KPAP: Aksi Cerdas Melawan Korupsi

Oleh:
Luciana Kristianti S. (144214009) & Tiara Ika Putri C. (144214021)

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/13405700851335265490.jpg

Figure 1 Penanaman Pohon di Lapangan Kantor Gubernur Yogyakarta

Korupsi kini telah menjadi sebuah masalah yang pelik di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, korupsi semakin merajalela dan menunjukkan eksistensinya. Korupsi hadir pada setiap lini di masyarakat maupun pemerintahan. Korupsi juga tidak mengenal usia. Dari sekolah dasar hingga kalangan petinggi negara pun ikut andil dalam kasus korupsi. Di kalangan petinggi negara, kasus korupsi justru semakin marak terjadi. Keegoisan dan ketamakan merekalah yang menjadi faktor pendorong untuk mengambil uang negara. Petinggi negara yang seharusnya merupakan representative atau perwakilan dari masyarakat malah membunuh hak-hak yang seharusnya diperoleh masyarakat. Contoh kasus yang cukup terkenal adalah kasus korupsi Anas Urbaningrum. Ia adalah Mantan Ketua umum Partai Demokrat yang terkena kasus pencucian uang sekitar 20 miliar. Hal ini tentu sangat memprihatinkan mengingat Anas telah mempunyai kedudukan tinggi yang cukup terpandang, namun ia malah menyalahgunakan kedudukannya. Berbeda dengan kalangan petinggi negara, di kalangan pelajar, korupsi yang dilakukan tentu bukan mengambil uang negara, namun yang mereka lakukan adalah mencotek. Mencotek adalah awal mula/bibit dari tindak korupsi yang sudah menjadi hal yang lumrah di masyarakat terlebih saat diadakannya Ujian Nasional. Ironisnya, banyak pelajar yang justru bangga dengan nilai yang diperoleh dari hasil mencontek. Banyak pelajar yang memilih untuk membeli kunci jawaban ketimbang harus belajar dengan giat. Hal ini tentu berdampak buruk bagi pembentukan karakter dan kepribadian mereka. Pelajar menjadi tidak jujur pada diri sendiri dan tidak yakin akan kemampuan yang dimilikinya. Di masa yang akan datang, ketidakjujuran yang dipupuk sejak dini tentu berdampak negatif bagi diri sendiri maupun orang banyak. Terlebih lagi, pelajar adalah generasi penerus bangsa yang akan memimpin bangsa ini. Jika kebiasaan buruk pelajar seperti mencontek terus diperthankan, kasus korusi di masa depan tidak akan pernah usai. Oleh karena itu, banyak aksi yang dilakukan dari berbagai lapisan sosial dalam memerangi tindak korupsi.

Komunitas Pohon Anti Korupsi adalah salah satu aksi cerdas generasi muda dalam menengok kasus korupsi yang marak terjadi di Indonesia. Generasi muda merupakan “pemilik sah dan penentu masa depan bangsa” yang masa depannya terancam hancur karena korupsi. Keprihatinan dari generasi muda inilah yang memotivasi mereka untuk membentuk komunitas ini. Berbeda dengan KPK yang tujuannya untuk menangkap dan mengadili para koruptor, tujuan pembentukan komunitas ini cukup sederhana yakni untuk mencegah tindak korupsi dari diri sendiri terlebih dahulu. Sesuai dengan status para anggota komunitas ini yang merupakan para pelajar , maka gerakan atau aksi yang mereka lakukan untuk memerangi korupsi tentulah sesuai dengan kapasitas mereka sebagai pelajar. Contohnya, datang tepat waktu. Cukup dengan tidak datang terlambat ke sekolah para pelajar ini telah menghindari adanya korupsi waktu. Contoh yang lain lagi seperti tidak mencontek. Percaya pada kemampuan diri sendiri dan jujur adalah sikap positif yang harus dikembangkan pelajar sejak dini. Dengan berprinsip dan berkomitmen untuk jujur dalam segala sesuatu, komunitas ini telah melakukan aksinya dalam memerangi tindak korupsi. Komunitas ini mengajak para anggotanya yang merupakan gabungan dari para pelajar tingkat SD, SMP, SMA hingga para mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta untuk bergabung bersama dan ikut andil dalam melakukan gerakan anti korupsi pelajar.

D:PKNJJJ PAK 8.jpg

Figure 2 Komunitas Pohon Anti Korupsi Pelajar

Komunitas Pohon Anti Korupsi Pelajar ini memiliki sejarah pembentukan yang relatif cukup lama. Sebelum komunitas ini dibentuk, komunitas Persahabatan Wartawan Cilik Yogyakarta (PWJY) telah terlebih dulu dibentuk. Dengan kata lain, Komunitas Pohon Anti Korupsi merupakan anak dari komunitas Wartawan Cilik Yogyakarta. Komunitas wartawan cilik sangat erat kaitannya dengan jurnalistik dan media massa. Seiring berjalannya waktu, mereka menyadari banyaknya kasus korupsi yang muncul di media masa. Para anak muda ini pun berembuk untuk membentuk suatu komunitas yang lebih fokus pada gerakan anti korupsi. Komunitas Wartawan Cilik Jogja ini sudah dibentuk sejak tahun 2008 sehingga juga berpengaruh pada jumlah anggota KPAP yang mencapai 30 sampai 40 orang. Jadi tidak mengherankan jika banyak anggota dari Komunitas Pohon Anti Korupsi Pelajar yang juga tergabung dalam komunitas Persahabatan Wartawan Cilik Jogjakarta. Namun pada awalnya, menurut keterangan Ardo, komunitas ini mengirim undangan ke sekolah-sekolah, para orang tua serta pemberitahuan di media massa sebagai langkah awal atau bentuk ajakan untuk ikut bergabung dengan komunitas ini.

Tepat tanggal 25 Mei 2012 lalu, Kepatihan Lapangan Kantor Gubernur Yogyakarta diramaikan dengan 45 audiensi para pelajar bersama dengan Wakil Gubernur Yogyakarta Bapak Paku Alam IX yang siap melaksanakan “upacara sakral”. Sebanyak 20 siswa berikrar dengan lantang di ruang atas Balai Wali Kota Yogyakarta sebagai duta pelajar anti korupsi untuk mendirikan sebuah komunitas bernama Komunitas Pohon Anti Korupsi Pelajar (KPAP). Acara ini bertambah istimewa karena berhasil mendatangkan staf ahli dari KPK khusus untuk melantik para duta pelajar anti korupsi. Mentari yang bersinar terik semakin menambah semangat para pelajar dalam berdiri tegap menghadap sang merah putih. Penanaman 2 pohon kapel bersama Wakil Gubernur DIY pun dilakukan. Acara penanaman pohon ini bukanlah sebatas formalitas biasa, tapi memiliki makna tersendiri. Sesuai dengan keterangan Ardo, pria berkacamata yang juga merupakan salah seorang anggota KPAP, penanaman pohon ini sama halnya dengan pembentukan komunitas. Untuk dapat tumbuh dan berkembang, sebuah pohon yang harus dipupuk dan disiram air setiap hari, begitu pula untuk menjadi komunitas yang besar dan bermanfaat, tentulah membutuhkan proses panjang. Selain dua pohon kepal yang ditanam, ada juga sebuah kendi yang diletakkan dibawah kedua puhon dan telah dihiasi oleh 1000 tanda tangan pelajar anti korupsi. Tanda tangan yang melekat pada kendi merupakan komitmen para pelajar untuk memerangi aksi korupsi. Kemudian siang harinya, acara dilanjutkan dengan Seminar Anti Korupsi di Balai Kota Yogyakarta dan dihadiri sekitar 200 peserta diantaranya para pelajar SMP dan SMA, para pemerhati anak dan korupsi, serta para orang tua siswa. Serangkaian acara ini digelar sebagai simbol berdirinya komunitas dan 2 pohon kepal melambangkan harapan yang utuh bahwa korupsi di Indonesia masih dapat diberantas melalui proses.

kpap3

Figure 3 Lokasi Dinamika Edukasi Dasar

 

 

http://images.harianjogja.com/2012/09/UUT-PROPERTI-DED-8-370x277.jpg

Figure 4 Kantor Dinamika Edukasi Dasar

 

Setelah beberapa waktu berjalan, komunitas ini cukup berkembang dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Berbeda dengan komunitas pada umumnya, komunitas ini berbasis kegiatan. Artinya, setiap ada kegiatan, komunitas ini selalu membentuk panitia baru. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada para anggota baru agar dapat ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Kegiatan yang mereka adakan bertujuan untuk untuk terus memupuk jiwa anti korupsi dalam diri generasi muda. Seperti halnya komunitas pada umumnya, kepengurusan Komunitas Pohon Anti Korupsi Pelajar terdiri atas ketua, wakil ketua, sekretaris dan anggota. Komunitas ini diketuai oleh Brian Adi Wijaya dengan wakil Fauzy Ramadhan dan sekertaris Nurindah Agustina. Uniknya, komunitas ini menganut prinsip manajemen dan struktur komunikasi yang baik, jadi sifatnya fleksibel namun tetap konsisten. Layaknya seekor burung yang memilki 2 sayap, generasi muda juga harus dapat menyeimbangkan 2 kegiatan yang dimiliki yaitu kegiatan di sekolah/kampus dan di dalam komunitas. Intinya, komunitas hanyalah sebagai “suplemen” bagi para pelajar dalam memperluas informasi sekaligus jaringan pertemanan. Ketika akan mengadakan pertemuan, waktu dan tempat bisa disesuaikan tergantung dengan kesepakatan bersama. Jika saat diadakan rapat ada anggota yang berhalangan hadir, anggota lain dapat menerimanya karena setiap anggota memiliki kesibukan masing-masing. Untuk itu, kecerdikan dalam membuat skala prioritas sangat berperan penting disini. Menurut Ardo, Dinamika Edukasi Dasar yang berlokasi di Jalan Afandi Gang Kuwera No.14 Yogyakarta dijadikan base camp karena merupakan titik tengah untuk pertemuan para anggota yang tempat tinggalnya tersebar di seluruh wilayah Jogja seperti Bantul dan Sleman. Tetapi, tidak menutup kemungkinan bagi komunitas ini untuk mengadakan rapat di tempat lain. Untuk memaksimalkan tempat yang tersedia, komunitas ini pernah menggunakan ruang-ruang publik seperti Taman Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Kota, Perpustakaan Daerah, dan rumah anggota. Jadi, untuk tempat pertemuan sifatnya kondisional.

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2014/02/1391949013258394644.jpg

Figure 5 Kunjungan Audiensi ke KPK

Komunitas Pohon Anti Korupsi Pelajar cukup aktif dalam mengadakan kegiatan. Setiap minggu, komunitas ini selalu mengadakan rapat rutin untuk memunculkan ide-ide/gagasan untuk mengadakan acara. Jenis acaranya pun cukup bervariasi, mulai dari Roadshow Anti Korupsi ke sekolah-sekolah di Jogja, Seminar Nasional Anti Korupsi, pembuatan buku, kunjungan ke KPK dan media massa serta talkshow di radio. Baru-baru ini, mereka mengadakan Roadshow Anti Korupsi di SD Kanisius Eksperimental Mangunan Yogyakarta. Pada waktu itu, Ekonomi Bebas UGM mengirim surat kepada komunitas ini untuk membantu mereka roadshow ke SD tersebut. Mengingat pengalaman roadshow yang sudah mumpuni, komunitas ini bersedia untuk sharing pengalaman mereka dalam mengadakan roadshow ke SD tersebut. Komunitas ini juga berencana untuk melebarkan sayapnya dengan melakukan roadshow ke kampus-kampus jika segala persiapan sudah matang. Selain itu, komunitas ini juga pernah diundang untuk melakukan kunjungan ke KPK. Hebatnya, mereka adalah pelajar pertama yang diterima langsung oleh Ketua Penasehat Pimpinan KPK kala itu, yakni Bapak Abdullah Hehamahua yang sekarang menjabat sebagai Ketua Komite Etik KPK. Para pelajar dari komunitas ini melakukan audiensi langsung dengan beliau untuk menunjukan eksistensi dari komunitas ini dalam memerangi tindak korupsi. Pada waktu yang sama pula, mereka memberikan buku kepada beliau. Buku pertama yang mereka buat sendiri itu berjudul Kesaktian “Mengoptimalkan Kesaktian Surat Kabar vs Kerakusan Super Ganas Koruptor” dan berdasarkan penelitian selama 2 bulan terhadap 2 surat kabar yaitu Kedaulatan Rakyat dan Harian Jogja. Mereka meneliti jumlah kasus korupsi yang dimuat di dalam surat kabar. Data yang diperoleh membuktikan bahwa selama dua bulan terakhir, kasus korupsi selalu dimuat di dalam surat kabar setiap harinya. Mereka juga mengusulkan untuk membuat kolom khusus untuk kasus korupsi mengingat banyaknya kasus korupsi yang kerap terjadi di setiap bidang. Dari penjelasan yang mereka tuturkan, Bapak Abdullah begitu terpukau dan memberikan apresiasi kepada mereka dengan kesediannya untuk membantu komunitas ini dalam menyediakan alat peraga serta mengirim stafnya jika mereka mengadakan acara.

D:PKN57c7fb846716892d683dcedc6a92b233.JPG

Figure 6 Pemberian Buku ke Redaksi Kedaulatan Rakyat

Beberapa tahun telah berlalu. Kini, Komunitas Pohon Anti Korupsi Pelajar telah menuai cukup banyak prestasi dan keberhasilan. Memang bentuk penghargaan seperti halnya sertifikat belum pernah diterima oleh komunitas ini. Sebaliknya, komunitas ini justru telah memberi penghargaan ke pemerintah dan media massa. Mereka berpendapat bahwa korupsi adalah mengambil hak yang bukan miliknya, jadi gerakan anti-korupsi lebih kepada memberi bukan diberi. Mereka pun berinisiatif untuk memberikan penghargaan “Terima Kasih Award” kepada Bapak Herry Zudianto sewaktu beliau masih menjabat sebagai Walikota Yogyakarta. Komunitas ini juga memberikan penghargaan kepada surat kabar harian Kedaulatan Rakyat dan Harian Jogja. Pada waktu itu pula, komunitas ini diterima langsung oleh Pimpinan Redaksi Kedaulatan Rakyat untuk memberikan penghargaan. Penghargaan tersebut adalah wujud rasa terima kasih kepada pemerintah dan media massa yang telah melayani masyarakat dengan baik.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, komunitas yang aktif melangsungkan kegiatan ini juga pernah mengadakan kerjasama dengan instansi pemerintah. Bentuk kerjasama yang dilakukan seperti peminjaman ruang milik pemerintah dan bantuan donasi dari pemerintah. Tanggal 12 Mei 2012 lalu, komunitas ini pernah meminjam Ruang Utama Atas Balai Kota Yogyakarta untuk acara dialog interaktif dengan KPK. Selain itu, tanggal 26 November 2013 lalu, komunitas ini juga pernah meminjam Auditorium Dinas Pemuda dan Olah Raga DIY untuk acara Seminar Nasional Anti Korupsi. Komunitas ini juga mendapat bantuan dana dari pemerintah dalam berbagai acara seperti, dialog interaktif dengan KPK, acara penanaman pohon, serta Seminar Nasional. Tidak hanya dengan instansi pemerintah, komunitas ini juga pernah bekerjasama mengadakan seminar dan talkshow dengan komunitas lain dan radio seperti Kampung Halaman, Forum Anak Daerah, Rakasa FM, MMTC, Radio Masda dan Jironimo. Beberapa waktu lalu, komunitas ini diundang radio Masda dan MMTC untuk melakukan workshop seputar anti-korupsi.

Dengan hadirnya Komunitas Pohon Anti Korupsi Pelajar, masyarakat tentunya merasakan peningkatan kolektif yakni memberi warna tersendiri bagi kegiatan masyarakat di Jogja. Jogja memang terkenal dengan kota pelajar. Banyak komunitas pun bertebaran di Jogja, mulai dari komunitas seni, sepeda, dan masih banyak lagi. Komunitas Pohon Anti Korupsi Pelajar tidak hanya sebagai komunitas biasa namun juga dengan kesadaran, mereka turut andil untuk membasmi bibit korupsi pada diri sendiri dan menyebarluaskan semangat anti korupsi itu pada masyarakat. Selain itu, orang tua juga merasakan manfaat yang menguntungkan dengan hadirnya komunitas ini. Mereka mendapatkan ruang untuk memberi pelajaran positif bagi anak tentang memerangi korupsi sejak dini. Seminar serta roadshow anti korupsi yang telah dilakukan oleh komunitas ini adalah salah satu cara cerdas mereka. Bagi generasi muda, komunitas ini sangatlah bermanfaat untuk memperluas jaringan pertemanan serta memahami perbedaan pemahaman mengingat Indonesia adalah negara yang multikultur. Hal ini dikarenakan, komunitas yang sudah terbentuk sejak 3 tahun yang lalu ini memiliki cukup banyak anggota dari berbagai suku, agama dan budaya. Butuh toleransi yang tinggi dalam komunitas ini demi mencapai tujuan yang sama yakni memerangi tindak korupsi di Indonesia. Dengan begitu, sekat untuk melakukan SARA dapat dihapus dan semangat anti korupsi dalam masyarakat dapat dimunculkan kembali.

tiaraikaputri_c@yahoo.com'

About tiaraipc