HolyHood Community: Milik Lokal yang Diam-diam Mengglobal

Oleh
Dennis Rubben Naftali Eliezer 144214002 & Hikmatul Dwi Novita Azhari 144214016

Tahun 2012 lalu, sepuluh anak muda dari wilayah sebelah barat Yogyakarta membentuk komunitas berlatar belakang persamaan hobby dan interest. Kegiatan yang awalnya hanya kumpul-kumpul untuk bermain alat musik, lalu berangsur-angsur berubah menjadi sarana pengolah minat mereka. Berakar dari ketertarikan mereka seputar seni, lahirlah beberapa band dan kemudian juga terciptalah bisnis sederhana berkaitan dengan clothing industry. Komunitas multifungsi ini kemudian diberi nama HolyHood. Menurut salah satu anggota komunitas HolyHood, nama ini terinspirasi dari tempat yang lumayan dekat dengan lokasi yang sering mereka gunakan untuk kumpul-kumpul, Gua Maria Sendang Jati Ningsih. Sebab Gua Maria tersebut adalah tempat suci, maka mereka mengambil kata Holy yang berarti “suci” dan Hood yang artinya “kumpulan”. Mereka menggunakan nama ini untuk mengingatkan diri mereka masing-masing bahwa setiap orang memiliki tujuan penciptaannya sendiri-sendiri. Apapun yang mereka lakukan sudah seharusnya menyesuaikan dengan tujuan tersebut.

Alasan semula dibentuknya komunitas ini adalah sebagai wadah bagi orang-orang, khususnya anak muda, untuk mengembangkan potensi lewat minat mereka. Komunitas ini dulunya hanya merupakan komunitas musik. Para anggotanya berkumpul bersama untuk membuat lagu dan saling menginspirasi satu sama lain lewat musik. Dari kegemaran dan kegiatan rutin mereka itu, sampai saat ini sudah tercatat setidaknya tiga band yang dibentuk oleh komunitas ini. Ketiga band tersebut antara lain: Moonafight, Ironclad, dan Gangguan Sinyal. Ketiganya adalah band beraliran hip-hop. Kebanyakan dari personilnya adalah laki-laki.

Seiring berjalannya waktu, band-band tersebut mulai dikenal masyarakat. Meskipun mungkin mereka hanya band indie, namun beberapa kalangan anak muda mulai mengikrarkan diri mereka sebagai fans. Mereka selalu berduyun-duyun datang untuk melihat band-band ini manggung. Meskipun pada kenyataannya, band-band bentukan HolyHood ini tidak pernah mengganggap adanya fans, melainkan “famili”. Alasan kenapa anak-anak band bentukan HolyHood ini menyebut mereka famili antara lain karena mereka selalu ada dan mendukung karya para band tersebut. Efek positif dari popularitas ini adalah bertambahnya jam terbang ketiga band tersebut. Mereka pun makin giat menciptakan karya dan menghibur para familinya.

Kesadaran bahwa kebutuhan hidup tidak bisa sepenuhnya dipenuhi lewat musik, membuat para anggota komunitas HolyHood memutar otak untuk mencari sumber pemasukan lain. Pilihan alternatif mereka jatuh pada clothing industry. Mereka kemudian mendirikan industri kreatif berupa distro yang mana sebagian dari produknya terinspirasi dari gambar atau sketsa dari para member komunitas tersebut. Bisnis clothing industry ini berjalan berdampingan dengan karya musik dari ketiga band yang ada sebelumnya. Para anggota komunitas membagi waktu sedemikian rupa agar kedua hal ini berjalan lancar.

Namun karena suatu hal, salah satu band hiphop dari HolyHood Community bubar. Nama band tersebut adalah Gangguan Sinyal. Narasumber tidak menjelaskan begitu detail sebab dari bubarnya band tersebut. Ia menyebutkan bahwa bubarnya band tersebut bukan karena adanya kompetisi tidak sehat antar band. Ia hanya menjelaskan bahwa ketiga band ciptaan HolyHood selalu mendukung satu sama lain. Ia juga mengatakan bahwa dua band lain, yaitu Ironclad dan Moonafight masih bertahan dan masih akan terus berkarya untuk menghibur masyarakat.

Bersamaan dengan berkembangnya bisnis clothing industry mereka, masyarakat kian mengenal HolyHood. Pembeli dari berbagai profesi pun mulai berdatangan. Distro yang semula diperkirakan hanya menyentuh kalangan anak muda ternyata juga menarik minat para pembeli dari usia yang berbeda-beda. Tidak cuma anak muda, melainkan orang-orang yang berusia tiga puluh tahun ke atas pun ikut belanja dan memakai produk buatan HolyHood. Ini adalah bukti bahwa HolyHood punya tempat tersendiri di hati masyarakat.

Distro mereka terletak di Jalan Gajah Mada, Cebongan, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Bangunannya mencerminkan selera anak muda, simple tapi tetap berkelas. Produknya dibandrol dengan harga yang lumayan terjangkau. Meskipun demikian, produk-produk milik HolyHood ini tetap punya kualitas. Mungkin inilah alasannya, industri kreatif ini cukup diminati banyak pembeli.

Mereka mempublish produknya lewat band-band bentukan HolyHood. Narasumber menjelaskan bahwa brand mereka dikenal luas karena band bentukan HolyHood. Ketika band-band tersebut manggung, mereka juga turut memakai dan kadang juga membagi merchandise produksi distro HolyHood. Strategi ini cukup berhasil. Pembeli dari berbagai kalangan masyarakat mulai berdatangan.

Sistem kepengurusan clothing industry ini adalah sistem cooperation. Masing-masing anggota dari komunitas ini berperan aktif dalam kegiatan produksi dan distribusi produk distro HolyHood. Dalam pengelolaan kepengurusannya, mereka tidak mengenal adanya hierarki kekuasaan. Tidak ada yang namanya “bos” dan “pegawai”. Semua anggota mulai dari para desainer sketsa clothing, bagian yang mengurusi bahan baku, bagian penyablonan, bahkan sampai ke bagian pemasaran statusnya sama. Mereka tidak saling membedakan satu sama lain melainkan justru saling membantu. Ketika ada hal yang dirasa kurang pas dihati anggota, maka ia akan mengkomunikasikan hal tersebut lewat diskusi sampai akhirnya ditemukan solusi. Hasil yang diterima dari bisnis ini kemudian dibagi rata ke semua anggota tanpa kecuali.

Sejak awal komunitas ini dibangun, para anggotanya tidak pernah mematok visi dan misi tertentu. Mereka hanya menjalankan apa yang jadi hobby dan minat mereka. Narasumber menjelaskan bahwa anggota HolyHood Community hanya ingin mengekspresikan diri mereka lewat seni. Mereka bahkan tidak pernah berpikir akan membangun bisnis di clothing industry. Namun untuk apapun yang mereka capai sampai detik ini, mereka mencoba untuk selalu mensyukuri itu.

Mas Dian selaku narasumber plus anggota dari HolyHood Community mengatakan bahwa kegiataan komunitas mereka bukan semata hura-hura atau kumpul-kumpul seperti stereotype masyarakat umumnya. Ia menyebutkan bahwa komunitas ini adalah sarana bagi mereka untuk menyalurkan minat mereka lewat hal positif. Bagi mereka, HolyHood bukan cuma komunitas tapi juga tali pengikat relasi diantara para anggotanya.

Ditahun 2015 ini, kedua band yang ada sudah sedikit berkurang intensitas jam terbangnya berkenaan dengan kesibukan yang dijalani masing-masing anggotanya. Namun demikian, hal tersebut tidak memadamkan kekompakan mereka. Mereka masih sering berkumpul dan sharing bersama, baik di distro maupun dirumah salah satu anggotanya. Mereka juga sering melakukan kegiatan bersama untuk terus membina kebersamaan diantara para anggotanya.

Seperti yang kita ketahui, menjaga keeratan relasi di masa kini adalah hal yang cukup sulit. Mas Dian juga berkata bahwa ia dan anggota komunitas lainnya berusaha sebisa mungkin menjaga keeratan tersebut. Wujudnya adalah dengan saling mendukung dan ada bagi satu sama lain ketika dibutuhkan. Mereka sebisa mungkin menghindari segala bentuk tindakan yang berpotensi untuk menjatuhkan satu sama lain.

Kendala lain yang dialami komunitas ini selain soal kekompakan adalah ketersediaan tempat bagi mereka untuk berkumpul bersama. Sebab pada umumnya orang akan berspekulasi macam-macam ketika menyaksikan sekumpulan pemuda berkumpul ramai-ramai di salah satu rumah sampai larut malam. Beruntungnya, keluarga dan orang-orang dilingkungan sekitar para anggota komunitas memahami ini. Keluarga mereka bahkan mendukung dan menyediakan tempat bagi mereka untuk berdiskusi kapanpun yang mereka perlukan.

Pengertian yang semacam ini juga terus mengalir sampai komunitas ini memutuskan untuk ikut berkarya di bidang industry clothing. Para orang tua dari anggota komunitas ini ikut memberi sarana bagi terlaksananya ide tersebut. Mereka memberi dukungan baik material maupun immaterial. Mereka berpandangan bahwa selagi kegiatan yang komunitas ini lakukan positif, maka mereka akan mendukung anak-anaknya.

Selain kegiatan rutin di sektor musik dan industri kreatif, komunitas ini juga sering melakukan kegiatan sosial. Setiap tahun tepatnya di bulan Ramadhan, mereka mengadakan buka bersama on the road. Member dari komunitas ini melakukan tour dengan sepeda motor atau kendaraan roda empat keliling kota Yogyakarta untuk membagikan santapan untuk berbuka puasa. Sasaran dari kegiatan ini adalah kaum dhuafa. Mereka berkeliling untuk berbagi rezeki dengan mereka yang kurang mampu.

Kegiatan sosial lain yang komunitas ini lakukan adalah bakti sosial. Mereka biasanya bergabung dengan komunitas religi yang ada di dekat tempat tinggal para anggota HolyHood Community. Biasanya mereka bergabung dengan organisasi muda gereja. Lewat aktivitas semacam inilah mereka merasa bisa mengekspresikan diri selain lewat karya seni. Mereka juga merasa bahwa menolong sesama adalah salah satu cara untuk mencari inspirasi bagi musik mereka.

Selain kegiatan sosial, mereka juga ikut bersuara seputar kasus korupsi yang tak kunjung padam. Lewat karya HolyHood Community menggalakkan pembentukan pribadi anti korupsi di kalangan anak muda. Baik lewat seni musik maupun gerakan bawah sadar lewat produk industri kreatif, HolyHood gencar bersuara agar anak muda menyadari bahaya korupsi dan mau membuka diri untuk memerangi hal tersebut. Berkat tindakan mereka, mereka mendapat penghargaan dari Gereja Paroki Turi.

Disamping kegiatan komunitas, masing-masing anggota juga memiliki prestasi individual yang cukup mengesankan. Salah satunya adalah prestasi yang diraih Mas Dian. Ia adalah salah satu anggota pembentuk HolyHood Community. Selain sibuk dengan bisnis distronya, ia juga mempunyai profesi lain. Ia juga menjual instrument musik. Pembelinya bervariasi, bukan hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri. Sejauh ini, ia sudah menjual instrument dan produk distronya kepada pembeli dari Meksiko, Bosnia, dan beberapa negara lainnya di benua Eropa. Beberapa negara diantaranya adalah pelanggan tetap.

Berkenaan dengan kesibukannya yang satu itu, Mas Dian berusaha terus membagi waktu untuk menjaga relasi dengan komunitas dan orang-orang di sekitarnya. Ia selalu meluangkan waktunya untuk berkunjung ke distronya dan berkumpul bersama anggota HolyHood Community lainnya untuk membincangkan berbagai persoalan. Baginya komunitas ini bukan cuma sekadar komunitas biasa, ia merasa bahwa komunitas ini adalah salah satu rumah baginya untuk berekspresi. Maka dari itu, ia selalu mengusahakan hal terbaik untuk membawa nama komunitas ini dimanapun dan dalam aktivitaas apapun yang dia lakukan.

Kalau biasanya dalam suatu kelompok ada anggota yang bertendensi untuk mendominasi, berbeda halnya dengan para anggota HolyHood Community. Ketika mereka mengetahui ada anggota yang bisa berprestasi, mereka mendukungnya dengan sepenuh hati. Mereka tidak saling menjatuhkan, namun berusaha mengangkat satu sama lain. Apabila ada satu anggotanya yang maju, maka yang lain mendukung dari belakang. Bila ada yang kesusahan, mereka tak lantas buru-buru angkat kaki lalu pergi. Mereka justru berbondong-bondong bermusyawarah lalu membantu yang kesusahan atau setidaknya bertukar pikiran sampai jalan keluar ditemukan. Hal ini adalah salah satu resep awetnya komunitas ini.

Meskipun dalam aktivitasnya komunitas ini tidak jarang menemui kendala, namun selalu ada dukungan bagi mereka. Dukungan itu datang dari berbagai kalangan, yang paling utama adalah orang-orang terdekat dari para anggota komunitas tersebut. Orangtua memiliki peran prominent bagi komunitas ini. Mereka adalah orang-orang yang dianggap cukup mengerti dan bijak dalam menyikapi kendala yang dialami para anggota komunitas.

Komunitas ini memiliki makna tersendiri bagi masing-masing anggota HolyHood Community. Misalnya bagi Mas Dian, komunitas ini sudah seperti keluarga kedua baginya. Ia sering berbagi dan mengembangkan diri. Baginya komunitas ini bukan cuma sekadar sarana bisnis dan mengekspresikan diri. Komunitas ini juga media bagi banyak orang untuk saling mengenal dan mengerti satu sama lain tanpa memandang perbedaan. Kegiatan kumpul-kumpul bukan cuma sekadar hangout untuk hura-hura, tapi juga sarana untuk diskusi dan musyawarah. Aktivitas bisnis dan berkarya di bidang musik bukan hanya sekadar hobby atau minat, tapi juga wadah untuk mencari inspirasi dan mengemukakan aspirasi.

Banyak harapan sempat diungkapkan oleh Mas Dian. Ia memiliki harapan banyak bagi masa depan komunitas ini. Beberapa diantaranya adalah harapan agar komunitas ini tetap terus ada, agar anggota komunitas ini bisa terus saling berbagi dan menjaga satu sama lain, dan harapan agar karya mereka baik dalam hal musik maupun clothing industry terus berjaya. Harapan-harapan ini tidak muncul tanpa alasan, Mas Dian berpandangan bahwa pada zaman sekarang generasi muda kerap salah langkah dalam mengekspresikan diri mereka. Banyak yang terlalu larut dalam hedonisme dan sekularisme. Tidak jarang juga mereka memakai perbedaan sebagai alasan untuk membeda-bedakan. Tapi semua hal ini jarang ditemukan atau jarang dialami oleh anggota HolyHood. Mereka mencoba untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan karya yang berguna. Mereka juga berusaha untuk menjaga keharmonisan dalam pergaulan sesama manusia entah apapun perbedaannya. Inilah yang membuat para pendiri atau anggota lama HolyHood berharap banyak pada komunitas tersebut.

Komunitas ini tidak memiliki sistem kepengurusan bahkan basecamp tertentu. Bagi siapa saja yang memang ingin bergabung bisa langsung datang ke outlet distro milik HolyHood. Menjadi anggota tidak harus mengeluarkan biaya. Cukup datang dan kenali para anggotanya serta pahami cara mereka bersosialisasi dengan satu sama lain.

Berikut ini adalah denah, contoh produk, dan gambar lokasi outlet milik HolyHood,

C:\Users\aerien\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1428671573285_1.jpg

C:\Users\aerien\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1428671574766_1.jpg

C:\Users\aerien\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1429627468351_1.jpg

C:\Users\aerien\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1429627472240_1.jpg

C:\Users\aerien\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1429627474014_1.jpg

Narasumber: Mas Dian, anggota sekaligus pendiri komunitas. Waktu Wawancara: 5 April 2015, pukul 21.00-23.00. Tempat Wawancara: Jitar, Sumberanum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta.

stargazer1524@gmail.com'

About adwinovita