Komunitas Gerabah Kasongan

KOMUNITAS GERABAH KASONGAN RANDY STUDIO

Disusun oleh:

Monica Paskalia (143114015)

Etri Amiani (143114018)

Program Studi Matematika

  • Latar Belakang

            Kita semua tahu di Indonesia banyak sekali macam-macam suku dan budaya sehingga memiliki banyak sekali aneka karya seni diantaranya karya seni terapan yang dibuat bukan hanya untuk menjadi pajangan atau hiasan rumah, tapi juga untuk memenuhi dan menunjang kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Contoh dari karya seni terapan antara lain adalah batik yang dijadikan pakaian, alat transportasi tradisional, senjata-semjata tradisional, meja, kursi, rumah adat, dan lain-lain. Indonesia juga terkenal karena memiliki beraneka ragam kerajinan tangan yang sangat memukau, salah satunya adalah gerabah. Gerabah menjadi bagian dari kekayaan ragam budaya Indonesia yang sangat perlu terobosan dalam bentuk dan desain supaya memiliki daya saing dengan produk serupa dari negara lain. Dengan demikian, masyarakat yang memiliki keahlian turun-temurun dalam pembuatan kerajinan gerabah dapat terus berkreasi dan menjadikannya sumber penghidupan yang dapat diandalkan.

            Di Yogyakarta terdapat tempat wisata bernama desa Kasongan yang terletak di daerah pedukuhan Kajen, Bangunwijo, kecamatan Kasihan, Bantul, sekitar 6 km dari Alun-alun Utara Yogyakarta ke arah selatan dan menempuh waktu sekitar tiga puluh menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Pada masa penjajahan oleh kolonial Belanda, pernah terjadi suatu peristiwa yang mengejutkan bahkan menakutkan warga sekitar dengan ditemukannya seekor kuda milik Reserse Belanda yang mati di atas tanah sawah milik salah seorang warga. Karena takut akan dihukum para kolonial Belanda, warga tersebut melepaskan hak tanahnya dan tidak mau mengakui tanah tersebut sebagai tanahnya lagi. Hal ini diikuti oleh warga lainnya. Tanah yang mereka lepaskan inipun akhirnya diakui oleh penduduk desa lain. Akibatnya mereka tidak memiliki tanah persawahan lagi dan warga sekitar akhirnya memilih menjadi pengrajin gerabah dan keramik untuk mainan dan peralatan rumah tangga hingga saat sekarang. Daerah itulah yang sekarang kita kenal dengan nama Kasongan. Desa Kasongan merupakan wilayah pemukiman para kundi, yang berarti gundi atau buyung (orang yang membuat sejenis buyung, gendi, kuali dan lain-lainnya yang tergolong barang dapur juga barang hias).

            Berawal dari keseharian para nenek moyang yang terbiasa mengempal-ngempalkan tanah liat yang ternyata tidak pecah bila disatukan, para nenek moyang kemudian membentuknya menjadi berbagai fungsi yang sekarang dikenal dengan kesenian gerabah. Karena ketekunan dan tradisi turun-temurun inilah, Kasongan akhirnya menjadi desa wisata yang cukup terkenal. Karena kesamaan keahlian yang diturunkan dari para pemdahulunya maka hasil kerajinan gerabah yang telah mereka buat terkesan biasa saja, tidak menarik dan monoton di mata masyarakat.

Atas keprihatinan terhadap hasil kerajinan gerabah yang terkesan tidak menarik dan monoton tersebut maka pada tahun 1971, Sapto Hudoyo salah seorang seniman besar kota Yogyakarta membina masyarakat Kasongan yang kelihatannya bekerja serabutan untuk mengembangkan karya seni gerabah di daerah mereka. Menurut Sapto Hudoyo corak dan desain adalah suatu yang sangat penting dalam pembuatan gerabah, karena jika para wisatawan sudah bosan dengan corak dan desain yang ditawarkan tanpa ada usaha ke arah perubahan, maka pasar kita akan segera ditinggalkan oleh para wisatawan. Sapto Hudoyo dengan sabar dan telaten mengajarkan masyarakat untuk bisa menambahkan sentuhan seni pada gerabah yang akan mereka buat. Gerabah yang sejak dulu diremehkan keberadaannya berubah menjadi sebuah seni yang tidak membosankan, dinamis, dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga pada tahun 1980-an gerabah Kasongan mulai dikembangkan dalam skala besar oleh Sahid Keramik.

Hasil-hasil gerabah Kasongan saat sekarang ini sudah mencakup berbagai macam jenis. Jika wisatawan berkunjung ke kawasan Kasongan ini akan terlihat galeri-galeri keramik dan gerabah di sepanjang jalan yang isinya tidak hanya terbatas pada peralatan rumah tangga dan mainan anak-anak saja tetapi berbagai macam bentuk dan fungsi gerabah seperti asbak rokok kecil atau pot, vas bunga yang berukuran kecil, kepala binatang, naga, kuda, dan hiasan dekorasi lain serta souvenir pernikahan pun ada. Dari sekian banyak komunitas pengrajin gerabah di Kasongan, terdapat sebuah komunitas kecil Randy Studio yang sudah lama keberadaannya dan kami tertarik untuk meneliti apa saja yang ada dalam komunitas ini.

  • Sejarah Komunitas Randy Studio

          Kamis, 21 Mei 1998, tepat sehari setelah peringatan Hari Kebangkitan Nasional, untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa Indonesia, Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama tiga puluh dua tahun resmi mundur dari kekuasaannya. Ya, kita semua tahu tentang kejadian yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu itu. Setelah lengsernya Presiden Soeharto, di daerah Kasongan berdirilah sebuah komunitas kecil yang bernama Randy Studio. Komunitas ini merupakan komunitas yang dibentuk oleh sebuah keluarga kecil yaitu keluarga ibu Nadiyem. Alasan pemberian nama Randy Studio itu sendiri berasal dari nama pemberian orangtua saat sudah menikah akan diberikan sebuah nama baru. Nama pemberian orangtua ibu Nadiyem inilah yang dijadikan sebagai nama komunitas mereka sekarang. Untuk pertama kalinya komunitas ini didirikan, ibu Nadiyem sendirilah sebagai pimpinan komunitas dan beranggotakan keluarganya serta tetangga-tetangganya yang memiliki tujuan yang sama yaitu melestarikan keahlian turun-temurun dari nenek moyang mereka agar tidak punah di generasi yang akan datang.

          Latar belakang terbentuknya komunitas ini adalah masalah keterpurukan ekonomi pada saat itu. “Pas zamannya pemerintahan pak Presiden Soeharto semuanya enak dan mudah untuk didapatkan, tetapi pas kejadian lengsernya Presiden Soeharto dari jabatannya disitulah kami merasakan keterpurukan ekonomi” kata ibu Nadiyem. Menurut beliau untuk pemerintahan sekarang ini tidak perlu untuk dibicarakan, kita bisa mengambil kesimpulan sendiri tentang keadaan kita pada saat sekarang ini, itulah jawaban ibu Nadiyem saat kami menanyakan bagaimana jika pemerintahan presiden saat sekarang ini.

  • Perkembangan Komunitas Randy Studio

Bermodalkan pinjaman dari salah satu bank yang terletak di daerah Kasongan, ibu Nadiyem beserta anggota komunitasnya memulai usaha untuk menekuni kerajinan gerabah. Uang pinjaman tersebut digunakan untuk membeli semua perlengkapan membuat gerabah, seperti tanah liat, kain, alat untuk meratakan sisi gerabah, dan lain lain. Untuk pembelian tanah liat sendiri, komunitas ini biasanya membeli dari salah satu agen penjualan tanah liat yang berada di daerah Kasongan atau daerah terdekat dan membeli dalam jumlah yang banyak. Hasil dari penjualan gerabahnya itu sendiri sebagian disisihkan untuk mengembalikan uang yang telah dipinjam dari bank, sisanya dibagi sama rata kepada anggota komunitas dan pemimpinnya. Hal pinjam-meminjam tersebut sudah menjadi kebiasaan komunitas-komunitas di sana jika mereka ingin mendirikan suatu komunitas atau jika komunitas mereka memerlukan biaya untuk mengembangkan tempat komunitas mereka. Karena setiap orang memiliki kebutuhan hidup yang semakin hari semakin bertambah, maka anggota-anggota dari komunitas gerabah yang ada di Kasongan sepakat untuk membuat komunitas kecil sendiri-sendiri. Tetapi hasil kerajinan gerabah mereka dijual secara bersama-sama dan membagi hasil penjualan sesuai dengan jenis gerabah dan tingkat kesulitan yang mereka buat.

Kejadian letusan gunung Merapi 2006, merupakan salah satu bencana besar bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Semua orang mengungsi karena tempat mereka berteduh, beristirahat, sebagian besar hancur rata dengan tanah. Begitu juga dengan tempat komunitas Randy Studio yang dipimpin oleh ibu Nadiyem. Tidak ada aktivitas sekecil pun yang dapat dilakukan oleh komunitas-komunitas yang ada di daerah Kasongan, butuh waktu sekurang-kurangnya satu tahun untuk dapat memulihkan kondisi kembali normal. Tetapi kejadian letusan gunung Merapi tersebut juga merupakan awal dari perkembangan komunitas ini karena dulunya tempat mereka bekerja hanya beratapkan daun rumbia, tetapi setelah kejadian tersebut kini tempat komunitas mereka beratapkan genteng dan kemudian bangunannya dibuat lebih kokoh dari sebelumnya menggunakan dana bantuan dari pemerintah setempat.

Dulu saat setelah tanah liat selesai dibentuk, mereka melakukan pembakaran menggunakan kayu bakar, jerami atau tungku dan memakan waktu yang cukup lama sampai akhirnya bisa diproduksi. Tetapi sekarang, komunitas-komunitas di kawasan Kasongan ini cukup terbantu dengan adanya oven untuk membakar hasil olahan tanah liat mereka. “Cukup menunggu hasil tanah liat terkumpul sebanyak seratus buah atau lebih dari komunitas-komunitas yang ada, maka pembakaran dengan oven dapat dilakukan. Letak pembakarannya tidak jauh dari daerah pemakaman yang ada di Kasongan” tutur ibu Nadiyem.

Kini, komunitas Randy Studio dipimpin oleh anak ibu Nadiyem yaitu Radiyem dan beranggotakan empat orang yang adalah keluarga mereka sendiri. Agenda kegiatan setiap hari yang dilakukan oleh komunitas ini adalah membuat gerabah dan jika komunitas ini kedatangan wisatawan baik dari dalam ataupun dari luar negeri mereka dengan gembira menyambut wisatawan tersebut dan bersedia menceritakan, mengajarkan cara pembuatan gerabah tanpa meminta upah sepeser pun. Karena memang dari komunitas ini sendiri mengajarkan orang lain adalah suatu keharusan agar kreativitas dan kerajinan tangan yang ada di Indonesia khususnya gerabah tidak akan punah walaupun bersaing dengan pruduk-produk luar negeri yang semakin marak kehadirannya dan menarik para peminat di bangsa ini. Disamping membuat gerabah setiap harinya, mereka biasanya mengadakan rapat sekali dalam jangka waktu dua minggu. Rapat komunitas Randy Studio ini biasanya membicarakan tentang keterampilan mereka agar semakin mahir dalam pembuatan gerabah itu sendiri dan bisa bersaing dengan komunitas-komunitas lainnya yang ada di daerah Kasongan.

  • Prestasi Komunitas Randy Studio

         Setiap manusia dengan berbagai macam profesi pasti mempunyai keinginan untuk berprestasi. Jadi prestasi seperti apakah yang paling bagus? Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini, karena masing-masing orang memiliki potensi diri yang berbeda dengan yang lainnya. Prestasi antara orang satu dengan yang lainnya tentu tidak akan sama, dan seseorang tidak mungkin akan menjadi orang yang sama persis dengan orang yang dikagumi prestasinya.

         Menurut ibu Nadiyem, saat dilontarkan pertanyaan tentang penghargaan atau prestasi yang pernah diperoleh oleh komunitas Randy Studio sangatlah sederhana. Menurut beliau penghargaan tertinggi bagi komunitas mereka adalah saat para wisatawan mau menawar dan ingin membeli hasil kerajinan gerabah mereka dengan nominal yang cukup tinggi. Bukan karena besar rupiah yang akan mereka terima, tetapi menurut mereka jika seseorang berani untuk menawar hasil kerajinan gerabah mereka dengan nominal yang cukup tinggi berarti para wisatawan tertarik dan merasa puas dengan hasil karya yang mereka buat. Ibu Nadiyem pun menambahkan kebanggan tersendiri dari diri beliau terhadap komunitas Randy Studio ini karena ibu Nadiyem yang berlatarbelakang keluarga yang tidak mampu dapat menyekolahkan kedua anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari dirinya. Salah satu dari kedua anaknya kini menjadi seorang anggota Tentara Nasional Indonesia atau kita sering menyebutnya dengan singkatan TNI, “Ya saya bangga karena dengan adanya komunitas ini dapat membantu saya untuk berhasil menyekolahkan anak saya” tutur ibu Nadiyem.

  • Tantangan yang Dihadapi Komunitas Randy Studio

Tantangan yang sangat penting dalam komunitas Randy Studio ini menurut Ibu Nadiyem adalah hal sumber daya manusia. Untuk perkembangan sebuah komunitas tidak lepas dari banyaknya anggota yang mereka miliki. Mempertahankan jumlah anggota komunitas sangatlah sulit karena setiap anggota semakin hari semakin sibuk dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Penguasaan bahasa Inggris juga merupakan tantangan yang tak kalah penting untuk dipikirkan dalam komunitas Randy Studio ini. Karena tidak jarang banyak wisatawan luar negeri datang berkunjung untuk belajar lebih dalam lagi mengenai gerabah yang diproduksi komunitas ini. Suatu kebanggan memang jikalau banyak wisatawan luar negeri mengunjungi dan belajar ke komunitas Randy Studio ini, tetapi untuk membuat wisatawan luar negeri ini tertarik tentunya harus ada komunikasi diantara mereka. “Kalau wisatawannya tidak bisa berbahasa Indonesia ya kita gak bisa ngerti apa yang dia maksud, sehingga kita harus bisa bicara menggunakan bahasa mereka” tutur ibu Nadiyem.

Saat ini perkembangan alat teknologi modern sudah lebih maju sehingga banyak orang berpindah dari alat tradisional ke alat modern dengan alasan lebih mudah dan praktis ketika digunakan. Tetapi dengan berpindahnya masyarakat ke alat-alat modern menyebabkan banyak komunitas pengrajin alat-alat tradisional merasa rugi, itulah yang dialami oleh komunitas Randy Studio. “Dulunya para konsumen menggunakan produk gerabah seperti cobek kini berpindah ke alat modern seperti blender, sehingga produk gerabah yang mereka hasilkan tidak laku” tutur ibu Nadiyem. Keadaan semacam inilah yang harus dicari jalan keluarnya. Salah satu yang dapat komunitas Randy Studio lakukan adalah dengan memperkenalkan atau memasarkan hasil kerajinan gerabah ke ranah yag lebih luas. Dengan demikian maka hasil kerajinan gerabah dapat dikenal lagi oleh masyarakat luas. Sehingga masyarakat tetap menggunakan hasil kerajinan gerabah dan para komunitas pengrajin gerabah tidak merasa dirugikan.

            Di zaman yang semakin maju ini keberadaan gerabah merupakan sesuatu yang tidak menarik di mata beberapa orang jika dibandingkan dengan hasil-hasil keramik dari luar negeri. Tetapi ibu Nadiyem berharap pada generasi muda Indonesia yang akan datang tetap mau belajar untuk melestarikan gerabah, terutama gerabah-gerabah yang ada di daerah Kasongan ini. Jangan sampai tempat di wilayah Yogyakarta yang merupakan desa wisata terkenal ini hilang hanya karena tidak ada penerusnya.

            Jadi untuk kita gerenasi muda tanamkanlah kepekaan dan rasa peduli kepada budaya dan karya seni yang ada di Indonesia. Lewat belajar membuat gerabah bisa membantu kita untuk menunjukkan rasa kecintaan kita terhadap produk-produk lokal Indonesia. Belajar membuat gerabah itu asyik dan penuh dengan tantangan, karena tidaklah mudah belajar untuk dapat menghasilkan gerabah yang memiliki sentuhan seni yang bisa menarik perhatian banyak wisatawan. Perlu proses dan ketekunan agar dapat mendapatkan hasil yang maksimal.

etriamiani40@gmail.com'

About etria