KINI LGBT TAK TABU LAGI bersama Komunitas Vesta

MEYSI PRAMITA SEMBIRING – 145314096 & MARIA ISABELLA – 145314108

KELAS AE

Apasih yang dalam benak kita, kalau mendengar kata LBGT, pasti “euhhh banget kan”, kecuali bagi orang yang belum tahu menahu apa itu kepanjangan LGBT. Namun bagi yang telah mengetahui apa itu LGBT pastilah merasa jijik, aneh, resah, bahkan bingung, bagaimana membayangkan seseorang dengan orientasi seksual yang berbeda dengan orang pada umumnya, semisal saja adalah homo seksual, laki – laki berhubungan dengan laki – laki, dan lesbian, perempuan berhubungan dengan perempuan. Dalam kehidupan nyata kita semua berdampingan dengan orang – orang yang “berbeda” orientasi seksualnya. Wajar saja jika orang umumnya merasa canggung dan tabu dengan kaum LGBT.

Kejadian seperti mengatai teman adalah seorang homo atau kita menyebutnya maho adalah cowok “main gila” dengan cowok. Biasanya terjadi jika ada cowok gandengan tangan atau tidak sengaja mengalami kontak fisik secara pikiran adalah mengarah ke hubungan seks misal tidak sengaja berpelukan. Bisa saja teman kita adalah bukan seorang maho atau memang benar seorang maho. Pepatah jaman sekarang mengatakan bahwa “Cewek selalu Benar” itu memang realita karena cewek dengan cewek ketika bersentuhan tidak dibilang lesbi, namun ada juga yang memang seorang lesbian perempuan tertarik dengan perempuan. Ada pula kita melihat waria atau bencong yang dijalan – jalan paling banyak kita dapat menjumpai di sekitar Malioboro, mereka adalah seorang laki – laki yang bergaya seperti perempuan. Namun bukan aktor yang berperan sebagai perempuan atau waria, namun waria yang orientasi seks yang berubah dari laki – laki tertarik dengan perempuan, menjadi tertarik dengan laki – laki. Seolah – olah kaum LGBT ini berada dibawah manusia heteroseksual atau normal. Padahal secara fisik mereka sama dengan manusia normal, kecuali waria yang dapat dibedakan, kerena laki – laki berpenampilan perempuan.

Bagi yang belum tahu LGBT, menurut ensiklopedia Bahasa Indonesia LGBT atau GLBT adalah akronim dari “lesbian, gay, biseksual, dan transgender”. Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa “komunitas gay” karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan. Akronim ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman “budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender”. Kadang-kadang istilah LGBT digunakan untuk semua orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual, biseksual, atau transgender. Maka dari itu, seringkali huruf Q ditambahkan agar queer dan orang-orang yang masih mempertanyakan identitas seksual mereka juga terwakili “LGBTQ” atau “GLBTQ”.

Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk penunjukkan diri. Istilah ini juga diterapkan oleh mayoritas komunitas dan media yang berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika Serikat dan beberapa negara berbahasa Inggris lainnya. Tidak semua kelompok yang disebutkan setuju dengan akronim ini. Beberapa orang dalam kelompok yang disebutkan merasa tidak berhubungan dengan kelompok lain dan tidak menyukai penyeragaman ini Beberapa orang tidak menyetujui bahwa sebab transgender dan transeksual itu sama dengan kaum “LGB”. Gagasan tersebut jelas dalam keyakinan “separatisme lesbian & gay”, yang meyakini bahwa kelompok lesbian dan gay harus dipisah satu sama lain. Akronim LGBT merupakan sebuah upaya untuk mengategorikan berbagai kelompok dalam satu wilayah abu-abu tetapi dalam implementasinya warna atau simbol LGBT adalah pelangi yang memiliki banyak warna dalam artian bermacam – macam kaum yang ada dalam LGBT. LGBT sebagai isu dan prioritas kelompok yang diwakili diberikan perhatian yang setara. Di sisi lain, kaum interseks ingin dimasukkan ke dalam kelompok LGBT untuk membentuk “LGBTI”.

Eksistensi dan perkembangan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender/Transeksual (LGBT) tidak terlepas dari perkembangan globalisasi. Arus globalisasi menjadikan kelompok LGBT kian berani menunjukkan eksistensi dan jati diri mereka. Tidak hanya di negara-negara Barat yang menjunjung kebebasan dan nilai-nilai liberal, di Indonesia sebagai negara dengan budaya Timur kelompok LGBT semakin gencar memperjuangkan dan menampakkan orientasi seksual dan identitas gender mereka. Tidak heran kemudian jika kelompok atau komunitas  LGBT tumbuh subur dengan berusaha menuntut pengakuan atas hak-hak mereka sebagai warga negara dan sebagai manusia.

Fenomena tumbuh suburnya kelompok LGBT di Indonesia menjadi menarik dan kontroversi sebab mayoritas penduduknya yang beragama Islam. Konstruksi sosial, budaya atau adat istiadat, agama, bahkan politik menjadikan mereka terkelompokkan dalam dimensi ekonomi, sosial, politik, pendidikan, dan lainnya. Kaum LGBT mendapatkan pandangan negatif dan “kebencian” dalam relasi kehidupan sosial mereka (homophobia). Globalisasi kemudian menjadi fasilitas dan media bagi mereka untuk mempertahankan eksistensinya sebagai ”manusia” yang sama dengan masyarakat heteroseksual (normal). Eksistensi dan perkembangan kelompok LGBT tersebut tidak terlepas dari globalisasi politik yang mendorong persamaan nilai-nilai dan persamaan hak asasi manusia. Perjuangan identitas kelompok LGBT seiring keterbukaan sistem politik di Indonesia yaitu Demokrasi. Selain itu, globalisasi dalam konteks revolusi teknologi informasi dan komunikasi yang berdampak pada kesalingterhubungan globalisasi memfasilitasi penyebaran ide dan gerakan kelompok LGBT untuk semakin dipandang “ada”.

Alasan mengapa kami memilih komunitas LGBT adalah kontroversial dengan isu yang berkembang di Indonesia mengenai persamaan hak asasi manusia terutama mengenai LGBT yang masih dipandang masyarakat sebagai komunitas yang dianggap menyimpang dalam orientasi seksual. Indonesi dengan dasar negara Pancasila LGBT merupakan sebuah gejala yang timbul di masyarakat, misal di Yogyakarta sendiri yang tidak dapat dihindari karena kemajuan teknologi dan kebudayaan yang bebas masuk yang berasal dari Negara-negara Barat. Komunitas LGBT membuat gebrakan kepada masyarakat agar mereka diterima sebagai manusia yang sama derajatnya dan memiliki hak dan kewajiban yang sama. Maka kini komunitas LGBT tidak lagi tabu di masyarakat. Sudah banyak masyarakat yang memaklumi kaum LGBT asal kaum ini tidak mengganggu dan tidak sembunyi, bahayanya kaum LGBT ini adalah tentang penyebaran HIV/AIDS. Namun dengan adanya LSM atau komunitas LGBT banyak yang maklum tentu saja banyak juga yang menentang. Walaupun demikian isu persamaan hak semisal pernikahan sesama jenis masih belum bisa diterapkan di Indonesia sedangkan beberapa negara lain sudah mengakui persamaan HAM untuk LGBT. Namun dengan adanya komunitas LGBT sebagai media menyampaikan aspirasi dan berkreasi juga untuk memperjuangkan hak asasi LGBT. Kami memilih Komunitas LGBT VESTA YOGYAKARTA dimana memiliki alamat yang jelas dan kantor komunitas yang resmi dan sudah diakui di Yogyakarta, dan memiliki program atau kegiatan yang jelas yaitu tentang penyuluhan HIV/AIDS dengan nama “Penjangkauan dan Pendampingan” . Dengan narasumber kami adalah Mas Muchlis Dwi Atmaja sebagai staf keuangan di komunitas Vesta.

Sejarah

Pada awalnya hanya kelompok kecil dari teman – teman gay, namun ada yang terdorong untuk membentuk suatu komunitas dengan kelompok – kelompok yang lain sehingga terbentuklah Vesta yang bukan hanya gay, tetapi juga waria, lesbi, wps, istilahnya kaum LGBT .

Komunitas Vesta terbentuk sejak 15 Februari 2004, namun secara akta notaris tercatat pada tanggal 10 Februari 2005. Nama Vesta diambil dari dewi Yunani bernama Vista, dewi yang turun kebumi dalam keadaan bumi yang sedang hancur, harapannya komunitas Vesta ini mencoba membenahi dan menata kembali keadaan bumi yang juga “hancur” untuk membawa damai pada ketidakseimbangan yang ada di lingkungan. Komunitas ini dijadikan sebagai wadah / media berkreasi, menyalurkan aspirasi. Komunitas ini sebelum terbentuk para pendiri – pendiri pertama sangatlah berjuang untuk diakuinya komunitas ini sebagai komunitas yang resmi. Perjuangan bertahun – tahun yang akhirnya membuahkan hasil dan terbentuklah Vesta sampai sekarang masih berdiri dan melayani masyarakat selama kurang lebih 11 tahun. Konsistensi mengenai penyuluhan HIV/AIDS sangat baik.

Perkembangan

Yang pada awalnya hanya sekelompok gay, sekarang telah menjadi komunitas yang memiliki sistem organisasi dengan anggota yang banyak yaitu :

Anggotanya terdiri dari

3 Staf inti

1 Pembina merangkap sebagai Konsultan Lapangan

4 Konsultan Lapangan

27 Pekerja Lapangan yang dibagi 4 Divisi yaitu :

  • LBT/HRM (High Risk Man) laki – laki yang menjadi pelanggan seks perempuan biasa disebut Man Mobile Macho

  • LSL / MSM (Man Sex Man)

  • Waria

  • WPS (Wanita Pekerja Seks)

Komunitas Vesta bersifat terbuka, namun tentu saja ingin menjadi staf yang terikat kontrak perlu adanya seleksi. Komunitas Vesta memiliki koperasinya hanya melayani simpan pinjam diamana ada iuran wajib dan dapat di pinjam oleh anggota.

Komunitas Vesta memiliki program yaitu Program Penjangkauan dan Pendampingan, memberikan penyuluhan tentang bahaya dan pencegahan HIV/AIDS sudah menjangkau 2000 dan mendampingi 200 orang, dan ada kegiatan tes HIV/AIDS gratis di spot atau tempat tertentu. Komunitas Vesta memiliki tenaga konselor 5 org, bekerja sama dengan 5 LKB atau puskesmas dan beberapa rumah sakit yang memiliki layanan klinik tes HIV. Banyak masyarakat yang medukung kegiatan yang dilakukan Komunitas Vesta.

Komunitas Vesta ini menjalin kerja sama dengan komunitas yang lain di Yogyakarta yaitu hanya komunitas kecil atau dibilang kelompok, dan Vesta ini termasuk yang besar, misal kelompok banci/waria, kelompok wps yang ada ditempat karaoke, tak heran jika komunitas -komunitas tersebut terkadang meminta Vesta untuk membantu acara, atau berdiskusi bersama, maupun tentang penyuluhan HIV/AIDS. Kegiatan di Vesta untuk internal sendiri ada meeting mingguan tiap divisi, dan ada meeting mingguan all (semua anggota) untuk mengkaji, pengkayaan materi, berdiskusi sudah ditentukan tiap jadawalnya, untuk eksternalnya melakukan kegiatan test HIV gratis rutin dibeberapa spot yang menjadi jangkauan Vesta atau berdasarkan permintaan.

Prestasi

  • Prestasi Komunitas Vesta adalah menjuarai berbagai event, misal lomba dance, karnaval dan sebagainya.

  • Komunitas Vesta telah menjangkau 2000 orang dan mendampingi 200 orang mengenai penanganan HIV/AIDDS

  • Prestasi yang sesungguhnya dirasakan adalah diakui masyarakat dengan adanya komunitas ini, bukannya mengganggu melainkan sebagai sarana untuk membantu tentang penyuluhan HIV/AIDS.

Tantangan

Kendala dari dalam adalah masalah pengadaan anggaran, jika melaukan kegiatan harus memperhitungkan budget, supaya bisa dilakukan secara maksimal, contohnya saat melakukan edukasi/ sosialisasi yang diiringi dengan hiburan alias edutainment harus memiliki modal banyak karena harus sewa panggung dan sebagainya,. Untuk dari luar dirasa tidak ada, asal dalam berkegiatan selalu dengan ijin yang benar pasti berjalan dengan lancar. Puji Syukur tidak ada yg kontra dengan kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Vesta, bahkan bnyak masyarakat yang meminta untuk disuluh, awalnya Vesta bergerak dalam bidang penanggualangan HIV/AIDS untuk teman – teman yang berpotensi saja tetapi masyarakat awam pun juga meminta untuk disosialisaikan tentang penanggulangan HIV/AIDS, terang Mas Muchlis.

Menurut Mas Muchlis narasumber kami mengatakan bahwa “Bukan orangnya yang kita benci tapi perilakunya.”. Perilaku yang dimaksud adalah tidak aman, jika seksual aktif maka disarankan untuk memakai kondom dan tidak seanaknya saja yang akan berakibat tambahnya orang yang akan terinfeksi HIV.

Komunitas LGBT tidak dipandang buruk lagi oleh masyarakat, namun kegiatan banyak didukung misal penyuluhan tentang HIV/AIDS dinilai sangat membantu sekali dalam mengurangi dan mencegah orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Dan untuk hak menyatakan pendapat, berorganisasi sangatlah dijamin di Indonesia terlihat adanya komunitas LGBT yang diakui sebagai wadah untuk berkreasi dan berorganisasi. Namun di Indonesia masih banyak yang tidak setuju dengan persamaan hak mengenai pernikahan sesama jenis karena masih banyak kontroversi antara hak dengan agama serta adat istiadat.

bellamaria424@gmail.com'

About Maria Isabella

NIM : 145314108 NAMA : MARIA ISABELLA PRODI : TEKNIK INFORMATIKA FST UNIVERSITAS SANATA DHARMA