Ring road Jogja

Siapa pun yang ke Jogja, tentu pernah ketemu dengan jalan yang bernama Ring Road, yaitu jalan lingkar yang mengitari kota Jogjakarta. Secara ekonomis, pembangunan Ring Road yang dimulai akhir tahun 1980-an itu mampu membuka kampung-kampung yang dulunya terisolasi dan menaikkan harga tanah di Jogja pada umumnya. Orang-orang kaya dari luar jogja pun tertarik untuk berburu tanah dan membuka berbagai usaha yang menjadikan kehidupan semakin meriuh.

Ring road jogja

Ring Road bukan hanya bangunan yang dapat dibaca dari perspektif semakin keterbukaan potensi, tetapi juga dari untung-rugi yang lain. Pertanyaan yang dapat dikemukakan antara lain mengapa Ring Road dibagi menjadi dua lajur setiap sisinya, yaitu lajur mobil di tengah dan lajur non mobil di pinggir? Secara mudah, jawabannya adalah agar lalu lintas dapat lancar. Maksudnya, kalau dibuat hanya satu lajur akan menjadikan lalu lintas tidak lancar. Dapat dibayangkan kalau hanya satu lajur, betapa ruwetnya lalu lintas di ring road, ketika sepeda, becak, andong, gerobak bakso, sepeda motor dan mobil berjalan bersama. Dari sudut pandang ini, pembuatan dua lajur adalah untuk menghilangkan atau paling tidak memperkecil potensi pembuat ketidaklancaran lalu lintas.

Permasalahan menjadi semakin menarik apabila dipertanyakan siapa yang diuntungkan oleh pembuatan ring road dengan dua lajur. Tidak dapat dipungkiri bahwa yang paling diuntungkan adalah mobil. Dengan dibuat dua jalur, mobil dapat berjalan lancar atau paling tidak menjadi lebih lancar. Apalagi kemudian dengan tegas diatur bahwa jalur tengah adalah khusus mobil, sehingga perjalanan tidak hanya lebih lancar, tetapi juga menjadi lebih nyaman. Sepeda motor, sepeda dan gerobak bakso dilarang menggunakannya.

Apakah kendaraan non mobil diuntungkan? Tentu diuntungkan, karena kecelakaan antara kendaraan non mobil dengan mobil dapat diperkecil, untuk tidak mengatakan dapat dihapuskan secara total. Alasan ini pula yang akhir-akhir ini digunakan gubernur DKI, Ahok, untuk melarang sepeda motor melewati jalan-jalan protokol di Jakarta. Pertimbangan yang sangat manusiawi dan meninggikan harkat martabat manusia.

Akan tetapi, jangan sekali-sekali ditanyakan tentang keuntungan kendaraan non mobil dari sudut kelancaran dan kenyamanan berkendaraan.  Ketika jumlah sepeda motor meledak, dI lajur pinggir pada pagi dan sore hari sungguh tidak mungkin untuk dikatakan lancar. Untuk menjalankan sepeda motor dengan kecepatan 40 km/jam saja tidak mungkin tanpa mengalami kecelakaan, apalagi sekencang yang melalui jalur tengah. Akan tetapi, ketidaklancaran itu dipandang bukan masalah yang besar, karena hampir semua pengguna lajur pinggir adalah manusia-manusia tangguh yang sudah biasa bangun pagi-pagi dan pulang sore hampir petang. Oleh karena itu, bagi mereka bangun lebih pagi dan pulang lebih malam bukanlah masalah yang perlu dipermasalahkan. Bagi mereka berlaku presensi menggunakan mesin sidik jari, sehingga ketepatan waktu merupakan harga mati. Akan tetapi, jangan sampai kejadian itu dialami oleh pengguna jalur tengah. Tanggungjawab pengguna jalur tengah jauh lebih besar dan harus berkejaran dengan waktu, sehingga kelancaran perjalanannya harus diprioritaskan. Tidak terbayangkan betapa kacaunya ekonomi Jogja apabila kelancaran jalan mereka kurang diperhatikan atau tidak diprioritaskan. Oleh karena itu, pemberian jalur yang menjamin kelancaran bagi mereka adalah sebuah keharusan.

Dari aspek kenyamanan, bagi pengendara jalur pinggir adalah kemustahilan. Selain bagi kendaraan yang hanya boleh melewatinya, jalur pinggir seringkali juga dilalui oleh mobil dengan berbagai alasan. Akibatnya, jalur kiri tidak hanya tidak nyaman, tetapi juga tidak aman. Kecelakaan seringkali terjadi, meski tidak fatal, karena laju kendaraan yang relatif lambat. Senggolan antar sepeda motor menjadi hal yang biasa terjadi, tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi menuntut untuk membongkar pemisah antara lajur pinggir dan tengah agar sama dengan jalan Jogja-Klaten.

About Sastro Sukamiskin