Perkembangan Ludruk Pasca Revolusi

Oleh Lucia Juningsihludruk

 

Pengantar

Studi tentang Indonesia pasca revolusi khususnya tentang sejarah politik seperti: hubungan diplomatik, pemberontakan, perang, jatuh bangunnya parlemen, konflik antar golongan, otoritas pemimpin, dan nasionalisme telah banyak dilakukan. Hal itu memberi kesan bahwa hanya aspek politik yang menentukan atau mendominasi kehidupan bangsa Indonesia, padahal bangsa Indonesia hidup dalam kompleksitas. Dengan demikian kehidupan bangsa Indonesia tidak hanya menyangkut aspek politik tetapi juga aspek-aspek yang lain seperti: ekonomi, sosial, budaya, agama dan lain sebagainya. Namun demikian tidak berarti sejarah politik tidak menarik lagi atau sudah usang. Sejarah politik tetap menarik bila digambarkan secara multidimensional, sebab proses politik sangat ditentukan oleh sikap dan kelakuan politik yang pada hakekatnya multidimensional sifatnya, yang menyangkut faktor ekonomi, sosial, kultural, religi, dan sebagainya. Dengan penggambaran secara multidimensional maka dapat digambarkan bagaimana konflik antar golongan muncul, bagaimana orientasi nilai golongan masing-masing, pengambilan keputusan kolektif, otoritas pemimpin untuk memobilisasi pengikut dan sebagainya (Sartono Kartodirdjo: 1992, 46). Konsep proses politik yang diperluas serta dianalisis atas pelbagai unsur dan dimensinya akan menunjukkan bahwa proses politik sangat ditentukan oleh sikap dan kelakuan politik yang pada hakekatnya multidimensio-nal sifatnya (Sartono Kartodirdjo: 1992, 47).

Studi tentang kebudayaan Indonesia sesudah revolusi khususnya tentang seni pertunjukan rakyat (yang berbentuk seni drama) juga sudah banyak dilakukan seperti: ludruk, ketoprak, srandul, sruntul, ketek ogleng, ande-ande lumut, wayang topeng, dan lenong. Pada kesempatan ini saya mencoba mengetengahkan ludruk pada masa sesudah revolusi, bukan pembahasan tentang seninya tetapi lebih pada perkembangan, fungsi seni pertunjukan ludruk bagi masyarakat, dan beberapa permasalahan yang dihadapi yang menyebabkan kemunduran seni pertunjukan ludruk.

Kesenian dalam pengertian sehari-hari berhubungan dengan produk estetika umat manusia yang meliputi: seni sastra, seni rupa, seni pertunjukan, dan seni rekam yang merupakan produk teknologi mutakhir seperti film dan televisi. Dalam pengertian yang luas kesenian dapat menyangkut juga segala produk kebudayaan sebagai hasil peradaban manusia (Departemen P dan K, 1990: 98).

Di Indonesia, kesenian dapat ditinjau dalam konteks kebudayaan maupun kemasyarakatannya. Dalam konteks kebudayaan, bahwa adanya berbagai ragam kesenian karena adanya lapisan-lapisan kebudayaan yang bertumpuk dari jaman ke jaman. Di samping itu juga karena adanya berbagai lingkungan budaya yang hidup berdampingan dalam satu masa sekarang ini. Ditinjau dari konteks kemasyarakatan, bahwa jenis-jenis kesenian tertentu mempunyai kelompok pendukung tertentu.

Dalam masyarakat terdapat berbagai golongan yang didasarkan pada pembedaan: kekayaan, keturunan, kepercayaan ataupun kebangsaan. Semakin banyak dasar pembedaan itu maka semakin heterogen suatu masyarakat. Setiap golongan masyarakat memiliki bentuk-bentuk kesenian yang paling akrab dengannya, bahkan kadang-kadang terdapat hubungan memiliki-dimiliki antara golongan masyarakat tertentu dengan bentuk kesenian tertentu (Edi Sedyawati dan Sapardi Djoko Damono, 1983: VII-IX).

Pertunjukan rakyat atau teater rakyat berbeda dengan pertunjukan istana. Pertunjukan rakyat didukung oleh lapisan masyarakat kelas bawah, hidup ditengah-tengah masyarakat bawah, dan sebagian besar penontonnya adalah rakyat jelata (kelas bawah). Pertunjukan rakyat sebagian besar menjadi pengamen (mbarang) dari desa ke desa atau dari kampung ke kampung. Dalam perkembangannya ada juga yang membentuk suatu perkumpulan. Penghasilan pemain ludruk diperoleh dari para penonton dan jumlahnya relatif sedikit. Bahkan tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari apalagi untuk program pengembangan seni pertunjukan ludruk, sedangkan pertunjukan istana, didukung oleh para bangsawan dan diolah oleh para ahli abdi raja dengan beaya yang cukup, dipentaskan di istana, hidup ditengah-tengah masyarakat bangsawan dan penontonnya para bangsawan. Dengan demikian memungkinkan seni pertunjukan istana lebih mampu berkembang daripada seni pertunjukan rakyat.

Ludruk merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang berbentuk seni drama. Pendukung kesenian ini adalah masyarakat kelas bawah khususnya masyarakat Jawa Timur. Menurut M. Soeharto dalam Kamus Musik Indonesia, ludruk adalah seni teater rakyat dari daerah Jawa Timur, berupa pagelaran cerita atau kisah sehari-hari yang diungkapkan dengan percakapan, gerak, dan tembang, dengan gaya dan bahasa khas Jawa Timur. Para pelaku hanya terdiri dari para pria meskipun untuk peranan wanita. Lagu-lagu yang dibawakan diiringi gamelan laras slendro (M. Soeharto: 1978, 94). Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa seni pertunjukan rakyat ludruk termasuk dalam folklor setengah lisan artinya mengandung sifat kelisanan atau setengah kelisanan yang diekspresikan dalam bentuk gerak di atas panggung (Henri Supriyanto, 1992: IX). Dengan demikian ludruk merupakan seni yang disajikan dengan penampilan peragaan, yang dapat dihayati selama berlangsungnya proses ungkap oleh pelakunya (Suwaji Bastowi, 1992: 42).

Ludruk di samping sebagai teater rakyat juga merupakan teater tradisionil dan teater hiburan. Ludruk sebagai teater rakyat mempunyai ciri-ciri: pertama, lakon yang dipentaskan adalah ekspresi kehidupan rakyat sehari-hari. Kedua, pementasan diiringi musik gamelan dengan lagu jula-juli, walang kekek, ayak samera. Lagu-lagu itu sering dilagukan rakyat kelas bawah di kampung-kampung perkotaan atau di desa-desa. Ketiga, tata busana menggambarkan kehidupan rakyat sehari-hari yang amat sederhana, terutama pada kostum pelawak yang sering berperan sebagai pembantu rumah tangga. Keempat, kidungan terdiri atas pantun atau syair yang dilagukan dengan tema kehidupan sehari-hari, bersifat kerakyatan dan diucapkan dalam bahasa daerah atau bahasa Indonesia. Kelima, sifat rakyat amat sederhana, spontan, dan menyatu dengan masyarakanya (penonton). Dialog pemain secara improvisatoris, tanpa naskah yang harus dihafalkan, aktor dapat berdialog langsung dengan penonton dan seringkali menimbulkan adegan lempar rokok dari penonton yang meminta lagu-lagu tertentu (Henri Supriyanto, 1992: 31).

Ludruk sebagai teater tradisionil atau teater daerah mempunyai beberapa ciri khas. Pertama, bahasa yang digunakan disesuaikan dengan lakon yang dipentaskan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah (Jawa dan Madura) dan pada lakon-lakon tertentu dialog menggunakan bahasa Indonesia. Kedua, pemeran wanita diperankan oleh laki-laki (tandak). Ketiga, lagu berupa kidungan yang diiringi gamelan (gending jula-juli), musik gamelan berlaras slendro, laras pelog atau laras slendro dan pelog dalam satu unit. Ada empat macam kidungan yakni kidungan tari ngremo, kidungan lawak, kidungan bedayan, dan kidungan adegan. Keempat tari pembukaan disebut tari ngremo yang dilanjutkan dengan bedayan dan kemudian atraksi lawak. Kelima, adegan antara babak dapat berupa tari, nyanyian atau komik dagelan. Keenam, lakon yang dipentaskan merupakan cerita rakyat yang sudah dikenal oleh masyarakat (Henri Supriyanto, 1992: 23-29).

Ludruk sebagai teater hiburan identik dengan teater kitsh yaitu teater yang dipersiapkan sebagai komoditi komersial untuk khalayak penonton baik di kota maupun di desa. Dengan demikian ludruk dituntut untuk mampu memberi kepuasan pada selera penonton, selera populer, dan diharapkan pula mampu mengikuti perkembangan jaman. Oleh karena ludruk sebagai seni hiburan maka yang ditonjolkan adalah adegan lawak, tari dan nyanyi oleh seniwati yang cantik yang melantunkan lagu-lagu yang sedang ngetop (digemari) (Henri Supriyanto, 1992: 32-33; mengenai seni populer dan humor lihat Arwah Setiawan, Yang “Pop” dan “Tinggi” dalam Humor, dalam Prisma N0. 6 Juni 1977: 80-83).

Seperti bentuk seni pertunjukan rakyat yang lain yaitu ketoprak, ludruk juga mempunyai beberapa fungsi antara lain: sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, alat pendidikan, dan kritik sosial. Namun apabila dilihat dari perkembangannya dewasa ini tampaknya fungsi itu kurang dapat berjalan.

Berdasarkan uraian di atas, ada tiga masalah yang akan dibahas yakni: pertama, Mengapa fungsi seni pertunjukan rakyat ludruk sebagai alat pendidikan, kritik sosial, dan alat untuk meningkatkan kesadaran dan pendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan kurang berhasil? Kedua, Faktor-faktor apakah yang menyebabkan kemunduran seni pertunjukan rakyat ludruk? Untuk memperoleh gambaran yang jelas maka akan diuraikan pula secara singkat sejarah pertunjukan rakyat ludruk dari masa Pemerintahan Hindia Belanda sampai proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Masa Penjajahan Belanda Sampai Proklamasi Kemerdekaan

Kapan seni pertunjukan rakyat ludruk lahir? Belum ada data yang pasti yang dapat menunjukkan kapan lahirnya seni pertunjukan rakyat ludruk. Menurut James R. Brandon, mulainya seni pertunjukan sebagai pertunjukan estetis atau mulainya seni pertunjukan yang profesional dan komersial di Indonesia waktunya sama dengan munculnya beberapa kota besar pada perempat terakhir abad ke-19. Penduduk kota yang semakin banyak membutuhkan pertunjukan yang estetis (R.M. Soedarsono, 21-28 September 1992: 8). Manager-manager seni pertunjukan mulai membangun kompani-kompani yang permanen untuk melayani permintaan masyarakat kota. Mereka menghasilkan berbagai bentuk pertunjukan estetis, beberapa di antaranya berasal dari drama tari kerajaan seperti wayang, dari drama rakyat antara lain: ludruk, ketoprak, arja, sandiwara (R.M. Soedarsono, 21-28 September 1992: 8).

D. Djajakusuma pada sarasehan ludruk di Surabaya tahun 1987 mengatakan, bahwa sejak abad ke-19 masyarakat Jawa Timur telah mengenal ludruk. Pernyataan itu didasarkan pada Statistiek van Crisse van 1822 (menurut Suripan Sadi Hutomo pernyataan D. Djajakusuma sesungguhnya diangkat dari Statistiek van de Resintie Grissee, Anno 1822). Pernyataan itu diperkuat Suripan Sadi Hutomo yang menemukan istilah ludruk pada naskah Rara Mendut-Pranacitra yang ditulis oleh Raden Ngabehi Renggasutrasno tahun 1820, jaman Paku Buwono V. Istilah ludruk dari dua temuan itu adalah badhut, badhutan atau taledhek (penari wanita) (Henri Supriyanto, 1992: 6). Menurut James R. Brandon, bahwa ada unsur kekebalan dan demonstrasi magic dalam pertunjukan ludruk sebelum abad ke-20 (James R. Brandon, 1967: 48-49). Dari pengertian itu maka dapat dikatakan bahwa seni pertunjukan rakyat ludruk mempunyai fungsi sebagai hiburan dan menunjukkan alam pikiran masyarakat Jawa yang magis pada masa itu.

Nama lain dari ludruk adalah lerok. Berdasarkan analisis linguistik kata lerok merupakan variasi dari kata lorek. Para pengamen yang tampil, merias wajahnya dengan model coretan agar tampak lucu dan sulit untuk dikenali wajahnya. Dalam perkembangannya timbullah istilah lerok ngamen yang berasal dari kata lorek ngamen (wong lorek ngamen). Perkembangan lerok dapat dibagi dalam tiga periode yakni lerok ngamen, lerok besut dan periode lahirnya ludruk sebagai teater berlakon (Henri Supriyanto, 1992: 8-9).

Pada periode lerok ngamen (1907-1915), bentuk ludruk masih sangat sederhana, hal itu dapat dilihat dari kelengkapan instrumen pertunjukan. Pada masa awal lerok ngamen, pemain hanya satu dan tidak menggunakan alat musik pengiring dalam pertunjukannya. Demikian pula busana yang dipakai sangat sederhana. Pada waktu itu pertunjukan ludruk hanya diiringi musik lisan atau musik mulut. Dalam perkembangannya pemain ludruk bertambah. Seiring dengan bertambahnya anggota, maka ada penambahan dalam bentuknya yakni masuknya alat musik kendang dan hadirnya travesti atau wedokan, yakni peran wanita yang diperankan oleh laki-laki dengan pakaian busana wanita, maksudnya adalah untuk menarik penonton (Henri Supriyanto, 1992: 8-9).

Pada masa lerok besut (1915-1920), model penyajiannya berbeda dari masa lerok ngamen meskipun para pelakunya sama. Apabila pada masa lerok ngamen tempat pertunjukannya di jalan-jalan sebab merupakan pertunjukan keliling (ngamen), maka pada lerok besut tempat pertunjukannya sudah ditetapkan sebab ditanggap misal di suatu pesta seperti: perkawinan, khitanan, dan ruwatan. Besut dari kata mbekto maksud, artinya seni pertunjukan yang berfungsi menyampaikan maksud atau tujuan tertentu. Mengenai model penyajiannya, karena untuk suatu perayaan dan keselamatan maka sebelum pertunjukan dimulai diadakan serangkaian upacara selamatan yang dilengkapi dengan bermacam-macam sesaji seperti, daun sirih warna kuning, pisang raja satu tandan, kain putih dan uang logam. Setelah itu baru pementasan lerok dengan urutan sbb.: pertama, dalam situasi panggung masih sepi seorang pemain naik ke panggung dengan membawa lampu obor. Adegan itu menggambarkan keadaan dunia yang masih kosong, belum terjadi suatu peristiwa. Kedua, pembawa obor tadi diikuti pemain kedua dengan wajah ditutup kain putih dan mulutnya disisipi tembakau. Wajah ditutup kain putih mengandung arti belum memahami isi dunia, sedangkan mulut disisipi tembakau artinya mulut harus dijaga dengan baik dan dilarang berbicara sebelum sesaji berakhir. Ketiga, setelah berada di pusat arena pertunjukan pemain lerok memberi hormat ke arah keempat penjuru dengan gerakan searah jarum jam, kemudian tembakau yang berada di mulutnya dibuang dan kain penutup wajah dibuka. Pemeran utama lerok besut disebut besut, dengan ciri-ciri: Pemain menggunakan topi merah berkucir (topi Turki), tanpa baju atau berbaju putih, memakai kain panjang putih. Sumber yang lain menyebutkan bahwa ada tiga macam istilah ludruk yakni Ludruk Besut, Ludruk Besutan, dan Ludruk Besep. Ludruk Besut artinya pertunjukan ludruk dengan tokoh utama Besut. Ludruk Besutan menampilkan tiga tokoh panggung, yakni Kakang Besut, Paman Jamino, dan istri Besut yang bernama Asmunah versi lain Astimunah atau Rusmini. Ludruk Besep menampilkan tiga tokoh yakni Kakang Besut, istri Besut yang bernama Jeminah, dan juragan Celep. Iringan musik yang digunakan ialah gamelan laras slendro yang terdiri atas: kendang, saron, kempul, gong, siter, dan slenthem/slentem (Henri Supriyanto, 1992:9-11).

Periode sesudah tahun 1920 lerok tidak banyak mengalami perubahan dan masih mengikuti tradisi pertunjukan sebelumnya. Memang ada penambahan dalam ragam pertunjukannya yakni dengan ditampilkannya tari gembira atau tari ngremo atau tari remong. Penggambaran watak satria di dalam tarian itu gagah perkasa, gerakan tarinya diikuti dengan gerakan kepala (bahasa Jawa gela-gelo) dan kaki kanan dihentak-hentakan (gedrag-gedrug). Bertitik tolak dari tarian itu dengan hentakan kaki (gedrag-gedrug) maka lahirlah akronim ludruk (Henri Supriyanto, 1992: 11). Dalam periode pertumbuhan itu nampak adanya perkembangan baik dalam bentuk maupun isinya, demikian pula dengan tujuannya tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai alat untuk menyampaikan maksud tertentu.

Pada masa penjajahan Belanda, ludruk juga berfungsi sebagai media informasi untuk menanamkan semangat nasionalisme pada masyarakat. Memang kurang ada kebebasan dalam pementasan sebab Pemerintah Hindia Belanda secara ketat mengawasi perkumpulan ludruk yang akan pentas. Bentuk pengawasannya yaitu ludruk yang akan pentas harus minta ijin pentas dengan melampirkan sinopsis lakon. Di dalam ijin pentas itu Pemerintah Belanda menetapkan syarat bahwa isi lakon dilarang mengkritik pemerintah. Pada masa Penjajahan Jepang, ludruk berfungsi sebagai alat propaganda untuk kepentingan Jepang. Namun dalam hal persyaratan pentas tidak berbeda antara syarat yang diajukan pemerintah Jepang dengan pemerintah Hindia Belanda (Henri Supriyanto, 1992: 12).

Fungsi  Ludruk

James Danandjaja mengemukakan beberapa fungsi teater bagi kehidupan masyarakat Indonesia yaitu (James Danandjaja, dalam Edi Sedyawati dan Sapardi Djoko Damono, 1983: 80-86), pertama, sebagai alat pendidikan bagi anggota masyarakat. Kedua, sebagai alat penebal perasaan solidaritas kolektif. Ketiga, sebagai alat yang memungkinkan seseorang dapat bertindak dengan penuh kekuasaan terhadap orang yang menyeleweng. Keempat, sebagai alat untuk mengeluarkan protes terhadap ketidakadilan. Kelima, memberi kesempatan bagi seseorang melarikan diri untuk sementara waktu dari kehidupan nyata yang membosankan ke dunia khayalan yang indah. Keenam, para pemainnya berbuat sesuatu yang dalam kehidupan sehari-hari dilarang oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya. Kesenian ludruk juga mempunyai beberapa fungsi itu.

Ludruk melalui cerita yang ditampilkan dapat digunakan sebagai alat pendidikan bagi anggota masyarakat. Pada umumnya cerita yang ditampilkan merupakan cerita yang bersifat mendidik seperti: keluarga berencana, kebersihan lingkungan, transmigrasi. Kadang-kadang cerita-cerita itu merupakan titipan dari Pemerintah. Mengapa? Sebab lewat ludruk himbauan Pemerintah dapat dengan mudah sampai dan diterima masyarakat luas. Ludruk dapat dikategorikan sebagai teater populer. Istilah populer mengandung unsur populus (bahasa latin: rakyat), oleh sebab itu ludruk sebagai teater populer harus melibatkan khalayak yang cukup luas, dan kebudayaan yang diberi predikat pop harus kebudayaan yang dianut atau digemari oleh masyarakat luas. Seni populer mencakup seni pop dan seni rakyat atau folk art. Seni rakyat adalah kesenian yang berakar pada rakyat, lahir secara spontan, tumbuh dari bawah dan dari dalam (Arwah Setiawan dalam Prisma No. 6 Juni 1977: 81).

Ludruk sebagai teater populer yang dimanfaatkan untuk pembangunan disebut participatory drama (Phil Astrid S. Susanto, 1980: 76). Oleh karena lakon dalam ludruk merupakan titipan pemerintah maka tidak dapat dihindari seni menjadi dinomorduakan. Melalui pemanfaatan teater pop sebagai media komunikasi pembangunan dapat dicapai suatu keadaan “collective expression and a communal activity“, sehingga kesediaan untuk berpikir dan bertindak bersama (cooperative thinking and action) dapat dicapai. Dengan memanfaatkan teater pop memungkinkan partisipasi masyarakat yang dikenal sebagai grass-root participation. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan dapat dicapai dengan melibatkan unsur emosional yaitu dengan menggunakan musik dan lagu. Secara psikologis luluhnya unsur dialog dengan unsur lagu atau musik telah mengakibatkan luluhnya unsur rasional dengan unsur emosional dan menghasilkan efektivitas komunikasi pembangunan (Phil. Astrid S. Sutanto, 1980: 77-78).

Sebagai alat penebal perasaan solidaritas kolektif, ludruk biasanya menyajikan cerita-cerita seperti bencana nasional. Dengan harapan bahwa masyarakat mau membantu saudara-saudaranya sebangsa yang sedang mendapat musibah. Dapat dikatakan secara tidak langsung ludruk dapat menggalang persatuan bangsa tanpa memikirkan suku, golongan maupun agama.

Ludruk dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan protes terhadap ketidakadilan atau sebagai media kritik sosial. Biasanya cerita yang ditampilkan antara lain: rebutan pangkat, korupsi dari para pejabat pemerintah, dan perampasan tanah penduduk. Fungsi itu dapat juga sebagai peringatan terhadap pemerintah supaya segera memperbaiki kondisi masyarakat dan aparatnya. Dengan demikian kemerosotan moral dapat dihindari dan hak-hak azasi manusia mendapat perhatian yang utama.

Fungsi yang lain dari ludruk adalah sebagai pertunjukan hiburan. Dengan menonton ludruk, untuk sementara waktu orang dapat melupakan beban hidupnya. Sebagai salah satu ciri pertunjukan hiburan, ludruk selalu menampilkan adegan lawak. Gerak dan dialog lawak dapat menimbulkan sikap santai dan akrab pada para penontonnya, serta dapat menjadi salah satu ukuran keberhasilan suatu kesenian populer. Keberhasilan itu hanya dapat tercapai apabila pelaku diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan penontonnya (Phil. Astrid S. Susanto, 1980: 73). Hal penting yang perlu dicatat adalah bahwa sebenarnya humor pentas sudah berakar dalam masyarakat sejak dahulu. Kesenian tradisionil seperti ketoprak, wayang selalu menampilkan humor (lawak?). Humor dalam kesenian tradisionil biasanya dari jenis yang dapat dinikmati oleh segala lapisan masyarakat (Arwah Setiawan, Prisma No. 6, Juni 1977: 83).

Biasanya adegan lawak atau humor ditampilkan di tengah cerita atau pada selingan antar babak. Atraksi lawak di tengah lakon itu merupakan komik atau komedi pendek dan dapat berfungsi menurunkan ketegangan (klimaks lakon). Hal lain yang bersifat menghibur adalah diselipkannya lagu atau gending dan tari yang dibawakan oleh penari-penari cantik pada selingan antar babak atau pada adegan akhir acara lawak, yang secara khusus melayani penonton yang minta tari, lagu atau gending-gending yang disukai. Biasanya penonton melemparkan sebungkus rokok yang dilampiri pesan permintaan gending atau tari. Untuk menarik penonton biasanya lagu-lagu yang dilantunkan merupakan lagu yang sedang ngepop baik itu lagu populer maupun lagu ndangdut. Untuk itu ludruk sebagai teater hiburan atau teater kitsh harus mengikuti perkembangan jaman tanpa harus mengorbankan ciri khas ludruk (Henri Supriyanto, 1992: 33).

Salah satu fungsi ludruk yang penting yakni, sebagai alat untuk menumbuhkan rasa kebebasan dari para pemain untuk berbuat sesuatu, yang pada kehidupan sehari-hari dilarang oleh norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Di Dalam masyarakat selalu ada beberapa istilah yang dilarang oleh norma-norma untuk diucapkan di muka umum. Akan tetapi istilah-istilah atau kata-kata itu dapat diucapkan dengan tidak disengaja melalui keseleo lidah, atau dengan sengaja melalui lelucon. Menurut Freud, keseleo lidah itu secara sadar adalah tidak sengaja diucapkan, tetapi secara tidak sadar memang disengaja hendak diucapkan (James Danandjaja, dalam Edi Sedyawati dan Sapardi Djoko Damono, 1983: 81). Kata-kata atau istilah-istilah yang salah diucapkan sebenarnya adalah yang ingin diucapkan, tetapi tidak dapat diucapkan karena ada larangan dari masyarakat. Oleh karena masyarakat dapat memberi maaf untuk kata-kata terlarang yang terucapkan karena kesalahan ini, maka para pemain ludruk sering memperalat keseleo lidah untuk mengucapkan kata-kata cabul, atau sindiran-sindiran terhadap penguasa, atau membicarakan masalah-masalah masyarakat yang sangat sensitif. Para pemain ludruk dapat berbuat begitu karena mengetahui bahwa mereka tidak dapat diminta pertanggungjawaban. Demikian halnya dengan memperalat lelucon, seorang pemain ludruk dapat mengalihkan tanggung jawab pribadinya kepada tradisi. Folklor yang disebut lelucon itu bukan dianggap sebagai ciptaan si pelawak sebagai individu, melainkan ciptaan kolektif masyarakat. Oleh karena itu sindiran-sindiran yang dilontarkan kepada seorang atau golongan bukan dari perorangan melainkan dari masyarakatnya (James Danandjaja, dalam Edi Sedyawati dan Sapardi Djoko Damono, 1983: 83). Dari beberapa fungsi itu dapat dikatakan bahwa di dalam seni, menurut Bakker direalisasikan nilai, maka disetiap seni mengandung nilai dan boleh dikatakan pula bahwa setiap seni mempunyai pesan tentang nilai atau sebagai mission untuk menyampaikan nilai pengalaman nilai estetik seniman (Suwaji Bastomi, 1992: 74).

Faktor-faktor Penyebab Kemunduran Seni Pertunjukan Rakyat Ludruk

Pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, di Jawa Timur lahir berbagai perkumpulan seni pertunjukan rakyat ludruk dan kemudian mengalami perkembangan yang pesat, baik sebagai seni pertunjukan yang estetis maupun komersial di kota-kota besar Jawa Timur seperti: Surabaya, Jombang, Kediri, Malang, Mojokerto, Jember, dan Banyuwangi. Pada umumnya nama perkumpulan ludruk sama dengan nama tempat, nama pemimpin atau nama organisasi. Beberapa ludruk yang didirikan pasca proklamsi antara lain: Ludruk Budidojo, Ludruk Karen, Ludruk Bakri, Ludruk Marhaen, dan Ludruk Murba.

Pada masa awal kemerdekaan terjadi gerakan ludruk dari desa ke kota-kota besar di Jawa Timur (Henri Supriyanto, 1992: 2, 12). Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat kota mulai memperhatikan seni pertunjukan ludruk. Akan tetapi pada tahun 1965-an, seni pertunjukan ludruk mengalami kemunduran sebagai akibat dari peristiwa G30S/PKI. Banyak perkumpulan ludruk yang bernaung atau berafiliasi dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dibekukan oleh Pemerintah, sedangkan perkumpulan ludruk yang anggotanya tidak terlibat PKI tidak berani mengadakan pementasan (Henri Supriyanto, 1992: 14).

Sesudah peristiwa G30S/PKI, seni pertunjukan ludruk mulai hidup kembali. Hal itu tidak terlepas dari usaha TNI AD Dam VIII Brawijaya (yang ada di Malang) dan didukung oleh anggota ludruk yang tidak terlibat dalam kegiatan Lekra atau PKI untuk menghidupkan kembali kesenian ludruk (Henri Supriyanto, 1992: 14).

Sejak tahun 1970-an seni pertunjukan komersial di Indonesia perkem-bangannya kurang menggembirakan. Banyak perkumpulan seni pertunjukan rakyat yang bangkrut (R.M. Soedarsono, 21-28 September 1992: 9), termasuk seni pertunjukan ludruk. Pada akhir abad ke-20 seni pertunjukan rakyat ludruk semakin tersingkir dari kota-kota besar dan bergerak menuju ke desa atau daerah yang masyarakatnya menggemari ludruk (Henri Supriyanto, 1992: 2). Sebagai salah satu bentuk dari teater rakyat, ludruk mengalami pasang surut, meskipun demikian dengan susah payah ludruk dapat bertahan hingga sekarang. Apabila dilihat dari jumlah penonton yang cenderung semakin menurun dan terbatas ragamnya maka ludruk sebagai teater rakyat kurang dapat menjalankan fungsinya seperti tersebut di atas.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ludruk semakin tersingkir dari kota-kota dan semakin menurun jumlah penontonnya. Pertama, faktor intern yakni mencakup antara lain daya dukung pemainnya, tema cerita, dan upah pemain (Henri Supriyanto, 1992: 34-37). Pada umumnya pemain ludruk berasal dari rakyat jelata seperti petani (pemilik tanah atau buruh tani), karyawan, wiraswastawan kecil, pamong desa, atau anggota ABRI. Sebagian besar dari mereka main ludruk hanya untuk sambilan saja dan tentu saja permainannya kurang maksimal. Hanya sebagian kecil yang bermain maksimal sebab menjadi pemain ludruk adalah untuk pekerjaan pokoknya. Di samping itu hampir seluruh pemain ludruk mempunyai latar belakang pendidikan yang relatif rendah yakni dari antara SD sampai SLTA. Mereka tidak mempunyai pendidikan yang relevan dengan profesinya. Di samping itu memang belum ada lembaga pendidikan yang khusus tentang seni pertunjukan ludruk. Dengan kondisi seperti itu maka para pemain dapat dikatakan bermain kurang profesional dan bahkan kurang berbobot. Pemain yang tidak profesional menyebabkan para penonton kecewa dan enggan untuk melihat lagi. Kurang-nya ide-ide baru yang segar dalam lakon-lakon yang disajikan, sementara lakon yang disajikan sudah dikenal masyarakat luas, menyebabkan ludruk kurang menarik untuk ditonton. Di samping itu ludruk kurang cepat dalam menyikapi gejolak dan perubahan kota, misal mempertahankan pola pementasan sampai larut malam. Juga sikap tradisionil seniman ludruk yang cenderung menganggap ringan peranan lakon yang disajikan di kota. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah prasa-rana pementasan yang kurang memenuhi syarat yakni kurangnya gedung pementasan yang cocok untuk ludruk. Akhirnya ludruk dipentaskan di tanah lapang dengan panggung dan bangunan yang bersifat sementara (darurat).

Faktor upah merupakan faktor yang menentukan pula kemunduran seni pertunjukan ludruk. Yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah penghasilan seseorang amat ditentukan oleh prestasi individu dan ditunjang oleh popularitas perkumpulan. Pelawak dan seniwati yang terkenal sering diundang khusus oleh perkumpulan lain baik untuk pementasan di gedung maupun di terob. Upah mereka untuk setiap kali pementasan berkisar antara Rp 5000,- sampai Rp 15.000,-, sedangkan undangan khusus untuk setiap kali pementasan berkisar antara Rp 25.000,- sampai Rp 35.000,-. Penghasilan kolektif untuk suatu perkumpulan pada setiap kali pementasan di Terob berkisar antara Rp 200.000,- sampai Rp 500.000,-, sedangkan bila pentas di gedung sulit untuk dirumuskan sebab bersifat lokal dan situasional. Perhitungan rata-rata untuk setiap seniman ludruk pada setiap kali pementasan berkisar antara Rp 1.000,- sampai Rp 2.500,-. Pada setiap pertunjukan biasa (tidak ditanggap) dan apabila hasil penjualan karcis amat merosot mereka hanya mendapat rata-rata Rp 500,-, bahkan kadang-kadang di bawahnya. Dengan kondisi seperti itu memungkinkan para pemain kurang dapat bermain sepenuhnya. Seringkali penghasilan tidak cukup untuk membeli make up, menyewa gedung, dan membayar listrik. Pementasan ludruk dengan sponsor kurang menguntungkan, sebab penontonnya tidak banyak. Pertunjukan ludruk yang dikasetkan juga kurang menguntungkan sebab pada umumnya pemain ludruk kurang mengetahui jumlah kaset yang diproduksi oleh pihak produser atau pengontrak. Para sponsor dan pengontrak itu hanya bersifat membantu kesejahteraan seniman ludruk pada saat rekaman itu saja.

Kedua, faktor ekstern mencakup antara lain perubahan sikap masyarakat kota khususnya terhadap kesenian ludruk. Perlu diingat bahwa pada awal kemerdekaan, ludruk berkembang pesat di kota-kota Jawa Timur. Dapat dikatakan, mengalirnya ludruk dari desa ke kota-kota mendapat sambutan dari masyarakat luas atau diminati masyarakat luas, sehingga dapat berkembang pesat. Namun sekarang kesenian ludruk mengalir kembali ke desa-desa atau kota-kota kecil sebab masyarakat kota besar cenderung kurang memberi sambutan pada ludruk. Mengapa sebagian masyarakat kota berubah sikapnya?

Apakah batasan sikap itu? Menurut David O. Sears sikap adalah kecenderungan, pandangan, penilaian, persepsi ataupun reaksi seseorang terhadap obyek tertentu atau terhadap stimulus yang datang kepadanya (David O. Sears, 1988: 138). Pada umumnya para psikolog sosial sepakat bahwa unsur atau komponen yang terkandung dalam sikap itu ada tiga yaitu, kognisi, afeksi, dan perilaku (David O. Sears, 1988: 138; Gibson, 1985: 63-65).

Menurut Gibson bahwa unsur afeksi dari sikap itu berkenaan dengan seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap obyek tertentu seperti: pendapat, ide, nilai, dan norma, yang di dalamnya memang termuat unsur menilai atau meyakini. Unsur kognisi dari sikap terdiri atas persepsi, pendapat, dan keyakinan seseorang tentang suatu hal. Unsur kognisi lebih menunjukkan proses berpikir dengan penekanan khusus pada rasionalitas dan logika. Elemen kognisi yang penting adalah keyakinan evaluatif yang dimiliki orang tersebut. Keyakinan evaluatif diwujudkan dalam bentuk kesan yang baik atau tidak baik yang dimiliki seseorang terhadap obyek atau orang. Sementara itu unsur perilaku dari sikap berhubungan dengan kecenderungan seseorang untuk bertindak terhadap seseorang atau sesuatu dengan cara yang ramah, hangat, agresif, bermusuhan, apatis, membenci, atau dengan sesuatu cara lain. Tindakan ini dapat diukur atau dinilai untuk mengkaji komponen perilaku dari sikap (Gibson, 1985: 63-64).

Teori itu dapat menjelaskan bahwa afeksi, kognisi, dan perilaku menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu atau objek termasuk terhadap seni pertunjukan rakyat ludruk. Masyarakat kota mempunyai pendapat, persepsi maupun kesan terhadap seni pertunjukan ludruk dewasa ini. Selanjutnya sikap menentukan afeksi, kognisi, dan perilaku untuk menolak atau menerima seni pertunjukan ludruk. Sebagian besar masyarakat kota yang telah terpengaruh budaya modern, menilai dan menganggap bahwa seni pertunjukan ludruk merupakan seni pertunjukan yang sudah ketinggalan jaman, sehingga kurang menarik. Anggapan dan penilaian itu didasarkan pada alat musik yang digunakan, kostum pemain, tata panggung, cerita yang disajikan yang sebagian besar merupakan titipan dari pemerintah. Faktor yang lain, bahwa kemajuan teknologi khususnya media elektronika menyebabkan seni pertunjukan rakyat ludruk kurang menarik masyarakat. Media elektronika seperti Televisi, Radio, Bioskop, dll. mampu menampilkan seni hiburan yang dikemas dengan baik sehingga lebih menarik perhatian masyarakat. Seni hiburan yang sudah dikemas itu menurut anggapan dan penilaian sebagian masyarakat kota, yang didasarkan pada tata panggung, kostum, ide cerita, maupun musik, lebih menarik dan mengikuti perkembangan jaman.

Dari waktu ke waktu sikap seseorang dapat berubah-ubah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan sikap, semuanya dapat diuraikan dengan mengacu pada tiga kategori umum yaitu: percaya pada pengirim pesan, isi pesan itu sendiri, dan situasi (David O. Sears, 1988: 174-178). Apabila ludruk sebagai pengirim pesan kurang mendapat perhatian masyarakat, maka dapat dipastikan isi pesan yang dibawakan juga tidak sampai. Dengan demikian fungsi ludruk sebagai alat untuk memotivasi pembangunan, ataupun alat pendidikan bagi masyarakat kurang dapat berjalan. Mengenai situasi, apabila dikaitkan dengan perkembangan kesenian dewasa ini khususnya di luar seni pertunjukan ludruk seperti film, kesenian ludruk memang agak tersisih khususnya di kota-kota besar. Faktor-faktor penyebab dari berkurangnya peminat ludruk di Jawa Timur antara lain: pertama, mengalirnya arus hiburan melalui media elektronika seperti radio, tape recorder, televisi, dan film yang menyajikan hiburan bagi masyarakat kota dan desa yang telah berlistrik. Dampak kemajuan media komunikasi elektronika yakni berubahnya sikap penonton teater rakyat. Perubahan sikap masyarakat itu terbukti dengan semakin kurang mampunya ludruk bertahan lama untuk mengadakan pementasan di gedung di kota-kota besar. Rata-rata ludruk yang baik mampu pentas di gedung selama satu atau satu setengah bulan (Henri Supriyanto, 1992: 2). Kedua, masyarakat kota khususnya masyarakat terpelajar belum seluruhnya menaruh minat terhadap seni pertunjukan ludruk. Mereka yang berminat terhadap ludruk adalah masyarakat kaum buruh, masyarakat kampung, sebagian seniman-budayawan, serta wartawan yang menggumuli ludruk secara sadar (Henri Supriyanto, 1992: 37-38). Berbagai hiburan seperti: film, video, dan televisi ternyata lebih menarik masyarakat, sebab di samping gengsi juga menampilkan ide-ide atau sesuatu yang baru, baik dari segi isi maupun bentuknya, juga teknologi yang dipergunakan menarik kelompok kaum muda. Sebagian besar kaum muda kurang tertarik pada seni pertunjukan ludruk sebab sejak kanak-kanak kaum muda kurang diperkenalkan pada ludruk oleh orang tuanya. Sebagian besar para orang tua tidak mau atau enggan membawa anak-anaknya melihat pertunjukan ludruk. Ketiga, perubahan-perubahan kebutuhan hidup, perubahan-perubahan nilai yang dianut memberi pengaruh pula pada pasang surutnya berbagai cabang kesenian termasuk seni pertunjukan ludruk. Melihat beberapa permasalahan itu maka tidak mustahil bila fungsi ludruk sebagai alat pendidikan dan media informasi pembangunan tidak berhasil dapat berjalan.

Ada beberapa hal yang perlu dicatat bahwa sebenarnya ada segi-segi yang dapat mendukung kesenian ludruk dalam menjalankan fungsinya. Pertama, penataan panggung atau tanpa panggung dengan bentuk lingkaran. Tempat pementasan yang berbentuk lingkaran memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih intensif antara pelaku dan khalayak (Phil. Astrid S. Susanto, 1980: 68), ada dialog secara spontan antara pelaku dengan khalayak. Hal itu berkaitan dengan masalah perasaan bahwa manusia Indonesia lebih menitikberatkan partisipasi emosional daripada partisipasi rasional. Kedua, tidak adanya peraturan-peraturan yang mengikat dalam permainan, sebab ketidakterikatan, improvisasi dan spontanitas justru merupakan inti dari komunikasi sosial (Phil. Astrid S. Susanto, 1980: 71). Ketiga, cerita-cerita yang disajikan sesuai dengan keadaan setempat termasuk bahasa dan gaya bahasanya. Faktor itu dapat menentukan seberapa jauh suatu pementasan “masuk dihati” para penonton. Menurut Kidd dan Byram bahwa unsur “dramatic representation of local problema” sebagai unsur penting yang mereka alami (Phil. Astrid S. Susanto, 1980: 76). Keempat, tersedianya dana yang cukup untuk penyelenggaraan seni pertunjukkan ludruk. Sebagai seni tontonan atau hiburan maka yang membiayai seni pertunjukan ludruk adalah penonton. Dengan kata lain penonton dikenai biaya masuk. Harga karcis pertunjukan relatif murah, tetapi penonton tidak begitu banyak, maka pendapatan yang diperoleh juga tidak banyak. Untuk itu perlu dicarikan dana dari pihak lain misal dari pemerintah. Kelima, diberinya kesempatan yang lebih banyak untuk tampil di televisi atau difilmkan untuk layar lebar. Dengan demikian seni ludruk dapat dilihat oleh masyarakat luas, sehingga fungsi-fungsinya secara tidak langsung dapat tersebar luas.

Penutup

Ludruk sebagai salah satu bentuk kesenian tradisionil mempunyai banyak fungsi yang besar manfaatnya bagi masyarakat dan pemerintah. Bagi masyarakat, lewat seni pertunjukan ludruk dapat diketahui informasi-informasi tentang pembangunan dari pemerintah, gejolak-gejolak yang ada di dalam masyarakat seperti ketidakadilan, kesewenangan dari penguasa, penindasan, dan korupsi. Hal itu berguna bagi masyarakat sebab mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan tetapi juga dapat membangun sikap kritis masyarakat terhadap situasi di sekitarnya. Bagi pemerintah, seni pertunjukan ludruk dapat dipakai sebagai alat untuk menyebarkan informasi pembangunan, pesan-pesan, dan program-program pemerintah. Akan tetapi bila kita melihat masalah internal dan eksternal dari seni pertunjukan rakyat ludruk, maka fungsi ludruk sebagai alat pendidikan dan media penyebar informasi kurang dapat berjalan.

Supaya fungsi ludruk itu dapat berjalan dan kesenian itu tidak mati, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni: pertama, perlu pelestarian, pembinaan, pengembangan, dan perlindungan terhadap perkumpulan ludruk. Kedua, meningkatkan mutu ketrampilan seniman ludruk melalui kursus-kursus atau penataran.

DAFTAR PUSTAKA

Astrid S. Susanto, Phil., Komunikasi Sosial di Indonesia. Jakarta: Binacipta, 1980.

Brandon, James R., “The Development of Theatre Genres” dalam Theatre in Southeast Asia. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press, 1967.

Departemen P dan K Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. Sejarah Kesenian. Jakarta: 1990.

Edi Sedyawati dan Sapardi Djoko Damono, ed., Seni Dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia, 1983.

Henri Supriyanto, Lakon Ludruk Jawa Timur. Jakarta: PT. Gramedia, 1992.

Gibson, cs., Organisasi, Perilaku, Struktur (terj). Jakarta.

Prisma No. 6, Juni 1977. Jakarta: LP3ES.

Sears, David O., Social Psychology. Los Angelos, 1985.

Soedarsono, R.M., Traditional Performing Arts in Indonesia. Yogyakarta 21-28 September 1992.

Soeharto, M., Kamus Musik Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia, 1978.

Suwaji Bastomi, Wawasan Seni. Semarang: IKIP Semarang, 1992.

Sumber: Historia Vitae SERI XXIII, JANUARI 1998

About Sastro Sukamiskin