Mengenal Jogja Orangutan Center

MENGENAL JOGJA ORANGUTAN CENTER

0LEH:

ANDREAS DICKY H (125114009)

ANDREAS C M TAKIMAI(135114042)

 

Alam merupakan rumah atau tempat tinggal dimana semua makluk hidup dapat berdampingan satu sama lain,  ada beberapa tempat yang dapat kita lihat memiliki suasana dan pemandangan yang menyenangkan, dan beberapa tempat itu dapat dijadikan tempat wisata. Dan sekarang alam hijau sedikit demi sedikit mulai tergerus untuk aktivitas perkotaan, industry, perkebunan, dan lain-lain. Dan salah satu kota yang terkena imbas itu adalah jogja.

Banyak tempat wisata menarik yang ada di jogja , mulai dari wisata alam , wisata pendidikan dan masih banyak yang lainnya, seperti halnya tempat yang satu ini yang menarik untuk anda kunjungi, Menjaga dan melestarikan ekosistem bumi tidak hanya menjadi kewajiban manusia “normal”. Orang-orang yang mempunyai kebutuhan khusus atau difabel juga mempunyai hak dan tanggungjawab yang sama. “ jogja orangutan center” Jogja orangutan center ( JOC) terletak di Dusun Paingan, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo , Yogayakarta. JOC merupakan tempat untuk rehabilitasi dan pemeliharaan satwa terutama orangutan.

tempat Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta berada. Suara kicau burung, ocehan siamang, serta jeritan beruk, owa dan orangutan saling bersahutan memenuhi udara. Sebuah ungkapan penanda lapar mulai menyerang. Hewan-hewan ini menanti kedatangan animal keeper (penjaga binatang) mereka untuk memberi makan. Dalam sehari para satwa ini makan dua kali, pada pukul 10.00 pagi dan pukul 14.00 siang. Sebelum jam makan reguler, para penjaga memberikan makanan ringan kepada para satwa ini pukul 7.00 pagi setiap hari. Suara hening sesaat ketika semua sibuk mengunyah sarapan pagi mereka….

Semua satwa ini dulunya berada dalam pengawasan Pusat Penyelamatan Satwa Jogyakarta (PPSJ). Keberadaan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) berakhir pada tahun 2007, seiring dengan berhentinya kerjasama antara Departemen Kehutanan RI dengan The Gibbon Foundation. Setelah itu, Yayasan Kutilang Indonesia mengembalikan seluruh asset dan program kerja PPSJ kepada The Gibbon Foundation, 27 Februari 2007. Yayasan Gibbon Indonesia selaku pemilik asset dan program kerja PPSJ, menghibahkan seluruh asset dan program kerja di PPSJ kepada Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta, 31 Mei 2010. Saat ini YKAY telah memperoleh pengesahan dari Departemen Hukum dan HAM RI, No.AHU-1944.AH.01.04.tahun 2010, tanggal 21 Mei 2010.

Jogja orangutan center atau oleh orang sekitar dikenal sebagai PPSJ  mendapat perhatian oleh putri Sultan Hamengkubuwono X, yaitu Gusti Kanjeng Ratu  Mangkubumi yang sekarang menjadi ketua dewan pembina, yang membinai jogja orangutan center ini, Sekarang  Jogja Orangutan Center memiliki pengurus harian yang diketuai oleh Tarko Sudiarno, Ferry Ardiyanto sebagai sekertaris, dan Rosalia Setiawati yang menjadi bendahara.

Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) adalah sebuah lembaga yang menampung satwa dilindungi yang diambil dari pemeliharaan warga oleh pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau pihak kepolisian. Menyewa tanah kas desa seluas 13,9 hektar untuk jangka waktu 20 tahun di Dusun Paingan, Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, yayasan ini beroperasi penuh 24 jam sehari untuk melakukan aktivitas perawatan terhadap satwa-satwa yang berupaya dikembalikan ke habitatnya.

Di lokasi ini terdapat berbagai kegiatan rehabilitasi satwa, yang menurut pihak YKAY sendiri, terkurung dalam kandang perawatan yang memang tidak sebanding dengan habitat asli mereka. Ada tiga macam kandang  dalam proses karantina satwa.Pertama, (ketika satwa liar dari luar pertama masuk YKAY), kedua, (ketika kesehatan hewan sudah membaik), ketiga, (ketika satwa liar sudah menunjukkan sifat alaminya dan akan kembali di lepasliarkan oleh YKAY ke habitat aslinya/reintroduksi). Kandang-kandang ini hanya persinggahan sementara, sebelum nantinya dikembalikan kehabitat asli mereka nantinya. “YKAY mengelola dan merebilitasi satwa berpegang pada prinsip agar satwa diperlakukan secara layak sesuai dengan kaidah kesejahteraan satwa (animal welfare) ,” kata Rosalia Setiawati, Public Relation YKAY.

 

YKAY juga menginisiasi berdirinya Jogja Orangutan Center (JOC). Program utama Jogja Orangutan Centre adalah rehabilitasi dan pemeliharaan satwa terutama orangutan dengan program pendukung yakni pendidikan konservasi, pengembangan ilmu pengetahuan dan kampanye konservasi orangutan Indonesia. Dalam menjalankan program utamanya, Jogja Orangutan Centre ingin menjamin kesejahteraan terhadap orangutan. Ada 5 Orangutan Kalimantan di JOC. Kelimanya disita dari warga di Solo, Semarang dan wilayah Jawa Tengah. “Masih banyak transaksi jual beli Orangutan, masih ada yang memlihara, ini mengancam kepunahan populasi mereka,” ujar Rosalia Setiawati.

Pada IUCN Red List edisi 2002, Orangutan Kalimantan dikategorikan “endangered” atau terancam punah. Jumlah orangutan di Kalimantan saat ini berkisar 54.000 individu.  Prediksi ahli, jika kondisi itu tidak membaik, maka dalam 10 tahun Indonesia bakal kehilangan hampir 50 persen dari populasi saat ini. Selain itu, jumlah orangutan liar yang terdapat di hutan Sumatera hanya sekitar 6.500 – 7.500 individu saja.

 

Ada beberapa penyebab semakin menurunnya populasi orangutan di Indonesia.Pertama, pembalakan liar. Kedua, ekspansi penanaman kelapa sawit besar-besaran.Ketiga, perburuan orangutan untuk diperdagangkan.

Saat ini, semakin banyak orangutan yang diperdagangkan, baik secara gelap, maupun terbuka melalui online. “Kebijakan politis pemerintah tidak pernah berpihak pada Orangutan, perusahaan kelapa sawit perlahan menghilangkan habitat orangutan di Kalimantan dan Sumatera,” ungkap Ferry Ardyanto.

Perburuan dan perdagangan gelap orangutan menyebabkan banyak orangutan yang dipelihara oleh segolongan masyarakat. Memelihara orangutan jelas merupakan perbuatan yang tidak bisa dibenarkan oleh undang-undang. Selain melanggar UU memelihara orangutan juga akan membawa persoalan tersendiri bagi orangutan itu. Orangutan yang terlalu lama dipelihara oleh perorangan membuatnya sulit untuk dikembalikan ke habitat asli.

Banyak orangutan yang tidak bisa dikembalikan ke habitat aslinya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan orangutan tidak mungkin lagi dikembalikan ke habitat aslinya. Pertama, usianya sudah tua. Kedua, cacat fisik. Ketiga, menderita down syndromeKeempat, mengidap penyakit tertentu.

Tidak banyak lembaga yang secara khusus menangani orangutan, apalagi yang tidak mungkin lagi bisa dilepas ke habitat aslinya tersebut. Karena itu, JOC di bawah naungan Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta, mengambil inisiatif untuk menangani orangutan yang tidak bisa dilepas lagi ke habitat aslinya tersebut. “Walupun tidak bisa dilepas lagi ke habitat aslinya, Orangutan tersebut harus mendapat perlakukan yang layak hingga akhir hayatnya,” kata Rosalia Setiawati.

 

Satwa-satwa yang berada di sini semuanya merupakan hasil sitaan dari perdagangan, warga sekitar yang memelihara satwa, dan serahan langsung dari masyarakat. Satwa yang datang dari pemeliharaan liar ini rata-rata mengalami berbagai masalah kesehatan. Ada yang memiliki bekas luka tusukan, tembakan peluru dan penyakit-penyakit satwa lainnya. Dan karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan masyarakat sekitar maka satwa yang dapat disita hanya sedikit daripada pengangkapan yang terjadi. Namun tidak sedikit pula orang yang peduli dengan satwa satwa ini contohnya beberapa volentir yang berasal dari beberapa Negara yang masih peduli denga satwa satwa yang berada disini, tidak hanya merawat para volentir ini juga dengan senang hati memberikan dana pada JOC ini agar dapat terus menjalankan programnya, tidak hanya itu beberapa dari mereka yang masih peduli dengan satwa memberikan satwa yang mereka beli dari pedagang  juga memberikan satwa itu kesini untuk direhabilitasi dan tentu saja mereka memberikan dana pada JOC agar mendapatkan perawatan yang tepat.

Program utama Jogja Orangutan Centre adalah rehabilitasi dan pemeliharaan satwa terutama orangutan dengan program pendukung yakni pendidikan konservasi, pengembangan ilmu pengetahuan dan kampanye konservasi satwa Indonesia. Di tempat ini satwa- satwa dilatih untuk mengembalikan sifat alaminya, setelah mengalami depresi dan hal yang buruk oleh tangan- tangan manusia yang tidak punya Tanggungjawab. Selain tempat untuk rehabilitasi satwa- satwa JOC mempunyai program konservasi bagi pengunjung, tentunya hal ini sangat menarik bagi anda yang berkunjung ketempat  ini.  Dalam menjalankan program utamanya, Jogja Orangutan Centre menjamin kesejahteraan satwa-satwanya. Karena kebanyakan satwa, telah kehilangan sifat aslinya dikarenakan terlalu lama berinteraksi dengan  manusia atau dikekang oleh manusia. Contohnya ada orangutan yang tidak dapat memanjat pohon, dikarenakan terlalu lama ada didalam kurungan yang sempit, ada juga orangutan yang tidak dapat makan buah-buahan dikarenakan dia terbiasa selalu diberi makan nasi oleh pemiliknya .

Saat ini Jogja Orangutan Centre memiliki banyak mulai dari reptile( buaya , ular dan penyu), Unggas ( kakatua, nuri, elang dan kasuari) dan primate ( orangutan, siamang, beruk, oa- oa, dan monyet ekor panjang). dan sekarang  sedang memulai pembangunan dome (kubah) khusus orangutan, dome dengan diameter 125 meter ini akan menampung sekitar 200 ekor orangutan yang sudah tidak mungkin dikembalikan lagi ke habitat aslinya. Dome ini dibuat semirip mungkin dengan habitat alami orangutan di hutan-hutan tropis pulau Kalimantan, sehingga memungkinkan orangutan bisa merasakan “rumah aslinya” sampai menjelang akhir hayatnya. Tahap awal, akan dibangun dua buah dome dengan ukuran kecil, dengan daya tampung sekitar 12 ekor orangutan di setiap kubahnya.

Ke depannya, pengurus YKAY dan JOC berencana mengubah status menjadi Taman Satwa. Dengan perubahan status ini diharapkan koleksi satwa akan bertambah banyak melalui penyerahan satwa-satwa negara dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Kelak, sebagai Lembaga Konservasi berstatus Taman Satwa, pengunjung bisa lebih banyak menikmati koleksi satwa. Walaupun nantinya berstatus Taman Satwa, tugas utama tetap merawat dan merehabilitasi satwa tetap akan dijalankan. “Artinya, satwa yang masih memungkinkan untuk dilepasliarkan akan dirawat dan dilatih agar kelak bisa dilepas kembali ke habitat alaminya,” kata Ferry Ardyanto.

Namun sayang, level deforestasi Indonesia masih di angka setengah juta hektar setiap tahun dari klaim Kementerian Kehutanan RI. Jika Indonesia terus kehilangan hutan dengan tataran seperti ini atau bahkan lebih parah, semakin kecil harapan untuk bisa melihat hewan-hewan ini lepas bebas di rumah mereka di alam raya.

 

Dan sampai sekarang Jogja Orangutan Center telah berhasil melepas 4 ekor elang jawa. Walau  hanya 4 ekor ini merupakan prestasi yang cukup membanggakan. Tetapi untuk melepas satu satwa saja memberikan waktu yang lama yang tidak dapat ditentukan. sementara orangutan, sejauh ini masih menunggu lokasi hutan yang siap menampung kembali, seiring dengan makin sulitnya habitat akibat alihfungsi hutan menjadi area perkebunan, pertambangan dan pertanian. Dan tidak boleh sembarangan dalam melepasnya, dikawatirkan baru beberapa hari dilepas, satwa itu kembali di tangkap oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab.

Walapun sebagai tempat wistaa, JOC bukan seperti tempat wiasata yang lainnya, anda disini tidak boleh langsung menikmati fasilitas sebelum mendapatkan ijin.  Sebagai wisata edukasi ditempat ini anda bisa mendapatkan berbagai macam fasilitas dan kegiatan yang berupa pendidikan konservasi seperti animal care, detektif air, detektif pohon, detektif serangga, ekosistem kecil, jejak sampah, si pohon kecil, dan menangkap ikan. Untuk memenuhi kebutuhan operasional harian yang mencapai puluhan juta, Jogja Orangutan Centre memiliki unit fund raising khusus untuk penggalangan dana public dan usaha-usaha yang sah. Unit fund raising ini diberi nama Orangutan Outdoors Camp (OOC).

OOC melakukan penggalangan dana dengan menyediakan fasilitas ruang pertemuan, penginapan, jasa outbound training, ekowisata, penggalangan dana.

beberapa keperluan medis satwa diperoleh dari donasi beberapa negara luar.  “Satwa punya hak untuk dilindungi, beranak-pinak dan hak untuk bebas. Kami ingin masyarakat lebih peduli terhadap pelestariaan satwa, kata Dian Tresno Wikanti, dokter hewan YKAY.

Selain itu ada pula program adopsi yaitu seseorang dapat mengadopi salah satu satwa yang berada di Jogja orangutan center, namun para satwa tidak boleh dibawa pulang oleh yang ingin mengadopsi ,si pengadopsi dapat ikut merawat satwa yang dia adopsi hanya di dalam pengawasan, si pengadopsi juga mempunyai kewajiban untuk mendanai perawatan satwanya. Ada juga pendidikan konservasi dimana tujuan dari program ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang apa saja yang dilakukan dikonservasi, mengapa kita perlu melakukan konservasi. Generasi muda adalah ujung tombak aktivitas konservasi. Karenanya mengenalkan seluk beluk tentang dunia konservasi di sekolah –sekolah merupakan langkah yang strategis untuk lembaga –lembaga konservasi. Dengan mengenalkan dunia konservasi sejak dini kepada kalanan pelajar, diharapkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, termasuk satwa liar, mulai terbina sejak usia muda.

Jogja Orangutan Centre didukung tenaga-tenaga ahli dibidang terkait untuk menjalankan program-programnya. Total saat ini, 30 orang tenaga kerja ditampung melalui program ini dengan komposisi 90% merupakan warga lokal Desa Sendangsari.

Karena dianggap tidak terlalu penting oleh segelintir orang, maka kegiatan konservasi ini masih memiliki beberapa kendala, seperti tidak adanya  tempat yang cocok untuk satwa satwa yang telah dianggap cukup untuk  dilepaskan, agar dapat hidup di alam yang sebenatnya. Seperti yang telah dijelaskan diatas satwa satwa yang berada di Jogja Orangutan Center ini merupakan satwa sitaan, tigak semua satwa sitaan ini berada dalam kondisi yang baik, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama. Mungkin juga terdapat campur tangan warga sehingga satwa satwa yang seharusnya dilindungi justru ditangkap/diburu karena bernilai cukup mahal.

Oleh sebab itu kita yang masih “sadar” tentang kelestarian alam kita ini hendaknya tidak hanya berpangku tangan namun juga ikut menjaga dan merawat kelestaian alam atau yang memiliki waktu luang yang lebih dapat membantu lembaga –lembaga konservasi yang ada disekitar kita dengan menjadi para volunteer ataupun  memberi dana agar keragaman flora dan fauna di Indonesia dapat terjaga.

Jika tertarik untuk membantu atau berkunjung, silakan kontak langsung Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta: http://orangutanoutdoorscamp.wordpress.com/ atau http://jogjaorangutancentre.org/ooc/?tag=yayasan-konservasi-alam-yogyakarta

andreas.dickytan@gmail.com'

About AndreasD