Mahkota Kemerdekaan Bukan Keanggotaan dari PBB

Mahkota Kemerdekaan Bukan Keanggotaan dari PBB

 

Sekapur sirih oleh penyunting

Setiap tanggal 17 Agustus selain dari ceremonial pengibaran bendera dan berbagai tradisi peringatan 17-an dengan berbagai lomba, terdahulu pada masa Orde lama yang harus kita sebut dekonstruksi sebagai sebuah orde revolusi seperti yang didengungkan bung Karno. Adalah sebuah tradisi dari sebuah idiologisasi dan pembelajaran politik bagi rakyat Indonesia, atau sebuah moment untuk membangun national character dan national identity. Berikut adalah suntingan dari pidato bung Karno yang dikumandangkan pada awal tahun 1965, mengapa begitu istimewa, karena inilah tahun dimana titik krusial dari pandangan politik bung Karno diuji oleh dunia Imperialisme.

Adalah salah satu dari pidato Soekarno yang dikumandangkan pada awal tahun 65, pidato ini yang didahului oleh pidato-pidato terdahulu yang menegaskan posisi politik luar negeri Indonesia yang makin revolusioner (baca ke gerakan anti imperalisme) ketika itu. Didahului dengan peristiwa Dwikora, kemudian Pidato “Trisakti” yang terkenal dengan tahun menyerepet bahaya “Vivere Pericoloso” yang tentu saja memang sangat menyerempet bahaya (pidato pada tahun 1964), yang dilanjutkan sesudahnya tentang pidato “Tahun Berdikari” di 17 Agustus 65 puncak dari segala gunung es sejarah orde yang disebut orde baru sebagai orde lama, pidato ini adalah (Mahkota Kemerdekaan Bukan Keanggotaan dari PBB) merupakan bagian pernyataan politik Indonesia terkeras dalam sejarah dengan menyatakan diri keluar dari PBB, pidato yang menjadi rakuman dari beberapa pandangan politik Soekarno pada waktu itu yang dianggap begitu radikal oleh dunia barat yang mengantar kan berbagai plot pengulingan dan pembunuhan dari Soekarno. Tahun 1965 dianggap sebagai tahun puncak penentu nasib dari orde revolusi atau masa kepresidenan Soekarno, tahun yang paling menengangkan dalam sejarah Indonesia dan paling gelap, dengan berbagai intrik dan versi suksesi kekuasaan dari Orde revolusi ke orde baru.

Dan kita “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, adalah pesan terakhir si Bung Besar di 17 agustus tahun 1966

MAHKOTA KEMERDEKAAN BUKAN KEANGGOTAAN PBB TETAPI BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI

Sumber : Almanak Telaga Djaja. No; 11 tahun 1966; Badan penerbit PT. Jaker, Yogyakarta jl. Lodjiketjil Wetan 10-12

Disusun oleh: S. Djaeni

sunting ulang: Ika Rubby N

 

Saudara-Saudara sekalian,

Saya sungguh amat bergembira dapat menghadiri rapat umum yang diadakan oleh Panitia Nasional Anti Pangkalan Militer Asing, apalagi sesudah saya mendengar resolusi yang dibacakan tadi oleh Ibu Utami Suryadarma. Saya mengucapkan banyak terima kasih dan saya amat bergembira bahwa ternyata seluruh Rakyat Indonesia membenarkan komando saya, keluar dari PBB. Yah, maka sekarang, Saudara-Saudara, tanggal 7 Januari 1965 jam setengah sebelas malam, saya menyatakan sebagai berikut: Manakala komando saya beberapa hari yang lalu berbunyi:

“Jikalau “Malaysia” menjadi anggota daripada Dewan Keamanan PBB, maka saya komandokan Indonesia keluar dari PBB.”; Maka sekarang oleh karena ternyata “Malaysia” dijadikan anggota daripada Dewan Keamananan PBB, saya nyatakan: INDONESIA KELUAR DARI PBB!

Jadi Saudara-Saudara, saya sekarang menyatakan Indonesia keluar dari PBB, itu artinya apa? Demikian Saudara-Saudara sesudah saya beberapa hari yang lalu mengadakan statement, pernyataan, bahwa jikalau “Malaysia” jadi anggota Dewan Keamanan PBB Indonesia akan keluar dari PBB geger seluruh dunia, dan sebagai tadi dikatakan oleh Saudara Karim DP Ketua PWI banyak Negara, juga Pemerintah dari negara-negara lain dari Indonesia memberi pertimbangan pada saya, minta kepada saya, untuk mempertimbangkan kembali komando saya itu “to reconsider” komando saya ini. Artinya reconsider, yaitu mempertimbangkan kembali. Dan sebagai yang dikatakan oleh Pak Karim DP, Saya terhadap kepada permintaan reconsider itu tadi, saya berkata banyak terimakasih. Banyak terimakasih atas nasehat Tuan-Tuan, tetapi keputusan saya adalah tetap. Lantas ada yang menanya, sesudah saya katakan tetap, keputusan saya adalah tetap, dan beberapa yang menanya;

“Apa yang PJM (Paduka Yang Mulia-edit) maksud dengan perkataan keluar dari PBB?” Yah, apa yang dimaksudkan itu, yah keluar dari PBB. Keluar, ya keluar. Saya malah berkata Inggrisnya: “get out” atau “pull out”!

Mereka bertanya apa itu tidak berarti, cuma ya kalau ada sidang, Indonesia keluar dari dari sidang, “walk out”, tidak menghadiri sidang-sidang. Saya bilang, saya menjawab; “tidak demikian. Bukan sekedar “walk out”. Bukan demikian, keluar dari PBB samasekali. Dus, Sekarang ini Indonesia bukan anggota PBB Saudara-Saudara. Kata bahasa Inggris “from now on Indonesia is not anymore a member of the United Nations”.

 

Nah, sekarang ini, Saudara-Saudara, kita sudah senang-senang kita, kita bukan anggota lagi PBB. Maka oleh karena itu saya tadi mengucapkan terimakasih kepada Saudara-Saudara khususnya, dan kepada Rakyat Indonesia umumnya, oleh karena sesudah saya mengeluarkan komando itu, wah saya mendapatkan peryataan-peryataan dari partai ini, dari golongan ini, dari golongan itu. Pendek, dari segala pihak Rakyat Indonesia, semuanya menyatakan setuju dengan komando Presiden.

 

Ada saja Saudara-Saudara dari pihak nekolim berkata: “Ha, lihat lagi-lagi Soekarno. There you have Soekarno again. Soekarno lagi, Soekarno lagi. Dia menjalankan kemauannya sendiri.” Tidak! Saya tidak menjalankan kemauan saya sendiri. Saya adalah penyambung lidah daripada Rakyat Indonesia. Disamping itu ada yang namanya, itu menteri-menteri tentunya ada yang tidak setuju. Go To Hell, kataku, tidak! Semua menteri, semua Panglima-Panglima, semua partai-partai, seluruh Rakyat Indonesia membenarkan keputusan saya ini, dan berdiri di belakang saya.

 

Pendek kata, Saudara-Saudara, sekarang  kita sudah bukan anggota lagi dari PBB, sekarang kita sudah bukan anggota lagi dari PBB, sekarang kita Saudara-Saudara, berani menghadapi segala konsekuensi. Tetapi Saudara-Saudara, sudah barang tentu pihak yang katakanlah yang baik hati memberikan pertimbangan kepada saya, agar supaya saya “reconsider” keputusan saya itu, mengatakan;

“kalau tidak menjadi anggota PBB, Tuan akan menghadapi kesulitan-kesulitan, menghadapi kesulitan ini, kesulitan itu, pendek harap pertimbangkan sekali lagi”. Saudara-Saudara saya selalu menjawab:Yah saya tahu, bahwa keputusan kita ini mungkin membawa kesulitan-kesulitan terhadap kepada Indonesia. Tetapi Indonesia mau bersedia mengganyang kesulitan-kesulitan itu!”

Kan tempo hari sudah saya katakan, sudah saya katakan, supaya kita semua ini dan perkataanku itu saya tujukan kepada seluruh bangsa-bangsa Afrika, Asia, Amerika Latin, bahwa: “The crowning of independence” –mahkota daripada kemerdekaan-, bukanlah membership daripada “United Nations”, keanggotaan PBB, tidak! Mahkota daripada kemerdekaan adalah berdiri diatas kaki sendiri.

Maka oleh karena itu, saya sekarang berkata kepada Rakyat Indonesia, Saudara-Saudara kita semuanya, dari Sabang sampai ke Merauke, 104 juta manusia, kita sekarang Saudara-Saudara bukan lagi menjadi anggota dari PBB. Mari kita berdiri diatas kaki kita Sendiri. Jikalau kita memang satu bangsa yang merdeka  dan memang kita adalah satu bangsa yang merdeka, mari kita berdiri diatas kaki sendiri.

 

Memang ada dari pihak mereka itu berkata, ya nanti bagaimana, apakah kalau sudah bukan anggota dari PBB, bagaimana special agencies dari PBB, misalnya Unesco, Unicef, FAO bagaimana kalau nanti diberhentikan juga dari Indonesia? Apakah jikalau keluar dari PBB berarti juga Unesco, Unicef dan FAO juga harus keluar atau berhenti dari Indonesia? Saya berkata: “Yah, yah memang. Keluar dari PBB berarti kita tidak ada lagi hubungan dengan Unesco, Unicef, dan FAO”. Lha, apakah itu tidak satu kerugian? Tidak! Unicef, Saudara-Saudara, Unicef, Unicef, apakah itu sebetulnya? Keuntungan kita dengan Unicef itu apa? Betul, susu bubuk Saudara-Saudara. Bagi Saya sendiri daripada makan minum susu bubuk, lebih baik saya makan Peujeum. Unesco, Unesco! Apa keuntungan kita dengan Unesco? Misalnya pada memberantas buta huruf di Indonesia, itu apakah itu karena pertolongan dari Unesco? Tidak! Sama sekali tidak! Kita berantas buta huruf dengan kekuatan kita sendiri. FAO yang dikirim oleh FAO menjadi ahli, ahli food, ahli pangan, ahli pertanian, misalnya, orang yang tidak tahu menahu tentang pertanian Indonesia dikirim ke Indonesia sebagai satu expert, sebagai satu ahli. Kita, kita mau dibelajari tanam padi. Saudara-Saudara, lho dan memang kenyataannya bagaimana Saudara-Saudara? Kita menambah, menambah satu produksi padi di Indonesia ini dari dengarkan, dari 5⅕ juta ton menjadi 12 kadang-kadang 13 juta ton, tidak dengan pertolongan FAO, tetapi dengan kekuatan kita sendiri. Pendek kata Saudara-Saudara, “Wij kunnen”, saya tadinya mau berkata: “Wij kunnen de special agencies missen als kiespijn”. Maksudnya kita bisa tanpa special agencies daripada United Nations itu.

 

Maka oleh karena itu, Saudara-Saudara, malahan kita merasa bebas, bebas, berdiri diatas kaki sendiri. Oleh karena itu, Saudara-Saudara, kita ini sekarang menjadi satu bangsa yang benar-benar harus berdiri diatas kaki sendiri. Lha ini merupakan satu keuntungan yang besar untuk mendidik kita sendiri menjadi satu bangsa yang yang merdeka, bukan lagi menjadi satu bangsa yang minta-minta, bukan lagi satu bangsa yang selalu minta “aid, aid please”. “Give us aid please, give us aid”. Beberapa waktu yang lalu saya sudah berkata “go to hell with your aid”. Kita tidak memerlukan. Nah, demikianlah Saudara-Saudara kita sekarang ini, jikalau kita menghadapi kesulitan-kesulitan itu, OK, allright, kita akan ganyang kesulitan itu, malahan saya sudah berkali-kali berkata, “hanya bangsa yang berani mengganyang kesulitan-kesulitan, hanya bangsa yang demikian itulah bisa menjadi bangsa yang kuat”. Ini adalah dialektik daripada Revolusi. Dialektik, makin kita dihadapi dengan kesulitan, makin kita menjadi kuat, makin kita digempur, makin kita ;menjadi kuat, makin kita dirongrong, makin kita menjadi kuat. Jangan kita Saudara-Saudara, menjadi bangsa yang yang selalu mau didulang. Apakah itu didulang? Didulang itu bahasa Indonesianya disuap, disuapin, kata orang Jakarta. Yah, lihat negara-negara atau bangsa-bangsa yang dirongrong, yang dihantam dan digempur. Bangsa yang demikian itulah menjadi bangsa yang kuat. RRC dirongrong digempur, RRC makin menjadi kuat. Vietnam, Vietnam, dirongrong digempur, Vietnam makin kuat, Korea dirongrong digempur, Korea makin men jadi kuat. Indonesia dirongrong digempur, Indonesia makin menjadi kuat, makin “otot-kawat-balung-wesi, ora tedas tapak palunẽ pandẽ”, sebaliknya, sebaliknya, Saudara-Saudara, bangsa yang selalu didulang bangsa yang selalu disuapin, makin lama makin lemah, makin lemah, makin tidakbisa berdiri diatas kaki sendiri. Ayo, sekarang kita Saudara-Saudara, bersama-sama dengan semua barisan “the new emerging forces”, ganyang segala kesulitan-kesulitan, ganyang Nekolim, ganyang pangkalan-pangkalan militer asing.

 

Soal pangkalan-pangkalan militer asing, dulunya apa toh, Saudara-Saudara? Dulunya itu diadakan oleh pihak imperialis dan jkapitalis, untuk menghadapi “the growing potentiality” daripada kaum komunis, yah dulunya memang begitu, bukan bohong. Dulunya memang begitu Saudara-Saudara, pada waktu itu bloh kapitalis, pada waktu itu untuk “contain”, –contain artinya mengepung-, untuk, yah, Saudara-Saudara mengerti apa yang saya maksudkan; pihak imperialis itu mengadakan pangkalan-pangkalan militer asing dimana-mana, tetapi Saudara-Saudara mengetahui bahwa pihak kapitalis tidak bisa mengganyang golongan komunis, golongan sosialis. Lha malahan ini, secara historis sosiologis Saudara-Saudara, Kapitalisme ini yang mau mempertahankan diri terhadap kepada hantaman-hantaman blog sosialis dan komunis ini. Saudara-Saudara telah mengetahui, bahwa Kapitalisme ini beranak Imperialisme. Yah, Imperialisme adalah anak daripada Kapitalisme dan Saudara-saudara mengetahui, bahwa reaksi daripada anak Kapitalisme yang bernama Imperialisme itu ialah, bangkitnya Negara-negara Asia, Afrika dan Latin Amerika. Tadinya Kapitalisme direaksi oleh Negara-negara Sosialis oleh ide Komunisme, yah, reaksi, aksi, menimbulkan reaksi bukan? Lha ini, anak daripada Kapitalisme yang bernama Imperialisme itu, tentu saja membangunkan reaksi, atau direaksi-i oleh rakyat-rakyat Asia-Afrika-Latin Amerika. Maka untuk mempertahankan diri, Imperialis itu mempergunakan sekarang pangkalan-pangkalan militer asing. Yah, sebagai tadi dikatakan bapak bugi Supeno, sebagai dikatakan bapak Karim DP dikatakan oleh utusan dari Vietnam dan dari Jepang, pangkalan-pangkalan ini menjadi pangkalan-pangkalan untuk menahan “the rising forces” daripada bangsa-bangsa yang hendak menentang atau menghancur-leburkan Imperialisme itu. Maka oleh karena itu, Saudara-saudara perjuangan anti pangkalan-pangkalan militer asing, adalah bagian mutlak daripada perjuangan menghantam Imperialisme. Sebagai yang dikatakan oleh ibu Utami Surjadarma pada waktu beliau membaca resolusi itu tadi, resolusi itu tadi memakai perkataan “inhearent” perjuangan menentang pangkalan-pangkalan militer asing adalah “inhearent” dalam perjuangan menentang Imperialisme. Jadi sebetulnya, Saudara-Saudara, seseorang yang menamakan diri patriot, entah patriot Indonesia, entah patriot India, entah patriot apapun, jikalau dia tidak menentang pangkalan-pangkalan militer asing, ia sebetulnya adalah patriot gadungan Saudara-saudara. Dan tadi dikatakan oleh pak Bugi, atau pak siapa bahwa sebenarnya “Malaysia” itu, ya itulah pangkalan militer asing. Pangkalan militer asing itu selalu ditempatkan di satu tempat, di dalam satu daerah, dalam satu areal yang yah, yang selamat untuk pangkalan-pangkalan militer asing itu. Dan tadi dikatakan oleh Pak Bugi, Singapore, Kalimantan Utara dan lain sebagainya itu, ditempatkan di dalam suatu daerah yang selamat untuk pangkalan-pangkalan, atau yang menyelamatkan pangkalan-pangkalan militer asing itu, yaitu “Malaysia”. Jadi pada hakekatnya “Malaysia” adalah pangkalan militer asing yang ditujukan antara lain kepada kita juga. Oleh karena itu harus kita ganyang. Kita ganyang “Malaysia” sebagai kukatakan berulang-ulang, oleh karena “Malaysia” adalah tempat terutama sekali untuk “contain” Revolusi Indonesia. Ada Negara-negara, pemerintahan Negara-negara yang tidak mengerti kenapa Indonesia itu kok tidak mau terima “Malaysia”? Kena apa?

Coba aku terangkan! Berulang-ulang aku terangkan. “Malaysia” adalah alat daripada Imperialisme, satu pangkalan militer yang besar untuk menentang kita, dan umumnya menentang juga new emerging forces di Asia Tenggara.

 

Jadi itu sudah menjadi kewajiban kita untuk menentang “Malaysia” ini Saudara-Saudara. Ada yang berkata; yah, kenapa kok mesti keluar dari PBB. Kenapa harus keluar dari PBB, Saudara-Saudara! Saya berkata;

saya menjawab kepada pertanyaan-pertanyaan demikian itu; “sebab kita ini dihadapkan kepada perbuatan PBB, mula-mula kita ini dihadapkan dengan pernyataan U Thant, U Thant”.

“Kami, Presiden Macapagal dan Tengku Abdulrachaman Putera menandatangani “Manila Agreement”, cerita lama, saudara-Saudara. Di dalam “Manila Agreement” itu disebutkan bahwa harus diselidiki kehendak rakyat Kalimantan Utara dengan cara yang demokratis, sesuai dengan resolusi 1541 daripada United Nations. Malahan disitu kami, antara lain Presiden Soekarno menyatakan jikalau memang dengan cara demokratis ternyata rakyat Kalimantan Utara menghendaki, atau mau, atau setuju kepada “Malaysia”, Indonesia, pemerintah Indonesia akan mengakui “Malaysia”, atau mau menerima adanya “Malaysia” itu, jelas. Tetapi, apa yang telah terjadi? PBB mengirim orang-orang yang bernama Michael Moore. Orang ini dikirim, Saudara-Saudara, dikirim ke Kalimantan Utara dan Dia mengadakan penyelidikan daripada perasaan rakyat Kalimantan Utara itu, tidak secara demokratis, tidak sesuai dengan resolusi 1541 daripada United Nations. Kemudian atas laporan Michael Moore ini U Thant mengadakan pernyataan bahwa rakyat Kalimantan Utara adalah pro, suka sekali kepada “Malaysia”, bohong! Maka oleh karena itu, saudara-Saudara, kita tidak mau mengakui “Malaysia”, tidak mau. Malahan aku berkata, aku berkata dengan tegas;

bagi Indonesia “Malaysia” does not exist, “Malaysia” itu tidak ada sebetulnya bagi kita, bagi kita lho, Indonesia, “Malaysia” itu tidak ada.

Baru “Malaysia” itu ada, jikalau “Malaysia” itu benar-benar dikehendaki oleh rakyat Kalimantan Utara dengan cara demokratis; kalau tidak dengan cara demokratis, kita tidak mau mengakui “Malaysia” demikian itu, malahan aku berkata, does not exist. Coba Michael Moore itu, penyelidikan yang tidak demokratis itu belum selesai juga, pada tanggal 16 September sudah diadakan proklamasi “Malaysia”. Dan dikatakan this is “Malaysia”, inilah “Malaysia”. Go to hell! Saya tidak mengakui “Malaysia” yang demikian itu, malahan saya berkata; “Malaysia” does not exist legally for Us. Artinya; “Malaysia” menurut hukum, bagi Indonesia tidak ada. Tapi pada waktu itu, tatkala Michael Moore, tatkala U Thant mengadakan statement yang demikian, yah, kami telah mengosok-gosok kami punya dada. Tapi kami mengatakan, kami tetap tidak setuju dengan “Malaysia” ini, malahan kami mengadakan keputusan, kami mengadakan konfrontasi dengan “Malaysia”. Kita ganyang “Malaysia” itu! Tetapi kami masih dalam PBB, kami masih tetap anggota PBB, kami berkata, yah, sudahlah, kami telan. Kami telan kami tetap anggota PBB, meskipun PBB dengan cara Michael Moore, meskipun PBB dengan cara U Thant menyatakan, bahwa “Malaysia” adalah dikehendaki dan dicintai oleh rakyat Kalimantan Utara, yah, tetapi kami masih mengosok dada, mengatakan, baik kami tetap tinggal di dalam PBB. Tetapi kemudian, Saudara-Saudara, untuk kedua kalinya kami dihina, pendeknya, kita, kami dianggap apa ini. “Malaysia” dijadikan anggota Dewan Keamanan. Lha, itu sudah tidak bisa kami telan lagi, Saudara-Saudara. Kami tidak bisa telan lagi, oleh karena itu kami mengambil keputusan, jikalau demikian, ayo, kami keluar dari PBB. Lha sekarang saya cuma mengambil moral daripada keputusan kita. Moralnya ialah;

Bahwa kita adalah bangsa, Negara, saya tidak mau diberlakukan sebagai kapok (isi bantal-edit), bangsa kintel (kodok kecil-edit), kataku, bangsa tempẽ, tetapi malahan sebaliknya, kami, kita, adalah suatu bangsa yang mendidik diri kita punya diri sendiri untuk berdiri diatas kaki kita sendiri.

Yah, Saudara-Saudara, hai rakyat Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke, aku tidak mengatakan, dengarkan, aku tidak mengatakan bahwa kita tidak akan menhadapi kesulitan-kesulitan, tetapi hanya rakyat yang bisa mengganyang kesulitan-kesulitan, kita bisa menjadi satu bangsa, satu rakyat, satu Negara yang kuat dan besar. Mari kita hadapi kesulitan-kesulitan dengan hati yang tabah. Kesulitan ini, Saudara-Saudara, bukanlah suatu barang yang baru. Berpuluh-puluh tahun yang lalu tatkala kita mulai dengan gerakan nasional, kita telah menghadapi kesulitan-kesulitan. Puluhan ribu daripada pemimpin-pemimpin ditangkap, dilempar di dalam penjara, atau dilempar ke tanah-tanah pembuangan. Dulu ketika kita mengadakan Proklamasi 17 Agustus 1945, aku pernah berpidato di sini, aku berkata dengan tegas : Pada waktu aku membacakan proklamasi, aku sudah tahu, aku sudah tahu, bahwa nanti akan puluhan ribu, ratusan riburakyat Indonesia akan terpaksa kita korbankan jiwa raganya, akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang maha hebat. Ternyata Saudara-Saudara, ratusan ribu daripada bangsa kita pada waktu itu, menjadi korban daripada Revolusi. Tetapi, Saudara-Saudara, justru karena korbanan-korbanan itu, Revolusi Indonesia makin lama makin naik, makin lama makin menjadi kuat, makin lama makin menjadi mercusuar daripada manusia progresif di dunia ini. Kemudian macam-macam lagi kesulitan-kesulitan yang satu diikuti oleh kesulitan yang lain, tetapi selalu kita berkata : Yah, kesulitan kita atasi, yah tlap kesulitan kita ganyang dan memang hanya bangsa yang mendaki, Saudara-Saudara. Hanya bangsa yang mendaki, hanya bangsa yang berani melompati batu-batu, berani melompati jurang-jurang, hanya bangsa yang berani menentang petir dan geledek, hanya bangsa yang demikian itulah bisa menjadi satu bangsa yang kuat dan besar. Dan sekarang, Saudara-Saudara, aku tidak berkata, dengarkan aku, aku taidak berkata, bahwa dengan keluarnya Indonesia dari PBB kita tidak akan menghadapi kesulitan-kesulitan. Tidak! Kita tahu dari sekarang juga, bahwa mungkin akan dating kesulitan-kesulitan tetapi apa boleh buat. Kesulitan-kesulitan apapun akan kita hanyang habis-habisan. Sebab hanya dengan mengatasi kesulitan-kesulitan kita bisa menjadi satu bangsa yang memenuhi panggilan daripada Revolusinya, panggilan daripada Amanat penderitaan Rakyat, mendirikan satu bangsa Indonesia yang kuat sentosa, satu masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, menjadi penyumbang daripada perdamaian dunia yang kekal dan abadi.

 

Mari berjalan terus, saudara-saudara, ever onward never retreat!

Sekian, terima kasih.

ika_rubby@ymail.com'

About leobardus rubby