(revisi) Griya Siloam Pemulihan Tanpa Batas

Griya Siloam Yogyakarta Pemulihan Tanpa Batas

C:\Users\hp\Downloads\Documents\1.jpg

Penulisan feature ini tentang tugas Pendidikan Kewarganegaraan tentang Perlawanan Masyarakat terhadap Neo Kolonialisme dan Neo Imperialisme di Yogyakarta. Sebelum kami menceritakan apa yang kami tulis. Perkenalkan kelompok kami yaitu Dimas Pradipta Setya Adiaksa dan Chandra Oktora Rio S , kami dari prodi Teknik Elektro Universitas Sanata Dharma. Kami mendapatkan tugas untuk mewawancarai tentang komunitas ataupun sebuah lembaga yang berada di Yogyakarta. Dosen pembimbing kami yaitu Dr. Hieronymus Purwanta M.A. kami berkonsultasi dengan beliau tentang tugas yang akan dikerjakan serta mencari-cari komunitas yang ada di Yogyakarta. Kami mencari-cari komunitas di internet, akhirnya kami menemukan beberapa pilihan komunitas, setelah kami pertimbangkan dan kami cari tau tentang komunitas. Akhirnya kami memilih sebuah lembaga swadaya masyarakat sebuah wahana tentang pelayanan sosial yang peduli dengan masalah – masalah sosial khususnya masalah ketergantungan obat/ NAPZA. Lembaga swadaya masyarakat ini bernama Griya Siloam, memberikan pelayananan bersifat “ Holistic Intergrited”.

Griya Siloam merupakan sebuah lembaga yang bergerak dibidang sosial untuk membantu merehabilitasi para pengguna narkoba. Yang letaknya jauh dari pusat kota Yogyakarta dengan alamat di Jl. Godean-Tempel km.3 Klangkapan II RT.01/RW.05 Margoluwih, Seyegan, Sleman, Yogyakarta. Griya Siloam yang letaknya di kawasan pedesaan membuat tempat ini sangat tenang dan nyaman jauh dari kebisingan kota sehingga sangat cocok untuk pengobatan bagi para pecandu narkoba.

Griya Siloam didirikan dan dipimpin oleh seorang wanita hebat bernama Ibu Ester pada tahun 2000 dulunya hanya lembaga kecil. Didirikannya lembaga ini karena pada waktu itu Ibu Ester sangat prihatin dikarenakan banyak para perempuan yang hamil diluar nikah sehingga ibu Ester berpikiran untuk membuat sebuah lembaga yang membantu dan menanggulangi para perempuan yang hamil diluar nikah dan membina para perempuan-perempuan agar tidak ada yang melakukan hal yang sama dan mensosialisasikan tentang bahaya yang terjadi. Pertama kali mengawali pembinaan perempuan yang hamil diluar nikah ternyata dengan perkembangan dan perjalanan waktu membuat lembaga ini merambah kemana-mana dalam kasus penangnganan seperti pecandu narkoba, dual ( pecandu narkoba yang sudah terkena kejiwaanya ), abk ( anak berkebutuhan khusus) serta waria. Perkembangan zaman terus bergulir sehingga yang ada di lembaga ini membina banyak pecandu narkoba semakin terus bertambah. Sehingga pada tahun 2004 lembaga ini sudah berlandaskan hukum dan sudah terdaftar di pemerintahan. Lembaga ini sudah berpindah tempat 3 kali pertama berada di Pandega di Jln Kaliurang karena keterbatasan tempat yang akhirnya pindah yang kedua di Ambarketawang disana pada waktu gempa jogja bangunan rumahnya mengalami kerusakan parah sehingga memutuskan untuk pindah dan yang ketiga di Godean sampai sekarang.

Untuk saat ini yang di bina oleh rehabilitasi ini sebanyak 80 orang yang paling banyak yaitu pecandu narkoba , dual ( pecandu narkoba yang sudah terkena kejiwaanya ) serta abk. Pertama kali membina perempuan hamil diluar nikah, namun untuk saat ini hal itu sudah tidak dilakukan karena sudah jarang perempuan hamil diluar nikah datang ke tempat ini mereka biasanya sudah kembali pada orang tuanya, hanya lembagi ini mensosialisakan tentang bahaya hamil diluar nikah kepada remaja-remaja di sekolah-sekolah. Memberikan pengertian mendalam tentang kasus-kasus pergaulan bebas yang sangat mencemaskan pada saat ini. Sehingga sering melakukan sosialisasi dilingkungan sekolah-sekolah. Agar remaja-remaja saat ini bisa menjaga diri dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang dapat merusak masa depannya.

Lembaga ini dulunya juga membina para waria yang ada di Jogja. Namun, seiring berjalan nya waktu pertambahan waria di Jogja semakin banyak sehingga lembaga ini mengurangi pembinaan terhadap waria di karena keterbatasan para anggota yang membina dan membimbing para waria sehingga pembinaan terhadap waria sudah tidak dilakukan lagi. Tetapi pembinaan waria sudah dilimpahkan kepada lembaga-lembaga yang sama yang hanya menangngani kasus waria saja sedangkan di jogja sudah banyak lembaga atau pun komunitas yang menangngani waria serta dapat memberikan sosialisasi kepada para waria, pemerintahan pun juga ikut ambil bagian dalam penangnganan waria-waria seperti dinas sosial yang selalu memberi sosialisasi. Lembaga ini juga ikut membantu dalam sosialisasi tentang kasus- kasus waria , apabila diminta oleh lembaga lain atau pun oleh pemerintah.

Griya Siloam saat ini hanya membina para pecandu narkoba , dual ,dan abk. Pemahaman awal, tentang narkoba itu apa? Narkoba merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif . Narkoba adalah obat, bahan, zat dan bukan tergolong makanan. Jika diminum , dihisap, ditelan, atau disuntikan dapat mennyebabkan ketergantungan dan berpengaruh terhadap sistim kerja otak,demikian pula pada sistim dan fungsi vital organ tubuh lain. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman , baik sintetis maupun semisintetis yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran dan dapat menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri. Menurut undang undang narkotika dibagi menurut beberapa potensi ketergantungannya sebagai berikut :

Narkotika Golongan I : berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan, tidak digunakan dalam terapi. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja, Putaw(Heroin tidak murni berupa bubuk).Narkotika Golongan II : berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan, digunakan dalam terapi. Contoh : Morfin dan Petidin. Narkotika Golongan III : berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan, banyak digunakan dalam terapi. Contoh : Kodein.

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif dan susunan saraf pusat dan menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku pemakainya, yang dibagi menurut potensi yang menyebabkan ketergantungan pemakainya, sebagai berikut : Psikotropika golongan I : berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan pemakainya, tidak digunakan dalam terapi. Contoh : MDMA(Ekstasi), LSD, dan STP. Psikotropika golongan II : berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan pemakainya, digunakan amat terbatas dalam terapi. Contoh :Ampetamin, Metamfetamin, Ritalin. Psikotropika golongan III : berpotensi sedang menyebabkan ketergantungan pemakainya , digunakan dalam terapi. Contoh : Pentobarbital. Psikotropika golongan IV : berpotensi ringan atau pun tinggi menyebabkan ketergantungan pemakainya, sangat luas digunakan dalam terapi . Contoh : diazempam, klobazam, barbital, dan nitrazepam.

Kebanyakan para pecandu narkoba di lembaga ini yaitu para pengguna dan pemakai ganja, ekstasi , dan sabu-sabu. Mereka disini kebanyakan berasal dari kalangan orang-orang berada. Yang dititipkan oleh orang tua mereka. Untungnya mereka belom sampai terkena kasus pidana sehingga mereka cepat-cepat untuk dibawa ketempat rehabilitasi untuk penangnganan lebih lanjut. Para pecandu kebanyakan orang yang mengalami masalah dengan keluarga serta mereka salah dalam pergaulan terhadap lingkungan mereka bersosialisasi di masyarakat. Ditempat ini pembinaan sangat intens dilakukan agar mereka bisa hidup normal kembali seperti saat belom menggunakan narkoba. Pembinaan yang dilakukan meliputi bimbingan rohani, pendidikan, olahraga, perawatan medis, serta pembinaan untuk bersosialisasi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar, kegiatan yang membuat mereka bisa melupakan tentang narkoba. Di tempat ini mereka yang datang akan langsung di cek kesehatan serta akan langsung ditangani , dan akan dikelompokan sesuai dengan golongan masing-masing para pecandu. Lembaga ini tidak merehabilatasi menggunakan obat-obatan tetapi menggunakan terapi. Suatu ketika pernah ada seorang pecandu yang sangat sudah ketergantungan obat, dia sangat membutuhkan sekali obat saat dia mengalami kejang dan merasakan sakit luar biasa di anggota tubuh tertentu dikarena efek dari kecanduan obat-obatan terlarang. Sampai ketika dia benar-benar tidak sadarkan diri dan lepas kendali sehingga membuat dia menjadi tak terkontrol dan melakukan hal apa aja. Namun oleh para terapis di Griya siloam tidak memberikan obat-obatan dikarenakan akan membuat dia semakin ketergantungan sehingga para terapis hanya memberikan terapis-terapis untuk mengurangi rasa sakit yang ada dan melatih untuk menahan rasa sakit agar tidak terjadi ketergantungan. Sehingga para pemakai narkoba benar-benar bisa mengontrol dirinya sendiri dari obat-obatan meskipun dosisnya kecil sehingga dapat menahan rasa sakit. Para terapis serta Pembina di Griya siloam sangat sabar dan tekun untuk membantu mereka agar dapat sembuh. Para Pembina juga mengajarkan mereka bekerja untuk bertahan hidup, kelak mereka akan keluar dari tempat rehabiltasi ini. Tetapi semua itu tidak ada gunanya apabila keluarga mereka tidak mendukung untuk mereka sembuh dan mereka kembali kemasa lalu mereka, ketempat lingkungan mereka dulu memakai narkoba. Ada juga dari mereka yang dibuang oleh keluarganya karena rasa malu keluarga terhadap dia yang memakai narkoba. Keluarga tidak memperdulikan mereka lagi. Namun disini masih ada keluarga yaitu para Pembina dan aggota Griya Siloam yang senang hati menerima mereka dan membina mereka. Jadi keluarga sangat lah penting dalam proses penyembuhan.

Di Griya siloam juga ada mereka yang mengalami dual. Yang dimaksud dengan dual disini yaitu mereka yang kecanduan narkoba hingga tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, akhirnya sampai menyerang kejiwaan mereka. Sehingga mereka seperti kelihatan orang gangguan jiwa. Hal tersebut diakibat oleh pemakaian dosis yang sangat banyak. Sampai membuat rileks saraf-saraf tubuh. Dan akhirnya sampai mengalami gangguan jiwa. Ditempat ini pembinaan antara perehabilatasi dengan dual hampir sama namun mereka dipisahkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Yang membedakan dari segi terapis kejiwaannya hal ini disebabkan orang yang sampai kena dual harus dibina lebih agar mereka perlahan-lahan dapat kembali normal. Meskipun hal tersebut dapat kembali mengalami sakit seperti saat kecanduan narkoba.

Di lembaga ini mereka para pecandu diajarkan untuk bekerja agar kelak mereka saat keluar dari lembaga ini mereka dapat bekerja dan menyambung hidup mereka. Agar mereka tidak berketergantungan terhadap orang lain. Dengan dilatih usaha-usaha dan keterampilan seperti membatik , membuat kerajinan tangan serta dilatih usaha lain nya. Sesuai dengan keterampilan masing-masing. Lembaga ini tengah berhasil membimbing orang yang mengalami kecanduan sampai mereka benar-benar bersih, sehingga mereka keluar dari sini sudah bisa mengontrol dirinya, sehingga saat ada yang keluar langsung melanjutkan studi di perkuliahannya sehingga ada yang bekerja di pemerintahan, menjadi dosen disalah satu perguruan tinggi yang cukup besar. Bagi mereka yang telah berhasil mereka juga sering membantu lembaga seperti memberikan sumbangan dana untuk kelancaran dalam pembinaan para pecandu. Mereka tidak lupa akan keberhasilan lembaga ini dalam membina mereka.

Sedangkan untuk anak berkebutuhan khusus (abk) sangat berbeda dengan para pecandu narkoba dan dual. Anak berkebutuhan khusus (abk) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau pun fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, abk memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka. Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul dalam masa perkembangan. Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Mengajar anak berkebutuhan khusus bukan perkara mudah. Perlu ada pengetahuan dan keterampilan khusus untuk menangani mereka, di samping pentingnya kerja sama dengan orang tua sang anak. Namun, satu hal yang patut dimiliki pengajar untuk mampu membantu tumbuh kembang dan pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah dengan hati yang mengasihi. Anak berkebutuhan khusus memerlukan pengawasan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan anak. Sehingga didalam pembinaan anak berkebutuhan khusus sangatlah berbeda. Pengajar di lembaga ini pun memberikan pengajaran dan pelatihan untuk mereka yang mengalami keterbelakangan dengan berbagai macam latihan untuk melatih kemandirian serta keterampilan yang khusus.

Dari tahun ketahun perkembangan Griya Siloam sangat lah pesat sehingga dapat beberapa piagam kejuaraan serta sertifikat dari beberapa lembaga-lembaga atas keberhasilan Griya siloam terhadap narkoba. Dari segi pembiayaan untuk para pecandu dan abk berasal dari sistem silang. Yaitu dengan para oarng tua yang berkecukupan mendapat biaya lebih besar dan orang tua yang mengalami kekurangan biaya tidak dipungut biaya. Lembaga ini juga mendapatkan bantuan biaya dari pemerintah serta dari donator-donatur dan dari para alumni lembaga ini yang telah sukses. Dan dari Yayasan milik Griya Siloam.

Lembaga ini bekerja sama dengan dinas-dinas milik pemerintahan seperti Departemen Pendidikan, Departemen Agama, Departemen Kesehatan seperti Rumah Sakit dan Puskesmas, Departemen Sosial Republik Indonesia , Departemen Hukum dan Ham, serta dari BNN, dan dari gereja –gereja ada juga dari LSM-LSM yang membantu. Sehingga lembaga ini sangat berperan aktif dalam pemerintahan.

Disarankan bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) dan pecandu narkoba lebih proaktif dan dapat menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai pihak seperti sekolah, dokter, dan juga psikolog. Hal ini dilakukan agar semua pihak dapat membantu memantau perkembangan mental, sikap, dan karakter anak. Sehingga akan lebih mudah mereka cepat sembuh dan kembali sedia kala untuk para pecandu narkoba .

Griya Siloam, sebuah tempat untuk pecandu yang benar-benar harus dipulihkan dengan benar. Sebuah tempat dengan nuansa kekeluargaan dan saling mengasihi satu sama lain diajarkan untuk mengasihi meskipun mereka orang yang mengalami masalah hidup ,mereka membutuhkan orang-orang yang bekerja di dalam lembaga ini, untuk mereka bisa kembali normal. Mereka adalah orang yang perlu dirawat dengan kasih sayang, bukan orang yang harus dihukum di hotel prodeo dengan siksaan dan kehidupan yang keras. Dengan kasih sayang dan perhatian khusus pasti mereka akan sembuh, Dengan campur tangan Tuhan mereka akan kembali menjadi manusia normal dengan banyak impian di dalamnya.

dimas_pradipta@ymail.com'

About dimaspradipta