NAFS-I-GIRA: Asiknya Belajar Musik Ada di Sini

Musik tak ubahnya bahasa, mengungkapkan pikiran dan rasa; juga gerbang belajar kehidupan. Hanya lewat musik, kedisiplinan bisa berbaur dengan keluwesan dan kebebasan.

nafsi aaaa

Pada hari Rabu malam yang lalu (25/3) kami mendatangi sebuah rumah sederhana yang tidak jauh berbeda dengan rumah di sekitarnya. Terletak di daerah Plaosan RT 01 RW 20, Desa Tlogoadi Sleman, Yogyakarta, yang merupakan basecamp dari komunitas NAFS-I-GIRA. Kami disambut baik oleh pengurus sekaligus pendiri komunitas ini, beliau memperkenalkan dirinya sebagai Yulius Panon Pratomo atau bisa dipanggil Mas Yus. Beliau lah yang kami wawancarai untuk mengenal lebih jauh tentang komunitas ini. NAFS-I-GIRA merupakan komunitas berbasis musik yang berupaya memanfaatkan musik sebagai sarana kreatif untuk mencerahkan masyarakat melalui pendidikan dan pertunjukan.

Ada pun alamat yang kontak dan telpon yang dapat dihubungi: sognamo_yus21@yahoo.com dan 0856 4761 9662. Dokumentasi audio visual dapat dilihat di youtube lewat yuspanonpratomo@gmail.com.

DI BALIK NAMA NAFS-I-GIRA

NAFS-I-GIRA diambil dari kata Arab dialek Pakistan yang berarti pencerahan. Pengambilan nama ini di latarbelakangi oleh pencerahan dalam semangat komunitas ini.

SEJARAH SINGKAT TERBENTUKNYA NAFS-I-GIRA

Pada sekitar bulan Agustus di tahun 2007, tepatnya pada saat tujuh belasan, Mas Yus yang pada saat itu tinggal di Kampong Gandok, Wedomartani, diberikan kesempatan untuk mengiringi paduan suara Pemuda Karang Taruna yang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Namun, pada saat latihan paduan suara tersebut ternyata berisikan dua belas nada suara yang tidak padu sehingga terdengar tidak senada dan kacau. Berarti untuk menjadi warga negara yang “asik” perlu bisa bernyanyi dengan tepat.

Sebagaimana pengalaman dari mas Yus, kita perlu bisa bernyanyi lagu nasional dengan tepat dan belajar untuk tidak fals. “Belum lagi, sebagai warga komunitas religious Kristiani, Muslim, Buddha dan Hindu, kita ada produsen dan konsumen sekaligus, ada music dalam ibadat.” kata Mas Yus. “Musik berada di lajur penting untuk dipelajari, dipentaskan dan menjadi sarana bergaul antar agama,” tambahnya. Sejak itu beliau mulai berpikir bagaimana membuat pelatihan musik berbasis masyarakat. Akhirnya pada tahun 2008 beliau menghentikan diri dari penelitian dan belajar bagaimana membuat musik agar dapat menjadi bahan pelajaran yang mudah dipelajari karena pembahasaan yang gampang dicerna oleh nalar. Kenyataannya, setelah dipelajari musik punya nalar yang gampang untuk dicerna. Kemudian bagaimana musik diaplikasikan (lewat vokal dan alat musik), butuh ketekunan agar dapat terampil menguasainya.

Lembaga pendidikan musik yang formal sudah ada banyak, dan hal tersebut di luar jangkauan Mas Yus, sedangkan syarat bergabung dalam lembaga itu adalah uang. Ini berbalik dengan tujuan beliau yang ingin membuat pendidikan bagi masyarakat luas. Lalu beliau mencoba bentuk non formal, yakni komunitas dengan model pembelajaran bersama dan privat. Ada uang tetapi tidak mutlak, tanpa uang kegiatan pun tetap berjalan. Sependek ini, kegiatan NAFS-I-GIRA bisa jalan.

nafsi

VISI DAN MISI

Visi: Masyarakat melek (bhs jawa) musik/music literacy

Misi: Penyelenggaraan pendidikan dan pementasan musik dimana unsur kebudayaan lokal (lagu rakyat dan nasional) diolah menjadi khasanah musik universal (dengan paduan suara dan iringan alat musik klasik).

TENTANG NAFS-I-GIRA

Komunitas NAFS-I-GIRA ini di dalamnya terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:

  1. NAFS-I-GIRA Musik: Pertunjukan menghadirkan live music kepada publik dalam bentuk konser maupun event khusus seperti pernikahan dengan alat musik akustik/klasik. Kekhasannya adalah bahwa corak musik setempat dan cita rasa pemesan menjadi pertimbangan bagi pembuatan aransemen dan tampilan musik. Sejak 2006 hingga kini, Yogyakarta, Semarang, Solo, Jakarta, Jember dan Ketapang (Kalbar) telah dirambah dalam bentuk permainan orkes maupun kuartet.
  2. NAFS-I-GIRA Musik: Skolah dan Sanggar lembaga pendidikan musik luar sekolah bagi anak usia SD dan SMP serta usia dewasa (lepas sekolah).
  3. NAFS-I-GIRA Musik: Skolah merupakan pendidikan dasar musik dengan kurikulum terstruktur dalam tiga tahap. (Oleh karena itu, disebut skolah! Bukan sekolah dalam arti pendidikan formal).

Pada tahun I, lewat aktivitas menyanyikan lagu anak dan lagu daerah, peserta diajak untuk mencintai musik dan mengenal skala nada, beragam jenis tangga nada serta not(asi) balok.

Pada tahun II, skala nada tersebut diaplikasikan pada alat musik rekorder. Setelah menguasai rekorder, peserta dapat belajar alat musik apapun sejauh yang dimiliki. Selain praktek alat musik dengan metode klasik, mengubah dan membuat syair lagu juga dilakukan di tahun II dan juga untuk mengetahui nalar bahasa, peserta dibimbing untuk membaca bacaan anak (komik, cerita detektif dan pengetahuan umum), menceritakan sinopsis dan menelaah bacaan.

Pada tahun III, peserta belajar membuat paduan nada dan mengenal ilmu harmoni tahap dasar.

Setelah selesai tahap skolah dengan tiga tahun ajaran, peserta menjadi bagian dari sanggar yang melanjutkan pendidikan tentang harmoni (menggarap pementasan lagu) dan berperan sebagai asisten tutor (mengajar adik kelas).

Perjumpaan peserta dengan tutor (pengajar umum) dilakukan seminggu sekali. Pertemuan Mingguan dapat dilakukan secara privat dan bersama. Model privat dimaksudkan untuk menggalang dana bagi pembiayaan seluruh kegiatan. Model bersama dimaksudkan untuk mewadahi peserta yang dapat datang ke tempat belajar (studio) dengan ongkos yang relatif murah. Ada empat pilihan studio yang menumpang di rumah-rumah. Pertama: Studio Medari – Rumah Ibu CM Purwati, Murangan VII (Jln Magelang Km 12,5) RT 10/RW 24 Triharjo, setiap Rabu. Kedua: Studio Babadan – Rumah Bpk Theo di Gandok Tegal RT 03/RW 24, Wedomartani, Ngemplak, setiap Kamis. Ketiga: Studio Mlati – Rumah Yulius Panon Pratomo, Plaosan RT 01, Tlogoadi setiap Sabtu. Keempat: Studio Mrican – Rumah Arpiyastuti, Jlm STM Pembangunan No 6 A, Mrican. Kelas bersama dibuka tiap Maret. Pelajaran dimulai pada pukul 15:00. Masing-masing angkatan lama waktunya 1 jam 15 menit.

Model: Model Bersama dan Model Privat

Pada model bersama, pertemuan mingguan berlangsung pada 4 studio sesuai pilihan peserta. Untuk model bersama, kontribusi peserta sebesar Rp 125.000 per bulan bila mampu. Bila tidak mampu, sukarela sesuai dengan kemampuan. Pada model privat, tutor datang ke rumah peserta. Kontribusi peserta Rp 125.000 untuk setiap pertemuan selama 1 jam 15 menit. Peserta model privat dan model bersama mengadakan kegiatan bersama pada pertemuan tiap tiga bulan sekali/temu triwulan.

Perjumpaan peserta dengan instruktur (pengajar khusus vokal/woodwind/keyboard/string) dan juga rekan peserta dari seluruh studio maupun peserta privat dilakukan tiga bulan sekali. Pertemuan Triwulan dilakukan bergiliran di sekitar 3 studio yang ada. Pada pertemuan ini, para peserta mempersiapkan pula bahan-bahan untuk bakti masyarakat dan konser tahunan.

Konser tahunan menampilkan hasil olahan tutor dan peserta. Konser I adalah 13 Januari 2013 bertajuk “Album untuk Nenek dan Adik I: Sekolah”. Sedang dipersiapkan Konser II bertajuk: “Album untuk Nenek dan Adik II: Berlibur ke Desa”.

  1. NAFS-I-GIRA Musik: Sanggar merupakan kelanjutan bagi alumnus NAFS-I-GIRA Musik: Skolah, di mana peserta melanjutkan pendidikan musik tahap dasar dengan praktek musik alat secara pribadi dan tampilan musik bersama (ensemble). Bersama dengan peserta NAFS-I-GIRA Musik: Skolah, peserta NAFS-I-GIRA Musik: Sanggar mempersiapkan bakti masyarakat 3 kali setahun di masing-masing studio. Biasanya pada perayaan kemerdekaan dan keterlibatan pada musik religius komunitas beragama (Katolik, Kristen dan Islam).

Jumlah peserta terakhir NAFS-I-GIRA Musik: Skolah dan Sanggar pada 2014 adalah 21 peserta, sementara di tahun 2015 adalah 28 peserta.

NAFS-I-GIRA Musik : Pertunjukkan

Institutional fee atau dana kerja hasil dari NAFS-I-GIRA Musik: Pertunjukan ketika tampil dipakai untuk mendanai kegiatan NAFS-I-GIRA Musik:Skolah dan Sanggar.

Data Penyanyi dan Pemusik (Freelance) di NAFS-I-GIRA Musik: Pertunjukan

No Nama Aplikasi Musik Keterangan
1 Yulius Panon Pratomo Organ/Piano dan Flute Arranger
2 Apriyastuti Vokal: Sopran Alumnus Sastra Jawa UGM
3 Ncies Driastiwi Vokal: Alto Mahasiswa Pascasarjana Antropologi UGM
4 Andre Toisuta Vokal: Tenor Mahasiswa ISI Yogya (piano)
5 Andreas Joko Vokal: Bas Alumnus Informatika UGM
7 Narwastu Putra Cello Mahasiswa ISI Yogya (cello)
8 Ignatius Made Kontrabas Mahasiswa ISI Yogya (pop jazz)
9 Bambang Violin/biola Alumnus ISI Yogya (violin)
10 Erwin Sanjaya Violin/biola Alumnus ISI Yogya (violin)
11 Ramadhan Dwi Viola Alumnus ISI Yogya (viola)
12 Bagus Retoridka Violin Mahasiswa ISI Yogya (violin)
13 Abror Numusabih Cello Mahasiswa ISI Yogya (cello)

Beberapa tampilan NAFS-I-GIRA Musik: Pertunjukan

  1. Jakarta, 9 April 2011, wedding blessing, Kuartet dan NAFS-I-GIRA Choir.
  2. Yogya, 24 Des 2011, Christmas Eve Dinner, Hotel Phoenix, Kuartet, Kor & Sanggar NAFS-I-GIRA
  3. Yogya, 8 Jan 2012, Perayaan Natal Yayasan Panti Rapih, Orkes NAFS-I-GIRA
  4. Ketapang (Kalbar), 20 Jan 2012, Konser “Apresiasi Budaya Dayak Di Tengah Himpitan Budaya Sekular, Orkes NAFS-I-GIRA
  5. Yogya, 8 Maret 2012, Musik Makan Siang, Temu Camat Sorolangun Jambi di Hotel Wizz, Kuartet NAFS-I-GIRA
  6. Yogya, 13 April 2012, Perayaan Paskah Lintas Dinas Pemkot Yogyakarta di Hotel Rich, Kuartet NAFS-I-GIRA
  7. Wonosari, 28 April 2012, Pagelaran Seni “Bangkit”, Orkes NAFS-I-GIRA
  8. Yogya, 13 Januari 2013, konser “Celebration of Life Sharing”, Orkes + Kor dan Sanggar NAFS-I-GIRA
  9. Kuta – Bali, 12 September 2013, wedding blessing and reception, Kuintet NAFS-I-GIRA
  10. Solo, 4 Mei 2014, wedding blessing and reception, Kuartet dan NAFS-I-GIRA Choir
  11. Yogya, 15 Jan 2014, Perayaan Natal Yayasan Panti Rapih, Orkes NAFS-I-GIRA
  12. Yogya, 20 September 2014, Wisuda Akper Pantirapih, Kuartet NAFS-I-GIRA
  13. Sleman, 7 Desember 2014, wedding blessing and reception, Kuartet dan NAFS-I-GIRA Choir.

NAFS-I-GIRA Musik : Skolah dan Sanggar

Prinsip Dasar

Di NAFS-I-GIRA Musik: Skolah dan Sanggar, musik ditempatkan sebagai bahan yang harus dikunyah dengan nalar dan dinikmati dengan rasa. Musik dimaknai sebagai sarana untuk belajar tekun secara pribadi, sarana bersosialisasi antar teman dan sarana untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat.

Workshop

Pada libur sekolah bulan desember, ada workshop Christmas Carol. Pada libur sekolah bulan Juni/Juli, ada workshop Indonesian Folksong. Keikutsertaan manasuka. Terbuka untuk umum.

Perpustakaan

Di basecamp terdapat perpustakaan berisi buku dan majalah untuk anak dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Pustaka ini akan wajib dibaca oleh peserta dua bulan sekali.

Peminjaman Alat

Terdapat alat string (gitar, biola, cello, viola) dan tiup kayu (rekorder bas, rekorder alto dan klarinet) yang dapat dipinjam peserta dengan lama maksimal pinjaman selama dua tahun.

Daftar susunan pengurus di NAFS-I-GIRA Musik:

Skolah dan Sanggar : Tutor: Yulius Panon Pratomo dan Apriyastuti

Pengajar umum menguasai teori musik dasar dan teknik bermain alat musik pokok yang meliputi keyboard (piano dan organ), string (gitar dan biola) dan alat tiup kayu (woodwind: rekorder, flute, clarinet)

Instruktur

Vokal: Apriyastuti. Violin: Erwin Sanjaya. Woodwind, gitar dan keyboard: Yulius Panon Pratomo

Instruktur menguasai secara mendalam teknik bermain alat music.

Asisten Tutor: Agatha Fabyan, Ryan Harsoyo, Vincentia Bilyarta Jessa Novendri dan Clara Gemalla Maharani

Asisten tutor adalah alumnus NAFS-I-GIRA Musik: Skolah yang membantu tutor dalam pertemuan mingguan. Asisten tutor paham akan teori musik dan dapat menguasai, minimal, satu aplikasi music baik vokal maupun instrument.

Aktivitas Lain

Selain mengelola skolah dan sanggar, NAFS-I-GIRA Musik juga terlibat dalam

  1. Ekstrakurikuler Orkestra di SMP Pangudi Luhur I Yogyakarta (sejak 2012)
  2. Pelatihan Musik bagi Mahasiswa LPMAK di APMD Yogyakarta (sejak 2013)
  3. Pelajaran Musik di Playgroup dan TK Kerang Mutiara, Sleman (sejak 2014)
  4. Ekstrakurikuler Musik di MA Sunni Darussalam, Maguwoharjo (Sejak 2014)

nafsi aaaaa

PERKEMBANGAN NAFS-I-GIRA

Awalnya NAFS-I-GIRA memang hanya dikenal di kalangan sekitar tempat tinggal Mas Yus saja dan rekan-rekannya. Namun semakin hari beliau mulai mempromosikan komunitas ini pada media sosial yang beliau miliki, sehingga diharapkan peminatnya akan bertambah. Beliau juga memasang sejumlah banner di tempat-tempat umum. Beberapa orang memang mulai tertarik untuk bergabung, meski dengan jumlah yang tidak banyak, komunitas ini tetap berjalan dan membuktikan eksistensinya dengan menggelar pertunjukkan dan juga tampil di dalam acara dan kegiatan. NAFS-I-GIRA juga turut membantu dalam mengiringi paduan suara di acara tujuh belasan, koor di gereja, dan juga tahlilan.

PROFIL PENDIRI NAFS-I-GIRA

Nama lengkapnya adalah Yulius Panon Pratomo, seorang pria kelahiran Yogyakarta, 21 Juli 1977 ini memilih profesi sebagai pemusik dan memilih bentuk komunitas/paguyuban sebagai aktualisasi diri. Menurut Mas Yus musik merupakan sarana untuk bersenang-senang, belajar tekun dan menata nalar. Beliau bercerita bahwa almarhumah ibunya dulu suka bernyanyi. Beliau tumbuh dalam suasana itu, meniru ibunya bernyanyi. Meski beberapa kali ikut lomba dan kalah, beliau senang dengan musik, dan akhirnya beliau mengetahui alasan mengapa ia tak pernah menang: “Aku fals sampai di bangku kuliah semester 6!” Pada saat SMP, ada drum band dan beliau mengikuti drum band ini; mulai dari pianika, pindah belira / glockenspiel, dan akhirnya bas drum. Sempat belajar organ, tetapi kandas karna tidak tekun.

Saat di SMA, Mas Yus yang tinggal di asrama, memiliki banyak waktu luang, sehingga terpikir olehnya bahwa beliau ingin belajar organ. Waktu itu diberi buku Harmonium Schule oleh pembimbingnya, lalu dipelajari sendiri hari demi hari. Akhirnya beliau bisa main organ dan piano juga, serta makin suka mendengarkan musik klasik. Guru musik Mas Yus, mengantarkannya pada cerita tentang sejarah musik barat: ada kaitan antara pemikiran/filsafat dengan seni. Kemudian beliau juga suka membolak balik melihat lukisan, membaca sejarah dan mendengarkan music sembari mencari tahu apa perbedaan dari abad pertengahan, masa renaissance, barok, klasik, romantic dan kontemporer. Akhirnya beliau memilih “Apresiasi Beberapa Karya Musik Zaman Barok” sebagai karya tulisnya di masa SMA. Herannya, kemampuan studinya semakin baik. Beliau yang pada awalnya merupakan rangking 15 (dari 19 siswa) jadi rangking 2 dan pernah rangking 1. Apa hubungannya ya dengan musik? Beliau diajari tekun bertahan pada yang dipelajari meski itu sulit (endurance), mengasah nalar pembedaku: bertanya apa bedanya ini dengan itu, apa garis hubung antar satu sama lain, lalu aku bisa bikin skema. Nah, itu dia. Di dalam musik, ada nalar mengapa ini digabungkan dengan itu dan mengapa ini berbeda dengan itu. Hal itu baru ia gali kembali pada tahun 2008 ketika beliau mengumpulkan 4 anak untuk eksperimen pengajaran musik.

Musik: sarana dan bahasa sosial. Meski menggeluti bidang sosial budaya, Mas Yus tetap bermusik dari hari ke hari. Meniup flute sendiri secara rutin, mencari teman main di ISI, membuat komunitas musik di mana beliau berada, tetapi beliau tidak ingin mengajar musik. Music untuk senang-senang sendiri dan mencari teman untuk main musik bareng sembari mendapatkan uang saku dari permainan atau pementasan musik.

SUKA DUKA DALAM MENJALANKAN KOMUNITAS INI

Mas Yus mengerjakan ini dengan senang hati karena muncul dari pemikiran dan dijalankan dengan segenap potensi diri. Uang bukanlah menjadi kendala utama. Tidak ada bantuan dari pemerintah. Tidak ada bantuan dari partai karena biasanya sebagaimana yang Mas Yus alami, jumlahnya disunat alias dikorupsi. Uang dikumpulkan dari orang tua peserta. Ada pula teman-teman yang baik hati mengumbangkan alat musik dan sejumlah dana. Sedikit murid yang bertahan di sanggar, hal itu dianggap biasa saja karena merupakan seleksi alam. Yang sulit adalah membuat ini semua menjadi gerakan dan kesadaran alternatif. Beliau pernah muncul di Yogya TV, poster tiap tahun ajaran baru dipampang di beragam tempat, dan ditempelkan di FB juga; tetapi peserta tetap sedikit dan peminat tidak banyak. Lalu beliau menyadari bahwa bermusik bukan berada di jalur profesional industri. Belajar bermusik untuk tampil di tirakatan atau tempat ibadat tidaklah semenarik tampil di mall atau gedung konser. Yah, ini pilihan. Itu saja.

Dari hal kecil yang sekedar ingin memperbaiki cara dalam menyanyikan lagu nasional supaya bisa menjadi warga negara yang “asik”, Mas Yus telah menyelipkan dan memberikan banyak edukasi untuk anggota yang dibimbingnya. Selain diajarkan untuk menjadi seorang yang cinta tanah air, beliau juga membentuk komunitas ini sebagai upaya untuk meningkatkan kreativitas anak-anak dalam bermusik. NAFS-I-GIRA bukanlah sebuah komunitas besar dengan tempat berlatih musik yang mewah, tetapi dengan kesederhanaan mampu memberikan nilai-nilai edukasi dan juga menyalurkan hal-hal yang belum tentu dapat dibeli dengan uang.

nafsi aa

beexy_smythe@yahoo.com'

About bernadetaineke