Kerajaan Sunda

Hb. Hery Santosa

Kerajaan Sunda adalah salah satu kerajaan pada yang terletak di Jawa Barat. Tidak seperti kerajaan-kerajaan lain yang pernah tumbuh dan berkembang di Pulau Jawa, sejarah kerajaan Sunda belum banyak diungkapkan oleh para ahli. Hal ini disebabkan karena sumber sejarah yang berkenaan dengan perkembangan kerajaan tersebut sangat terbatas. Prasasti, sebagai sumber utama dalam merekonstruksi Sejarah Indonesia Kuno, tidak banyak diketemukan, lebih-lebih yang menyebut nama kerjaan dengan jelas. Demikian pula peninggalan-peninggalan sejarah yang lain, juga tidak banyak yang diketemukan. Beberapa peninggalan yang telah diketemukan dalam keadaan sudah rusak, bahkan sulit untuk dikenali asal-usul maupun bentuknya.

Berdasarkan peninggalan arkeologis dan sumber-sumber tertulis yang sudah diketemukan, dapat diketahui bahwa setelah runtuhnya kerajaan Tarumanegara, muncul kerajaan lain di Jawa Barat yang kemudian dikenal dengan nama kerajaan Sunda. Sebenarnya, di samping kerajaan Sunda, ada satu kerajaan lain yaitu kerajaan Galuh yang berkembang antara abad VII – X, sedangkan kerajaan Sunda berlangsung antara abad VIII – XVI. Berita mengenai kerajaan Galuh antara lain disebutkan dalam Carita Parahyangan yang menyebut adanya seorang tokoh yang bernama Sañjaya, yang juga disebut-sebut dalam prasasti Canggal 732 M. Dalam naskah tersebut diceritakan bahwa Sañjaya adalah anak Sana raja Galuh, yang pada suatu ketika Sana dikalahkan oleh Purbasora dan mengungsi ke daerah Merapi. Setelah Sañjaya dewasa berhasil mengalahkan Purbasora dan kemudian berkuasa atas kerajaan Galuh. Pada saat Sañjaya berkuasa, disebutkan bahwa daerah Sunda sebagai suatu kerajaan kecil yang menguasai daerah sebelah barat Sungai Citarum. Kerajaan Sunda ini dikuasai oleh Tarusbawa yang disebut sebagai Tohaan (yang dipertuan) di Sunda. Sañjaya kemudian kawin dengan salah seorang puteri Tarusbawa dan berkuasa atas Galuh yang menguasai daerah-daerah sebelah Timur Jawa Barat dan kerajaan Sunda yang menguasai wilayah Barat Jawa Barat. Kerajaan ini selanjutnya disebut dengan Kerajaan Sunda yang beribukota di Galuh.

Prasasti tertua yang menyebut nama Sunda adalah Prasasti Rakryân Juru Pangambat 854 Çaka, yang diketemukan di Desa Kebon Kopi, Bogor. Prasasti yang berbahasa Melayu Kuno ini menyebut:…..ba pulihkan haji sunda….., yang dapat diterjemahkan sebagai:…..memulihkan raja Sunda. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pada masa sebelumnya sudah ada raja Sunda.

Nama Sunda ini kemudian muncul kembali dan disebutkan dalam Prasasti Sang Hyang Tapak 952 Çaka, yang diketemukan di tepi Sungai Cicatih, daerah Cibadak, Sukabumi. Prasasti yang menggunakan bahasa dan aksara Jawa Kuno ini menyebut nama tokoh Sri Jayabhupati. Di dalam prasasti ini dinyatakan bahwa Sri Jayabhupati adalah raja di prahajyan Sunda (Kerajaan Sunda), yang menetapkan suatu daerah tepek (larangan) di sebelah Timur Sang Hyang Tapak dan memohon kepada para Dewata agar menjatuhkan kutukan kepada mereka yang berani melanggar keputusan tersebut. Daerah larangan ini berupa sebagian sungai beserta daerah disekitarnya yang kemudian dinyatakan tertutup untuk segala macam kegiatan penangkapan ikan beserta penghuni sungai lainnya. Daerah ini dinyatakan tertutup karena di daerah tersebut terdapat tempat pemujaan kepada Sang Hyang Tapak. Selanjutnya dalam prasasti ini disebutkan bahwa barang siapa yang berani melanggar larangan akan dimakan sumpah, seperti terbelah kepalanya, terminum darahnya, terhisap otaknya, terbelah dadanya. Sumpah atau kutukan ini berlaku sepanjang masa, dan oleh karenanya hingga kini tidak ada masyarakat di sekitar sungai yang berani mengambil ikan dari daerah tersebut.

Raja Sunda lainnya yang meninggalkan prasasti adalah raja Niskala Wastukancana, yang diduga sebagai raja terbesar pada kerajaan Sunda dan berkuasa antara akhir abad XIV sampai pertengahan abad XV. Prasasti penting yang dikeluarkan Raja Wastukancana adalah Prasasti Kawali I sampai dengan V. Prasasti Kawali I berisi tentang pertapaan Prabu Raja Wastukancana yang bertakhta di Kawali. Di samping itu, prasasti ini juga menguraikan tentang keberhasilan Raja Wastukancana memperindah Kraton Surawisesa dan membuat parit pertahanan di sekeliling ibu kota. Dalam Prasasti Kawali II berisi tentang harapan bahwa semua yang bertempat tinggal di Kawali, dari saat ini hingga masa yang akan datang dapat selalu berbuat kebajikan dan tetap bertahan hidup. Sedangkan dalam Prasasti Kawali III terdapat guratan-guratan yang membentuk kotak-kotak dengan tulisan pendek yang berbunyi “agana”. Prasasti Kawali IV dan V berbentuk menhir dan masing-masing bertuliskan “sanghiyang lingga hyang” pada prasasti Kawali IV dan “sanghiyang lingga bingba” pada prasasti Kawali V.

Pada masa berikutnya, yaitu masa pemerintahan Raja Jayadewata (1482 – 1521 Masehi), yang mengeluarkan 4 buah prasasti perunggu yang kemudian dikenal dengan Prasasti Kebantenan. Prasasti yang sekarang disimpan di Museum Nasional ini di antaranya menyebutkan bahwa pusat kerajaan berada di Pakuan Pajajaran. Dua prasasti pertama menyebut pesan Raja Jayadewata kepada rakyatnya, bahwa dayeuh (pemukiman) Jayagiri dan Sundasembawa serta tanah dewa sasana yang terletak di Gunung Samaya, merupakan daerah yang tidak boleh diganggu oleh siapapun, termasuk para pejabat kerajaan, karena merupakan daerah larangan, tempat tinggal para wiku. Seseorang yang berani mengganggu daerah-daerah tersebut diperintahkan untuk dibunuh. Sedangkan dua prasasti lain menyebutkan bahwa daerah-daerah larangan tersebut dinamakan daerah kawikuan dan kabuyutan.

Di bidang politik, Raja Dewata juga melakukan tindakan-tindakan yang cukup tegas dalam usahanya menghadapi meluasnya Islam di daerahnya. Raja Dewata menjalin hubungan dengan Portugis, dengan mengirimkan utusannya Ratu Samiam (Sanghyang) kepada Alfonso d’Albuquergue pada tahun 1512, yang sejak tahun 1511 telah menguasai Malaka.

Prasasti lain yang dapat digunakan untuk merekonstruksi kerajaan Sunda adalah Prasasti Batu Tulis. Angka tahun pada prasasti ini menggunakan candra sengkala “panca pandawa e(m)ban bumi” yang dapat diartikan sebagai 1455 Çaka (1533 Masehi), dan dikeluarkan oleh Raja Surawisesa. Prasasti ini menyebutkan mengenai jasa-jasa Sri Baduga (Jayadewata), yaitu memperbaiki ibukota Pakuan mambangun gunung buatan, mengeraskan jalan dengan batu, menetapkan hutan Samida sebagai daerah larangan, dan membuat telaga warna Mahawijaya. Sedangkan dalam Carita Parahyangan diceritakan bahwa pada masa pemerintahan Surawisesa telah terjadi 15 kali peperangan, dan tidak pernah mengalami kekalahan. Peperangan yang dimaksud adalah peperangan melawan pasukan Islam. Peperangan yang dipimpin sendiri oleh Raja Surawisesa ini dilakukan di beberapa tempat seperti: Kalapa, Tanjung, Gunung Banjar, Padang dan Medangkahyangan, serta daerah-daerah di sekitarnya.

Peperangan-peperangan yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Raja Surawisesa ini pada kenyataannya terus berlanjut, sampai dengan masa pemerintahan Raja Nusiya Mulya, yang dianggap sebagai Raja Sunda yang terakhir. Perubahan yang terjadi di tengah masyarakat sebagai akibat semakin berkembangnya pengaruh Islam tidak dapat dibendung lagi. Pasukan Islam mulai mendapatkan kemenangan demi kemenangan. Daerah-daerah seperti Rajagaluh, Pakwan, Datar, Mandiri, Jawakapala, Gegelang dan Salajo mulai dikuasai oleh pasukan Islam. Bahkan Patege atau Portugis sendiri berhasil dikalahkan oleh pasukan Islam. Sementara itu, keruntuhan kerajaan Sunda dapat diketahui dari carita Parahyangan dan Berita Asing (Portugis), yang menyatakan bahwa keruntuhan kerajaan Sunda terjadi pada tahun 1579 Masehi akibat serangan dari tentara Islam Banten pada masa pemerintahan Maulana Yusuf.

Kepustakaan

Atja, 1968, Tjarita Parahyangan: Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ke-16 Masehi, (Bandung: Yayasan Kebudayaan Nusa Larang.

Ayatrohaedi, 1978, “Pajajaran atau Sunda?” Majalah Arkeologi Th. I No. 4, Maret 1978, (Jakarta: Fasa UI),

Bambang Sumadio, (ed.), 1984, Sejarah Nasional Indonesia II, (Jakarta: Bali Pustaka),

Hageman, 1867, “Geschidenis der Soenda-landen”, TBG XVI

Pleyte, 1911, “Het (jaartal) op den Batoe toelis nabij Buitenzorg”, TBG LIII

Sutaarga, Amir, 1965, Prabu Siliwangi, (Bandung: Duta Rakyat).

Sumber: SPPS SERI XXIV, NO. 2, JULI 2000

sastrosukamiskin@yahoo.com'

About Mbah Sastro