Pendekatan Narratif dalam Sejarah

narrative types

Ankersmit (1987) menjelaskan bahwa dalam ilmu sejarah terdapat tiga pendekatan, yaitu narrative, hermeneutika dan covering law model. Pendekatan narrative berusaha untuk merekonstruksi peristiwa sejarah dengan menggunakan urutan kejadian sebagai landasan. Oleh karena kompleksitas setiap peristiwa sejarah, maka pendekatan narrative biasanya menggunakan tema sebagai fokus rekonstruksi. Lemon menjelaskan:

We should immediately notice three things from this. First, narrative feeds on things which happen. It is not focused on describing an object, circumstance, or state of affairs, nor on analysing (e.g., explaining, comparing) objects, circumstances, or states of affairs. As already seen, neither description nor analysis is essentially to do with happenings. Narrative, on the other hand, cannot but be structured on ‘things happening’, and in that strong sense, on change. (And we might want to say that if nothing ever changed, there would be no history).

Second, a narrative does not deal with single happenings, but links two or more happenings by the formula ‘this happened, then that’. A single happening is simply expressed by the appropriate verb – for example, ‘he ran down the street’… Now it is true that when we denote a single action or happening (by a verb) it could be argued that the action itself can be broken down into ‘he did this then did that’…

…the third point we should notice; namely, that a narrative is different from a chronicle. A chronicle is the ordering of a class of phenomena in terms of their dates, from the earlier to the later. They may be Acts of Parliament, the battles in a war, the models of a make of car – indeed, any class of things whose instances can be put into succession. Thus a list is produced in ‘chronological’ order; i.e., this (then) this (then) this, and so on. As such, a chronicle tells one no more nor less than when a thing was, or happened, and when the next instance occurred, and so on. It is not identifying something specific ‘out there’, but remains a self-confessedly abstract exercise. (Lemon, 2003: 299 – 300)

Pada kutipan di atas Lemon menjelaskan tiga karakteristik utama dari pendekatan narrative. Pertama, narrative menceritakan hal-hal yang terjadi dengan fokus pada penggambaran tentang suatu objek, situasi, atau keadaan, atau pada analisis (misalnya, menjelaskan, membandingkan) objek, keadaan, atau urusan pemerintahan. Narrative tidak bisa tidak akan terstruktur pada ‘hal-hal yang terjadi’, dan dalam arti yang kuat, tentang perubahan. (Dan kita mungkin ingin mengatakan bahwa jika tidak ada perubahan, tidak akan ada sejarah). Kedua, narasi yang tidak berhubungan dengan kejadian tunggal, tetapi menghubungkan dua atau lebih kejadian dengan rumus ‘ini terjadi, kemudian itu’. Sebuah kejadian tunggal hanya dinyatakan dengan kata kerja yang tepat – misalnya, ‘berlari dia menyusuri jalan’ Adalah benar ketika kita menunjukkan satu tindakan atau peristiwa dengan menggunakan kata kerja itu, mungkin dapat pula tindakan itu dipecah menjadi ‘dia melakukan hal ini kemudian melakukan itu’. Ketiga adalah bahwa narasi berbeda dari sebuah kronik. Sebuah kronik terkait dengan kelas fenomena dalam hal tanggal kejadian, dari awal hingga akhir…. Jadi daftar diproduksi dalam rangka ‘kronologis’, yakni, ini (kemudian) ini (kemudian) ini, dan seterusnya. Dengan demikian, sebuah kronik mengatakan tidak lebih dan tidak kurang tentang ketika sesuatu itu terjadi, dan ketika peristiwa berikutnya terjadi, dan seterusnya.

Penjelasan Lemon secara garis besar dapat dibenarkan untuk menggambarkan pendekatan narrative yang lama, akan tetapi tidak cukup tepat untuk pendekatan narrative modern:

…modern narrative typically focuses on structures and general trends. A modern narrative would break from rigid chronology if the historian felt it explained the concept better. In terms of the French Revolution, a historian working with the modern narrative might show general traits that were shared by revolutionaries across France but would also illustrate regional variations from those general trends (many confluent revolutions). Also this type of historian might use different sociological factors to show why different types of people supported the general revolution.
Historians who use the modern narrative might say that the traditional narrative focuses too much on what happened and not enough on why and causation. Also, that this form of narrative reduces history into neat boxes and thereby does an injustice to history. J H Hexter characterized such historians as “lumpers”. In an essay on Christopher Hill, he remarked that “lumpers do not like accidents: they would prefer them vanish…The lumping historian wants to put all of the past into boxes and then to tie all the boxes together into one nice shapely bundle.”(http://en.wikipedia.org/wiki/Narrative_history; White, 1984: 15)

Pada kutipan di atas dapat dipahami bahwa narrative modern pada umumnya memiliki fokus pada struktur dan kecenderungan umum serta meninggalkan kekakuan kronologi ketika dipandang mampu menjelaskan konsep dengan lebih baik. Dalam hal Revolusi Perancis, seorang sejarawan bekerja sama dengan narasi modern mungkin menunjukkan ciri-ciri umum yang dimiliki oleh kaum revolusioner di Perancis tetapi juga akan menggambarkan variasi regional dari kecenderungan umum (banyak macam ekspresi revolusi). Sejarawan narrative modern juga mungkin menggunakan faktor-faktor sosiologis untuk menunjukkan mengapa berbagai jenis orang yang berbeda-beda mendukung revolusi.

Sejarawan yang menggunakan narrative modern mungkin mengatakan bahwa narasi tradisional terlalu banyak berfokus pada apa yang terjadi dan tidak cukup tentang mengapa dan sebab-akibat. Selain itu, narrative tradisional dipandang terlalu mereduksi peristiwa sejarah ke dalam kotak yang rapi, sehingga tidak adil kepada sejarah. JH Hexter ditandai sebagai sejarawan yang “lumpers” (tukang menyatukan). Sejarawan “lumper” berusaha meletakkan semua masa lalu ke dalam kotak-kotak dan kemudian untuk mengikat semua kotak bersama menjadi satu bundel yang indah dan bagus”.

Selain telah berkembang dengan berusaha melakukan penjelasan sebab-akibat, pendekatan narrative tetap menarik digunakan untuk merekonstruksi peristiwa sejarah karena memiliki keunggulan dalam berkomunikasi dengan pembaca. Pendekatan narrative dipandang lebih mudah dipahami dan kaya makna. Hal itu disebabkan dalam narrative penulis menggunakan bahasa rakyat, sehingga tulisannya mampu berkomunikasi secara intens dengan pembacanya. Selain itu, penulis juga bebas menggunakan metafora dan berbagai perumpamaan yang akrab dalam hidup keseharian pembacanya. Meski tidak secara eksplisit dinyatakan, kaum postmodernis menempatkan model narrative sebagai lebih unggul dalam oposisi biner dengan model analytic yang menyukai gaya bahasa ilmiah dan teknis. Perbedaan dengan modernis, dasar pemikiran bahwa kebenaran bersifat subyektif menjadikan postmodernis tidak melegal-formalkan narrative sebagai model yang harus dipakai oleh kalangan akademik. Dengan kata lain, gaya bahasa ilmiah, teknis dan sophisticated dari model analytic tetap dapat digunakan.

 

SUMBER
Ankersemit F.R, 1987, Refleksi Tentang Sejarah: Pendapat-Pendapat tentang Filsafat Sejarah. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.

Dilthey, W., 1996, Hermeneutics and Study of History. Rudolf AM (editor). New Jersey: Princenton University Press.

Lemon, M.C., 2003, Phylosophy of History. New York: Routledge.

White, 1984, “The Question of Narrative in Contemporary Historical Theory” dalam Jurnal History and Theory, Vol. 23, No.1 (Feb., 1984)

http://en.wikipedia.org/wiki/Narrative_history

About Sastro Sukamiskin