Hermeneutika

hermeneutic_circle

Hermeneutika diperkenalkan untuk pertama kali sejak munculnya buku dasar-dasar logika, Peri Hermeneias karya Aristoteles, sejak saat itu konsep logika dan penggunaan rasionalitas diperkenalkan sebagai dasar tindakan hermeneutis. Hermeneutika merupakan salah satu jenis filsafat yang mempelajari interpretasi makna. Kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuien yang berarti menafsirkan, memberi pemahaman, atau menterjemahkan. Jika dirunut, hermeneutika merupakan nama salah satu pantheon Yunani kuno, yaitu Herme yang bertugas untuk menyampaikan pesan kepada manusia. Beranjak dari hal inilah hermeneutika kemudian digunakan untuk menamai ilmu yang bertugas untuk menafsirkan teks. Hermeneutik adalah teori tentang pemahaman terhadap menafsirkan teks yang berbeda jauh dengan pemahaman secara umum, mengarah kepada kesadaran estetika terhadap nilai-nilai kritisme.

Pada dasarnya hermeneutika dipahami secara komprehensif yang meliputi seluruh ruang seni dan persoalan-persoalan kompleksnya. Dalam hal ini hermeneutika secara keseluruhan harus bersikap adil terhadap pengalaman seni agar mudah dipahami dari semua pernyataan untuk dibentuk dan disempurnakan secara menyeluruh. Dalam cakupannya, hermeneutika terfokus dalam dua kajian, yakni (1) peristiwa pemahaman terhadap teks, (2) persoalan yang mengarah mengenai pemahaman dan interpretasi.

Sebagai ilmu, tanggungjawab hermeneutika adalah: (1) mengungkapkan sesuatu yang tadinya masih dalam pikiran melalui kata-kata sebagai medium penyampaian; (2) menjelaskan secara rasional sesuatu yang tadinya masih samar-samar sehingga maknanya dapat dimengerti; (3) menerjemahkan sesuatu yang dinarasikan dalam bahasa asing ke dalam bahasa yang dipahami oleh audiences (Raharjo, 2008: 28). Oleh karena itu, menurut Sumaryono (1999: 24) hermeneutika dipandang sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari ketidakpahaman menjadi paham terhadap makna teks yang dikaji.

Pada era modern, proses untuk memahami sebuah teks melahirkan berbagai aliran hermeneutika. Hal ini kemudian dikembangkan oleh Freidrich Ernst Daniel Schleiermacher yang kemudian dikenal sebagai bapak hermeneutika modern memaparkan bahwa pemahaman teks menggunakan dua cara yang dikenal sebagai dua lingkaran hermeneutika :

  1. Memahami makna teks secara gramatikal (grammatical understanding), yaitu menemukan makna melalui pencarian pengertian gramatik dari kata-kata dan kalimat yang terdapat pada teks. Pemahaman teks dalam hal ini adalah melalui penguasaan terhadap aturan-aturan sintaksis bahasa, sehingga menggunakan pendekatan linguistik. Cara ini dalam hermeneutika dikenal dengan sebutan lingkaran objektif. Hermeneutika objektif yang dikembangkan tokoh-tokoh klasik, khususnya Friedrick Schleiermacher (1768-1834), Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan Emilio Betti (1890-1968). Menurut model pertama ini, penafsiran berarti memahami teks sebagaimana yang dipahami pengarangnya, sebab apa yang disebut teks, menurut Schleiermacher, adalah ungkapan jiwa pengarangnya, sehingga seperti juga disebutkan dalam hukum Betti, apa yang disebut makna atau tafsiran atasnya tidak didasarkan atas kesimpulan kita melainkan diturunkan dan bersifat intruktif.
  2. Memahami makna teks dari kondisi psikologis pembuat teks (intuitive understanding). Untuk dapat memahami sungguh-sungguh kondisi psikologis pengarang, diperlukan kajian tentang konteks budaya yang melingkupi teks, konteks historis yang mendorong munculnya teks, dan maksud pengarang ketika memproduksi teks. Dengan kata lain, pemahaman makna teks diperlukan rekonstruksi proses kelahirannya. Cara ini dalam hermeneutika dikenal dengan sebutan lingkaran subjektif. Hermeneutika subjektif yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh modern khususnya Hans-Georg Gadamer (1900-2002) dan Jacques Derida (l. 1930). Menurut model kedua ini, hermeneutika bukan usaha menemukan makna objektif yang dimaksud si penulis seperti yang diasumsikan model hermeneutika objektif melainkan memahami apa yang tertera dalam teks itu sendiri. Stressing mereka adalah isi teks itu sendiri secara mandiri bukan pada ide awal si penulis. Inilah perbedaan mendasar antara hermeneutika objektif dan subjektif.

Daftar Pustaka :

Khudori Soleh, A., Model-Model Hermeneutika

diambil dari http://www.fpsi-uinmalang.com/download1.

Wikipedia

Rosyidi, M.Ikhwan, dkk. Analisis Teks Sastra, Mengungkap makna, Estetika, dan Ideologi dalam Perspektif Teori Formula, semiotika, Hermeneutika dan Strukturalisme Genetik. Graha Ilmu : 2000. Hal.142-192

Gadamer, Hans-Georg. Kebenaran dan Metode Pengantar Filsafat Hermeneutika. 2004. Hal.124-202

Mario Inirgo Oki Menes Belo (094314001)

Herpan Rico Sigalingging (114314009)

 

herpanrico.sigalingging@gmail.com'

About herpan rico sigalingging