Penelitian Sosial Budaya

Penelitian sosial budaya adalah penelitian tentang kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, cakupannya sangat luas, yaitu semua aspek atau segi kehidupan masyarakat, baik yang berupa nilai, norma, institusi maupun prasarana fisik. Contoh untuk aspek kehidupan yang berupa nilai adalah gotong royong, kekeluargaan, kejujuran, keberagamaan dan sebagainya. Sedangkan contoh aspek kehidupan yang berupa norma adalah sopan santun berinteraksi, peraturan berpakaian, bagaimana duduk yang baik dan sebagainya. Aspek norma ada yang tertulis dan disebut hukum, serta tidak tertulis disebut norma sosial. Aspek kehidupan yang berupa institusi adalah lembaga-lembaga yang dikembangkan oleh masyarakat, misalnya kelompok arisan ibu-ibu RT, OSIS di sekolah, koperasi dan lain sebagainya. Terakhir adalah aspek kehidupan masyarakat yang berupa prasarana fisik, termasuk di dalamnya tata pemukiman dan bangunan-bangunan yang didirikan untuk menunjang kelancaran hidup bersama dalam masyarakat.

http://www.voa-islam.com/photos3/to9.jpg

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, semakin lama terjadi spesialisasi yang semakin rinci. Misalnya aspek kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dan keinginan masyarakat diteliti tersendiri oleh ilmu ekonomi. Begitu juga aspek kesehatan masyarakat menjadi bidang kajian ilmu kesehatan masyarakat. Akibat dari semua itu, penelitian sosial budaya dewasa ini difokuskan pada masalah perilaku sosial kelompok-kelompok dalam masyarakat (sosial) dan bagaimana orang-orang memahami dunia di sekitar mereka dengan cara yang berbeda-beda (budaya).

Sesuai dengan judul, tulisan ini mencoba untuk mengenal seluk beluk penelitian sosial budaya. Untuk melakukan penelitian sosial budaya, paling tidak harus melalui 5 tahap sebagai berikut:

 

A. PERSIAPAN

Dalam tahap ini hal yang paling utama dilakukan adalah menentukan topik dan permasalahan yang akan diteliti.

  1. Apakah topik penelitian akan diarahkan pada seluruh aspek kehidupan masyarakat yang mencakup nilai, norma, institusi dan prasarana di atas, atau memilih sebagian saja atau bahkan satu aspek saja?

  2. Dari sudut waktunya, apakah penelitian akan diarahkan untuk melihat kondisi aktual saja (sinkronis) atau mau melihat perkembangan (diakronis)?

  3. Setelah penentuan topik dari aspek waktu (temporal) dan aspek keluasan (spasial) ditentukan, langkah berikutnya adalah menyusun permasalahan penelitian. Biasanya permasalahan dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.

B. PELAKSANAAN

Agar berbagai permasalahan penelitian yang telah disusun dapat terjawab dengan optimal, dalam tahap pelaksanaan perlu memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Keunikan kelompok atau masyarakat yang diteliti. Seorang peneliti harus memperhatian norma-norma yang berlaku pada masyarakat tersebut. Apabila seorang peneliti menabrak norma yang berlaku dan dipandang tidak dapat dimaafkan, maka mereka akan cenderung menutup diri dan akan mengakibatkan pengumpulan data menjadi tidak optimal. Peneliti juga harus mengenal hal-hal yang sensitif atau bahkan tabu untuk dibicarakan pada masyarakat tersebut. Misalnya, bersiul di dalam rumah. Mungkin ini dianggap masalah sepele, tetapi kalau masyarakat yang diteliti menabukan hal itu, akibatnya akan fatal bagi penelitian yang sedang berlangsung.

  2. Menentukan tokoh kunci yang akan dijadikan sumber informasi. Langkah ini sangat penting untuk menjamin suksesnya penelitian. Secara sederhana masyarakat dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pelaku dan saksi. Seberapapun banyak informasi yang dimiliki seorang saksi, kedudukannya akan kurang penting, karena perannya hanya sebagai pengamat terhadap fenomena yang diteliti. Dia tidak akan mampu menghayati berbagai tantangan yang dihadapi pelaku. Peneliti dituntut untuk menemukan pelaku. Diantara pelaku, dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pemimpin dan pengikut. Keduanya sangat penting untuk digali informasinya. Akan tetapi, pelaku pemimpin lah yang layak dan pantas ditempatkan sebagai tokoh kunci.

  3. Menentukan cara memperoleh data/informasi. Salah satu cara yang biasa digunakan untuk penelitian sosial budaya adalah wawancara mendalam atau depth interview. Apa dan bagaimana wawancara mendalam tersebut, silahkan menuju ke http://citralekha.com/wawancara-mendalam/

C. CHEKING DATA

Setelah pengumpulan data selesai dilakukan, peneliti harus memeriksa data yang berhasil dikumpulkan. Pemeriksaan mencakup tiga hal, yaitu:

  1. Validitas: Pemeriksaan tentang validitas bertujuan untuk mengkaji apakah informasi yang diperoleh dapat sepenuhnya dipercaya atau tidak. Cara yang ditempuh biasanya adalah dengan membandingkan antara data yang satu dengan data yang lain. Apabila terdapat keselarasan antar data, maka data itu dikategorikan valid atau dapat dipercaya. Apabila data tersebut tidak selaras dan bukan merupakan informasi rahasia, maka dianggap tidak valid. Informasi yang tidak valid harus dibuang atau tidak digunakan.

  2. Reliabilitas: Pemeriksaan reliabilitas adalah untuk mengkaji apakah informasi yang terkumpul telah sesuai dengan permasalahan yang diajukan atau mampu menjawabnya dengan optimal. Data atau informasi yang tidak relevan dengan permasalahan harus dibuang atau tidak digunakan.

  3. Ketercukupan: Pemeriksaan tahap ini untuk melihat apakah informasi yang dikumpulkan telah memadai untuk menjawab pertanyaan penelitian yang disusun. Apabila belum cukup, maka peneliti harus kembali ke lapangan melakukan pengumpulan data.

  4. Pamit: Apabila data sudah dipandang memadai dari aspek kualitas dan kuantitas, peneliti harus mendatangi kembali kepada semua informan atau nara sumber untuk mengucapkan terimakasih dan mengungkapkan apabila penelitian sudah selesai serta mohon pamit. Langkah ini penting agar masyarakat tidak bosan untuk menjadi sumber informasi bagi peneliti lain dan juga relasi antara peneliti dengan masyarakat tetap terjaga baik.

D. ANALISIS

Paling tidak ada dua langkah yang penting dilakukan pada tahap ini, yaitu:

  1. Kategorisasi data, yaitu langkah mengelompokkan data-data hasil penelitian lapangan, sesuai pertanyaan yang telah disusun pada permasalahan. Apabila permasalahannya dirumuskan ke dalam tiga pertanyaan, maka data juga dikelompokkan menjadi tiga.

  1. Keterkaitan antar data, yaitu mengkaji relasi antar satu data dengan data yang lainnya, baik dalam satu kategori maupun antar kategori. Ada banyak ragam relasi antar data, antara lain sebab-akibat, sekual dan kesederajadan. Relasi sebab akibat adalah apabila data yang satu mengakibatkan munculnya data yang lain. Sebagai contoh: data terlambat bangun memiliki hubungan sebab akibat dengan data terlambat masuk sekolah. Relasi sekual adalah hubungan antar dua data atau lebih yang muncul secara berurutan tetapi bukan sebab akibat. Misalnya sehabis mata pelajaran sejarah, siswa belajar bahasa Indonesia. Pelajaran sejarah dan pelajaran bahasa Indonesia muncul berurutan, tetapi pelajaran bahasa Indonesia muncul sebagai akibat adanya pelajaran sejarah selesai. Relasi kesederajadan adalah apabila dua data muncul bersamaan, tetapi tidak ada kaitannya. Misalnya ketika siswa sedang beristirahat, kepala sekolah pingsan di ruangannya. Kedua peristiwa tersebut muncul bersamaan, tetapi antar keduanya tidak saling berkait atau sederajad.

E. PELAPORAN

Setelah analisis selesai dilakukan, tahap terakhir dari sebuah penelitian adalah pembuatan laporan. Ada banyak ragam pelaporan, antara lain formal, feature, narratif dan analitis.

  1. Pelaporan formal adalah laporan penelitian yang mengacu pada format yang telah ditentukan oleh pihak yang berwenang.

  2. Model ke dua adalah feature, yaitu pelaporan yang biasa digunakan pada dunia jurnalisme. Format feature dapat dilihat pada http://citralekha.com/feature/

  3. Narratif adalah model pelaporan penelitian dengan menganut gaya penceritaan. Formatnya dapat dilihat pada http://citralekha.com/pendekatan-dalam-sejarah/ Contoh penulisan laporan penelitian dengan model narratif dapat disimak pada http://citralekha.com/perempuan-di-wilayah-tambang-melawan-neo-kolonialisme-baru-bagian-1/

  4. Analitis adalah model yang diadopsi dari ilmu-ilmu alam. Pada model ini, laporan penelitian sosial budaya berupa penjelasan. Formatnya dapat disimak pada http://citralekha.com/pendekatan-covering-law-model-clm-dalam-sejarah/

Penelitian Sosial Budaya merupakan penelitian kualitatif, sehingga sukses tidaknya sangat tergantung pada kualitas pribadi peneliti. Beberapa hal yang penting untuk menjadi peneliti sosial budaya adalah:

  1. Berpemikiran terbuka atau open mind. Banyak hal tejadi secara tidak terduga dalam penelitian di lapangan, baik yang menguntungkan, merugikan maupun menghambat. Oleh karena itu, peneliti sosial budaya dituntut untuk memiliki pemikiran terbuka, sehingga mampu peka terhadap berbagai fenomena yang terjadi di sekelilingnya dan meresponnya secara proporsional.

  2. Rendah hati. Peneliti sosial harus menemui banyak orang dengan berbagai macam karakter. Dari semua orang yang ditemui tersebut, tidak satu pun yang bersedia direndahkan. Oleh karena itu, kerendahan hati bagi seorang peneliti sosial adalah sangat penting, sehingga semua informan merasa dihormati dan dihargai.

  3. Ramah, semanak atau friendly. Agar semua informan merasa nyaman dan aman untuk memberikan informasi, seorang peneliti sosial budaya dituntut untuk memiiki sikap ramah atau dalam bahasa jawa nya semanak (menempatkan orang lain sebagai sanak atau saudara).

  4. Cerdas Sosial. Kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk memperhitungkan situasi dan kondisi yang berkembang di lapangan serta mengambil keputusan yang tepat secara sosial, terutama menyangkut kepentingan masyarakat yang sedang diteliti.

About Sastro Sukamiskin