Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia (Lajnatud Difa’i ‘Anistiqlali Indonesia)-1

Perhimpunan Indonesia (PI) yang didirikan oleh mahasiswa Indonesia di negeri Belanda, selama ini secara eksklusif menjadi satu-satunya organisasi perjuangan kemerdekaan Indonesia di luar negeri, karena hanya PI lah yang secara panjang lebar ditulis pada buku Sejarah Nasional Indonesia dan buku-buku teks pelajaran sejarah di sekolah. Seakan pikiran anak-anak Indonesia ditutup dari kenyataan historis bahwa organisasi perjuangan juga berkembang di berbagai negara, termasuk di negara-negara yang memiliki ikatan emosional kuat, karena kesamaan agama diantara mayoritas masyarakat Indonesia, yaitu Timur Tengah.

Ikatan emosional yang berupa kesamaan agama menjadikan perjuangan mahasiswa Indonesia di Timur Tengah terlihat lebih dinamis. Tidak hanya Haji Miskin, Haji Piabang, dan Haji Sumanik yang terpanggil pulang ke tanah air untuk memimpin rakyatnya ketika gerakan Padri berkobar di Minangkabau, tetapi perjuangan juga dilakukan ketika Sarikat Islam berdiri di Solo pada awal abad XX.

Ketika rakyat Indonesia buat pertama kali menyusun satu partai politik dalam usaha membebaskan Indonesia dari penjajahan dengan nama Serikat Islam, Belanda mempergunakan seorang Arab dari Jati petamburan, Jakarta, guna menulis satu buku yang bertujuan melarang Ummat Islam memasuki partai itu dengan nama Kafful Awwam An Syarikatil Islam (Melarang Rakyat Umum memasuki Serikat Islam). Untuk menentang buku yang beracun itu, pada tahun 1912 seorang guru besar berasal dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat, bernama Syeikh Ahmad Khatib, yang oleh karena keahliannya dalam Agama Islam diangkat oleh Syarif Mekkah menjadi Imam dan Khatib MasjidiI Haram, menulis sebuah buku dengan judul Hassul ‘Awwam ‘Alad Dukhuli fi Syarikatil Islam (Menghasung Rakyat Umum Memasuki Serikat ‘Islam). (Hassan, M. Zein, 1980, 24)

Organisasi pergerakan kemerdekaan Indonesia pertama yang secara formal berkembang diantara masyarakat Indonesia di Timur Tengah adalah Al-Jamiyatul Khairiyatul Jawiyah (Perhimpunan Kebaktian Jawa) di bawah pimpinan (alm) Janan Thaib. Perhimpunan itu didirikan pada 14 September 1923 (26). Sebutan Jawa dalam nama organisasi itu sama sekali tidak dimaksudkan hanya khusus untuk orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa sekarang. ‘Jawa’ pada masa itu adalah sebutan untuk wilayah yang meliputi seluruh Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaya, Siam dan Pilipina. Meski dalam surat izin no. 323 tercatum bahwa hanya sebagai organisasi sosial, dalam prakteknya berbagai kegiatan politik sangat jelas mewarnai aktivitas Al-Jamiyatul Khairiyatul Jawiya.

Pada permulaan tiga puluhan lahir di Mesir organisasi yang semata-mata guna kegiatan politik dengan nama “Perhimpunan Indonesia Raya” di bawah pimpinan (Prof.) Abdulkahar Muzakkir. Sebenamya nama ‘Indonesia’ telah mulai dikenal di Timur Tengah pada pertengahan tahun dua puluhan, seperti terbukti dari nama “Madrasah Indonesia” yang didirikan Janan Thaib di Mekkah, sekembalinya dari melawat ke Eropa, dan, menetap di Tanah Suci itu. Adapun AI-Iamiyatul Khairiyatul Jawiya pada pertengahan tahun tiga-puluhan berganti nama menjadi Persatuan Pemuda Indonesia-Malaya yang disingkat Perpindom.

AAA Indo Timteng1

Ketika di tanah air diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, pergerakan mahasiswa di luar negeri memasuki babak baru. Proklamasi kemerdekaan itu disambut dengan gembira dan tidak dalam waktu lama di seluruh dunia telah terbentuk 25 Panitia (komite) yang terdiri dari mahasiswa, buruh kapal, dan ex-Digulis yang terpancar di seluruh dunia itu. Panitia-panitia yang lahir spontan dan simultan itu, bertugas menyokong Proklamasi, mempertahankannya dan mendesak negara-negara di dunia supaya mengakui R.I. Kerjasama antar-Panitia itu sedikit demi sedikit berjalan lancar, terutama dalam pertukaran bahan-bahan dan info-info yang sangat diperlukan; terutama sekali pada tahun-tahun  1945 dan 1946, sebelum didapat hubungan langsung dengan Indonesia. (61)

Tidak jauh berbeda dengan pergerakan mahasiswa di luar negeri, di Timur Tengah pun hiruk pikuk menyambut kemerdekaan pun terjadi.

Ketika kemerdekaan Indonesia diumumkan, alat-alat sensor Sekutu di Timur Tengah menutup erat supaya Proklamasi itu. tidak tersiar di daerah itu, karen a diperkirakannya akan mendapat sambutan hangat. Rakyat Arab yang selama perang itu menderita tekanan-tekanan berat , dari kekuasaan militer Sekutu, akan merasa lega sekiranya Sekutu mendapat tentangan baru. Maka sampai akhir Agustus 1945 berita Proklamasi itu belum diketahui umum di sana. Baru pada permulaan September, Mansur Abu Makarim membacanya dalam majallah Vrij Nederland dan segera menyampaikannya kepada kami. Tetapi penyebarluasannya terlambat dua hari, karena pimpinan B.P. yang baru masih ragu-ragu. Pertama disebabkan mereka tidak tahu bahwa M.A. Makarim adalah informan kami pada Kedutaan Belanda, dan kedua karena soal nama badan yang akan mengumumkannya. Karena Indonesia sudah merdeka; kami berpendapat nama “Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia” (Lajnatud Difa’i ‘Anistiqlali Indonesia) akan lebih tepat, sedang mereka mempertahankan nama “Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia” (Jam’iyatu Istiqlali Indonesia), dengan keringkasan P.K.I. (Hassan, M. Zein, 1980, 49)

AAA Indo Timteng2

Untuk mendukung kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya, berbagai jalan mereka tempuh, dari membagi brosur kepada para haji agar mereka berjuang di negara masing-masing sampai menjalankan apa yang dinamakan sebagai diplomasi revolusi.

 

sastrosukamiskin@yahoo.com'

About Mbah Sastro