Paguyuban Karangwuni Menolak Pembangunan Apartement Uttara

Paguyuban Warga Karangwuni Menolak Pembangunan Apartemen Uttara

Oleh :

Agustinus Afrano Amran(145314005) & Aditya Tri Wardhana (145314040)

Warga Karangwuni ,Sleman ,Yogyakarta tidak dapat berhenti resah karena pembangunan Apartemen Uttara The Icon di Jalan Kaliurang Km. 5,3 tetap berjalan. Warga yang tergabung dalam Paguyuban Warga Karangwuni Tolak Apartemen Uttara (PWKTAU) yang terbentuk pada bulan November tahun 2013 kemarin , telah menyuarakan penolakan sejak awal 2014. Namun , hal tersebut tidak diindahkan oleh PT Bumi Alam Permata selaku pengembang Uttara. Akibatnya , proyek pembangunan yang tengah berlangsung sangat mengusik dan merugikan warga sekitar.

Bagaimana terbentuknya Paguyuban Karangwuni ini ? itu karena dari pihak Uttara (Apartement) sudah melakukan pelanggaran , dari pihak apartement sendiri mengadakan sosialisasi ke warga Karangwuni , tetapi warga Karangwuni yang diundang bisa dihitung jari / sedikit saja . “yang diundang ke acara sosialisasi The Icon cuma beberapa orang saja , mungkin tidak lebih dari 10 orang” kata Pak Imam , selaku ketua RT Karangwuni . Kemudian tanpa persetujuan warga Karangwuni , pihak Apartement langsung mendirikan / mulai proses membangun apartement “The Icon” tersebut berlokasi tepat di sebelah gang warga Karangwuni . Kemudian , warga Karangwuni berkumpul dan berdiskusi masalah pembangunan ini , dan terbentuklah “Paguyuban Karangwuni” yang menolak pembangunan Apartement Uttara tersebut.

Saat mewawancarai Bapak Adiono selaku pengurus PWKTAU , Ia mengatakan “Di Undangan sosialisasi pertama , mereka mengatakan hanya akan mendirikan indekos eksklusif . Kemudian tiba – tiba daftar kehadiran sosialisasi dilampirkan menjadi daftar persetujuan , dan proses pembuatan berita acara ada poin yang menyebutkan bahwa warga Karangwuni tidak keberatan dengan pembangunan apartement Uttara ” The Icon” terangnya .

Proses pembangunan Uttara telah memberikan dampak negatif, utamanya bagi warga RT 1 Karangwuni. “Selama hampir empat bulan, nyanyian pengantar tidur kami adalah suara mesin, getaran, atau dentuman yang membuat kami merasa tidak nyaman. Kami kehilangan hak asasi atas jam belajar dan istirahat,” ujar warga RT 1 Karangwuni yang juga menjabat sebagai Sekretaris PWKTAU . Selain itu , dampak lain juga mengancam warga RT 1 Karangwuni , misalnya air yang tidak pernah kering , karena pembangunan tersebut menggunakan alat – alat berat dan memerlukan banyak pasir , debu – debu yang bertebaran membahayakan pernafasan bagi warga di sekitar Apartement , termasuk warga RT 1 Karangwuni tersebut . Selain itu , tanaman – tanaman yang berada di sekitar (terutama di belakang Apartement ) kekurangan cahaya dari Matahari yang menyebabkan layu nya tanaman tersebut . (dan karena bangunan tersebut lebih tinggi dari rumah – rumah warga , dan juga sekitar daerah Karangwuni lebih sering terjadi kemacetan .

Beberapa pengurus PWKTAU pun sempat mendapatkan ancaman dan intimidasi dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Di lain kesempatan, oknum-oknum berbadan tegap dengan sengaja melakukan perusakan spanduk yang berisi penolakan terhadap pembangunan Uttara dan pihak Apartement sendiri me-rekrut orang – orang muda untuk bergabung ke dalam PWKTAU , rencana nya untuk membujuk agar spanduk penolakan apartement Uttara tidak di pasang . Akibatnya, PWKTAU tidak segan mengajukan gugatan kepada BLH, DPRD, dan Bupati Sleman yang dinilai bertanggung jawab atas timbulnya konflik ini. PWKTAU juga telah mendapatkan dukungan dari Komnas HAM Yogyakarta, Ombudsman Yogyakarta, Pusat Kajian Bantuan Hukum UGM, Wahana Lingkungan Hidup Yogyakarta, dan berbagai LSM lain di Yogyakarta.

Dari pihak Apartement sendiri , untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan warga sekitar , terutama Karangwuni , mereka memberikan sebuah kompensasi bagi warga Karangwuni , yaitu akan membantu pembangunan balai dusun warga Karangwuni , sebagian orang kurang lebih 150 orang setuju dan terbentuklah Paguyuban Karangwuni yang mendukung berdirinya Apartement Uttara tersebut. “ Kami tidak dirugikan karena nantinya warga apartemen pasti akan membaur ke masyarakat. Apartemen Uttara juga akan membawa kemajuan bagi perekonomian di Karangwuni , ” kata Hartono , Pembina PWKPP. Pada 2 April lalu, PWKPP melakukan aksi di depan kantor DPRD Sleman sebagai bentuk dukungan pembangunan Uttara. “ Sebagai bentuk kompensasi dari dukungan kami , pihak apartemen ternyata memberikan bantuan untuk membangun balai dusun ,” tambah Hartono.

Keberadaan kubu pro dan kontra di antara warga Karangwuni tak ayal mendatangkan sumber permasalahan baru, seperti yang diungkapkan oleh Adiono, “Sekarang otomatis jadi terasa tidak rukun dan tidak harmonis. Seperti ada perang dingin . ” Kobaran semangat warga Karangwuni menolak pembangunan apartemen Uttara muncul sejak diadakannya sarasehan Yogya diskusi pembangunan apartemen pada bulan Agustus 2014 “penolakan ini dimulai dari diskusi-diskusi kecil yang waktu itu kami bangun sekitar bulan Agustus 2014, walaupun pada waktu itu partisipasi warga masih sedikit namun kami percaya mereka akan sadar bahwa pembangunan apartemen hanya menguntungkan beberapa pihak saja terbukti pada hari ini semakin banyak warga yang peduli dan menolak pembangunan apartemen Uttara,” selain mengadakan diskusi kecil – kecilan , sebagian tembok – tembok di gang kami juga ada mural yang menolak tentang pembangunan apartement Uttara “The Icon” tersebut , contohnya lukisan tentang go green , karena pembangunan apartement tersebut sungguh sangat mengganggu aktifitas warga , selain go green juga ada lukisan air , karena akibat pembangunan tersebut air di Karangwuni tidak pernah kering .

Pak Imam selaku ketua RT Desa Karangwuni juga mengungkapkan perlunya kekuatan bersama untuk menolak pembangunan apartemen Uttara demi lingkungan yang asri, damai, tentram dan tidak semwrawut. “kami warga Karangwuni sadar akan lingkungan, sadar bahwa kami tertindas karena apartemen ini yang akan dibangun 3 (tiga) lantai kebawah dan 15 (lima belas) lantai ke atas akan mengganggu distribusi pencahayaan sinar matahari, mengganggu sinyal, dan suasana Yogya yang berhati nyaman akan tergerus dengan adanya karut marut pembangunan gedung yang tidak sesuai dengan tata kota yang baik,” ucapnya.

Paguyuban ini juga sudah melakukan beberapa aksi untuk menolak pembangunan Apartement Uttara tersebut , PWKTAU sudah memberikan surat  kepada Bupati dan Demo . Tetapi tetap saja tidak ada tanggapan yang dibalas . Lalu adanya spanduk penolakan di depan gang RT 1 Karangwuni , telah di rusak oleh preman – preman atas suruhan pihak Apartement demi kelancaran pembangunan itu . selain perusakan , Ada preman – preman yang datang ke tempat Pak Imam ( Ketua RT ) untuk menekan agar menyetujui pembangunan apartement tersebut .

Sebenarnya Pak Imam ( Ketua RT ) saat kami wawancarai sempat bingung dengan kompensasi dari pihak Apartement yang akan membantu membangun balai desa mereka , ” Kalau balai desa , hanya digunakan untuk rapat dan berkumpul para pengurus warga Karangwuni , mengapa harus di buat tingkat dua dan mengapa juga harus melalui bantuan dari pihak apartement , padahal ada uang khas yang masih tersimpan .” ujar Pak Imam .

PWKTAU memiliki tujuan selain menolak pembangunan apartement Uttara , adalah mengembalikan hak – hak warga Karangwuni dan mengembangkan kehidupan bersosialisasi antar sesama warga .

Prestasi yang dicapai juga lumayan bagus untuk Paguyuban ini , karena Paguyuban ini memiliki tujuan utama yaitu penolakan terhadap pembangunan Apartement Uttara “The Icon” di Kaliurang , pihak apartement bagian Marketing apartement mulai goyang , dan sampai sekarang PWKTAU masih berhasil mempertahankan hak mereka .

adityawardhana04@yahoo.com'

About adityawardhana