Gerakan Mahasiswa Indonesia dari Masa ke Massa

“Sejarah Indonesia itu sejarahnya angkatan muda. Jangan lupakan itu!”
(Pramoedya Anantatoer)
Pernah disampaikan pada Seminar Nasional IKAHIMSI edisi revisi
27 Oktober 2008

1. Masa Kelahiran
Masa dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai periode atau waktu, sedangkan massa adalah jumlah atau kumpulan banyak orang. Arus pergerakan tidak lepas dari akar sejarah dan jaman ketika sebuah kesadaran lahir. Awal kemunculan dari kaum terdidik di nusantara muncul tidak dengan sendirinya, kaitannya dengan berbagai macam jaringan yang berkembang pada masa ketika kaum terdidik tersebut lahir dengan berbagai macam tujuannya menjadi watak dari kaum terdidik itu sendiri. Kaum terdidik pada jaman Yunani kuno adalah kaum bebas, atau bukan budak, maka bisa diartikan pendidikan diakses atau mengakses kebebasan dalam artian luas, dan dalam keberlanjutan sejarah manusia kebebasan, kemerdekaan, persamaan adalah catatan yang tanpa akhir dari sejarah manusia, lepas dari segala penindasan itulah sekira intinya. Ide adalah pemikiran dan adanya dipikiran, ide tidak akan bekerja selama ia tidak mau bersingungan dengan realitas ia tidak akan menghasilkan perubahan yang dituju dan mensejarah, selama ia tidak bekerja dan hanya membumbung di angan-angan. Ide tentang negara bangsa sudah merupakan idaman mulai dari si tradisionalis sampai ke yang kontemporer sekalipun mulai dari jaman yang entah dalam sekup yang tak mungkin kita gali, sedemikian banyaknya pemuda-pemuda yang mempunyai gagasan tentang corpus dari bangsa ini, dan ide ini selalu muncul dari jiwa-jiwa pemuda yang tidak puas dan tersadar dengan masa depan jauh melampaui dari jamannya sekarang.
Peran pemuda sebagai agent of change tidak bisa dilepaskan dari setiap gerak perubahan, pemuda tidak hanya seorang yang berumur belasan atau dua puluhan tahun, jomblo atau tidak, abangan atau bukan, kaya atau miskin, sarjana atau tidak sarjana. Pemuda adalah semangat yang dipercayai dan bertindak untuk merdeka dan melawan ketertindasan, dan pergerakan dan pendidikan bukan suatu yang kontradiktif tetapi saling mendukung dan melengkapi. Sebagai catatan tambahan perlu diketahui bahwa angka pendidikan pada masa awal abad 19 di nusantara tak sampai 1% dari jumlah populasi pada waktu itu (melek latin atau pendidikan barat). Kebanyakan masyarakat pada jaman itu lebih bergantung pada sumber informasi atau pendidikan berbasis pesantren atau pendidikan tradisional lainnya, dan literatur yang sangat terbatas oleh kendala bahasa dan tulisan yang berbeda-beda pada setiap komunitas. Ada sedikit ketidak setujuan dengan istilah Mahasiswa, Pelajar dan Pemuda bagi penulis. Karena dengan hanya mengunakan kata terpelajar, maka sejarah hanya akan mencatat segelintir orang yang menjadi sejarah besar dari Indonesia, tidak pernah bisa kita memasukkan pemberontakan para petani dan pemogokan buruh seperti halnya kita melihat mereka sebagai kelompok mahasiswa yang elit tersebut. Padahal kita harus mengakui apa yang menjadi inspirasi gerakan pemuda adalah ketika ia keluar dari titik nyamannya sebagai seorang ningrat dengan melihat dan merasakan juga penindasan dari kolonial pada kaum-kaum “kromo” tersebut. Maka gerakan mereka barulah bisa menjadi gerakan besar (bukan gerak-gerik atau aksi gerakan narsis ketika mau mencalonkan diri menjadi ketua BEM atau wakil rakyat saja atau sekedar untuk mempesona wanita) dan mensejarah. Maka untuk itu penulis lebih memilih mengunakan kata pemuda pada tulisan ini dibandingkan mahasiswa atau pelajar.

Para Pemuda Awal
Jika Ketua atau Direktur IDI Indonesia baru-baru saja mengatakan bahwa dokter di Indonesia tidak suka berdemo dan hanya akan berdemo jika salah satu koleganya terkena kasus hukum karena maal praktek, dia salah dan sunguh salah (ini adalah peryataan yang sunguh elit)! Sekolah dan kaum terdidik pertama pribumi adalah para dokter dan Guru di kweekschool, tak ada pemuda awal Republik yang bergerak membentuk organisasi awal yang bukan jebolan STOVIA sekolah kedokteran pertama (sekarang UI). Merekalah yang pertama bergerak karena merekalah yang pertama menjadi saksi kekejaman kolonial pada penduduk nusantara. Tirto Ardi Soeryo, sekiranya pemuda siswa STOVIA, sebuah sekolah untuk dokter pada masa kolonial, tenaga dokter sangat dibutuhkan oleh Hindia Belanda pada saat itu karena kondisi Jawa yang pada saat itu digambarkan sangat miskin dan penuh dengan wabah tropis. Etik adalah jaman kunci pada masa kolonial, dengan kerangka good will dari pemerintah kolonial untuk membalas budi dari hutang yang tak terbayarkan kolonial pada masyarakat Jawa khususnya dan beberapa bagian dari pulau Sumatra yang “disentuh” oleh peradaban etis. Serikat Priyayi adalah yang pertama, kemudian disusul Boedi Oetomo dan Syarikat Dagang Islam yang kemudian berkembang menjadi Syarikat Islam saja.
A. Yang pertama adalah perkumpulan para priyayi penjabat Inenland Bestur atau pangreh praja, semacam ikatan profesi awal, kebalikan dari Binnenland Bestur atau pegawai administrasi kedaerah Belanda (sistem pemerintahan kolonial seberang lautan)
B. Yang kedua adalah sangat bersifat priyayi Jawa atau Chauvinis seperti pagayupan atau yayasan kejawen yang anggotanya para elit pribumi Jawa seperti para pemuda yang mampu mengenyam pendidikan Belanda yang tentu saja mereka adalah para putra Bupati, Regent dan sebagainya, sifat dari keanggotaan dari tarekat atau komunitas ini banyak meniru atau terinspirasi oleh gerakan Mansonik (free Manson), yang pada awal kelahiran kaum terdidik dan ningrat pribumi banyak anggota para pengerak awal gerakan sosial dari Hindia Belanda merupakan anggotanya, seperti Raden Saleh, Suryopranoto, Suwardi Suryaningrat, Sosrokartono orang pribumi pertama yang berangkat ke Eropa untuk belajar, (beliau adalah kakak R.A Kartini) yang awal gerakannya adalah gerakan yang menyuarakan persaudaraan, kesetaraan dan kesederajatan bagi seluruh umat manusia, tanpa memandang ras, agama, dan kelompok politik, keturunan dsb.
C. Yang ketiga adalah organisasi dengan ikatan yang lebih prural karena mengunakan Islam sebagai identitas pengikat lebih populis dikalangan masyarakat bawah, walau prakteknya pada selanjutnya tidak mengunakan lagi religi sebagai pengikat. Tetapilebih pada kepentingan ekonomi politik, dan selanjutnya karena begitu populis menjadi organisasi dengan anggota terbesar di dunia, setelah komunisme dalam Internasionalisme ke III.
D. Yang keempat yang tak boleh dilupakan adalah PKI, sejarah kaum Marxis di Indonesia wajib rasanya ditulis kembali, sebagaimana Soe Hok Gie mengambarkan dalam bukunya (orang di persimpangan kiri jalan), apakah bernar Internasionalisme ke III dari Moskow berperan dalam “pemberontakan” pertama di Hindia Belanda atas nama kemerdekaan kaum terjajah di Asia dengan nama bangsa Indonesia pertama kalinya ini layak disebut sebagai pengkhianatan terhadap bangsa sendiri? Walau wajib menjadi catatan kegagalan gerakan ini dan lebih lanjut mengartikan kelas sosial vertikal di Asia atau Indonesia dengan kelompok formasi sosial/strata sosial yang masih horizontal dalam berbagai pembacaan konflik dalam teori Marx tentang kesadaran kelas.
Di lain sisi juga muncul pula organisasi yang lebih bersifat ekonomi politik, dan sipil politik lainnya seperti organisasi buruh, atau pekerja baik perkebunan maupun jawatan Belanda seperti VSTP, FSB, ikatan pegawai partikelir, guru, organisasi keturunan Indo, China dan banyak lagi. Perlu dicatat pada awal masa yang disebut Takashi S, sebagai jaman bergerak ini banyak sekali pemuda-pemuda awal dari gerakan lahir dari rahim STOVIA dan berbagai study club yang ada di kalangan para siswa ini. Maka tak ayal Boedi Oetomo dan berbagai organisasi priyayi (Djong organisasi pemuda) pada awal jaman bergerak didirikan oleh para siswa atau mantan siswa STOVIA seperti Soetomo di Boedi Oetomo. Pada perkembangan selanjutnya sejarah mencatat dengan indah pemuda yang bernama Semaoen, Mas Marco Kartodikromo, Alimin, H.O.S Tjokroaminoto, H. Miscbah, Tan Malaka, M. Hatta, Tjipto Mangoen Koesoemo, Soewardi Soeryaningrat, Soeryo Pranoto, Sneevlit, Darsono, Douwes Dekker dan banyak lagi dengan berbagai ragam latar belakang dan idiologi, pada masa ini pergerakan lebih bernuansa radikal revolusioner dengan peristiwa-peristiwa yang berahir tragis dengan gagalnya awal perjuangan nasionalisme untuk kemerdekaan Indonesia. Banyak tokoh pada masa ini bukan merupakan tokoh yang yang lahir dan dibesarkan oleh sistem pendidikan kolonial, tetapi mereka adalah pemuda kebanyakan yang tidak mampu mengenyam pendidikan ala barat, pemuda dari desa, buruh dan bukan ningrat. Justru dengan latar belakang yang bukan representasi dari kaum 1% intelektual pribumi tersebutlah maka potensi gerakan nasionalisme mereka menjadi besar dan luas atau memiliki Massa yang jauh lebih banyak karena mereka kaum populis lahir dari kelompok yang tertindas itu sendiri.
Terutama yang menjadi ciri pada masa ini adalah munculnya Nasionalisme sebagai semangat yang mengkedepan dan munculnya kesadaran untuk pencarian identitas awal sebuah bangsa, juga mulai bersingungannya pemuda dengan geopolitik dan jaringan-jaringan gerakan yang tidak hanya ada di dalam negeri tetapi juga luar negeri, perjuangan untuk melawan penindasan bukan semata lagi antara si Belanda dengan si kromo tetapi harus menjadi perjuangan yang mensemesta di seluruh penjuru tanah air, maka muncul kesadaran akan kesatuan, Nation State dan perlunya kematangan bangsa yang kaum mudanya tidak mudah dipecah-pecah, yang kemudian pada puncaknya tercetus pada Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928. “Soempah Pemoeda” mengisyaratkan bahwa para pemuda yang sadar akan semangat kebangsaan untuk lepas dari belenggu Kolonialisme yang telah menyebabkan kesengsaraan rakyat, mencita-citakan masyarakat yang adil dan makmur tak kurang suatu apa, adil dalam artian mereka mempunyai kesempatan yang sama dalam segala bidang baik antara saudara sebangsa maupun dengan bangsa-bangsa lain, makmur dalam artian mereka mendapat kesempatan yang luas dalam bidang sosio politik dan ekonomi politik tidak mempertuan bangsa atau kelompok lain.
Prinsip telah dipegang, bahwa bangsa ini telah dijajah oleh Belanda telah menjadi kesadaran umum dalam perjuangan para pemuda selanjutnya, walau masa represif Belanda pasca kegagalan perjuangan PKI berupa kelewang dan cambuk bahkan boven Digul, tidak menyurutkan perjuangan para pemuda. Usaha baik dengan itikad sendiri seperti halnya pemuda Tan Malaka, melalui media pendidikan seperti Suwardi Suryaningrat, Hatta atau perjuangan melalui Volkstraad, study-study club yang melahirkan pemikiran dan tokoh-tokoh gerakan bahkan melalui organisasi kepanduan (cikal bakal Pramuka sekarang). Pemuda tidak hanya diasumsikan sebagai kaum Adam, peran pemudi pun mulai mengkedepan, pemudi pun berkongres dan mulai mengunakan identitas Indonesia mengantikan Hindia Belanda pada setiap kegiatan dan organisasi mereka, dan perjuangan kemerdekaan selalu menjadi salah satu topik di berbagai ruang pergerakan mereka. Inilah masa dimana gerakan pemuda lebih dikenal dengan parlemen jalanan tandingan bagi wakil-wakil pemuda intelektual pribumi yang ternyata lebih menginginkan Indonesia atau Hindia Belanda tidak merdeka tetapi hanya semata menjadi daerah perdikan, persemakmuran atau commonwealth bagi Belanda. Dan tentu saja silang sengkurat pemanfaatan pemuda sebagai Indie werbar, milisi yang akan menjadi tameng kepentingan kolonial dimanapun ia berada. Hal ini akan serupa dengan pola perilaku gerakan mahasiswa pada masa pasca Soekarno jatuh kelak dikemudian hari. Paling patut dicatat adalah tentang perdebatan Moeis dan Semaoen tentang inti perjuangan gerakan pemuda pada saat itu, menyuarakan kepentingan rakyat ala Semaoen atau kepentingan umum ala Moeis.

Angkatan 1930
Boleh dibilang tahun-tahun masa ini adalah masa yang sulit bagi pergerakan karena pemerintah kolonial Gubernur Jenderal Tjarda dan ….yang menerapkan hukuman yang keras kepada setiap pemuda dan tokoh pergerakan yang menunjukkan sikap permusuhan kepada kolonial melaui Undang-undang…… akibat dari kegagalan pemberontakan PKI yang kurang persiapan. Oleh karena itu ciri pergerakan pada saat ini terutama di dalam HIndia Belanda sendiri bersifat sangat klendestein atau tersembuyi melaui study-study club dan pertemuan kecil, jika intinya adalah mencetak kader maka pengetahuan dan kemampuan pengorganisiran dan pengorganisasian-lah yang kemudian dibicarakan selain cita-cita kemerdekaan. Maka pada masa ini ada kecenderungan untuk gerakan menjadi partai kader atau partai Massa. Garis yang lebih keras ditunjukkan oleh kelompok pelajar dan pemuda di luar negeri, atau sedang dalam studi di luar negeri. Karena perbedaan norma dan perlakuan antar di tanah terjajah HIndia Belanda dan di tanah Eropa menyebabkan perbedaan pandangan dan cara mencapai kemerdekaan tersebut. Perpecahan tersebut sangat terlihat antara Soekarno yang tidak pernah keluar negeri dengan Mohammad Hatta yang sedang belajar di negeri Belanda. Perrtentangan ini mencapai puncaknya ketika dua tokoh tersebut masing-masing mengeluarkan pamflet, yang saling menyerang tentang taktik dan cara perjuangan, melalui pendidikan kader ataukah dengan massa. Walau akhirnya setelah masa pembuangan keduannya dan pendudukan oleh Jepang dua tokoh tersebut tak terpisahkan dan disebut sebagai Dwi Tunggal. Tapi pertentangan cara pandang antara Syahrir, hatta yang sosialis dan tak percaya kelompok kiri, dan Soekarno di satu sisi yang nasionalis feodal, dan kelompok kiri seperti Amir, Musso yang pro Moskow dan Tan Malaka yang mengidamkan revolusinya mandiri Indonesia di sisi lain tak terhindarkan lagi, dan banyak lagi peristiwa yang akan terjadi selanjutnya pada revolusi Indonesia selanjutnya diakibatkan oleh pandangan cara perjuangan para “patron” ini.

Masa Jepang
Salah satu peninggalan Jepang pada masa pendudukannya adalah pengemblengan mental (baca militansi) dari para pemuda baik di PETA, dan berbagai organisasi para militer dan militer Jepang yang tujuan awalnya adalah bertujuan untuk mempertahankan tanah air dari serangan balik sekutu. Kondisi ini secara tidak langsung memberi penyadaran akan Nasionalisme pada para pemuda yang lagi-lagi mereka adalah para pemuda yang dari desa dan tidak sempat dan tidak mungkin bersingungan, berdiskusi , bersekolah, atau bertemu dengan para pemimpin perjuangan untuk memahami situasi dan semangat cinta tanah air dan semangat kemerdekaan. Tetapi perlu juga dicatat peran vergarding atau rapat umum atau pertemuan besar yang seringkali terjadi sebelumnya. Dimana surat kabar atau sebuah pernyataan sikap atau maklumat politik dengan nuansa pendidikan dan agitasi massa yang sering dilangsungkan pada masa sebelumnya. Hal tersebut juga turut andil dalam membangun kesadaran dan militansi dari pemuda pada masa tersebut. Dan peran Jepang dengan tujuan untuk kepentingan perangnya sendiri ternyata menguntungkan para pemuda tersebut, dengan mengasah mereka kemampuan berorganisasi dalam perjuta (perjuangan bersenjata).
Organ-organ bentukan Jepang seperti PUTERA, Jawa Hokokai, menjadi pusat radikalisasi baru para pemuda. Para pemuda dengan cerdik memanfaatkan organ-organ bentukan Jepang itu untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, dan tentunya banyak pula pola gerakan yang tidak mau kooperatif dengan Jepang, salah satunya adalah gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh Amir Syarifoedin salah satu tokoh Sosialis, walau ia mendapatkan pendanaan dari Van Der Plass, tapi dengan cerdik mampu mengunakannya untuk kepentingan kemerdekaan Indonesia. Pemfaksian antara kelompok yang memilih taktik cara perjuangan diplomasi dan kelompok yang militan menentang cara kooperatif tersebut akhirnya menyebabkan intrik antar patron politik ini kelak yang menyebabkan ada paling tidak 4 kelompok yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan versinya.
1. Republik Indonesia; oleh kelompok dengan pendukung terbesar, antara lain kelompok pemuda dan kelompok tua Sosialis, Islam, Nasionalis, dan Komunis. Tetapi dukungan luas ini juga mendapatkan masalah dengan tuduhan kolaborator fasis bagi Soekarno dan Hatta, sehingga menimbulkan keraguan dalam proses perjuangan bagi beberapa faksi pemuda. Proklamasi pada tanggal 18 Agustus 1945.
2. Negara Islam Indonesia oleh kelompok Islam Kartosoewiryo. Kartosoewiryo adalah teman indekost lama Soekarno di tempat “study club” H.O.S. Tjokro Aminoto di Surabaya bersama Musso. Menariknya ke tiga murid Tjokro ini memiliki versi proklamasi dan idiologinya sendiri dalam sejarah perjuangan bangsa kita. Proklamasi NII pada 7 Agustud 1949.
3. Soviet Republik Indonesia oleh Musso (FDR, dan masih diperdebatkan akan benar tidaknya pernyataan ini. Seperti diketahui faksi kiri dari pejuang republik merasa dikhianati melalui Renville oleh kelompok yang dituduh kolaborator Jepang yang pada awalnya mendukung Renville untuk di tandatangani dengan imbal balik pengakuan dan bantuan diplomasi ternyata mengorbankan kelompok kiri yang pada saat itu sebagai delegasi sebagai kambing hitam kerugian Republik pada perjanjian tersebut. Hal inilah yang menyebabkan oposisi terjadi terhadap pemerintahan Soekarno dan Hatta, yang berujung peristiwa Madiun affair. 18 September 1948.
4. Dan salah satu versi proklamasi oleh kelompok Sosialis Syahrir, yang merasa tidak puas dan merasa tidak dilibatkan dalam proses Proklamasi 17 Agustus 1945
Dan sejarah membuktikan bahwa hanya proklamasi yang didukung oleh angkatan mudalah yang kemudian menjadi Proklamasi kemerdekaan yang sebenarnya.

Masa Revolusi Kemerdekaan
Pemuda pada revolusi kemerdekaan Soekarni, Sayoeti Malik, B.M. Diah dan pemuda lainnya, apa yang akan terjadi pada Indonesia tanpa mereka? Apa yang terjadi pada 17 Agustus tanpa Rengas-Dengklok? Apa yang terjadi pada 10 November tanpa ribuan pemuda di Surabaya, yang memaksa Inggris mengakui Republik secara De Facto. Apa yang terjadi tanpa adanya rapat raksasa pemuda di lapangan Ikada, akankah Republik ini akan ada tanpa pemuda? Pemuda selalu di garis depan sedangkan para golongan tua yang semula beritikad akan bergerilya ternyata memilih untuk bernegosiasi dengan penjajah. Para pemuda yang banyak bergabung dalam kelaskaran seperti TP atau Tentara Pelajar, KRIS, Hisbullah dan banyak lagi kelaskaran yang banyak ditulangpunggungi oleh para bekas PETA dan pemuda. Mereka lahir dari kelompok rakyat dan bukan dari kelompok tentara KNIL yang di-didik secara professional dan direkrut dari kelompok aristokrat pribumi pro Belanda, sebagai tentara yang memerangi bangsanya sendiri. Sampai sekarang mentalitas “anjing Belanda” ini masihlah tampak sekarang dengan menjadikan militer merupakan “golongan ningrat” atau aristokrat baru di masyarakat Indonesia.
Pada masa itu para pemuda yang penuh semangat perlawanan harus bertemu dengan arus perjuangan yang mengkedepankan diplomasi dan penataan dari struktur Republik seperti program RERA (baca restrukturisasi-rasionalisasi angkatan perang) dari kabinet Hatta dan pertentangan dari para “patron” bangsa pada saat itu. Gerakan pemuda yang telah menjadi gerakan massa ini kemudian diciderai oleh konspirasi dari kekuatan modal kapitalisme. Mau tak mau ide yang paling dekat dengan kemerdekaan pada saat itu adalah ide sosialis dan komunis. Hal ini dimanfaatkan oleh Presiden Marshall yang mengiming-imingi negara-negara yang baru merdeka di kawasan Asia Pasifik dengan bantuan Marshall Plan dan bantua diplomatik untuk melepaskan mereka dari pengaruh komunisme. Begitu juga dengan Indonesia seiring menguatnya kekuatan komunisme di philipina dan Semenajung Malaya, maka konspirasi untuk menjatuhkan kelompok Amir dan Tan Malaka pun dimulai. Semenjak Renville digulirkan, Tan Malaka dijebloskan dalam penjara dan gugur ditangan eksekutor laskar Pesindo, Ia gugur di tangan rakyat yang selama ini dibelanya. Begitu pula dengan Amir, Madiun affair yang menjadi babak gelap dalam sejarah perjuangan bangsa ini. Hilangnya beberapa patron gerakan tersebut dan diikuti oleh perseteruan kelompok pemuda, tidak membuat pemuda dan gerakan kemerdekaan menjadi gagal, inilah nation in progress, nation yang selama masa awal perjuangan diidam-idamkan oleh segenap bangsa. Tentulah sebuah catatan sejarah bagaimana Republik ini dibangun dari berbagai macam cita-cita dan idealisme merupakan sejarah yang panjang, sayang upaya dalam menegelamkan kelompok atau aliran kiri dalam perjuangan bangsa ini telah mulai disulut oleh para pemuda begitu awal ketika perjuangan revolusi baru dimulai (siapa yang lari dari garis depan dan menusuk dari belakang). Sebagai catatan dalam masa pasca Perang Dunia ke II ada traktat Pacifik antara pemenang Perang Dunia II terutama antara Uni Soviet dan Amerika untuk mendukung dan mendorong kemerdekaan tiap-tiap negara bekas kolonial yang ada di Asia Pasifik untuk merdeka. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan reinvestasi dan reorganisasi modal kapitalisme dari kelompok pemenang dari para kolonialis lama yang telah jatuh akibat perang, sehingga melapangkan jalan bagi kolonialisme baru di kawasan yang nanti merdeka tersebut, selain perebutan hegemoni antara embrio blok Barat dan blok Timur tentunya.

Angkatan 1950
Masa ketika energi revolusi mulai mengendur pada era 1950-an, energi pemuda banyak terakumulasi pada banyak perdebatan dan konflik internal Republik. Pertentangan ide yang belum terselesaikan dari masa revolusi kembali muncul. Mulai dari pertentangan dasar negara, UUD, dan sistem pemerintahan membuat era ini banyak didominasi oleh kelompok tua, hal ini yang membuat masa selanjutnya yaitu tahun 1960-an menjadi tahun penuh frustasi sosial bagi kelompok muda pada kelompok tua. Pada masa ini muncul pula berbagai gerakan sektoral atau sayap pengorganisiran seperti; organ petani dan buruh, (SOBSI, BTI dan berbagai organ sayap kepemudaan seperti ANSOR, Pemuda Pancasila bentukan A.H. Nasution) juga berbagai organ underbouw kepartaian yang marak muncul karena momentum PEMILU pada tahun 1955, yang masing-masing kelompok mengusung bendera dan idiologinya masing-masing, atau lahir dengan tujuan untuk menandingi antara satu kekuatan dengan kekuatan lainnya. Atau dalam kata lain dalam kondisi politik tahun 1950-an, nyaris tidak ada sinergitas politik antar kekuatan yang ada adalah saling tumpang tindih dan mengunting kepentingan. Yang mengerucutkan kesemuanya menjadi dua kubu, antara kubu pro revolusi Soekarno atau kubu yang tidak pro gaya perpolitikan Soekarno yang terdiri dari banyak faksi baik sipil maupun militer.
Yang menarik pada masa ini adalah konsolidasi antara kelompok kiri pasca Madiun, PKI kembali menjadi kekuatan komunis terbesar ke 3 di dunia setelah Komunis Soviet dan China, sama seperti masa ketika SI Merah di puncak kekuatannya. Sedangkan lain pihak konsolidasi kekuatan militer terjadi dibawah A.H. Nasution. Karena pasca KMB, RIS dan kembali ke RI, Indonesia melaksanakan berbagai program beberapa diantaranya:
• Restrukturisasi dan Reorganisasi tentara jilid II (APRIS bergabung dalam TNI). Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat yang kebanyakan adalah eks NICA dan KNIL akan dilebur ke dalam TNI menyingkirkan kelompok lascar dan PETA yang menjadi tulang punggung TNI selama ini.
• Nasionalisasi asset perusahaan perkebunan, dan berbagai perusahaan lainnya, inilah embrio yang memunculkan konflik kepentingan kelak antara TNI dan sipil tentang perebutan lahan ekonomi, karena perusahaan dan tanah partikelir tersebut di nasionalisasi di bawah koordianasi Angkatan Darat. Salah satunya kelak yang menjadi alasan bagi tentara untuk menumpas para petani BTI adalah Land Reform, Undang-undang yang menginginkan supaya tanah partikelir tersebut dibagikan kepada petani pengarapnya yang miskin bukannya kepada militer.
Hal ini pulallah salah satu hal yang melatarbelakangi kejatuhan ORDE BARU, bisnis militer yang menyebabkan korupsi dan berdasarkan relasi dalam dan kong-kalikong menyebabkan modal lain (kapitalis) merasa perlu meliberalkan kembali iklim investasi di Indonesia untuk mengambil kembali asset yang pernah hilang miliknya, dengan cara menjatuhkan rezim yang didukung dan menompang kekuatan bisnis militer. Dengan cara apa, yaitu para agent perubah seperti halnya Soekarno dulu dijatuhkan melalui isu demokrasi; yaitu para pemuda, lebih ditekankan Mahasiswa.

2. Putaran masa Orde Baru
Pada masa ini ditandai dengan pemanfaatan para pemuda oleh rezim ORBA atau Soeharto untuk pengulingan Presiden Soekarno. Situasi pada masa tahun 1960-an yang tidak bisa lepas dari situasi perang dingin, sebagaimana diketahui bahwa Presiden Amerika Eisenhower (penganti J.F. Kennedy) berupaya menjatuhkan Presiden Soekarno karena buntut dari kegagalan perang Vietnam, yang akan diprediksi menjadi perang tahan lama yang akan berpotensi menganggu pangkalan dan kepentingan politik kapitalis di selat Malaka, dan semakin menguatnya ketakutan akan jatuhnya Indonesia ke blok timur atau blok Komunis, yang kemudian akan mengancam kedudukan Inggris di Selat Malaka (baca politik konfrontasi). Latar belakang perang dingin dan kekawatiran politik domino (jika pada suatu daerah telah terpengaruh oleh Komunisme maka bagian lain dari daerah tersebut akan dengan sendirinya menjadi komunis atau terpengaruh kiblat komunisme) yang menjadi latar belakang operasi politik intelijen kapitalis, yang menjadikan pemuda sebagai pembawa gerakan moral dan perubahan pada saat itu menjadi objek kampanye penjatuhan Soekarno. Berbagai organisasi aksi seperti KAMI, KAPI HMI, PMKRI, PMII dan berbagai organisasi Cipayung lainnya (karena dibentuk di Cipayung markas Kostrad) saling bentrok dengan GMNI, CGMI sebagai barisan pendukung Soekarno.

Angkatan 65
Pada masa ini gerakan pemuda mulai terkoptasi oleh kubu-kubu yang bertikai baik di dalam negeri maupun di luar negeri, pertarungan dua kubu besar antara kapitalis dan komunis menyeret kelompok-kelompok politik baik sipil maupun militer. Campur tangan asing di dalam negeri menyeret situasi nasional menjadi lebih buruk. Pada masa ini gerakan pemuda yang termanifestasikan dalam gerakan mahasiswa, dinilai sudah tidak murni menyuarakan situasi rakyat secara objektif. Frustasi akan keadaan sosial, situasi politik dan perilaku elit politik lebih banyak terungkap. Walaupun gerakan pemuda berusaha terus menjaga independensinya, tapi biarlah sejarah yang menilainya. Yang kita tuju tentu bukan memaksudkan sejarah sebagai sebuah legitimasi untuk “menguasai keadaan”, dan pada masa itu kita bisa tercekat mendengar Sarwo Edhi telah membantai 3 (tiga) juta pemuda tanpa proses peradilan.
Hampir pasti semua eksponen gerakan pada masa ini berafiliasi dengan militer sebagai pemenang dari perebutan kekuasaan. Dan banyak dari aktivis jaman ini mendapatkan previllages atau mendapatkan fasilitas masuk ke partai penguasa pada waktu itu GOLKAR. Banyak catatan dan buku yang membedah jaman ini, yang terpenting dari jaman ini adalah de-Soekarnoisasi dan penyederhanaan struktur politik masyarakat supaya lebih mudah diawasi dan dikontrol oleh militer, sebagai imbas dari penganyangan kekuatan musuh politik idiologis militer lainnya. Kemudian selama 35 tahun kedepan bangsa ini berada di baying-bayang sejarah kelam berbagai kekerasan yang terselubung seperti halnya pembantaian kader atau yang dianggap kader PKI, setelah itu pengkambinghitaman Islam sebagai kelompok teroris baru, yang berakibat beberapa kasus dan konflik bernuansa SARA dan kaum muslim sebagai asbak atau kambing hitamnya, begitu juga dengan masyarakat seniman yang ber-tatto dengan Petrus (penembakan misterius) atau orang yang dianggap sebagai kelompok Preman, atau Free man. Dan juga beberapa kasus rekayasa kekerasan kepada kelompok minoritas seperti kelompok agama dan etnis tertentu setiap menjelang PEMILU sebagai proyek keamanan bagi apparatus kekerasan negara atau represif state apparatus selain memberikan pesan masyarakat tentang “bahaya laten komunis” sebagai kambing hitamnya. Sejarah GERMAORBA (Gerakan Mahasiswa Orde Baru) akan banyak mencatat kemunafikan dan penghianatan dari kelompok muda yang terbuai oleh berbagai fasilitas sampai pada akhirnya apa yang disebut sebagai UU penanaman modal asing masuk ke Indonesia tanpa ada yang menyadari bahwa dengan masuknya sekelompok pemodal baru, agenda awal mengapa Indonesia dimerdekakan dengan bantuan barat adalah kembali menjajah kembali tidak dengan kolonialisasi senjata, tetapi dengan hutang.

Generasi Malari
Malari atau malapetaka 15 Januari, penolakan atas masuknya modal asing di tanah air terutama modal Jepang, yang akan membangun industrinya di Indonesia melalui hutang investasi yaitu hutang-hutang Indonesia yang jatuh tempo tetapi dibayar dengan hutang investasi, pembangunan industri dengan import barang keperluan untuk industri tersebut dengan bebas bea import, bebas pajak industri selama bertahun-tahun, sekaligus kita masih kena bunga dari hutang yang lama ditambah hutang baru dari pembangunan industri tersebut. Perlu diketahui bahwa hutang terbesar bangsa ini adalah hutang ke negara Jepang yang pada saat itu merupakan anggota IGGI yang diketuai oleh Belanda (sebelum berubah format menjadi CGI pada awal 1990-an, kelompok penghutang inilah yang disinyalir menjatuhkan nilai tukar rupiah karena didorong jatuh temponya hutang Indonesia pada krismon 1997), dua negara yang memiliki sejarah sebagai penjajah di tanah air. Peristiwa tersebut memberi pelajaran pada ORBA untuk lebih mengawasi setiap kegiatan dan aktivitas dari pemuda.
KNPI dibawah koordinasi Kementrian Pemuda dan Olah Raga, yang selanjutnya digunakan sebagai ruang kanalisasi gerakan pemuda, bahwa seluruh gerakan pemuda direduksi menjadi gerakan yang hanya mengkampayekan propaganda pembangunanisasi ORBA atau pemerintah, NKK/BKK yang ditetapkan oleh Daud Yusuf sebagai Pangkoptamtib, yang berusaha membatasi ruang gerak pemuda menjadi hanya ruang gerak mahasiswa di seputaran kampus dan kegiatan perkualiahannya saja, sistem SKS, 12 semester, presensi kuliah, UKM, dan banyak lagi kebijakan yang membuat pemuda sibuk menjadi mahasiswa. Hancurnya infrastruktur pemuda di pendidikan yang menghubungkan mereka dengan masyarakat diperparah dengan mulai munculnya stigma kiri atau stigma PKI, yang digunakan untuk membungkam gerakan dan kritisisme pemuda atau lebih tepatnya penertiban bagi gerakan pemuda di luaran institusi pendidikan, demi stabilitas yang menjadi syarat mutlak pembangunan.
Masa 1980-an mempunyai ciri yang baru dari gerakan pemuda, gerakan pemuda yang terkoptasi oleh berbagai kebijakan, pengawasan dan represifitas pemerintah, mulai membangun jaringan-jaringan gerakan baru. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh Orde Baru ternyata tidak sesuai dengan harapan dari para perancangnya (LEMHANAS, BKK, DIKTI). Gerakan intelektual dari pemuda yang didukung oleh sebagian dosen dan civitas kampus lewat BEM, SEMA, dan organisasi intra kampus lainnya mulai merintis kembali gerakannya. Gerakan yang semula berupa kritik-kritik atau yang disebut sebagai kelompok GKOB atau “Gerakan Kritik Orde Baru” yang banyak digawangi oleh kelompok Cipayung yang secara mapan menguasai BEM dan berbagai organisasi intra kampus. Pada eksperimentasi selanjutnya gerakan pemuda mulai bergulir ke organisasi yang bersifat independent, agar pengawasan dan berbagai kebijakan pemerintah tidak mampu menyetuh mereka, dan masa-masa ini mulailah muncul lembaga-lembaga study club-study club yang berusaha melakukan “penelitian” pada masalah yang ada di masyarakat. Pada kelanjutannya organisasi yang tidak berafiliasi ini menjadi kelompok lembaga advokasi dan berbagai NGO atau LSM, yang pada awalnya mereka sangat berhati-hati mengenai berbagai isu politik yang ada di masyarakat (baca kelompok GOLPUT).
Pandangan bahwa kegiatan yang bernuansa politik praktis yang selama ini berkembang di kampus, menjadi salah satu penyebab gerakan pemuda menjadi elitis dan mudah direndam, seiring berkembangnya berbagai pengaruh globalisasi di negara-negara dunia ketiga seiring isu demokratisasi, deregulasi, HAM, indistrialisasi, Neokolonialisme, dan ekologi memberi berbagai warna idiologi dan pola gerakan pemuda yang ada. Inilah yang kemudian memberi warna dan mempolarisasi elemen-elemen gerakan, kelompok baru yang lebih radikal ini kemudian digolongkan menjadi kelompok GAOB atau “Gerakan Anti Orde Baru”. Kelompok baru ini beberapa akumulasi dari tuntutan perjuangan mereka adalah menyeret Soeharto ke depan sidang umum MPR, reformasi birokrasi, nasionalisasi asset, penghapusan koter (komando teritorial), atau dwi fungsi ABRI, penghapusan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang menjadi landasan kekuasaan rezim ORBA.

3. Runtuhnya Konsolidasi Demokrasi
Mei 1998 adalah sebuah pelajaran, membicarakan tentang GAOB dan kondisi kontemporer gerakan pemuda Indonesia tidak bisa dilepaskan dari dinamika dan dialektika perpecahan FKMY pada awal 1990-an. Persaingan antara DMPY dan SMY pada kurun 1992-1993, berlanjut antara DMPY dan SMID/PRD pada kurun waktu 1994-1996, berlanjut pada PPPY (P3Y), berbagai aliasi kota atau FORKOT dan kampus FORKOM (banyak elemen dari Cipayung), dengan berbagai organisasi mantel PRD pada kurun 1997-1998, berlanjut hingga FPPI dan LMND/PAPERNAS pada kurun 1998 sampai sekarang, dan berbagai organisasi turunannya. Ini adalah proses historis yang mematangkan gerakan pemuda GAOB mulai dari 1990-an sampai generasi 2000-an. Reformasi adalah sebuah pelajaran bahwa runtuhnya konsolidasi demokrasi yang kembali coba dibangun oleh segenap elemen gerakan pemuda runtuh oleh pragmatisme sektoral dan praktis gerakan, dan pemuda belum bisa memberikan bukti-bukti kongkret dari perubahan, perselingkuhan politis dan intrik dari berbagai kelompok merupakan jalan masuk kembali modal internasional lewat TNC/MNC untuk menjajah bangsa ini, hal ini periode ini sama halnya dengan melihat UU penanaman modal asing jilid II. Karena setelah masa reformasi, banyak ditandai dengan berbagai privatisasi BUMN oleh IMF.
Mengapa kemudian reformasi disebut sebagai fase kegagalan dari sebuah konsolidasi demokrasi? Karena reformasi yang telah digerakan oleh massa dan pemuda pada akhirnya habis ditangan para birokrat baru atau kelompok baru yang membentuk lapisan kepartaian oligarkhi dan tidak mendorong reformasi menjadi perubahan besar bangsa dengan segala tuntutannya. Tetapi para kelompok intelektual baru dan para pemodal yang tidak “berdarah-darah” lah yang akhirnya menikmati buah kekuasaan dan perubahan dengan mendirikan partai-partai dan memecah kekuatan pemuda yang berusaha mengkonsolidasikan demokrasi dalam berbagai agenda boleh dibilang mengarah ke revolusi menjadi hanya gerakan masuk angin. Ketua DPR, MPR dan partai-partai baru adalah orang lama tak satupun pemuda yang duduk mengawal reformasi, GOLKAR tak dibubarkan, Soeharto tak diadili. Dan meninggalkan berbagai polemik sejarah bangsa yang seharusnya bisa diselesaikan pada saat itu menjadi hilang dan dilupakan kembali (kasus HAM ORBA, 1965, PETRUS, Tanjung Priok dan berbagai kasus kekerasan dan represif oleh kekuatan senjata lainnya). Ituah arti sebenarnya dari status quo, membiarkan semua terjadi asal tak menyentuh diri sendiri dan dibicarakan tanpa diteruskan. Dan perdebatan tersebut sampai pada pro-kontra GUSDUR, yang berusaha menggalang kekuatan Negara dunia ketiga untuk bersama-sama melakukan perubahan, dan ternyata gagal juga. Kegagalan ini semakin menunjukkan bahwa kesadaran sejarah bangsa ini bukanlah sebuah cerminan kesadaran sejarahnya sendiri, tetapi kesadaran yang diimplankan oleh kekuatan yang tak terlihat (invisible hand) dan agendannya untuk hanya mendaur ulang bangsa kita.
Sedikit catatan tambahan mengenai tipikal steriotipe mahasiswa dan gerakannya:
Mari sedikit kita membuat ulasan tentang “radikalisme” sebagai perbandingan imbang antar gerakan di Indonesia, sebagai contoh; wajib dipahami idiologi gerakan yang dianut oleh mahasiswa Indonesia yang disebut kelompok Cipayung, tidak ada yang menganut secara resmi haluan kiri dari sejarah perkembangan gerakan di dunia ini, Cipayung lahir untuk menjatuhkan Soekarno dan menghancurkan anasir komunis di Indonesia, jadi jelas bukan genealogi gerakan revolusioner yang pernah mengubah wajah dunia ini dan bukan genealogi dari berbagai paham besar dan gerakan yang melahirkan Indonesia pada tahun 1945, mereka hanya sekelompok yang dimanfaatkan militer dan modal untuk kepentingan politik jangka pendek, dilain pihak juga untuk dimanfaatkan menjatuhkan Soeharto dan bahkan juga Presiden-Presiden selanjutnya dicap rezim. Pada setiap posisi kedudukannya baik di setiap era pemimpin yang sah, selalu bisa kita pahami buruh melakukan demonstrasi untuk menuntut perbaikan upah (UMP upah minimum Provensi, hanya minimum!), ketika dengan jelas kondisi dan keadaan yang buruk baik yang diterima dari para majikannya, ataupun Negara yang menganggapnya angkatan kerja kelas rendah. Dan bisa dikatakan tidak pernah ada isu pengulingan kekuasaan oleh buruh, adapun sudah dipastikan muncul di era awal reformasi dan partai buruh pengusungnyapun tak pernah menjadi besar dengan memanfaatkan isu tersebut. Sedangkan bagi mahasiswa yang mempunyai tipe gerakan sumbu pendek tidak pernah dan tidak pernah bisa disangkal disetiap era akan selalu mengatakan isu mengulingkan kekuasaan pemerintah atau presiden siapapun orangnya yang sah dipilih melalui proses pemilu dengan cap rezim, demi solidaritas atau demi siapapun, atau sebagainya. Tetapi jelas Cipayung sama sekali bukan gerakan revolusioner apalagi kiri dan juga tak pernah menjadi besar memanfaatkan isu tersebut, mengapa?
Mungkin akan sulit mengambarkan diri sendiri pada saat ini, begitu dekatnya eksploitasi di depan pintu-pintu kesadaran pemuda. Begitu cepatnya perubahan seakan menjerumuskan para pemuda ke arah populi vacante, kekosongan pemikiran yang mengakibatkan lack of knowledge bagi gerakan dan pemuda saat ini. Kampanye konsumerisme yang selalu hadir di kampus-kampus yang merupakan salah satu laboraturium dari pemuda bagaikan pasar tiban, begitu mudahnya berbgai produk masuk dan pergi, ilmu yang semakin tidak berpihak dan diperjualbelikan dengan sangat mahal dan pola pikir yang hedon. Berpikir perubahan bagaikan pikiran yang muluk-muluk. Belajar sejarah bukan untuk mengembalikan kita ke jaman batu atau jaman barbar, belajar sejarah memberi kita kesempatan untuk kembali melihat apa yang telah terjadi di masa lalu yang merupakan sebuah dialektika dari masyarakat bukan nostalgia heroisme dari gerakan. Tetapi merupakan tugas pemuda untuk selalu menentukan dan mengawal seluruh pergerakan dan arah perubahan bangsa ini. maka esensi dari pendidikan adalah membebaskan dan memerdekakan!

4. MASSA
Pemuda tereduksi oleh berbagai pengertian, terdidik memberi sekup terbatas pemuda pada sejarah gerakan di Indonesia. Pada masanya para kaum terdidik ini lahir mereka lahir hanya dari sebagian kecil dari masyarakat Indonesia, mereka menjadi “priyayi baru” dari hasil mereka bersekolah. Jumlah mereka pada masa awalnya tak lebih dari 5% dari jumlah penduduk Indonesia. Gerakan yang selam ini menjadi tonggak perubahan adalah hasil dari bersatunya kekuatan pemuda dan rakyat yang menjadi kesadaran massa (kesadaran intelektual pemuda masanya yang kemudian mensemesta menjadi kesadaran bersama/massa). Maka bagi penulis pemuda adalah kekuatan sosial tersendiri yang selalu menjadi jiwa jaman pada saat perubahan itu hadir, bukan personal, golongan atau kelompok.
Kita masih bisa mengingat ejekan dari bangsa Barat bahwa kita bangsa kuli, bahwa kita hanya menjadi sekrup-sekrup bagi mesin-mesin industri yang menjalankan eksploitasi dari bangsa lain. Pendidikan adalah kunci bagi pemuda untuk keluar dari “gua” keterasingannya bukan menjadi menara gading. Yang menjadikan mereka lupa akan sejarahnya.

“lebih baik mempunyai tafsiran yang berdasarkan bukti kurang sempurna, daripada tidak mempunyai tafsiran sama sekali.”
TAN MALAKA

Daftar bacaan
• Ulf Sundausen, politik Militer Indonesia
• Benedict Anderson, Revolusi Pemuda
• Gunawan, Runtuhnya Konsolidasi Demokrasi
• George Mc.T. Kahin, Negara dan Revolusi
• Muridan, Penakluk Rezim Orde Baru
• Takashi S, Jaman Bergerak
• Soe Hok Gie, Orang di Persimpangan Kiri Jalan
• Tan Malaka (Harry A Poeze), Gerakan kiri dan Revolusi Indonesia
• Dan dari berbagai sumber lainnya
Seiring bertambahnya ilmu dan referensi, tulisan hampir pasti akan di revisi lagi.

ika_rubby@ymail.com'

About leobardus rubby