Interpretasi sumber sejarah

Besarnya ketergantungan pada sumber yang “ditinggalkan” oleh peristiwa masa lampau, sejarah sangat berkepentingan untuk dapat menginterpretasinya secara tepat. Permasalahan yang dihadapi oleh ilmu sejarah adalah ketidakpunyaan alat untuk interpretasi sumber tersebut. Oleh karena itu, sejarah kemudian membangun jaringan keilmuan dengan ilmu-ilmu lain yang dipandang mampu membantu. Jaringan ini di kemudian hari dikenal sebagai metode interdipliner.

Dengan berbagai ilmu bantu yang digunakan oleh sejarah, akhirnya tahap interpretasi dapat dilakukan dengan tepat, dalam arti dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sampai saat ini, dalam ilmu sejarah paling tidak dikenal dua model interpretasi:

  1. Interpretasi dari dalam. Interpretasi model ini bermaksud menjelaskan tindakan historis dengan jalan mengungkap “apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh pelaku sejarah”.
  2. Interpretasi dari luar. Interpretasi model ini bermaksud menjelaskan tindakan historis dengan jalan menempatkannya pada “pola umum”.

 

A. Interpretasi dari dalam

Manusia adalah makhluk simbol dalam arti setiap aktivitasnya mengandung simbol-simbol. Sebagai contoh adalah pembelian handphone. Dari sudut teknologi, handphone adalah alat komunikasi. Akan tetapi, sebagai produk budaya, keberadaannya mengandung banyak makna seperti simbol kelas sosial, kelas ekonomi dan bahkan ideologis.

Dengan menempatkan manusia makhluk simbol, setiap fakta yang ditemukan oleh sejarawan pada saat pengumpulan sumber merupakan simbol yang kaya makna. Seluruh makna bersifat subyektif, yaitu hanya bagi diri pemiliknya. Kasus handphone di atas, barangkali bagi orang tertentu dipandang sebagai alat untuk menaikkan gengsi, tetapi bagi orang lain dipahami sebagai bentuk pengkhianatan terhadap penderitaan bangsa Indonesia.

Usaha menempatkan setiap sumber sejarah sebagai simbol subyektif pelaku mendorong sejarawan melakukan eksplorasi dengan menggunakan metode yang telah dikembangkan ilmu bahasa. Sejarawan sudah cukup lama menggunakan metode bahasa dalam menginterpretasi sumber sejarah, terutama semantik dan hermenetika.

Semantik adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk arti kata. Untuk menentukan arti kata, cara yang termudah adalah dengan membuka kamus atau ensiklopedi. Meskipun demikian, perlu dicermati bahwa kata-kata yang terdapat pada sumber sejarah sangat mungkin dewasa ini sudah mengalami pergeseran atau perkembangan makna. Sebagai contoh adalah kata /talenta/ yang pada jaman Yesus memiliki arti sebagai satuan mata uang. Di kalangan umat Katolik Indonesia dewasa ini /talenta/ diartikan sebagai bakat. Contoh lain adalah kata /perempuan/ yang pada jaman pergerakan dipandang lebih halus dari pada /wanita/, tetapi sekarang telah berubah menjadi dianggap lebih kasar. Pergeseran tersebut tidak dapat dilepaskan dari dominasi kebudayaan Jawa dalam politik bahasa selama Indonesia merdeka.

Apabila semantik berkait dengan makna kata, hermenutika mempelajari makna ungkapan. Metode ini pada awalnya berkembang di kalangan pemimpin agama Kristen/Katholik dalam mempelajari kitab suci. Pertanyaan, “apa maksud Tuhan?”; “apa maksud Yesus?” membawa para teolog untuk mengeksplorasi lingkungan kehidupan atau kebudayaan di saat lahirnya ayat yang sedang dikaji. Dari sudut pandang ini, hermeneutika mengantar peneliti untuk menginterpretasi tidak hanya dari segi tekstual (isi teks), tetapi juga kontekstual (kondisi budaya yang melahirkan).

Sebagai contoh adalah prasasti yang ditemukan di daerah Kedukan Bukit, Palembang:

(1) Dapunta Hyang manalap siddhayatra dengan perahu pada 11 paro terang, bulan waisaka, tahun 604 Caka.
(2) Pada tanggal 7 paro terang, bulan Jyestha, Dapunta Hyang berangkat dari Minanga membawa dua laksa tentara dan 200 kosa perbekalan dengan perahu, serta 1312 orang tentara berjalan di darat, datang di ma….
(3) Pada tanggal 5 paro terang bulan Asadha dengan suka cita mereka datang ke suatu tempat dan membangun wanua. Kerajaan Sriwijaya memperoleh kemenangan, perjalanannya berhasil dan seluruh negeri memperoleh kemakmuran.

Bahasa teks asli yang digunakan adalah Melayu kuno, sehingga banyak kata yang saat ini sudah tidak digunakan lagi, seperti kosa untuk peti dan wanua untuk kota. Selain itu, untuk menginterpretasi teks tersebut dibutuhkan pemahaman lokasi geografis. Hampir seluruh nama tempat yang disebut pada teks telah berganti, seperti Minanga yang oleh para arkheolog dimaknai sebagai Minangkabau.

Selain harus mempertimbangkan bahasa dan geografis sejaman, pemaknaan juga harus memperhitungkan tentang siapa pihak yang mengeluarkan teks dan untuk tujuan apa teks tersebut diproduksi. Dengan kata lain, pemaknaan sebuah teks akan dapat dilakukan hanya apabila “meleburkan diri” dengan konteksnya. Sebagai contoh adalah dalam rangka memahami keputusan Mataram untuk menyerang Batavia, sejarawan harus mampu “menjadi” Sultan Agung.

Hermeneutika dewasa ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Apabila pada mala lalu perhatiannya hanya pada memaknai bahasa yang digunakan pada teks sebagai alat manusia dalam menyusun dan mengungkapkan pemikiran serta perasaan, dewasa ini berbagai penelitian hermeneutika telah menemukan bahwa pembaca menjadi subyek yang sangat penting dalam memaknai teks.

komentar

About Sastro Sukamiskin