Perkampungan Sosial Pingit

Hotman Naek Parulian (135314050) & Benediktus Vrengki Andesta Putra (135314055)

Pingit1

Perkampungan Sosial Pingit (PSP) atau yang biasa dikenal dengan nama kampung pingit adalah sebuah tempat dimana para gelandangan dan pengangguran ditampung dan biasanya diberi pekerjaan oleh frater-frater yang mengurus perkampungan pingit ini. Berdirinya kampung pingit kurang lebih 49 tahun yang lalu ini berawal dari pristiwa G30SPKI sehingga banyak para gelandangan masuk ke kota Yogyakarta. Pada masa itu banyak rakyat Indonesia menderita kelaparan akibat kemiskinan dan pengangguran karena tidak mendapat pekerjaan di desa akhirnya merantau ke kota Yogyakarta untuk mencari pekerjaan.

Perkampungan Sosial Pingit (PSP) adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang community development di daerah Pingit, Yogyakarta. Gerakan ini dirintis mulai tahun 1965, oleh Benhard Kieser, seorang frater Yesuit Kolese St. Ignatius, untuk memberi pelayanan sederhana bagi keluarga-keluarga tunawisma yang pada waktu krisis ekonomi berat pasca 1965 menjadi fenomena mencolok di Yogyakarta. Berkat bantuan Bapak Soebarjo, gerakan  sederhana ini mendapat sebidang tanah di tepi Sungai Winongo yang terus digunakan sebagai pusat kegiatan PSP sampai saat ini. Di tepi sungai Winango inilah berdiri empat bangunan sederhana dengan dinding bambu dan triplek yang digunakan untuk ruang kelas, ruang rapat, dan ruang serbaguna. Mulai tahun 1968, aktivitas sosial para frater Kolese St. Ignatius ini mendapat payung hukum oleh lembaga Yayasan Sosial Soegijapranata dari Komisi Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Semarang.

Pada awal mulanya PSP hanya dikhususkan untuk pendampingan orangtua atau yang lebih dikenal dengan divisi pengembangan masyarakat. Divisi Pengembangan Masyarakat dilakukan dengan pendampingan warga binaan. Warga binaan adalah keluarga tunawisma yang berasal dari jalan-jalan di sekitaran Yogyakarta. Divisi ini mengajari mereka tentang cara memanajemen keluarga melalui pengaturan ekonomi. Metode yang diterapkan adalah tabungan wajib. Seiring berjalannya waktu para orangtua tunawisma itu juga menginginkan pendampingan untuk anak-anak mereka. Maka dibentuklah divisi pendidikan anak. Menurut Frater Gorius Gores CMM divisi tersebut lebih fokus pada pendampingan belajar. Frater dibantu dua volunteer lainnya membuat satuan materi tentang latihan dan praktik kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan perkembangan motorik anak, seperti menempel, menjahit, dan menggunakan alat peraga

Awalnya, ketika PSP dirintis hanya ada 10 keluarga tunawisma yang menempati bangunan rumah sederhana. Program pendampingan bagi mereka dilaksanakan selama mereka tinggal di sana dalam jangka waktu dua tahun untuk mempersiapkan mereka kembali ke masyarakat. Seiring dengan berkembangnya waktu ternyata banyak warga di sekitar lahan tersebut yang ikut tinggal di lahan milik Bapak Soebarjo sehingga terbentuklah sebuah perkampungan yang disebut sebagai Perkampungan Sosial Pingit (PSP).

Pada saat ini aktivitas sosial ini lebih dikenal di Yogyakarta sebagai YSS, sampai pada tahun 2005, terjadi merger antara YSS dengan Yayasan Realino dan YSS kembali ke nama aslinya yaitu Perkampungan Sosial Pingit, dan pada saat ini Koordinator Komunitas Perkampungan Sosial Pingit adalah frater Thomas. Kampung pingit berada di Jalan Tentara Mataram, Gang Kapas, Yogyakarta dan berada di bawah Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS) Cabang Yogyakarta. Dulu disekitar perkampungan pingit ini adalah kuburan kecuali tempat gedung dimana rumah dan bangunan kampung pingit ini berdiri sampai sekarang.

Pingit memberi gambaran tentang suatu daerah di Yogyakarta. Pingit adalah nama daerah di pinggir kali Winongo. Pingit juga memberi gambaran tentang suatu perkampungan sosial yang sudah berumur cukup tua yang digunakan oleh para frater Jesuit yang studi teologi dan tinggal di Kolsani untuk kegiatan ekstra kurikuler. Namun pingit sering dipahami oleh orang awam sebagai kata yang bermakna memaksa, mengurung, menekan seseorang. Orang yang dipingit adalah orang yang dikurung, tidak boleh keluar dalam jangka waktu tertentu untuk tujuan tertentu.

Biasanya, zaman dahulu, gadis jawa yang akan menikah, akah dipingit oleh orang tuanya sampai saat dia menikah dan meninggalkan keluarga untuk mengikuti suaminya. Mungkin kebanyakan orang jawa pada waktu itu berkulit hitam karena tersengat matahari hasil bekerja di sawah sehingga perlu dipingit dan diberi lulur agar tampil menarik pada saat pernikahan. Dengan kata lain, kegiatan dipingit adalah kegiatan dengan maksud agar orang yang melakukannya mendapatkan sesuatu, yaitu penampilan yang menarik saat menikah.

PSP hadir sebagai sebuah komunitas karya sosial yang dijiwai semangat magis Ignatian, dimana masing-masing anggota memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri seutuhnya sebagai manusia yang ikut bertanggungjawab dan terlibat untuk menemani dan melayani para keluarga tunawisma dalam proses resosialisasi secara khusus, dan para warga miskin perkotaan lainnya baik anak-anak maupun orang dewasa secara umum dalam semangat kasih persaudaraan. Misi PSP Terhadap warga dampingan, Membantu dan mendampingi warga binaan untuk terus mengusahakan kehidupan yang wajar secara mandiri. Wajar artinya memiliki tempat tinggal entah milik sendiri atau kontrak, memiliki surat pelengkap identitas diri, kesempatan kerja dan menyekolahkan anak-anak serta jaminan kesehatan.

Terhadap anak-anak, mendampingi dan membantu proses belajar dengan menjadi sahabat dan teman sepermainan bagi mereka dalam semangat kegembiraan dan pengakuan anak sebagai subyek pelayanan sehingga dapat membuka ruang ekspresi dan aktualisasi secara luas. Terhadap masyarakat pada umumnya, membangun kerjasama dan keterbukaan dengan siapa saja (baik pribadi maupun kelompok) yang berkehendak baik atau lebih kurang searah baik dengan mereka yang ingin membantu maupun mereka yang ingin minta bantuan. Terhadap organisasi, menciptakan iklim dan suasana kerja yang saling membangun dalam semangat team-work, jujur dan konsisten, hormat akan pribadi tanpa harus mengorbankan efisiensi dan profesionalitas.

Tak jarang juga para gelandangan dan pengangguran tidak mau beranjak dari kampung ini karena sudah betah , sehingga mereka lebih nyaman berada disini daripda dirumah mereka sendiri. Anak-anak dampingan tersebut ada yang orangtuanya menjadi pemulung, tukang becak, dan pengemis. Anak-anak binaan ini sebagian besar blatar-belakang belum pernah bersekolah. Jadi, ada yang tidak tahu ketika diceritakan tentang dunia binatang dan ada anak yang belum pernah melihat gajah(tutur Fr Yohanes Adreanto SJ, pendamping lainnya).

Dalam hal lain komunitas ini membantu para warga dan gelandangan untuk mengatasi masalah mereka dalam hal tempat tinggal dan kehidupan seperti masalah rumah tangga mereka saling terbuka dan membantu, membantu dalam hal mencarikan dan memberikan pekerjaan serta membantu untuk hidup menabung demi hidup kedepannya. kegiatan di kampung pingit ini diantara lain adalah diadakannya kegiatan belajar mengajar dan tenaga pengajarnya adalah frater, volounter, dan teman mahasiswa PPL dan KKN yang lain dimana semuanya berperan sebagai pengajar sementara kemudian akan digantikan oleh tenaga pengajar lainnya sampai batas waktu yang ditentukan oleh pihak yang berwenang di kampung pingit.

Kegiatan yang diadakan di kampung pingit ini sangat beragam selain kegiatan belajar mengajar mereka juga sering dimanjakan dengan kegiatan pijit akufuntur, rekoleksi, dan lain sebagainya. Lokasi tempat tinggal di pinggir kali seringkali diigambarkan sebagai lokasi  yang dekat dengan situasi kumuh, tidak terawat, kotor dan tidak menyenangkan untuk ditinggali.  Hal itu membuat volunter Kampung Pingit mengajak anak-anak dampingan untuk belajar merawat lingkungan di sekitar mereka. Imej bahwa pinggir kali adalah lingkungan yang jorok, kotor, kumuh hanya dapat dihilangkan dengan praktek nyata penghuninya mulai dari anak-anak.

Kecintaan pada lingkungan, khususnya pada tanaman mulai ditumbuhkan pada anak-anak dengan praktek merawat pohon yang dibagikan. Hal ini diusahakan agar kesadaran akan kecintaan pada lingkungan benar-benar tumbuh, bukan hanya suatu tindakan penanaman sekali jadi  yang tidak peduli dengan perawatannya. Divisi Pengembangan Masyarakat dilakukan dengan pendampingan warga binaan. Warga binaan adalah keluarg tunawisma yang berasal dari jalan-jalan di sekitar kota Yogyakarta, yang dijumpai ketika mengadakan hunting (mencari dan mengajak bicara para tunawisma untuk diajak tinggal di tempat penampungan PSP).

Secara umum, kegiatan PSP terdiri dari 2 divisi, yakni divisi anak dan divisi orang tua. Pada divisi anak dilakukan pendampingan belajar anak-anak di daerah Pingit, tepatnya mereka yang tinggal di bantaran sungai Winongo. Kegiatan pembelajaran di Perkampungan Sosial Pingit dilakukan setiap hari senin dan kamis jam 19.00 – 21.00 WIB(belum di hitung kegiatan diluar agenda seperti hari raya dan lainnya). Proses Pembelajaran dilakukan oleh para pengajar maupun pengurus Kampung Pingit adalah, briffing persiapan mamteri yang akan diajarkan dan bagi menjadi beberapa kegiatan yaitu AB ( aksi bersama), kelas TK , SD kecil (kelas 1-3 SD), SD besar ( kelas 4-6 SD), kelas khusus, dan kelas PR, Kegiatan pertama adalah aksi bersama (AB) yaitu bermain, bernyanyi bersama sebelum melakukan pembelajar, juga sebagai tanda berkumpul bagi pelajar yang ingin belajar dan dimulainya pembelajaran. Pembagian kelas disesuakan dengan beberapa taraf kemampuan, tingkat pendidikan, dan umur siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.

Pada hari Sabtu sore pada pukul 16.00 – 18.00 ada pendampingan ketrampilan untuk anak-anak. Sedangkan pada Divisi Orangtua dilakukan pendampingan terhadap para keluarga tunawisma yang berasal dari jalan-jalan di sekitar kota Yogyakarta, yang dijumpai ketika mengadakan hunting (mencari dan mengajak bicara para tunawisma untuk diajak tinggal di tempat penampungan PSP). Mereka ditampung dan didampingi selama kurang lebih dua tahun dengan harapan agar setelah keluar dari PSP mereka dapat hidup “normal” di masyarakat (tidak lagi berada di jalanan).

Perkembangan yang sangat significan adalah dilihat dari pengontrolan PSP, sehingga PSP menjadi lembaga atau sebuah kampung yang diminati oleh para gelandangan dan pengangguran untuk belajar keterampilan agar hidup mereka bisa lebih baik dan tidak menjadi gelandangan serta pengangguran lagi. Mereka ditampung dan didampingi selama kurang lebih dua tahun dengan harapan agar setelah keluar dari Kampung Pingit, mereka dapat hidup “normal” di masyarakat (tidak lagi berada di jalanan).  Secara khusus mereka belajar mengenai manajemen keluarga. PSP menjadi semakin luas areanya karena banyak bangunan baru yang dibangun untuk menunjang gerakan dalam memberi pelayanan kepada sesama yang membutuhkan. Banyak anak-anak yang belajar di PSP menoreh prestasi di Sekolah bagi yang bersekolah di tempat formal dan biasanya anak-anak ini adalah anak-anak yang rumahnya disekitar PSP.

Dan untuk anak-anak pemulung, gelandangan, serta anak-anak tukang becak yang belajar di PSP mereka juga tidak kalah hebatnya dengan anak-anak yang bersekolah di tempat formal mereka juga mahir dalam berhitung, menulis, membaca, dan membuat keterampilan tangan. PSP juga dilirik oleh turis asing karena pengembangan sosial dan peduli sesamanya sangat kuat, apalagi PSP sering dikunjungi sebagai salah satu ikon Yogyakarta dimana pergerakan dalam bidang sosial sangat tinggi dan tidak jarang para turis ini memberi sumbangan sukarela untuk membantu meskipun tidak seberapa namun, uluran dari siapapun dan sebanyak apapun itu tetap bermanfaat bagi mereka. Di Pingit ini juga tidak hanya tempat saja yang disediakan tapi juga pendidikan selama 2 tahun dimana para warga dampingan diminta untuk belajar menabung agar dapat mengontrak rumah dan biaya yang dipungut adalah Rp. 1.000/pertemuan.

Para pengajar dituntut dapat memberi manfaat yang baik bagi penghuni Kampung Pingit ini dimana saat bertugas dan mengajar di kampung ini mereka harus menciptakan sesuatu yang baik misalnya anak atau siswa yang mereka didik bisa membaca, berhitung dan tambah mengetahui materi pelajaran seerti murid-murid pada umumnya yag bersekolah di tingkat pendidikan formal. Tidak dapat dipungkiri bahwa berdirinya perkampungan pingt ini banyak menuai masalah, dan sampai sekarang di 49 tahun berdirinya Kampung Pingit ini untuk permasalahan para gelandangan sampai saat ini belum bisa teratasi. Oleh karena itu lah komunitas PSP tetap ada sampai sekarang. Banyak gelandangan dan orang terlantar yang tidak mempunyai tempat tinggal serta pekerjaan datang ke kampung pingit dan hampir semua gelandangan yang tahu tentang daerah penampungan ini datang untuk mencari tempat di kampung pingit.

Dari hal itu sempat muncul kabar yang menganggap negatif Kampung Pingit, namun isu ini tidaklah kuat karena lebih banyak orang yang menganggap baik perkampungan pingit serta kegiatan dan komunitasnya dari pada isu yang tersebar itu. Volunternya sendiri kadang yang datang bisa sangat banyak dan bisa juga sedikit karena oraganisasi yang bersifat cair tersebut. Dalam hal tempat dan operasional komunitas dan tempat dari Kampung Pingit ini legal karena memiliki izin operational, mempunyai akte pendirian, ada perlindungan dari departemen hukum dan HAM (hak asasi manusia).

Prestasi yang didapat baik murid maupun dari komunitas sendiri ataupun koordinatornya tidak menargetkan prestasi dan tidak memikirkan prestasi, karena hal itu adalah konsep yang tidak benar menurut komunitas, dan karena komunitas ini bukan mementingkan nilai atau prestasi melainkan terhadap rasa peduli terhadap orang lain dan tentang bagaimana seorang anak bisa menghargai dirinya dan bisa berbuat baik terhadap orang lain, ataupun bisa berlaku adil serta memikirkan cara hidup yang benar dalam rasa peduli ligkungan dan rasa bersyukur untuk apa yang telah mereka dapat dari semua yang mereka ketahui di perkampungan pingit ini. Namun, jika ada anak yang memang berprestasi itu dianggap bonus yang patut di syukuri, karena yang di pentingkan disini adalah pendidikan karakter seorang anak untuk kedepannya agar lebih baik sehingga menjadi bekal yang menuntun hidup pribadi masing-masing.

Kesediaan Fasilitas dan segala sesuatu yang mendukung pembelajaran adalah dukungan dan pemberian dari volunter dan dari pengajar yang mempunyai bahan sudah tak terpakai atau tak jarang juga mereka menggunakan dana pribadi , ada volunter yang membantu secara tenaga untuk mendidik dan ada juga membantu secara fasilitas yaitu membantu penyedia alat belajar dan lain sebagainya. Volunter ini membantu secara murah hati dan iklas, dan apapun yang volunter ini lakukan dapat membantu dan bisa diterima dengan baik dalam tenaga maupun menyedia fasilitas pembelajaran tanpa ada paksaan dan hal sebagainya.

Struktur organisasi dalam kampung pingit bersifat cair dan sementara atau tidak terlalu kaku dimana bisa roling atau bertukar posisi dalam tugas, alasan yang pertama dari sisi penempatan frater-frater yang bertugas paling lama tinggal di Kampung Pingit adalah 2 tahun, oleh karena karena itu akan berganti sesuai kondisi, karena disini tidak ada ikatan khusus yang mengikat frater dan volunter yang bertugas disini dan hanya kehendak dari hati nurani sendiri. Sasaran yang dituju Komunitas Kampung Pingit ini pada dasarnya untuk menampung para gelandangan dan telah di cetuskan sebelumnya bahwa ide untuk membuka jam permbelajaran hari senin dan kamis itu adalah untuk membantu para gelandangan tersebut sehingga bisa membaca menulis dan memberikan upah minimal selama 2 tahun berada di Kampung Pingit ini.

Namun, berhubung keberadaan Kampung Pingit ditengah kampung para masyarakat mempersilahkan untuk warga disekitar daerah Kampung Pingit untuk ikut belajar bersama. Dalam pembelajaran di Kampung Pingit ini tidak ada batasan umur jika ada yang ingin belajar bersama akan diterima dengan senang hati baik dari siswa sekitar kampung yang belajar di sekolah formal atau yang tidak bersekolah. Biasanya siswa yang datang dari sekitar perkampungan dari sekolah formal, mereka datang untuk meminta pengajar mengajarkan mereka cara mengerjakan PR dengan buku panduan yang mereka bawa sendiri dan mendalami pelajaran yang belum mereka mengerti.

Disusun oleh:

Hotman Naek Parulian                       (135314050)

Benediktus Vrengki Andesta Putra  (135314055)

myhotman69@yahoo.com'

About hotman

Jomblo ma aku :)