Meruwat Sejarah dengan Kontinuitas

Tidak satupun bangsa yang mampu berkembang menjadi unggul dengan berlandas pada kebudayaan bangsa lain
(Sastro Sukamiskin)

A. Pengantar

Pada tahun 2005 lalu terjadi beberapa peristiwa bersejarah bagi anggota masyarakat yang menggeluti sejarah atau dikenal sebagai kaum sejarawan. Pertama adalah penghentian implementasi KBK untuk mata pelajaran sejarah dan pengurangan jam pelajaran per minggunya. Bahkan untuk sekolah kejuruan, sejarah menjadi bagian dari mata pelajaran PKPS (Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial). Meski gaungnya tidak begitu terasa secara nasional, peristiwa berpindahnya Dinas Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional ke Departemen Pariwisata juga merupakan kejadian yang cukup penting terutama bagi anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia. Apabila peristiwa-peristiwa tersebut dibaca sebagai tanda-tanda jaman, kecenderungan seperti apakah yang akan terjadi saat sekarang dan masa depan bagi kaum sejarawan?

Banyak tafsir atau pemaknaan yang dapat dimunculkan dari kejadian tersebut. Salah satunya adalah pertanda akan datangnya kalabendu (jaman kegelapan) bagi mereka yang menggeluti sejarah. Apabila ujicoba di sekolah kejuruan dianggap berhasil, bukan tidak mungkin mata pelajaran sejarah hilang dari persekolahan Indonesia. Dari sudut pandang ini, penutupan program studi pendidikan sejarah dan ilmu sejarah secara alamiah juga akan tinggal menunggu waktu.

Barangkali diantara para sejarawan ada yang dengan serta merta menyalahkan perkembangan jaman yang mengarah kepada semakin kuatnya pragmatisme. Tekanan kapitalisme global mendorong masyarakat Indonesia untuk menempatkan pengumpulan uang sebagai tujuan hidup yang terutama dan menyingkirkan nilai-nilai humanisme. Tidak tertutup pula kemungkinan untuk menyalahkan pemerintah, karena tidak menghargai wasiat presiden pertama Indonesia, Soekarno, untuk tidak sekali-sekali meninggalkan sejarah (Jas Merah).

Meskipun masih banyak lagi pihak yang dapat dipersalahkan, tetapi langkah seperti itu tidak dapat diharapkan akan membawa banyak manfaat. Bahkan sebaliknya, penyalahan kepada pihak lain akan menjadikan permasalahan semakin rumit. Agar tidak terjebak pada pencarian kambing hitam dengan menganggap pihak lain sebagai yang lebih tidak tahu, serta lebih mengarahkan energi untuk refleksi diri. Dengan kata lain, ketersingkiran sejarah dari kehidupan masyarakat ditempatkan sebagai pemicu untuk mencari akar permasalahan dan solusinya.

Secara naluriah, makhluk hidup pada umumnya dan khususnya manusia akan menyingkirkan atau bahkan membuang berbagai barang yang tidak lagi dibutuhkannya. Oleh karena merasa tidak membutuhkan lagi dan dengan pertimbangan “dari pada tumpukannya memenuhi rumah”, maka sebuah keluarga yang berlangganan surat kabar harian segera menjualnya setelah lewat sebulan. Dengan berdasar common sense tersebut, kiranya dapat diperkirakan bahwa ketersingkiran sejarah merupakan simbol dari kekurangbutuhan masyarakat terhadapnya. Apabila diperhalus, dalam kehidupan masyarakat banyak keinginan yang hendak dipenuhi dan keinginan untuk mempelajari sejarah berada pada ranking “tidak perlu dipenuhi”.

Berangkat dari common sense, penggalian akar masalah dapat diperdalam dengan pertanyaan, “Ada masalah apa di eksplanasi sejarah, sehingga masyarakat merasa tidak membutuhkannya lagi?”. Salah satu permasalahan beratnya adalah karena sejarah kurang memiliki sumbangan yang signifikan bagi masyarakat Indonesia sekarang untuk menghadapi permasalahan hidup aktual yang semakin kompleks. Sejarah tidak tampak memberi sumbangan mengeluarkan bangsa Indonesia dari krisis moneter, krisis ekonomi maupun krisis-krisis lainnya. Sejarah terlalu asyik dengan penjelasan ilmiah tentang masa lampau, sehingga tidak memberi keterampilan maupun inspirasi kepada masyarakat Indonesia untuk menjadi bangsa unggul.

Orang sejarah memang sering mengatakan akan pentingnya “kesadaran sejarah” bagi kehidupan sosial sebagai tujuannya. Akan tetapi kata sakti itu tetap menjadi sesuatu yang abstrak, bahkan cenderung kabur, karena tidak dideskripsikan dengan jelas. Akibatnya kesulitan untuk disusun dalam bentuk target-target aktual dan diimplementasikan menjadi eksplanasi sejarah. Misalnya, kesadaran sejarah macam apa yang hendak dicapai bagi anak Kelas 2 SLTP Semester I dengan memahami faktor-faktor pendorong kedatangan bangsa asing (Eropa) di Indonesia? Kesadaran merupakan masalah kejiwaan (psikologis). Oleh karena itu, tujuan pembelajaran seharusnya tidak sekedar memahami. Dari sudut pandang ini, entah sengaja atau tidak telah terjadi distorsi dari aspek tujuan, sehingga wajar apabila kemudian pelajaran sejarah hanya sampai pada tahap hapalan (distorsi pada praksis) dan tidak pernah mencapai tahap kesadaran psikologis.

B. Fungsi Sejarah

Permasalahan tentang manfaat sejarah bagi masyarakat kontemporer biasanya mengemuka dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, seperti “Untuk apa sejarah dipelajari?”, “Apa untungnya mempelajari sejarah?” Pertanyaan-pertanyaan itu mengarahkan kita pada penelusuran tentang fungsi sejarah. Oleh karena sejarah selalu bicara tentang asal muasal sesuatu, maka salah satu kegunaan sejarah adalah untuk mengetahui asal muasal. Secara akademik sejarawan bertugas untuk seobyektif dan selengkap mungkin menjelaskan berbagai peristiwa penting di masa lampau. Dari sudut pandang ini, historiografi merupakan rekaman tentang masa lampau yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pola kerja seperti di atas dikenal sebagai “sejarah demi sejarah”, karena untuk menjaga keilmiahan karyanya, sejarawan sama sekali tidak memperhitungkan pihak lain di luar ilmu sejarah, seperti masyarakat umum dan pelajar.

Salah satu ciri yang menunjukkan historiografi akademik adalah gaya bahasa yang digunakan. Meski menggunakan bahasa yang dikenal luas oleh masyarakat, tetapi kata-kata yang dipilih banyak mengandung istilah teknis dan menghindari kata-kata yang bermakna ganda. Selain itu sejarawan juga tidak menggunakan kata-kata yang bernuansa emosi, seperti bombastis, melankolis dan sebagainya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Dengan mengetahui asal muasal, masyarakat biasa (common people) untungnya apa?” Jawabannya bisa banyak, antara lain:

1. Untuk mengetahui jati diri suatu masyarakat.

Dengan mempelajari tentang masa lampau, masyarakat sekarang dapat memahami berbagai nilai, norma, organisasi dan prasarana fisik yang telah dikembangkan dan dibanggakan oleh nenek moyangnya. Masyarakat menjadi paham tentang betapa tingginya semangat nenek moyang mereka dalam mengembangkan hidup agar lebih sesuai dengan tata nilai yang dianut. Dari sudut pandang ini, sejarah menjadi alat penting untuk menemukan, melestarikan dan sekaligus mewariskan berbagai hal dari masa lampau.

Di lain pihak, dengan membaca sejarah masyarakat menjadi paham tentang siapa diri mereka dan sekaligus kemana tujuan hidup diarahkan. Sebagai contoh, dengan mempelajari batu kubur (prasarana fisik pra sejarah), kita dapat memetik pelajaran bahwa nenek moyang kita pada jaman pra sejarah mengembangkan dan membanggakan nilai penghormatan terhadap orangtua dan leluhur. Bertitik tolak dari fenomena sejarah itu, masyarakat sekarang dapat mengatakan bahwa menghormati orangtua dan leluhur merupakan salah satu aspek jatidiri mereka.

2. Panduan ke masa depan.

Terkait dengan point 1, sejarah juga menjadi bahan refleksi masyarakat sekarang tentang tepat tidaknya jalan yang selama ini telah ditempuh. Dalam arti tertentu, sejarah menjadi alat penting bagi masyarakat sekarang untuk mendekonstruksi diri dan sekaligus merekonstruksi ulang jatidiri mereka. Sebagai contoh, “Tepatkah kita mencemooh ziarah kubur sebagai musyrik sesuai pandangan Agama Islam yang berkonteks Arab?”; “Tepatkah kita memandang sederajad dengan orangtua sesuai dengan slogan equality dalam demokrasi yang berkonteks Barat?”. Pertanyaan-pertanyaan itu (bisa ditambah sendiri) membuka peluang bagi masyarakat sekarang untuk melakukan refleksi diri sendiri tentang nilai, norma, organisasi dan prasarana fisik yang paling cocok untuk kehidupan mereka saat ini dan juga dalam rangka menuju ke masa depan. Dengan kata lain, nuansa reflektif yang diberikan sejarah dapat menjadi panduan bagi masyarakat dalam mengarungi kehidupan kini dan esok. Sejajar dengan itu, Sartono menjelaskan:

Meskipun sejarah tidak pernah berulang, namun pengalaman sejarah kita dapat digunakan untuk menghadapi krisis masa kini karena selalu ada persamaannya. Dengan perspektif sejarah krisis masa kini dapat dipahami melalui perbandingan dengan krisis dalam masa lampau….

Dengan pengetahuan sejarah itu kita dapat tidak hanya masa sekarang, tetapi juga masa depan dengan rasa lebih mantap, karena sudah ada garis tertentu. Historical mindedness juga menimbulkan kesadaran bahwa masa depan adalah bagian waktu, bagian dunia kita, maka ada proses sejarah yang sama akan terjadi.

Dari dua fungsi sosial tersebut, eksplanasi sejarah, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan, sejarah secara alamiah seharusnya memberi panduan bagi masyarakat dewasa ini untuk memecahkan masalah sosio-kultural aktual dan sekaligus memberi pencerahan bagi langkah mereka ke masa depan. Dari sudut pandang ini, kesadaran sejarah adalah permakluman rohaniah tentang berbagai aspek dari generasi pendahulu yang diwarisi oleh masyarakat sekarang dan menggunakannya dengan penuh keyakinan untuk mengatasi persoalan hidup di masa sekarang serta mengembangkan kehidupan di masa depan.

C. Sejarah Berbasis Kontinuitas

Untuk dapat menempatkan diri sebagai panduan bagi perkembangan masyarakat, salah satu kunci penting yang harus dimiliki oleh eksplanasi sejarah adalah kontinuitas. Secara leksikal, kontinuitas dapat diartikan sebagai keajegan. Dalam membuat eksplanasi sejarah, setiap sejarawan dituntut untuk tidak hanya mampu menjelaskan tentang perubahan yang terjadi di masa lampau, tetapi juga berbagai aspek kehidupan yang tidak berubah atau kontinu.

Perubahan dalam konteks ini adalah dinamika masyarakat dalam ruang dan waktu menuju satu titik tertentu sebagai fokus. Sebagai contoh, dalam eksplanasi sejarah Indonesia, dinamika dari jaman pra sejarah sampai modern difokuskan pada perubahan menuju berdirinya Republik Indonesia 1945 dan berbagai usaha mengembangkan Indonesia menjadi bangsa yang unggul. Dengan kata lain, meskipun mencermati perubahan, eksplanasi sejarah Indonesia seharusnya memiliki arah dan irama yang jelas.

Selain perubahan, dalam eksplanasi sejarah seharusnya juga mengandung keajegan atau kontinuitas. Kontinuitas dimaksudkan sebagai hal-hal yang tetap ada dari masa lampau, sekarang dan bahkan sangat mungkin di masa depan. Dari sudut pandang ini, menjadi kewajiban eksplanasi sejarah untuk menjelaskan keberadaan berbagai hal atau aspek kehidupan yang tetap atau dipertahankan dari masa lampau sampai sekarang. Biasanya kontinuitas berupa pandangan dunia atau way of life.

Salah satu akar masalah yang selama ini menyebabkan terjadinya ketersingkiran sejarah adalah kurang diperhatikannya kontinuitas budaya asli ketika melakukan eksplanasi sejarah. Apabila tidak terdapat kontinuitas, masyarakat akan menjadi tidak memahami terhadap berbagai hal yang seharusnya dipertahankan dari masa lampaunya. Akibatnya secara perlahan masyarakat akan kehilangan identitas kolektifnya dan dengan mudah terperangkap dalam kooptasi budaya import.

Pada eksplanasi sejarah dunia dapat disimak dengan jelas bahwa tidak ada satu bangsapun yang mampu berkembang menjadi unggul dengan berbaju budaya bangsa lain. Revolusi besar, seperti Revolusi Perancis dan Revolusi Industri, yang mengubah wajah Eropa, merupakan gerak kontinu sejarah rasionalisme dan individualisme warisan Yunani yang diperteguh selama jaman Pencerahan.

Kon eropa

Begitu pula halnya dengan Restorasi Meiji yang menghantarkan Jepang menjadi bangsa unggul. Modernisasi yang terjadi merupakan gerak kontinu sejarah dari nilai komunal dan penghormatan orangtua warisan asli yang dinarasikan melalui Kokugaku oleh Kada no Azumamaro, Kamo no Mobuchi, Norinaga Motoori dan Hirata Atsutane.

Kon jpn

Di Indonesia tampaknya sejarah tidak menempatkan kontinuitas gerak way of life masyarakat sebagai inti eksplanasi. Ini bukan semata kesalahan masyarakat sejarawan semata, karena kekuatan yang sangat besar menekannya dari balik layar. Kekuatan yang berprinsip “Di situ bumi dipijak, di situ langit diruntuhkan” itu dengan gencarnya berusaha menghapuskan ingatan masyarakat Indonesia tentang masa lampaunya. Mereka membuat narasi bahwa masa lampau Indonesia sebagai feodal, animis, malas, polytheis, musyrik, kafir serta berbagai istilah negatif-kolonialistis lain yang berinti pada kooptasi kesadaran masyarakat bahwa way of life asli sudah layak dan sepantasnya dilupakan dan diganti dengan way of life import. Akibatnya secara kultural Indonesia tumbuh menjadi bangsa lupa ingatan. Bangsa yang merasa tidak memiliki suatu apapun dari warisan sejarahnya untuk dipegang secara pas dan dibanggakan sebagai pedoman hidup dalam perjalanannya meraih cita bersama.

Dengan berlandas pada ketiadaan kontinuitas dalam eksplanasi sejarah sebagai akar masalah ketersingkiran sejarah, maka jalan pemecahan yang dapat ditempuh adalah menulis ulang sejarah nasional Indonesia. Permasalahan ini tidak mudah, karena ingatan bangsa Indonesia tentang masa lampaunya telah dihapus oleh kekuatan kolonial Arab dan Barat, termasuk ingatan para sejarawannya. Oleh karena itu, pada tahap pertama yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah meruwat sejarawan. Ruwatan itu penting karena ilmu pengetahuan, dalam kadar tertentu, entah sadar maupun tidak akan selalu berpihak. Pertanyaan yang sungguh penting untuk dikemukakan kepada sejarawan adalah “Kepada siapakah sejarah Indonesia telah dan akan berpihak?”. Pada diskusi penulisan sejarah kebudayaan Indonesia yang diadakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional pada akhir tahun 2005, masih tampak jelas topik-topik yang dipilih lebih banyak berpihak pada kebudayaan asing. Topik pengaruh India, Arab dan Barat di Indonesia dengan berbagai variannya menempati sebagian besar bab, sedang peradaban asli hanya menempati satu bab dengan judul sangat menggenaskan: Tradisi Asli Yang Masih Tersisa.

Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah sejarawan Indonesia sendiri telah terkooptasi oleh kebudayaan asing, sehingga merasa sangat wajar menempatkan topik tersebut dalam kajian sejarah Indonesia. Dari sudut pandang ini, pemilihan topik dapat dipahami secara sosio kultural sebagai usaha melegitimasi ketercerabutan sejarawan Indonesia dari budaya asli dan mencari asal muasal terkooptasinya diri mereka pada budaya asing.

Kebermanfaatan apa yang diperoleh oleh bangsa Indonesia? Penempatan budaya asing sebagai pedoman pokok hidup bangsa Indonesia akan lebih banyak melahirkan kelinglungan, karena tanpa jatidiri yang kokoh. Dari sudut pandang ini, sejarah Indonesia harus direkonstruksi ulang dengan menempatkan orang dan budaya Indonesia sebagai tokoh utamanya. Rekonstruksi ulang akan memperoleh keberhasilan dengan syarat sejarawan Indonesia berani melakukan ruwatan diri. Ritus ruwatan dalam tradisi Indonesia bertujuan membebaskan anggota masyarakat dari pengaruh jahat. Sejajar dengan itu, ruwatan terhadap diri sejarawan perlu dilakukan agar penglihatan semakin jernih, sehingga mampu melihat keindahan dan keunggulan budaya asli.

D. Kontinuitas dalam Sejarah Indonesia

Seperti telah disinggung bahwa tidak mudah untuk menemukan kontinuitas dalam masyarakat Indonesia yang sedang dalam kondisi lupa ingatan. Sebagai titik awal, barangkali dapat digunakan pidato Soekarno saat membahas falsafah negara:

…kita mendirikan Negara Indonesia, jang kita semua harus mendukungnja. Semua buat semua!…Djikalau saja peras jang lima menjadi tiga (red: sosio nasionalisme, sosio demokrasi dan ketuhanan), dan jang tiga menjadi satu, maka dapatlah saja satu perkataan Indonesia jang tulen, jaitu perkataan “gotong rojong”. Negara Indonesia jang kita dirikan haruslah negara gotong rojong.

…Gotong rojong adalah pembanting tulang bersama, pemerasan keringat bersama, pekerjaan bantu binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah gotong rojong! (Tepuk tangan riuh rendah) (Pidato Soekarno 1 Juni 1945)

Dari pidato tersebut paling tidak terdapat satu nilai kehidupan yang hendak diungkapkan oleh Soekarno sebagai inti atau jiwa dari Pancasila, yaitu gotong royong yang dimaknainya sebagai dari semua untuk semua. Dalam masyarakat Indonesia, dari jaman pra sejarah sampai sekarang nilai kebersamaan yang disimbolkan dengan kata gotong royong sangat kuat mewarnai kehidupan dan mengemuka dalam bentuk relasi kekerabatan terhadap seluruh semesta.

Selain nilai kebersamaan, masyarakat Indonesia juga mengembangkan penghormatan terhadap orangtua dan orang yang “dituakan”. Berbagai norma sosial, ritus dan bahkan religi yang berkembang sepanjang sejarah dapat dirunut dari nilai penghormatan orangtua. Figur orangtua tidak hanya dipahami dalam perspektif ikatan darah, tetapi juga ditempatkan sebagai pelindung dan penjaga kerukunan seluruh anggota keluarganya.

Dua aspek budaya penting lainnya adalah nilai kebermanfaatan dan ketertarikan terhadap alam. Masyarakat Indonesia memandang segala sesuatu dari fungsi atau manfaatnya dalam menjaga ketenteraman kehidupan semesta. Setiap perbedaan disyukuri sebagai berfungsi saling melengkapi. Istilah berbeda tetapi satu (Bhineka Tunggal Ika) yang muncul kemudian merupakan abstraksi dari penghargaan masyarakat yang tinggi terhadap nilai kebermanfaatan dari setiap bagian terhadap terciptanya keharmonisan semesta. Masyarakat Indonesia juga memiliki ketertarikan intelektual dan emosional tinggi untuk mempelajari hukum alam. Tujuannya adalah agar mampu menemukan posisi yang paling tepat dalam menjaga keharmonisan alam yang termanifestasi pada hadirnya keselamatan, kesejahteraan dan ketenteraman hidup.

About Sastro Sukamiskin