Javanese Deis

Sastro Sukamiskin

Gunungan-Blumbang

Saat memutuskan untuk merayakan lebaran pertama di rumah orang tuanya, sebetulnya tak ada agenda istimewa bagi Adrian sekeluarga. Jarak rumahnya dengan rumah orang tua yang hanya 30 kilometer, menjadikan pulang kampung sekeluarga merupakan acara tetap bulanan. Hari itupun Adrian merasa sama sekali tak ada firasat kalau akan bertemu Vero. Meski demikian, tak dapat dipungkiri Adrian merasa sangat beruntung dapat kembali menatap wajah lembut yang dulu begitu dekat di hatinya. Sekolahnya yang satu SMA dan rumahnya yang lumayan dekat, meski beda kalurahan, menjadikan keduanya dulu sering ubyang-ubyung, baik di Mudika maupun di OSIS. Meski tak pernah resmi pacaran, hubungan keduanya tak cukup untuk hanya dibilang sahabat. Ada rasa saling ketertambatan yang begitu hangat diantara keduanya, meski tak pernah terucap.
“Wah masih tetep cantik kamu Ro” gurau Adrian sambil erat menyalami.
“Ngawur kamu Yan, ndumeh sekarang sudah jadi orang kota, terus ngenyekan” sahut Vero sembari senyum “Ini mudik atau hanya sowan bapak ibu?”
“Cuma sungkem kok. Nanti sore pulang, ndak ada yang nunggu rumah” jawab Adrian. Hampir saja meluncur pertanyaan tentang siapa suami dan berapa anaknya, tapi ditahannya. Adrian merasa kurang enak menanyakan hal-hal pribadi.
“Kapan-kapan mainlah ke rumah… biar anak-anakku tahu kalau bundanya punya teman sukses yang sekolah sampai Amerika…” sahut Vero sambil senyum “penuh makna”.
“Wah mbales nih, tapi bolehlah, masih di samping gereja itu kan?” jawab Adrian sekenanya. Tapi jujur, Adrian memang senang memperoleh undangan Vero “besok minggu, habis misa, tapi dimasake yang enak lho”
Sepulang dari rumah orang tuanya, Adrian menjadi tidak dapat berpikir dengan tenang. Wajah Vero semakin sering muncul di benaknya, meski hanya sekilas. Berbagai perasaan yang pernah hinggap 20 tahun lalu, kembali bersemi. Terbayang lagi di lubuk Adrian betapa hangatnya saat-saat mereka bersama, melewati hari demi hari dengan senyum keceriaan. Adrian pun masih jelas teringat betapa mereka berdua juga terkadang bertengkar. Tapi tak kan pernah kemarahan dapat tahan lebih dari satu hari. Selalu saja hari berikutnya mereka sudah kembali berboncengan ke sekolah dan bercanda.
Tak sabar rasanya Adrian menunggu datangnya hari Minggu. Kerinduan untuk kembali bertemu dengan Vero begitu menggumpal di hati Adrian. Ketika hari itu tiba, Adrian pagi-pagi sekali sudah bersiap. Dia berpamit dengan istrinya kalau ada keperluan dengan orang tuanya di kampung. Meski demikian, sengaja Adrian pagi itu tidak lewat jalan depan orang tuanya. Dia langsung menuju gereja. Bagai tak dapat menahan kesabaran, sejak masuk ke gereja mata Adrian langsung mencari-cari dimana gerangan Vero duduk. “Mungkin ikut misa Sabtu Sore” mulut Adrian mendesis ketika tak juga menemukan apa yang dicarinya. Tak dapat dipungkiri, ada perasaan hampa yang menyembul. Banyaknya teman lama yang menyapa dan bersalaman, tetap saja tak mampu menghilangkan kerisauannya.

Bertamu

Meski dipenuhi keraguan, akhirnya Adrian memarkirkan mobilnya di halaman. Sekilas perasaan malu dan takut hinggap, “Masihkah Vero di sini?” Dengan memberanikan diri, Adrian mengetuk pintu rumah Vero. Sejenak hatinya terkejut ketika melihat gadis usia SMA yang membukakan pintu Wajahnya mirip sekali dengan Vero. “Anak bu Vero ya? Bundamu ada dik?” sapa Adrian mencoba bersikap ramah. “Ada kok Om, silakan duduk dulu…” jawabnya.
Tak lama setelah Adrian duduk, Vero datang diikuti anaknya dengan membawa dua gelas air teh dan sepiring snack. “Ini anakku yang terbesar Yan, namanya Wikan, kelas III SMA, besok titip ya, pinginnya sih ke fisika” Adrian hanya senyum sembari menanti gadis itu selesai menyajikan hidangan. “Ehm, pisang goreng” batin Adrian saat melirik ke piring hidangan. Vero tahu betul makanan kesukaannya. Sekilas muncul perasaan tersanjung di hati Adrian saat mengetahui Vero masih ingat dirinya, meski sudah lebih 20 tahun tak bertemu.
“Aku tadi cari-cari kamu di gereja, kok tidak ada?” tanya Adrian setelah anak Vero berlalu.
“Wah masih tetep jadi tukang ngabsen Yan, aku sudah sepuluh tahun lebih tak pernah ke gereja” jawab Vero. Bagai halilintar di siang bolong, hati Adrian kaget setengah mati. Dia sama sekali tak menduga kalau Vero akan mengemukakan jawaban seperti itu, apalagi dengan ekspresi seakan tak ada yang salah. Veronika Kartini yang dikenalnya rajin ke gereja dan aktivis mudika yang sangat militan, yang tanah keluarganya direlakan untuk bangunan gereja Stasi, tak pernah lagi ke gereja?!! “Bagaimana mungkin? Mengapa?” desak Adrian tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
Dengan senyum dan kelembutannya yang tetap seperti dulu, Vero mempersilahkan Adrian untuk minum. “Tak ada apa-apa Yan, diminum dulu, nanti keburu dingin” Sejenak kemudian Vero melanjutkan, ”Kami baik-baik saja, tak ada yang perlu dirisaukan”
“Baik-baik gimana, tak pernah ke gereja kok baik-baik saja?” Adrian penasaran. Sekilas dia teringat artikel pertobatan seorang dosen yang termuat pada buletin Warta Kampus yang disimpannya di laci mobil. “Sebentar ya…” sahut Adrian bergegas menuju mobil yang diparkirkan di halaman. Bagai seorang missionaris yang mengharapkan terjadinya mukjizat pertobatan, disodorkannya artikel itu pada Vero. Seperti anak kecil yang memperoleh mainan, Vero segera tenggelam dengan bacaannya. Adrian yang merasa tak ada kesibukan, matanya segera mengamati sekeliling ruang tamu. “Tak banyak berubah…hanya tak lagi ada gambar kristik Yesus Berdoa di Taman yang dulu tertempel di tembok, salibnya juga hilang. Sekarang sama sekali tak ada hiasan, hanya tembok bercat cream dan jam dinding murahan.” Adrian membatin. Saat pandangnya sampai ke bufet, patung keramik Maria yang mereka beli ketika berdua ke Sendangsono juga sudah ndak ada. Bufet itu kini terisi dengan buku dan majalah. Jantung Adrian berdetak keras ketika pandangnya bertumpu dengan benda kecil di pojok bufet, mainan berbentuk gamelan yang terbuat dari gerabah. Benda itu saksi ketika mereka berdua melewati malam bulan purnama di panggung theatre terbuka Prambanan, menyaksikan sendratari Ramayana.
“Sudah selesai Ro?” tanya Adrian yang merasa gerah oleh senyapnya suasana.
“Belum.” jawab Vero singkat, tak mau meninggalkan bacaannya.
Adrian melihat betapa serius Vero membaca, bagai anak SD pelosok yang tak pernah mendapat bahan bacaan. “Meski bias ketuaan mulai muncul, tapi burat-burat keanggunannya masih tampak begitu jelas di wajah” batin Adrian.
Tiba-tiba Vero beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk. Adrian masih ingin melamun ketika Vero menyodorinya buku bersampul hijau yang berjudul Devil and The Concept of God. “Nih buku dari pada bengong. Baca pendahuluannya saja…” pinta Vero sambil melanjutkan baca artikel Warta Kampus. Adrianpun segera tenggelam dengan bacaan filsafatnya. Kata demi kata dicermatinya. Dengan tegas penulisnya menyatakan bahwa konsep Tuhan sebagai maha kuasa dan maha baik mengandung kesalahan mendasar. Kalau maha baik, Tuhan pasti menghendaki semua hal dalam keadaan baik yang tertinggi. Kalau tidak demikian, maka tidak dapat disebut maha baik. Sejajar dengan itu, kalau maha kuasa, Tuhan tentu memiliki kemampuan untuk mengubah segala sesuatu sesuai kehendakNya. Dengan demikian, kalau Tuhan maha baik dan maha kuasa, seharusnya dunia ini dipenuhi dengan kebaikan yang tertinggi. Apabila masih banyak penderitaan dan kemalangan, berarti Tuhan tidak maha kuasa atau tidak maha baik. Seandainya maha baik, pasti tidak maha kuasa. Sebaliknya kalau maha kuasa, pasti Tuhan tidak maha baik.
“Tuhan tetap maha kuasa dan maha baik. Dengan kemahakuasaan dan kemahabaikanNya, Dia memutuskan untuk tidak menggunakan itu. Semua dilakukanNya demi umat yang namanya manusia. Tidak digunakan bukan berarti tidak ada Ro” sanggah Adrian meski belum selesai membaca.
“Betul!” sahut Vero, “Artinya sebagai manusia yang diberi kekuasaan dan kebebasan, kita tidak dapat berharap agar Tuhan menggunakan kekuatan dan kemahakuasaNya untuk mengubah penderitaan dan kemalangan, apalagi memintanya dengan doa-doa” lanjutnya seakan hapal isi buku itu luar kepala.
“Ya tidak begitu. Kalau pintuNya diketuk, Tuhan pasti akan membukakan” jawab Adrian mengutip Injil.
“Ada dua kelemahan Yan dari statemenmu. Pertama, berarti Tuhan tidak maha baik, karena harus menunggu pintunya diketuk. Kedua, ratusan juta orang Indonesia sudah mengetuk pintuNya, tapi tetap saja penderitaan terjadi. Mungkin Tuhan tuli, bebal atau memang tidak mau mengurusi semesta” Bagai terkunci mulutnya, Adrian tak lagi dapat melanjutkan perdebatan. Otaknya tak dapat bekerja cemerlang, mungkin karena berbagai keterkejutannya terhadap perubahan hidup yang terjadi dalam diri Vero.
“Menurutmu bagaimana?” Adrian balik bertanya dengan bersungut.
“Sebentar Yan, tak baik lho emosi. Masih ingat kalau kita diskusi dulu aku yang sering emosi? Kamu selalu katakan “gunakan otak, gunakan otak”. Minum lagi ya… biar tidak emosional” kata Vero sambil menuangkan teh ke gelas Adrian yang sudah kosong. Ada perasaan khas dalam diri Adrian, sehingga ndak bisa marah, meski kata-kata tadi menohoknya.
“Terima kasih, kamu masih perhatian terhadap kekatolikanku. Aku juga menghargai sharing pengalaman religius temanmu lewat majalah ini” Vero menatap Adrian dengan lembut sambil memegang Warta Kampus. “Secara pribadi aku sangat simpati dengan pengalaman religius penulis. Diantara kesibukannya sekolah S3, masih menyempatkan diri mencari Tuhan. Jarang lho orang Katolik yang seperti itu. Aku juga ikut senang, akhirnya beliau berhasil menemukan Tuhan dan merasakan kedamaianNya.” lanjut Vero bagai seorang murid teladan yang menunjukkan bahwa dia sudah menyelesaikan tugas dari guru untuk membaca artikel. Tiba-tiba, raut wajahnya berubah menjadi serius. “Tapi maaf, perhatianku bukan tentang kehidupan pribadi Yan. Keresahanku adalah tentang Indonesia, tentang bangsa kita.   Pertanyaan yang mengusikku adalah mengapa bangsa kita tidak maju, semakin lama kok malah semakin mundur. Bagaimana caranya agar negeri kita maju? Kalau jawabnya penegakan hukum, pemberantasan kkn atau mengundang investor asing, klasik Yan… sudah kuno. Ada yang lebih esensial dari pada semua itu, yaitu bangkitnya budaya asli. Kamu orang sejarah kan tahu bahwa bangsa Eropa dapat maju hanya lewat pengembangan budaya asli yang dikenal sebagai periode renaissance dan aufklarung. Begitu pula dengan Jepang yang dapat maju hanya oleh adanya restorasi tradisi asli yang dilakukan pada jaman Meiji. Tak ada bangsa dapat menjadi yang terdepan dengan berbaju budaya bangsa lain Yan. Indonesia sudah seharusnya juga melakukan renaissance. Kembali ke jiwa budaya aslinya”
“Kamu ingin katakan bahwa kamu tidak mau lagi jadi Katolik, karena bukan budaya asli. Hanya budaya asli yang akan mampu membawa Indonesia ke kemajuan, begitu?” sela Adrian mencoba memahami arah pembicaraan Vero
“Kurang lebih begitu” jawab Vero singkat.
Mendengar ketegasan jawaban Vero, dada Adrian bagai akan meledak dipenuhi rasa marah, kecewa, cinta dan jutaan perasaan campur aduk. Dia tidak rela Vero murtad dari Katolik. Dia tidak rela Vero menderita, apalagi kalau harus masuk neraka. Ingin rasanya Adrian memutar kembali roda waktu kembali ke 20 tahun lalu untuk melamar Vero jadi kekasihnya. Adrian berjanji akan menjaga agar hati Vero selalu senyum dalam kasih Jesus.
Dihelanya nafas panjang untuk meredakan kecamuk yang ada dihatinya. Meski masih terasa sesak, sedikit demi sedikit Adrian mencoba bersabar dan berusaha memahami masalah kemurtadan dari sudut pandang lain. “Bagaimana apabila jiwa Vero memang menghendaki murtad?” Meski hatinya berteriak “tak mungkin”, Adrian mencoba bersikap lebih rasional. Dicobanya melihat kemurtadan dari sudut keyakinan Vero. Sekilas muncul pertanyaan, “Benarkah Katolik bukan jalan terbaik bagi bangsa Indonesia untuk menuju ke puncak kejayaan?” “Tidak benar.” Sanggah batin Adrian sendiri sambil menunjukkan bukti “Jesus hadir untuk menyelamatkan dunia. Katolik ada karena hendak membangun Kerajaan Allah di dunia yang rusak ini. Artinya Katolik adalah jalan menuju puncak kejayaan.” “Puncak kejayaan seperti apakah yang diinginkan Gereja?” “Semua manusia di dunia ini hidup saling mengasihi dan memuliakan Tuhan melebihi segalanya.” Tak ada yang kurang apalagi salah dengan Katolik, tapi kenapa Vero murtad?
Sejenak pikiran Adrian melayang, mencoba mencari berbagai kemungkinan yang mampu melayakpantaskan kemurtadan Vero. “Apakah hidup dengan saling mengasihi dan memuliakan Tuhan itu yang ingin dicapai Indonesia?” “Bukan, tujuan bangsa Indonesia bukan itu. Para pendiri bangsa ini menetapkan adil makmur sebagai tujuan. Bahkan Soekarno bilang, kalau Pancasila diperas menjadi satu, hasilnya adalah gotong royong dan bukan pemuliaan Tuhan setinggi-tingginya” pikir Adrian, meski masih penuh keraguan.
“Vero benar, Katolik tidak akan pernah menjadi solusi bagi bangsa Indonesia. Ada perbedaan tujuan antar keduanya.” pikir Adrian mengambil kesimpulan. “Tapi kenapa harus kejawen yang dipakai solusi? Bukankah hanya kekalahan amat memalukan yang akan bangsa Indonesia terima kalau harus diadu dengan rasionalisme Yunani dan empirisme Romawi yang sekarang dikembangkan Eropa?” Hanya pekatnya kegelapan yang Adrian dapatkan ketika memikirkan religi asli bangsa Indonesia. Tak setitikpun pencerahan dapat ditemukannya, semuanya hanya keterbelakangan, kebodohan dan kehinaan.
Timbul kecurigaan di hati Adrian, “Mungkin otak Vero sudah diracuni oleh suaminya” Sekilas Adrian terbayang wajah seorang dukun membaca mantra sambil membakar kemenyan dengan sesaji kembang setaman. “Suaminya pasti seorang dukun. Vero pasti kena guna-guna” kecurigaan Adrian semakin tebal. Ditatapnya wajah Vero tajam-tajam. Seakan Adrian ingin masuk ke lubuk hati wanita yang selalu bersemayam di jiwanya ini dan segera menemukan jawaban atas beribu tanya yang menggelegak di dadanya.

Berkenalan dengan Kejawen

“Apakah artinya agar Indonesia maju, kita harus kembali ke jaman pra sejarah?” tanya Adrian tak dapat menyembunyikan gelegak hatinya. Dia ingin segera menunjukkan kesalah-jalanan Vero.
“Bukan begitu maksudku Yan. Ketika bangsa Eropa menyadari bahwa Kristen bukan solusi, mereka tidak memutar roda waktu untuk kembali ke kehidupan jaman Yunani Romawi. Mereka hanya mengambil jiwa dari budaya asli untuk dijadikan pedoman hidup ke depan. Begitu pula bangsa Jepang yang menggunakan jiwa budaya asli untuk memasuki jaman modern.” sanggah Vero dengan serius. Kemudian dia menjelaskan lebih lanjut “Budaya asli memang secara logika akan paling tampak pada periode sebelum Hindu masuk. Tapi bukan berarti kita harus memutar roda sejarah ke jaman itu”. Tampak sekali Vero tidak ingin setitikpun Adrian salah pemahaman, seperti yang banyak orang alami apabila membicarakan budaya asli.
“Ro, jiwa budaya asli kita ini animisme-dinamisme. Masak kita harus mengambil itu untuk hidup di abad 21 ini? Nggak lucu ah” jelas Adrian untuk menyadarkan Vero
“Wah kamu bener-bener seorang akademisi Yan, western texbook thinking” tangkis Vero, “Apa yang dilihat oleh orang Barat itu hanya satu titik dari keluasan aspek pandangan dunia bangsa Indonesia. Sebenarnya tugas kalianlah orang sejarah untuk menggali dan menemukannya, karena demikian juga yang terjadi dengan sejarawan Jepang dan Eropa pada jaman kebangkitan budaya asli”
Adrian hanya diam, meski dalam hatinya tidak rela Vero membalikkan situasi dengan mempersalahkannya. Melihat itu, Vero menimpali, “Aku tidak menyalahkanmu Yan, tapi memintamu… Istilah animisme-dinamisme itu sekedar cap orang Barat saja Yan. Mereka menggunakan kacamata Kristen, sehingga selalu memakai ukuran itu dalam melihat setiap realitas. Mereka bukan penghayat, jadi ndak memahami apa yang sebenarnya terjadi”
“Maksudmu, pengertian kami, kaum akademisi, selama ini tentang budaya asli Indonesia sebagai animisme-dinamisme itu salah?” tanya Adrian mulai tertarik.
“Bukan salah, tapi sangat jauh dari lengkap. Dengan hanya melihat orang Indonesia memberi sesaji di banyak tempat, orang Barat kemudian menyimpulkannya sebagai polytheis atau animisme-dinamisme. Penyimpulan itu berdasar pengertian mereka bahwa Kristen yang monotheis hanya mengenal satu tempat pemujaan, yaitu gereja dan satu pusat pujaan, yaitu Allah.”
Banyak hal yang tak dipahami dari penjelasan Vero, tapi Adrian harus bersabar, karena Wikan sudah datang dengan membawa hidangan makan siang.
“Wah bundamu hebat nduk, sampai-sampai otakku ndak bisa nangkep” sanjung Adrian dengan jujur.
“Ayo dimakan, ini tongseng kesukaanmu lho Yan.” sahut Vero sambil mengambil nasi. Seperti tak mau kehilangan moment, Vero melanjutkan ceramahnya tentang kejawen, “Begini lho Yan, entah disengaja atau tidak, pembicaraan tentang religi asli Indonesia, selalu mengalami distorsi yang sangat parah.” Vero berhenti sejenak untuk menelan nasinya.
Tiba-tiba, tanpa disadari oleh mereka berdua, di samping mereka telah berdiri seorang laki-laki. “Ehm, wah asyik sekali nampaknya…” katanya. Betapa terkejut Adrian dan Vero. Secara reflek mereka berdua menoleh ke arah asal suara.
“Kenalkan Yan ini mas Firman, suamiku” ucap Vero mengenalkan suaminya pada Adrian.
“Adrian, tapi panggil saja Yan” sahut Adrian mengulurkan jabat tangan setelah membersihkannya dengan tissue.
“Maaf, saya tidak dapat menyambut. Tadi pagi ada panggilan dari RSD, operasi caesar” jelas Firman memilih duduk di samping istrinya.
Meski dicoba bersikap tenang, tetap saja Adrian terkejut mendengar penjelasan Firman. Apa yang dibayangkannya semula tentang suami Vero sebagai dukun santet, ternyata meleset sangat jauh. Firman adalah seorang dokter, ahli kandungan lagi. Sekilas hati Adrian diliputi rasa bersalah. Untung Firman orangnya tampak ramah.
Sambil mengambil nasi, Firman mencoba nimbrung pembicaraan “Betul apa yang dikatakan Bundanya Wikan tadi, pembicaraan tentang budaya asli selalu saja mengalami banyak penyelewengan. Kami tidak menyalahkan siapa-siapa. Menurut hemat kami, sejarawan Indonesia lah yang seharusnya mengambil peran aktif, menjelaskan seperti apakah sebenarnya kebudayaan asli bangsa kita.”
“Wah aku dikerubut nih… tapi kuakui pencermatan kalian tentang sejarawan Indonesia benar. Perhatian kami memang tidak atau belum ke sana, paling tidak aku sendiri” sela Adrian tersenyum melihat kekompakan Vero dan suaminya, meski merasa terpojokkan. Vero dan Firman pun menanggapinya dengan senyum.
“Terus terang, kalau diminta bicara tentang budaya asli, sejarawan pada umumnya terbentur pada kurangnya data untuk jaman pra sejarah. Kalau Vero tadi tidak mau disebut animis, terus seperti apakah religi asli bangsa Indonesia?” tanya Adrian yang merasa benar-benar blank.
“Apa ndak terbalik. Seharusnya kamilah yang bertanya tentang jati diri asli bangsa Indonesia, karena hanya sejarawan yang memiliki otoritas bicara masalah itu.” Jawab Firman membalikkan arah pembicaraan agar Adrian yang menjelaskan.

Tuhan Sang Maha Sempurna

Akhirnya Vero mengambil alih, “Agar pembicaraan kita dalam frekuensi yang sama, marilah kita awali dengan konsep tentang Tuhan. Dalam gambaran orang Indonesia asli, Tuhan itu bukan roh penunggu pohon, batu atau hal-hal sejenis itu. Artinya bukan animisme dinamisme seperti diklasifikasikan oleh orang Barat selama ini. Secara singkat Tuhan itu dapat dilukiskan sebagai Sang maha sempurna dalam segala hal. Dengan kemahasempurnaanNya, Tuhan mencipta semesta ini dalam keadaan sangat sempurna.” Sesaat Vero diam menghela nafas.
Dengan kesangatsempurnaannya, semesta ini secara otomatis selalu melahirkan hal baru yang dibutuhkan dan menghilangkan hal yang tidak bermanfaat. Sebagai orang sejarah kamu pasti tahu cerita tentang bagaimana semesta menghilangkan dinosaurus dan sebangsanya sampai melahirkan spesies baru yang namanya homo sapien. Semua itu terjadi bukan berkat campur tangan Sang Sabda atau nabi, tetapi melalui mekanisme semesta. Belum pernah kan mendengar Tuhan menciptakan jaman es? Semua hal berjalan secara alamiah, sesuai dengan apa yang disebut sebagai HUKUM ALAM. Bahkan, kalau mampu memahami hukum alam, kapan kita akan mengalami kiamatpun dapat diprediksi seperti orang menghitung waktu untuk gerhana bulan dan matahari.” Vero mengakhiri ceramahnya sambil beranjak untuk membawa piring-piring yang kotor ke dalam.
“Maksudnya semua hal dapat dihitung dengan akal?” tanya Adrian yang mulai sedikit memahami alur pemikiran Vero dan Firman.
“Bukan begitu maksudnya. Tapi semesta ini dapat dipahami oleh seluruh kekuatan yang ada dalam diri manusia, pikiran dan perasaan. Apabila ada hal yang misterius, itu sekedar pemahaman kita saja yang belum sampai” jawab Firman
“Kalau semesta ini dapat berjalan sendiri, kemudian apa pekerjaan Tuhan setelah selesai masa penciptaan?“ tanya Adrian.
“Oleh karena semesta dapat berjalan sendiri dengan sangat sempurna, menyelesaikan sendiri segala masalah yang muncul, memenuhi sendiri semua kebutuhannya, maka Tuhan tak perlu campur tangan. Tuhan doing nothing atau wu wei kata orang Cina atau suwung awang uwung kata orang Jawa.” jelas Vero kembali bergabung dengan membawa segelas minum untuk suaminya dan tiga piring kecil kupasan mangga sebagai pencuci mulut.
“Terus.. fungsi Yesus, nabi dan kitab-kitabnya?” Sela Adrian tampak kebingungan.
“Kalau religi masyarakat gurun, tanya saja sama kyai atau romo. Mereka yang lebih tahu…” Vero berkelit.
“Begini lho Yan, kita harus membedakan religi asli dengan religi asing. Jangan dicampur aduk, nanti akan membingungkan” sambung Firman, “Sepanjang pengetahuan kami, masyarakat Timur Tengah memandang semesta ini sangat tidak sempurna dan menjadi tempat berkembangbiaknya kemaksiatan. Istilah jaman jahiliah di Islam atau dosa asal di Kristen secara tidak langsung menjelaskan bahwa dunia ini dipahami sebagai sumber kegelapan. Oleh karena itu, Tuhan kemudian mengirim mekanik dan memberi manual book untuk mereparasi dunia, agar roda dunia dapat kembali normal, yaitu berjalan sesuai dengan rencana Tuhan. Mekanik itu disebut nabi dan manual book nya dikenal sebagai kitab suci. Jiwa budaya seperti itu pula yang dibawa ke Eropa dan memberi inspirasi Santo Agustinus sampai melahirkan buku De Civitas Dei.” Sampai di sini Firman berhenti. Diteguknya air teh yang ada di depannya. Kemudian dia melanjutkan penjelasannya, “Tapi kita perlu hati hati memahaminya. Apa yang saya jelaskan tadi merupakan pendapat berdasar pengalaman batin khas masyarakat yang oleh bundanya Wikan disebut gurun tadi. Masyarakat India, Cina, Jepang, Eropa dan juga Indonesia pada umumnya memiliki pengalaman batin yang berbeda, sehingga tidak memunculkan tokoh berstatus nabi. Dengan kata lain, tokoh nabi hanya muncul pada masyarakat yang melihat dunia ini dengan negative perspective.”
Firman berhenti sejenak. Tangannya mengambil piring buah, sambil menawari Adrian “Dimakan lho buahnya… Nah orang Indonesia melihat semesta dengan sudut pandang yang sangat berbeda, lebih banyak positive thinkingnya. Dalam sejarah, tak pernah ada orang Indonesia mengklaim diri pernah ketemu Tuhan face to face dan memperoleh tugas untuk memperbaiki dunia. Mengapa? Pertama, karena   Tuhan tidak mencampuri urusan dunia. Artinya Tuhan tidak akan pernah menampakkan diriNya pada manusia, apalagi memberi perintah macem-macem. Kedua, masyarakat Indonesia asli tidak pernah menyombongkan diri sebagai makhluk spesial yang lebih mulia dari pada bagian semesta yang lain. Semua bagian dari semesta itu sama-sama penting. Ketiga, kesengsaraan dan penderitaan itu bukan disebabkan oleh dosa atau kurang berdoa, tetapi sekedar kekurangpahaman tentang HUKUM ALAM. Dengan demikian, kunci kesuksesan hidup bukan terletak pada kesucian batin, tapi bagaimana kita memeras akal budi untuk memahami hukum-hukum yang berlaku pada semesta. Mencermati kapan kemarau biasanya datang, kapan hujan mulai turun dan sebagainya. Melalui jalan itu kita dapat menemukan posisi yang paling tepat sekaligus peluang paling menguntungkan dalam sistem semesta. Hanya masyarakat yang memiliki ketertarikan intelektual tinggi terhadap semesta yang akan mampu bertahan dan mengembangkan diri di semesta ini.”
“Selain itu Yan…”sambung Vero, “Oleh karena mempercayai bahwa Tuhan tidak pernah campur tangan, orang Indonesia menjadi memahami setiap kebenaran sebagai selalu tergantung pada ruang dan waktu. Kebenaranku sangat mungkin berbeda dengan kebenaranmu. Itu hal yang biasa terjadi bagi bangsa Indonesia, tapi sangat luar biasa bagi religi masyarakat gurun. Semua dari mereka memiliki karakter dasar sama, bahwa kebenarannya diyakini sebagai kebenaran final”
“Tidak ada nabi, tidak ada kitab suci dan tidak ada kebenaran final. Artinya manusia hidup tanpa penuntun, tanpa pegangan dan tanpa cahaya. Hasilnya dapat diduga sebelumnya: dunia yang gelap gulita dan penuh kekacauan.” kritik Adrian dengan terus terang.
“Itu klaim yang selalu dipromosikan oleh penyebar religi gurun” tangkis Firman dengan nada meninggi. Tampak sekali perubahan di raut mukanya, bahwa Firman merasa tersinggung dengan kritik Adrian. Setelah diam sejenak untuk menguasai emosinya, Firman melanjutkan sanggahannya. “Klaim itu berlandas pada asumsi bahwa manusia hanya memiliki potensi untuk berbuat jahat. Manusia menurut asumsi itu tidak akan mampu berbuat baik tanpa bimbingan dan campur tangan kekuatan suci Illahi, baik berupa nabi, kitab maupun berkah dan hidayah. Pertanyaannya adalah apakah asumsi itu benar? Adrian pasti tahu bahwa jauh sebelum agama-agama asing datang ke negeri kita, manusia Indonesia telah banyak menorehkan kebaikan. Mereka menghormati orang tua dengan sangat tinggi. Bahkan penghormatan itu dilakukan sampai tiga tahun setelah orang tua meninggal. Dari mana datangnya kebaikan hidup mereka? Bukan dari nabi, kitab suci atau Tuhan Yan, tapi dari olah pikir dan olah rasa mereka sendiri.”
“Yang mas Firman ingin katakan adalah bahwa klaim itu kosong blong Yan, salah besar.” Sahut Vero membantu suaminya. “Justru tanpa adanya klaim kebenaran final yang disampaikan para nabi dan kitab suci, manusia menjadi terdorong untuk selalu mengolah akal budi demi meningkatkan harkat kebaikan. Saya yakin kamu tahu bahwa korupsi, nepotisme dan otoritarianisme justru jauh lebih subur di negara-negara agamis dari pada di negara-negara sekuler. Ini menunjukkan bahwa kebenaran final yang ada di agama justru menghambat kedinamisan manusia untuk mengembangkan kebudayaannya menuju ke kehidupan yang lebih baik”
“OK, aku sekarang paham bahwa menurut kalian berdua klaim itu sepenuhnya tidak benar, karena kesalahan dalam pengambilan asumsi” ujar Adrian untuk meredakan ketegangan yang begitu tampak di wajah Firman dan Vero. Dia kemudian mencoba mengembalikan pembicaraan ke religi asli, “Kalau Tuhan tidak mencampuri urusan dunia, seharusnya orang Indonesia tidak mengenal doa-doa dan ritual keagamaan. Kenapa upacara pemujaan juga dikenal di Indonesia?”
“Bagian inilah yang sering menimbulkan miss understanding dan miss interpretation. Masyarakat Indonesia memang mengenal banyak upacara ritual. Semenjak religi asing mendominasi panggung sejarah Indonesia, bahkan tinggal ritual-ritual itu yang dapat bertahan. Aspek-aspek kehidupan yang lainnya hilang tak berbekas, karena tidak sesuai dengan jiwa religi asing yang anti keduniawian. Unsur penting yang hilang itu terutama ketertarikan intelektual masyarakat Indonesia terhadap semesta dan perhatiannya yang besar terhadap hidup keduniawian. Akibatnya kita hanya dapat menemukan upacara ritual sebagai satu-satunya wajah religi asli Indonesia.” Firman menjelaskan dengan ekspresi kedukaan yang mendalam.
Tak tega melihat suaminya, Vero menyahut, “Tuhan tidak pernah minta dipuja, diberi sesaji atau disembelihkan hewan kurban Yan. Tuhan juga sedikitpun tidak akan terpengaruh oleh adanya puja-puji, persembahan atau apapun yang diperbuat manusia. Ritual yang dilakukan bangsa Indonesia bukan ditujukan pada Tuhan. Oleh karena itu tidaklah tepat kalau disebut pemujaan. Akan lebih pas kalau dikatakan sebagai syarat atau laku. Dalam pandangan masyarakat asli, semesta ini dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu alam kebendaan, alam kehidupan dan alam roh. Ritual terutama bertujuan agar harmoni antar ketiganya tetap terjaga. Itu pun hanya dilakukan pada waktu-waktu khusus, mungkin setahun sekali, tidak saban hari seperti yang terjadi pada agama samawi”
“Bagaimana dengan here-after life?” tanya Adrian tentang kehidupan setelah mati. Vero kembali menjelaskan ketika melihat sang suami sedang menikmati snacknya. “Kami sangat percaya akan kehidupan setelah mati, tapi bukan model reward and punishment dalam bentuk surga-neraka seperti diajarkan agama samawi. Dalam pandangan kami, kematian sekedar perpindahan dari alam makhluk hidup ini ke alam roh. Relasi antar dua dunia tersebut tetap tersambung. Selapan sekali kami nyekar ke makam leluhur untuk menghaturkan sungkem dan memohon restu bagi hidup kami, anak cucunya. Di rumahpun kami buat sesaji geblakan. Pernah kami lupa tak buat sesaji, esoknya kakek datang dan marah. Beliau katakan, yo uwis nek ora gelem ngakoni mbahmu (Ya sudah kalau ndak mau mengakui beliau sebagai kakek)” ujar Vero menutup sharingnya.
“Wah pasangan yang kompak dan hebat” Adrian dengan tulus memuji Vero dan Firman. Yang dipujipun hanya saling menebar senyum. “Sungguh beruntung aku hari ini main ke sini. Banyak hal baru aku peroleh. Terutama kamu Ro, 20 tahun ndak ketemu, sekarang sudah berubah 180 derajad. Kamu benar-benar telah menjelma menjadi manusia baru Ro. Aku benar-benar kagum” lanjut Adrian sembari melirik Firman.
Berkenalan dengan dokter Firman yang ahli kandungan menjadikan Adrian mau tidak mau sedikit banyak harus mulai mengarahkan pikirannya tentang religi asli, tentang kejawen dan penghayatnya. Konstruk pikirannya yang mengidentikan kejawen dengan kesan angker, santet, kemenyan, dukun atau hal-hal klenik sama sekali tak tergambar dalam diri Vero dan Firman. Semuanya normal, bahkan terkesan sangat rasional. “Lebih rasional dari masyarakat Indonesia pada umumnya” batin Adrian membandingkan wajah Vero saat masih muda dengan yang ada di depannya.
Dengan pelan tangan Adrian meraih laptop. Wajah Vero masih begitu lekat di benaknya. Pengalaman kemarin mengingatkannya akan sebuah episode dalam sejarah Eropa, Pencerahan. Pada masa itu muncul kaum Deis yang menggambarkan Tuhan sebagai penguasa awal dan akhir, Alpha dan Omega. Mereka memandang persis seperti yang Firman dan Vero jelaskan, bahwa Tuhan tidak campur tangan atas dunia. “Apakah Vero dan Firman Deis?” tanya Adrian dalam hati. “Tapi beda… beda sekali. Orang Eropa tidak percaya pada dunia roh, termasuk roh leluhur” pikir Adrian menyanggah. Tiba-tiba seperti tersentak, tangan Adrian dengan cepat menari di atas keyboard laptop dan menuliskan Javanese Deis sebagai judul. “Ya, mereka kaum Deis yang khas Indonesia” simpul Adrian bersemangat.

Sedayu, 22 November 2004

About Sastro Sukamiskin