Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi

Oleh :

Brian Kusuma Wardhana 145214086  &  Dimas Ariyanto Catur N 145214089

LogoLMND

Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi – National Student League For Democracy atau sering disingkat LMND, merupakan organisasi mahasiswa progresif yang didirikan bersamaan dengan gelombang perjuangan menggulingkan rejim Orde Baru hingga pada tuntutan penuntasan agenda reformasi; penghancuran sisa-sisa kekuatan Orde Baru, demokratisasi dalam segala aspek politik, ekonomi dan budaya, serta embentukan Pemerintahan Rakyat.

Pada pertengahan tahun 1998 dibentuk Front Nasional untuk Reformasi Total (FNRT), akan tetapi, FNRT tidak sanggup mengkonsolidasi kesatuan gerakan mahasiswa dan menyebabkan front ini bubar. Setelah itu, beberapa komite aksi yang pernah mengambil inisiatif pendirian FNRT membentuk aliansi baru, yaitu Aliansi Demokrasi (ALDEM) pada Agustus 1998. ALDEM berhasil menerbitkan sebuah majalah “ALDEM” satu kali dan sukses menggalang aksi nasional pada tanggal 14 September 1998 dengan isu Cabut Dwifungsi ABRI. Upaya berikutnya adalah pembentukan Front Nasional untuk Demokrasi (FONDASI) pada pertengahan Februari 1999.

Kebuntuan konsolidasi Rembuk Mahasiswa Nasional Indonesia II (RMNI II) di Surabaya, terutama mengenai respon terhadap pemilu 1999, mendorong FONDASI melakukan konsolidasi lanjutan pada tanggal 9-12 Juli 1999 di Bogor. Konsolidasi yang diikuti sekitar 20 komite aksi mahasiswa dari berbagai kota bersepakat mendirikan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Sejak berdiri, LMND bersama komite aksi yang dipayunginya aktif dalam perjuangan menuntaskan Reformasi; Menolak SI MPR, Pengadilan terhadap Soeharto, hingga penolakan terhadap RUU PKB.

Pada tahun 2001, sebuah pertikaian di DPR melahirkan kompromi politik dengan naiknya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden dan Megawati sebagai wakil presidennya. Gusdur merupakan seorang demokrat-reformis yang bersikap gradual, terutama dalam bersikap terhadap manuver-manuver politik yang dilakukan sisa-sisa kekuatan Orde Baru, maupun Poros Tengah yang dirancang oleh sayap oportunis di parlemen (PAN, Partai Keadilan, PBB, PPP, dll).

Beberapa kali Gus Dur hendak memperlihatkan sikapnya membersihkan sisa-sisa Orde Baru, dengan mengadili Soeharto, merespon tuntutan pembubaran Golkar, serta menghapuskan dwi-fungsi ABRI. Langkah ini mendapat perlawanan dari kelompok reaksioner; sisa-sisa Orde Baru dan Poros Tengah yang oportunis. Pada saat Gus Dur bergerak menghadapi sisa-sisa Orde Baru dan berupaya mendemokratiskan kehidupan politik mendapat tantangan dari koalisi besar sisa-sisa Orde Baru dan Poros Tengah, maka LMND bersama beberapa kelompok radikal dari gerakan mahasiswa, buruh, dan petani berada di garis depan pendukung Gus Dur. Akan tetapi, sikap gradual Gus Dur menyebabkan ia tidak dapat mengendalikan situasi, dan akhirnya tergulingkan. Reformasi akhirnya dipukul mundur, dan kekuatan lama (sisa-sisa orde baru) merestorasi diri. Megawati-Hamzah Haz naik menggantikan Gus Dur.

Selain mengakomodir kekuatan lama (Orde Baru dan Tentara) dan restrukturisasi kekuasaan barunya, Megawati juga melanjutkan negosiasi dengan IMF dan WTO, terutama untuk implementasi resep-resep neoliberal di Indonesia. Berbagai struktur LMND bergerak di berbagai kota menentang kenaikan harga BBM, privatisasi, dan kebijakan liberalisasi impor perdagangan. akibatnya, aktifis LMND di berbagai kota banyak yang ditangkap, kantor-kantor LMND diserbu oleh milisi dan preman, dan aksi-aksi massa kami dibubarkan. Perlawanan yang dilakukan LMND bersama sektor-sektor sosial lainnya menyebabkan rejim Mega-Haz kehilangan kredibilitasnya di hadapan rakyat. Akan tetapi, mereka masih dapat bertahan dan menyelenggarakan pemilu 2004.

Di tengah sengit perlawanannya terhadap Rezim yang ada, dengan pertimbangan ekonomi-politik yang tajam, pada tahun 2003, LMND berani mengambil tindakan politik yang berbeda dari kegamangan umum Gerakan Mahasiswa (yang masih disekap jargon Moral Force maupun Social Movement) saat itu, yaitu: bertemu dan berdiskusi dengan gerakan lintas sektoral (tani, buruh, kaum miskin kota) yang progresif lain, sampai menghasilkan keputusan politik untuk bersama-sama saling membahu, membentuk sebuah partai politik elektoral ber-platform kerakyatan untuk merespon Pemilu Parlemen 2004. Nama persatuan mereka saat itu adalah Partai Oposisi Rakyat (POPOR). Meski gagal akibat sempitnya waktu untuk memenuhi verifikasi pemilu (hanya sekitar 3 bulan), tindakan tersebut telah LMND anggap tepat sebagai sebuah taktik politik ‘termungkin’ pada saat itu.

Gagal mengintervensi pemilu 2004, tidak menurunkan peran aktif LMND dalam menghalau kemunculan kekuatan lama, terutama Tentara, dalam proses pemilu 2004. LMND aktif melakukan aksi menentang militerisme dan berkampanye kepada rakyat agar tidak memilih capres militer. kendati demikian, kampanye populis yang dirancang Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kalla (SBY-JK) mengantarkan mereka memenangkan pemilu. LMND menilai, SBY-JK berhasil memenangkan pemilu karena dukungan dari kekuatan asing, terutama negara-negara imperialis dan korporasinya.

Hal tersebut memang terbukti benar; baru saja SBY-JK memulai pemerintahannya, ia sudah memutuskan menaikkan harga BBM. Gelombang protes dan perlawanan kembali muncul, dan LMND bersama organisasi-organisasi mahasiswa lain, serta sektor-sektor organisasi rakyat, bekerjasama membangun komite/aliansi-aliansi bersama. Lahirlah Barisan Oposisi Bersatu (BOB), yang berjangkauan multi sektor dan cukup pluralistik. SBY-JK berkali-kali menaikkan harga BBM, disamping getol menjual BUMN (privatisasi) kepada pihak asing, dan menyerahkan penguasaan mayoritas sumber daya alam kepada cengkeraman imperialisme.

Pada tahun 2006, LMND bersama beberapa sektor sosial dan organisasi radikal membuka perdebatan untuk merumuskan strategi-taktik menghadapi pemilu 2009. Akhirnya, LMND menjadi salah satu inisiator pendirian Komite Persiapan Partai Elektoral, yakni KP-Papernas. Januari 2007, akhirnya partai elektoral baru berdiri, yaitu Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas). Terhadap penjajahan asing (imperialisme) yang begitu nyata dalam penguasaan kekayaan alam Indonesia, terutama sektor pertambangan. Sejak ratusan tahun, kekayaan tambang indonesia (migas, batubara, mineral, dll) dijarah oleh asing, melalui korporasi-korporasi raksasa mereka yang beroperasi di Indonesia.

Segelintir elit yang berdiri dibalik kepentingan korporasi asing tersebut, menikmati dan mendapatkan jatah dari hasil tambang ini sekaligus merupakan jaminan untuk mereka tetap berkuasa. Menghadapi ini, LMND memperjuangkan nasionalisasi terhadap seluruh perusahaan tambang asing yang beroperasi di Indonesia. Berkali-kali LMND melakukan aksi massa ke kantor-kantor korporasi asing tersebut, diantaranya Exxon (Jakarta), Inco (Makassar), Newmont (NTB), Chevron (Riau). Aksi serupa juga digelar di kota-kota lain dengan tema yang sama; nasionalisasi perusahaan tambang asing.

Sebagai salah satu organisasi progresif di mahasiswa, LMND memposisikan diri anti kapitalisme dan memperjuangkan pergantian tatanan kapitalisme yang serakah ini, dengan sebuah tatanan yang lebih demokratis, lebih humanis, dan ekologis. Hal ini menjadi nafas dalam azas perjuangan LMND, yakni Pancasila.

T U J U A N

Tujuan LMND adalah menghapuskan sistem yang menindas hak-hak rakyat, dan mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian dalam bidang budaya.

Makna Lambang Bendera LMND

Bendera LMND berwarna dasar merah, terdapat lambang organisasi yang terletak tepat di tengah bendera, dengan tulisan “LMND” yang diletakkan di bawah lambang organisasi. Perbandingan panjang dan lebar bendera adalah 3 : 2. Lambang organisasi LMND adalah bintang berwarna kuning yang  di depannya ada sebuah tangan kiri terkepal, roda gir bergigi empat, dan di bawahnya ada buku terbuka. Bintang kuning memiliki makna tujuan perjuangan rakyat Indonesia, yaitu kejayaan dan kemakmuran bersama. Roda gir hitam bergigi empat memiliki makna empat sektor rakyat, yakni buruh, tani, mahasiswa, dan rakyat miskin indonesia. Kepalan tangan kiri berwarna putih memiliki makna kesatuan gerak massa. Buku melambangkan sektor mahasiswa.

Struktur Organisasi LMND

Pelaksana harian dari LMND adalah Pengurus Pusat Harian (PPH) yang terdiri dari seorang Ketua, Sekjen, Departemen Pendidikan dan Propaganda (DPP), Departemen Pengembangan Organisasi (DPO), Departemen Hubungan Internasional (DHI), dan Departemen Dana dan Usaha (DDU).

PPH ini berasal dari organ-organ LMND yang ada, menjabat PPH selama satu tahun. DPO bertugas mengurus live-in di berbagai sektor masyarakat, program aksi serentak di masing-masing kota, aksi nasional di satu titik, dan kunjungan ke daerah. Pendidikan atau kursus politik tingkat nasional, terbitan nasional, pamflet, selebaran nasional dan lokal adalah agenda kerja dari DPP LMND. DDU menyokong LMND dari segi keuangan, karena tidak mungkin bisa berbuat sesuatu tanpa uang, untuk kebutuhan organisasi. Caranya antara lain dengan memproduksi pin, kaos, bendera, dan lainnya. Anggota PPH yang lain yaitu ketua, sekjen, DHI lebih memfokuskan pada pembangunan solidaritas internasional dengan mengkampanyekan program-program perjuangan LMND. Walaupun masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri, kerja setiap PPH adalah kerja yang terkait dan saling mendukung sehingga dapat mewujudkan sinergi.

Struktur LMND secara Nasional

Menurut data yang kami peroleh, saat ini LMND memiliki cabang di 22 wilayah di Indonesia, dengan 51 jumlah kota, dengan banyak organiser yang tersebar di kampus-kampus, pabrik-pabrik, pemukiman kumuh, dan desa-desa di seluruh Indonesia.

  1. LMND Wilayah Khusus Aceh
  2. LMND Eksekutif Wilayah Sumatera Utara
    • LMND Kota Medan
    • LMND Kota Siantar
    • LMND Kota labuhan batu
  3. LMND Eksekutif Wilayah Sumatera Selatan
    • LMND Kota Palembang
    • LMND Kota Lubuk Linggau
  4. LMND Wilayah Jambi (carateker)
    • LMND Kota Jambi
  5. LMND Wilayah Lampung
    • LMND Kota Lampung
  6. LMND Wilayah Jabotabek
    • LMND Kota Jakarta Selatan
    • LMND Kota Jakarta Pusat
    • LMND Kota Jakarta Utara
  7. LMND Wilayah Banten (Caretaker)
    • LMND Kota Serang
  8. LMND Wilayah Jawa Barat
    • LMND Kota Bandung
    • LMND Kota Sumedang
    • LMND Kota Garut
    • LMND Kota Tasikmalaya
  9. LMND Wilayah Jawa Tengah
    • LMND Kota Semarang
    • LMND Kota Salatiga
    • LMND Kota Solo
    • LMND Kota Kudus
  10. LMND Eksekutif Wilayah Daerah.Istimewa. Yogyakarta
    • LMND Kota Bantul
    • LMND Kota Yogyakarta
    • LMND Kota Sleman
  11. LMND Wilayah Jawa Timur
    • LMND Kota Surabaya
    • LMND Kota Malang
    • LMND Kota Lamongan
    • LMND Kota Jember
    • LMND Kota Tuban
  12. LMND Eksekutif Wilayah Bali
    • LMND Kota Denpasar
    • LMND Kota Gianyar
  13. LMND Wilayah Kalimantan Timur
    • LMND Kota Samarinda
  14. LMND Wilayah NTB
    • LMND Kota Mataram
    • LMND Kota Lombok Timur
    • LMND Kota Bima
  15. LMND Wilayah NTT
    • LMND Kota Kupang
    • LMND Kota Ende
    • LMND Kota Manggarai
    • LMND Kota Sikka
    • LMND Kota Maumere
  16. LMND Wilayah Sulawesi Utara
    • LMND Kota Manado
    • LMND Kota Minahasa
  17. LMND Wilayah Sulawesi Tengah
    • LMND kota Palu
    • LMND Kota Toli-Toli
    • LMND Kota Luwuk Banggai
  18. LMND Wilayah Sulawesi Selatan
    • LMND Kota Makassar
    • LMND Kota Palopo
    • LMND Kota Bulukumba
    • LMND Kota Toraja
  19. LMND Wilayah Sulawesi Tenggara
    • LMND Kota Kendari
  20. LMND Wilayah Sulawesi Barat (Carateker)
    • LMND Kota Mamuju
  21. LMND Wilayah Gorontalo(carateker)
    • LMND Kota Gorontalo
  22. LMND Wilayah Maluku Utara (carateker)
    • LMND Kota Ternate

 

LMND dalam Kampus

Menurut LMND, dalam intensitas tertentu persoalan nasional berkaitan dan saling mempengaruhi pula (berdialektika) dengan persoalan kampus. Semisal soal SPP naik, dosen lebih banyak mengurusi proyeknya sendiri ketimbang hadir untuk mengajar mahasiswanya, buku-buku dan transport mahal, penggusuran-penggusuran PKL, tak lupa pula DO atau skorsing pada yang melawannya. Semua adalah akibat sebuah kebijakan-kebijakan skala nasional, yaitu kenaikan harga BBM, privatisasi kampus, dan sebagainya. LMND tentu saja juga memiliki program-program perjuangan yang berkaitan dengan permasalahan kampus maupun dunia pendidikan secara umum. Untuk persoalan demokratisasi kampus, program sejati LMND sudah jelas tertulis dalam slogannya : Bangun Dewan Mahasiswa, Rebut Demokrasi Sejati. Ideologi LMND adalah Demokrasi Kerakyatan.

Apa Saja Aktivitas LMND Selama Ini?

Sebagai anggota LMND, ada tiga kerja pokok yang harus selalu senantiasa ia lakukan, yaitu: aksi, pendidikan, dan bacaan. Aksi atau aksi massa adalah sebuah budaya progresif dari massa rakyat untuk memperjuangkan hak demokratiknya, yang terinterupsi oleh otoritarian Orde Baru namun sekarang telah mulai hidup lagi secara sporadis di tingkat akar rumput. Untuk dapat memimpinnya (tertuang di AD-ART sebagai salah satu poin pokok-pokok Perjuangan), setiap kader LMND seharusnyalah mahir melakukan dan mencintai budaya aksi massa.

Yang berikutnya adalah tentang pendidikan. Sebelum berpraktek politik (kampanye, propaganda, dan pengorganisiran) ditengah-tengah massa kampus dan massa rakyat, seorang kader yang revolusioner wajib memiliki teori-teori yang ilmiah sebagai pisau analisa. Teori-teori yang ilmiah tersebut (yang termuat dalam materi pendidikan LMND) akan diperkenalkan untuk kemudian didiskusikan bersama dalam setiap Pendidikan Anggota ataupun Kursus Politik (Kurpol) LMND.

Yang ketiga adalah tentang bacaan. Setiap manusia haruslah rajin membaca karena budaya membaca adalah kebudayaan yang progresif bagi kemanusiaan. Dalam hal ke-LMND-an, bacaan didefinisikan sebagai bahan-bahan atau materi-materi (dapat berupa terbitan, selebaran, pamflet, koran dsb.) yang memuat tentang situasi ekonomi-politik nasional dan internasional, pemikiran-pemikiran progresif tokoh atau kelompok di dalam maupun luar negeri, dan juga posisi politik LMND dalam berbagai situasi; yang harus dibaca dan didiskusikan oleh setiap anggota.

Ketika bergabung dengan LMND, Anda akan mendapat ulasan dan arahan detil tentang ketiga kerja pokok itu. Secara prinsipnya, progresifitas dan radikalitas yang didukung oleh kebudayaan ilmiah dan demokratik selalu ditekankan kepada seluruh mahasiswa anggota LMND.

Sedangkan, sebagai organisasi, LMND memiliki Tiga Tugas Mendesak atau TTM (bukan Teman Tapi Mesra) yang harus dituaikan dalam setiap kesempatan, yaitu: penggalangan front, radikalisasi, dan perluasan struktur. Dalam praktek politik membesarkan Papernas, ketiga hal tersebut tetap menjadi pedoman bagi LMND.

Tantangan dan Hambatan yang Dihadapi oleh LMND

Sebuah kelompok atau organisasi pastinya memiliki atau akan mendapatkan hambatan dan tantangan tersendiri, baik itu dari luar organisasi, maupun dari dalam organisasi itu sendiri. Tantangan dan hambatan ini juga dihadapi oleh LMND, tantangan dan hambatan tersebut antara lain :

  1. Hegemoni merupakan pembangunan wacana (wacana publik) yang menjadi jalan pikir segenap manusia (masa kini), semisal : “Ngapain berorganisasi? Kuliah aja yang bener! Organisasi itu ga penting! Buang-buang waktu aja…”. Seperti itulah yang mereka pertarungkan mati-matian untuk merekrut dan membuat mahasiswa berpikir maju kedepan. Jadi, itulah tantangan pertama yang mereka hadapi, yakni bertarung dengan hegemoni kapitalistik, membuat jalan pikir mahasiswa menjadi lebih suka berdiskusi ketimbang “nongrong”.
  2. Yang kedua adalah pada saat orasi dihalangi dan dipukuli oleh po***i, padahal tujuan mereka adalah memperjuangkan hak rakyat.
  3. Yang ketiga, terkadang (bahkan sering) media membuat pemberitaan yang kesannya LMND itu negatif.

 

IMG_20151024_152225_AO_HDR

Sekian freature dari kami, bila ada kata-kata yang kurang berkenan, kami mohon maaf sebesar-besarnya. Terimakasih :)

dimas.acn4@gmail.com'

About Dimas Ariyanto Catur N