Penolakan Pembangunan Apartemen di Kota Yogyakarta

Dimaz Damar W.W (145114016) & Petrus Tiberian R(145114029)

Kota Yogyakarta mempunyai luas lahan  yang terbatas,  dan permintaan akan pemanfaatan lahan kota untuk pembangunan fasilitas perkotaan baik pemukiman, industri, dan penambahan jalur transportasi yang perlahan akan menyita lahan-lahan ruang terbuka lainnya di wilayah perkotaan. Perkembangan pembangunan di perkotaan selain mempunyai dampak positif bagi kesejahteraan warga kota juga menimbulkan dampak negatif. Selain sebagai kota wisata,  Yogyakarta merupakan tempat berdirinya hotel,  apartemen, dan gedung-gedung tinggi yang membuat pertumbuhan penduduk dengan aktivitas yang tinggi di kawasan tersebut  akan berdampak pada perubahan ciri khas sebuah kota, baik berupa fisik, sosial dan budaya. Tidak dapat dipungkiri  dengan adanya faktor-faktor tersebut maka pertumbuhan dan perkembangan kota Yogyakarta  bertambah pesat.

Selain itu pertumbuhan masyarakat  Yogyakarta dari segi ekonomi juga  semakin meningkat, hal ini dapat diketahui dengan banyaknya kendaraan-kendaraan mobil, maupun motor yang ada di Kota Yogyakarta. Dan ditambah lagi sekarang perguruan tinggi  yang ada di Yogyakarta banyak diminati oleh masyarakat luas khususnya yang ada di luar daerah. Dengan adanya faktor-faktor tersebut maka akan adanya perubahan struktur dan infrastruktur secara signifikan di Kota Yogyakarta.  Jika Pemerintah Kota Yogyakarta tidak dapat meminimalisir atau mencegah  serta memberikan solusi terhadap perubahan struktur dan infrastruktur tersebut maka yang akan terjadi adalah adanya perubahan tata letak dan tata wilayah kota yang tidak sama dengan sebelumnya.

Dengan adanya pembangunan tersebut maka berakibat pada kerusakan lingkungan dan polusi udara yang semakin parah. Itu disebakan karena banyaknya kendaraan bermotor yang ada membuat macet jalanan dan Ruang Terbuka Hijau Berkurang. Akibatnya dari pencemaran udara kini semakin meningkat dan suhu kota pun jadi berubah menjadi panas. Dan dengan adanya pembangunan –pembangunan pertokoan seperti itu juga mengakibatkan kurangnya daerah resapan air, sehingga  jika Kota Yogyakarta  ketika di guyur hujan maka otomatis terjadi banjir. Itu semua disebabkan karena kurangnya Ruang Terbuka Hujau yang ada di Kota Yogyakarta itu bisa menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan hidup.

Di dalam UU No. 26 Pasal 2 dan 3 tahun 2007 telah jelas bahwa penataan ruang itu harus sesuai dengan keserasian, keterpaduan, keterbukaan karena itu digunakan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang nyaman, aman, produktif,  dan berkelanjutan. Jadi dalam  UU No. 26 tahun 2007 itu menyebutkan bahwa Ruang Terbuka Hijau tersebut sangat penting karena itu menyangkut dengan kepentingan masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang layak dan bebas dari polusi. Karena itu  Ruang Terbuka Hujau selain untuk meminimalisir  polusi udara yang ada bahkan juga dapat  dijadikan sebagai paru-paru kota.

Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor 23 tahun 1997 Pasal 1 Tentang Lingkungan Hidup disebutkan bahwa Dimana Lingkungan Hidup dapat diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup Sumber Daya Alam (SDA) seperti air, udara, tanah, hutan dan lainnya merupkan simber daya yang penting bagi kelangsungan makhluk hidup termasuk manusia. Bahkan SDA ini tidak hanya mencakup kebutuhan hidup manusia saja, tetapi juga dapat memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan yang lebih luas. Namun  semua itu bergantung pada bagaimana pengelolaan SDA tersebut, karena pengelolaan yang buruk akan berdampak pada kerugian yang ditimbulkan seperti misalnya banjir, pencemaran air, sumur kering dan sebagainya.

Pembangunan yang menjamur di perkotaan bukanlah murni salah dari satu pihak namun perkembangan perkotaan yang diakibatkan dari pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin padat. Tidak dipungkiri jumlah kebutuhan akan fasilitas atap yang akan bertambah dan akan memunculkan banyak pihak untuk saling bersimbiosis mutualisme menciptakan lahan tersebut demi tercapainya suasana perkotaan yang dinamis dan modern namun tidak banyak memunculkan masalah.

Ada beberapa contoh yang akan dipaparkan terkait penolakan – penolakan yang terjadi di daerah yogyakarta khususnya daerah jalan kaliurang yang notabene bagi pengusaha – pengusaha sangatlah menarik hati dan menawarkan segala kelebihannya. Seperti contoh berikut :

Apartemen Uttara The Icon

Warga desa Karangwuni, Sleman menyerukan penolakan terhadap salah satu pembangunan apartemen yang mereka anggap akan mengganggu akitivas mereka terutama mengenai dampak sumur kekeringan. Apertemen yang mereka tolak keberadaannya adalah apartemen Uttara yang terletak di Jalan Kaliurang Km 5,3. Warga mencurigai pembuatan Izin Penggunaan Tanah (IPT) yang tidak sesuai aturan yang semestinya dari Bupati Sleman. Dasar hukum dalam mendirikan bangunan  sangat banyak dijelaskan di Keputusan Bupati  Sleman  No  53/Kep.KDH/A/2003  yang  merupakan  petunjuk  pelaksanaan  dari Peraturan Daerah Kabupaten Sleman No 19 Tahun 2001.  Perda dan Perbup menyatakan bahwa Bupati sebagai pemegang utama keputusan persetujuan adanya pembangunan di Kabupaten  Sleman. Hal ini sejalan dengan Perda No 19 Tahun 2001 Bab II tentang Izin Peruntukkan Penggunaan Tanah Pasal 2 yang berbunyi :

“Setiap  orang  pribadi  dan  atau  badan  yang  menggunakan  tanah  untuk  kegiatan pembangunan fisik dan atau untuk keperluan lain yang berdampak pada struktur ekonomi, Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 19 Tahun 2001 tentang Izin Peruntukan Penggunaan Tanah. Sosial budaya dan lingkungan wajib memperoleh izin peruntukan penggunaan tanah dari Bupati.”

Masalah kian berlarut-larut dengan belum adanya titik temu antara pihak warga Karangwuni dan pihak pengelola apartemen Uttara. Dalam pengkajian ini tidak akan banyak disampaikan mengenai  simpul pangkal yang terjadi dalam proses tarik ulur perizinan tersebut, namun akan lebih ditinjau mengenai isu lingkungan yang dikhawatirkan warga.

Ketersedian air

Pembangunan apartemen Uttara dengan menawarkan hunian 19 lantai dan 3 basement tentu akan membutuhkan banyak persediaan air. Pihak apartemen menjelaskan bahwa sumur yang mereka gunakan pada kedalaman 60 meter sedangkan warga menggunakan sumur pada kedalaman 10 meter. Beradasarkan kenyataan yang terjadi di Fave Hotel atau di tempat lain, wajar bahwa kemudian warga sangat khawatir jika sumur yang biasa mereka gunakan akan mengering. Air adalah salah satu sumber kehidupan yang paling penting untuk manusia dimana segala aktivitasnya akan sangat memerlukan ketersediaan air. Warga tentu menyayangkan ketika air yang bertahun-tahun gratis mereka rasakan kemudian akan kering dan membayar kepada PDAM, notebene warga kurang begitu suka dengan air yang disdiakan PDAM. Pihak apartemen juga kurang mampu memanfaatkan lahan resapan, hal ini dibuktikan dengan dibuatnya 3 basement ke bawah. Secara langsung maupun tidak langsung hal ini akan mempengaruhi resapan air yang berimbas pada ketersediaan air di sekitar pemikiman warga.

Banjir yang semakin hari semakin parah

Dengan banyaknya pembangunan di sekitar jalan kaliurang maka warga sangat khawatir akan terjadi banjir yang parah karena tidak adanya resapan air yang cukup. Dapat dicontoh dari kota metropolitan, Jakarta. Pembangunan gedung menjulang tinggi diman-mana akan menyebabkan lahan resapan air berkurang tertutup beton dimana-mana sehingga ketika musim hujan tiba banjir menjadi satu bencana yang terelakkan. Tentu warga Karangwuni dan warga Yogyakarta tak ingin mengalami hal serupa. Jangan sampai keuntungan yang didapat satu pihak dapat merugikan pihak-pihak lain yang lebih parah.

Kemacetan yang tak bisa dihindari

Letak apartemen Uttara sangat strategis di jalan Kaliurang Km 5,3 dimana setiap hari banyak kendaraan lalu lalang melintasi kawasan tersebut. Warga Karangwuni dan Yogyakarta dengan adanya apartemen ini akan memperparah kemacetan yang terjadi terutama di jam-jam sibuk seperti berangkat dan pulang kerja. Penghuni 19 lantai dan kendaraan yang terparkir di 3 basement memperlihatkan banyaknya kendaraan yang akan menambah parah macetnya jalan Kaliurang kelak. Selain itu teguran dilayangkan kepada pihak pengelola apartemen karena melanggar peraturan bahwa setelah pukul 5 sore kegiatan pembangunan akan selesai. Kenyataannya pada malam hari proses pembangunan masih terus berlanjut. Tentu saja hal ini akan mengganggu kenyamanan warga di malam hari.

Warga gadingan jaga kearifan lokal

Selain ramainya berita tentang warga Karangwuni yang menolak keberadaan apartemen Uttara, warga Gadingan juga menentang keras keberadaan apartemen yang akan dibangun di daerah mereka. “Sesuai dengan rapat padukuhan  pada 12 november 2014 yang bersifat resmi, karena disitu ada musyawarah, dan telah mencapai kata mufakat, semua warga gadingan menolak pembangunan apartemen disini”  ungkap Priwantoro, selaku ketua paguyuban Dusun Gadingan yang terletak di Jalan Kaliurang Km 10 ini.

Apartemen yang ditolak warga ini rencananya akan menempati lahan seluas 5000 meter persegi. Alasan warga melakukan penolakan ini adalah karena khawatir terhadap dampak pencemaran lingkungan, mengancam bahan baku air, dan perubahan sosial di masyarakat. Sebelumnya, warga sudah melakukan berbagai upaya, salah satunya adalah mediasi ke pihak DPRD, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman, dan Bupati Sleman. Sempat terjadi beberapa ulah tak bertanggung jawab dari developer juga, yaitu berupa pemalsuan tanda tangan dan kenyataan bahwa developer belum memegang surat Ijin Pengelolaan Tanah (IPT). Sebelumnya juga terjadi intimidasi berupa pembakaran bangunan belakang rumah warga. Kasus tersebut sudah dilaporkan oleh warga kepada Polsek Ngaglik, Sleman.

Pembangunan Apartemen ‘M icon’ ini memang sudah dilakukan sejak september 2014 lalu, tapi, terasa ada yang janggal pada pembangunan apartemen tersebut, pasalnya, sudah hampir 7 bulan dari awal pembangunan hingga saat ini, keadaan apartemen masih hanya sebatas pada lahan kosong saja. Selain itu, banyaknya baliho-baliho akan penolakan pembangunan apartemen tersebut mewarnai sepanjang Jalan Kaliurang Km.10 ini.

Berdasarkan pengakuan Priwantoro, salah satu yang melatarbelakangi penolakan apartemen oleh warga dusun Gadingan disini adalah karena warga dusun Gadingan ingin menjaga kearifan lokal yang ada didalam dusun mereka, selain itu, menurutnya, apakah relevan jika pendirian apartemen dilakukan disekitar padukuhan tersebut, apakah nantinya mereka mau untuk bersosialisasi dengan warga sekitar, mengingat hunian apartemen ini adalah untuk kalangan menengah keatas.

Selain itu, tidak adanya sosialisasi pihak pendiri apartemen kepada warga Dusun Gadingan juga menjadi alasan kenapa mereka menolak pendirian apartemen ini, “…dari awal kita gatau itu yang namanya sosialisasi atau apa, atau bukan. Hanya diikuti oleh  beberapa orang. Tapi kita tanya, itu sosialisasi apa bukan? Karena yang namanya sosialisasi kan harusnya semua warga ikut terlibat” begitu pernyataan dari Priwantoro

Dampak akan keringnya sumur warga pun menjadi pertimbangan masyarakat Dusun Gadingan jika pembangunan apartemen tersebut terus dilakukan. Pasalnya, hampir semua warga disana menggunakan air sumur demi memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, walaupun pihak pendiri apartemen telah mengatakan bahwa mereka akan menggunakan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) guna memenuhi kebutuhan air apartemen mereka dan hanya akan melakukan pengeboran sumur dalam sebagai cadangan saja. Warga Dusun Gadingan tidak semudah itu untuk percaya dengan pernyataan pihak pendiri apartemen, menurutnya, itu hanyalah teori dan kita tidak tahu praktik kedepannya akan seperti apa.

Audiensi antar warga padukuhan dengan berbagai instansi pemerintah seperti  DPR, DPR Provinsi, DPR sleman, dan Bupati pun terus dilakukan guna untuk mempertahankan jalur hijau dan juga daerah resapan air warga dusun gadingan. Kabar baiknya adalah, jika memang masih ada permasalahan dengan warga, maka izin pun belum akan diturunkan.

“Kalo toh itu tetep berdiri, kami akan memperjuangan kearifan lokal dan warga gadingan menjadi lebih baik.” ujar Priwanto, ini adalah aspirasi warga Dusun Gadingan untuk melakukan penolakan apartemen disini, jikalau memang apartemen tetap didirikan, kami tidak akan menerima bentuk kompensasi berupa materi atau apapun yang berhubungan dengannya. Karena menurutnya, jika manusia sakit, untuk sembuh kita hanya perlu ke dokter, tapi jika lingkungan? Tidak ada yang bisa mengobatinya.

Pemasangan spanduk ini adalah bentuk usaha penolakan warga Gadingan, Sleman, Jogjakarta terhadap rencana pembangunan apartemen M-Icon di wilayah mereka. Konflik antara warga dan pihak developer apartemen ini sudah berlangsung sejak awal tahun 2015 dan belum menemui titik terang. Pemasangan spanduk-spanduk ini dilakukan di sekitar Jalan Kaliurang Km 11 Jogjakarta, setelah spanduk-spanduk penolakan yang sebelumnya dicopot paksa oleh oknum-oknum tidak dikenal.

“Ini adalah bentuk penolakan kami, Warga Gadingan, terhadap pembangunan apartemen yang saat ini sedang marak di lingkungan kami. Dan selain itu, semenjak Agustus tahun lalu, belum ada pihak developer yang datang menemui warga secara langsung,” ujar Pandu Satria, salah satu warga Gadingan.

Kesimpulan

Perkembangan pembangunan hotel, mal, apartemen di Yogyakarta begitu marak. Hal ini akan memberikan dampak yang beragam, positifnya adalah keuntungan ekonomi untuk pelaku usaha yang berada di sekitarnya, namun masalah lingkungan menjadi hal yang tak bisa dihindari mengingat kajian-kajian lingkungan yang diharapkan menjadi solusi nyatanya masih saja terjadi dan memberikan dampak buruk bagi warga. Sumur kering, banjir, dan kemacetan akan menjadi pemandangan sehari-hari ketika tak ada satupun yang mau dan berani berucap atas nama keadilan lingkungan. Kota Yogyakarta yang berhati nyaman jangan sampai berubah dan berhenti nyaman, kearifan lokal budaya kota Yogyakarta jangan sampai hilang dikubur bangunan  atas nama keuntungan dan keegoisan belaka. Semoga warga Yogyakarta bisa terus aktif, tanggap, dan menjaga kelestarian alam.

 

 

 

damz2711@yahoo.com'

About Dimaz Damar