Komunitas Jendela (Revisi)

jendela-jogja-978x400

T. Milcha Francine & Amelia Rosary
144214001 & 144214024

“Buku ialah jendela dunia.”

 

Kata mutiara itulah yang ternyata telah berhasil menginspirasi para pendiri Komunitas Jendela untuk memilih sebuah nama bagi komunitas yang telah mereka bentuk. Kata mutiara itu memiliki sebuah arti yang mendalam di mana buku merupakan suatu celah yang dapat mengantar kita untuk dapat melihat seluruh penjuru dunia karena didalam sebuah buku terkandung banyak sekali pengetahuan yang dapat membuat wawasan kita bertambah luas. Komunitas Jendela mempunyai keinginan untuk menjadi sarana atau alat yang dapat membantu generasi penerus bangsa untuk tetap mencintai dan gemar membaca buku di tengah era modernisasi dan globalisasi sekarang ini. Sarana atau alat tersebut oleh para pendiri Komunitas Jendela diibaratkan sebagai sebuah jendela. Berbagai macam jenis gadget atau alat elektronik yang lain kini telah menjadikan masyarakat buta terhadap kegunaan buku. Mereka lebih senang memilih menggunakan berbagai macam alat elektronik yang memang memiliki keunggulan lebih banyak, yaitu dalam aspek visual dan audio-nya daripada dengan repot-repot membaca buku yang seringkali disertai dengan tulisannya yang berukuran kecil serta kertas yang digunakan tidak selalu berwarna putih sehingga menyebabkan orang malas membaca dan terkesan membosankan. Sebagian orang-orang juga berpikir bahwa membaca juga dapat dilakukan melalui ebook yang dengan mudah dapat diperoleh melalui internet tanpa harus keluar rumah untuk pergi ke toko buku yang belum tentu mempunyai persediaan buku yang akan kita cari. Selain itu, perbedaan harga sebuah buku yang ada di toko buku yang satu dengan toko buku lainnya menjadi salah faktor yang menyebabkan seseorang malas membaca.

Komunitas Jendela yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan cikal bakal pertama berdirinya Komunitas Jendela yang berada di kota-kota lain seperti Jakarta, Bandung, Malang, dan masih banyak lagi kota lainnya yang ada di negara Indonesia ini. Tanggal 12 Maret 2011 adalah tanggal di mana Komunitas Jendela resmi berdiri untuk pertama kalinya. Tiap tanggal 12 Maret, komunitas ini selalu merayakan hari jadinya dengan mengadakan beberapa acara yang dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Indonesia. Mereka juga sesekali mengadakan mobile library ke seluruh pelosok kota. Acara 365 Books for Indonesia atau acara pengumpulan 365 buku untuk Indonesia merupakan salah satu acara untuk memperingati hari jadi Komunitas Jendela. Buku-buku tersebut merupakan hasil sumbangan dari masyarakat luar negeri yang telah sejak lama menjadi koleksi Komunitas Jendela. Semua buku yang telah terkumpul untuk acara 365 Books for Indonesia atau 365 Buku untuk Indonesia tersebut disalurkan ke beberapa kota di Indonesia. Beberapa kota yang ada di Indonesia tersebut adalah Magelang, Banten, Bengkalis, Bima dan Halmahera.

Lantas bagaimanakah dengan pendiri komunitas ini? Siapa sajakah yang telah menjadi pendiri Komunitas Jendela? Para pendiri Komunitas Jendela pertama kali bertemu di seleksi Indonesia Mengajar untuk kawasan Magelang yang saat itu sedang mengalami musibah akibat terjadinya erupsi Gunung Merapi.  Para relawan tersebut berkumpul untuk memberikan trauma healing atau memberikan penghiburan terhadap korban-korban bencana yang ada di sana. Seiring berjalannya waktu, mereka semakin kerap bertemu satu sama lain sehingga hal tersebut membuat mereka semakin mengenal serta menjadi akrab satu dengan yang lainnya. Setelah saling mengenal untuk beberapa waktu lamanya, akhirnya diketahuilah bahwa mereka memiliki satu misi dan harapan yang sama. Sekumpulan pemuda dan pemudi yang menjadi relawan ini ingin melakukan suatu hal yang dapat berguna untuk masyarakat terutama untuk anak-anak. Hal inilah yang mendasari terbentuknya sebuah komunitas yang diberi nama Komunitas Jendela. Komunitas Jendela ini berfokus pada pendidikan alternatif untuk anak melalui sebuah perpustakaan. Komunitas Jendela ini ada untuk membentuk kemandirian belajar dalam hidup anak-anak. Komunitas Jendela tidak hanya membantu anak-anak zaman sekarang ini mengembangkan kemandirian mereka, tetapi mereka juga mengajak para pemuda dan pemudi Indonesia untuk membentuk kemampuan kepemimpinan mereka melalui pelayanan terhadap anak-anak. Pelayanan yang diberikan oleh pemuda dan pemudi Indonesia dapat berupa pelatihan dalam hal kerajinan tangan, berbagi pengetahuan, pemberian penghiburan dengan berbagai macam jenis kegiatan yang menarik untuk anak-anak. Tujuan Komunitas Jendela yakni untuk membangkitkan kembali minat baca warga Indonesia yang kita ketahui semakin lama sudah semakin menurun bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi anak-anak yang akan menjadi generasi penerus bangsa di masa mendatang.

Jendelist-20124

Jendelist 2012

Komunitas Jendela ini mempunyai visi dan misi. Visi utama Komunitas Jendela ini sendiri adalah menjadi komunitas yang memiliki jiwa muda dan fokus untuk berkarya dan juga memberikan beberapa kontribusi yang positif untuk yang bergerak pada bidang pendidikan anak. Selain visi, Komunitas Jendela juga mempunyai tiga misi penting. Misi Komunitas Jendela yang pertama adalah membentuk sikap mandiri pada diri anak-anak dengan cara mengajak anak-anak untuk membiasakan dirinya membaca buku. Komunitas Jendela adalah sebuah komunitas yang bergerak pada bidang pendidikan, lebih tepatnya bidang pendidikan alternatif. Jadi, misi kedua komunitas ini adalah membentuk perpustakaan yang digunakan sebagai pusat kegiatan pembelajaran. Misi ketiga atau misi terakhir yang dibentuk oleh Komunitas Jendela ini adalah memberikan pengetahuan kepada anak-anak tanpa harus mengeluarkan biaya sedikitpun. Pengetahuan yang dimaksud oleh Komunitas Jendela ini adalah pengetahuan yang diberikan melalui kegiatan non formal. Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk mengasah serta mengembangkan kreativitas yang ada di dalam diri setiap anak. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi untuk mengasah kreativitas yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap anak, tetapi kegiatan ini juga dapat melatih serta mengembangkan kemampuan motorik anak.

Komunitas Jendela terdiri dari empat angkatan. Beberapa anggota dari angkatan-angkatan tersebut banyak memberikan kontribusi yang bertujuan untuk memajukan komunitas Jendela. Pada angkatan pertama, Komunitas Jendela belum banyak melakukan acara karena pada angkatan ini Komunitas Jendela baru dalam tahap membentuk komunitas dan juga membentuk sebuah perpustakaan. Pada angkatan ini, Komunitas Jendela hanya dipimpin oleh seorang koordinator serta dibantu oleh sekretaris yang berjumlah 3 orang. Disini, Komunitas Jendela baru mencari relawan, mengumpulkan berbagai macam koleksi buku yang berasal dari hasil donasi atau sumbangan. Perpustakaan yang mereka bentuk terletak di Shelter Gondang 1 Merapi. Para jendelist angkatan pertama ini bekerja sama dengan komunitas di Kaliadem dan juga Sampoerna Foundation untuk membuat beberapa kegiatan di 5 titik shelter di sekitar Merapi. Setelah kerja sama dengan Sampoerna Foundation berhenti, hal ini tidak lantas menghentikan kegiatan Komunitas Jendela untuk memberikan pengetahuan melalui beberapa perpustakaan yang telah mereka dirikan sebelumnya. Kegiatan mengelola perpustakaan yang para anggota angkatan pertama Komunitas Jendela dirikian ini tetap berlanjut terus hingga ke angkatan berikutnya. Pada angkatan kedua hingga angkatan keempat, sistem kepengurusan yang digunakan masih tetap sama dengan angkatan sebelumnya. Para anggota angkatan ini masih meneruskan program kerja yang telah dilaksanakan oleh angkatan sebelumnya. Banyak program baru yang dibentuk oleh anggota Komunitas Jendela dari angkatan kedua hingga angkatan keempat. 

Sistem kepengurusan yang dibentuk oleh Komunitas Jendela sendiri tidak begitu rumit. Strukturnya sistem kepengurusan yang ada pada Komunitas Jendela ini tetap sama seperti struktur sistem kepengurusan yang dapat dijumpai pada komunitas yang lainnya. Mulai tanggal 8 Oktober 2013, kepengurusan dalam Komunitas Jendela yang berada di kota Yogyakarta mengalami pembaharuan. Dari sistem kepengurusan yang dulunya hanya terdiri dari seorang koordinator dan juga beberapa orang sekretaris, kini sistem kepengurusan dalam Komunitas Jendela ini sudah terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara. Komunitas Jendela juga memiliki beberapa divisi seperti divisi program, divisi media dan publikasi, divisi kerja sama, divisi volunteer. Dalam tahun 2015, kepengurusan pada Komunitas Jendela ini mengalami pergantian. Pergantian kepengurusan ini tentu saja memiliki sebuah tujuan. Tujuan tersebut adalah agar setiap anggota komunitas dapat memperoleh kesempatan dan pengalaman yang sama untuk memimpin serta memajukan komunitas yang ia pimpin tersebut. Ketua Komunitas Jendela periode sekarang ini adalah Arif Muhammad Ammar, namun meskipun demikian, Ammar tidak bekerja sendiri dalam mengelola komunitas ini. Ada Madiah Ana sebagai sekretaris, Nurul Hidayah sebagai bendahara, Agustin Rahmawati dalam divisi program, Mentari Kusumowardhani dalam divisi media dan publikasi, Yelladys dalam divisi kerja sama, Lugina Qolbi Janari dalam divisi volunteer, dan juga anggota relawan yang secara berkala mengadakan acara-acara positif seperti Book Corner, Mobile Library, dan lain sebagainya. Setiap Jumat pukul 16.00 juga diadakan pertemuan atau rapat antara pengurus inti dan para anggota relawan di BSP UGM. BSP UGM sendiri telah resmi dijadikan sebagai basecamp kedua oleh pengurus Komunitas Jendela. Anggota relawan dalam Komunitas Jendela biasanya terdiri dari mereka yang baru bergabung dengan komunitas ini setelah panitia inti terbentuk. Anggota relawan ini juga dapat menjadi pengurus inti jika ada pergantian kepengurusan di Komunitas Jendela pada periode berikutnya. Anggota dari Komunitas Jendela sendiri memiliki sebuah panggilan atau sebuah sebutan yang sangat unik. Sebutan atau panggilan tersebut adalah Jendelist. Nama panggilan itu diciptakan agar tiap anggota Komunitas Jendela dapat merasakan suasana persatuan dan keterikatan antar anggota di dalam komunitas yang sama sehingga solidaritas antar anggota akan semakin terasa kental dan intim meski mereka berasal dari berbagai daerah yang berbeda.

Screenshot_2015-04-06-17-32-34

Arif Muhammad Ammar, ketua Komunitas Jendela periode 2015

Bagaimana komunitas ini dapat memperoleh buku-buku untuk menambah serta melengkapi koleksi mereka? Komunitas Jendela bekerja sama dengan warga masyarakat serta dengan beberapa koneksi yang telah mereka punya. Biasanya warga masyarakat memberikan berbagai macam buku cerita anak, buku ketrampilan, dan juga berbagai macam buku yang berkaitan dengan bidang usaha kepada Komunitas Jendela. Kebanyakan koneksi Komunitas Jendela menyumbangkan buku-buku bekas, namun ada pula koneksi lain yang menyumbangkan baju-baju bekas yang kemudian akan dijual dan uangnya digunakan untuk membeli buku sebagai tambahan koleksi buku diKomunitas Jendela. Buku-buku yang disediakan oleh Komunitas Jendela adalah macam buku yang bersifat edukatif terapan. Buku bacaan anak-anak, buku tentang pengetahuan pertanian, kerajinan tangan, dan fiksi merupakan contoh-contoh buku yang disediakan di Komunitas Jendela. Macam buku fiksi di sini bukan merupakan novel remaja atau pun novel dewasa melainkan dongeng atau legenda untuk anak-anak karena pada dasarnya Komunitas Jendela ini merupakan suatu komunitas yang bergerak pada bidang pendidikan. Mereka memiliki anggapan bahwa bacaan seperti novel teenlit yang mengusung cerita yang terjadi dalam dunia remaja atau pun novel dewasa kurang bersifat edukatif dalam penerapannya. Di dalam novel kebanyakan, kita hanya mendapatkan cerita mengenai percintaan yang kurang atau bahkan tidak terfokus sama sekali dalam bidang pendidikan dan juga dapat mempengaruhi pikiran anak yang belum cukup umur jika anak tersebut membacanya. Selain memiliki misi, komunitas ini juga memiliki cita-cita untuk mempertajam minat baca masyarakat yang semakin lama semakin menurun. Konteks yang dimaksud di sini adalah membaca untuk menambah pengetahuan dan bukan hanya untuk sekadar hiburan.

Komunitas Jendela ini menerima donasi atau sumbangan bagi masyarakat yang mempunyai keinginan untuk berbagi dengan sesama. Donasi atau sumbangan yang diberikan ini dapat berupa uang atau buku. Komunitas Jendela tidak menentukan jumlah buku minimal yang harus didonasikan. Pengiriman buku ke beberapa daerah lain yang dilakukan oleh Komunitas Jendela melalui CSM tidak dikenakan biaya atau dengan kata lain, CSM memberikan sokongan dana dalam bentuk pelayanan, yaitu pengiriman kargo secara gratis yang kerap kali dilakukan oleh Komunitas Jendela.

Seperti kebanyakkan komunitas pada umumnya, Komunitas Jendela tentu saja memiliki harapan serta tujuan di dalamnya agar komunitas ini dapat beguna bagi masyarakat. Apa saja harapan dan tujuan dari komunitas tersebut? Seperti yang sudah sedikit disinggung tadi, Komunitas Jendela memiliki harapan agar generasi sekarang dapat menjadi lebih peduli terhadap buku dan yang lebih penting adalah agar generasi penerus bangsa sekarang ini dapat tergugah minatnya terhadap berbagai macam jenis buku yang berada dalam bidang pendidikan agar pengetahuan mereka bertambah melalui buku yang telah mereka baca. Sadar bahwa mereka memiliki cita-cita dan tujuan yang cukup sulit untuk direalisasikan, Komunitas Jendela kerap kali membuat berbagai cara yang unik dan menarik. Seperti apakah contohnya? Mereka memberikan kontribusinya melalui sebuah pameran edukasi pada bulan Maret lalu yang diadakan di JEC dengan mendirikan stan khusus yang diberi nama “Pojok Bacaan”. Di dalam stan ini, buku-buku yang ditampilkan tidaklah untuk  dijual melainkan hanya untuk direntalkan atau untuk dibaca di tempat saja. Stan ini juga menjadi tempat istirahat pengunjung yang lelah dan ingin beristirahat sejenak. Kegiatan ini memiliki tujuan yang bukan lain adalah untuk memasyarakatkan kembali buku yang sudah mulai dilupakan oleh masyarakat kebanyakan.

14257211013201-1024x1024

Komunitas Jendela ini juga mengadakan berbagai macam acara di desa-desa binaan yang mereka ampu. Acara tersebut adalah acara yang berupa kegiatan praktek seperti membuat prakarya dari plastisin, stik es krim, origami, dan lain-lain. Selain untuk menambah pengetahuan anak-anak yang tinggal di desa tersebut, kegiatan ini juga bertujuan untuk menghibur. Jadi, dapat dikatakan kegiatan ini merupakan aktivitas bermain yang dilakukan sambil belajar. Mereka memanfaatkan buku-buku panduan untuk membuat prakarya dalam hal ini. Pada setiap acara yang mereka adakan, mereka selalu berusaha untuk dapat membawa buku-buku yang menarik dan tidak membosankan sehingga dapat menambah rasa keingintahuan dari masyarakat. Mereka kerap pula mengganti cover buku-buku yang mereka punya dengan gambar yang lebih menarik sehingga masyarakat tertarik untuk mengambil dan membaca buku tersebut.

Gambar-3

Komunitas Jendela, sebuah komunitas yang cerdas dan luar biasa perkembangannya dari waktu ke waktu. Ia memiliki tujuan yang sangat baik , yaitu untuk memasyarakatkan kembali buku di tengah era globalisasi dan modernisasi yang saat ini sedang kita alami. Mereka berusaha untuk dapat menggugah kembali minat baca masyarakat Indonesia melalui berbagai cara yang menarik.

Referensi

Data-data diperoleh melalui wawancara dengan ketua Komunitas Jendela, Arif Muhammad Ammar.

Site Map Komunitas Jendela

UntitledJalan Pengok Kidul nomor 32 RT 024 RW 007 Baciro, Yogyakarta

Website
http://komunitasjendela.org/

milchafrancine@gmail.com'

About MilchaFrancine