Bangsa Nusantara Menjelang Fajar Sejarah

Seperti apakah keadaan bangsa kita pada masa-masa terakhir sebelum mengenal tulisan? Menjelang terbitnya jaman sejarah, masyarakat nusantara dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu suku-suku bangsa petani (agraris) dan nelayan (maritim). Pada daerah-daerah yang berupa dataran dan memiliki gunung berapi, berkembang sistem pertanian menetap. Jenis tanaman pangan yang dibudidayakan adalah umbi-umbian dan padi-padian. Sedang suku-suku yang tinggal di daerah pegunungan mengembangkan sistem pertanian tadah hujan. Pada suku-suku yang tidak memiliki gunung berapi dan jenis tanahnya bergambut, mengembangkan sistem pertanian ladang berpindah. Selain suku-suku petani, di nusantara juga terdapat banyak suku yang hidup di daerah pantai dan pinggiran sungai besar. Mereka mengembangkan budaya laut atau maritim, dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan dan pedagang antar pulau.

Meskipun berbeda-beda dalam pengembangan penghidupan sebagai akibat perbedaan kondisi geografis tempat tinggal, suku-suku bangsa nusantara memiliki kesamaan dalam berbagai aspek kebudayaan, antara lain dalam penghayatan terhadap:

1. Nilai Kekerabatan.

Nilai kekerabatan adalah keyakinan yang berdasar pada pandangan bahwa orang lain adalah kerabat atau anggota keluarga sendiri. Semua suku di nusantara menjunjung tinggi nilai kekerabatan, dalam arti mengembangkan tata kehidupan sosial yang mengacu bahwa tetangga, teman dan bahkan orang asing pun merupakan kerabat. Gotong-royong, membantu kesulitan orang lain dengan tanpa pamrih, menyelesaikan masalah dengan musyawarah, menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan menghormati kebebasan orang lain seluas-luasnya merupakan norma-norma sosial yang dikembangkan semua suku di nusantara.

2. Nilai Penghormatan kepada Orang tua

Penghormatan kepada orang tua adalah nilai kehidupan yang didasarkan keyakinan bahwa orang tua merupakan asal mula dari semua anak cucu. Selain itu, orang tua juga dipandang sebagai tokoh penjaga kerukunan, kesejahteraan dan kedamaian seluruh anggota keluarga. Penghormatan antara lain diwujudkan dalam bentuk sikap untuk selalu patuh, taat dan berbakti kepada orang tua.

Kubur batu

Penghormatan orang tua menjadi sumber dari berbagai nilai sosial sejenis, seperti penghormatan kepada orang yang dituakan atau pemimpin. Bagi suku-suku bangsa nusantara, orang yang dituakan adalah orang yang dipercaya untuk menjadi orang tua bagi semua anggota suku. Dengan demikian, pemimpin yang baik di nusantara adalah pemimpin yang mampu menjaga kerukunan, kesejahteraan dan kedamaian masyarakat.

Selain berkembang dalam bentuk etika kepemimpinan, nilai penghormatan orang tua menjadi landasan bagi tumbuhnya religi penghormatan kepada leluhur. Religi itu didasarkan pada pandangan bahwa hubungan orang tua – anak tidak dapat diputus oleh apapun, termasuk oleh kematian. Religi juga diperkuat oleh keyakinan bahwa seberapapun besar bakti anak, tidak akan mampu menyamai kasih sayang dan kebaikan orang tua.

Religi penghormatan leluhur oleh masyarakat diwujudkan dalam bentuk upacara kematian dari penguburan sampai 1000 hari, pembuatan nisan (batu kubur) dan rumah leluhur, serta pemberian sesaji. Pada masa perundagian, penghormatan leluhur melahirkan bangunan suci yang disebut punden berundak.

3. Nilai Kebermanfaatan

Masyarakat nusantara memandang segala sesuatu yang terdapat di dunia ini pasti memiliki manfaat dalam menjaga kedamaian hidup. Dari pandangan itu kemudian muncul keyakinan bahwa segala sesuatu, baik benda mati, binatang, maupun manusia, memiliki tugas masing-masing dalam menciptakan dan menjaga kedamaian semesta. Perbedaan yang ada diyakini memang diperlukan untuk saling melengkapi. Keyakinan itu pada jaman sejarah berkembang menjadi motto Bhineka Tunggal Ika, yaitu berbeda dalam kesatuan.

Selain menghargai perbedaan, nilai kebermanfaatan juga mendorong masyarakat nusantara untuk bersikap bijak dalam mengelola hidup. Salah satunya pengembangan hidup ugahari atau sederhana. Dengan berlandas pada asas manfaat, masyarakat Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam sesedikit mungkin, demi memperoleh manfaat yang lebih besar, yaitu terjaga keseimbangan alam dan keselamatan anak cucu.

4. Nilai Ketertarikan intelektual dan emosional terhadap alam.

Untuk dapat bertindak sesuai dengan fungsinya dalam keseluruhan semesta, suku-suku bangsa nusantara berpendapat bahwa manusia harus mampu untuk memahami hukum-hukum semesta. Pandangan itu menjadikan suku-suku bangsa nusantara memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap setiap bagian alam dan sifat-sifatnya. Dengan belajar dari alam, bangsa nusantara mampu menentukan tindakan yang paling tepat untuk menyesuaikan diri dengan alam.

sastrosukamiskin@yahoo.com'

About Mbah Sastro