KAMPOENG DOLANAN

kampung dolanan

Komunitas kampung dolanan

Nama kelompok: Omri deroyen nainggolan (145114041)
Ardianto samma mandaso(145114035)

Kampung Dolanan : Dusun Unik Penghasil Permainan Tradisional

Permainan tradisional, yang biasa kita sebut sebagai ‘dolanan’ sudah jarng sekali terlihat dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang. Apalagi semenjak pertengahan tahun 1980-an dimana permainan plastik dari Amerika dan China mulai merambah di Indonesia. Kampung Dolanan, keunikan salah satu desa dari keragaman seni kriya yang ada di Yogyakarta, dimana eksistensi dolanan masih bertahan.

“sudah jaman kecil saya membuat permainan ini, dari mulai simbok”, jelas Mbah Atemo sambil membuat sebuah model wayang dari kertas.

Kampung Dolanan secara historis adalah salah satu dusun yang masyarakatnya mayoritas memproduksi dolanan anak-anak berbahan bambu dan kertas.Tradisi ini sudah ada sejak pemerintaha HB VIII atau sekitar abad ke-18.Angkrek, othok-othok, wayang kertas, payung dan kepat menjadi salah satu pilihan dolanan yang ditawarankan dari desa ini.

Letak desa ini 9,2 km dari kota Yogyakarta ke arah selatan, lebih tepatnya di dusun Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Café Pyramid yang berada di jalan Parangtritis menjadi petunjuk jalan terdekat dari dusun ini.

Lahirnya Nama Kampung Dolanan

Momentum gempa bumi 2006 menjadi titik dimana Wahyudi, selaku perintis lahirnya kampung dolanan ini melakukan sebuah pergerakan.Memiliki rasa senasib dan sepenanggungan pada saat itu, menjadi sebuah langkah kecil untuk mengumpulkan kembali semangat masyarakat Pandes untuk menunjukkan kearifan lokalnya.Kemudian didirikanlah Komunitas Pojok Busaya yang memberikan desa Pandes sebagai Kampung Dolanan

Visi kampoeng dolanan

Visi dari komunitas ini adalah ingin membantu dalam perwujudan masyarakat yang mandiri, berbudaya, religius dan peduli lingkungan sekitar. Komunitas yang terdiri dari Karang Taruna dan masyarakat Pandes pun memiliki kegiatan, misalnya saja adanya Kelompok Bermain Among Siwi dan juga kegiatan Insidental lainnya, seperti pelestarian budaya dan paket outbond untuk para pengunjung.

“Tahun 2007, Komunitas Pojok Budaya didirikan di kampung dolanan ini.Dimana tujuan utamanya melihat kembali potensi dusun Pandes”, ungkap Bimo, Ketua Komunitas Pojok Budaya.

Kelompok Bermain Among Siwi ini memiliki sistem pembelajaran yang satu visi dengan kampung dolanan, yaitu mempergunakan alam dan alat-alat traadisional sebagai media pembelajarannya. Begitu juga dengan paket outbond yang ditawarkan berbeda dari outbond pada umumnya. Kampung Dolanan memberikan sebuah pembelajaran dalam membuat dolanan langsung darisimbah-simbah.Begitu juga pelestarian busaya yang ada di desa ini, seperti gejog lesung, karawitan, wayang dan jatilan

Diceritakan oleh Wahyudi, terbentuknya Kampung Dolanan ini berasal dari Nyai Sompok yang merupakan keturunan Majapahit. Kedatangan Nyai Sompok di dusun Pandes lantas menyebarkan ketrampilan membuat permainan anak.

Hingga tahun 1980-an, hampir ratusan penduduk menekuni profesi ini. Terbukti, hasil kerajinan banyak dijual ke luar daerah Yogyakarta seperti Kebumen, Semarang, Klaten. Namun, pada tahun 1980-an,Kampung Dolanan menjadi sepi karena banjirnya permainan modern.

Munculah Komunitas Pojok Budaya dii tahun 2008. Komunitas ini pula yang mendirikan sekolah khusus pengajaran ketrampilan pembuatan permainan tradisional. Bahkan sekolah ini akhirnya menjadi tujuan wisata edukasi yang popular di Yogyakarta.

“Sepuluh tahun atau lebih, permainan anak tradisional akan punah. Kalau tidak diselamatkan, maka nilai-nilai yang terkandung di dalamya tidak akan bisa dikenang,” kata Wahyudi.

Di dalam permainan tradisional terdapat nilai kemandirian, peduli lingkungan, kerjasama, dan kesadaran geografis. Namun, penjualan permainan ini makin lama semakin sulit. Untuk itu, pihak Wahyudi melakukan re-design permainan anak tradisional menjadi sebuah souvenir bagi pengunjung.

Sejarah dan Perkembangan Kampung Dolanan

saat ini mainan tradisional pelan tapi pasti semakin tergusur mainan modern. Padahal mainan tradisional mempunyai nilai-nilai warisan dari nenek moyang bangsa Indonesia. Mainan tradisional dan mainan modern akan membentuk sikap anak yang sangat berbeda. Mainan tradisional akan membentuk anak yang kreatif, berjiwa sosial tinggi, dan menghargai lingkungan. Sedangkan mainan modern banyak yang mengajarkan individualistis hingga perilaku kekerasan.
Keresahan akan masalah yang menimpa mainan tradisional mendorong pemuda di salah satu desa di Bantul untuk menggerakan gebrakan dalam dunia wisata. “Kampung Dolanan”, begitu nama yang mereka angkat menjadi merek agar bisa menyebar luas sebagai wisata yang patut dikunjungi. Usul punya usul desa ini pada masa lalu merupakan sentral pembuat mainan tradisional di DIY dan sekitarnya. Sebagian warganya pada masa itu merupakan pengrajin mainan yang ulung dan diakui di seantero DIY. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, mainan tradisional seperti tergusur dari rumahnya sendiri. Kini hanya segelintir orang yang masih mewarisi ilmu membuat mainan-mainan ini. Kebanyakan dari pengrajin yang tersisa saat ini adalah kaum jompo. Hanya ada satu pemuda yang bisa membuat mainan tradisional. Penyebabnya adalah para kaum tua tidak ingin keturunannya menjadi pengrajin mainan karena penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Orang tua lebih memilih anaknya menjadi pegawai atau pekerjaan lain yang lebih menjanjikan dan prospektif.  Atraksi Wisata

Kampung dolanan memiliki atraksi wisata yang sangat menarik dan tidak biasa. Saat anda memasuki kawasan ini akan disambut oleh patung-patung jerami yang memakai baju tradisional di sepanjang jalan. Begitu pula dengan beberapa patung yang terbuat dari kerajinan anyaman bambu. Saat anda datang seperti memasuki dalam desa mainan yang membawa anda pada keceriaan anak-anak. Pengunjung kampung dolanan akan diajak membuat mainan tradisional secara langsung dengan si ahli. Sesepuh-sespuh masih sangat lihat membuat pola dan bimsalabim jadilah mainan yang unik dan menyenangkan. Anda akan diajak berkeliling desa mengunjungi rumah pembuat satu per satu sesuai dengan keahlian dari pembuat mainan. Berikut adalah nama-nama mainan yang dapat anda buat.

  1. Wayang Kertas
  2. Kitiran
  3. Othok-othok
  4. Manukan
  5. Geprekan
  6. Gamelan
    7. Menari, dll

Eksistensi Dolanan

Permainan yang ada di internet, gadget, playstation memang lebih menarik bagia anak-anank dibandingkan sebuah permainan tradisional yang daya tahan mainannya tidak terlalulama.Namun, keuletan tangan simbah-simbah di dusun dalam memproduksi sebuah permainan patut diacungi jempol.Di usianya yang lebih dari 80 tahun, masih kuat untuk membuat pola dalam permainan tradisional.

Seiring dengan perkembangan jaman, jumlah simbah yang memproduksi dolanan pun semakin sedikit.Awalnya hampir semua masyarakat dusun ini memproduksi dolanan hingga kini hanya 4 yang tersisa. Mbah Karto, Mbah Joyo, Mbah Sis dan Mbah Atemo sebagai pelestari buda dalam permainan dolanan.

“yaaa…kalau saya sudah tidak ada. ya sudah tidak ada lagi yang meneruskan. Anak-anak sekarang sudah pada merantau dan berbeda”, ungkap mbah Joyo saat ditemui di bilik bambunya.

Hal ini pun diungkapkan oleh Mas Bimo, salah satu komunitas PojokBudaya.Pada dasarnya, memproduksi sebuah dolanan bukan menjadi salah satu pilihan bagi generasi sekarang disebabkan karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Membuat dolanan memang bukan menjadi sebuah pilihan mata pencaharian di era ini, namun ini dapat diakali dengan membuat re-design dari dolanan itu sendiri.

Ketua komunitas Pojok Budaya, yang juga Lurah Desa Panggungharjo, Sewon Bantul, Wahyudi menceritakan, sekitar abad ke-18 datang seorang perempuan keturunan Majapahit bernama Nyai Sompok datang ke dusun Pendes.

Seperti diketahui rakyat Kerajaaan Majapahit terkenal dengan kemampuannya membuat kerajinan tangan. Seperti itulah Nyai Sompok mengisi hari-harinya di Dusun Pendes, yakni membuat kerajinan berupa dolanan anak.

“Nyai Sompok mengajarkan warga cara membuat berbagai dolanan. Selain untuk mengisi waktu luang juga menambah penghasilan keluarga. Dari situlah warga di sini mulai membuat dolanan anak sampai saat ini,” tutur Wahyudi, saat ditemui

UPAYA KAMPUNG DOLANAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELESTARIAN MAINAN TRADISIONAL
Melihat kondisi saat ini dimana arus informasi dan globalisasi datang dan tidak
bisa dibendung, padahal arus informasi dan globalisasi tersebut turut membawa budaya-
budaya luar yang belum tentu kebaikannya, padahal kondisi generasi muda saat ini tidak
begitu banyak tahu tentang budaya aslinya. Hal ini jika terus dibiarkan tanpa memberikan
solusi penawarnya maka akan mengakibatkan terkikisnya budaya asli yang sudah ada
sejak dahulu.
Dalam penulisan ini upaya mempunyai makna segala kegiatan
yang dilakukan dengan sepenuh hati untuk melestarikan mainan tradisional
di Dusun Pandes.
Dalam hal ini upaya yang dimaksud adalah
suatu proses yang dilakukan oleh Kampung Dolanan Pandes,
dalam jangka waktu lama untuk
melestarikan budaya lokal yang berupa pembuatan mainan tradisional di Dusun Pandes Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta

Uniknya Dolanan

Angkrek, othok-othok, wayang kertas, payung, kitiran, kandangan, klontongan  dan kepat merupakan dolanan khas yang dihasilkan di desa ini. Angkrek adalah sebuah permainan yang dibentuk dari pola kertas, dimana keunikannya kaki dan tangannya dapat digerakkan secara bersamaan.Hebatnya lagi, wayang kulit dan angkrek buatan dari dusun Pandes tidak digambar terlebih dahulu baru digunting.Namun, simbah-simbahmemotongnya langsung dengan mudahnya.Pewarnaan dalam permainan ini juga masih menggunakan pewarna tradisional, semacam seperti pewarna pakaian yang kita sebut teres. Kemudian simbah-simbah melukiskannya di atas kertas tersebut.

Begitu halnya dengan pola pada permainan kitiran, kepat (payung), kandangan dan klontongan yang dibuat dari bambu.Tangan-tangan simbah ini mampu memilih mana bambu yang cocok dan bagaimana membentuknya menjadi menarik.Oleh karena itu, tidak salah jika tradisi ini sudah turun-temurun.

Produksi dolanan di desa ini tidaklah semat-mata hanya untuk mata pencaharian para simbah-simbahpada jaman dahulu.Walaupun secara fisik hanyalah sebuah permainan, ternyata dibalik dari sebuah dolanan banyak makna yang ingin disampaikan.

“Dalam permainan sebuah ada yang disebut multiple intelligent  atau kecerdasan majemuk, yang terdiri atas kecerdasan irama, kinestetis dan rasa, atau dalam bahasa jawanya wiromo, wirosodan wirogo”, ungkap Pak Wahyudi.

Salah satu dolanan anak buatan Dusun Pendes yang terkenal yakni “wayang kertas”. Yang unik mainan ini adalah setiap karakter wayang kertas dibuat tanpa pola. Jadi lembaran kertas langsung dipotong dengan menggunakan gunting hingga membentuk karakter tokoh wayang seperti yang diinginkan.

Kemampuan itu diturunkan sejak jaman nenek moyang. “Meski tanpa pola, hasilnya ya hampir sama dengan wayang kulit. Seluruh tokoh pewayangan bisa mereka buat tanpa pola,” ucap Wahyudi.

Sekitar tahun 1960-an, pada setiap Lebaran atau perhelatan besar di kota lain, warga Dusun Pendes bersama-sama menjual mainan anak. Mereka berangkat beramai-ramai naik truk. Tujuan mereka biasanya Magelang, Temanggung, dan paling jauh Kebumen.

“Bareng-bareng satu kampung. Di sana bisa satu minggu bahkan sampai dua minggu, ya tidur di kota itu, kalau mainan sudah terjual habis baru pulang,” kata dia.

Ketika itu penghasilan dari berjualan mainan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun kini kondisinya sudah berbeda.

Seiring masuknya mainan-mainan dari luar negeri ke Indonesia, penjualan mainan tradisional, tak terkecuali dari Dusun Pendes, menurun drastis. Kondisi ini berimbas pada menurunnya jumlah pembuat dolanan anak di kampung itu. Banyak yang beralih profesi, menjadi petani atau buruh.

“Sekarang tinggal enam orang, dulu hampir semua warga di sini membuat dolanan,” kata Wahyudi.

Pada Festival Dolanan Anak, para pengunjung bisa berkeliling kampung dolanan untuk melihat proses pembuatan mainan tersebut dan memainkannya. “Ada 20 jenis dolanan anak di sini. Pengunjung juga bisa belajar membuat dolanan anak. Selain melestarikan juga untuk membuka kembali memori masa kecil atau istilahnya kangen-kangenan,” pungkasnya.

Penasaran ingin bermain mengingat-ingat saat kita kecil? Serta mau bersama-sama melestarikan dolanan ini sendiri. Yukk langsung saja ke Kampung Dolanan, banyak hal yang menarik disana !

Produk mainan anak tradisional, banyak diproduksi di padukuhan ini. Produk yang masih memiliki daya tarik bagi anak-anak zaman ini, antara lain : mobil-mobilan dari kayu, pecut, gamelan kecil, jaranan, othok-othok, kluntungan, wayang kertas, angkrek, kithiran, payung megar mingkup, kurungan manuk dan kipas. Produk mainan anak-anak yang sudah sangat terdesak oleh produk mainan buatan pabrikan ini, diwariskan oleh generasi terdahulu pada anak-anaknya yang sekarang umumnya sudah berusia tua.

Wiyarjo Utomo alias Rubinem (72) yang ditemui di rumahnya Kamis (6/3) mengatakan bahwa; ia sudah sejak kecil membuat dan menjajakan mainan anak-anak ini. Sekarang saya masih membuat payung, wayang, angkrek dan kithiran. Dari semua yang membuat kerajinan ini, tinggal saya yang masih menjual langsung ke beberapa tempat di kota Yogyakarta dan Bantul. Dua sampai tiga kali dalam seminggu ia berkeliling dan bisa laku 5 buah untuk masing-masing produk dengan harga satuan Rp. 1.500 � 2.000.

Menurut Bimo salah seorang generasi muda Pandes sebagai penggiat budaya tradisional setempat, menjelaskan pada bantulbiz.com bahwa dari banyak perajinan dolanan anak-anak di pedukuhannya, kini tinggal 8 orang yang masih terus berproduksi. Mereka yang berproduksi : Joyo Sumarto, Wardi, Suradi, Atmo Wijono, Wiyar, Rejo, Buang dan Madi. Untuk melestarikan produk bernuansa tradisional ini, Bimo dan teman-temannya mempromosikan Pandes sebagai lokasi wisata minat khusus.

Sudah banyak juga yang datang ke lokasi wisata minat khusus ini. Sasaran peminatnya adalah siswa TK dan SD. Di sini mereka dapat bermain dan belajar membuat aneka produk tersebut. Ketika berkunjung ke rumah Joyo Sumarto alias Kasilah (83), dijelaskan bahwa ia hanya membuat dan tidak menjajakan langsung. Semua produknya adalah pesanan para pengepul atau dibeli langsung pengepul di rumahnya. Kasilah membuat othok2, kithiran, kluntungan, payung dan kurungan manuk.

Saat bantulbiz mampir ke rumah Suradi (64) yang pensiunan PNS itu, ia menjelaskan bahwa wayang yang dibuatnya bersama isteri dan salah satu anaknya, hanya digambar pada satu sisinya saja. Sisi yang lain dibiarkan polos agar dapat digambar dan diwarnai anak-anak sesuai gambar pada sisi satunya. Saya hanya ikut melestarikan budaya dan bukan ansih berorientasi bisnis. Walaupun demikian menurut Suradi, wayang kartonnya pernah juga dibeli dalam jumlah banyak oleh pembeli dari Jakarta dan Bogor.

Walaupun masih diminati banyak anak, namun yang menyedihkan menurut Bimo, karena mereka yang sekarang membuat umumnya sudah berusia lanjut. Sedang generasi penerus dari para orang tua ini, tidak ada yang tertarik untuk memproduksi produk yang sama. Hanya ada 1 orang generasi muda di Pandes yakni Nanang Supriyanto (27) yang mau menekuni usaha yang sama, walau sudah bekerja di pabrik rokok. ( Nura/Fernandez )

————————————————

Kampung Dolanan : d/a Pedukuhan Pandes, Desa Panggungharjo, Kec. Sewon, Kab. Bantul, DIY
Contact Person : Mas Bimo � 081 392 036 653

 

 

About omry