Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia (Lajnatud Difa’i ‘Anistiqlali Indonesia)-2

Pada bagian akhir dari tulisan Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia (Lajnatud Difa’i ‘Anistiqlali Indonesia)-1, secara ringkas dituliskan bahwa berbagai jalan mereka tempuh, dari membagi brosur kepada para haji agar mereka berjuang di negara masing-masing sambil menjalankan apa yang dinamakan sebagai diplomasi revolusi. Agar lebih jelas gambaran kegiatan Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah, pada tulisan ini akan diuraikan kepengurusannya, agar kita tahu tokoh-tokoh yang menjadi motor penggerak.

Sebelum masuk ke hal-hal serius, ada kisah lucu yang mengundang senyum kita bersama sebagai generasi sekarang. Peristiwanya begini… Oleh karena para aktivis Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi di Indonesia, apalagi bagaimana persisnya isi teks proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta, maka mereka berusaha membayangkannya berdasar cerita kanan kiri yang sumber dan kebenarannya tidak jelas. Dari hasil imajinasi itu lahirlah sebuah buku untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI pertama (1946) yang berjudul Indonesia As-Sairah (Indonesia Ber-Revolusi). Tujuannya, selain untuk saling menyemagati diantara orang Indonesia yang tinggal di sana, juga untuk memberi gambaran kepada penduduk Timur Tengah tentang langkah hebat Indonesia dalam menentang kekuasaan Barat.

Dalam buku itu diceritakan

Pada 17 Agustus 1945, hari Proklamasi kemerdekaan Indonesia dan berdirinya Republik Indonesia, tentara Jepang yang bersenjata tank-tank dan sebagainya, telah mengepung Lapangan Gambir, lapangan terbesar di ibukota Indonesia, Jakarta, karena pemuda-pemuda Indonesia bersenjata ringan telah diperintahkan supaya berkumpul di lapangan tersebut dan menyerang tentara Jepang itu, sekiranya mereka berkeras melarang mengadakan rapat umum di sana. Yang terjadi ialah bahwa tentara Jepang melarang ribuan pemuda bersenjata itu memasuki lapangan, sehingga bagaikan singa lepas dari kandang, dengan pekik ‘Merdeka’ mereka menyerang tentara Jepang itu. Pertempuran berdarah berakhir dengan kemenangan bagi pemuda yang bersenjatakan keimanan membaja pada, tanah-airnya atas kekuatan Jepang yang telah lesu.

Maka terkumpullah ribuan pemuda bersenjata di Lapangan Gambir, lengkap dengan bendera-bendera berwarna merah putih. Pada saat yang menentukan dalam sejarah Indonesia ini di tengah lautan manusia yang bergelora kebangsaan itu, kelihatan sebuah mobil yang dijaga ketat oleh pemuda-permuda bersenjata, bahkan di atapnya kelihatan beberapa pemuda bersenjata mitrailleuse, menuju ke podium yang didirikan tergesa-gesa, di tengah-tengah pekik ‘Merdeka’ yang memecah langit, sebagai tanda kehormatan bagi orang-orang yang di dalamnya. Orang-orang itu tidak lain dari Ir. Sukarno dan Dr. Muhammad Hatta. Mereka disambut dengan pekik kebangsaan yang gemuruh dan dentuman senapan yang memecah telinga, sebagai penghormatan dan tanda kesediaan mereka untuk membela tanah-air. Sukarno yang terkenal ahli pidato utama di Indonesia tidak berpidato. Beliau hanya mengajukan dua pertanyaan: “Apa yang saudara-saudara kehendaki?” Pertanyaan itu dijawab mereka dengan suara serentak yang bagaikan petir: “Kemerdekaan”. “Apakah saudara-saudara bersedia mempertahankannya?” “Dengan darah dan nyawa kami”, jawaban mereka pula. Setelah mendengar jawaban mereka yang tegas tangkas itu, beliau berkata: “ATAS NAMA BANGSA INDONESIA, KAMI – SAYA DAN HATTA – MENGUMUMKAN KEMERDEKAAN INDONESIA”.

Imajinasi atau khayalan yang para aktivis buat di atas janganlah dibandingkan dengan kejadian sebenarnya. Akan tetapi dari cerita khayal mereka itu dapat dirasakan betapa besar kecintaan mereka terhadap tanah air dan tingginya kebanggaan mereka terhadap kemerdekaan Indonesia.

1. Kepengurusan

Pimpinan pusat yang berkedudukan di Kairo terdiri dari:

Ketua                                                  : Muhammad Zein Hassan
Wakil Ketua                                       : Abdid Jalil Hassan (Tan Sri, Malaysia)
Sekretaris Umum Urusan Timur   : Ahmad Hasyim Amak
Sekretaris Umum Urusan Barat    : Salahtiddin M. Nur
Bendahara                                          : M. Nur Asyik (M,.A.)
Anggota 1                                           : Ismail Banda (M.A.),
Anggota 2                                          : Fouad Fakhruddin (Dr.),
Anggota 3                                          : Abdulrahman ismail (M.A.) dan
Anggota 4                                          : Abdulgani Beg.
.

AAA Indo Timteng2

Kepengurusan Panitia cabang Saudi Arabia adalah sebagai berikut:

Ketua               : H.M. Jaafar Zaenuddin Ketua
Wakil Ketua    : Muhammad Taib Saman
Sekretaris I    : Kgs Nuri Encik
Sekretaris II  : Nurdin Hanafi Aceh
Komisaris       : Nurhasan Palembang dan Nawawi Khalid
Penasehat 1   : A. Hamid Arabi,
Penasehat 2   : Abd. Latif Sijanten,
Penasehat 3   : Junaidi Sumbawa,
Penasehat 4   : Mustafa Kemal Batubara dan
Penasehat 5   : Amir Hakim Padang.

Kepengurusan Panitia cabang Irak adalah:

Ketua               : Imron Rosyadi (S.H.)
Sekretaris       : M. Rasyid Bayuni
Bendahara      : Zaidan Abdul Samad
Pembantu 1    : Muhammad Syafi’i Abdulkarim(Prof.),
Pembantu 2    :Muhsin Ahmad (Malaya),
Pembantu 3    : Uthman Aib, dan
Pembantu 4    : Hasyim Abdullah.

PPKI arab

2. Program Kerja

Untuk mendukung dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Panitia menyusun Rencara Kerja sebagai berikut:

  1. menciptakan de facto kebebasan warga Indonesia di luar negeri dari ‘perwalian’ Belanda.
  2. mendapatkan pengakuan de facto dan de jure Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat,
  3. mendesak penarikan tentara Inggris – yang dibuntuti tentara Belanda – yang telah mulai mendarat di Indonesia pada bulan September 1945,
  4. menuntut pembubaran N.I.C.A. (Netherlands Indies Civil Administration) yang menjadi biang keladi ‘kekacauan’ di Indonesia, dan
  5. mengusahakan ikut-serta wakil Indonesia pada tiap-tiap pertemuan internasionaI yang menyangkut Indonesia.

komentar

 

About Sastro Sukamiskin