Inland Navigation in Southeast Kalimantan: A Historical Study of Water Transportation In The Nineteenth Century

Oleh Bambang Subiyakto

The main aim of this writing is to study the water transportation system of inland navigation in Southeast Kalimantan in the nineteenth century as seen from the historical perspective. It is hoped that the study will be able to reconstruct the process of the past history of Southeast Kalimantan and concomitantly enrich the corpus of literature in Indonesian history in general.

This research concerns with the water transportation system in Southeast Kalimantan and it was conducted through documentary study and library research by collecting data on inland navigation of the region in the nineteenth century. Written sources were mainly obtained from the National Archives of the Republic of Indonesia and from a number of libraries in Jakarta and Yogyakarta. As befitting a historical research, the process of examining the sources becomes an important part and the use of theoretical and conceptual framework is adjusted to the research topic and materials obtained. The main problem to be resolved in this research is, among other things, related to an attempt to account for the interrelationship between the process of transportation development and the sociaI and economic development of the community of the inland navigation areas in Southeast Kalimantan.

woonbooten-langs-de-soengei-kween-te-bandjermasin-circa-1899

One of the important aspects highlighted in this research is the status and the role of trade between the areas around the upper reaches of the river and those at the estuary which are important for the economy of Southeast Kalimantan. Research finding reveals that the water transportation system is the most significant supporting factor in the development of the economy as well as the community in the area. Inland navigation has proved to be the backbone of trading activities, between the hinterland and the areas at the estuary. At the same time it also integrates the community’s sociaI and political life; it also affects the sociocultural aspects and demography in the hinterland of Southeast Kalimantan in the nineteenth century. The research also reveals the importance of water transportation for the traditional community within the process of the social economic history of the region. This also shows that rivers have played an important role in the development of local history in Indonesia in accord with its geographical and ecological conditions such as those of Southeast Kalimantan.

One related aspect that reveals are concerned with technology development of the means for water transportation from the past to the nineteenth century and early twentieth century. Besides, the study aims at describing the development of communication and transportation in accordance with the technology prevailing at those times. However due to the limitation of available sources, other aspects concerning explanation of the problems have not been fully presented, so that there is a need for further research. It is hoped that this writing will open up new areas for research on the social and economic history of Southeast Kalimantan in the future.

 

Pengantar

Informasi historis, yang sampai kepada kita mengenai daerah Kalimantan Tenggara pada abad XIX, melalui berbagai sumbernya secara jelas mengisyaratkan pelayaran sungai sebagai suatu cara perhubungan dan pengangkutan yang sangat diandalkan penduduknya. Hubungan antar tempat atau kontak antar penduduk di sana hanya dapat berlangsung dan dilaksanakan melalui cara melayari jalur-jalur air (waterways) seperti sungai, terusan, danau sebagai daerah perairan perdalaman (inland waters), serta pantai dan selat sempit sebagai daerah perairan pantai (coastal waters). Kelima bentuk jalur air itu merupakan unsur perairan sebagai bagian seutuhnya dari keadaan geografi fisik Kalimantan Tenggara. Unsur perairan tersebut dalam fungsinya memberikan kemungkinan luas bagi penduduk setempat untuk secara mudah menyelenggarakan pelayaran sungai dan perdagangan.

Berbagai jenis sarana angkutan air pada saat itu menunjukkan kemampuannya melayari jalur-jalur air yang tersedia sampai ke tempat-tempat tujuan yang jauh menuju pusat-pusat produksi untuk ekspor dan konsumen bagi komoditas impor di pedalaman. Melalui pelayaran sungai, komoditas diangkut ke daerah muara, begitu pun sebaliknya, komoditas impor diangkut menuju daerah hulu untuk dipasarkan. Melalui penyelenggaraan pengangkutan sungai itulah perekonomian di daerah Kalimantan Tenggara dipadukan antara pedalaman dan muara, serta selanjutnya terintegrasi ke tingkat yang lebih luas dalam proses perdagangan regional dan internasional.

Pelayaran sungai mengandung pengertian sebagai upaya manusia menyelenggarakan pengangkutan di wilayah perairan yang bersifat lokal, tidak melampaui batas laut. Pengangkutan (transportasi) adalah pemindahan fisik, baik barang maupun orang, dari suatu tempat ke tempat lain. Alternatif transportasi melalui perairan salah satunya ialah pelayaran sungai. Penduduk Kalimantan Tenggara dalam kaitan itu, memilih cara termudah dalam mengupayakan pengangkutan, yaitu memanfaatkan fasilitas yang disediakan alam berupa perairan yang terdapat di sekitar lingkungan mereka sebagai jalur lalu lintasnya dan kayu hutan untuk membuat bangunan alat pengangkutannya.

Pada dasarnya, yang ingin dicapai penelitian ini ialah upaya pengungkapan yang deskriptif analitis terhadap sektor pelayaran sungai dari sudut kajian sejarah. Kalangan sejarawan dan geograf acapkali menyatakan bahwa pelayaran sungai pada masa dahulu merupakan hal penting bagi berlangsungnya kegiatan perekonomian suatu masyarakat. Beberapa penulis sejarah Indonesia, khususnya mengenai sejarah daerah Kalimantan Tenggara, mengemukakan bahwa penduduk di daerah itu sejak lama aktif dalam proses perdagangan, baik dalam hubungan perdagangan regional maupun internasional.

Dalam kaitan di atas, maka penelitian ini sangat menarik untuk mengungkapkan bagaimanakah kedudukan dan peran pelayaran sungai di daerah Kalimantan Tenggara pada abad XIX. Lebih jauh penelitian ini memberikan penjelasan dan bahasan lebih jauh terhadap mengapa pelayaran sungai di sana, memiliki sifat melandasi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Faktor apa yang menyebabkan pelayaran sungai di daerah itu terselenggara dan dominan dalam hal transportasi ketika itu. Bagaimanakah gambaran sebenamya keterkaitan yang erat, timbal balik, antara pelayaran sungai dan perdagangan?

Mengingat pelayaran sungai terkait erat dengan masalah geografi dan ekonomi, maka beberapa konsep dan teori digunakan dan dipinjam terutama dari kedua disiplin itu. Meskipun demikian, penelitian ini selalu berpegang pada prinsip uraian geografi dan ekonomi bersifat sejarah, bukan yang sebaliknya. Dengan demikian, penelitian ini tidak mengaburkan arti tujuan semula, yaitu mengungkapkan sektor pelayaran sungai dari sudut kajian sejarah. Teori dan konsep dari keduanya digunakan sebagai kerangka pemikiran untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pelayaran sungai di masa lalu. Melalui cara ini, sejarah pelayaran sungai di daerah Kalimantan Tenggara, dalam arti, menjelaskan kedudukan dan perannya dalam dinamika kehidupan masyarakatnya pada masa lalu, dapat lebih dipahami. Secara garis besar, hubungan manusia dengan lingkungan fisiknya berkaitan erat dengan bidang’geografi dan upaya-upaya pemenuhan kebutuhan hidup (mata pencaharian) penduduk setempat berkaitan dengan bidang ekonomi. Oleh sebab itu, melalui pendekatan dari keduanya itu kiranya penelitian ini relevan guna mengungkapkan pe:layaran sungai Kalimantan Tenggara pada abad XIX.

Cara Penelitian

Dokumen dan karya tulis perjalanan merupakan bahan utama yang digunakan. Serangkaian kegiatan pokok penelitian, dimulai dengan mengumpulkan bahan-bahan itu, mempelajarinya secara kritis dan melaksanakan perseleksian. Data yang diperoleh dianalisis sampai mencapai tingkat kesimpulan, berupa faktor-faktor yang dapat dihubungkan satu sama lain untuk membentuk rangkaian penulisan sejarah pelayaran sungai Kalimantan Tenggara pada abad XIX. Di samping itu, digunakan pula bahan pendukung berupa karya tulis bermuatan pengetahuan teoretis dan konseptual, atau karya metodologis.

Teori dan konsep penting digunakan dalam melengkapi penulisan penelitian sesuai dengan yang dituntut oleh disiplin sejarah untuk kerangka pemikiran. Sesuai dengan tuntutan itu, maka teori dan konsep yang relevan terutama akan dipinjam dari disiplin ekonomi dan geografi. Rangkaian kerja itu; dengan demikian, telah memenuhi tahapan-tahapan cara kerja penelitian sejarah yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Hasil dan Pembahasan

Menjelang akhir abad XVIII, Belanda mulai melirik dan berhasrat menguasai daerah-daerah luar Jawa, terutama di bagian Timur. Salah satu daerah yang cukup menonjol kala itu ialah Kesultanan Banjarmasin. Melalui proses bertahap dalam hubungannya dengan Kesultanan itu, Belanda berhasil mengambil alih dan menguasai daerah demi daerah Kesultanan itu. Tahun 1787 merupakan saat keberhasilan Belanda memiliki kewenangan terhadap seluruh wilayah Kesultanan Banjarmasin karena pada waktu itu Sultan beserta para pembesar dan raja-raja bawahannya, sepakat menyerahkan daerah kekuasaannya kepada pemerintah Hindia Belanda. Dalam perkembangannya, Belanda membentuk dan menjadikan daeran itu sebagai daerah Zuid-en Oosterafdeeling van Borneo di bawah pimpinan seorang residen yang berkedudukan di Banjarmasin. Pada tahun 1860, Kesultanan Banjarmasin, yang pada waktu itu sengaja dipertahankan keberadaannya oleh Gubernur Jenderal dengan daerah sangat terbatas, oleh pemerintahan Hindia Belanda dihapuskan.s

Daerah yang disebut Zuid-en Oosterafdeeling van Borneo itulah kemudian diadopsi menjadi wilayah (spasial) penelitian itu dengan sebutan Kalimantan Tenggara. Kira-kira luasnya 400.000 kilometer persegi, dengan keadaan geografi sebagai daerah yang memiliki wilayah perairan seperti sungai, terusan, danau, pantal, dan selat yang banyak dan mudah dilayari serta memiliki hutan tropis yang menyimpan banyak jenis kayu yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan berbagai jenis perahu. Daerah ini pula yang sejak lama (Kesultanan Banjarmasin) aktif dalam perdagangan dunia dan banyak menerima kontak dengan berbagai bangsa yang berdagang kepadanya. Pendek kata, hidup dalam pergauJan dengan berbagai bangsa di Asia dari Barat sampai Timur, Selatan, dan Tenggara, dan dengan berbagai bangsa berasal dari Eropa.

Guna memantapkan posisinya di daerah Kalimantan Tenggara, tim ekpedisi dan eksplorasi silih berganti dikirimkan untuk memasuki dan menjelajahi daerah itu oleh pihak pemerintah Hindia Belanda. Hasilnya:

  1. Daerah yang semula masih gelap itu temyata menyimpan potensi yang cukup besar seperti batubara, kayu, minyak bumi, dan biji besi;
  2. Dalam rangka pembinaan teritorial, Kalimantan Tenggara memiliki wilayah perairan yang hampir seluruhnya dapat dilayari sehingga masyarakatnya terbiasa dengan sistem pengangkutan sungai;
  3. bahwa selain penduduk asli seperti Banjar dan Dayak, terdapat berbagai suku bangsa dari luar yang mengadakan kontak maupun menetap menjadi penduduk di sana, dan
  4. konsentrasi populasi pada umumnya berada di sepanjang tepi jalur-jalur air dan sebagian penduduk memiliki bakat berdagang.

Pada tahun 1847 dibentuk dan ditugaskan tim Komisi Ilmu Alam melakukan penyelidikan daerah aliran Sungal Barito. Isi laporannya yang terpenting mendata lebih dati 45 sungai bermuara ke Sungal Barito dan 146 perkampungan berada di sepanjang tepi kiri dan kanan sungai itu.

Sebagian besar penduduknya bertani dan mencari hasil hutan yang bekerja pergi dan pulang menggunakan perahu. Sebagian penduduk lagi melintasi hilir mudik di atas sungai dalam rangka berdagang dan mengangkut berbagai jenis komoditas. Dua sungai terpenting yang bermuara ke sungai yang sangat lebar itu ialah sungai Martapura dan Negara. Keduanya merupakan sungai besar yang paling menonjol dalam kesibukan lalu lintas pengangkutan sungalnya. Sungai Martapura adalah sungai yang membelah ibukota, Banjarmasin, dalam dua bagian.

Berdasarkan hasil laporan ltu pula, diketahui bahwa sungai Barito memiliki kekuatan hidrodinamika yang besar yang mempengaruhi lingkungan perairan di sekitarnya dalam wilayah yang gangat luas. Kesimpulan utama laporan itu ialah merekomendasikan kepada pihak pemerintah bahwa kapal-kapal uap berbadan besar dapat melayari sungai itu sampai batas cukup jauh ke pedalaman. Mengetahui secara mendalam mengenai perairan adalah sangat penting bagi pemerintah Keresidenan Kalimantan Tenggara dalam rangka pembinaan teritorialnya serta guna mengoptimalkan upaya-upaya Belanda menggali potensi alamnya.

Upaya-upaya penyelidikan tidak berhenti hanya sampai tugas tim tahun 1847 itu selesai. Banyak upaya serupa untuk berbagai tujuan dan kepentingan pemerintah Hindia Belanda dan Keilmuan. Upaya penyelidikan setidaknya terus berlangsung sampai tahun 1925 ketika sebuah tim dibentuk untuk melaksanakan penyelidikan di daerah Tengah sebelah Timur daerah Keresidenan Kalimantan Tenggara. Yang penting dari penyelidikan-penyelidikan itu ialah laporan mengenai keadaan geografi dan perekonomian yang dapat dikaitkan secara erat dengan proses penyelenggaraan lalu lintas pelayaran sungai di daerah Kalimantan Tenggara.

Lingkungan fisik yang penting ialah mengenai keadaan perairan di daerah Kalimantan Tenggara. Tidak saja sebagaimana telah dilaporkan tim penyelidikan tahun 1847; juga melaui laporan perjalanan (penyelidikan) sesudahnya, seperti oleh E.R. Van Boevel (1851), J.G.A. Galloin (1655) H.G. Maks (1861), Bangert (1860), Carl Bock (1667), dan A.W. Nieuwenhuis (1894-1900); menggambarkan bahwa perairan di daerah Kalimantan Tenggara itu berfungsi sebagai jalur-jalur air tempat perahu pengangkutan dioperasikan di atasnya. Berbagai komoditas untuk ekspor dari hasil pertanian, hutan, pertambangan, dan industri kerajinan; keseluruhannya diangkut dengan perahu-perahu sungai ke hilir, ke pangkalan-pangkalan perahu (pasar) berada, atau diserahkan kepada perahu-perahu agak besar milik para pedagang Banjar dan Cina, misalnya, yang menanti di persimpangan-persimpangan sungai.

Sebaliknya, komoditas impor seperti garam, tembakau, kain, beras, hasil kerajinan dan sebagainya diangkut dengan cara yang sama. Dalam gambaran seperti itu, maka tampaknya sudah sejak lama perairan, dalam hal ini pelayaran sungai, di daerah itu berfungsi integratif bagi kegiatan ekonomi masyarakatnya secara internal dan lebih luas bersifat eksternal. Bermula dari aktivitas pengangkutan di atas jalur-jalur air itu, perkembangan dan pembangunan di daerah itu dimulai. Dapat juga dikatakan bahwa masyarakat di daerah itu adalah masyarakat yang sungai “oriented”, ataupun masyarakat yang berkebudayaan sungai (river culture) sebagaimana dikemukakan M. Idwar Saleh. Untuk itu perlu pengkajian lebih jauh lagi.

Untuk mendapatkan gambaran jenis komoditas untuk ekspor dan impor, ditampilkan dalam tabel 1 sd 4. Tabel l dan tabel 2 menampilkan jenis komoditas ekspor dan impor daerah Banjarmasin pada tahun 1855 berikut pajak yang dikenakan terhadap masing-masing komoditas ketika itu. Tabel 3 dan 4 menampilkan jenis komoditas daerah Kalimantan Tenggara di sebelah Barat, daerah Kotawaringin, pada tahun 1844, yang mencakup jumlah masing-masing komoditas dan harga pada waktu itu.

Pelayaran tabel 1Pelayaran tabel 2

Pelayaran tabel 3Tabel berikut (tabel 5) memberikan gambaran perbedaan harga beberapa jenis komoditas untuk ekspor, yang dijual antara pedagang Banjar dan Dayak kepada pihak lain. Selisih harga itu merupakan nilai keuntungan yang diperoleh pedagang-pedagang Banjar. Dengan kata lain, selisih harga itu merupakan perbedaan harga antara harga jual di daerah pedalaman dan di daerah hilir atau selisih antara harga beli dan jual yang dilakukan oleh para pedagang Banjar setelah komoditas perdalaman itu mereka angkut dengan perahu ke daerah hilir atau pusat kota.

Pelayaran tabel 5
Jenis komoditas pedalaman itu pada giliran berikutnya diangkut dengan kapal-kapal laut untuk dipasarkan ke luar daerah Kalimantan Tenggara. Dalam proses yang demikian itu, maka perekonomian daerah itu dipadukan ke tingkat lebih luas secara regional dan intemasional. Melalui sistem pengangkutan sungai dan laut, barang-barang perdagangan Kalimantan Tenggara diperkenalkan kepada dunia luar.

Kesimpulan

Lingkungan fisik Kalimantan Tenggara memberikan kemudahan bagi penduduknya dengan menyediakan fasilitas alam berupa jalur-jalur air sepetti sungai, terusan, danau, pantai, dan selat yang dapat dilayari. Pada abad XIX, di daerah Kalimantan Tenggara belum terdapat jalan yang berarti sehingga merupakan satu-satunya cara perhubungan dan pengangkutan bagi masyarakatnya ialah dengan menyelenggarakan pelayaran sungai.

Alam Kalimantan Tenggara memiliki hutan tropis yang tidak saja menjadi sumber penghasil komoditas untuk ekspor, juga banyak menyediakan jenis kayu yang digunakan oleh penduduknya sebagai bahan membuat bangunan perahu. Kontak dengan pihak luac yang menjalankan perdagangan ke daerah Kalimantan Tenggara pada masa itu merupakan faktor pendorong pula bagi terselenggaranya pelayaran sungai di daerah itu. Para pedagang dad luar berdatangan membeli barang-barang lokal yang mereka butuhkan untuk dipasarkan ke luar, sebaliknya, mereka telah membawa barang-barang perdagangan dari luar untuk dijual kepada perahu-perahu penjaja yang membawanya masuk melalui jalur-jalur air.

Pelayaran sungai dan perdagangan merupakan bentuk kegiatan saling menunjang satu sarna lain. Perdagangan dapat secara lancar berlangsung karena adanya aktivitas pelajaran sungai. Sebaliknya, pelayaran sungai diselenggarakan sebagai respon terhadap adanya perdagangan.

CATATAN KAKI

¹Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian perairan dan pemanfaatan untuk kepentingan transportasi 1.B.MitchelI, Historical Geography,(London: The English Universities Press Limited, 1960), hal. 312-323; Elsworth Huntington, Principles of Human Geography, edisi VI, (New York: John Wiley & Son, Inc., 1956). haL 280, 287, dan hal. 292-293; Wiwohci Soedjono, Pengangkutan Laut dalam Hubungannya Dengan Wawasan Nusantara, Oakarta: Bina Aksara, 1983), hal. 12-24 dan 61 dan S. Tato Pandoyo, Wawasan Nusantara dan Perkembangannya, (Yogyakarta: liberty, 1984), hal. 2-9 dan 14-15. Lihat juga Terrirotiale Zee en Maritieme Kringen 1919 (Staadsblad No. 39-442/1939); UU No. 4/Perp/1960 terutama pasal 1 ayat 3 dan PP No. 6/1962 penjelmaan pasal 1.

2 Di antara banyak karya memuat informasi mengenai perdagangan Banjarmasin, periksa W. F. Wertheim, Indonesia Society in Transition, (Bandung: Sumur Bandung, 1956), hal. 45-47 dan 114-116; Van Leur, Indonesian Trade and Society, (Bandung: Sumur Bandung, 1960), hal. 106-114, 176 dan 183 dan HW. Dick, The Indonesian Interisland Shipping Industry, (Pasir Panjang: Institute of Southeast Asian Studies, 1987), hal. 10-18. Juga, Goh Yoon Fong, “Trade and Politics in Banjarmasin, Tesis Doktor pada University of London, 1969, hal. 152-204.

3 Periksa buku Surat-surat Perjanjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan Pemerintah-Pemerintah VDe, Bataafse Republik, Inggris dan Hindia Belanda, 1635-1860. (Jakarta: ANRI, 1%5), hal. 79-135.

4 ANRI bundel BZO No. 260

5 Planvoor Expeditie Naar Midden_Oost-Borneo, (Weltevreden: Indisch Comitee voor Wetenshappelijke Onderzoekingen, 1925)

6 M. Idwar Saleh, Sekilas Mengenai Daerah Bimjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai dengan Akhir Abad 19, (Banjarbaru: Museum Negeri Lambung Mangkurat, 1984), haL 2-3.

DAFTAR PUSTAKA
ANRI Bundel, 1947, BZO, No. 260, Perjalanan Eksploitasi Sungai Barito.

Bangert, “Verslag der Reis in de Binnenwaarts Gelegene Streeken van DoeSDen llir”, dalam TBG bag. IX, 1860, Batavia: Lange & Co., 1860.

Bock, Carl. 1887, Reis In Oosten Zuid – Borneo van Kutai naar Banjarmasin, Ondemomen op Last der Indische Regeering in 1879 en 1880. ‘s-Gravenhange: Martinus Nijhoff.

Dick, H.W. 1967, The Indonesian Interisland Shipping Industry, An Analysis of Competition and Regulation. Pasir Panjang: Institute of Southeast Asian Studies.

Gob, Yoon Fong. “Trade and Politics in Banjarmasin. 1700-1747” .1969, Tesis Doktor pada University of London. London.

Galliois, J.G.A. “Korte Aanleekeningen gehouden gedurende eene Reis Langs de Oostkust van Borneo, Verrigt op Last van Het Nederlandsch-Indie Gouvernemen!” dalam BKI jilid 4 No. 122 (221-263), 1855, ‘sGravenhage: KFuhri.

Hoevell, D.W.R. “Opmerkingen en Aanteekeningen gehouden op eene Reis op de River van Banjarmassin”, dalam TNI jilid 2 (2-27),1851, Zalt-Bommel: Joh. Noman en Zoon.

Huntington, Elsworth, 1956, Principles of Human Geography, edisi VI, revisi oleh Earl B. Shaw. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Leur, J.e. Van, 1960, Indonesian Trade and Society, Essay in Asian Social and Economic History. Bandung: Sumur Bandung.

Maks, H.G. “Reis naar Kapoeas en Kahajan in de Zuider-en Ooslerafdeeling van Borneo”, dalam TBG bagian X (466-558),1861, Batavia: Lange & Co,

M. Idwar Saleh, 1984, Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai dengan Akhir Abad 19. Banjarbaru: Museum Negeri Lambung Mangkurat.

Mitchell, J.B., 1%0, Historical Geography. London: The English Universities Press Limited.

Nieuwenhuis,AW. ,1994, Di Pedalaman Borneo; Perjalanan dari Pontianak ke Samarinda. Jakarta: Gramedia.

Pijnappel. “Beschriving vanhet Westelijke Gedeelte van Zuid-en Oosterafdeeling van Borneo”, dalarn BKI bag. 3, 1960, Amsterdam: Frederik Muller Plan vaor eene Expeditie Naar Midden-Oost-Borneo. Weltevreden: Indisch Comite voor Wetenschappleijke Onderzoekin 1925.

Surat-surat Perdjanjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan Pemerintah-Pemerintah VOC, Bataavse Republik, Inggris dan Hindia Beltmda, 1635-1860, 1965, Jakarta: Arsip Nasionai Rl.
S. Toto Pandoyo, 1984, Wawasan Nusantara dengan Perkembangannya. Yogyakarta: Liberty.
Ven, A van der. ” Aantekeningen omtrent het Rijk Bandjarmasin”, dalam TBG jilid IX (93-218). Batavia: Lange &Co
Wertheim, W.P., 1860, Indonesian Society in Transition. Bandung: Sumur Bandung, 1956.
Wiwoho Soediono, 1983, Pengangkutan Laut daJam Hubungannya dengan Wawasan Nusantara. Jakarta: Bina Aksara.

Resource: Sosio Humanika No. 14 (1) Januari 2001

About Sastro Sukamiskin