Pendekatan Covering Law Model (CLM) dalam Sejarah

 

clm

Ankersmit (1987) menjelaskan bahwa dalam ilmu sejarah terdapat tiga pendekatan, yaitu narrative, hermeneutika dan covering law model. Pendekatan covering law model (CLM) menyerap metode ilmu-ilmu alam. Pendekatan ini berusaha merekonstruksi peristiwa sejarah dari hukum-hukum atau teori perilaku manusia yang telah ditemukan (Ankersmit, 1987: 124 – 153). Untuk itu, ilmu sejarah membutuhkan ilmu bantu sesuai dengan peristiwa yang hendak dikaji. Di Indonesia, CLM dikenal luas sebagai pendekatan interdispliner atau ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan oleh Sartono Kartodirdjo. Setiap fenomena historis ditempatkan sebagai realitas sosial yang berada dalam masyarakat sebagai satu sistem dan merupakan hasil dari gerak saling mempengaruhi antar unsur dalam sistem tersebut. (Kartodirdjo,1992: 54)

Dalam rangka menggambarkan sistem yang melingkupi setiap fenomena historis, Christopher Lloyd (1988: 175 – 176) mengkategorisasi model penjelasan menjadi:

  1. dramaturgi, yaitu masyarakat dipandang analog dengan sebuah drama lengkap dengan gedung, panggung, ruang rias, skenario, peran, pemeran, sutradara dan bahkan kritikus.
  2. Nomologi, yaitu masyarakat dipandang sebagai struktur peraturan dan undang-undang yang secara relatif ditaati oleh setiap anggotanya. Peraturan dalam konteks ini dapat berupa berbagai macam dan berlaku pada berbagai tingkatan, seperti analisis tata bahasa yang dikembangkan oleh Levi-Strauss maupun psiko analisis Freud tentang alam bawah sadar.
  3. Organisasi relasi, yaitu masyarakat dipandang sebagai struktur relasi interpersonal antar berbagai unsur dan membentuk jaringan yang menjadikan saling terhubung dan saling tergantung.
  4. Sistemik-organik-sibernetik, yaitu masyarakat dipandang sebagai satu sistem yang terintegrasi secara kokoh dengan setiap bagiannya bertindak secara fungsional untuk mendukung terciptanya keseimbangan atau equilibrium pada tingkat keseluruhan.
  5. Ekologi, yaitu masyarakat dipandang sebagai bagian sistem keseimbangan alam tempat terjadinya pertukaran energi antar bagiannya. Kecenderungan untuk terjadinya pertumbuhan, kemunduran dan disequilibrium dipahami sebagan seimbang dengan kecenderungan ke arah equilibrium.

SUMBER
Ankersemit F.R, 1987, Refleksi Tentang Sejarah: Pendapat-Pendapat tentang Filsafat Sejarah. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.
Kartodirdjo, Sartono,1992, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia
Lloyd, Christopher, 1988, Structures of History. Cambridge: Blackwell Publishers.

About Sastro Sukamiskin