Pelayaran Nusantara

Dengan hidup berlandaskan keempat nilai utama, suku-suku bangsa nusantara berhasil mengembangkan kehidupan yang paling baik bagi diri mereka. Pada masyarakat pertanian berkembang berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkait dengan kegiatan pertanian. Mereka menemukembangkan perhitungan musim tanam dan panen, pengobatan, pemupukan, pengairan, kerajinan gerabah, peralatan tani, pertukangan dan juga pengecoran tembaga serta kerajinan perhiasan. Pada masyarakat maritim berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan. seperti perbintangan, arah angin, teknologi pembuatan kapal dan penangkapan ikan. Di bidang perkapalan, masyarakat nusantara berhasil mengembangkan teknologi transportasi air dari sampan sampai kapal bercadik.

Teknologi kelautan yang dikembangkan secara bertahap mampu melahirkan jaringan perdagangan dan kebudayaan yang menjangkau seluruh pulau di nusantara. Melalui jaringan perdagangan nusantara, kelangkaan suatu daerah terhadap hasil bumi tertentu dapat dipenuhi dari daerah lain yang kelebihan, sehingga terjadi keseimbangan. Kelebihan rempah-rempah yang terjadi di Sumatra, Maluku dan pulau-pulau lainnya dapat disalurkan ke daerah-daerah yang membutuhkan. Oleh karena itu, menjadi wajar apabila kemudian terbentuk perasaan sebagai bangsa dan bahasa serumpun diantara warga nusantara. Bahkan dengan kapal bercadik, bangsa nusantara berlayar ke dunia internasional.

Aktifitas pelayaran dan perdagangan di tingkat internasional menjadikan bangsa nusantara bertemu, berkenalan dan berinteraksi dengan berbagai bangsa. Jejak-jejak pelayaran antara lain dapat disimak dari catatan-catatan serta bentuk-bentuk lain peninggalan sejarah berbagai bangsa terhadap bangsa nusantara. Sebagai contoh adalah peta Claudius Ptolemeus. Dalam kitabnya yang berjudul Geograhike Hyphegesis yang ditulis pada abad ke-2, Ptolomeus menyebutkan adanya sebutan kota Argyre di timur jauh yang terletak di ujung Pulau labadiou. Labadio yang subur dan banyak menghasilkan emas dapat dicapai setelah 5 Pulau Barousai dan 3 Pulau Sabadibai. Laba adalah pengucapan bahasa Latin dari kata Jelai, sedang diou artinya pulau. Kata dari bahasa Yunani itu untuk menyebut sebuah wilayah yang dalam bahasa Prakerti sebagai Yawadiwu atau Yawadwipa dalam bahasa Sankskerta, yang artinya juga pulau jelai.

Apabila bangsa Romawi tidak pernah melakukan pelayaran sampai ke Asia Tenggara, dari manakah pengetahuan tentang nusantara itu diperoleh? Tentu dari cerita atau perkenalan dengan para pelaut nusantara yang sampai di Laut Tengah (Mediterania). Dari sini, terlihat bahwa India dan Cina dikenal melalui jalur darat yang dikenal sebagai Jalur Sutera, sedang nusantara atau pada masa itu dikenal juga sebagai Jawadwipa dikenal dunia melalui jalur laut.

Jalur layar

Jalur Pelayaran dan Perdagangan Bangsa Nusantara

 

Jejak pelayaran nusantara juga dapat ditemui pada legenda Baiini (Baijini) yang terdapat pada suku Yirrkala (bangsa Aborigin) di Arnhem, Australia. National Museum of Australia membuat catatan sebagai berikut:

Visitors to the north coast of Australia in modern times may have been Malay sea gypsies, roaming fishermen found in all parts of the Malay archipelago. Aboriginal legends refer to them as the Baijini gypsies.

In the songs that record and preserve their traditions, Aboriginal people of Arnhem Land tell of the Baijini gypsies with copper coloured skin who visited their shores. Aboriginal people still sing of the sailing vessels that the Baijini men came ashore in, the stone houses they constructed on the Australian mainland, the cloth the women wove and dyed, the clothes they wore, and how they hunted for fish and tended small gardens.

The Baijini men and women are said to have sailed to the coast in vessels and settled at various places for fairly long periods.

The Baijini women wore colourful sarongs, stitched sails for their vessels and cultivated rice in at least two regions.

The Baijini’s ways of growing food are recorded extensively in traditional songs of the Aboriginal people of north-eastern Arnhem Land.

Aboriginal people collect the roots of a type of grass which they say grew up in place of the abandoned rice gardens left behind by the Baijini when they left the coast of Australia. This grass is known as spike-rush. (http://www.nma.gov.au/__data/assets/pdf_file/0020/340571/AHM_21-36.pdf)

Dari kutipan di atas dijelaskan bahwa orang-orang nusantara datang ke pantai utara Australia.  Kehadiran mereka dilestarikan melalui legenda bangsa Aborigin yang dikenal sebagai legenda Baijini.

 

Selain melalui legenda, bangsa Aborigin juga membuat lagu-lagu yang merekam dan melestarikan tradisi mereka. Bangsa Aborigin di Arnhem menceritakan bahwa bangsa Baijini memiliki kulit berwarna  yang lebih cerah dari pada kulit mereka. Bangsa Aborigin sampai sekarang masih menyanyikan kisah bagaimana orang-orang Baijini mendarat di wilayah mereka dengan menggunakan kapal layar dan membangun rumah-rumah batu di daratan Australia, perempuannya memakai pakaian tenun yang dicelup pewarna, dan mereka memburu ikan dan membuka kebun kecil.

Kapal bercadikPria dan wanita Baijini dikatakan datang dengan berlayar ke pantai dan menetap di berbagai tempat untuk waktu yang cukup lama. Para wanita Baijini mengenakan sarung berwarna-warni, layar dijahit untuk kapal mereka dan membudidayakan beras dalam setidaknya dua wilayah.

 

Cara-cara bangsa Baijini bertani dicatat secara ekstensif dalam lagu-lagu tradisional masyarakat Aborigin daerah Arnhem dari utara-timur.

Orang-orang Aborigin sampai sekarang masih melestarikan tradisi mengumpulkan akar dari jenis rumput yang mereka katakan dibesarkan di tempat kebun beras ditinggalkan oleh Baijini ketika mereka meninggalkan pantai Australia. Rumput ini dikenal sebagai rumput rambut.

Jejak pelayaran nusantara yang lain terdapat pada cerita bangsa India yang sangat terkenal, yaitu epos Ramayana. Salah satu kerajaan di luar India yang disebut dalam epos itu adalah Javadwipa (pulau Jawa). Diceritakan bahwa Javadwipa merupakan kerajaan yang kaya akan emas dan perak.

sastrosukamiskin@yahoo.com'

About Mbah Sastro