Pejuang Pelestari Gumuk Pasir Parangtritis

Disusun oleh: Dominico Argo Wikan (135114028) & Frendy Christian (135114037)


 

Gumuk Pasir Parangtritis

Gumuk pasir atau biasanya di sebut gurun pasir, biasanya dapat dijumpai di daerah beriklim kering dan berangin seperti di Afrika, gurun Gobi di Tiongkok maupun di beberapa daerah di Australia. Namun walaupun di negara Indonesia yang beriklim tropis dan memiliki curah hujan tinggi ternyata ada juga daerah yang memiliki kondisi alam yang memungkinkan adanya  gumuk pasir. Salah satunya ada di daerah pesisir Parangtritis, Bantul. Gumuk pasir Jogja memiliki keunikan tersendiri karena berdekatan dengan pantai.

Gumuk pasir di Parangtritis sebenarnya sudah terbentuk sejak lama, namun gaungnya sebagai potensi wisata baru terdengar sekitar 10 tahun terakhir. Dari mulut ke mulut, ataupun para wisatawan yang mengupload foto di sosial media, secara tidak langsung telah menjadi promosi kepada khalayak luas. Mulai dari situ kemudian banyak stasiun televisi yang meliput keberadaannya, sehingga banyak orang yang mulai tertarik untuk melihatnya secara langsung. Bahkan gumuk pasir di Parangtritis pernah digunakan untuk pembuatan video klip dan pengambilan gambar dalam film karena keindahan panoramanya yang unik.

Gumuk Pasir di pesisir Parangtritis menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke pantai Parangtritis dan sekitarnya. Banyak dari mereka yang menyempatkan untuk mampir di kawasan gumuk pasir untuk menikmati keindahan gumuk pasir atau berfoto untuk mengabadikan momen berlatar belakang padang pasir yang luas yang tidak di seluruh daerah ada.

Gumuk Pasir (sand dunes) terletak di kawasan Parangtritis memanjang ke Barat hingga Pantai Depok, berbatasan dengan desa Sono dan Samiran di sebelah utara, dan Grogol 9 dan Grogol 10 di sebelah tenggara. Gumuk pasir di kawasan Parangtritis merupakan fenomena alam yang terbentuk selama ratusan tahun. Pasir itu berasal dari material vulkanik Gunung Merapi yang mengalir ke beberapa sungai lalu terbawa sampai laut selatan. Karena dihempas ombak pasir di laut kemudian terbawa ke pantai dan kemudian dihembuskan oleh angin menuju ke wilayah sekitarnya membentuk bukit-bukit dalam beragam bentuk.

 

Proses terbentuknya Gumuk Pasir

Banyak dari kita pasti bertanya-tanya, mengapa ada pasir sebanyak itu yang berkumpul dan membentuk suatu gurun pasir, bagaimana proses bisa menjadi gumuk pasir yang tinggi atau besar?

Berikut penjelasannya, di Indonesia yang dikenal dengan iklim tropisnya yang dimana curah hujannya bisa dikatakan sangat tinggi, sulit membayangkan ada gumuk pasir seperti yang ada di Afrika yang memiliki iklim panas atau kering.

https://deanpembajaksawah.files.wordpress.com/2009/12/untitledh.jpg?w=300&h=147

Pada gambar peta lokasi diatas ini, dapat dilihat bahwa ada satu sungai utama yang besar yang melintasi bukit-bukit dan gunung-gunung dan akhirnya membawa material dari gunung-gunung api yang masih aktif, yaitu sungai Progo. Sungai Progo merupakan sungai utama yang membawa hasil gerusan batu-batuan vulkanik yang berasal dari Gunung Merapi-Merbabu, bahkan material dari gunung Sindoro yang berada disebelah laut sungai ikut terbawa pada aliran sungai Progo. Kemudian material vulkanik terbawa oleh aliran sungai dan bermuara di pantai selatan Yogyakarta. Dari situ pasir yang telah sampai di muara masuk ke laut dan secara alami terhempas oleh ombak dan menepikan pasir-pasir tadi di pantai. Angin membawa, mendorong pasir ke utara dan kemudian secara perlahan membentuk bermacam-macam tipe gumuk pasir. Karena proses angin maka disebut sebagai bentang alam aeolean (aeolean morphology). Aeolean adalah sebutan dari sebuah proses yang didalamnya terdapat kontribusi angin. Ada beberapa macam tipe Gumuk Pasir yaitu Barchan, Tranversal, Parabolik dan Longitudinal. Gumuk Pasir yang ada di Pantai Parangtritis memiliki salah satu tipe yaitu Gumuk Pasir tipe Barchan. Gumuk Pasir tipe Barchan inilah yang sangat langka dan spesial karna hanya ada 2 di dunia, yang pertama Mexico dan yang kedua ada di Negara kita Indonesia. Gumuk Pasir bertipe Barchan adalah gumuk pasir yang membentuk seperti bulan sabit.

 

Ancaman kerusakan Gumuk Pasir

Dibalik pesonanya yang indah, gumuk pasir di Parangtritis ternyata mulai rusak karena beberapa faktor. Masalah paling mengkhawatirkan saat ini ialah keberadaan belasan kolam tambak udang di sisi selatan gumuk pasir yang menghadap langsung ke laut. Budianto sebagai ketua umum komunitas Save Our Sand Dunes Live (SOSDL), mencatat tambak-tambak udang ini tersebar di lima titik kawasan gumuk pasir sejak setahun lalu. Di setiap titik, ada dua hingga empat kolam tambak udang. “Ini merusak gumuk!”, kata dia.

Pengelola tambak adalah kelompok pembudidaya ikan yang beranggotakan warga sekitar gumuk pasir. Menurut Budianto, mereka gemar membuang sembarangan limbah air saat panen. Air bercampur obat dan sisa pakan udang berwarna hitam pekat serta berbau menyengat dibuang langsung ke laut. Mereka juga menanam pipa di dalam pasir untuk mengalirkan air limbah ke laut.

Dua kolam tambak udang juga muncul di sisi timur pantai Parangtritis atau di dekat bukit Parangendog yang hanya berjarak sepelemparan batu dengan bibir pantai. Beberapa hari lalu, menurut Budianto, kolam ini panen untuk pertama kali dan membuang air limbah langsung ke pantai. “Baunya menyengat. Banyak warga mengeluh karena itu menganggu wisatawan,” kata dia.

Menurut Badan Lingkungan Hidup Bantul, usaha tambak udang jenis vannamei di Bantul mulai marak tahun 2013. Diperkirakan ada sekitar 240 pengusaha tambak yang tersebar di Kecamatan Srandakan, Kretek, dan Sanden dengan luas areal tambak sekitar 30 hektar. Hampir semua tambak itu ilegal karena dibuat di atas lahan milik Keraton Yogyakarta tanpa dilengkapi izin apa pun.

Budianto menuturkan, pembangunan tambak udang di gumuk pasir terjadi karena lemahnya pengawasan. ”Pembangunan tambak udang di gumuk pasir sudah terjadi lebih dari setahun lalu, tapi sepertinya enggak ada pencegahan dari pemerintah,” katanya.

Budianto heran dengan sikap Pemerintah Kabupaten Bantul dan DI Yogyakarta yang membiarkan tambak-tambak udang beroperasi di gumuk pasir Parangtritis meski sudah berstatus kawasan lindung geologi. Apalagi keberadaan tambak udang di dekat bibir pantai Parangtritis, yang ramai wisatawan, juga dibiarkan.

Dan dia juga mengatakan masalah pemicu kepunahan gumuk pasir Parangtritis bukan hanya tambak. Di kawasan ini sekarang semakin banyak pembukaan petak lahan pertanian oleh warga sekitar dan tegakan pohon cemara udang yang ditanam melalui program penghijauan pemerintah. “Tambak, lahan pertanian, dan pohon cemara udang menahan angin pembentuk gumuk,” kata dia.

Faktor-faktor tersebut yang menghambat laju angin ke utara yang seharusnya mendorong pasir untuk kemudian membentuk gumuk pasir, sehingga asupan pasir pun berkurang. Padahal, gumuk pasir memiliki fungsi ekologis yang penting, misalnya untuk mencegah intrusi atau peresapan air laut ke lapisan air tanah. Jika gumuk pasir dirusak, wilayah pesisir akan mudah terkena abrasi atau pengikisan daratan pantai karena gelombang air laut.

 

Latar belakang berdirinya Save Our Sand Dunes Lives

sosdl

Komunitas Save Our Sand Dunes Lives (SOSDL) ini dideklarasikan pada tanggal 18 Juli 2014 di pesisir Parangtritis Yogyakarta. Komunitas ini diketuai oleh mas Budianto sebagaimana dia adalah sang narasumber dari wawancara kita. Dimana mas Budianto ini sering dipanggil atau akrab dengan panggilan Budi Bambu, karena diluar komunitas SOSDL ini dia adalah seorang seniman pengrajin bambu.

Pada awalnya tidak ada kepedulian dari berbagai elemen masyarakat, hal inilah yang menimbulkan keresahan dari beberapa orang yang mempunyai misi dan cita-cita yang sama yaitu melestarikan gumuk pasir. Dari seringnya mereka berkumpul, sharing dan saling bertukar pikiran akhirnya mereka sepakat untuk membentuk suatu komunitas yang bernama Save Our Sand Dunes Lives (SOSDL) yang dideklarasikan di gumuk pasir. SOSDL mempunyai base camp yang berlokasi di pinggir pantai parangkusumo. Base camp itu diberi nama GARDUaction. Kenapa saya menuliskan garduaction dengan gardu menggunakan huruf kapital? Bukannya tidak sengaja ataupun typo, namun memang penulisannya seperti itu. Kata sang ketua umum komunitas SOSDL yaitu mas Budianto, GARDU disini adalah suatu akronim dari Garbage Care and Education memiliki arti yang bertujuan untuk pengelolaan sampah dan pendidikan untuk seluruh anggota bahwasanya tidak semua sampah itu tidak berguna, namun apabila kita pintar untuk memilah sampah kita dapat memanfaatkan sampah tersebut menjadi hal yang berguna. Maka dari itu di GARDUaction mempunyai sudut tersendiri yang digunakan sebagai bank sampah.

Kegiatan yang mereka agendakan adalah mengkampanyekan kepada masyarakat warga setempat maupun wisatawan tentang pelestarian gumuk pasir. Kampanye yang dilakukan seperti sosialisai kepada warga tentang pentingya fungsi gumuk pasir di parangtritis. Lalu ada pula gerakan aksi bersama SOSDL bersama warga sekitar dan yang turut berpartisipasi dengan judul “Reresik Gumuk”. Reresik Gumuk adalah kegiatan memunguti sampah-sampah yang mengotori wilayah gumuk pasir dan pesisir parangtritis. Sampah-sampah yang terkumpul kemudian di bawa ke bank sampah SOSDL dan dipilah-pilah untuk memisahkan sampah yang masih bisa dimanfaatkan atau tidak. Sampah yang bisa dimanfaatkan biasanya seperti botol plastik, kayu-kayu dan apapun yang bisa digunakan untuk kerajinan tangan. Ada juga sebagian sampah yang masih bisa dijual kemudian dijual ke pengepul. Kemudian sampah yang telah disulap menjadi kerajinan tangan digunakan sebagai penghias sudut-sudut GARDUaction sehingga tampak menarik untuk dikunjungi.

D:\5th\PKn\New folder\P_20151101_160359.jpg

GARDUaction sebagai base camp SOSDL terbuka untuk umum, karena ini adalah salah satu bentuk kampanye pelestarian gumuk pasir yang dilakukan mas Budianto dan kawan-kawan kepada para pengunjung maupun wisatawan Parangtritis yang mampir ke GARDUaction. Untuk masuknya pun juga tidak dipungut biaya. Di area lahan terbuka yang memanjang sampai pantai Parangkusumo ini, pengunjung dapat melihat-lihat kerajinan tangan dari sampah yang cantik. Ada juga disediakan kursi-kursi untuk nongkrong dan bersantai sembari mengobrol dan menikmati desiran angin pantai yang pastinya membuat betah untuk berlama-lama disana.

 

Kesulitan dalam memepertahankan komunitas ini

Dalam menghidupkan komunitas ini, saya secara jujur masih perlu banyak dukungan dari berbagai pihak yang tentunya memiliki visi dan misi yang sama dengan pilar SOSDL. Banyak kekurangan biaya, masing-masing dari kami secara suka rela menutupi kekurangan operasional, kami kesulitan untuk mendapatkan donatur,” kata Mas Budianto.

Sebagai informasi, Gumuk Pasir merupakan sebuah fenomena alam yang terbentuk dalam kurun waktu ratusan tahun. Fenomena Gumuk Pasir berbentuk Bulan Sabit atau Barchan hanya terdapat di Parangtritis dan di Meksiko. Dalam upaya menyelamatkan hal itu, pihaknya mengusulkan pada pemerintah untuk memetakan wilayah gumuk pasir dengan zonasi : zona pertanian perikanan dan ternak, zona pengembangan usaha wisata, zona pemukiman, serta zona bebas. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis pada 2012-2013, gumuk pasir tersisa sekitar 45 hektar. ”Karena itu, kalau Pemkab Bantul punya niat baik melindungi lingkungan pesisir, seharusnya gumuk pasir benar-benar dijaga,” katanya.

Untuk itu, gumuk pasir layak ditetapkan sebagai area konservasi. Penetapan gumuk pasir sebagai area konservasi juga bisa diikuti pengembangan kawasan itu menjadi tempat penelitian dan obyek wisata. ”Sangat penting untuk menjaga gumuk pasir yang masih ada karena rehabilitasi gumuk yang sudah rusak sulit dilakukan,” ujarnya.

“Aksi sosial ini tentunya akan lebih berhasil jika masyarakat dikawasan pantai Parangtritis dapat ambil bagian dalam pelestarian gumuk pasir dan upaya penanganan sampah. Kami juga terus mencari solusi terbaik bersama masyarakat untuk menanggulangi kerusakan gumuk pasir, semoga semua pihak mendukung kami,” tutup Mas Budianto ramah.

 

Sand Dunes Live in Concert, sebagai salah satu bentuk kampanye

Pada 14 Februari 2015, bertepatan pada hari Valentine, komunitas Save Our Sand Dunes Lives (SOSDL) melakukan gebrakan melalui aksi sosial bertajuk Sand Dunes Live in Concer. Aksi sosial ini berupa pertunjukan musik dengan bintang tamu band asal Ceko. Acara ini digelar diatas gumuk pasir yang lapang yang zonanya memang dikhususkan untuk kegiatan bebas.

“Selain pertunjukan konser kami juga melakukan sejumlah aksi sosial seperti melakukan pembersihan pantai, pembersihan pada kawasan gumuk pasir serta diskusi dan sharing akan penyelamatan lingkungan bersama komunitas polyglot,” jelas mas Budiyanto.

Melalui program ini, pihaknya memiliki harapan besar akan penyelamatan gumuk pasir dimana beberapa waktu terakhir ini sempat disalahgunakan menjadi lokasi tambak udang yang pastinya mengganggu ekosistem kawasan pesisir pantai. Tantangan pun tidak berhenti di situ, ancaman lain pun datang dari instansi yang menginginkan penghijauan disekitar gumuk pasir.

“Kalau sampai ini terjadi, 5 tahun kedepan gumuk pun bisa musnah karena proses pembuatan kan melibatkan angin, jika penghijauan marak maka otomatis angin akan terhalang,” tambahnya.

Melalui konser ini, selain ingin menyadarkan generasi muda, mereka juga berharap agar komponen aparatur pemerintah, organisasi lingkungan hidup dan masyarakat sendiri lebih peduli dan dapat turun secara langsung menjaga kelestarian pantai dan gumuk pasir.

 

Harapan SOSDL

Save Our Sand Dunes Lives (SOSDL) adalah komunitas generasi kekinian peduli Gumuk Pasir Parangtritis. Komunitas kolektif terbuka untuk bersama belajar, melihat, mendengar, dan berbicara tentang pentingnya Gumuk Pasir Parangtritis, mencoba fokus terhadap wacana strategi penyelamatan dan dengan berbagai kegiatan program lapangan untuk memperjuangkan kelestarian gumuk pasir Parangtritis.

SOSDL adalah wadah bagi generasi muda yang peduli gumuk pasir dan pantai Parangtritis dan sekitarnya. Diharapkan generasi muda ini akan meneruskan cita-cita dan perjuangan yang belum terselesaikan, dan melanjutkan tongkat estafet untuk bisa menghadirkan kembali gumuk pasir barchan di Parangtritis yang nantinya akan menjadi warisan alam yang akan membanggakan Indonesia. Fenomena Gumuk Pasir ini ada beberapa daerah di dunia, namun Gumuk Pasir Bulan Sabit atau Barchan hanya terdapat di Parangtritis dan di Meksiko, merupakan aset alam yang luar biasa. Tentunya apabila barchan yang langka bisa muncul kembali pasti dapat meningkatkan pariwisata lokal maupun mancanegara ke Parangtritis dan kesejahteraan ekonomi warga sekitar diharapkan dapat terangkat.

Sosialisasi terhadap masyarakat akan pentingnya pelestarian Gumuk Pasir di Parangtritis harus gencar dilakukan.

SOSDL setelah beberapa kali melakukan kampanye pelestarian gumuk pasir, akhir-akhir ini mereka sedang wait and see terhadap respon pemerintah. Tindakan pemerintah yang terkini adalah memetakan gumuk pasir dengan zonasi, dan patok-patok areal pun sudah didirikan, tinggal menunggu apa tindakan pemerintah selanjutnya. Diharapkan patok-patok yang sudah didirikan tersebut tidak hanya menjadi penghias gumuk pasir, namun juga ada langkah lanjut yang serius dari pemerintah.

Kelestarian situs alam raksasa ini akan terjaga dengan baik jika aparatur pemerintah, masyarakat setempat, masyarakat umum dan lembaga-lembaga lingkungan hidup serta unsur-unsur yang lain bersatu melindungi secara terstruktur dan terorganisir.

sodiptabadiabanurea@gmail.com'

About Sodipta