Reproduksi Wacana Holocaust dalam March of The Titans

Holocaust pada umumnya diartikan sebagai pembantaian yang dilakukan secara massif dan sistematis. Melalui pembacaan buku March of The Titans: A History of White Race karya Arthur Kemp dapat dipahami bahwa Holocaust itu terjadi berulangkali dalam kesejarahan umat manusia. Oleh Kemp, istilah holocaust digunakan pertama kali pada judul bab 35, yaitu The Sixth Great Race War – The Ottoman Holocaust. Istilah itu digunakan lagi pada bab 56, yaitu ketika membahas tentang kedatangan bangsa Eropa di Afrika bagian selatan. Kemp menggunakan istilah holocaust pada saat membahas Perang Boer, tetapi bukan ditujukan untuk menamai pembunuhan yang terjadi. Istilah holocaust digunakan Kemp untuk menjelaskan banyaknya korban akibat penyakit:

holocaust

Penggunaan istilah holocaust seperti yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya, yaitu pembantaian etnis Yahudi oleh tentara Nazi, baru digunakan oleh Kemp pada bab 64. Berbeda dengan berbagai penjelasan tentang holocaust, Kemp berusaha menjelaskan bahwa selama ini telah terjadi banyak distorsi, negasi dan bahkan destruksi terhadap realitas historis tentang Nazi Jerman. Kemp memberikan bukti bahwa penahanan orang Yahudi dalam kamp konsentrasi bukan merupakan aksi sepihak atau manifestasi dari kekejaman Nazi. Penahanan itu dilakukan lebih karena antara Nazi dan Yahudi terlibat perang (p. 841):

The very first declaration of war which led up the Second World War was in fact made on 23 March 1933, when a meeting of Jewish leaders from around the world formally and publicly declared war on the Hitler government, which at that stage was only two months old and had passed none of its racial laws.

The Jewish declaration of war was carried publicly by a large number of newspapers, including the Daily Express in London, which ran a bold full page headline “Judea Declares War on Germany” on its edition of 24 March 1933. Calling on all “Jews of the world to unite” the meeting of Jewish leaders resolved to launch a series of mass demonstrations and also to institute a worldwide boycott of German goods, presumably through their international business connections.

Melalui penjelasannya, Kemp hendak menyampaikan pesan bahwa dalam situasi sedang berperang, dan justru kaum Yahudi yang lebih dahulu mendeklarasikan perang, merupakan hal yang wajar apabila dilakukan penahanan terhadap musuh yang tertangkap. Kemp juga membantah bahwa kamp konsentrasi yang dibangun Nazi hanya untuk menahan kaum Yahudi serta siapapun yang ditahan akan tidak mungkin dilepas lagi.

Tidak hanya kesejajaran posisi antara kaum Yahudi dan Jerman yang dijelaskan oleh Kemp, tetapi dia juga membantah terhadap berbagai kebohongan yang selama ini telah terjadi, seperti tentang jumlah korban yang mencapai 6 juta dan ruang gas yang digunakan untuk pembunuhan massal. Pada penjelasan tentang ruang gas, Kemp mengakhiri uraiannya dengan mengutip laporan Eric Conan pada majalah L’Express sebagai berikut:

The fact that the Auschwitz “gas chamber” on show today is a reconstruction has been confirmed by the mainstream French magazine, L’Express, when its writer Eric Conan visited Auschwitz in January 1995. According to L’Express, the gas chambershown to tourists was built in 1948, three years after the end of the war, by the Polish communists. The Auschwitz staff now admits this. As Conan wrote in L’Express “Tout y est faux”–Everything in it is fake. ” (Eric Conan: AUSCHWITZ: La mémoire du mal, L’Express, Paris, Paris, 19 janvier 1995)

Bantahan Kemp terhadap wacana yang selama ini berkembang tentang holocaust menjadi semakin menarik apabila dikaitkan dengan buku Norman G. Finkelsteins, The Holocaust Industry: Reflection on The Exploitation of Jewish Suffering yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Dalam kata pengantarnya pada Holocaust Industry edisi bahasa Indonesia, Smith Alhadar, Penasihat pada The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES),  menjelaskan bahwa holocaust dewasa ini telah menjadi kata yang sakral bagi Barat, bahkan lebih suci dari Kristen dan Yesus. Orang Barat dapat menghina agama dan Tuhan mereka tanpa resiko atau sanksi apapun. Akan tetapi apabila menolak wacana holocaust akan dipandang sebagai tidak bermoral dan berideologi anti-Semit, sehingga perlu diberi hukuman setimpal.

Salah satu simpul awal pengembangan industri holocaust, menurut Finkelsteins adalah:

Why did the “fading memories» explanation for Israel’s post-1967 predicament «command the widest support”? Surely this was an improbable explanation. As Novick himself copiously documents, the support Israel initially garnered had little to do with “memories of Nazism’s crimes,” and, anyhow, these memories had faded long before Israel lost international support. Why could Jewish elites do “precious little to affect» Israel’s future? Surely they controlled a formidable organizational network. Why was “revive [ing] memories of the Holocaust” the only agenda for action? Why not support the international consensus that called for Israel’s withdrawal from the lands occupied in the June war as well as a “just and lasting peace” between Israel and its Arab neighbors (UN Resolution 242)?

A more coherent, if less charitable, explanation is that American Jewish elites remembered the Nazi holocaust before June 1967 only when it was politically expedient. Israel, their new patron, had capitalized on the Nazi holocaust during the Eichmann trial. Given its proven utility, organized American Jewry exploited the Nazi holocaust after the June war. Once ideologically recast, The Holocaust (capitalized as I have previously noted) proved to be the perfect weapon for deflecting criticism of Israel. Exactly how I will illustrate presently. What deserves emphasis here, however, is that for American Jewish elites The Holocaust performed the same function as Israel: another invaluable chip in a high-stakes power game. The avowed concern for Holocaust memory was as contrived as the avowed concern for Israel’s fate. Thus, organized American Jewry quickly forgave and forgot Ronald Reagan’s demented 1985 declaration at Bitburg cemetery that the German soldiers (including Waffen SS members) buried there were victims of the Nazis just as surely as the victims in the concentration camps.” In 1988, Reagan was honored with the “Humanitarian of the Year” award by one of the most prominent Holocaust institutions, the Simon Wiesenthal Center, for his “staunch support of Israel,” and in 1994 with the “Torch of Liberty” award by the pro-lsrael ADL.

Sejak saat itu, ingatan tentang holocaust selalu diproduksi oleh elite Yahudi di Amerika Serikat dan Eropa untuk kepentingan ekonomi dan politik, terutama dalam rangka mempertahankan Israel dari tekanan negara-negara Arab. Ingatan tentang Holocaust menjadi semacam tagihan Yahudi terhadap moralitas Barat yang menganggap diri sebagai masyarakat paling beradab untuk melindungi, baik politik, ekonomi maupun keamanan Israel dari tekanan dan serangan bangsa-bangsa Arab. Dalam konteks ini, analisis Huntington yang menempatkan Islam sebagai musuh Barat dapat dipahami sebagai manifestasi dari “kewajiban Barat melindungi Israel”.

Bagi Israel sendiri, ingatan dan wacana tentang holocaust sangat penting. Holocaust merupakan sandaran utama bagi gerakan zionis, yaitu gerakan kembali ke gunung Zion. Oleh karena itu penjagaan image tentang holocaust sebagai “peristiwa pembantaian paling mengerikan sepanjang sejarah umat manusia terhadap 6 juta orang Yahudi” harus dilakukan dengan seluruh kekuatan. Apabila masyarakat internasional menjadi tidak lagi percaya terhadap narasi holocaust, maka zionisme menjadi tidak lagi memiliki dasar yang kuat.

Sebaliknya, bagi bangsa Palestina, penderitaan atau bahkan holocaust itu sendiri terjadi ketika bangsa Yahudi datang dan mengusir dari tanah tumpah darah mereka. Bagi mereka, Israel adalah penjajahan Israel yang didukung Barat terhadap bangsa Palestina. Oleh karena itu, menjadi wajar apabila bangsa Palestina, dalam hal ini diwakili kelompok Hamas, menjadi sangat marah ketika PBB berencana memasukkan holocaust ala Israel dalam buku teks pelajaran di sekolah Palestina. (Antara, 31/8 09) Apabila hal itu terjadi, Palestina akan menjadi bangsa asing di negerinya sendiri. Sebaliknya bangsa Israel yang menjajah justru menjadi bangsa asli di negeri asing.

Fenomena yang menarik terjadi di Iran beberapa tahun lalu, terutama peran sangat cerdas yang dimainkan oleh Ahmadinejad. Dengan dilandasi keyakinan bahwa bangsa Yahudi tidak memiliki hak untuk mendirikan Israel, dalam sebuah konferensi “Dunia Tanpa Zionisme” yang diadakan di Teheran pada tanggal 26 Oktober 2005, Ahmadinejad menyatakan bahwa Israel merupakan rejim pendudukan yang harus diusir dari tanah Palestina. Pernyataan itu mengundang reaksi keras dari Barat. Bahkan Perdana Menteri Kanada menyatakan “this threat to Israel’s existence, this call for genocide coupled with Iran’s obvious nuclear ambitions is a matter that the world cannot ignore.” Pernyataan itu di satu sisi merupakan ancaman balik terhadap Iran, terutama program nuklirnya. Dalam situasi tertekan oleh Barat yang hendak menyerang Iran dengan alasan memproduksi senjata nuklir, Ahmadinejad dengan cerdas menggunakan wacana holocaust. Dia menyatakan bahwa holocaust adalah mitos. “They have created a myth today that they call the massacre of Jews and they consider it a principle above God, religions and the prophets” kutip BBC News. Pernyataan kontroversial Ahmadinejad tentang ketidakpercayaan terhadap holocaust dan keterbukaan terhadap inspeksi badan nuklir PBB, menjadikan Iran mampu keluar dari krisis.

Sumber
Finkelsteins, Norman, 2003, Holocaust Industry: Reflection on The Exploitation of Jewish Suffering. London: Versobooks. Versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Kemp, Arthur, 2009, March of The Titans: A History of White Race. Ostara publications.
http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/4527142.stm
www. Kompas.com

About Sastro Sukamiskin