mempunyai penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai. Anak-anak disana mempunyai moral yang baik, mereka sopan, kritis dan mudah bergaul tanpa membeda-bedakan.

D:\Sanggar Anak Alam\P_20150321_162651.jpgCinta kepada alam terlihat dari proses belajar langsung dengan alam merupakan bukti bahwa mereka mempunyai nilai penghargaan terhadap alam, belajar dari sesuatu yang nyata dan mereka temui sehari-hari. Karena mereka berada di lingkungan persawahan, maka mereka belajar mengolah tanah, membuat pupuk, menanam, merawat tanaman, panen, bahkan sampai ke pengolahan hasil panen yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan mereka.

C:\Users\Abraham Pasaribu\Desktop\14183674531905960038.jpg Penanaman nilai kesehatan, pangan serta  kerohanian, juga ditanamkan untuk anak-anak.  Mereka menyiapkan alat makan sendiri dan  mencucinya setelah dipakai. Mereka selalu  dibiasakan untuk berdoa terlebih dahulu. Mereka  membahas dan mempelajari apa yang mereka  makan. Mereka juga dilatih untuk selektif terhadap  makanan yang beredar di pasar, Mereka tidak  mengkonsumsi karena sadar akan bahaya yang  ditimbulkan, jadi bukan karena mereka dilarang.

Penanaman nilai pendidikan terlihat dari semangat  mereka untuk belajar. Mereka ada yang sibuk  membaca buku, ada yang menggambar, ada yang  belajar berhitung dan ada yang bermain musik. Mereka juga tidak segan bertanya ketika mereka melihat sesuatu yang tidak mereka ketahui. Mereka belajar tidak semuanya didalam ruangan, mereka ada yang membuat mainan dari tanah di luar ruangan, ada yang membaca buku di perpustakaan. Mereka diberi keleluasan untuk belajar dimanapun tempatnya, didalam ruangan maupun diluar ruangan. Sesuatu yang ada di sekitar mereka adalah pelajaran yang dapat diambil nilai positifnya. Semua tempat bisa dijadikan sekolah.

Pembelajaran di SALAM yang lebih dikembangkan adalah logikanya anak-anak bukan hanya hafalan. Mereka diajak untuk berpikir, kreatif, dan berani bertanya. Mereka langsung akrab dengan orang yang baru dikenal dan mereka juga mudah bergaul, dan juga tetap sopan.

Penanaman nilai seni dan budaya terlihat dari tersedianya alat musik tradisional seperti gamelan, rebana dan alat musik modern seperti gitar. Mereka yang menyukai musik diberikan kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakatnya, dilakukan sendiri secara otodidak.

Proses pembetukan moral serta penghargaan terhadap nilai kepada peserta didik serta fasilitator di SALAM dimulai dari kegiatan sehari-hari yang dihadapi mereka. Belajar melalui kearifan lokal menghantarkan anak-anak melihat kekayaan alam, keragaman budaya, dan hidup saling menghargai. Kekritisan mereka juga terasah dari pengalaman, mencermati yang ada di sekitarnya, dari interaksi dengan teman, fasilitator dan masyarakat, karena mereka belajar tidak hanya dalam kelas. Proses belajar yang bersahaja, dari sesuatu yang nyata, tanpa direkayasa, telah menghantarkan anak-anak memahami dan menemukan ilmu pengetahuannya sendiri. Anak-anak pun belajar mandiri, dalam berpikir dan mengambil keputusan. C:\Users\Abraham Pasaribu\Desktop\14183674231421274820.jpgC:\Users\Abraham Pasaribu\Desktop\14183529631204066917.jpg C:\Users\Abraham Pasaribu\Desktop\1418366350632007519.jpg

SALAM memang sebuah komunitas yang sangat baik. SALAM sangat peduli terhadap penanaman nilai-nilai, moral, kearifan lokal dalam pendidikan. Untuk ikut berpartisipasi juga tidak sulit. SALAM pasti akan bisa berkembang, dan sebaiknya juga bisa berekspansi ke luar daerah, terutama mungkin daerah-daerah terpencil dan kurang pendidikannya. Jadi, apakah kita akan ikut berpartisipasi? Seharusnya, YA!

D:\Sanggar Anak Alam\P_20150321_162532.jpg D:\Sanggar Anak Alam\P_20150321_162710.jpg

D:\Sanggar Anak Alam\P_20150321_162553.jpg

D:\Sanggar Anak Alam\P_20150321_162825.jpg

a

Untuk kalian yang ingin bergabung, bisa  datang dan menemui bu Wahya, dengan  alamatnya ada di Jl. Nitiprayan, RT 04,  Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Atau bisa  cari di Google Maps dengan keyword   Sanggar Anak Alam, maka akan langsung  ketemu seperti gambar di atas.  Jaraknya sekitar kurang lebih 4 Km dari  Titik Nol Km. Ayo segera bergabung dan  ikut ambil andil dalam mencerdaskan  kehidupan generasi muda.

Yang Muda, Berkarya.

Referensi

  • Wawancara dengan Ibu Sri Wahyaningsih (Pendiri Komunitas) pada tanggal 21 Maret 2015 di rumah Ibu Wahya (Juga dipakai sebagai tempat belajar anak-anak)
  • https://salamjogja.wordpress.com
abrampasaribu@gmail.com'

About abrampsrb