Historisisme

A. Pengantar

Setiap ilmu pengetahuan dan teknologi, diciptakan oleh manusia untuk memenuhi idealisme tertentu. Ilmu-ilmu alam diciptakan untuk memahami dinamika alam, menemukan pola atau hukum-hukumnya dan kemudian digunakan sebagai dasar memprediksi dan memanipulasi alam untuk mendukung kehidupan manusia. Sejajar dengan itu, ilmu-ilmu sosial yang berkembang lebih kemudian juga berusaha memahami dinamika kehidupan manusia, menemukan pola atau hukum-hukumnya dan kemudian digunakan sebagai dasar prediksi dan pengambilan kebijakan untuk mendukung kehidupan bersama. Berbeda dengan itu, ilmu-ilmu humaniora berusaha memahami dan memaknai fenomena kemanusiaan untuk mengembangkan manusia sebagai pribadi yang utuh dan otonom.

Dari ketiga kategori yang ada, dimanakah posisi ilmu sejarah? Akankah sejarah masuk ilmu humaniora dan menggarap aspek batiniah manusia? Ataukah akan masuk ke ilmu-ilmu sosial dan menjadi penganut kepercayaan pada hukum semesta manusia? Pada berbagai universitas di Indonesia, ilmu sejarah masuk ke Fakultas Ilmu Budaya atau bahkan Fakultas Sastra. Hal itu mengindikasikan bahwa ilmu sejarah lebih cenderung ke ilmu humaniora. Akan tetapi, apabila dilihat dari kajian-kajian yang dilakukan banyak menggunakan Covering Law Model, ilmu sejarah cenderung menjadi bagian ilmu-ilmu sosial. Dipergunakannya pendekatan ilmu-ilmu sosial oleh Sartono School kiranya dapat dibaca adanya keinginan ilmu sejarah di Indonesia untuk bergabung dengan kelompok ilmu-ilmu sosial.

Pergumulan intelektual sejarawan dalam menentukan posisi keilmuan merupakan masalah yang telah lama berlangsung dan sampai sekarang belum terselesaikan. Salah satu tonggak awal pergumulan itu adalah lahirnya historisme, historisisme dan berbagai pandangan lain tentang ilmu sejarah. Agar dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif, pada kesempatan ini akan dibahas tentang historisisme.

B. Historisisme

Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa krisis identitas keilmuan menjadi salah satu faktor penting lahirnya historisisme. Krisis itu secara singkat dijelaskan oleh Ankersmit (1987: 206):

Filsafat pada abad ke-17, yang berpangkal pada Descartes, hanya sedikit perhatiannya bagi sejarah…para ahli berpikir percaya penuh pada penelitian ilmu-ilmu alam; mereka berpendapat bahwa metoda penelitian dari ilmu alam hendaknya juga diterapkan pada bidang-bidang lain. Bila dipandang dari sudut itu, maka pengkajian sejarah kelihatan sangat kurang berbobot. Orang menyangsikan dan kurang percaya akan hasil penelitian ilmu sejarah.

Dari kutipan itu dapat diambil pemahaman bahwa krisis disebabkan oleh dua masalah yaitu kekurangpercayaan masyarakat pada kajian yang dilakukan oleh sejarawan dan keinginan agar metode dari ilmu-ilmu alam diterapkan pada ilmu sejarah. Permasalahan pertama bersumber pada subyektivitas sejarah yang dipandang sebagai kelemahan mendasar ilmu sejarah untuk memperoleh kebenaran obyektif. Permasalahan kedua, obyek kajian ilmu sejarah sudah hilang dan tak dapat dihadirkan kembali, sehingga metode ilmu-ilmu alam tidak dapat menjangkaunya.

Ketika abad berganti, berbagai krisis yang terjadi nampak mulai memperoleh pemecahan, meskipun tidak seluruhnya. Pada masa aufklarung ini, etika menjadi pendobrak kebekuan. Etika dipandang mampu menemukan kaidah-kaidah etis dan politis bagi kelakuan manusia dan kehidupan masyarakat sejajar dengan kepastian yang terdapat pada hukum alam. (Ankersmit,1987: 207) Fenomena itu mendorong para sejarawan tidak lagi hanya melaporkan temuan sumber dan artefak, tetapi juga memaknainya.

Selain krisis keilmuan yang dialami oleh sejarah, fenomena lain yang tak kalah penting adalah “tantangan” dari keyakinan agama. Pada akhir abad XVIII berkembang pandangan bahwa akal budi manusia memiliki batas, sehingga ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan juga terbatas. Ilmu hanya mampu menjelaskan fenomena yang dapat dilihat dan diamati secara kasat mata. Hal-hal yang bersifat metafisis tidak akan mampu dipahami dengan akal maupun refleksi filosofis. (Dietmar H. Heidemann pada Dean Moyar and Michael Quante, 2008, p. 4) Permasalahan itu hanya dapat dipahami dengan iman dan agama. Pada situasi ketertekanan seperti itulah pergumulan intelektual akhirnya melahirkan historisisme dengan GWF Hegel (1770 –1831) sebagai pionirnya (Dietmar H. Heidemann p. 7).

Hegel

Hegel diverged from Schelling, arguing that the absolute or ‘‘God as the one Substance’’ (18, {17) cannot be just substance and nothing more. The concept of the true or absolute conceived as the one substance is underdetermined to the extent that it does not adequately incorporate thought and hence precludes self-determining subjectivity. There are two questions concerning this view: First, why is the determination of the true or absolute as substance insufficient? Secondly, even if an additional determination is necessary, why is it subject or subjectivity, and in what sense?

Terkait dengan ilmu sejarah, Hegel mengkategorikan kajian sejarah menjadi tiga kelompok besar, yaitu sejarah rekonstruktif, sejarah reflektif dan filsafat sejarah. Sejarah rekonstruktif adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh sejarawan atau orang yang tertarik pada peristiwa sejarah. Hasil rekonstruksi sejarah biasanya berupa uraian tentang suatu peristiwa yang terjadi pada lokasi dan waktu tertentu. (Hegel, 2001, p. 14)

To this category belong Herodotus, Thucydides, and other historians of the same order, whose descriptions are for the most part limited to deeds, events, and states of society, which they had before their eyes, and whose spirit they shared. They simply transferred what was passing in the world around them, to the realm of representative intellect.

Kelompok kedua adalah sejarah reflektif yang oleh Hegel ditempatkan di atas sejarah sebagai narasi. Apabila sejarah rekontruksi sejarah hendak menjelaskan genealogi suatu peristiwa, sejarah reflektif menggabungkan berbagai hasil rekonstruksi. Hegel membagi sejarah reflektif dalam empat kategori. Pertama adalah sejarah yang ditulis dengan tujuan hendak menangkap semangat di balik rekonstruksi sejarah yang dipandang penting bagi masyarakat sekarang: It is history whose mode of representation is not really confined by the limits of the time to which it relates, but whose spirit transcends the present. (p. 17) Selain menangkap jiwa jaman, sejarah reflektif juga berusaha untuk mengevaluasi penulisan untuk menemukan metode penelitian sejarah yang lebih baik, “…. we are always beating our brains to discover how history ought to be written. This first kind of Reflective History is most nearly akin to the preceding, when it has no further aim than to present the annals of a country complete” (Hegel, 2001, p. 18).

Model kedua sejarah reflektif oleh Hegel dinamakan Pragmatical, yaitu fungsi praktis dari mempelajari berbagai narasi sejarah. Dengan kata lain, model kedua lebih mengeksplorasi fungsi didaktik narasi sejarah terhadap masyaraat kontemporer (Hegel, 2001, p. 19):

When we have to deal with the Past, and occupy ourselves with a remote world, a Present rises into being for the mind — produced by its own activity, as the reward of its labor. The occurrences are, indeed, various; but the idea which pervades them — their deeper import and connection — is one. This takes the occurrence out of the category of the Past and makes it virtually Present. Pragmatical (didactic) reflections, though in their nature decidedly abstract, are truly and indefeasibly of the Present, and quicken the annals of the dead Past with the life of to-day.

Dari kutipan itu dapat dipahami bahwa fungsi didaktik sejarah adalah menumbuh-kembangkan kesadaran sejarah. Apabila dikaitan dengan pandangan Nietze bahwa manusia adalah makhluk yang belum ditentukan takdirnya (noch nich), maka dalam konteks ini sejarah merupakan teman berdialog selama “proses menjadi” tersebut.

Model sejarah reflektif yang ketiga oleh Hegel disebut sebagai Critical, yaitu kajian terhadap berbagai narasi sejarah yang telah ada untuk menemukan kebenaran. Melalui pembacaan kritis terhadap historiografi dengan mengkomparasi dan mengkonfrontasi, akan ditemukan kebenaran penjelasan historis yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan sekaligus dapat diterima publik pembaca sejarah (Hegel, 2001, p. 20):

This deserves mention as pre-eminently the mode of treating history now current in Germany. It is not history itself that is here presented. We might more properly designate it as a History of History; a criticism of historical narratives and an investigation of their truth and credibility.

Model sejarah reflektif keempat adalah pengambilan kesimpulan umum terhadap berbagai kajian sejarah pada aspek-aspek kehidupan yang berkembang. Hegel mencontohkan pengkajian reflektif terhadap berbagai narasi sejarah seni, religi, ekonomi dan sebagainya. (Hegel, 2001, p. 21)

The last species of Reflective History announces its fragmentary character on the very face of it. It adopts an abstract position; yet, since it takes general points of …, it forms a transition to the Philosophical History of the World. In our time this form of the history of ideas has been more developed and brought into notice. Such branches of national life stand in close relation to the entire complex of a people’s annals; and the question of chief importance in relation to our subject is, whether the connection of the whole is exhibited in its truth and reality, or referred to merely external relations.

Kategori kajian sejarah yang terakhir, menurut Hegel adalah filsafat sejarah. Berbeda dengan dua jenis kajian sejarah sebelumnya, filsafat sejarah berusaha untuk memperoleh intisari dari berbagai fenomena historis yang terjadi. The most general definition that can be given, is, that the Philosophy of History means nothing but the thoughtful consideration of it. Thought is, indeed, essential to humanity. It is this that distinguishes us from the brutes. (Hegel, 2001, p. 21) Obyek yang dikaji pun berbeda. Filsafat sejarah tidak mengkaji sejarah secara material atau fisik, seperti sumber maupun historiografi, tetapi membahas hal-hal yang bersifat metafisik. Metode yang digunakan filsafat sejarah pun khas, yaitu dengan melakukan kontemplasi intelektual melalui pengembangan premis-premis logis dan rasional untuk memperoleh kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (Hegel, 2001, p. 22 – 23)

The only Thought which Philosophy brings with it to the contemplation of History, is the simple conception of Reason; that Reason is the Sovereign of the World; that the history of the world, therefore, presents us with a rational process. This conviction and intuition is a hypothesis in the domain of history as such. In that of Philosophy it is no hypothesis. It is there proved by speculative cognition, that Reason — and this term may here suffice us, without investigating the relation sustained by the Universe to the Divine Being — is Substance, as well as Infinite Power; its own Infinite Material underlying all the natural and spiritual life which it originates, as also the Infinite Form — that which sets this Material in motion.

Kedudukan uraian Hegel tentang ragam kajian terhadap sejarah adalah sangat penting, yaitu menjelaskan posisi yang hendak diambilnya. Pada uraian berikutnya dijelaskan bahwa Hegel memilih kajian filsafat sejarah, sehingga pembahasanya berfokus pada usaha untuk mencari substansi atau hakekat gerak sejarah. Hal ini perlu ditegaskan karena terkait dengan kritik yang disampaikan oleh sejarawan sejaman, yaitu Leopold von Ranke. Dia sangat menentang penjelasan sejarah model historisisme. Pernyataannya yang terkenal dan mendasari lahirnya historisme adalah bahwa tugas sejarah semata-mata untuk menunjukkan apa yang senyatanya terjadi (wie es eigentlich gewesen ist) dan bukan untuk menemukan teori: “My understanding of ‘leading ideas’ is simply that they are the dominant tendencies in each century. These tendencies, however, can only be described; they can not, in the last resort, be summed up in a concept” (http://en.wikipedia.org).

Kritik Ranke, yang dipandang sebagai bapak sejarah modern, perlu ditanggapi dengan jernih. Pernyataannya bahwa “tugas sejarah semata-mata untuk menunjukkan apa yang senyatanya terjadi” sangat tepat apabila ditujukan pada sejarah kategori pertama dalam kategorisasi Hegel, yaitu rekonstruksi sejarah. Penjelasan Ranke tentang “leading idea” sebagai kecederungan yang dominan para periode waktu tertentu akan tepat untuk membahas sejarah reflektif. Dari sudut pandang ini, kritik Ranke bahwa sejarah tidak dapat dibuat kesimpulan dalam bentuk konsep kurang dilengkapi dengan alasan-alasan filsafati yang kuat. Dengan kata lain, kritik Ranke kurang menyentuh posisi yang diambil oleh Hegel, yaitu filsafat sejarah.

Pemikiran inti historisisme secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Dalam semesta kehidupan ini terdapat sesuatu yang mengatur segala sesuatu atau hukum semesta, yang oleh Hegel disebut sebagai Reason. (Hegel, 2001, p. 25)

One of these points is, that passage in history, which informs us that the Greek Anaxagoras was the first to enunciate the doctrine that __, Understanding generally, or Reason, governs the world. It is not intelligence as self-conscious Reason — not a Spirit as such that is meant; and we must clearly distinguish these from each other. The movement of the solar system takes place according to unchangeable laws. These laws are Reason, implicit in the phenomena in question. But neither the sun nor the planets, which revolve around it according to these laws, can be said to have any consciousness of them.

A thought of this kind — that Nature is an embodiment of Reason; that it is unchangeably subordinate to universal laws, appears nowise striking or strange to us….

Tanggungjawab Reason adalah mengatur segala sesuatu agar tercipta ketertiban dan keharmonisan antar bagian-bagiannya.

The inquiry into the essential destiny of Reason — as far as it is considered in reference to the World — is identical with the question, what is the ultimate design of the World? And the expression implies that that design is destined to be realized. Two points of consideration suggest themselves; first, the import of this design — its abstract definition; and secondly, its realization.

2. Sebagai bagian dari semesta, kehidupan manusia juga tunduk terhadap hukum semesta, yaitu Reason tersebut. Agar pikiran dan perilaku dalam menyejarah sesuai dengan hukum semesta, dalam setiap diri manusia terdapat jiwa atau roh.

It must be observed at the outset, that the phenomenon we investigate — Universal History — belongs to the realm of Spirit. The term “World,” includes both physical and psychical Nature. Physical Nature also plays its part in the World’s History, and attention will have to be paid to the fundamental natural relations thus involved. But Spirit, and the course of its development, is our substantial object. Our task does not require us to contemplate Nature as a Rational System in itself — though in its own proper domain it proves itself such — but simply in its relation to Spirit.

3. Variasi kehidupan antar lokasi yang terjadi karena adanya adaptasi unsur pengatur dengan kondisi lokal. Dari sudut pandang ini, untuk memahami peri kehidupan manusia diperlukan penemuan unsur pengatur perilaku. Dalam konteks ini, ilmu sejarah dan ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya bertugas untuk menganalisis masa lampau guna menemukan unsur pengatur itu. Hegel menemukan Geist (Jiwa, Roh, Budi), sedang Karl Marx menemukan alat produksi sebagai penggerak sejarah.

Culture is essentially concerned with Form; the work of Culture is the production of the Form of Universality, which is none other than Thought. Consequently Law, Property, Social Morality, Government, Constitutions, etc., must be conformed to general principles, in order that they may accord with the idea of Free Will and be Rational. Thus only can the Spirit of Truth manifest itself in Subjective Will — in the particular shapes which the activity of the Will assumes. In virtue of that degree of intensity which Subjective Free Spirit has attained, elevating it to the form of Universality, Objective Spirit attains manifestation. This is the sense in which we must understand the State to be based on Religion. States and Laws are nothing else than Religion manifesting itself in the relations of the actual world (p. 435 – 436).

4. Sejarah merupakan perkembangan linier dari satu titik di masa lampau dan akan menuju titik yang lain di masa depan. Bila titik akhir itu tercapai, maka manusia akan memasuki masa “the end of history”. Melalui penemuan unsur pengatur di masa lampau, ilmu sejarah mampu menyumbang untuk memahami dinamika kehidupan manusia masa kini serta memprediksi masa depan dengan tingkat presisi yang tinggi. Hegel membagi perjalanan sejarah umat manusia menjadi tiga tahap, yaitu Jiwa Obyektif (dunia Timur), Jiwa Subyektif (Yunani-Romawi) dan Jiwa Mutlak (German Raya) yang merupakan paduan sempurna dua jiwa sebelumnya. Berbeda dengan Hegel, Marx membagi sejarah berdasar alat produksi menjadi Tanah (Feodal), Industri-1 (Pemilik Modal/Kapitalisme) dan Industri-2 (Buruh/Komunisme).

Pemikiran kaum historisisme mengundang kontroversi, dari sejak lahirnya sampai sekarang. Dengan kata lain, penyusunan teori yang dimotori Hegel dipandang sebagai langkah terlalu jauh atau pengambilan generalisasi yang terlalu luas. Kritik mendasar juga datang dari Karl Popper melalui bukunya The Poverty of Historicism yang pada tahun 1985 diterjemahkan menjadi Gagalnya Historisisme. Dia menyatakan bahwa tidak ada masyarakat yang mampu memprediksi secara ilmiah masa depannya, begitu pula tidak ada ilmu prediksi sejarah umat manusia.

Melanjutkan perjalanan ke NEW HISTORISISME

aaaaaaa

Kepustakaan

Ankersmit, F.R., 1987, Refleksi Tentang Sejarah. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.

Hegel, Georg Wilhelm Friedrich, 2001, Philosophy of History. Diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh J. Sibree. Ontario: Batoche Books.

Lemon, M.C., 2003, Phylosophy of History. New York: Routledge.

Moyar, Dean and Michael Quante, 2008, Hegel’s Phenomenology of Spirit: A Critical Guide. Cambridge: Gambridge University Press.

http://en.wikipedia.org/wiki/Leopold_von_Ranke

About Sastro Sukamiskin