RUMAH BELAJAR KAGEM JOGJA

RUMAH BELAJAR KAGEM JOGJA

OLEH:

Wayan Pandri A. (145114009) & Christoporus Edy Palayukan (145114026)

Berbagi mungkin sudah sangat kerap terdengar ditelinga kita sebagai makhluk sosial dan berbagi telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Ditengah kesibukan yang telah kita jalani, kadang kita lupa untuk memberikan sebagaian dari apa yang kita miliki kepada sesama kita yang sangat membutuhkan. Memberi bisa menjadi komunikasi tanpa kata – kata yang dapat kita lakukan kepada sesama kita. Terlepas dari semua itu, ternyata masih ada orang – orang di sekitar kita yang tidak lupa akan pentingnya berbagi kepada sesama yang sangat membutuhkan.

Berbagi tidak harus membagikan uang atau harta yang kita punya, tapi kita bisa membagikan ilmu yang kita miliki kepada sesama. Inilah yang telah dilakukan oleh Rumah Belajar Kagem Jogja kepada adik – adik kurang mampu yang tinggal di sekitar Desa Sardonoharjo Jalan Kaliurang, Sleman, D.I. Yogyakarta.

Rumah Belajar Kreatif Kaki Gunung Merapi (KAGEM) Yogyakarta merupakan lembaga nonprofit yang bergerak diberbagai kegiatan: sosial, pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat. Lembaga ini dibangun dengan semangat berbagi kepada sesama anggota masyarakat terutama bagi mereka yang membutuhkan.Yayasan ini berdiri tanggal 19 Oktober 2011 dan baru diumumkan secara resmi kepada masyarakat luas pada tanggal 22 Januari 2012. Berbagai kegiatan dirancang sebagai rintisan untuk membangun lembaga yang lebih besar. Hal ini semata-mata ditujukan agar jangkauan sasaran kegiatan bisa semakin luas dan masyarakat bisa merasakan manfaat dari berbagai kegiatan tersebut. Dengan konsep berbagi ini, mereka mengajak berbagai pihak yang ingin terlibat baik langsung maupun tidak langsung untuk bersama-sama membantu masyarakat yang membutuhkan.

Rumah Belajar Kagem Jogja didirikan dan dibentuk oleh Ibu Ayi atau yang kerap disapa dengan sebutan “bunda”. “Awalnya Bunda tidak ada rencana untuk mendirikan Rumah Belajar Kagem Jogja ini.” sahut bunda kepada kami saat melakukan wawancara. Awalnya bunda bersama temannya hanya memberikan fasilitas taman baca dimana adik – adik boleh meminjam buku pelajaran yang telah disediakan oleh bunda secara gratis. Rumah Belajar Kagem Jogja akhirnya menjadi menjadi tempat berkumpulnya adik – adik di sekitar kompleks perumahan dari yang belum sekolah sampai yang sudah sekolah untuk bermain. Banyak adik – adik yang datang untuk bermain walaupun hanya sekedar bermain tempelan kulkas, mencorat – coret, dan mewarnai gambar. Melihat itu semua, akhirnya bunda mengarahkan kegiatan bermain tersebut menjadi kegiatan yang lebih bermanfaat. Adik – adik diberikan bacaan yang ringan seperti majalah ataupun komik – komik bergambar dan bagi adik – adik yang belum sekolah diberikan buku mewarnai. Seiring dengan berjalannya waktu, bunda telah banyak mendapatkan sumbangan buku dari rekan – rekan. Melihat banyaknya buku – buku yang terkumpul tetapi sedikitnya adik – adik yang membaca, bunda berinisiatif untuk mempromosikannya kepada anak – anak luar kompleks perumahan. Tidak jauh dari kompleks perumahan, ada Sekolah Dasar Negeri. Bunda mendatangi SDN tersebut dan langsung menanyakan kepada kepala sekolah SDN tersebut, apakah di SDN tersebut ada perpustakaan, dan ternyata SDN tersebut memiliki perpustakaan tetapi melihat kondosi buku – bukunyasudah banyak yang rusak akibat dimakan rayap dan bunda menawarkan tampat membaca kecil yang dimiliki bunda, mereka pun bersambut dan mengumumkan kepada siswa SDN tersebut bagi yang berminat membaca atau meminjam buku dipersilahkan datang ke tempat bacaan kecil yang dibuat bunda. Seiring dengan berjalannya waktu, animo adik – adik sangat luar biasa untuk belajar dan membaca, kemudian datanglah tawaran mengajar les tambahan untuk adik – adik kelas 6 SD sebagai persiapan untuk Ujian Nasional. Tawaran tersebut tidak langsung ditolak ataupun diterima oleh bunda, karena jika langsung diterima tentunya bunda harus belajar banyak untuk memberikan les kepada adik – adik kelas 6 SD tersebut, tetapi jika langsung ditolak bunda merasa bertentangan berat dengan hati nuraninya yaitu ingin membuat adik –adik itu menjadi lebih pintar. Adik – adik di SDN tersebut kebanyakan anak dari orang tua yang memiliki finansial menengah kebawah, karena orang tua mereka kebanyakan adalah sebagai buruh. Kemudian bunda menawarkan kepada teman – teman mahasiswa dan akhirnya dari situ diperolehlah 4 orang mahasiswa yaitu 2 mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia dan 2 mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada. Dari ke – 4 mahasiswa tersebut, mereka menyebarkan informasi kepada teman – teman mahasiswa yang lain dan bertambahlah menjadi 8 mahasiswa.Teman – teman mahasiswa ini kerap dipanggil sebagai punggawa.

Usia adik – adik yang ikut dalam kegiatan pengajaran di Rumah Belajar Kagem Jogja yakni antara 4 hingga 11 tahun membuat para punggawa berpikir untuk membuat metode pembelajaran yang tidak terlalu menegangkan. Metode pembelajaran yang digunakana oleh para punggawa adalah belajar sambil bermain. Dengan permainan yang mudah dan ringan serta tetap mengandung materi yang hendak disampaikan kepada adik – adik. Dengan metode yang seperti ini akan membuat para adik – adik yang ikut serta dalam kegiatan belajar ini tidak merasa bosan, takut, dan akan cepat memahami materi yang disampaikan karena juga dipraktekan secara langsung. Saat ini Kagem memberikan pendampingan belajar untuk sekitar 50 adik, dari TK sampai SD. Dengan bantuan punggawa yang terdiri dari mahasiswa UII, UIN, UGM, UST, UTY, UNY, UMY, AMIKOM, STTNAS, dan STIE YKPN. Kagem juga memberikan kesempatan bagi teman – teman mahasiswa untuk ikut serta berbagi ilmu dengan adik – adik Kagem juga menambah teman dan pengalaman yang bermanfaat.

Prestasi yang telah diraih oleh Rumah Belajar Kagem Jogja adalah meningkatnya nilai rapot oleh adik – adik yang mengikuti pendampingan belajar.

Selain memberi pendampingan belajar, Rumah Belajar Kagem Jogja juga memiliki divisi yang lainnya yaitu divisi media. Dimana divisi ini mengelola website www.kagemjogja.org dan mengembangkan media alternatif lainnya diantaranya media TV Komunitas yang didalamnya antara lain membuat video – video kegiatan kampung dan kegiatan lain yang mendukung kreatifitas anak dan sosial. Media TV Komunitas tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif informasi ditengah gencarnya media publik yang seringkali kurang mendidik dan tidak ramah pada anak-anak. Keterlibatan warga secara aktif dalam kegitan media komunitas memberikan potensi yang besar bagi perkembangan pengetahuan literasi media serta kemudahan akses informasi dan komunikasi antar warga.

Berikut ini adalah beberapa kegiatan Komuitas Rumah Belajar Kagem Jogja :

Bimbingan belajar yang diikuti oleh 50 adik – adik TK dan SD

Taman bacaan Lentera, yang sekaligus menjadi ruang baca dan diskusi adik – adik

Bimbel inspirasi, mengenalkan keratifitas bagi adik – adik

Jagongan Kagem, berdiskusi reguler antar punggawa Kagem, adik – adik muda dan narasumber sesuai tema diskusi.

Media komunitas, berupa TV Kagem, produksi video edukatif, menulis, layar tancap yang melibatkan warga desa.

Bank Sampah, selain untuk aksi kepedulian lingkungan hidup sekaligus menjadi sumber dana kegiatan Rumpel Kagem

Angklung, bermain sani musik dengan adik – adik dan punggawa Kagem

Kegiatan Sosial, penggalangan dan bagi warga yang sedang tertimpa bencana alam.

Adapun visi dan misi yang dimiliki oleh Rumah Belajar Kagem Jogja, yaitu :

Visi

Menjadi pusat sumber belajar berbasis komunitas yang dapat mendorong kreatifitas, kerukunan, dan kemandirian masyarakat.

Misi

Mengadakan kegiatan untuk pemberdayaan masyarakat dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan kesehatan.

Mendorong kesadaran baca bagi anak-anak dan  masyarakat, khususnya untuk lingkungan desa Sardonoharjo.

Mendorong pengembangan dan pengelolaan televisi komunitas sebagai media komunikasi  dan informasi dari, oleh dan untuk masyarakat.

shinoc.75@gmail.com'

About pandri7