Perang Dingin

Tidak ada perang di memori kita yang berkecamuk begitu lama dan intens seperti Perang Dingin. Perang ini menyebar ke seluruh belahan barat dan timur, mengekspresikan dirinya sebagai perang propaganda dan permusuhan ideologis yang begitu panjang, bahkan mendorong dunia ke ambang bencana nuklir. Pada saat yang sama, tidak ada juga perang yang begitu beragam, berbahaya dan luas cakupannya seperti Perang Dingin. Perang ini tidak hanya melampaui batas-batas geografis, tetapi juga batas-batas ideologis dan ekonomi. Konflik yang kompleks dan berbelit-belit ini menunjukkan bahwa tidak ada konsensus pada saat Perang Dingin mulai, tentang mengapa dan bagaimana bentuknya, siapa yang menjadi penyebab utama, dan faktor-faktor apa yang paling bertanggung jawab atas muncul dan lamanya perang.

Yohana Octavia Bia (124314002)
Tugas Sejarah Indonesia Tematis
Pendekatan Deskriptif Naratif

Munculnya Dua Blok

Dunia seakan terbelah menjadi dua, yaitu Blok Barat yang dipelopori oleh Amerika Serikat dengan sekutunya dan Blok Timur yang dipelopori oleh Uni Soviet. Kedua blok inilah yang menjadi pokok utama permasalahan politik internasional pada akhir Perang Dunia Kedua. Pada mulanya kedua blok ini bersekutu dan menjalin hubungan yang sama dalam menghadapi Hitler (Jerman). Amerika Serikat pernah mengirim pasukan militernya ke Uni Soviet untuk melawan pasukan Jerman yang dikenal dengan Peristiwa Staliningrad. Kemunculan kedua blok ini diikuti dengan semakin tingginya intensitas persaingan untuk kepentingan kelompok masing-masing. Peristiwa dari persaingan antara keduanya inilah yang disebut Cold War.

Cold War atau Perang Dingin adalah perang dalam bentuk ketegangan sebagai manifestasi dari konflik-konflik kepentingan, dan supremasi, antara blok Barat dan blok Timur setelah Perang Dunia ke-2. Ciri-ciri perang dingin yaitu, manuver politik, diplomatic wrangling, psycological warfare, permusuhan ideologi, persaingan ekonomi, perlombaan persenjataan dan perang periferi. Titik awal perang dingin dimulai sejak pembagian Jerman menjadi dua wilayah, Jerman Barat dan Jerman Timur. Hal ini merupakan upaya pencapaian balance of power yang baru setelah perang berakhir, juga sovietisasi negara-negara Eropa Timur yang dihadapi oleh AS dengan politik pembendungan melalui jalan aliansi, yang menjadi awal perang dingin ini.

coldw

Peristiwa ini dimulai ketika Uni Soviet memblokade seluruh jalan masuk ke Berlin,sehingga menyebabkan semua suplai bahan makanan dan keperluan untuk penduduk Berlin dikirim melalui udara. AS menganggap bahwa Jerman adalah kunci bagi keamanan Eropa dan blokade Soviet atas Jerman merupakan lampu merah atau peringatan bagi ketidakstabilan Eropa. Dengan melihat perkembangan Jerman, AS sebagai negara yang maju, pelopor dunia bebas, dunia demokrasi, mengalami suatu permasalahan atau cobaan dengan jatuhnya satu-persatu negara Eropa Timur yang sebelumnya tidak diduga oleh AS, menjadi komunis. Selain itu, komunisasi juga terjadi di negara Eropa lainnya dan Asia. Misalnya, tahun 1946 di Yunani dan Turki, terjadi pemberontakan komunis. Di Cekoslowakia, Presiden Yan Masaryk tiba-tiba saja jatuh dari jendela hotel Praha. Kematiannya memberikan pengabsahan bagi komunis untuk mengambil alih kekuasaan. Di Eropa Timur Komunisasi berlangsung terus dengan mendapat dukungan dari Uni Soviet. Tahun 1948 di beberapa kawasan lainnya seperti Pasific Barat, Asia Tenggara, terjadi pula beberapa pemberontakan komunis seperti di Indonesia, Malaysia, Filiphina, dan Birma. Tahun 1949 RRC dengan pemerintahan Chiang Kai Sek yang Nasionalis menjadi pula ke tangan Komunis Mao Tze Tung. Di Timur Tengah ada pula gerakan Tudeh yang pro-Soviet.

Amerika Serikat menganut sistem pemerintahan demokrasi liberal atau parlementer dengan sistem multi partai, sistem ekonomi kapitalis atau sistem ekonomi berwawasan pasar, dan kehidupan sosial liberal dengan basis individualisme. Di pihak lain Uni Soviet menganut ideologi demokrasi sosialis komunis yaitu menganut sistem pemerintahan terpimpin atau dictator proletariat dengan sistem mono partai atau satu partai yakni partai buruh atau partai komunis, menganut sistem etatisme atau sistem ekonomi komando, dan kehidupan sosialnya lebih bersifat kolektif atau sama rata, sama rasa, dengan hak pribadi tidak diakui karena dikuasai oleh pemerintah.

Sekilas Tingkah Laku Dua Blok

Meluasnya pengaruh komunisme di Eropa menjadikan AS sebagai pelopor blok barat merasa terancam kepentingan globalnya. Oleh karena itu, AS bersama sekutunya kemudian menjalankan politik luar negeri yang dikenal sebagai politik pembendungan (containment policy).

• Pembangunan Ekonomi

Pembendungan ekonomi didasari keyakinan bahwa jika suatu wilayah keadaan ekonominya merosot, akan semakin bertambah suburnya komunis. Kemerosotan dalam bidang ekonomi pernah dialami bangsa Eropa setelah Perang Dunia Kedua. AS menanggulangi penetrasi komunis dengan cara mengadakan program bantuan pembangunan kembali ekonomi Eropa. AS sebagai pemimpin blok barat memberikan bantuan yang besar kepada negara Eropa melalui Program Marshall atau Marshall Plan. Program Marshall ternyata sangat membantu negara-negara Eropa Barat dalam membangun perekonomian mereka, yang sering disebut dengan European Recovery Program. Bantuan ekonomi AS tidak saja ditujukan kepada negara-negara Eropa tetapi juga kepada beberapa negara lainnya di Asia. Bantuan pembangunan ekonomi juga diberikan kepada Turki dan Yunani oleh AS yang dikenal dengan Doctrine Truman. Bantuan yang diberikan kepada kedua negara tersebut tidak hanya berupa bantuan keuangan tetapi juga militer dan penasihat militer. AS mengganggap jika bantuan yang diberikan kepada Yunani dan Turki terlambat, sudah pasti unsur komunisme sudah mulai menyebar di kedua negara tersebut. Doctrin Truman merupakan langkah yang diambil AS terhadap ancaman masuknya Uni Soviet.

• Aksi Militer

Munculnya NATO sebagai organisasi pakta pertahanan yang menitikberatkan pada perang fisik. NATO disiapkan untuk perang perang maka diperlukan peningkatan mutu militer dan mutu persenjataan yang menjadi prioritas utama. SEATO, Pakta ANZUS, Pakta Bagdad sebagai benteng untuk melawan kekuatan militer Uni Soviet beserta sekutunya.

• Perang Ideologi

Perang ideologi menjadi bentuk yang khas dari perang dingin ini. AS secara yakin bahwa The Free Nations memiliki ciri-ciri kepercayaan tentang adanya ide demokrasi, yang jika dibandingkan dengan Uni Soviet model demokrasinya berdasarkan pada sosialis Marx. Hal ini dipandang oleh AS tidak sesuai dengan aspirasi kebebasan dan kemerdekaan. Maka dari itu, AS meyakinkan semua negara untuk menjunjung tinggi aspirasi nasional demi kebebasan dan kemerdekaan, sebagaimana yang terkandung dalam ide demokrasi barat. Melihat uraian di atas, kedua negara tersebut yakni AS dan Uni Soviet adalah negara super power yang memiliki kedudukan khusus dalam permainan politik internasional. Meskipun keduanya saling bermusuhan, tetapi tindakan-tindakan yang ditujukan setelah Perang Dunia Kedua membuktikan bahwa keduanya mempunyai kapabilitas yang tinggi. Usaha-usaha mereka secara masing-masing dengan mempertahakan statusquo yang sudah ada dan berusaha memperluas wilayah pengaruhnya.

Dampak Perang Dingin terhadap negara-negara di dunia terpecah belah ke dalam dua blok, yaitu Blok Barat yang menerapkan Demokrasi Liberal dan Blok Timur yang menerapkan Demokrasi Komando atau Komunis. Namun, tidak semua negara mengikuti atau memilih salah satu dari kedua blok ini. Karena, adanya Gerakan Non Blok yang dipelopori oleh Indonesia, Fhilipina, Pakistan, Burma, Kamboja, India, Yogoslavia, dan Mesir yaitu kelompok negara yang tidak ikut memihak kepada salah satu blok yang bertikai. Negara-negara merdeka ini beberapa di antaranya bergabung dengan negara-negara di Afrika untuk membentuk blok ketiga atau kelompok non blok. Dampak lainnya berpengaruh pada negara-negara kecil yang melakukan perang terbuka sebagai akibat dari politik pecah belah oleh kedua negara adidaya, seperti Perang Korea (Korea Utara dan Korea Selatan), Perang Vietnam (Vietnam Utara dan Vietnam Selatan), Jerman (Jerman Barat dan Jerman Timur).

Berakhirnya Perang Dingin dan Dampaknya bagi Uni Soviet yaitu, situasi ekonomi bertambah buruk, stabilitas politik tidak stabil, kehidupan sosial masyarakat semakin memburuk, dan terjadinya konflik antar etnis dan gerakan separatism.

komentar

SUMBER:
Kamarga, Hansiswany dan Siboro, Julius. 2012. Isu-isu Kontoversial dalam Sejarah Barat. Jakarta: Bee Media Indonesia.

Purwasito, Andik. 1994. Strategi Global Super Power Dalam Era Perang Dingin Sebuah Pengantar. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

noveeyohana@yahoo.com'

About Yohana Octavia Bia