ILUSI NEGARA ISLAM – Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia (Pembacaan)

Paling tidak ada dua macam pembacaan terhadap buku ILUSI NEGARA ISLAM – Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia. Pertama adalah hasil pembacaan yang ditulis Tegoeh yang diterbitkan dengan kerjasama Antara Arrahmah.com Dan Risalah Mujahidin Edisi 29. Pembacaan ke dua adalah dilakukan oleh Kamil Nurshobah dan kawan-kawan dan dipublikasi dalam blog http://cerminsejarah.blogspot.com/2009/07/resensi-ilusi-negara-islam.html)

nii

Meski buku yang dibaca adalah sama, yaitu buku ILUSI NEGARA ISLAM, tetapi hasilnya sungguh jauh berbeda. Mengapa bisa demikian? Penyebabnya bukan pada isi buku yang dibaca, tetapi pada diri pembaca. Tujuan membaca adalah memahami. Akan tetapi, ternyata, usaha memahami tidak pertama-tama terhadap makna teks, tetapi memahami merupakan usaha sang pembaca untuk menemukembangkan potensi dirinya dalam rangka berkembang menjadi “diri yang diimpikan” (Heidegger, 1996: 135). Dengan kata lain, memahami teks bukanlah untuk menemukan makna mati yang terdapat di dalamnya, tetapi untuk menyibak berbagai kemungkinan ‘ke-ber-ada-an’ sang pembaca yang ditunjukkan oleh teks (Ricoeur: 2009: 78).

Pembaca bukanlah mesin yang dapat mentransfer makna teks seperti apa adanya, tetapi dia juga merupakan sein (being) atau pribadi yang memiliki kesadaran diri dan kepentingan. Meminjam istilah Schleiermacher dan Dilthey, pembaca memiliki konteks budaya dan konteks historis yang akan melahirkan pra pemahaman dan mempengaruhi pemaknaan yang dilakukannya terhadap teks. Menurut Heidegger (1996: 214), pra pemahaman mengandung tiga unsur, yaitu pengalaman awal (fore having), pandangan awal (fore sight), dan konsepsi awal (fore conception).

Ketergantungan makna pada interpreter tidak hanya karena masa kini dijadikan titik awal untuk menginterpretasikan teks yang dibaca, tetapi juga karena adanya kesadaran bahwa keberadaan masa kini dipengaruhi oleh masa lampau. Pada permasalahan ini, Gadamer (2006: 300) menggunakan istilah “history of effect” atau sejarah pengaruh.

We are not saying, then, that history of effect must be developed as a new independent discipline ancillary to the human sciences, but that we should learn to understand ourselves better and recognize that in all understanding, whether we are expressly aware of it or not, the efficacy of history is at work. When a naive faith in scientific method denies the existence of effective history, there can be an actual deformation of knowledge.

Mengakhiri pengantar terhadap dua pembacaan terhadap buku ILUSI NEGARA ISLAM, perbedaan keduanya perlu dilihat dengan jernih sebagai usaha para penulisnya untuk menjadi “insan terbaik” menurut gambaran diri masing-masing. Selamat menikmati.

komentar

sastrosukamiskin@yahoo.com'

About Mbah Sastro