Peran Militer Dalam Gerakan Massa dan Pembunuhan Massal di Jawa – Bali

Wahyu Wirawan

Aku mendengar suara jerit hewan yang terluka. Ada orang memanah rembulan. Ada anak burung terjatuh dari sarangnya. Orang-orang harus dibangunkan. Kesaksian harus diberikan agar kehidupan bisa terjaga”. [3]

Abstract

Based on the public opinion, the mass killing was thought of as the right choice ever taken by the Soeharto government to protect its people from the communist ideology. It was triggered by the killing of seven generals by Indonesian Communist Party and its attempt to coup president Soekarno.

History has never been neutral. Some were written under government pressure. The history of Indonesian Communist Party is one of them, especially the one related with the mass slaughter of communists. History only tells that the communists made mistakes and that they must be punished.

However, new researches suggest that not all members of the Communist party were responsible, especially those residing in the rural areas. They simply did not know what happened in Jakarta, but they also took the blame. At that time, Indonesian military supplied weapons and completed its mission to organize people to execute the mass slaughter. It was a huge social movement of anticommunism ever occurred or recorded in Indonesian history.

A. Pendahuluan

History is what the ruler inscribes. Demikian kata yang tepat untuk menggambarkan perkembangan sejarah pada masa New Order berkuasa dan yang mencoba mempertahankan kekuasaannya dengan cara memanipulasi sejarah. “Where memory fails or is subverted, knowledge has to be cultivated[4]. Itulah landasan yang tepat dan harus kita kembangkan sebagai sejarawan.

Gerakan massa dan pembunuhan massal seperti yang dilakukan oleh Orde Baru terhadap orang-orang yang dianggap beraliran komunis atau yang dikomuniskan memang harus diungkap. Jangan sampai tragedi yang memilukan terjadi kembali.

Gerakan massa, penculikan, dan pembunuhan, sebenarnya juga terjadi juga di negara lain, misalnya; di Cina, Afrika Selatan, Amerika Latin dan negara-negara di Asia. Contoh konkretnya Tragedi Las Madres di Argentina”. . . mereka (ibu-ibu) di Plaza de Mayo, sebuah lapangan publik yang besar di Buenos Aires, dengan berbaris setiap minggu. . . sebagai protes terhadap anak-anak mereka yang telah dipenjarakan, disiksa, atau dibunuh oleh negara. ”[5] Tetapi bagaimanapun juga yang namanya pembunuhan tidak dapat dibenarkan, baik secara moral maupun hukum.

Pembunuhan serupa juga pernah dilakukan oleh Nazi yang dipimpin oleh Hitler terhadap kaum Yahudi – Leo Pold II di Congo – Pemerintah otoriter Mexico terhadap student protestors tahun 1968 – di El Savador 800 people killed – Rusia masa Stalin memberlakukan mass terror. Tetapi “tampaknya, hanya ada dua peristiwa dunia bisa berdiri sejajar bersanding bersama tragedi kemanusiaan 1965-1966, yaitu Hitler dengan seluruh urusan Nazi dan Pol Pot dengan seluruh urusan Komboja”. [6]

Di Indonesia, pembunuhan massal tahun 1965-1966 yang merupakan hasil dari gerakan sosial yang digerakan untuk mengutuk peristiwa pembunuhan terhadap para atase militer. Menurut Adrian Vickers yang dikutip oleh Grayson ”I argue that the New Order was an ostensibly capitalists but in fact Stalinist state. . . It was a product of Cold War anti-Communist hysteria”. [7] Secara ekonomi Indonesia memang berkiblat ke Amerika Serikat tetapi cara-cara menjaga keamanan dalam negerinya memang mirip dengan yang dilakukan oleh Stalin, dengan melakukan teror. [8]

Membeberkan fakta tentang gerakan massa dan pembunuhan massal tahun 1965-1966 bukan hal yang mudah karena belum banyak sejarawan Indonesia yang secara khusus menelitinya. Adapun yang sedikit itu antara lain: Iwan Gardono Sudjatmiko. Penelitian itu dibuat saat ia belajar di Universitas Harvard. Penelitiannya berjudul “The Destruction of the Indonesian Communist Party (a study comparative analysis of East Java and Bali) ”, tahun 1992. Ada juga penelitian yang dibuat oleh Hermawan Sulistyo saat belajar di Arizona State University. Penelitian itu berjudul “The Forgotten Years: The Indonesia’s Missing History of Mass Slaughter (Jombang-Kediri, 1965-1966) ”, tahun 1997.

Melihat fakta yang ada di lapangan memang sangat mencengangkan kita sebab ada korban yang tidak sedikit. Meminjam perkataan Soekarno“. . . Jenazah-jenazah dari Pemuda Rakyat, BTI, orang-orang PKI atau simpatisan PKI disembelih, dibunuh, kemudian mayatnya dibiarkan saja di pinggir jalan. . . ”. [9]

Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai peran militer dalam menggerakkan, dan gerakan massa sehingga pembunuhan massal di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali terjadi dan yang tak kalah pentingnya adalah dampak yang diterima oleh para tapol dan ekstapol.

B. Latar Belakang

Peristiwa terbunuhnya atase militer tanggal 30 September dinihari (1 Oktober) tahun 1965 telah membawa dampak yang sangat memilukan yaitu gerakan sosial yang berujung pada pembantaian massal tahun 1965-1966 yang sepertinya harus segera mendapatkan perhatian. Sebelum masuk lebih dalam ada baiknya kita lihat dahulu keadaan ekonomi, sosial dan politik yang melatar belakangi terjadinya peristiwa tersebut.

1. Keadaan ekonomi

Keadaan pada tahun 1965-1966 sangat buruk, inflasi tinggi dan barang-barang kebutuhan pokok sangat sulit dicari. Keadaan tersebut diperparah dengan meningkatnya inflasi sampai 134 persen dan gagalnya panen padi. “Diduga harga beras pada akhir tahun 1965 sedang naik 900 persen setiap tahun. Kurs pasar gelap untuk Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat jatuh dari Rp. 5. 100, 00 pada awal tahun 1965 awal tahun 1965 menjadi Rp. 17. 500, 00 pada kuartal ketiga tahun itu dan Rp. 50. 000, 00 pada kuartal keempat”. [10]

Ada yang aneh dari keadaan ekonomi. “Baik krisis ekonomi seperti yang terjadi pada periode sebelum tahun 1966, maupun perbaikan dan pertumbuhan ekonomi berpotensi menciptakan situasi dan fenomena konflik”. [11] Jadi apakah keadaan ekonomi itu baik atau buruk keduanya ada berpotensi konflik dan itu benar terjadi saat Soeharto jadi Bapak Pembangunan Nasional.

2. Keadaan sosial

Berlandaskan pada keadaan ekonomi yang begitu buruk seperti yang digambarkan oleh Ricklefs maka keadaan rakyat sudah dapat dipastikan sangat menderita. Keadaan yang serba kekurangan diperparah lagi dengan adanya berita akan diadakanya penangkapan-penangkapan oleh tentara terhadap anggota dan simpatisan PKI. Akhirnya berkembanglah stigmatisasi yang sangat merugikan dan dampaknya orang-orang yang tidak tahu kemudian jadi korban.

Rasa gamang menggelayut di benak rakyat. Akhirnya rasa saling curiga antar anggota masyarakat terjadi. Keadaan gamang segera pecah setelah tentara[12] datang dan melakukan provokasi agar segera melakukan gerakan massa anti PKI dan pembersihan terhadap anggota PKI dan simpatisannya.

Bukannya keadaan menjadi stabil tetapi kacau bahkan masalah land reform yang pernah dikampanyekan oleh PKI dijadikan dasar untuk membunuh tetangganya. Dendam pribadi juga masuk sekedar untuk membuktikan bahwa dirinya bukan PKI. Credo yang terbangun “Saya lebih baik membunuh daripada dibunuh”. Mental seperti ini tertanam dalam benak masyarakat yang ingin mempertahankan hidupnya, memilih jalan membunuh saudara-saudara setanahairnya yang dahulu berjuang bersama dalam mengusir penjajah.

Fakta bahwa ada banyak saudara-saudara dari etnis Tionghoa yang menjadi korban dari gerakan massa anti PKI. Karena diasosiasikan dengan Cina maka pasti mereka anggota Partai Komunis Indonesia.

Gejala ini tak jauh berbeda dengan orang-orang yang sebenarnya tak tahu menahu tetapi tetap ditangkap, dibunuh atau dibuang. ”Dalam kurun waktu itu juga muncul masalah ribuan tahanan[13] sehabis pembunuhan besar-besaran. Setelah G30S, tentara berpendapat sebaiknya menangkap sebanyak mungkin orang lebih baik. . . daripada sama sekali tidak, demikian kira-kira bunyi slogan mereka”. [14] Semua ini tak dapat dilepaskan dari stigmatisasi yang terus diperluas, hanya demi kelancaran proses pembersihan.

3. Keadaan politik

Keadaan politik lebih mengerikan, pembataian secara massal terus saja terjadi walaupun tentara telah pergi ke daerah lain. [15] Ini menandakan bahwa propaganda atau skema mereka berhasil dengan baik. “Di sini, tentara merupakan pendukung utama. Masyarakat merupakan unsur korban propangadis (sehingga mau bergerak bersama) Angkatan Darat yang secara nyata memiliki konflik dengan PKI. Di beberapa tempat memang terjadi konflik antara PKI dan kelompok lain di kalangan masyarakat”. [16]

Pembantaian penculikan yang terjadi di bebarapa daerah telah membuat keadaan politik semakin tidak stabil. Selain itu rakyat juga semakin terpecah-belah siapa yang akan mereka ikuti. Di satu sisi ada pengumuman bahwa PKI adalah dalang pembunuh dari atase militer. Di lain sisi Soekarno yang membaca akan adanya perang saudara enggan membubarkan PKI. Akhirnya yang datang pada merekalah yang mereka ikuti.

“Pada tanggal 23 Oktober 1965 berbagai partai politik yaitu NU, IPKI, Partai Katolik, Parkindo, PSII, Unsur-unsur PNI, serta organisasi massa anti komunis, seperti Muhmmadiyah, SOKSI, dan lain-lain membentuk dan bergabung menjadi Front Pancasila”. [17] Mahasiswa pun juga melakukan gerakan sosial, pawai anti PKI, melakukan pengrusakan. Mereka yang berkerja tak kalah aktif dan represif dalam pembersihan terhadap orang-orang komunis.

C. Peran Militer dalam Gerakan Massa dan Pembunuhan Massal

Perihal pembunuhan massal yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia seolah menjadi isu kelas dua. Ada jargon “itu kan rakyat jadi tak usah dipikirkan”. Tetapi bila yang terbunuh pejabat atau anak pejabat sontak negeri ini seolah kehilangan harta yang tak ternilai harganya. Akhirnya penelitian sejarah yang ada terbatas pada tokoh-tokoh besar atau orang penting saja. Celakanya lagi hanya satu versi yang diberlakukan oleh pemerintah yang berkuasa.

“Rezim Orde Baru hanya membernarkan satu versi mengenai peristiwa I Oktober 1965, sedangkan berbagai versi lainnya yang ditulis oleh pengamat Barat hampir tidak dikenal masyarakat luas. Pembantaian yang terjadi sesudah percobaan kudeta yang gagal itu hanya tinggal trauma. . . Penelitian tentang sejarah 1965 tertutup rapat bagi warga tanah air kita”. [18]

Sejak Suharto mendapatkan Surat Perintah Sebelas Maret, ia mulai melakukan tindakan-tindakan yang inkonstitusional. Tindakan melanggar hukum itu seperti dikeluarkannya Kepres No. 1/3/1966 pada tanggal 12 Maret 1966. Yang salah satu isinya pemberantasan PKI dan simpatisannya. Akibatnya terjadilah pembersihan (baca pembunuhan) yang frontal dan bengis di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Pembunuhan ini berpola dan terstruktur, pertama pembentukan organisasi massa, melakukan gerakan sosial anti PKI, dan akhirnya pembunuhan massal. “Pada bulan Oktober, pembunuhan terjadi di Jawa Tengah, selanjutnya pada bulan November merembet ke Jawa Timur, dan baru pada bulan Desember terjadi di Pulau Bali”. [19] Ada indikasi bahwa militer terlibat langsung dalam aksi pembersihan yang terjadi di berbagai daerah. “Justru pentingnya kedatangan RPKAD adalah bahwa orang-orang yang anti PKI merasa bahwa angin sudah berada di pihak mereka. Mereka yang mau netral dapat petunjuk dari RPKAD: untuk membuktikan bahwa kamu bukan orang PKI, maka kamu harus membunuh PKI”. [20] Benarlah apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes bahwa “manusia adalah serigala bagi sesamanya” (Homo homini lupus).

1. Pembersihan di Jawa Tengah

Setelah Suharto mengeluarkan Kepres, kemudian mulai para tentara (RPKAD) bergerak menuju daerah yang dianggap menjadi basis PKI. Pelaksanaan pembersihan dipimpin oleh Sarwo Edhi. “Pertengahan bulan Oktober Suharto mengutus Sarwo Edhi dan para komandannya ke Jawa Tengah untuk mengadakan operasi pembersihan”. [21]

Pasukan kemudian sampai di Jawa Tengah dan “Sarwo Edhi menyuruh pasukannya menyerang apa yang ia anggap kubu-kubu perlawanan komunis. Tetapi sebenarnya tidak ada perlawanan. Baik kader maupun berjuta-juta anggota Partai Komunis dan organisasi-organisasinya menanti dengan pasrah”. [22] Kepasrahan itu bukan didasari dari ketidaktahuan mereka melainkan perintah organisasi.

Kalau kita teliti lebih dalam, semula rakyat yang masih ragu-ragu kemudian seperti mendapatkan angin setelah kedatangan RPKAD. “In Central Java, Army (RPKAD) is training Moeslem Youth and supplying them with weapons and will keep them out in front against the PKI. Army will try to avoid as much it can safely do so, direct confrontation with the PKI”.

Akhirnya teman menghianati teman, saudara menghianati saudaranya. Jargon yang berkembang “kalau saya tidak membunuh saya pasti dibunuh”. Sebenarnya ini semua sangat merugikan rakyat. Peristiwa ini seperti yang terjadi di Cina saat Mao berkuasa. Seorang anak memukul, menendang bahkan membunuh bapak, ibu dan adiknya karena tidak mampu menghafal “Buku Merah. ” Selalu konflik dan berujung dengan pertumpahan darah. Mari kita lihat apa yang terjadi di Jawa Tengah.

  • Purwodadi

Pembunuhan di Purwodadi tergolong cukup parah. “There are fourteen women among the prisoners, perhaps Gerwani, perhaps not. . . There are fourteen camps in Purwodadi”. [23] Sangat menakjubkan di Purwodai terdapat 14 tempat penahanan sementara sebelum akhirnya mereka dieksekusi, atau sebelum nantinya mereka dibuang.

  • Klaten-Solo-Boyolali

Pembantaian di tiga daerah ini juga cukup ganas bahkan ada juga perlawanan.

“Pembunuhan itu sendiri berlangsung secara sungguh keji dan sungguh massal. Pada dinihari 23 Oktober 1965, misalnya di Boyolali ada sekitar 250 orang yang dibunuh secara beramai-ramai, termasuk seorang guru SD dan istrinya yang dilempar ke sumur dalam keadaan hidup-hidup”. [24]

Di Klaten aksi Sorwo Edhi dan RPKAD mendapat ejekan dan cemoohan dari para wanita. Bahkan ada para wanita yang ditembak karena mengejek Sarwo Edhi dan pasukannya dengan menunjukkan pantatnya. Parahnya lagi “Sarwo Edhi marah sekali dan menyuruh menembak mereka. Penonton yang memperotes tindakan kejam ini, ditembak juga”. [25]

Ada juga anggota Pemuda Rakyat yang mencoba melakukan perlawanan, tetapi kekuatan tak seimbang sebab yang punya senjata lengkap adalah tentara. Akhirnya korban banyak yang berjatuhan. Bahkan di Kali Wedi, Klaten hampir setiap malam orang-orang yang dianggap komunis disuruh berbaris dan ditembak dari belakang. Sungguh tak berprikemnusiaan.

Rakyat yang sudah merasa kuat karena mendapat dukungan dari tentara juga ikut membunuh agar tidak dibunuh. Padahal urusannya bukan masalah ideologi tetapi ada yang berawal dari dendam pribadi (land reform) tetapi agar dianggap bersih dari pengaruh komunis mereka harus membuktikan dirinya dengan membunuh orang yang mereka anggap komunis. Banyaklah korban (victim) yang berjatuhan karena main hakim sendiri.

2. Pembersihan di Jawa Timur

Setelah berhasil mengobarkan pembunuhan di Jawa Tengah maka kegiatan pembersihan mulai bergeser ke Jawa Timur. Di Jawa Timur tidak semua daerah akan dikupas dalam makalah ini tetapi hanya beberapa tempat saja antara lain; Malang, Jember, Blitar, dan Banyuwangi. Skema secara matang mulai dari kecamatan, kelurahan target disebarkan.

  • Malang

Pembersihan di Malang juga tak kalah ganasnya. Di daerah ini organisasi pemuda Ansor yang sudah terprovokasi juga ikut melakukan pembersihan. Semua itu tak dapat dilepaskan dari peran yang dimainkan oleh pihak tentara dalam melakukan pembersiahan terhadap orang-orang yang dianggap anggota PKI.

The victims were taken one by one up to the holes, nooses were put around their necks and then tightened until the victims collepsed. . . . Ansor gang, accompained and protected by an army unit, ZIPUR V (Zeni Tempur, Combat Engineers), took them to killing places. . . [26]

Kebanyakan korban pembersihan dibawa paksa dari rumahnya dan yang melawan dibunuh di tempat.

  • Jember

“The killing in Jember were carried out by ARMED III, in the most cases the victims were shot”. [27]

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa dalam banyak kasus pembunuhan dilakukan oleh tentara. Kebanyakan korban mati ditembak.

  • Blitar

Japik, a leading figure in the local branch of Gerwani and member of the PGRI non Vaksentral was killed along with her husband Djumadi. . . This was done by an Ansor gang”. [28]

Kasus di Blitar tak jauh berbeda dengan yang terjadi di Malang. Pembersihan disponsori oleh tentara dan dilakukan oleh gerombolan pemuda Ansor bersama masyarakat.

  • Banyuwangi

Di Banyuwangi jelas sekali penembakan dalam rangka pembersihan dilakukan oleh Komando Distrik Militer 08352. Shooting by the firing squad of KODIM 08352, menurut Cribb.

3. Pembersihan di Bali

The worst of the killing occurred in the provinces of Central Java, East Java and Bali. In the term of the proportion of the population killed, how ever Bali as arguably the province hardnest hit. [29]

Dengan demikian Bali yang mendapat pukulan dengan sangat telak.

The RPKAD commander Sarwo Edhi, whose troops arrived in late December, is said to have remarked, ‘in Java we had to egg the people on the kill Communist. In Bali we have to restrain them, make sure they don’t go too far”. [30] Sangat jelas sekali bahwa pembersihan di Bali juga dilakukan dan disponsori oleh tentara dalam hal ini RPKAD yang dikomandani oleh Sarwo Edhi.

Menurut pengakuan Pak Mangku[31]: “Tiang dulu ingat dan menyaksikan sendiri saat menyeret mayat-mayat yang harus dikubur di lubang-lubang sumur penduduk. Kepala orang disandarkan dan dipegang, kemudian dipenggal dengan klewang. . . ”[32] Agak terdengar tragis memang tetapi itulah faktanya. Pertumpahan darah antar saudara sebangsa bisa begitu bengis.

Soe Hok Gie sendiri berpendapat bahwa “. . . di akhir tahun 1965 dan sekitar permulaan tahun 1966, di pulau yang indah ini telah terjadi suatu malapetaka mengerikan, suatu penyembelihan besar-besaran yang mungkin tiada taranya dalam zaman modern ini, baik dari waktu yang begitu singkat, maupun dari jumlah mereka yang disembelih. Peperangan?”[33]

D. Dampak

Jelas sekali korban sangat banyak diperkirakan mencapai ratusan bahkan jutaan orang.

Tabel Estimasi korban[34]

NO

HASIL PENELITIAN

JUMLAH KORBAN

1

Kirk

150. 000

2

Anderson and McVey

200. 000

3

Turner

300. 000-600. 000

4

King

300. 000

5

Topping

150. 000-400. 000

6

The Economic, citing KOPKAMTIB

1. 000. 000

7

Mellor

2. 000. 000

8

Wertheim

400. 000

9

Hughes

200. 000

10

Fact Finding Commission

78. 000

11

Fact Finding Commission member

780. 000

12

Adam Malik

160. 000

13

L. N. Palar

100. 000

14

Washington Post

500. 000

15

Contenay

100. 000-200. 000

16

Grant

200. 000-300. 000

17

Vittachi

300. 000-500. 000

18

Paget

100. 000-300. 000

19

Moser

400. 000

20

Sullivan

300. 000-500. 000

21

Lyon

200. 000-500. 000

22

Henderson

400. 000-200. 000

23

Dahm

200. 000

24

Sloan

300. 000

25

Polomka

150. 000-300. 000

26

Legge

200. 000-250. 000

27

Neil

750. 000

28

Palmier

200. 000

29

Sievers

200. 000

30

Repression and Exploitation

500. 000-1. 000. 000

31

Admiral Sudomo, KOPKAMTIB COMMANDER

450. 000-500. 000

32

Fryer & Jackson

100. 000-500. 000

33

Pluiver

500. 000-1. 000. 000

34

Cadwell and Utrech

500. 000

35

Legge

250. 000

36

Ricklefs

500. 000

37

Frederick

750. 000

38

Anderson

500. 000-1. 000. 000

39

Mody

500. 000-1. 000. 000

Tabel di atas menunjukkan pendapat dari beberapa ahli tentang Indonesia terhadap estimasi korban pembunuhan massal 1965-1966.

“Memang benar, korban orang-orang PKI melebihi dari sepatutnya”[35], demikian menurut Mayjen (Purn.) Samsudin.

Pembunuhan massal anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965-1966 merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Diperkirakan 150. 000-1. 000. 000 orang telah dibantai dalam kurun waktu itu. Bahkan, beberapa sarjana memperkirakan jumlah korban mencapai satu juta orang. [36]

Stigmatisasi yang diterima oleh pendahulunya juga menimpa anak cucu mereka. Mereka yang dibebaskan dari penjara mendapat gelar eks Tapol di belakang nomor induk KTP-nya. Belum lagi anak-anaknya sulit mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pekerjaan.

Ketakutan akan bahaya PKI terus melanda, itu semua dibuktikan dengan penulisan sejarah yang berkembang pada masa Orba. Baru-baru ini Kejagung melakukan penarikan terhadap buku teks sejarah.

Sejarah yang diproduksi rezim Soeharto bukan saja tidak menghadirkan kehidupan sebagaimana yang diimani Havel. Tetapi, terutama tidak menghadirkan kehidupan bagian terbesar dari penduduk negeri ini. Atau, kalau boleh buka selubung, sejarah yang diproduksinya serupa serdadu pembunuh, terutama pembunuh jiwa dan akal-budi bagian terbesar masyarakat kita. [37]

Seperti kata Asvi, hal itu sekarang diungkap, bukan untuk menoreh luka lama tetapi justeru untuk menyembuhkannya, agar peristiwa itu tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Selain itu pengungkapnnya, menurut Asvi, mengandung aspek healing (pengobatan) bagi para korban dan keluarganya. [38]

E. Kesimpulan

Gerakan massa atau sosial yang besar namun dimanfaatkan oleh pihak militer sehingga berujung pada pembunuhan massal. Gerakan sosial anti PKI yang sangat besar, dan terorganisir dengan baik.

Sebagai penutup patut kita renungkan apa yang di teriakkan oleh Rendra “Orang-orang harus dibangunkan. Kesaksian harus diberikan agar kehidupan bisa terjaga”.

Daftar Pustaka

Asvi Warman Adam. Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta. Ombak. 2004.

Baskara T. Wardaya (ed) . 2001 Menuju Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah. Jakarta. Gramedia.

————–. 2006. Bung Karno Menggugat ! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ’65 hingga G30S. Yogyakarta. Galangpress.

Cribb, Robert (ed) . 1991. The Indonesian Killings 1965-1966: Studies from Java and Bali. Asutralia. Center of Southeast Asian Studies.

Giebels, Lambert J. 2005. Pembantaian yang Ditutup-tutupi Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno. Jakarta. Grasindo.

Hesri Setiawan. 2004. Memoar Pulau Buru. Magelang. IndonesiaTera.

Ifdham Kasim dan Edie Riyadi Terre (ed) . 2003. Pencarian Kedilan di Masa Transisi. Jakarta. ELSAM.

Legge, J. D. 2001. Sukarno Biografi Politik. Jakarta. Sinar Harapan.

Loyd dan Shannon Smith (ed) . 2001. Indonesia Today Challenges of History. Singapore. Institute of Southeast Asian Studies.

Luthfi Assyaukanie dan Stanley (ed) . 2006. Arief Budiman: Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005. Jakarta. Pustaka Alvabet dan Freedom Institute.

Meyers, Sondra (ed) . 1997. Demokrasi Adalah Sebuah Diskusi. Connecticut. Connecticut College.

Pusat Pendidikan Kehakiman Angkatan Darat. 1966. Gerakan 30 September di Hadapan Mahmilub 2: Perkara Untung”. RPKAD.

Ricklefs, M. C. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

Samsudin. 2004. Mengapa G30S/PKI Gagal ? Sautu Analisis. Jakarta. YOI.

Schuring, Casper. 2002. Roeslan Abdulgani Tokoh Segala Zaman. Jakarta. Gramedia.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. 1994. Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya. Jakarta. SNRI.

Siahaan, Harlem. Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945-1984. Prisma. No. 1. Tahun. XXIV. Januari 1995.

Stanley dan Aris Santoso (ed) . 2005. Soe Hok Gie: Zaman Peralihan. Jakarta. Gagas Media.

Suryawan, I Ngurah. 2005. Jejak-jejak Manusia Merah: Siasat Politik Kebudayaan Bali. Yogyakarta. BB dan Elsam.

W. S. Rendra. 1980. State of Emergency. Australia. Wild and Woolley Limited.

Zurbuchen, Mary S. 2005. Beginning To Remember The Past in The Indonesian Present. Singapore. Singapore University Press.

http: //agli. multiply. com/reviews/item/9

http: //www. mesias. 8k. com/konspirasi. htm

http: //www. pikiran-rakyat. com/cetak/2006/032006/11/khazanah/lain02. htm

http: //www. pikiran-rakyat. com/cetak/0904/27/teropong/resensi_buku. htm

Sumber: Historia Vitae Vol. 23, No. 2, Oktober 2009

  1. Wahyu Wirawan, S.Pd., adalah Alumnus Pendidikan Sejarah USD dan melanjutkan ke Pascasarjana UGM, Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Sejarah.

  2. W. S. Rendra. State of Emergency. Australia. Wild and Woolley Limited. 1980. hlm. 10

  3. Mary S. Zurbuchen. Beginning To Remember The Past in The Indonesian Present. Singapore. Singapore University Press. 2005. hlm. 24

  4. Jean Bethke Elshtain dalam Sondra Meyers (ed) . Demokrasi Adalah Sebuah Diskusi. Connecticut . Connecticut College. 1997. hlm. 10

  5. Dhaniel Dhakidae dalam Ifdham Kasim dan Edie Riyadi Terre (ed) . Pencarian Keadilan di Masa Transisi. Jakarta. ELSAM. 2003. hlm. 256

  6. Grayson dalam Loyd dan Shannon Smith (ed) . Indonesia Today Challenges of History. Singapore. Institute of Southeast Asian Studies. 2001. hlm. 72

  7. Meminjam istilahnya Fucaoult, power by negation (dengan intimidasi dan kekerasan) .

  8. Baca Pidato Soekarno tanggal 18 Desember 1965

  9. M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press. 2005. hlm. 426

  10. Harlem Siahaan. Kemiskinan dan Perumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945-1984. Prisma. No. 1. Tahun. XXIV. Januari 1995. hlm. 17-31

  11. Benedict Anderson dalam Baskara T. Wardaya (ed) . Menuju Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah. Jakarta. Gramedia. 2001. hlm. 272-27. Khususnya apa yang dilakukan oleh RPKAD.

  12. Dikusi mengenai Tapol pernah mau dilakukan oleh Arief Budiamn dkk, tetapi dilarang oleh Kopkamtib. Kopkamtib tidak akan memenuhi permintaan saudara karena masalah Tapol G30S tidak perlu didiskusikan lagi. Periksa, Luthfi Assyaukanie dan Stanley (ed) . Arief Budiman, Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005. Jakarta. Pustaka Alvabet dan Freedom Institute. 2006. hlm. 91

  13. Casper Schuring. Roeslan Abdulgani Tokoh Segala Zaman. Jakarta. Gramedia. 2002. hlm. 83. Para tahanan dibagi dalam golongan A, B, C. golongan A adalah mereka yang langsung terlibat dalam G30S. Jumlahnya kira-kira 200-an orang. Golongan kedua, B adalah mereka yang secara tidak langsung terlibat tetapi sukar untuk membuktikannya. Golongan C, merupakan kelompok seperti simpatisan atau pengikut dan pendukung PKI saja. Jadi sebagian memang diadili, seperti Subandrio, dan Nyoto. Untuk mengetahuai proses hukum Untung periksa, Pusat Pendidikan Kehakiman Angkatan Darat. Gerakan 30 September di Hadapan Mahmilub 2: Perkara Untung. Pusat Pendidikan Kehakiman Angkatan Darat. 1966. Untuk cerita para tahanan di Pulau Buru baca, Hesri Setiawan. Memoar Pulau Buru. Magelang. IndonesiaTera. 2004.

  14. Baca J.D. Legge. Sukarno Biografi Politik. Jakarta. Sinar Harapan. 2001. hlm. 457

  15. Bonnie Triyana. Konspirasi dan Genosida: Kemunculan Orde Baru dan Pembunuhan Massal. http: //www. mesias. 8k. com/konspirasi. htm

  16. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya. Jakarta. SNRI. 1994. hlm. 134-135

  17. Asvi Warman Adam. Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogayakarta. Ombak. 2004. hlm. 29

  18. Baskara. T. Wardaya. Bung Karno Menggugat ! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ’65 hingga G30S. Yogyakarta. Galangpress. 2006. hlm. 172

  19. Baskara T. Wardaya. op. cit. hlm. 273

  20. Lambert J. Giebels. Pembantaian yang Ditutup-tutupi Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno. Jakarta. Grasindo. 2005. hlm. 132

  21. Ibid. hlm. 133

  22. Robert Cribb (ed) . The Indonesian Killings 1965-1966: Studies from Java and Bali. Asutralia. Center of Southeast Asian Studies. 1991. hal. 212

  23. Baskara. T. Wardaya. op. cit. hlm. 173. Dikutip Baskara dari Arthur J. Dommen. The Attemted Coup in Indonesia. The China Quarterly. No. 25. Januari-Maret 1966. hlm. 28

  24. Lambert. J. Giebels. op. cit. hlm. 134

  25. Robert Cribb. op. cit. hlm. 170

  26. Ibid. hlm. 171

  27. Ibid. hlm. 172

  28. Daniel S. Lev and Ruth McVey (ed) . Making Indonesia. Ithaca. Cornell University. 1996. hlm. 118

  29. Ibid. hlm. 243. Dikutip Cribb dari Hughes, Indonesian Upheaval, hlm. 181.

  30. Pak Mangku adalah saksi hidup. Saat peristiwa pembantaian terjadi Pak Mangu berusia 18 tahun.

  31. I Ngurah Suryawan. Jejak-jejak Manusia Merah: Siasat Politik Kebudayaan Bali. Yogyakarta. BB dan Elsam. 2005. hlm. 159

  32. Stanley dan Aris Santoso (ed) . Soe Hok Gie: Zaman Peralihan. Jakarta. Gagas Media. 2005. hlm. 191. Saat itu Soe Hok Gie adalah orang Indonesia pertama yang berani berbicara mengenai pembantaian massal yang terjadi di Bali. Hal tersebut juga diakui oleh Ben Anderson, seorang Indolog terkemuka.

  33. Baca Robert Cribb.

  34. Samsudin. Mengapa G30S/PKI Gagal ? Sautu Analisis. Jakarta. YOI. 2004. hlm. 215

  35. Hermawan Sulistyo. Palu Arit di Ladang tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang terlupakan 1965-1966. http: //agli. multiply. com/reviews/item/9

  36. Hikayat Gumelar. http: //www. pikiran-rakyat. com/cetak/2006/032006/11/khazanah/lain02. htm

  37. http: //www. pikiran-rakyat. com/cetak/0904/27/teropong/resensi_buku. htm

About Sastro Sukamiskin