maGis Sebuah Model Pendampingan Orang Muda

Banyak orang berpendapat bahwa orang muda tidak lagi tertarik dengan hal-hal rohani. Hal ini diindikasikan dengan mandegnya mudika di bebe-rapa paroki dan menipisnya anggota di organisasi katolik. Banyak orang muda tidak lagi pergi ke gereja untuk perayaan ekaristi apalagi terlibat dalam kegiatan paroki.

Jaman modern menawarkan hidup yang penuh kenikmatan, kemudahan, perubahan dan per-kembangan teknologi dan komunikasi yang pesat. Di jaman yang sarat tawaran ini, orang muda me-ngalami kekaburan nilai, kebingungan dalam me-milih dan ketidakjelasan arah hidup. Kegiatan tradisional gereja sepertinya tidak lagi menjawab kebutuhan dan kerinduan rohani orang muda katolik. Mereka mengalami ketegangan. Di satu sisi mereka rindu untuk mampu mengintegrasikan iman ditengah arus globalisasi, di sisi lain kate-kese yang ada tidak lagi memadai dengan kebutuhan mereka.

MAGiS adalah program pendampingan bagi orang muda berbasis Spiritualitas Ignatian. Keberadaan magis di indonesia dimulai dari program yang dirangkaikan dengan World Youth Day di Sidney, Australia Juli 2008, sehingga awal dari magis indonesia adalah magis08. Program semacam ini sudah terlaksana sejak WYD di Paris, Roma, Toronto dan Cologne (MAGiS05).

Setelah sukses dengan MAGiS08 dan MAGiS09, Suster-suster FCJ membuka kembali program MAGiS10 (angkatan ketiga) untuk dilaksanakan di Yogyakarta. MAGiS Yogya lahir dari dua kerinduan : Untuk mendampingi orang muda katolik yang haus akan relasi yang lebih dalam dengan Allah. Untuk membagikan spiritualitas Ignasian.

Magis adalah kata dari bahasa latin yang berarti lebih. Melalui arti kata ini, anggota Magis diharapkan dapat menggali lebih dalam arti hidup dan makna panggilan hidup mereka masing-masing. Magis merupakan komunitas Internasional. Komunitas ini mengadakan pertemuan internasional setiap tiga tahun sekali, bertepatan dengan World Youth Day (WYD). Magis adalah salah satu semangat spi-ritualitas Ignasian yang berarti melulu memilih yang lebih demi semakin luasnya pelayanan dan semakin besarnya kemuliaan Allah. Spiritualitas Ignasian adalah cara hidup dan cara berelasi dengan Allah yang diwariskan oleh St. Ignatius Loyola. St. Ignasius mengajarkan kepada kita untuk memandang dunia dengan mata Yesus Kristus. Cara pandang ini membantu untuk me-mahami bahwa asal dan tujuan hidup kita adalah Allah, Sang Pencipta. Bagi Ignatius semua ciptaan yang ada di dunia adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Selanjutnya, di hadap-an aneka sarana tersebut kita diajak untuk meneliti keinginan-keingingan pribadi lalu mem-pertimbangkan dan memilih sarana yang sesuai dengan kehendak Allah. Intinya adalah, kita diajak untuk ”mengatur hidup”. Buku Latihan Rohani adalah warisan Ignasius tentang bagaimana mengatur hidup tersebut.

MAGiS adalah program pengolahan hidup bagi orang muda berbasis Spiritualitas Ignatian. Keberadaan magis di indonesia dimulai dari program yang dirangkaikan dengan World Youth Day di Sidney, Australia Juli 2008, sehingga awal dari magis indonesia adalah magis08. Program semacam ini sudah terlaksana sejak WYD di Paris, Roma, Toronto dan Cologne (MAGiS05).

Magis Indonesia tersebar dimana-mana, dari Yogyakarta, Bandung, hingga Jakarta dengan total anggota lebih dari 100 orang sejak dimulainya di tahun 2008. Komunitas Magis di Indonesia berdiri pada 2008, berawal dari kunjungan pengurus Magis Australia, Edward Shuttleworth (koordinator program) dan Jenni Winters (direktur pembinaan) pada bulan Maret 2007, ke Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Dalam kunjungan itu, Edward dan Jenni mengajak para religius Indonesia yang menghayati Spiritualitas Ignasian untuk mengumpulkan orang muda Katolik yang akan mengikuti WYD 2008 di Sidney, Australia. Ajakan ini ditanggapi oleh suster-suster Kongregasi Faithful Companions of Jesus (FCJ) dan para Yesuit. Saat itu, Sr Inez FCJ ditunjuk sebagai koordinator Magis Yogyakarta, sedangkan RP Markus Yumartana SJ sebagai koordinator Magis Jakarta. Setelah mempersiapkan diri, Magis Indonesia pada 2008 dapat hadir di WYD Sydney. Tiga tahun kemudian, pada 2011, Magis Indonesia juga turut berpartisipasi hadir dalam WYD di Madrid, Spanyol. Magis terlaksana berkat kerjasama lima Konggregasi yang menghidupi spiritualitas Igna-sian yaitu Society of Jesus (SJ), Faithful Companions of Jesus (FCJ), Society of the Sacred Heart (RSCJ), Loreto Sisters (IBVM) dan Religius sisters of Charity (RSC).

Program MAGiS dilandasi oleh tiga pilar yaitu Spiritualitas, Persaudaraan dan Pelayanan.

  • Spiritualitas (Spirituality).

Menyadari kehadiran Allah dalam hidup, memahami tujuan hidup, dan membantu mempertimbangkan bagaimana caraku menanggapinya. Membantu anggota membangun relasi cinta dengan Allah. Mereka dibantu me-ngenali pengalaman akan Allah, memahami tujuan hidupnya dan bagaimana menanggapi cinta Allah dalam hidup.

  • Persaudaraan (Companionship).

Membangun ikatan “kawan seperjalanan” sebagai satu komunitas. komunitas memberi kesempatan agar tiap anggota dapat menjalin persahabatan dengan saling menerima, mendukung dan berbagi pengalaman.

  • Pelayanan (Service).

Melayani sesama tanpa pamrih dengan membangun persaudaraan sejati. iman tidaklah hidup dalam ruang hampa. Pelayanan adalah tindakan konkret iman. Diharapkan dalam hidup sehari-hari, peserta mampu menghayati iman dengan pelayanan yang didasari oleh dedikasi dan kemurahan hati. Tujuannya adalah demi terwujudnya masyarakat yang lebih baik.

Dasar maGis adalah Mengenal (to Know), Mencintai (to Love), Mengikuti (to Follow) yang dimana :

Makna : Mengenal Tuhan dalam hidupmu, to Know
Tujuan : Membangun hubungan yang erat dengan Yesus, to Love
Arah : Mengembangkan perasaan kita yang terpanggil menanggapi Kasih Tuhan, to Follow

Kegiatan Magis sendiri seperti latihan rohani di mana ada Spiritualitas Ignasian di dalamnya yang merupakan warisan Gereja yang hingga saat ini masih aktual untuk membantu siapa pun untuk menemukan makna hidup dan menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah-tengah globalisasi ini, banyak orang, terlebih kaum muda, menghadapi kebingungan akan orientasi hidup. Begitu banyak tawaran yang senantiasa dihadapinya. Manakah tawaran yang sungguh membawa kebahagiaan sejati itu? Spiritualitas Ignasian yang pada dasarnya adalah spiritualitas kaum awam, mampu membantu menemukan jawabnya. Juga di zaman globalisasi ini.

Perbul Sejarah Hidup

Apa itu Spiritualitas Ignasian? Untuk menjawab pertanyaan itulah program Magis ini diadakan. Di bawah ini dipaparkan secara ringkas bagaimana program Magis dilaksanakan. Seluruh bahan disusun sedemikian rupa sehingga dinamika yang dihasilkannya pun memudahkan kita untuk dapat memahami dan menghidupi Spiritualitas Ignasian.

Disini range umur tidak baku untuk 19-35 tahun ataupun lajang ada pengecualian bagi pendaftar yang memiliki hal “khusus” sehingga layak untuk bergabung di komunitas. Komunitas ini anggotanya terdiri dari mahasiswa hingga orang yang sudah bekerja. Jika ingin mengikuti komunitas ini kita tidak akan dikenakan biaya, untuk pertemuan biasa tidak ada penarikan khusus serta bersifat sukarela. Untuk pertemuan khusus seperti Community Building dan Perutusan memerlukan biaya lebih karena acara dilakukan secara outdoor.

Setiap pertemuan yang diadakan, materi akan diisi oleh suster, FCJ, dan Romo-romo Jesuit. Kegiatan rutin dilakukan 1x setiap bulan di minggu ke 2 selama 1 tahun (12 Bln). Program MAGiS Yogya dikemas dalam kira-kira sepuluh kali pertemuan dan dilaksanakan selama satu tahun. Isi pertemuan adalah materi, sharing, meditasi, doa, ice breaking, snack dan makan siang. Acara dimulai pukul 08:00 – 13:30 wib. Rundown acara dapat dilihat dalam setiap pertemuan bulanan. Sekalipun demikian, kurang lebih acara pertemuan bulanan adalah sebagai berikut:

  • Latihan doa dasar
  • Sharing dalam soul group tentang pengolahan pribadi yang telah dijalankan selama 1 bulan dan juga mensharingkan aksi pribadinya
  • Benang merah sharing kelompok sekaligus menegaskan kembali bahan yang telah diolah di bulan sebelumnya
  • Puncta bahan baru sesuai dengan materi
  • Pengolahan pribadi sesuai dengan materi
  • Ibadat/Misa
  • Makan siang
  • Examen
  • Magis circle. Sharing atas pengolahan materi
  • Serba-serbi iman
  • Puncta singkat bahan berikutnya dan home work

Perbul Pembedahan Roh

Ada juga percakapan rohani yaitu dalam pertengahan bulan, peserta membuat janjian dengan pendamping/sahabat rohani masing-masing untuk mengadakan colloqium/percakapan rohani. Colloquium menjadi sarana pendamping/sahabat rohani untuk membantu peserta dalam menjalankan pengolahan pribadi. Setiap pesertapun diwajibkan melakukan aksi pribadi. Seluruh magis-ers diharapkan membuat aksi pribadi yang positif, sederhana, konkret dan dapat dilakukan. Salah satu tujuan aksi pribadi adalah mengembangkan keutamaan dengan cara melakukan apa yang tidak kusukai, apa yang kuhindari. Bukan yang kusukai. Supaya dengan aksi pribadi itu, aku semakin berkembang dalam keutamaan. Misalnya: secara pribadi mengunjungi orang sakit (teman atau orang lain), membantu sesuatu di rumah (buka pintu garasi, cuci piring, bersih bak mandi, dsm), atau membaca buku rohani/inspirasional dan motivasi dan merangkumnya singkat untuk disharingkan, dll. Aksi pribadi dilaksanakan selama kurun waktu 1 bulan. Refleksi atas aksi itu disharingkan secara singkat dalam soul group sebelum input bahan baru. Isinya: Apa aksi pribadiku? Berhasil atau tidak? Apa yang kurasakan dan kutemukan?

Perbul Asas dan Dasar+Pengayaan Sejarah Hidup

Komunitas ini juga tidak hanya melulu membahas hal yang berbau rohani saja, pilar komunitas magis adalah spiritulitas, persahabatan dan pelayanan. Pada interen komunitas sendiri, berupaya untuk memperat persahabatan antar peserta dengan segala kegiatan diluar pertemuan serta membangun jejaring dengan komunitas lain, seperti magis circle, ziarah, nonbar, berwisata bersama. Membantu retret, koor , memimpin adorasi, menjadi pembicara (sharing) di mudika / KMK, menyalurkan bantuan beasiswa (dana berasal dari alumni magis/magis internasional) , adalah beberapa contoh kegiatan pelayanan yang Magis lakukan sebagai bentuk nyata di dunia ramai.

“Dalam perkembanganya maGis mendapat sambutan yang baik, banyak anggota atau peserta yang menyelesaikan program maGis dalam satu tahun, mereka mengalami perubahan hidup dan mengolah hidupnya lebih baik lagi sebelum mereka mengikuti magis itu sendiri”, tutur salah satu anggota maGis yang kami wawancarai.

Kegiatan yang dilakukan maGis dalam rangka mengisi materi untuk pendampingan selalu tetap tetapi mereka juga sering diundang untuk mempromosikan maGis ke kalangan anak muda-mudi katolik dalam sebuah lingkup universitas maupun umum, dsb. “salah satu tempat promosi kami di yogya adalah universitas sanata dharma, jika sadhar mengadakan seminar ignatian, kami biasanya di undang” tutur salah satu anggota maGis yang kami wawancarai. Mas dewa juga berpendapat, Magis juga yang mempelopori kembali semangat ignatian yang ada di lingkungan sanata dharma dan magis juga berharap pihak universitas bisa memfasilitasi untuk mempromosikan komunitas ini agar mahasiswa usd mau ikut dan bergabung juga tertarik masuk kedalam komunitas magis.

Mereka juga melibatkan anggota-anggotanya untuk menjadi sukarelawan dan membantu dalam bidang kemanusiaan terhadap korban bencana perang, pengungsi dan juga sebagainya ( seperti di afghanistan, myanmar, vietnam, dll ) “disini mereka bekerjasama dengan yayasan JRS indonesia atau lebih dikenal dengan Jesuit Refugee Service yang merupakan lembaga kemanusiaan”. Magis juga bekerjasama dengan Keuskupan Agung Semarang untuk pendampingan orang hidup dan mereka pernah ikut serta dan membantu vatikan dalam program pope francis (yg mewakili waktu itu maGis Jakarta). Magis juga pernah bekerjasama dengan pemerintah indonesia, waktu itu di jakarta pemerintah daerahnya mencari atau mengumpulkan volunter-volunter untuk membersihkan sampah-sampah yang tertimbun di pinggiran sungai dan magis jakarta mengirimkan 10 anggotanya untuk jadi relawan.

Magis menganggap prestasi yang bisa dibanggakan adalah mempertemukan magis satu dengan magis lainya untuk berkumpul bersama dan saling berbagi, karena maGis sendiri bukan terbentuk di indonesia, melainkan Romo-romo Jesuit di seluruh dunia, dalam prosesnya maGis bisa mengumpulkan atau mempertemukan Magis-magis seluruh negara dalam satu konferensi yang tahun 2010 diadakan di brasil dan sekarang (th. 2015) yang menjadi tuan rumah adalah indonesia dan akan diadakan di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam JCAP (Jesuit Conference Asian-Pasific) dan menjadikan indonesia sebagai pusat Magis seluruh dunia.

Tantangan kedepan bagi magis sendiri memang lebih ke personal, tantangan dari kepribadian masing-masing orang yang ingin ikut terlibat tetapi terganjal dengan rasa malas dsb, itu. Nah disini maGis berupaya Bagaimana mereka menarik, mengajak, dan bergabung membantu orang atau anggotanya melihat dan mengolah Bersama-sama sejarah hidup dan asas dasar mereka.

Kami bertanya kepada Mas dewa yang merupakan narasumber dari atau anggota magis, tentang jogja yang semakin kurang toleran terhadap keberagamaan, bagaimana sumbangsih magis sendiri unuk mengembangkan kerukunan masyarakat jogja? “kalau maGis sendiri sudah melakukannya, seperti mengadakan kunjungan ke panti asuhan karena itu salah satu program kami yaitu maGis action days, salah satu panti asuhan yang kami kunjungi yang berada di yogyakarta adalah panti asuhan hamba allah dan panti asuhan sayap ibu. Dan kami juga mengunjungi rumah sakit panti rapih juga yayasan sosial pingit, ini dimaksudkan bahwa umat katolik (magis) itu juga peduli dengan umat yang beragama lain dan kembali kepertanyaan yang tadi bahwa magis menjaga kerukunan umat beragama dengan saling berbagi kasih dan perhatian kepada orang yang membutuhkan dukungan lebih.

Ada yang pernah bertanya, bagaimana jika ingin keluar dari komunitas ini? Jika peserta tidak datang 3x pada pertemuan utama maka secara otomatis dikeluarkan dari komunitas. Peserta diberi kebebasan dalam memilih untuk berhenti mengikuti program yang diberikan oleh magis jika dirasa tidak cocok.

Tetapi, Jika kamu orang muda katolik yang mencari jati dirimu, yang makin ingin paham arah hidup yang memberimu kebahagiaan, yang memiliki kehausan untuk berjuang dan melayani mereka yang tersingkir dan miskin, bergabunglah dalam komunitas MAGiS YOGYA. Jika kamu orang muda katolik yang mencari jati dirimu, yang makin ingin paham arah hidup yang memberimu kebahagiaan, yang memiliki kehausan untuk berjuang dan melayani mereka yang tersingkir dan miskin, bergabunglah dalam komunitas MAGiS YOGYA.

Ini adalah salah satu renungan yang kami ambil dari web maGis

Perubahan (?)

Ketika dihadapkan pada suatu keadaan yang terus menerus sama dan saat kita merasa nyaman didalamnya, berarti ada yang perlu diselami lagi dari keadaan tersebut.

Hal apa saja yang telah menyamankan, apa saja yang membuat kita terlena didalamnya. Apakah ada kelekatan-kelekatan kita didalamnya? Hal-hal yang menahan atau menghambat kita untuk berkembang.

Indikasi dari “lekat” pada suasana adalah ketika dihadapkan pada suasana baru, ketika kita di”tabur” di tempat yang baru, lalu kita merasa tidak nyaman, karena terbayang-bayang betapa enaknya suasana yang lama.

Jika terjadi seperti ini, maka segera kita harus sadar dan tanggap. Tanggap dan kembali fokus pada tujuan awal sebagai manusia. Karena sudah selayaknya manusia selalu berubah, menjadi lebih dan lebih baik lagi. Dimanapun dan bagaimanapun kondisi yang ada disekitarnya.

Apa yang perlu diambil, ambillah. Apa yang menghambat, lepaskanlah.

Setelah sepenuhnya sadar lalu memutuskan, tak ada lagi yang namanya “sama”.

Perubahan bukanlah hal untuk ditakuti atau dihindari.

Perubahan adalah bagian dari diri kita sebagai manusia

 

Dewa Agung Yogie [145214096] & Alusius Sandy Pratama P. [145214096]

Tags:
yogie_sandy@yahoo.co.id'

About yogiesandy